Bertandang ke Rumah Sahabat Di Perth

Pada awal bulan oktober 2010, kami mengunjungi pasangan suami istri Gayatri & Tommy yang telah menetap di Perth selama kurang lebih 15 tahun. Mereka membesarkan ke dua anaknya Audwin & Albi yang menginjak dewasa. Audwin sedang mengikuti kuliah di Politeknik Kuliner dan Albi SMA tahun terakhir.  Pesawat Garuda kami terlambat sehinga kami tiba dini hari di Perth dan kami langsung check-in di Hotel Ibis Murray street di kawasan pejalan kaki yang terkenal Hay street. 
 
Bersama Keluarga Gayatri & Tommy

Perth Beach

Di depan Swan River
Karena ini adalah kunjungan pertama untuk istriku ke Perth, keesokan harinya kita langsung mengukuti city tour menggunakan Bus bertingkat. Sore harinya kita ke Pelabuhan Fremantle menggunakan kereta cepat. Fremantle kota pelabuhan yang hanya berjarak 25 menit dari pusat kota Perth dan menjadi pusat turis dengan aneka makanan, kerajinan dan barang-barang yang bermutu tinggi dari berbagai penjuru dunia. Jangan kaget disitu ada toko alat dapur terkemuka yaitu Maxwell & William, Designer Homewares The Homestead Collection yang terkenal di Inggris. 
Fremantle dapat dijelajahi dengan jalan kaki, dari ujung ke ujung. sangat terkenal Sunday Market yang telah berusia ratusan tahun sayangnya hanya buka pada saat weekend. Kami mencoba makan di seafood terkenal Kaili.  

@ Kailis
Di Perth ada daerah kuliner yang terkenal dimalam hari yaitu Northbridge. Kami mencoba restoran Vietnam Viet Hoa di 349 William Streer Northbridge wa 6003. Telp : 93282127. Kami pesan Po Hoa dan penganan lainya, pelayanan sangat cepat seperti restoran padang.  

Mengujungi Pusat Pariwisata New Zealand Queenstown



Danau di Tepi Hotel Queenstown
Dari Auckland kami terbang ke Queenstown, sebuah kota resort di barat pulau New Zealand salatan. Terletak di semenanjung terkenal Queenstown Bay di danau Wakatipu. Segera setelah mendarat kami menyewa mobil Toyota Camry karena daerah wisata di Queenstown barjauhan letaknya. Queenstown kemungkinan berasal dari pengaruh Queen Victoria. Penduduk Queenstown hanya 10,416 jiwa sesuai dengan sensus tahun 2006. Queenstown adalah pusat dari pariwisata adventure seperti skiing, jet boating, bungy jumping, mountain biking, skateboarding, tramping dan fly fishing.

Queenstown pusat olah raga salju dengan pengunjung dari seluruh dunia. Queenstown hostels dan kemah menjadi sangat popular diantara para pengunjung dari berbagai penjuru dunia. Sejalan dengan itu berbagai pusat anggur dan makanan berkembang salah satu yang terkenal adalah Gibson Valley. Setelah menyewa mobil kami langsung check in di Novotel Queenstown di tepi danau Wakatipu.

Jika ke Queenstown janga lupa ke danau Wakatipu, danau Wanaka, Adventure tourism, Golf, Skyline Gondola dan Luge. 

Berkunjung ke Ibu Kota New Zealand, Auckland


Kami terbang ke Auckland ibu kota New Zealand sebagai persinggahan pertama untuk kemudian ke Queenstown dan Christchurch. Memang istriku yang ingin ke New Zealand. Penerbangan selama 3 jam lancar, dan setelah landing kami langsung check-in di Mercure Auckland dipusat kota bersebelahan dengan pusat transportasi darat Britomart dan pelabuhan. 

Kota metropolitan Auckland terletak dipulau utara New Zealand dengan penduduk 1,4 juta jiwa. Auckland dihuni oleh suku Polenisia dan mereka betul-betul menjadi tuan rumah di negara sendiri dan biasa disebut orang Maori. Tahun 2010, Auckland terpilih sebagai kota ke-4 di dunia yang layak huni. Suku Maori tercatat telah tinggal sejak tahun 1350, kulitnya agak hitam dan paras muka cenderung besar dan bersegi. Auckland cuacanya pada bulan Desember panas 32 derajat celcius, sedangkan bulan Juni dingin 7 derajat celcius.

Makan Steak dengan Pramuniaga Mahasiswi Indonesia, Auckland

Di Auckland kami diajak Stephan makan malam di Angus Steak House judulnya The Biggest  & Best Steak in town . Suasananya sangat hidup dan para tamunya kelihatan gemuk dan besar badannya . Kami surprise karena pramusaji mahasiswi dari jakarta yang kuliah di sana .
Setelah lihat menu kelihatannya tidak ada pilihan semuanya serba besar , akhirnya pilihan dijatuhkan ke Lamb Chop , Sirloin dan Ternderloin .Setelah hidangan tiba kami membutuhkan waktu 1 jam untuk melahapnya diselingi perbincangan yang hangat.
Alamatnya : 8 fort lane / fort street   telp 379 7815
www.angussteakhouse.co.nz  atau
email info@angussteakhouse.co.nz

letaknya hanya beberapa menit berjalan kakidari pusat transportasi  britomart

Penduduk Auckland mayoritas Kristian. Karena iklimnya yang baik, maka kesempatan kerja dan pendidikan cukup baik. Auckland juga terkenal sebagai "City of Sails" dimana Auckland mempunyai rata-rata kapal pesiar tertinggi perkapita di dunia dimana tercatat ada 150.000 kapal pesiar. The Auckland Phillharmonia Orchestra adalah orkestra full time yang mengadakan pagelaran sepanjang tahun dan menampilkan antara lain Alm. Luciano Pavarotti, Bacharach, Dame Kiri Te Kanawa.

Bekunjung ke Melbourne

Dari Perth kami terbang dengan pasangan suami istri Tommy dan  Gayatri ke Melbourne menggunakan Qantas. Melbourne selalu menarik, adalah ibukota negara bagian Victoria. Penduduknya 3,5 juta jiwa. Moto Melbourne adalah "Vires Acquirit Eundo" yang berarti  "Kita bertambah kuat sejalan dengan kemajuan kita". Melbourne sudah dua kali mendapatkan predikat "The Words Most Liveable Cities" (kota paling nyaman untuk ditinggali), pada tahun 2002 dan 2004 dari majalah The Economist.

Victoria Square, Melbourne



Melbourne hari jadinya 30 Agustus 1835, mayoritas pendatang dari Inggris dan Irlandia. Tapi dalam waktu 20 tahun terakhir datang orang dari Yunani, Italia, Vietnam dan Tiongha dalam jumlah yang cukup besar dan mereka tidak dapat dipungkiri menjadi salah satu penggerak ekonomi. Melbourne terkenal dengan Festival Film International Melbourne dan Kejuaraan Tennis Dunia "Melbourne Open".

Objek Wisata penting: Melbourne Cricket Ground, Albert park (tempat berlangsungnya kejuaraan F1), Rialto Tower dan Eureka Tower yang merupakan gedung tinggi di Melbourne, Kasino Crown dan lain-lain.


Di Melbourne kami dengan Yiek dan Tommy mencoba fine dining Cutler & Co di 55 Gertrude Street fitzroy 3065
telp : 03 94194888,
Web site : cutlerandco.com.au  
email info@cutlerandco.com.au
Tommy butuh waktu beberapa hari untuk pesan tempat ini. waktu kami datang disambut hangat  oleh pemiliknya dan menunggu beberapa saat di bar. Suasananya seperti Restaurant Va Bene di Jakarta dulu .
Gayatri memilih  berbagai hidangan  yang terlihat  dari foto berikut, hidangan penutupnya luar biasa .



Di Melbourne kami juga sempat menyaksikan pameran besar Tim Burton  dari Amerika . Dia adalah direktur kreatif dari film yang sangat sukses antara lain Batman, Alice in Wonderland dan Edward Scissorhands .  Dipamerkan tidak kurang dari 700 karya asli  yang didatangkan langsung dari The Museum of Modern Art, New York .Karyanya meliputi lukisan, sketsa, boneka,  kostume, storyboards dan tentu saja cuplikanf ilmya yang diputar tanpa henti .Yang menarik beberapa adegan penting dibuat makaet dengan skala besar sangat impresif. Sangat terasa  Tim Burton adalah seorang  pembuat film yang imaginatif dengan dunianya yang fantastic dengan lakon yang kadang tidak biasa . Pameran dihadiri ribuan orang dengan antrian panjang , untuk Tommy dapat pesan ticket melalui Blackberry nya  .
Pameran terasa hidup dengan putaran film , ceramah , life events dan kegiatan pendidikan untuk pelajar .
Pameran diadakan di Austraian Centre for the Moving Image  Federation Square web site www.acmi.net.au

Kami di ajak teman Yani Lasut mencoba restoran China Golde Dragon Palace di Suburb Templestow, 363 Manningham rd, Telp : 98524086 dan fax : 98524083. Restoranya dikelola keluarga Hongkong, ditempat ini juga terdapat variasi anggur yang cukup banyak.

GIBBSTON VALLEY

@ Gibbston Valley

Menurut Lonely Planet, Gibbston Valley tidak boleh dilewatkan oleh para turis dari manapun. Tidak jauh dari Queenstown mengendarai kendaraan ke arah timur selama 30 menit kita akan mencapai Gibbston Valley.

Gibsbston Valley suatu daerah perkebunan anggur dan pengolahan keju yang dirintis oleh penguasaha Amerika. Dikompleks tersebut terdapat Cafe, Pertokoan kecil, Persentasi dan complimentary tastings dari anggur dan keju. Tempat duduk di taman sangat cocok untuk mencoba sebuah baki yang menyajikan keju, kacang, roti, buah-buahan dan tentu saja dengan segelas anggur dari lembah Gibbston. 



Jika anda sibuk mereka bisa menyiapkan picnic box bahkan mereka bisa mengirim gift box ke alamat yang dikehendaki. Keju yang terdapat disitu antara lain Sheep, Goat and Cow Milk styles of Brie, Havarti, Cheddar, Blue, Gouda, Camembert, and Pecorino. 
Alamatnya :1820 Gibbston Highway RD 1. Queenstown, New Zealand. 
Telp: 03-4411388
Fax: 03-441 1360
email: info@gvcheese.co.nz
Website : www.gvcheese.co.nz

Setelah makan siang kami tancap gas menuju Danau Wanaka melalui Cardona, sebuah danau yang sangat terkenal didaerah Queenstown. 

ARROWTOWN



Tidak jauh dari Queenstown ada kota kecil namanya Arrowtown penduduknya 1700 jiwa, sering dikunjungi dan sangat disukai oleh para day trippers Queenstown . Arrowtown dulunya terkenal sejak tahun 1860 sebagai tambang emas di sungai Arrow. Sekarang kotanya hanya terdiri dari 60 buah rumah kayu dan batu, namun tampak masih cantik disertai kompleks pertokoan yang mungil. Arrowtown mempunyai suatu lampangan Golf kecil. Arrowtown visitor information centre 03-442 1824 website :www.arrowtown.com 49 Buckingham st. 


Pusat kota Arrowtown sangat kecil panjangnya 100 m, kami memilih Cafe Mondo, tempatnya sangat kecil tapi artistik. Alamatnya Balltatv Arcade Buckingham st, Arrowtown. Phone 03-442 0227, buka sepanjang minggu hanya pagi dan siang. kami mencoba kopi, sandwich dan salad, sangat lezat dan segar. 

Minum Kopi @ cafe Mondo

CHRISTCHURCH, NEW ZEALAND


Christchurch tidak dapat dipungkiri adalah kota yang paling hidup di New Zealand. Perpaduan easy going, charm, emerging energy dan metropolis. Modern restoran dan bar bertebaran dimanan- mana, tetapi arsitekturnya tetap gothic dan kuno. Christchurch mulai berkembang sejak tahun 1850 oleh perusahaan - perusahaan Inggris dalam bidang perkebunan dan peternakan.




Tramp kota senantiasa menjadi pusat perhatian karena melalui semua titik penting dikota. Tramp dioperasikan sejak 1905, harga tiket sangat murah berlaku selama 48 jam dan dapat dibeli di pengemudi.

@ Cathedral

Gereja katedral menjadi pusat kehidupan kota, penduduknya hanya 350 ribu tapi terasa hangat karena terpusat disekeliling gereja tua itu dan pengaruh inggris sangat terasa. Ada satu daerah menarik yang kami tidak sempat mengunjunginya yaitu Lyttleton hanya 20 menit dengan bus, sayang kami tidak kesana karena keterbatasan waktu. Jangan lupa coba Bir khas Christchurch Brew moon, Three boys, or the Wigram.

Touris information centre sangat mudah dihubungi dimana-mana : www.adventures.net.nz
Telp : 0800 847 486

Tour Kuliner Christchurch



Tidak disangka di Christchurch ada restoran Burma terkenal Bhudi Tree 808 Colombo Street, Telp : 033776808. Makananya tidak seperti Thailand, banyak makanan dari daun yang segar. cobalah Pet Thoke (salad daun teh) coba juga Ciondi (panggang terong). Anda harus pesan tempat dahulu karena senantiasa penuh. Di Christchurch juga terdapat restoran Top Kapi, 185 Manchester Street, Telp : 03-379447. Aneka makanan Turki tersedia disini termasuk aneka daging, kebab, dan tentu saja baklava. Pada malam hari banyak pengunjung yang membeli makanan untuk di bawa pulang.

Persinggahan terakhir, Sydney

Bersama Ny. Stefanus di Cafe Italia Pantai Bonday
Fantastic Sydney Operahouse
Harbour Bridge, Sydney
Setelah selesai tiga kota di New Zealand, kami singgah di Sydney untuk bertemu dengan keluarga Steffan dan tentu saja mengunjungi Sydney Opera House. Kami beruntung mendapat pesawat pagi, sehingga jam 8 pagi kami sudah tiba di Sydney. Kami langsung Check-in di tempat favorit kami yaitu Darling Harbour di Hotel Ibis yang bersebelahan dengan Novotel.

Kemesraan di Watson Bay
Sydney memilki penduduk sebanyak 4.5 juta jiwa, dimana mereka suka disebut dengan Sydneysiders yang merupakan gabungan cosmopolitan dan penduduk Internasional. Pada tahu 2009 Syydney terpilih sebagai kota Social and Economic Innovation terkemuka. Sydney juga mempunyai reputasi internasional untuk pusat perdagangan, art, fashion, culture, entertainment, music, education, tourism.

Sydney Opera House menjadi Opera kelas dunia yang mempunyai 5 ruangan besar dan tuan rumah dari Opera Australia dan Sydney Symphony yang sibuk sepanjang tahun. 

Dengan Stefanus & Wiwi
Kemesraan di sebrang Sydney Harbour Bridge
Pandangan di Sebrang Sydney Harbour Bridge

Steffanus sekelas dengan Sommy disekolah Indonesia Bangkok 40 tahun yang lalu, berkat jaringan facebook mereka bisa berhubungan kembali. Steffanus bekerja dikoprasi susu terkemuka di New Zealand dan setiap akhir pekan pulang ke Sydney.


@ Doyles
 Pada suatu hari minggu yang cerah mereka menjemput kita untuk berkeliling dipantai Sydney lalu makan siang di Restotan Doyles di Watson Bay, yang telah berdiri sejak 100 tahun yang lalu. Pertama kali kami mencoba tahun2001 bersama Mari Pangestu & Chatib Basri waktu itu masih ada menu yang boleh makan sepuasnya namun menu itu sudah tidak ada sekarang.

@ Doyles Restourant
Restoranya angat besar, kami datang jam 12 siang dan antri kurang lebih 300 orang. Segala macam seafood ada disana dan tentu saja anggur. Kami memilih makan bersama - sama dengan pilihan keranjang seafood, salad, roti, anggur dan lain-lain.

Setelah makan siang kita bergegas pulang dianter ke stasiun monorail, karena Steffanus harus segera terbang ke Auckland. Karena kami hanya singgah 2 malam di Sydney kami membeli monorail day pass untuk 3 hari, seharga 30 Dollar. Kami selalu menggunakan monorail karena semua tempat turis seperti Australian National Maritime Meseum, Sydney's Paddy's markets, City Centre, Galeries Victoria, dan lain- lain.
Antrian di Doyle Restoran


Berbisnis Itu (Tidak) Mudah -- JEJARING

Disarikan dari buku Berbisnis Itu (Tidak) Mudah: Pengalaman dan Pemikiran Arifin Panigoro (edisi keempat). Medco Foundation, 2008.

Mencari teman lebih sulit ketimbang mendapatkan musuh. Pepatah itu sangat benar adanya. Bagi Arifin, memiliki teman sebanyak-banyaknya merupakan satu kekuatan dalam melakukan apa saja, termasuk soal bisnis. Beragam cara dilakukannya dalam menjalin dan menjaring pertemanan.


Suatu ketika di tahun 1983 Medco memerlukan sumber dana sebesar US$ 4,5 juta untuk pelunasan pembayaran sebuah rig di Amerika Serikat. Arifin kemudian sowan ke Pak Wijarso, yang kala itu menjabat sebagai Dirjen Minyak dan Gas di Departemen Pertambangan. Dialah yang memperkenalkan Arifin dengan Nissho Iwai, lembaga keuangan dari Jepang, yang ikut membantu pembiayaan pembelian rig tersebut.

Tak hanya itu, Pak Wijarso juga berjasa banyak dengan ikut membesarkan Medco. Sejatinya ia bisa dibilang merupakan angel bagi Arifin karena membuka pintu Medco masuk ke industri minyak dan gas.

Ketika itu, pemerintah tengah gencar mendorong perusahaan nasional memasuki bisnis pengeboran minyak dan gas, yang didominasi asing. Beliau sangat mendukung upaya Medco mengikuti tender-tender. Tak hanya itu, dia pula yang meminta Bawden Drilling --sebuah perusahaan asing-- menggandeng Medco, yang boleh dikata masih bayi, sebagai mitra bisnis.

Namun ternyata Bawden malah memilih hengkang daripada harus bekerja sama. Tapi keluarnya pesaing justru membuka kesempatan bagi Medco. Akhirnya, perusahaan nasional ini memenangi tender pengerjaan dua sumur.

Lalu apa kunci utama membina sebuah hubungan?

"Konsisten, menghargai orang, dan memiliki komitmen yang tinggi. Dengan prinsip ini, saya bisa langgeng membina pertemanan, baik dalam bisnis maupun dalan kehidupan sehari-hari, " ujar Arifin.

Berbisnis Itu (Tidak) Mudah -- PERCAYA DIRI

Disarikan dari buku Berbisnis Itu (Tidak) Mudah: Pengalaman dan Pemikiran Arifin Panigoro (edisi keempat). Medco Foundation, 2008.


Hampir tak ada teman yang mendukung langkah saya untuk masuk ke dalam bisnis energi. Siapapun tahu, pengalaman kami hanya sebatas menjadi kontraktor. Terjun ke dunia pengeboran? Semua orang menyatakan saya sedang tidak menapak di bumi.

Tetapi saya tetap memiliki keyakinan dalam diri bahwa pilihan ini bukan semata keinginan tanpa dasar. Keteguhan hati dan rasa percaya diri dalam mengambil keputusan menjadi bekal utama untuk membawa PT Meta Epsi Engineering memasuki bisnis minyak dan gas.


Itu bermula ketika perusahaan ini tengah mengembangkan bisnis jasa konstruksi pipa untuk kebutuhan perusahaan minyak, di antaranya Pertamina.

Dari berbagai interaksi dengan pejabat dan profesional perusahaan minyak, Arifin menangkap peluang untuk ikut berusaha dalam bisnis perminyakan, yang selama ini tak pernah disentuh kalangan swasta nasional. Detail-detail bisnis tersebut dipelajarinya dengan seksama, dari istilah rig hingga teknik-teknik eksplorasi sumur minyak.




Dari situ, ambisinya untuk masuk ke bisnis penyewaan atau pembuatan anjungan minyak (rig) semakin bulat. Akhirnya, rekan-rekan di PT Meta Epsi Engineering tak kuasa menolak tekad Arifin. Kendati modal yang dibutuhkan tidak sedikit, ia yakin semuanya bisa ditangani.

"There is always a better way," demikian selalu ia ucapkan dalam menjawab keraguan teman-teman. Pilihan ini ternyata terbukti tepat. Sebab, sejak itulah berdiri PT Meta Epsi Pribumi Drilling Company, yang disingkat Medco. Era sebagai penyedia jasa pengeboran minyak dan gas pun terbuka lebar ketika kami memenangi tender pengerjaan tujuh semur gas untuk perluasan pabrik Pupuk Sriwijaya di Sumatera Selatan. Belakangan, kata 'pribumi' ditanggalkan seiring dengan tekad untuk mengembangkan Medco ke tingkat global.

Pada Juni 2004, setelah melalui proses yang panjang, MedcoEnergi resmi menguasai 83,36 persen saham Novus Petroleum Ltd. dengan nilai transaksi US$208,4 juta. Ditambah dengan kewajiban membayar pihak ketiga sejumlah US$ 120 juta. Novus adalah perusahaan minyak Australia yang berkonsentrasi di bidang eksplorasi dan produksi minyak. Perusahaan ini memiliki 26 blok minyak dan gas, yang tersebar di Indonesia (blok Kakap dan Brantas), Australia, AS, Oman, UEA, Pakistan dan Filipina.

Langkah itu mengejutkan banyak kalangan. Saat banyak perusahaan dan bank Indonesia dicaplok perusahaan asing, MedcoEnergi malah mengakuisisi perusahaan minyak dan gas kelas dunia.




Akuisisi ini sekaligus mengantarkan MedcoEnergi go international. Sebuah catatan sejarah ditorehkan perusahaan minyak swasta nasional. Tentu langkah ini sebuah prestasi besar. Usaha yang dirintis dari bawah dengan bekal percaya diri itu berhasil mentas di panggung bisnis dunia.

Rasa percaya diri itulah yang menjadi salah satu pendorong setiap kali hendak memasuki bisang bisnis lain. Di antaranya industri fabrikasi dan konstruksi, perkabunan dan pabrik kelapa sawit, mie instant, perhotelan, properti, pertambangan batu bara hingga perbankan.

Singgah di Jogja, Purwodadi, Blora dan Pantai Juana

Minggu lalu, secara kebetulan saya bertemu arsitek Budi Pradono di Bali, dan kami sepakat untuk meninjau sebuah pabrik kayu daur ulang jati di Blora.


Semalam di Jogja

Kami terbang dari Bali ke Jogja dan menginap semalam di hotel Ibis Yogyakarta.

Biduanita di Ibis hotel




Pemain biola berbakat, mahasiswi ISI Jogjakarta


Purwodadi nan damai

Esok paginya, segera setelah sembahyang Subuh, kami meluncur ke Blora melalui Purwodadi.

Landscape di Purwodadi

Kami tak pernah membayangkan bahwa kota Purwodadi rupanya sebuah kota yang asri dengan pola hidup pertanian dan peternakannya yang membuat suasana kehidupan di sana terasa tenang dan damai.

Pasar hewan di Purwodadi

Bersama penjual bibit jati di Purwodadi

Di mana-mana diperjualbelikan bibit jati yang hanya seharga Rp. 800 per pohon, hingga Budi Pradono tak tahan untuk memborong bermacam bibit untuk ditanamnya di Jakarta.


Setelah menikmati sarapan di pasar Purwodadi, kami meluncur ke Blora.


Cerita dari Blora

Blora dikenal sebagai salah satu daerah utama penghasil kayu jati berkualitas tinggi di pulau Jawa. Sesampainya di sana, kami mengunjungi pabrik kayu milik Yulianto, seorang pengusaha pribumi muda yang sungguh membanggakan.


Pabriknya itu berprinsip tidak mau menebang jati, melainkan hanya mau mendaur ulang. Di sekeliling pabrik, mereka menanam jati dengan suatu kontrak (janji) untuk tidak akan ditebang selama 30 tahun.








Meja siap ekspor ke Eropa

Dari pabrik, kami menuju pantai Juana mencari perahu bekas dari jati untuk dibuat dek kayu bagi kolam renang kami yang sedang dibangun di Jakarta.



Kami prihatin demi melihat para nelayan dengan kondisi kehidupan yang sulit di sepanjang pantai itu.


Setelah membeli lima buah perahu, kami menuju warung makan untuk mencoba sate ayam, kambing dan gulai khas Blora yang rasanya luar biasa.



Akhirnya, setelah puas berkeliling, kami pun meluncur ke Semarang, mengejar pesawat pulang ke Jakarta.