Onno W. Purbo, Pakar Teknologi Informasi Indonesia


Perkembangan teknologi informasi saat ini, sangat mengagumkan, kita bisa berkomunikasi dengan rekan kerja, saudara, dari jarak jauh dengan dapat menyaksikan lingkungan sekitar. Pekerjaan dan tugas belajar membutuhkan kecepatan internet yang bagus, kemudahan akses informasi dapat dengan mudah kita peroleh dari internet. Apalagi, di masa pandemi ini, saat anak-anak sekolah, mahasiswa harus belajar jarak jauh. Indonesia, masih perlu pengembangan lebih lanjut agar dapat sama kemampuannya dengan negara maju. Dan, Indonesia memiliki Onno W. Purbo, sosok penting dan pakar bidang teknologi informasi saat ini. Onno meraih penghargaan dalam bidang ini, di bawah tulisan yang dimuat di Tempo, seperti di bawah ini:   

Pakar teknologi informasi ini meraih Jonathan B. Postel Service Award 2020 dari Internet Society karena dianggap berkontribusi terhadap komunitas Internet global pada Rabu, 18 November 2020. Selain beroleh piala, Onno bakal mendapat hadiah sebesar US$ 20 ribu dari organisasi nirlaba yang mendukung pengembangan serta penggunaan Internet terbuka (open source), terkoneksi global, dan aman tersebut. Jonathan B. Postel Service Award merupakan penghargaan bergengsi di dunia teknologi informasi bagi para visioner yang berkomitmen terhadap pengembangan internet di Indonesia melalui penggunaan teknologi nirkabel dan voice over Internet Protocol. Ia juga penggagas deregulasi frekuensi Wi-Fi dan memperkenalkan warung internet, jaringan RT/RW-Net, serta jaringan seluler komunitas.

Sumber: 29 November 2020 | TEMPO


 

Penghargaan Kesatria Tertinggi untuk Ananda Sukarlan


 

Di tengah persiapan penyelenggaraan konsernya  di situs Kerajaan Sriwijaya di Muaro Jambi, pada 22 Desember  2020, komponis asal Indonesia, Ananda Sukarlan (52), mendapat kabar gembira. Dia dianugerahi penghargaan Cavaliere Ordine della Stella d’Italia (Knight of the  Order of the Star of Italia) dari Presiden Italia Sergio Mattarella pada awal November.

Penyematan medali penghargaan itu dilaksanakan di Jakarta, Selasa (17/11/2020), di kantor Kedutaan Besar Italia di Jakarta oleh Dubes Italia untuk Indonesia Benedetto Latteri. “Ini semacam penghargaan atas kerja keras sepanjang karier yang telah saya lakukan. Bagi saya, ini adalah sebuah kehormatan besar,” kata Ananda.

Sejak tahun 2000-an, Ananda banyak melakukan kerja diplomasi budaya bagi Indonesia dan Italia. Dia memperkenalkan musik Italia ke Indonesia dan Spanyol, dan sebaliknya, memperkenalkan musik dan budaya Indonesia ke masyarakat Italia.

Kerja diplomasi budaya ini membuat hubungan kedua negara, Indonesia dan Italia. Lebih erat dalam bidang yang ditekuninya. Bahkan, sejumlah musikus Italia terinspirasi dengan musik Indonesia dalam karya-karyanya.

Penghargaan itu membuat Ananda semakin bersemangat untuk mempersiapkan diri menjelang konsernya akhir Desember nanti. Yang akan dimainkan salah satunya adalah karya baru, terinspirasi musik Ismail Marzuki dan Aria dari Opera Turandot karya Puccini, yaitu “I wish Pavarotti Had Known Marzuki”. (MDH) – Nama & Peristiwa, Kompas, Kamis, 19 November 2020.

Tentang Penjaga “Apotek” Hutan

Kekayaan hutan Indonesia sangat beragam, berjuta spesies tanaman dengan keunikan, ciri khas, dan manfaat yang berbeda pula. Salah satu sosok yang tekun keluar masuk hutan untuk mencari dan meramu tanaman menjadi obat herbal untuk meredakan berbagai penyakit adalah Sirun Herman Manan. Bagi Sirun hutan adalah surga tanaman obat yang mesti dijaga.

Dionisius Reynaldo Triwibowo, jurnalis yang menulis di kolom Sosok, Kompas, menceritakan lebih lanjut pada Kompas, edisi Selasa 27 Oktober 2020. Di bawah ini saya coba rangkumkan.

Sirun tinggal di Desa Tambak, di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Dari tempat tersebut fasilitas kesehatan sulit dijangkau. Sirun merasakannya sendiri. Pada 1986, ia sakit jantung dan tidak ada yang bisa mengobati, termasuk ayahnya yang dikenal sebagai tabib tradisional Dayak. Ketika sakit dan semua orang menganggap Sirun mati, Ia bermimpi bertemu dengan Gana, roh yang mendiami hutan atau di dalam pepohonan, yang dipercaya masyarakat Dayak Ngaju. Gana membawa Sirun ke dalam hutan dan menunjukan satu tanaman obat dengan akar menggantung.

Ketika pagi datang, Sirun bersama ayahnya menuju hutan yang jalannya belum pernah dilalui manusia, mereka menemukan pohon yang akarnya menggantung dan meminum air dari akar tersebut yang disebut hantuen oleh masyarakat sekitar. Tak sampai setahun Sirun sembuh dari penyakit jantungnya hingga sekarang. Kesembuhannya membuat ia berjanji untuk membantu orang sakit, ia memutuskan menjadi tabib. Pasiennya banyak, obat-obatannya berasal dari tanaman obat di kebun belakang rumah, tidak ada tariff atas jasa yang diberikan.

Sirun bersama anaknya kini mengumpulkan satu-persatu tanaman obat dari hutan. Ia menuliskan secara rinci, mencatat ramuan-ramuan lengkap dengan cara meraciknya. Pengetahuan ini akan ia bukukan agar bisa diturunkan kepada anaknya dan generasi berikutnya.

Untuk menjaga hutan dari ancaman aktivitas penambangan emas ilegal, Sirun dan Lembaga Pengelola Hutan Desa menginisiasi area di desanya menjadi habitat orangutan sebagai hutan desa. Hutan bagi Sirun telah lama menjadi surga tanaman obat dan tentu saja menjadi “apotek” bagi warga yang sakit. 


Membaca “Eksotika Ve” di Rubrik Figur Kompas

Ve Dhanito, sarjana Teknik Sipil, Universitas 11 Maret dan Magister Ilmu Teknik Sipil, Universitas Indonesia, bidang Manajemen Proyek dan peserta residensi seniman di LaSalle College of Art, Singapore memiliki hobi fotografi yang serius ditekuninya. Hingga, ia memutuskan untuk terjun penuh di dunia fotografi. Keputusan, pemikiran, hobi, dan karya Ve banyak diceritakan di kolom ini. Di bawah ini, ringkasannya.

Banyak karya fotonya yang dimuat majalah dari dalam dan luar negeri. Ia menekuni kerja fotografi konseptual, belakangan, ia mengeksplorasi konsep tentang otak , yang menelaah neurosains untuk merencanakan pembuatan karya-karya fotografinya. Untuk menunjang kerjanya di bidang fotografi, Ve memilih olahraga untuk kebugaran tubuhnya. Dari kecil Ve telah aktif berolahraga bulu tangkis, basket, crossfit, dan tinju.

Eksotika Ve karena ketertarikannya pada konseptualisasi ide eksplorasi ketubuhan otak terasa dalam karya fotografinya. Hal ini tercermin ketika pada 2018 di Taipei, Taiwan, Ve menyuguhkan karya-karya fotografi konseptual dalam karya seni instalasi yang diberi judul”Mind-Brain-Body”. Ia turut serta dalam pameran  dan lokakarya Wonderfotoday itu di Songshan Cultural an Creative Park, Taipei, 15-17 Maret 2018. Di tahun yang sama Ve juga menggelarPameran Bersama Astonishing Indonesia di Semarang.

Pertama kali, pameran yang diikutinya adalah Pameran Bersama Port of Call di Singapura pada 2014, tahun berikutnya 2015, Pameran Bersama Kaohsiung International  Photography di Kaohsiung City Culture, Taiwan. Kemudian di 2016, Ia merambah lokasi pameran di Eropa, dengan Pameran Bersama GELB di Luzern, Swiss.

Hampir tiap tahun Ve berpameran, 2017 Ia Pameran Bersama Pili Tjeng-Eksotika Rempah di Jakarta, Jakarta International Photography Festival (Jipfest) “Identity”, Jakarta dan Pameran Bersama “Creative Freedomto Heal The Nation” Intercovid-19 di Jakarta.

Selengkapnya mengenai sosok Ve Dhanito dapat dibaca pada harian Kompas, Minggu, 25 Oktober 2020, yang ditulis oleh Nawa Tunggal dengan baik. Selamat membaca.

Sejumlah Peristiwa hingga Sumpah Pemuda 1928



Rabu, 28 Oktober 2020, saya membaca Kompas edisi Sumpah Pemuda, mata saya terbuka, banyak peristiwa penting yang terjadi sebelum Sumpah Pemuda 1928, baik berhubungan langsung atau tidak. Dari situ saya melihat ada semangat yang terus hidup dalam dada pemuda Indonesia.

Kompas mencatat peristiwa-peristiwa tersebut berdasarkan sumber Pemberitaan Kompas, Kemendikbud RI, dan Ensiklopedia Kemendikbud RI, yang dirangkum oleh Litbang Kompas/AVN. Berikut keterangannya;

      1901

Pemerintah Belanda memberlakukan Politik Etis (Politik Balas Budi) untuk memajukan masyarakat Hindia Belanda

1902

Sekolah Dokter Jawa yang telah berdiri sejak 1851 berganti nama menjadi Sekolah Pendidikan Dokter Pribumi atau Stovia

1907

Surat kabar pribumi Medan Prijaji terbit menggunakan bahasa Melayu

1908

- Para Mahasiswa Indonesia di Belanda membentuk organisasi Indische Vereeniging. Kemudian berubah menjadi Indonesische Vereeniging dan pada 1925 menjadi Perhimpunan Indonesia yang menerbitkan majalah Hindia Putera.

- Organisasi Boedi Oetomo dibentuk pada 20 Mei 1908 oleh Dr Sutomo, Dr Tjipto Mangunkusumo, para mahasiswa kedokteran Stovia Jakarta, serta Dr Wahidin Soedirihusodo. Tanggal berdiri Boedi Oetomo diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

1910

Wabah kolera melanda Hindia Belanda dan merenggut 72.000 korban jiwa.

1911

- Kumpulan surat RA Kartini diterbitkan menjadi buku dengan Door Duisternist tot Licht. Pada 1922, Balai Pustaka menerbitkannya dalam bahasa Melayu dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang.

- Penyakit sampar atau black death mulai mewabah di Hindia Belanda dan menyebabkan 120.000 orang meninggal.

1912

- Indische Partij didirikan sebagai partai politik pertama di Hindia Belanda.

- Sarekat Islam (SI) dibentuk oleh HOS Cokroaminoto, Semula organisasi ini bernama Sarekat Dagang Islam.

1918

- Wabah flu Spanyol merenggut nyawa 1,5 juta rakyat Hindia Belanda.

KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah di Yogyakarta.

1920

Pemerintah colonial Belanda mendirikan pendidkan tinggi teknik Technische Hoogeschool te Bandoeng, saat ini dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung.

1922

Ki Hadjar Dewantara mendirikan lembaga pendidkan Taman Siswa di Yogyakarta.

1926

- Kongres Pemuda I digelar di Batavia pada 30 April -2 Mei 1926.

- Nahdlatul Utama didirikan di Surabaya

1927

Partai Nasional Indonesia (PNI) didirikan dengan sejumlah tokohnya, yaitu Ir Soekarno, Ir Anwari, Mr Sartono, Mr Iskaq, Mr Sunario, Mr Budiarto


1928

Kongres Pemuda II digelar pada 27-29 Oktober 1928 di Batavia menghasilkan ikrar Sumpah Pemuda.