Selasa, 10 Februari 2009

Berastagi

Berkunjung ke Tanah Karo (1)

Telah sekian lama saya merindukan kota Berastagi yang sejuk di ketinggian 1400 m di atas laut di kaki Gunung Sibayak.

Kunjungan pertama saya ke kota ini terjadi tanpa terduga pada tahun 2001 pasca tsunami Aceh. Pada waktu itu saya bersama Garin Nugroho dan Indra Piliang berangkat dengan helikopter dari Medan hendak mengunjungi Meulabouh. Namun baru saja terbang, tiba-tiba turun hujan lebat sehingga heli pun mendarat di sebuah kebun jeruk di Berastagi. Itulah pengalaman pertama saya dengan Berastagi.

Minggu lalu, saya dan istri berkunjung lagi ke Berastagi. Kami terbang dengan pesawat Garuda pertama dari Jakarta, mendarat pukul 9 pagi. Dari situ kami langsung tancap gas ke Berastagi melalui ibukota Kab. Kabanjahe.


Pemandangan di perjalanan

Setelah berjalan selama satu jam, kami berada di ketinggian kira-kira 1000 m. Di situ jalan mulai berkelok-kelok dan di mana-mana tampak pemandangan hutan yang rindang serta suasana pegunungan pun mulai terasa.


Bersama penjual buah

Kami berhenti sejenak di warung buah-buahan dan mencicipi manggis yang manis dan buahnya putih segar.


Hotel Sinabung

Setiba di Berastagi, kami cek in di hotel Sinabung. Sebuah hotel yang memiliki halaman luas serta asri dengan 100 kamar dan bertarif Rp 250.000 per malam.

Hotel Sinabung beralamat di Jl. Kolam Renang, Berastagi. Telp. 0628 91400. www.sinabungresorthotel.com

Suasana di dalam hotel ini serasa seperti di Puncak. Di sana telah menunggu Bapak Tjiptono Darmadji dan putranya yang terampil, Irsan Budianto. Kami berdiskusi panjang lebar mengenai kemungkinan pengembangan pariwisata Sumatra Utara khususnya alam Danau Toba sebagai warisan budaya Nusantara.

Karena malam itu adalah akhir minggu, maka hotel ini terlihat cukup sesak. Pada saat sarapan pagi dan makan malam, restoran sangat ramai dan kami harus antri untuk memperoleh makanan.

Setelah beristirahat sejenak, kami mengunjungi pasar buah di pusat kota. Di samping buah yang biasa kita makan, seperti jeruk dan manggis, yang khas di Berastagi adalah markisa, terong Belanda, dan buah biwa.


Pasar Buah

Buah biwa yang dapat dilihat tergantung pada foto di atas ini berwarna kuning dan berupa suatu rangkaian, seperti buah anggur. Rasanya asem manis seperti campuran antara jeruk dan kesemek. Saya belum pernah melihat buah ini sebelumnya sehingga saat itu serasa melihat buah-buahan liar di hutan.

Di pasar buah itu banyak terdapat barang kerajinan. Tentu yang kita buru adalah ulos yang datang dari berbagai daerah di Batak dengan beragam tenunan.

Singkatnya, Berastagi adalah kota sejuk, buah-buahan, pemandangan indah dan kerajinan tradisional.


Bersama Pak Tjiptono dan Irsan di kebun bibit


Tak lupa mencicipi durian


Kelinci di Pasar Buah


Selamat tinggal, Berastagi akan selalu dikenang!

Tidak ada komentar:

Followers