Kemenangan Pianis Muda Indonesia di Ananda Sukarlan Award


No other accoustic instrument can match the piano's expressive range,
and no electric instrument can match its mystery.”
(Kenneth Miller)


(Ananda Sukarlan, duta musik Indonesia di mancanegara)

Permainan piano yang ekspresif dan penuh misteri itu berlimpah ruah di puncak acara final kompetisi piano Nasional Ananda Sukarlan Award (ASA Award), Sabtu, 26 Juli 2008 lalu, bertempat di Goethe Haus, Jl. Sam Ratulangi 9-15 Menteng Jakarta.

Suatu kompetisi, dalam dunia musik, bisa dibilang adalah 'necessary evil' yang mau tidak mau harus dilewati. Demikian ujar Henoch Kristianto, selaku salah seorang Dewan Juri Ananda Sukarlan Award. Ia juga mengumpamakan sebuah foto, bagus atau tidak hasilnya tergantung dari momen saat pengambilan foto tersebut. Hal yang sama terjadi pada suatu kompetisi. Ada banyak sekali faktor yang akan ikut menentukan hasil dari momen pertunjukan tiap peserta. Oleh karenanya, hasil permainan yang baik maupun kurang baik dari peserta hanyalah untuk tiga hari, bukan berarti untuk selamanya.

Sejalan pula dengan yang disampaikan oleh Latifah Koedijat, bahwa suatu kompetisi sebaiknya tidak dilihat hanya sebagai 'ajang bertanding' melainkan juga kesempatan untuk dapat membantu perkembangan bermusik bagi pesertanya.

(Dewan juri sedang bercengkrama bersama
Chendra Panatan & Pia Alisjahbana)

Finalis yang semula direncanakan hanya terdiri dari enam orang, pada hari terakhir semifinal diputuskan bertambah menjadi sepuluh orang. Ini berdasarkan berbagai pertimbangan sebagai hasil rapat dari Dewan Juri, yang selengkapnya terdiri dari Ananda Sukarlan, Henoch Kristianto, Pudjiwati Insia M. Effendi, Stephen Michael Sulungan, serta Latifah Koedijat. Acara final ini pun dihadiri oleh Dedi Sjahrir Panigoro dan Pia Alisjahbana selaku Steering Committe.

Sejak pukul 10.00 WIB, sesuai jadual panitia, satu demi satu peserta pun tampil. Mereka berasal dari berbagai daerah di antaranya Medan, Surabaya, Bandung, Malang serta Jakarta. Beberapa di antaranya masih berusia amat muda namun mampu menyajikan permainan yang memukau, seperti Stephanie Onggowinoto (13), Randy Ryan (13) dan Handy Suroyo (17). Ketiganya kemudian diumumkan sebagai penyandang Juara Ketiga dalam kompetisi ini, dan masing-masing memperoleh hadiah Rp. 2.500.000.


Juara Kedua adalah Edith Widayani (18), peserta dari Jakarta yang baru pulang dari Sekolah menengah Musik di China, memperoleh hadiah Rp. 12.500.000. Dan peringkat pertama diraih oleh Inge Buniardi (22), juga peserta dari Jakarta, yang sedang menimba ilmu di Conservatory Music di Belanda dan meraih hadiah tertinggi Rp. 25.000.000. Inge membawakan L.V. Beethoven: second and third movement from sonata op. 109, Heinz Holliger: Elis, F. Liszt: Valee d'Obermann, S160/6, serta komposisi wajib untuk seluruh finalis yaitu Ananda Sukarlan: Rhapsodia Nusantara no.1. Komposisi wajib ini rupanya menghasilkan berbagai interpretasi yang unik dan menarik dari masing-masing peserta.

Fariz Elka Prawira (20), finalis dari Bandung, mengaku persiapannya mengikuti kompetisi ini terbilang cukup singkat, yaitu hanya 2-3 bulan. Ia yang kini kuliah di Jurusan Seni Musik UPH ini telah beberapa kali mengikuti kompetisi, tapi untuk tampil di hari final ASA Award cukup membuatnya nervous terlebih melihat finalis lain yang semuanya bagus-bagus. Meski tak menggondol gelar juara, namun Fariz berhasil memperoleh suara kedua terbanyak pada Audience Choice Award (pilihan favorit hadirin) di acara ini.

Henoch Kristianto pun mengakui bahwa kualitas permainan peserta pada kompetisi ini terbilang amat baik, dengan level yang cukup tinggi. Ia hanya berharap bahwa pada tahun-tahun berikutnya akan lebih banyak peserta dari daerah-daerah lain seperti Sulawesi, Kalimantan, NTB dan lain-lain, karena saat ini yang mendominasi hanyalah pulau Jawa dan Sumatera.

Acara juga dimeriahkan oleh penampilan dari Brigifine dan Genssly Ediansyah Syams yang membawakan di antaranya Sonata for Piano Four Hands (Francis Poulenc) dan Apfelstrudel and Strawberry Cheesecake (Ananda Sukarlan).


Menyusul kemudian Bernadetta Astari dan Elwin Hendrijanto yang dengan menyentuh membawakan Kama IV (puisi oleh Ilham Malayu), dan dengan jenaka membawakan Di Kebun Binatang (puisi oleh Sapardi Djoko Damono). Keduanya digubah menjadi komposisi musik oleh Ananda Sukarlan.

Telah berbulan-bulan panitia mempersiapkan acara ini, namun setelah melihat prestasi pianis muda Indonesia, "Terhapuslah seluruh keringat," ujar Dedi Sjahrir Panigoro. "Bagi saya, berani berpartisipasi dan mempersiapkan diri untuk mengikuti kompetisi yang menuntut teknik virtuositas yang tinggi ini sudah merupakan suatu kemenangan."

Senada dengan yang disampaikan oleh Ananda Sukarlan, bahwa rupanya kualitas anak-anak negeri kita lebih baik dari yang dilihatnya di Eropa. "Sesuai nama acara ini, ASA, jadi kalau nggak menang, jangan putus asa," selorohnya.

Around Java

Kota Gudeg Jogja

Dari Borobudur, kami menuju Jogja, dan check in di hotel Ibis Malioboro. Pertama-tama malam itu kami mencari gudeg Jogja asli Bu Atmo di Godean. Memang rasanya agak lain, sangatlah segar.


Keesokan paginya, kami bersama teman lama, Hendro Martono mengunjungi lokasi penelitian dan pengembangan pertanian di Pasir Selatan di daerah Parantitis yang dikelola oleh perusahaan swasta nasional Indmira.







Sementara itu istri dan putri saya mengunjungi Situs Pesanggrahan Tamansari. Ini adalah situs bekas taman atau kebun istana Kraton Yogyakarta.




Semarang

Dari Jogja, kami menuju Semarang. Dalam perjalanan, ketika melewati Ungaran, kami mampir di Kampung Seni Lerep. Tempat para seniman belajar dan berkreasi ini dibangun pada tahun 2006 di atas lahan seluas 1 hektar di Desa Lerep.


Dalam rumah-rumah yang terbuat dari kayu, pengunjung bisa belajar membuat keramik, melukis, membatik, hingga memahat batu untuk patung. Penggagasnya ialah Handoko, seorang seniman 'gila' yang begitu penuh perjuangan mewujudkan mimpinya membangun tempat ini. Pada awalnya, kondisi medan di lokasi Kampung Seni yang amat curam membuat para perancang angkat tangan, dan pemodal tak mau ambil risiko. Akhirnya, selama dua tahun pertama Handoko bekerja seorang diri, baik dari segi modal maupun ide perencanaan bangunan. Ia sampai sempat koma selama tiga hari dalam proses pembangunan ini.


Usai dari Lerep, kemudian kami check in Hotel Novotel di Semarang. Kami lalu makan siang di Toko Oen di Jl. Pemuda 52.


Toko Oen ini adalah sebuah kafe dan restoran yang menyuguhkan suasana tempo dulu. Interiornya bernuansa kuno, dan menu sajiannya sebagian besar adalah masakan Eropa dengan resep asli Belanda. Bahkan nama-nama hidangannya pun berbahasa Belanda.

Setelah beristirahat sejenak, kami pun menuju Lasem, yaitu salah satu kota di pantai Utara di perbatasan Jawa Timur. Di sana kami mengunjungi Pesantren Al-Hidayat, pimpinan Ibu Hj. Azizah Ma'shum.

Kami baru tiba lagi di hotel setelah lewat tengah malam.


Keesokan harinya, kami lalu singgah ke Lawang Sewu (Seribu Pintu). Gedung bersejarah ini sesuai namanya memang memiliki pintu yang banyak, namun barangkali sebenarnya tak benar-benar sampai seribu. Gedung yang sudah berusia 100 tahun ini dulunya pernah difungsikan sebagai Kantor Pemerintah dan telah menjadi saksi pertempuran berdarah di masa-masa perang zaman Jepang.

Dari situ kami sempat mampir di Bandeng Djuana jalan Pandanaran, Semarang. Untuk kemudian menuju Kopi Eva di Ambarawa. Tempatnya luas dan sejuk. Di sana terhampar pula perkebunan kopi dari pemilik coffee house ini.

Masih di sekitar Ambarawa, kami menuju Losari Coffee Plantation Resort. Ini adalah tempat penginapan yang dikelilingi dengan pemandangan pegunungan dan perkebunan kopi yang indah. Resor ini dibangun dengan sentuhan arsitektur Jawa yang kental dan dengan aksen-aksen kayunya.

Sorenya kami menuju Wonosobo via Temanggung. Di sana kami menginap di hotel Sri Kencono. Dari kota ini, barulah kami kembali ke Bandung, untuk kemudian pulang ke Jakarta.

Borobudur

Akhir Juni 2008, Mala memulai liburannya ke Indonesia. Sepupunya, Nitya, menikah dengan pilihan hatinya, Syafik, mereka teman kuliah di ITB. Resepsi pernikahan diadakan di Sculpture Park Nyoman Nuarta, Bandung, di alam terbuka yang sangat indah.


Setelah beristirahat satu hari, kami dengan mengendarai mobil Kijang, berangkat ke Candi Borobudur dan menginap satu malam, untuk mengejar acara sunrise keesokan pagi.

Jam 4.30 kami telah dibangunkan oleh pengurus hotel dan berjalan kaki selama 10 menit menuju Candi Borobudur dipandu oleh guide.

Setelah kami memilih tempat yang sesuai, yaitu di Rupadhatu, maka jam 5.30 pagi, sinar merah mulai terlihat dan beberapa saat kemudian kilau Sang Surya pun perlahan muncul menyeruak membuka pagi.


Seluruh pengunjung dari berbagai negara mengabadikan pemandangan yang menakjubkan dengan kamera dan video masing-masing.

Secara keseluruhan, bangunan Candi Borobudur terdiri dari 10 tingkat yang masing-masingnya memiliki maksud tersendiri. Candi ini terbagi dalam tiga bagian, yaitu kaki (bagian bawah), tubuh (bagian pusat) dan puncak (bagian atas). Pembagian ini sesuai dengan tiga lambang dalam susunan ajaran Budha, yaitu Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu yang masing-masing memiliki makna.

Kamadhatu melambangkan alam bawah yaitu dunia hasrat/nafsu. Maknanya bahwa dalam dunia ini manusia terikat pada hasrat/nafsu.

Rupadhatu melambangkan dunia rupa, bentuk, dan wujud. Dalam dunia ini manusia telah meninggalkan segala nafsu, tapi masih terikat pada nama dan rupa, wujud, dan bentuk.

Arupadhatu melambangkan alam atas yaitu dunia tanpa rupa, wujud, dan bentuk. Pada tingkat ini manusia telah bebas sama sekali dan telah memutuskan untuk selama-lamanya segala ikatan kepada dunia fana.


Candi Borobudur ini didirikan pada sebuah bukit seluas sekitar 7,8 ha pada ketinggian 265 m di atas permukaan laut. Para ahli sejarah memperkirakan candi ini berdiri pada zaman keemasan dinasti Syailendra yaitu pada abad ke-8 sampai 9 M.

Setelah selesai dibangun, selama 150 tahun, Borobudur menjadi pusat ziarah megah bagi penganut Budha. Tetapi saat kerajaan Mataram runtuh sekitar tahun 930 M, pusat kekuasaan dan kebudayaan pindah ke Jawa Timur dan candi ini pun hilang terlupakan. Hingga seribu tahun kemudian, barulah orang-orang Belanda menemukan kembali candi ini dan melakukan pemugaran pertama.

Meski Borobudur tidak termasuk dalam daftar versi baru Tujuh Keajaiban Dunia, namun tentu tingginya nilai budaya, sejarah, serta kemegahan arsitektur yang dikandungnya tak dapat dipungkiri.