COPENHAGEN

Tanggal 17 Juni kami terbang dengan SAS, Scandinacian Airlines dari Helsinki menuju Copenhagen  selama sekitar 40 menit dengan pesawat berbaling-baling dua. Proses airport lancar langsung naik kereta di pusat kota menuju Copenhagen selama 20 menit. Stasiun Kopenhagen tua tapi terawat dengan baik dan kelihatannya menjadi pusat kegiatan. Saya juga terkesiap mendengar lagu-lagu mars perjuangan berkumandang di pintu masuk stasiun dan langsung teringat sahabat di tanah air: Ananda Sukarlan, Addie MS, dan Purwacaraka. Sewaktu mengantri tiket di airport untuk menuju ke Copenhagen City kami berkenalan dengan seorang pengacara muda dari Argentinya yang simpatik namanya Sebastian. Dan dengan senang hati dia membantu membawa koper Ibu. Sesampainya di stasiun, kami mengetahui bahwa dia juga mencari hotel yang sama, Copenhagen Strar Hotels yang berada di sekitar stasiun. Walaupun kami tahu hotel itu berada di sekitar stasiun, tapi tetap kami membutuhkan arah dimana hotel itu berada dan si kondektur berbaik hati menunjukkan arahnya. Ternyata hotel itu hanya beberapa langkah dari stasiun.















Keesokan harinya kami ikut hop on hop off. Seperti negara Skandinavia lainnya, transportasi umum terintegrasi. Kereta, metro, bus, dan trem. Di sekitar hotel, hampir semua jenis makanan ada. Kami malam terakhir di Copenhagen makan malam di Madklubben Vesterbro, Vesterbgogade 62, 1620 Kobenhavn V. Restoran juara pertama kategori kelas ekonomi yang berada di 100 m dari hotel. Harganya tapi tidak murah. Makanan khasnya adalah ‘The Staff Meal” seharga 50 crown. Namun, Sommy memilih 300 gr grilled rib eye dan sallad. Kami juga makan siang dengan Capitan Vice President Maelsk Oil di Nimb Baserie, Tivoli, pusat gelanggang permainan dan taman kebanggaan orang Copenhagen, terletak di depan stasiun.










Kami juga mengunjungi Lousiana Museum of Modern Art, museum seni kontemporer terkemuka di Copenhagen, terletak di sebuah tanah yang luas di pinggir pantai yang indah. Kami naik kereta api setengah jam. Saat itu sedang berlangsung Yoko-Ono Half-a-Wind Show: A Retrospective. Di situ terdapat gallery, chidren wing, concert hall, toko, dan cafe. Kami mengunjungi Design Museum Danmark. Seperti diketahui, Denmark sangat terkenal dengan desain-desain modern. Kastil-kastil zaman medieval, gereja-gereja tua yang menjulang, dikemas keindahan alam yang begitu memukau, menarik perhatian para pengunjung.

Setelah selesai dari museum, kami mengunjungi sebuah kota kecil dengan menumpang kereta selama 10 menit, kota itu bernama Helsinger. Kota ini adalah kota kecil yang berada di pinggir pantai. Dari stasiun kami berjalan kaki 10 menit ke kastil Kronborgdimana Shakespeare konon kabarnya pernah tinggal di situ dan mengarang karya besar Hamlet.

Amalienborg Palace (The Royal Palace) adalah kediaman Danish Royal Family yang sampai sekarang masih didiami. 







Selain itu, kami melewati Stroget Street, area pusat perbelanjaan yang berada di pusat kota. Di sini kami hanya membeli magnet karena harga-harga mahal semua.

Kami juga mengunjungi icon Kopenhagen, patung Little Mermaid, yang terletak di pantai Langenine yang agak sedikit di pinggiran kota. Hal yang sangat menarik dari Kopenhagen adalah arsitekturnya yang memancarkan aura klasik. Deretan bangunan sepanjang jalan didominasi oleh dinding dengan bata merah. Suasana kota tenang dan tentram, jauh dari hiruk pikuk kota besar yang bising, walau menjadi sentral ibukota Denmark.





















Bergabungnya Denmark dalam konvensi negara Schegen tahun 2001, memudahkan akses dari dan ke negara ini. Akan tetapi, Denmark masih mempertahankan mata uangnya sendiri, Danish Kroner (1 DKK= Rp 1708), bukan Euro. Saya juga baru tahu bahwa Denmark adalah negara yang penduduknya paling bahagia dan sejahtera di dunia. Negara ini beberapa kali mendapat predikat The Happiest Country in The World, dimana indikatornya adalah faktor pendapatan per kapita, kesejahteraan hidup, tingkat kesehatan, pendidikan, angka pengangguran, dan tingkat stres penduduk.

Copenhagen sendiri, sebagai Ibu Kota, mendapat predikat #1 World’s Most Livable City and Best Design City dari Majalah terkenal, Monacle. Alasan pemberian predikat itu adalah tata kota yang sangat baik, perhatian yang tinggi terhadap isu lingkungan, sistem transportasi yang sangat baik, serta pemanfaatan renewable energy yang sustainable. Kopenhagen juga kota yang sangat bike-friendly. Mereka menyediakan sepeda untuk umum yang dipakai gratis dengan menggunakan koin
.
Kota ini juga punya tokoh yang bernama Mister Hans Christian Andersen, yang terkenal melalui sastra.

Ada kejadian lucu. Waktu naik hop on hop off menuju museum, kami nunggu bus lama banget. Kami duduk di kafe untuk mengisi waktu. Karena tidak kunjung datang, akhirnya kami memutuskan pulang ke hotel dan melanjutkan perjalanan besok. Ternyata setelah sampai di museum, kami baru tau kalau kafe tempat nongkrong kemaren hanya berjarak beberapa langkah dari museum.

Temu kangen dengan Yessy di Helsinki & Tallinn

Dari St. Petersburg kami melanjutkan perjalanan ke Helsinki, ibukota Finlandia, dengan Rossiya Airlines. Helsinki merupakan tujuan pertama kami di Skandinavia karena jaraknya yang dekat dengan St. Petersburg dan juga adanya kesempatan untuk mengunjungi Yessy & keluarga yang sudah 7 tahun tinggal disana.
Setelah terbang selama 1 jam, akhirnya kami tiba di bandara Helsinki-Vantaa. Suasana terasa cukup haru ketika kami dijemput Yessy dan anak-anaknya, Rasya dan Nares, bahkan tak terasa saya menitikan air mata ketika menyadari bisa bertemu Yessy kembali.

Dari bandara kami diantar menuju hotel Scandic Simonkentta dengan menggunakan bis airport tujuan ke pusat kota nomor 615, dengan membayar tiket bis seharga 4.50e. Perjalanan dari bandara menuju hotel ditempuh selama 30 menit



Sore hari kami dijemput kembali oleh Yessy sekeluarga untuk makan malam di rumahnya. Yessy masak ikan salmon, tahu, lalapan dan sayur asam. Sambil makan malam kami bercerita banyak mengenai masa lalu sambil bernostalgia....

Keesokan pagi setelah breakfast di hotel, saya dan Somy mengambil paket city tour Helsinki dengan membeli tiket harian seharga 7 euro dan menggunakan tram sebelum kemudian dijemput Yessy dan anak-anaknya untuk berkeliling mengunjungi beberapa tempat lainnya.



Menelusuri sepanjang jalan Aleksanterikatu, kami  menemukan nuansa Eropa dengan  bangunan tua yang dipertahankan bentuk aslinya walaupun diperuntukan sebagai pertokoan. Kami singgah ke Helsinki Cathedral, atau biasa disebut sebagai gereja putih, yang merupakan salah satu landmark/icon terkenal kota Helsinki. Setelah itu kami menyempatkan diri mencicipi ikan muikku, jenis ikan kecil yang digoreng dengan tepung dan disajikan dengan kentang goreng dan saus mayonaise sebelum melanjutkan perjalanan ke Gereja Uspenski Orthodox Cathedral, gereja orthodox terbesar di Eropa Barat dan merupakan salah satu  simbol nyata kekuasaan Rusia dalam sejarah Filnlandia.







Rintik hujan mulai turun dan dingin semakin terasa, namun hal itu tidak menyurutkan semangat kami untuk melanjutkan  perjalanan menyusuri sudut kota terutama menuju market square yang terletak di depan istana presiden. Sekilas kami tidak menyadari, ketika duduk santai dan menikmati pemandangan laut, apabila bangunan tersebut adalah istana presiden karena selain terllihat sederhana dan hampir serupa dengan bentuk bangunan lain serta  tidak nampak penjagaan yang begitu ketat, struktur bangunan  luar juga terlihat jauh dari kesan mewah karena tidak ada ukiran/pahatan ataupun ornamen lain yang memberikan kesan berbeda dengan bangunan lain disekitarnya. 

Selama di market square, selain berkeliling melihat beberapa kios yang menjual suvenir atau pernak-pernik/perhiasan khas buatan Finlandia, kami juga mampir di salah satu kios untuk membeli buah ceri yang manis rasanya. Tidak jauh dari market square, kami menghampiri icon Helsinki lainnya berupa sebuah patung perempuan telanjang yang diberi  nama Havis Amanda. Setiap tahunnya pada hari buruh, patung yang letaknya berada ditengah kolam ini menjadi pusat perhatian publik ketika sejumlah mahasiswa, bersama masyarakat Finlandia lainnya, melakukan atraksi ritual dengan memandikan dan meletakkan topi di patung tersebut.

Selanjutnya kami menelusuri sisi jalan Esplanadi yang tidak hanya memiliki salah satu taman terindah di tengah kota namun juga  dipenuhi oleh berbagai toko desain terkemuka internasional. Salah satu toko yang kami kunjungi adalah Marimekko yang terkenal dengan desain Finlandia karena memiliki corak dan warna yang khas/unik sejak tahun 1951. Menjelang sore yang semakin gelap ditambah hujan yang semkin deras dan kelelahan yang terasa, kami akhirnya memutuskan untuk beristirahat dan kembali ke hotel.

Hari ketiga, kami mengunjungi Tallinn, ibukota Estonia. Estonia adalah negara kecil tetangga Finlandia seluas 45,227 km2 dan merupakan salah satu bagian negara Baltik bekas jajahan Uni Soviet.

Jam 6 pagi kami telah dijemput dari hotel oleh Yessy sekeluarga menuju pelabuhan dengan menggunakan mobil untuk selanjutnya, dengan tiket seharga 25 Euro/orang dan menggunakan kapal ferri Tallink, kami menuju Tallinn dengan waktu tempuh 2 jam. 

Setiba di Tallinn pada jam 9.30 pagi waktu setempat (atau sama dengan waktu Helsinki), kami langsung menuju salah satu obyek wisata utama kota, yaitu Old Town. Ketika mulai memasuki  wilayah kota tua yang cukup luas ini, kami "disambut" oleh 2 (dua) buah menara bundar  dengan atap kerucut berwarna oranye yang diberi nama Viru Gate. Dari strukturnya yang kokoh dan tinggi, terlihat menara tersebut merupakan salah satu bagian dari tembok benteng yang mengelilingi kota tua. Sepanjang jalan menyusuri wilayah itu, kami menemukan beragam bentuk bangunan tua menarik dan bersejarah peninggalan abad 13-16 seperti lapangan terbuka Town Hall Square, Gereja Orthodox Cathedral Rusia St. Alexander Nevsky, kastil Toompea Castle,  tembok kota Hellemann Tower and Town Wall dan bangunan unik lainnya antara lain salah satu apotik yang telah berdiri sejak tahun 1400.












Selain daya tarik wisata, hal lain yang membuat penduduk di negara tetangga sering mengunjungi Estonia adalah harga barang yang relatif murah dibandingkan sesama negara pengguna mata uang Euro, antara lain Finlandia. Salah satu contoh dari hal ini adalah banyak dimilikinya summer home oleh warga asing karena harga tanah yang relatif murah sekitar Rp. 30 ribu/m2m, atau rumah yang harganya Rp. 400 juta atau bahkan tanah seluas 5 hektar dengan rumah tua diatasnya senilai Rp. 750 juta. Melihat sejarah bahwa Estonia merupakan bekas jajahan Rusia dan 25% penduduk minoritasnya adalah etnis Rusia maka tidak heran apabila banyak ditemukan orang yang bisa berbahasa Rusia ataupun praktik money laundering yang sumbernya diduga kemungkinan besar berasal dari Rusia. 






Setelah berjalan melihat dan menyusuri kota tua selama kurang lebih 3-4 jam, kita memutuskan untuk makan siang di  Lido Restaurant yang berada didalam sebuah pertokoan baru bernama Solaris dan letaknya tidak jauh dari Old Town. Lido merupakan buffet-style restaurant yang mempunyai desain unik dan menawarkan beragam makanan dan minuman khas Estonia. Setelah makan siang dan menghabiskan sisa waktu sebelum menuju pelabuhan, kami menemani Yessy dan keluarga berbelanja ke Rimi Hyperrmarket yang lokasinya bersebelahan dengan pelabuhan untuk membeli sejumlah barang kebutuhan pokok mengingat harganya yang relatif lebih murah dibandingkan di Helsinki. Tak terasa sudah kita menghabiskan waktu lebih dari 6 jam di Tallinn sehingga kita kemudian menuju ke pelabuhan untuk menaiki kapal ferri yang akan membawa kita kembali ke Helsinki.

Keesokan hari, setelah sarapan pagi, Somy dan Yessy jalan jalan ke KBRI dan Kantor Pusat Nokia di Espoo.   Kemudian mereka kembali ke hotel untuk menjemput sayauntuk selanjutnya menuju Kaivopuisto, salah satu daerah di pinggir laut yang memiliki taman yang indah. Namun angin dingin disertai hujan rintik memaksa kami unuk segera kembali ke mobil dan mencari tempat untuk menghangatkan badan dan pilihan kami jatuh ke McD di daerah Kamppi yang tidak jauh dari Hotel.  Setelah itu kami kembali ke hotel untuk beristirahat dan mulai berkemas.


5 (lima) sudah hari kami berada di Helsinki dan pagi ini Yessy kembali menjemput kami di hotel untuk menuju ke bandara dengan menaiki bus yang ditempuh selama 20 menit. Proses check in berjalan lancar dan sambil menunggu boarding, kami masih sempat makan empek-empek buatan Yessy. Sebagai informasi, empek-empek ini biasanya dibikin Yessy berdasarkan pesanan yang dapat dikirim baik secara lokal ke seluruh wilayah Finlandia ataupun ke negara Eropa lainnya. Tetapi jenis pesanan seperti pisang molen, tape, dll hanya dapat dikirim secara lokal atau hanya di Finlandia saja.


A New French (Tech) Revolution?


Telecom enterpreneur XAVIER NIEL wants to shake up his home country’s education system.
By: Vivienne Walt 

            A tall, middle aged man is propped against a wall inside a building on the gritty nothern edge of Paris. He’s deep in discussion with a young woman sporting bright-green hair tied in pigtails; she’s sucking on a neon-blue lollipop and driving home a point to him with her hands.
            The man listening intently to the artsy-looking twentysomething isn’t a talent agent or even a college professor—though he’s keenly interested in education. He is Xavier Niel, one of the richest people in France (estimated net worth: $7.8 billion), who achieved his wealth by disrupting his country’s tellecommunication industry. Now Niel, 46, wants to upend another French institution: its notoriously rigid education system.
            In September he opened a programming school called 42, a name derived from the 1970s classic The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy, in which the answer to life’s mysteries is always 42. The school, in Nothern Paris (where Fortune found Niel chatting with students), breaks almost every rule of French matriculation: Tuition is zero. So too, are prerequisites. Of the 70,000 young French who took 42’s application test, about 40% were high school dropouts. To underscore the school’s edgy feel, Niel (pronounced “nee-el”) had a pirate flag hoisted outside the building.
Niel says he was inspired to start his school not only because French companies report a chronic shortage of high-tech talent to hire, but also because some 200,000 youths drop out of school each year. Many, including Niel, believe that is because french education focuses on formalized, nationaly controled testing that favors workhorses over creative geeks and maverick innovators. The country that once churned out geniuses such as painter Pierre-Auguste Renoir and composer Claude Debussy has struggled to create a Mark Zuckenberg or Steve Jobs.
Niel sees technology skills as a way to even the playing field in France, not just for diadvantage kids but also for middle-class and elite students who want to explore different career paths. “There’s a lack of social mobility,” he says. “If you are the son of a doctor.” By contrast, his new school is “a little subversive,” he says with a delighted grin.
Niel knows all about being subversive. He was raised in the modest suburb of Creteil, a far cry from Paris’s majestic avenues. And while the great majority of French CEOs come out of the grandes ecoles, the equivalent of the Ivy League, Niel skipped college altogether and holed up at home with his computer, coding. “I started literally in a garage alone,” he explains. “I had some luck.”
Niel developed sex-chat software (he was 18, after all) and other communication tools, which he sold to tech companies that provided content for France Telecom’s groundbreaking Minitel online service. At 26, he created France’s first ISP, WorldNet, and sold it for about $55 million in 2000. In 1991 he launched Iliad, the first French company to offer a “tripple play” TV-phone-Internet service, naming it (in English, no less) Free. Last year Niel won the bid for France’s fourth mobile service and launched Free Mobile, offering a floor-smashing 20 Euro (about $28) monthly plan for unlimited calls, far cheaper than other French services.
His competitors cried foul, but Niel couldn’t have cared less. Iliad’s market cap has ballooned 11-fold over the decade, to 9.8 billion Euro ($13.5 billion), making Niel, who owns 55.3% of Iliad, immenslyy rich. Yet despite that (and even though the now owns a sizable chunk of France’s ultimate establishment newspaper, Le Monde), Niel retains his outsider image among French execs, having smashed his way into the elite. Niel is smart enough to know that image works to his advantage, as he throws his energies into new projects; his other company, Kima Ventures, invest in 100 startups a year.
“He is very un-French, but maybe that is why he has succeeded,” says Christophe Roquilly, a professor at EDHEC Business School in Lille. “He doesn’t accept the establishment’s state of mind.”
An antiestablishment culture pervades Niel’s school. During a recent boot camp for about 3,000 programers, the floor was littered with inflatable mattresses and soda cans from students who’d hopped trains to Paris from the hiterlands and bunked there for weeks. About 1,000 will make the cut for a three-year programming course that begins in mid-November. Even then there will be few teachers of classes. Students sit in warehouse-size rooms at aApple computers, creating whatever program they dream up, in a kind of giant hackathon.
Not everyone is sold on the idea Government rules dictate that since 42’s students need no high school diploma, the three-year courses will not have degree status. Wannabe students seem unconcerened. “ I’ve been earning the SMIC [minimum wage] in different jobs for years,” says Clement Aupetit, 26, who did not finish high school. “This might open doors.” Conservative French corporations could be wary of recruiting Niel’s new army of coders. “Opening themselves to different profiles will be a big leap for them,” wrote one blogger on the French site rude Baguette. Niel has not exactly ingratiated himself with France’s elits. He was once an investor in a chain of sex-toy shops; he spent a month in jail in 2004 on charges that he brokered prostitutes from his stores. The charges were later dropped.
But Niel is optimistic. If just a few students make it, he says, his investment – about 70 million Euro ($96 million) so far – will be worth it.
And besides, Niel is already at work creating his next project, 1000 Startups, which he claims will be the world’s biggest incubator and will open in 2016. “We don’t think we can change everything in France,” he says. “But we’ll have some impact.” There seems no better person to make that happen.[]

 Taken from FORTUNE Magz.

Berkunjung ke Negara Beruang Putih

Sudah lama kami berkeinginan untuk berkunjung ke negara Rusia, dimana daratan terluas didunia terletak. Federasi Rusia dulu merupakan bagian dari Uni Soviet, pusat komunis dunia. Bahasa Rusia menjadi kendala utama disini, dimana semua tertulis dengan huruf Rusia. Namun hal ini tidak menyurutkan niat kami untuk berkunjung ke negara beruang putih dan menikmati 5 malam di kota Moscow & St. Petersburg pada bulan Juni 2013

Bagi WNI yang ingin berkunjung ke Rusia, memerlukan visa dengan persyaratan yang cukup rumit. Surat Konfirmasi (Visa Support) dari hotel / travel agent di Rusia yang mencantumkan nomor referensi & nomor konfirmasi, wajib diberikan pada saat apply visa di Kedutaan. Surat Konfirmasi / Visa Support ini harus tertulis dalam bahasa rusia. Kita juga diwajibkan memberikan copy kartu kredit tampak depan & belakang (3 digit kode ditutup). Jika terjadi pembatalan dikenakan fee sebesar RUB 2000 yang di charge ke kartu kredit tersebut. Durasi tinggal yang diberikan pun sesuai dengan tanggal reservasi hotel diajukan, hanya dilebihkan 2 hari.

MOSCOW
Setelah menempuh perjalanan selama hampir kurang 16 jam dari Jakarta termasuk transit selama 3 jam di Doha, akhirnya kami mendarat dengan mulus di Domodedovo International Airport sore hari. Proses imigrasi lancar karena kami melalui jalur APEC yang kosong. Sempat kaget saat tiba di Domodedovo, ternyata kecil dan sederhana.

Dari bandara, kami naik kereta api ekspres dengan tarif 320 RUB/orang, perjalanan menuju stasiun utama Moskow bernama Paveletskaya ditempuh selama 40 menit melalui hutan kota. Sesampainya di sana, kami kebingungan karena tidak ada orang yang mau dan bisa berbahasa Inggris. Kita tahu hotel Ibis Paveletskaya terletak di sekitar stasiun akhirnya Sommy punya ide bagus minum kopi di Starbucks depan stasiun. Akhirnya kami bertemu dengan orang Rusia muda, kaya, ramah, dan bisa berkomunikasi dalam berbahasa Inggris. Dengan cekatan dia menelpon ke Ibis Paveletskaya, konfirmasi hotelnya dan langsung menunjukkan arah dengan Iphone miliknya. Setelah selesai ngopi, kami berjalan 5 menit dan terlihatlah papan nama Ibis Paveletskaya.

Hotel Ibis Paveletskaya Moscow terletak 400 m dari stasiun kereta api utama. Dari hotel kita bisa naik Trem No. 39 atau No. 3 dengan tarif 25 RUB/ pax dan berhenti distasiun metro dekat Red Square dan daerah Kremlin yang legendaris, icon Moskow-Rusia. Cuaca disini sangat ideal, 14-24 derajat celcius.

Moscow merupakan ibukota negara terluas didunia, berusia lebih dari 850 tahun yang didirikan oleh Pangeran Yuri Dolgoruky pada tahun 1147. Memiliki sejarah panjang yang menarik untuk dilihat dari peninggalannya.

Hari pertama, kita menjelajah Moscow dari pagi sampai malam menggunakan city tour Hop On Hop Off dengan tarif 600 RUB/pax dikombinasi dengan Tram dan Metro . Kita lebih suka naik Tram karena bisa melihat suasana kota . Hop on hop off kelihatannya pilihan terbaik karena mayoritas nama tempat di Moskow tidak menggunakan huruf Latin.

Menjelajah kota Moscow dengan Hop On Hop Off

Transportasi disini memadai, sayangnya banyak kabel listrik melintang di atas jalan bahkan terpasang di gedung yang menjadi tujuan wisata.

Kesulitan Bahasa kalau pakai metro. Tulisan Rusia susah dibaca karena tidak ada latinnya. Ada kejadian lucu, karena kesulitan langsung difoto saja. Setelah itu mau pulang ke stasiun yang difoto tadi, orang Rusia yang kami tanya kebingungan. Ternyata foto yang diperlihatkan itu adalah tulisan yang berarti “EXIT” dari stasiun tersebut. Yang seharusnya difoto adalah dinding yang ada di stasiun persis saat turun.

Secara umum rusia terasa seperti raksasa tidur. Mobil mewah berkeliaran tapi Domestic Economy tidak terasa. Rusia membayar utang ke IMF lebih dahulu kelihatannya dengan sumber daya alamnya.

Most of the day kita ada disekitar Red Square, sebuah alun-alun dengan lantai batu dimana aktifitas warga seperti karnaval, upacara kenegaraan, jalan santai dilakukan disini. Dari Red Square, untuk mengunjungi obyek wisata seperti Musoleum Lenin, St. Basil Catedral, Istana Negara Kremlin tempat Presiden Russia berkantor, cukup berjalan kaki saja. Nama Red Square diambil dari warna batu bata pada dinding bangunan yang mengelilingi lapangan ini.

Red Square

Red Square






St. Basil Catedral

St. Basil Catedral merupakan Gereja Ortodok Rusia, dan landmark kota Moscow karena bentuk bangunannya unik, berwarna merah bata dengan kombinasi warna cerah seperti istana Aladin. Postnik Yakovlev, nama arsitek yang membangun St. Basil Catedral.

GUM 

Kami sempatkan untuk mengunjungi GUM di Red Square berhadapan dengan Musoleum Lenin, sebuah gedung tua yang dijadikan Departement Store atau mall besar dengan 3 lantai dan terdapat lebih dari 1200 toko. GUM dibangun tahun 1890  dan 1893 oleh Arsitek Alexander Pomerantsev dan Engineer Vladimir Shukhov. Atap bangunan ini terbuat dari kaca, sehingga hemat listrik dan terasa hangat karena matahari menyinari seluruh gedung. Disini hampir tidak terasa suasana komunis. Sommy tidak suka GUM, kita lebih suka daerah sekitar ujung Tram No. 39 dan No. 3. Harga barang di GUM sama dengan di Jakarta. Bir dan air mineral harganya 20 RUB di mini market.

Arbat Street, jalan terkenal di Moscow, ’Malioboro’nya Moscow atau ’La Rambla’ Barcelona. Terletak hanya satu stasiun metro dari Kremlin. Ada Hard Rock Cafe, di kedua ujung jalan ditutup untuk kendaraan, sehingga turis bisa berlalu lalang dengan berjalan kaki melihat seniman musik, tari dan seniman jalanan melukis wajah turis. 

Sore harinya ke Gorky Park sebuah taman terbuka berisi berbagai kegiatan music dan pusat seni kontemporer. Parkir gratis. Nama stasiun metro Oktyabraskaya. Pulang dari Gorky Park, kita kembali ke Kremlin.

Malam hari, saat melewati Teater Utama Moskow, Teater Bolshoi, ada pertunjukan ballet dari Paris. Tiket yang tersisa seharga Rp. 5 juta per orang. Mereka sedang sibuk mempersiapkan Olimpiade musim dingin di Sochi tahun 2014 mendatang. Gedungnya besar dan kuno. Ingin melihat pertunjukan tersebut namun lelah setelah seharian berkeliling Moscow.

Sekedar informasi, breakfast di hotel Ibis Moscow Paveletskaya sebesar Rp 200 ribu. Kebab di stasiun Metro Rp. 35 ribu. Kopi di restaurant Rp. 100 ribu. Buah cherry 100 rub per kilo, Aqua setengah liter 20 rub, Sandwich 100 rub. Tiket Trem 25 RUB / orang, Tiket Metro 30 RUB / orang, Hop On Hop Off 600 RUB/ orang/ hari. Toilet umum 25 RUB/ orang.

Makan malam di Coffee Shop Greek namanya Cafe Danish. Makannya ditimbang, good price & good taste berdua Rp 100 ribu, kentang, salad, schalik, terong, sebotol soda.

Sebelum menuju Airport untuk terbang ke St. Petersburg, kami mampir ke Moskow state University yang merupakan universitas tertua dan terbesar di Rusia.

ST. PETERSBURG
Kota kedua sekaligus terakhir yang kami kunjungi di Rusia. Kota ini dikenal sebagai jendela Rusia ke dunia barat yang dibangung oleh Tsar Peter dan Tsarina Catherina tahun 1703 dan dibangun diatas 100 kepulauan yang tersambung lebih dari 700 jembatan. Kota yang terletak di pinggir sungai Neva ini merupakan kota kebanggaan kekaisaran Rusia sebelum abad 20.

Kami terbang dengan S7 Airlines selama 2 jam. Tadinya kami berniat menggunakan kereta api, setelah di cek ternyata menghabiskan waktu selama 8 jam. Dikarenakan waktu berkunjung ke Rusia terbatas dan alasan kepraktisan, pilihan menggunakan pesawat menjadi pilihan kami.

Perjalanan mulus dari airport menuju hotel Ibis dengan bus ke stasiun metro 50 RUB/orang. Kami dibantu dua wanita muda Rusia yang ramah, salah satunya namanya Batrakova Marina. (marina-cneg@handed.ru). Dia mengantar sampai hotel naik bus dan metro. Sesampaikan di hotel Ibis, kami disambut oleh GM Nicholas Torio. “ Welcome to St. Petersburg” “Apa Kabar?” sapanya dengan ramah. Torio pernah bekerja selama 5 tahun di Indonesia.

St. Petersburg lebih kecil dari Moskow, sangat cantik, dan lebih tourist-oriented. Ornamen artistik ditempatkan di mana-mana. Berbeda dengan Moscow, disini banyak yang bisa berbahasa Inggris. Sebagai kota turis, peta bisa ditemukan dengan mudah di pinggir jalan sebagai petunjuk jalan.

Kita kebetulan lewat dan melihat gereja indah yang ada kubahnya, Church of our savior and spilledblood. Ketemu teman dari Indonesia yang juga berkunjung ke St.Petersburg pagi-pagi : Luci, Isye, Pak Dani, dan Bu Didong.

Isye, Lusi & Somy 
Nevsky Prospekt adalah salah satu jalan terpanjang di dunia, sepanjang 4 km, tempat usaha dan pertokoan. Tempat yang harus dikunjungi di St. Petersburg adalah Istana Hermitage yang sekarang menjadi museum akbar dan Istana musim panas yang berlokasi di pinggir pantai, Peterhof Palace & Garden dengan sistem air mancur di area tamannya, disusun tanpa menggunakan pompa namun dengan sistem gravitasi. Tempat ini merupakan bekas istana yang sekarang menjadi tempat istirahat para kepala negara. Untuk menuju kesini, agak jauh naik metro & bus total 1 jam.

Untuk mengunjungi Peterhof Palace & Garden, dari stasiun kereta menuju kesini naik bus kecil dengan tujuan Peterhof, tiket 70 RUB/ orang. Perjalanan ditempuh selama 30 menit. Di depan Palace ada kanal ke laut. Kami sempatkan melihat laut sebentar, terus balik lagi. Beristirahat sambil makan hot dog di taman hutan. Minum kopi untuk masuk toilet, karena masuk toilet disana pakai kode dari kafe yang punya toilet.

Peterhof Palace & Garden

Karena di St Petersburg hanya 1 malam, kami memilih 2 obyek wista utama yaitu St. Peter and Paul Fortness dan Hermitage Museum.

Hermitage Museum, dahulu sebuah Istana yang saat ini dijadikan museum. Besar dan indah tapi kalah gengsi dengan Louvre Museum Paris. Hermitage tidak jauh dari hotel kami, dikelilingi oleh taman dan sungai yang indah. Disekitar museum terdapat banyak restaurant .

Hermitage Museum
Pulang sudah malam, kita dinner di TGI It's Friday dekat hotel.

Besok pagi kita breakfast dengan GM Nikolas Torio lalu menuju bandara dengan taxi 1500 RUB.

3 hari di Moscow dan 2 hari di St. Petersburg memang tidak cukup rasanya, namun membuat kami kagum dengan kedisiplinan orang Rusia, sistem transportasi umum yang tertata rapi, toilet umum yang bersih. Tempat wisata juga cantik. Jangan lupa membeli Matryoshka, boneka khas rusia.

Matryoshka Doll


Note:
Mata uang : Russian Ruble (RUB), 1 RUB = 306 IDR
Kode Telepon : +7
International Airport : Domodedovo International Airport (DME), Pulkovo International Airport (LED)
Stasiun Kereta Utama : Paveletskaya (Moscow), Moskovsky (St. Petersburg)
Where to stay :
·         Ibis Moscow Paveletskaya
Terletak tak jauh dari Paveletskaya Central Station.
Shchipok Str.22, bld 1, Moscow, 115054 Russia
T. +7 (495) 661-8500 / F. +& (495) 661 8501

·         Ibis St. Petersburg Centre
Terletak di pusat kota St. Petersburg
Ligovsky prospect, 54
191040, St. Petersburg, Russia
T. +7 812 622 0100 / F. +7 812 622 0101