Garuda dengan Sayap Terluka

Bekasi, Mei 2005. Amat Sodikin dan Ike Priyanti adalah pasangan pengamen berbahagia yang mendapatkan bayi kembar tiga. Sayang, ketidakmampuan membuat saat bahagia melahirkan bayi kembar tiga itu menjadi cerita sedih karena tidak serta- merta mereka dapat membawa ketiga bayinya pulang ke rumah.

Dengan uang Rp 500.000 di tangan, mereka tak sanggup menyelesaikan administrasi pembayaran rumah sakit Rp 6 juta. Utang tetangga sempat menyelamatkan mereka beberapa hari. Mereka diizinkan membawa pulang anaknya. Sesampai di rumah, mereka segera harus bergulat mengembalikan Rp 5 juta uang pinjaman ditambah kegelisahan bagaimana membeli susu formula.

Karena masih berusia 20 tahun, Amat dan Ike, sama dengan banyak orang Indonesia lain, barangkali tak mengerti apa perbedaan suasana ketika Indonesia dijajah Belanda, dijajah Jepang, dan hari ini, ketika dikatakan Indonesia sudah merdeka. Yang jelas, Amat dan Ike merupakan salah satu dari sekitar 32,53 juta penduduk Indonesia dengan penghasilan di bawah Rp 182.000 per kapita per bulan. Ketiga anak kembar itu berpotensi menjadi salah satu dari 1,3 juta anak Indonesia penderita gizi buruk. Bila Indonesia digambarkan dengan seekor garuda gagah dan besar, mereka adalah bagian dari sayap garuda yang terluka.


Mereka terluka karena kemerdekaan negara kemudian merupakan pergulatan dari apa yang hari ini dikenal sebagai perburuan terhadap peradaban modern. Perkembangan peradaban manusia, dunia ilmu pengetahuan, komputerisasi, dan bisnis adalah kemewahan yang harus diraih. Ihwal itu dikejar karena semua ”kemenangan yang patut disyukuri” bermuara di sana. Orang bisa menjadi bahan tertawaan ketika hari ini dianggap gagap teknologi, tak kenal Facebook, tak paham internet, atau tak pintar memanfaatkan e-mail.

Salah satu ukuran hari ini sekitar 25 juta orang Indonesia mempergunakan internet dan sekitar 110 juta orang menggenggam telepon seluler. Selain itu, indikator kemakmuran juga ditunjukkan dari produksi mobil tahun 2008 yang pernah mencapai 45.000 unit per bulan. Ada indikator hasil kemerdekaan lain yang layak disyukuri. Dengan tarif naik haji sekitar 3.250 dollar AS hingga 3.575 dollar AS, sekitar 210.000 orang berangkat ke Tanah Suci setiap tahun. Bahkan, hari ini orang harus antre beberapa tahun untuk masuk dalam daftar dapat diberangkatkan untuk menunaikan ibadah haji.

Di samping sebagian masyarakat layak mensyukuri hasil kemerdekaan ini, sebaliknya tak dapat dimungkiri dalam upaya mengejar dan berlari kencang itu, entah karena talenta, entah karena situasi, sebagian orang tertinggal di belakang. Setelah 64 tahun merdeka, tercipta juga orang-orang kalah, terutama dari sisi pendidikan dan kemudian sisi ekonomi.

Gerakan peduli nasional


Image: Jaloee.blogspot.com

Merdeka tidak berarti lepas dari penjajahan Belanda atau Jepang. Kemerdekaan bisa saja segera sirna bahkan oleh bangsa sendiri, lingkungan sendiri, atau di dalam rumah sendiri. Kemerdekaan yang hilang karena orangtua memaksakan kehendak kepada anak. Kemerdekaan yang hilang karena kekerasan dalam rumah tangga. Kemerdekaan yang hilang ketika orang masih hidup dalam ketakutan tekanan mayoritas dan minoritas, baik suku, agama, maupun ras. Kemerdekaan hilang karena 60 persen dari sekitar 350.000 lulusan perguruan tinggi tak punya harapan mendapat pekerjaan dan hingga hari ini masih sekitar 9,4 juta orang menganggur.

Oleh karena itu, yang tidak boleh hilang dari kemerdekaan ini adalah kepedulian. Peduli merupakan hakikat hidup merdeka. Merdeka merupakan manifestasi dari kebebasan diri berekspresi, tetapi pada saat yang sama merdeka juga sebuah keterikatan, sebuah kewajiban. Bukan terutama karena norma, bukan terutama karena aturan, bukan juga karena sangat berbudi pekerti, melainkan karena manusia mencintai kemerdekaan itu.

Karena cinta, orang tak merasa tertekan ketika harus menyerahkan tempat duduk di bus kepada orang tua atau orang cacat. Karena cinta, seseorang tak harus merasa kehilangan kemerdekaan untuk menghormati orang lain yang menunggu antrean. Karena cinta, pejabat tak harus memamerkan kekuasaan. Karena cinta, tak sulit membangun rumah ibadah, tidak harus ada bom, tidak membuat orang lain sengsara. Prihatin ketika salah satu dari 6 juta TKI diperlakukan tak sewajarnya sebelum berangkat, baik di negeri orang maupun setelah pulang ke Tanah Air.

Upacara, seragam, karnaval, lomba makan kerupuk, panjat pinang, slogan di gapura, akan kehilangan nilai ketika tidak disertai pemberdayaan masyarakat terbelakang dan masih lebarnya kesenjangan sosial. Lebih-lebih ketika ingin menyelesaikan urusan teroris, kriminalitas, stres, dan penyakit masyarakat lain.

Tahun 1970, Korea menjalankan program Saemaeul Undong, sebuah program peduli sahabat tertinggal dalam bidang agrikultur, infrastruktur, dan pendidikan. Ditambah kultur kerja keras, hemat, dan merit system, Korea Selatan lepas landas dalam dua generasi.

Di Indonesia ada bantuan operasional sekolah, puskesmas, bantuan langsung tunai, kredit usaha rakyat, sarjana masuk desa, penyuluhan pertanian, PKK, media, dan tim koordinasi penanggulangan kemiskinan yang barangkali perlu dikemas dalam sebuah keranjang besar, dikonsolidasi menjadi sebuah gerakan nasional membantu warga negara tertinggal, supaya ada lebih banyak orang merasakan arti kemerdekaan.

Agung Adiprasetyo, Wakil Pemimpin Umum Kompas

Sumber: Kompas,18 Agustus 2009

No comments :