Pemberontakan di Republik Jengkol

Oleh SARIE FEBRIANE, M HILMI FAIQ, & HARIS FIRDAUS (Kompas, 17/4/2016)

Riwayat jengkol memikul paradoks yang menggelikan. Ia kerap dinista dan dicintai diam-diam. Martabatnya direndahkan, menjadi aib bagi kelas elite. Sang jengkol akhirnya memberontak, lalu mendirikan Republik Jengkol.

(KOMPAS/MOHAMMAD HILMI FAIQ)


Matahari siang itu tengah garang-garang- nya bersinar di langit Cililitan, Jakarta Timur. Sebuah warung makan sederhana mulai dipenuhi pengunjung yang kegerahan dengan peluh bercucuran. Di muka warung itu salah satu dinding dihiasi tulisan: ”Sensasi Makan Jengkol Enak dan Tidak Bau. Enggeh. Republik Jengkol”.

Inilah warung makan yang menamai dirinya Republik Jengkol. Di RJ, begitu singkatan populernya, menu yang berdaulat adalah jengkol, dengan segala olahannya yang revolusioner. Sebut saja tongseng jengkol, jengkol lada hitam, nasi goreng jengkol, sampai pasta jengkol!

Hebatnya, tak tercium bau menyengat dari semua olahan jengkol itu. Tiada jejak bau tertinggal di ruang mulut seusai bersantap. ”Saya berani jamin, pipis pun nanti tak akan bau,” kata Fatoni (46), pemilik RJ.

Jengkol olahan Fatoni cukup menakjubkan. Kehebatannya adalah pada ketiadaan aroma menyengat, tetapi tetap mempertahankan kelegitan dan kepulenan daging si jengkol.

Fatoni tidak ragu berbagi rahasia. Jengkol yang telah direndam air semalaman dimasak dengan aneka rempah, antara lain jahe, serai, lengkuas, daun salam, dan daun jeruk. Hasilnya, musnahlah baunya.

Apa yang membuatnya dengan gagah percaya diri mendirikan warung khusus jengkol ini? ”Saya ingin menaikkan martabat jengkol. Biar saja ditertawakan, tetapi saya yakin sebenarnya banyak yang diam-diam suka. Jadi, saya ingin mengembalikan martabat jengkol ini kepada rakyat. Re artinya kembali, publik adalah rakyat. Jadilah Republik Jengkol,” kata Fatoni, yang di kartu namanya mempredikati diri sebagai Presiden Republik Jengkol.

Keyakinannya terbukti. Tanpa perlu waktu lama, sejak berdiri 2012, RJ mereguk pelanggan dari berbagai kalangan, dari rakyat jelata sampai pesohor. Pada akhir pekan, ia menghabiskan 25 kilogram jengkol, sementara pada hari biasa 15 kg jengkol per hari.

Namun, menurut Fatoni, yang pernah 15 tahun berkarier sebagai ilustrator di agensi periklanan ini, orang tampaknya lebih nyaman memesan melalui telepon. Setelah selesai dimasak, jengkol pun lalu dijemput dengan jasa kurir atau ojek dalam jaringan (daring).

Hina

Kepercayaan diri jengkol juga merambah di Bandung, Jawa Barat. Tahun 2014, Gunarsah mendirikan D’Jengkol Kapeh Restoh, kafe khusus jengkol. Coba simak tagline restoran ini: ”Tempatnya Jengkol Bermartabat”.

”Jengkol itu kesannya hina banget. Padahal, harganya pernah lebih mahal daripada daging. Artinya, dia banyak diburu konsumen. Itu saja menunjukkan bahwa jengkol punya tempat di hati banyak orang,” ujar Gunarsah (43).

Banyak penikmat jengkol mengambil sikap mendua; doyan dan memuji cita rasa jengkol, tetapi enggan dianggap sebagai penyuka jengkol. Alasannya, antara lain, jengkol identik dengan aroma tidak sedap. Aroma inilah yang kemudian bagaikan dosa asal sang jengkol. Apakah dosa itu bisa dihapus? Ternyata bisa.

Gunarsah mempunyai resep dan teknik tersendiri. Dia merendam jengkol selama 1 jam dengan air jeruk. Setiap 20 menit sekali, air jeruk itu diganti dengan air jeruk baru. Sim salabim, hilang baunya. Supaya empuk, ia merebus jengkol selama sekitar 1 jam.

Baik Gunarsah maupun Fatoni bersaksi, jengkol berkualitas bagus yang menjadi favoritnya adalah jengkol asal Jepara, Jawa Tengah. Bentuknya bulat wungkul tidak gepeng, legit, tidak ada sentilan pahit, dan mudah hilang baunya. ”Jengkol Jepara bagus meskipun harganya lebih mahal sampai tiga kali lipat daripada jengkol lain,” ujar Gunarsah.

Di D’Jengkol Kapeh Restoh, jengkol diolah menjadi aneka menu, mulai dari nasi jengkol rendang amajing, nasi jengkol balado masbuloh, dan jengkol goreng pertamak.

Dari DI Yogyakarta, martabat jengkol juga diperjuangkan Mujiyem (67), pemilik Warung Makan Rojo Jengkol di Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman. Warung yang berdiri sejak 2015 ini kian populer berkat kepercayaan dirinya mengkhususkan pada menu spesialis jengkol. ”Kami pilih jengkol sebagai menu utama karena banyak orang yang suka jengkol, tetapi malas masaknya,” kata Mujiyem.

(KOMPAS.COM/WIJAYA KUSUMA)

Menu yang disajikan di Rojo Jengkol, antara lain, rendang jengkol, oseng-oseng jengkol, semur jengkol, balado jengkol, dan gulai jengkol. Saat liburan Natal dan Tahun Baru 2015, misalnya, pengunjung di Rojo Jengkol membeludak sehingga 15 kg jengkol pun habis dalam waktu hanya 3 jam. ”Kadang, ada saja pembeli yang pesan lebih dulu lalu beli jengkol sampai 1 kilogram untuk dibawa pulang,” ungkap Mujiyem.

Martabat jengkol di warung Rojo Jengkol diperjuangkan juga dengan menghilangkan baunya. Mujiyem mengolahnya selama tiga hari sebelum memasaknya. Ia menggunakan ramuan rempah-rempah untuk memusnahkan bau si jengkol.

Sayangnya, Mujiyem mengeluh harga jengkol yang kadang fluktuatif. Ramadhan tahun lalu, misalnya, harga jengkol sempat mencapai Rp 120.000 per kg melampaui harga daging sapi.

Semula anti

Pegiat jengkol tak berarti pada mulanya pencinta jengkol. Seperti Fatoni, yang semula mengaku anti jengkol karena tak tahan baunya. Namun, sang istri amat menggemarinya. Fatoni lantas terpikir mencari cara mengolah jengkol agar tak lagi berbau.

Dia mengaku enggan terjebak pada citra jengkol yang hina. Setelah melepaskan kariernya sebagai ilustrator, ia bertekad mendirikan rumah makan khusus jengkol tanpa bau. Ia tak peduli kepada orang-orang yang menertawakan warungnya.

Cemoohan juga sempat diterima Gunarsah saat mempromosikan masakan jengkolnya di ajang car free day. Orang-orang yang ditawari jengkol bebas bau tetap menutup hidung.

Inlander

Mengapa suatu makanan, seperti jengkol, bisa menyandang citra hina secara sosial? Sejarawan JJ Rizal menganggap hal itu tak terlepas dari warisan paradigma yang terbentuk sejak zaman Belanda ketika makananmakanan tertentu dikotak-kotakkan menurut kelas sosial.

Rizal mencontohkan seperti jengkol, nasi pada mulanya distigmatisasi sebagai makanan inlander, tidak berkelas, tidak bermartabat, bahkan dikutuk sebagai sumber bau badan.

”Itu makanan pribumi. Dalam perjalanannya, orang Belanda ketika itu lalu diam-diam sampai terbuka menyenangi nasi. Mereka menyiasatinya dengan ritual ekstravaganza yang memunculkan rijsttafel,” kata Rizal.

Menurut Rizal, nasib durian yang juga berbau menyengat lebih baik daripada jengkol. ”Ini berkat stimulus elite yang terlibat dalam bisnis durian bangkok yang dihadirkan waralaba berkelas,” tambah Rizal.

Rizal juga kadang mencermati, kalangan elite yang menggemari jengkol masih terbelenggu gengsi. Itu mencerminkan betapa makanan pun bisa dianggap menyandang aib yang berpotensi menodai citra kelas. Inilah yang disebut Rizal sebagai arogansi kelas yang bersembunyi dalam produk budaya, yaitu makanan.

”Agar tidak malu pun, kelas menengah-atas bahkan menciptakan bahasa samaran atau kode untuk jengkol,” ujar Rizal. Lantas terciptalah istilah jengki yang terdengar lebih cute. (FRO)


Blogger Widgets

Dari India, Inggris Menyerang Jawa

Oleh NAWA TUNGGAL, Kompas, 12/4/2016 Pada pertengahan April 1811, gelombang pasukan Inggris meninggalkan India untuk menyerang Jawa yang tengah berada di bawah kekuasaan Perancis. Pengerahan kekuatan militer laut yang melibatkan belasan ribu tentara dan 100 kapal ini konon merupakan salah satu pengerahan terbesar militer Inggris dalam sejarah negara itu. Wilayah Hindia Belanda, termasuk Jawa, berada di bawah kekuasaan Perancis karena ketika itu Belanda ditundukkan Perancis melalui Perang Napoleon (1803-1815). Belanda secara resmi dianeksasi Perancis pada tahun 1810. Jawa pun menerima imbas dari Perang Napoleon. Pendaratan pasukan Inggris di Pulau Jawa terjadi pada 4 Agustus 1811 di Cilincing, pantai utara Jakarta pada sisi timur. Pasukan Inggris terus berupaya merebut Jawa dari kekuasaan Belanda yang berada di bawah kekuasaan Perancis. Melalui berbagai peperangan, Inggris berhasil menguasai Jawa pada 18 September 1811 melalui Perjanjian Tuntang. Perjanjian ini dibuat di Desa Tuntang, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Perjanjian itu antara lain menyebutkan, wilayah Jawa, Palembang, dan Makassar harus diserahkan kepada Inggris. Begitulah, jalinan sejarah bangsa Indonesia tidak bisa dipisahkan dengan perjalanan sejarah bangsa-bangsa lain di dunia. Apa yang terjadi di Jawa merupakan dampak dari peristiwa yang melanda kawasan Eropa. Keterkaitan semacam ini dinilai belum diberi tempat yang memadai dalam pendidikan sejarah di kelas. Akibatnya, menurut sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Asvi Warman Adam, ada gap atau jarak antara pendidikan sejarah di sekolah dan pengetahuan sejarah yang terus berkembang di internet. "Pedoman pendidikan sejarah kita masih seperti di era Orde Baru. Sejak reformasi 1998 hingga sekarang, tidak dibuat pedoman pendidikan sejarah yang baru," tutur Asvi, pekan lalu, di Jakarta. Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid, pada beberapa kesempatan, mengutarakan, kesadaran sejarah sangat diperlukan untuk mengembangkan peradaban. Di sisi lain, bagaimana mungkin bisa membangun kesadaran sejarah dengan baik ketika pengetahuan sejarah tidak diberikan secara holistik dan memadai. Pengetahuan sejarah tidak hanya untuk meng- hafal kejadian masa lampau. Kontingen India Setelah Belanda tunduk melalui Perjanjian Tuntang, Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles (1781-1826) menduduki pucuk pimpinan pemerintahan Inggris di Jawa. Dennys Lombard, dalam buku Nusa Jawa: Silang Budaya (1996), menyebutkan, invasi Inggris dari India itu menyertakan kontingen-kontingen India yang berasal dari Bengali. "Setelah (Inggris) merebut Yogyakarta (pada tahun 1812), beberapa perwira dari India (subadar atau Kapten Dhaugkul Singh) terkejut melihat bahwa Jawa adalah tanah Brahma dan bahwa sunan adalah keturunan Rama," tulis Lombard. Kesadaran itu memungkinkan terjadinya Pemberontakan Kaum Sepoy (India) terhadap Inggris di tahun 1815. Dengan dukungan tersembunyi Keraton Surakarta, kaum sepoy dari India ini merumuskan gagasan pemberontakan terhadap Inggris untuk memulihkan kekuasaan Hindu. Namun, pemberontakan itu gagal. Selama berkuasa, Raffles menaruh perhatian khusus terhadap Jawa yang banyak dipengaruhi kebudayaan India. Raffles bahkan mengangkat persoalan indianisasi menjadi topik yang digemari. Raffles pun memberikan perhatian terhadap candi-candi Hindu-Jawa dan menulis buku History of Java. Perang Napoleon terus berlanjut. Kekalahan demi kekalahan dialami Kaisar Perancis Napoleon Bonaparte hingga berakhir pada 1815. Dalam suatu perjanjian di London, Inggris, pada 13 Agustus 1814, Inggris menyetujui wilayah Hindia Belanda dikembalikan kepada Belanda, yang tidak lagi berada di bawah kekuasaan Perancis. Pada tahun 1815, Belanda menyatakan kemerdekaannya kembali dari Perancis. Invasi Inggris ke Jawa dari India telah berakhir berabad- abad silam. Namun, melalui Raffles, invasi itu setidaknya telah mengenalkan kepada kita konsep indianisasi Jawa. Betapa Jawa sangat dipengaruhi oleh kebudayaan India. (NAWA TUNGGAL)

Tan Malaka

Oleh M. SUBHAN SD Tanggal 13 Februari 1922, Tan Malaka ditangkap di Bandung saat memimpin sekolah Sarekat Islam (SI). Bagi Belanda, ia berbahaya. Tanggal 23 Maret 2016, juga di Bandung, Tan Malaka dilarang tampil. Pementasan "Monolog Tan Malaka: Saya Rusa Berbulu Merah" di pusat kebudayaan Perancis IFI batal karena ditolak massa. Setelah Wali Kota Bandung Ridwan Kamil turun tangan, baru esoknya bisa dipentaskan. Masa lalu telah berlalu, tetapi kecemasan sejarah terus saja membayang: Tan Malaka masih dianggap berbahaya. Dia memang sosok kontroversial. Ditolak karena Marxis/komunis. Namanya dihapus dalam sejarah bangsa oleh rezim Orde Baru. Tan Malaka memang misterius. Jejak perjuangannya melampaui 11 negara di dua benua. Namun, di mana pun ia berada, selalu dianggap berbahaya. Dialah orang paling dicari polisi rahasia Belanda, Inggris, Amerika Serikat, Tiongkok. Terpaksa ia bersembunyi dan menyamar. Sedikitnya ia punya 23 nama samaran. Toh, pernah merasakan bui di Filipina dan Hongkong.
(sumber gambar: zenius.net)


Tan Malaka memang sosok kontroversi. Marxis, tetapi mengkritik keras Komunisme Internasional (Komintern) karena enggan bekerja sama dengan Pan-Islamisme. Pada usia 25 tahun (1921), dia sudah memimpin PKI, tetapi ditolak oleh PKI. Dia menolak rencana pemberontakan tahun 1926-1927, juga tak terlibat pemberontakan Madiun tahun 1948. Dari tempat persembunyiannya di Bangkok, dia membangun partai sendiri, Partai Republik Indonesia (Pari) tahun 1927.

Tan Malaka juga ironi. Mendapat gelar pahlawan pada 1963, tetapi akhir hayatnya sangat tragis. Dia dieksekusi dengan tangan terikat ke belakang, yang disinyalir dilakukan tentara pada 1949. Harry A Poeze, sejarawan Belanda yang setia menelusuri jejak Tan Malaka, menelusuri makamnya di Selopanggung, Kediri.

Namun, sulit membantah Tan Malaka tokoh legendaris. Sesungguhnya ia nasionalis tulen. Apa pun ideologinya, ia mencurahkan hidup untuk kemerdekaan bangsanya. Bahkan, tak hirau dengan kehidupannya sendiri. Tak heran, nama besarnya menjadi patron bagi para pejuang bangsa. Dia disebut "Bapak Republik Indonesia", setelah menulis Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik) tahun 1925.

Di kalangan mahasiswa sampai awal 1990-an, ia adalah idola. Pada zaman Orde Baru, buku-bukunya dicari lewat bisik-bisik. Madilog (1943) jadi puncak karya Tan Malaka, sebagai filsuf sampai tataran praksis, bukan cuma tataran ide. Berburu buku-buku Tan Malaka tak saja sulit, tetapi juga kater-ketir. Sekitar 1988-1989, karena sering berjongkok di penjual buku loakandi Pasar Senen, Jakarta Pusat, beruntung mendapatkan buku-buku lawas Tan Malaka, termasuk masih dalam bentuk ketikan.

Tahun 1994, ketika pergi ke Bayah, Banten selatan, salah satu tempat persembunyian Tan Malaka zaman penjajahan Jepang, ada orang tua yang mengenalnya. Pak Tua cuma ingat, tahun 1940-an, ada lelaki bertubuh tidak tinggi, tetapi dikenal pintar dan jago bicara. Sayang, sewaktu di Haarlem, Belanda, tahun 2014, tak sempat menelusuri jejak Tan Malaka (1913-1919).

Sekarang tahun 2016. Komunisme telah lama apkir. Rezim pun telah berganti. Namun, Sutan Ibrahim Datuk Tan Malaka, begitu nama lengkapnya, tetap saja "berbahaya". Dia benar-benar pejuang revolusioner yang kesepian. Sejarah memang penuh ironi. Padahal, kata sejarawan Sir John Seeley (1834-1895), belajar sejarah agar kita lebih bijak. Kita-generasi yang merasakan kenikmatan kemerdekaan sekarang-sesungguhnya telah berutang kepada Tan Malaka dan pendiri bangsa yang lain.

Sumber: Kompas, 31/3/2016


Selamat Jalan Jus Badudu, Sang Pahlawan Bahasa

Banyak kenangan yang terpatri di ingatan saya mengenai Tokoh Bahasa Jus Badudu. Pada tahun 1985 bersama Aristides Katoppo ia menghidupkan kembali Kamus Umum Bahasa Indonesia yang dicetak terakhir tahun 1954. Buku rujukan ini terbit pada tahun 1994 dan beberapa kali dicetak sampai sekarang oleh Pustaka Sinar Harapan.

Beliau merantau dari Gorontalo bersama ayah Almarhum Jusuf Panigoro. Jus Badudu pulalah yang memberi nama putri pertama saya, Gita Kemala, yang lahir 8 Juni 1980 di Bandung. Semoga beliau tenang di peristirahatannya kini.

-- DSP




Jus Badudu
(Sumber gambar: Wikipedia)


Gita Kemala, nama pemberian Jus Badudu


Selamat Jalan Jus Badudu, Sang Pahlawan Bahasa

Oleh CORNELIUS HELMY, Kompas, 14/3/2016

"Ada pakar bahasa kita yang mengatakan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa malaikat karena keberadaannya di tengah-tengah bangsa yang sangat bhinneka memang menakjubkan. Seperti sesuatu yang mustahil, tetapi dalam kenyataannya memang ada."

Membaca tulisan Jusuf Sjarif Badudu berjudul "Bahasa Indonesia Setelah 50 Tahun Indonesia Merdeka" di harian Kompas, 22 Agustus 1995, itu meninggalkan kesan mendalam. Satu dari ratusan artikelnya itu memberi pelajaran berharga tentang kekuatan bahasa Indonesia yang sukses menyatukan perbedaan bangsa ini. Lebih dari separuh hidupnya didedikasikan untuk bahasa Indonesia.

Kini, sosok yang akrab dipanggil Jus Badudu itu telah tiada. Lewat upacara pemakaman militer, jenazah penerima Satyalencana Karya Satya (1987), Bintang Mahaputera Nararya (2001), dan Anugerah Sewaka Winayaroha (2007) itu dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Kota Bandung, Jawa Barat, Minggu (13/5) pukul 11.10.

Hari Sabtu, ahli tata bahasa Indonesia dan Guru Besar Linguistik Universitas Padjadjaran itu meninggal dunia di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung akibat komplikasi penyakit. Sebelumnya, dia sempat dirawat karena stroke dan alzheimer.

Dia meninggal dalam usia 89 tahun. Hari wafatnya sepekan menjelang ulang tahunnya yang ke-90. Pria kelahiran Gorontalo itu meninggalkan 9 anak, 23 cucu, dan 2 cicit. Dia menyusul kepergian istrinya, Eva Henriette Alma Koroh, yang lebih dulu meninggal pada 16 Januari 2016 dalam usia 85 tahun.

"Terima kasih kepada negara yang telah memberikan tempat terhormat kepada almarhum," kata Rizal Badudu, salah seorang anak JS Badudu.

Bahasa Indonesia sebetulnya bukan pilihan utama JS Badudu. Dia awalnya ingin mendalami matematika. Namun, karena saat itu jatah mempelajari matematika sudah terisi penuh, tekadnya menjadi guru di tanah Jawa membawanya pada bahasa Indonesia.

Dia lalu telanjur jatuh cinta pada bahasa Indonesia dan mengangkatnya ke tempat tertinggi melalui puluhan judul buku. Beberapa di antaranya bahkan dibuat saat sudah terserang stroke. Beberapa bukunya, seperti Pelik Pelik Bahasa Indonesia (1971), Inilah Bahasa Indonesia yang Benar (1993), Kamus Umum Bahasa Indonesia dari Revisi Kamus Sutan Muhammad Zain (1994), Kamus Kata-Kata Serapan Asing (2003),dan Kamus Peribahasa (2008), menjadi rujukan penting hingga kini.

Murwidi, salah seorang menantu JS Badudu, mengatakan, hingga akhir hayatnya, semangat JS Badudu tak padam. Dia masih ikut menyelesaikan revisi lanjutan Kamus Bahasa Indonesia. Buku itu direncanakan terbit Oktober tahun ini.

"Menjadi guru sejak berusia 15 tahun dan baru berhenti pada usia 80 tahun. Bukan karena ingin beristirahat, tapi karena kondisi fisiknya menurun," katanya.

Selamat jalan, Pahlawan Bahasa....


Ruang Bersama yang Menginspirasi

Oleh DWI AS SETIANINGSIH Usianya baru 1,5 tahun. Namun, Paviliun 28 yang dikelola duet Eugene Panji dan Nova Dewi ini sudah berhasil memosisikan diri sebagai ruang bersama yang tak sekadar mempertemukan, tetapi juga memberi bobot bagi pertemuan-pertemuan kaum urban Jakarta dari berbagai komunitas.
KOMPAS/LUCKY PRANSISKA

Paviliun 28 berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 350 meter persegi di Jalan Petogogan 1, Jakarta. Bangunannya terdiri atas dua lantai dengan penanda yang sangat menarik mata berupa pintu besar bercat merah yang kontras.

Lantai bawah merupakan Bar Jamu yang menyajikan jamu dan berbagai jenis makanan khas Indonesia yang bisa dinikmati di bar atau meja kursi yang tersedia di lantai tersebut. Ada juga beberapa ruangan untuk penyewa (tenant) dan sebuah elemen penting dari bangunan itu, yaitu bioskop berkapasitas 40 orang yang terletak di bagian belakang.

Di lantai atas ada ruang rapat, ruang operator, dan taman mini yang mengalirkan udara segar ke dalam ruangan. Siapa saja boleh menggunakan ruang rapat, termasuk yang ingin sekadar kongkow-kongkow di taman. ”Bebas, asal bertanggung jawab,” kata Eugene.

Saat tak ada acara yang digelar, orang bisa sekadar makan, minum, dan ngobrol-ngobrol saja. Beberapa di antaranya melakukannya sambil membuka laptop dan mengobrol serius, membiarkan suara musik mendominasi ruangan.

Ketika sebuah acara tengah digelar, jangan ditanya seperti apa suasananya. Seluruh bagian ruangan akan penuh sesak, nyaris tak menyisakan ruang untuk bergerak.

”Tempat ini dibuat sebagai entry point buat new comer. Siapa new comer-nya, ya merangkul teman-teman yang hidupnya di industri kreatif atau yang tertarik sama industri kreatif. Siapa pun itu,” ungkap Eugene.

Gagasan tentang keberadaan Paviliun 28 itu berawal dari mimpi Eugene yang sejak dulu sangat ingin memiliki bioskop. ”Banyak pelaku industri film mengeluh karena bioskop dimonopoli si A, atau si B. Namun, mereka tidak berbuat apa-apa, misalnya membuat optional medium untuk menayangkan film mereka,” kata Eugene.

Dengan gagasan memberi ruang alternatif untuk film itulah, pada tahap awal Paviliun 28 banyak mengakomodasi acara untuk orang-orang yang bergerak di industri film. Misalnya memutar film-film yang bagus, tetapi tak mendapat cukup tempat di bioskop, termasuk di antaranya film Senyap karya Joshua Openheimer dan film Nay karya Djenar Maesa Ayu.

Nyatanya, pemutaran film yang diikuti interaksi dengan sutradara dan pemain-pemain film itu menyedot animo luar biasa. Dari situ lalu lahir acara lain yang juga terus menyedot perhatian massa. Seperti acara pembacaan puisi dan acara musik yang menghadirkan beragam penampil, salah satunya White Shoes and The Couples Company.

Belakangan, setiap Kamis malam ada Jazz Malam Jumat yang menghadirkan Agam Hamzah, termasuk musisi-musisi cilik yang tampil di Paviliun 28 sebagai ajang belajar tampil di depan audiens. Pengalaman-pengalaman tampil seperti itu menjadi hal yang sangat berharga, mengingat tak banyak tempat yang mau memberi ruang bagi para pendatang baru.

Aktivitas yang menyedot animo kaum urban Jakarta tersebut lambat laun menjadikan Paviliun 28 sebagai basis bagi berbagai komunitas. ”Kami sendiri surprised. Sejak bulan pertama sampai hari ini, tempat ini selalu ramai dikunjungi berbagai komunitas,” kata Eugene.

Hal itu, menurut Nova, menjadi bukti bahwa anak-anak muda memang mencari wadah agar bisa saling menginspirasi dan selalu mencari ruang untuk mengaktualisasi diri dengan segala sesuatu yang terhubung dengan mereka. ”Enggak usah jauh-jauh, kadang ada anak-anak SMK jurusan film yang datang ke sini hanya untuk ketemu dengan pembuat film. Jadi, mereka ke sini sekadar untuk foto dengan Riri Riza atau Mira Lesmana,” tambah Eugene.

Dari sisi itu, tambah Nova, Paviliun 28 tak sekadar memberi ruang untuk pertemuan-pertemuan yang menginspirasi, tetapi juga berperan mengecilkan kesenjangan antara figur publik dan komunitasnya. ”Karena anak-anak muda kan butuh idola, jadi perlu sosok yang bisa menginspirasi mereka. Nah, kami di sini menghadirkan mereka untuk mengecilkan gap itu karena sosok-sosok seperti mereka kadang sulit dijangkau,” kata Nova.

Belajar terus

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA

Baik Eugene maupun Nova sepakat, siapa pun bisa tampil atau membuat acara di Paviliun 28 tanpa ditarik biaya alias gratis. Imbal balik yang ditetapkan lebih berupa kesediaan berbagi ilmu dari para pengisi acara kepada yang hadir agar setiap orang memiliki kesempatan untuk belajar, terus dan terus.

”Selama kegiatan yang digelar berhubungan dengan seni dan budaya, kami akan support. Tetapi kalau komersial, memang akan ada biaya yang ditarik. Ya, fair-fair saja,” kata Eugene.

Belakangan, seiring popularitas Paviliun 28, banyak orang tertarik menggunakannya sebagai tempat untuk merayakan ulang tahun hingga acara pernikahan. Ada juga sekelompok ibu yang menyewa bioskop untuk memutar film yang ingin mereka tonton. ”Walaupun enggak sering-sering amat supaya tempat ini enggak beralih fungsi,” kata Eugene.

Sejauh ini keduanya sepakat tak mau menjadikan Paviliun 28 sebagai ruang dengan batas-batas formal karena ada banyak komunitas yang tak punya wadah dan harus dirangkul. Harapannya agar mereka tidak merasa sebagai komunitas yang sendirian.

Yang jelas, mengelola tempat seperti Paviliun 28 harus sepenuh hati. ”Kami berdua banyak bantu juga karena tidak banyak tim yang terlibat dan banyak yang free juga sehingga kami kerap terlibat di belakang layar. Kalau enggak sepenuh hati, ya, enggak bisa,” tambah Nova.

Yang jelas, setiap pertemuan yang terjadi harus dapat membuat setiap orang belajar. Eugene mencontohkan staf-staf Paviliun 28 yang dulunya tak punya banyak kemampuan, kini menguasai banyak hal, mulai dari menjadi pelayan, kasir, hingga menjadi sound engineering.

”Ini semua benar-benar setara, semua orang di sini dapat kesempatan belajar dengan porsi yang sama sesuai kebutuhan masing-masing. Yang punya belajar terus, yang kerja juga, yang datang juga belajar terus,” kata Eugene.

Paviliun 28 barangkali menjadi satu dari banyak ruang publik yang dibutuhkan untuk mewadahi ekspresi kaum urban. Di situ, ruang diperlakukan sebagai bagian penting dari kehidupan sehari-hari yang membutuhkan keguyuban gaya urban.

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA

Sumber: Kompas, 6/3/2016