Minggu, 15 Mei 2011

Sangkala 9/10

Sandiwara Musikal Betawi "Sangkala 9/10" merupakan pagelaran sandiwara musikal ke 3 yang diselenggarakan oleh Ikatan Abang None Jakarta (IANTA) tanggal 6-8 Mei 2011 di Teater Jakarta. ”Cinta Dasima” tahun 2009 dan ”Si Doel’ tahun 2010, adalah dua pergelaran yang sukses diselenggarakan sebelumnya.


Sangkala 9/10 merupakan kisah nyata yang terjadi di Batavia pada tahun 1740, kolaborasi 3 unsur budaya Tionghoa, Betawi dan Belanda. Kisah perjuangan dan kekuatan cinta dari tokoh berbeda etnis, Said dari keluarga Betawi dan Lily dari keluarga Hong Jian yang bersatu membela Batavia dari kekejaman pemerintahan VOC.

Pagelaran dibuka dan ditutup oleh Fauzan Ja’far – Bayang Pasir Orchestra, pendiri Loedroek ITB yang sangat memukau dengan lukisan pasir, yang ditampilkan melalui proyeksi berwarna kecoklatan. Jari Fauzan yang lincah mengikuti narasi Gambang Rancak oleh Firmansyah yang menceritakan suasana Batavia tahun 1740.

Suasana di perguruan kungfu Hong Djian



Suasana di Kampung Bidaracina
Di perguruan kungfu Hong Djian yang dipimpin oleh Niee Lee Kong dan anak muridnya yang bernama Nie Tse Pang, Nie Ghou Zong, Nie Cing Cong & Nie Tsa Pha sangat resah karena Gubernur Jenderal Adriaan Valckeneir (Teuku Zacky) membatasi aktivitas warga Tionghoa yang berdagang di Batavia. Valckeneir juga membujuk Bang Madi, seorang tokoh betawi dari kampung Bidaracina untuk mengusir pedagang Tionghoa dari Batavia.


Valckeneir & Bang Madi
Toko Obat Hong Djian
Bang Madi menolak dan memilih tidak mau ikut campur dalam perseteruan orang Tionghoa dan Belanda. Valckeneir mengatakan bahwa orang Betawi yang membela orang Tionghoa akan dianggap sebagai orang Tionghoa dan akan dibunuh.

Di pasar, tentara Belanda terus memunguti pajak dari para pedagang Tionghoa dan mengobrak-abrik toko obat Hong Djian, Lily/Nie Lie Hay anak gadis Hong Djian, berani melawan tentara Belanda dan ditolong oleh Said (Ade Firman Hakim) anak Bang Madi. Said kemudian belajar kungfu di perguruan Hong Djian, dan akhirnya jatuh cinta pada Lily.



Tanggal 9 Oktober 1470, peristiwa pembantaian itu terjadi. Suasana berubah menyeramkan. Ribuan orang Tionghoa dibunuh dan kampung cina hancur.

Di depan panggung dipasang tirai dari kain kelambu transparan, cahaya berwarna merah menyorot dari samping panggung dan membentuk siluet tentara Belanda yang sedang membantai .


Peristiwa pembantaian

Berbeda bukan berarti tak dibela, nyaris menjadi suatu keniscayaan di negeri tercinta ini. Mudah diucapkan tapi membutuhkan keberanian dari seluruh lapisan masyarakat untuk membela yang benar.

Maudy Koesnaedi

Tata panggung dengan paduan multimedia menjadi indah dan menarik, Penari kembar Gonjreng, Adella & Aletta, selalu menjadi ikon tari. Pemeran Said, Ade Firman Hakim keliatannya perlu memfokuskan dirinya dalam dunia entertainment. Pagelaran yang berlangsung selama +/- 3 jam membuat sebagian penonton merasa terlalu lama.



Untuk produser Sangkala 9/10, Maudy Koesnaedi jangan pernah jera untuk menyuguhkan hiburan sarat budaya, dan kepada seluruh keluarga besar Abang None Jakarta pertahankan semangat kalian mengabdi kepada Nusa & Bangsa.

Jakarta, 10 Mei 2011

Tidak ada komentar:

Followers