Sri Mulyani Indrawati: Gemar Bersepeda

Kota Semarang, Jawa Tengah, mengembalikan memori Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (54) semasa sekolah. Ia gemar bersepeda dari rumah menuju sekolah. Itu ia lakoni sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, yaitu SMAN 3 Semarang

KOMPAS/Wawan H Prabowo

”Saya paham betul sepeda, termasuk cara memompa. Pompa zaman dulu ya, bukan yang diinjak seperti sekarang,” ujarnya sembari mempraktikkan cara memompa dengan dua tangannya. Dia menceritakan hal tersebut di sela-sela sosialisasi pengampunan pajak di Semarang, Kamis (29/12).

Ingatan tentang sepeda dan pompa memberi Sri Mulyani inspirasi tentang ilustrasi pajak di Indonesia. Menurut dia, sistem perpajakan Indonesia dilakukan seperti memompa ban sepeda. Uang pajak dipompa ke rakyat, lalu disedot kembali oleh negara, begitu seterusnya. Penggerak sistem adalah pendapatan pajak atau dalam ilustrasi adalah angin.

Hampir satu tahun ke belakang, Sri Mulyani gencar menyosialisasikan program pengampunan pajak untuk meningkatkan pendapatan pajak negara. Rasio kepatuhan pajak di Indonesia saat ini masih rendah, yaitu 62,2 persen. Dari 32,7 juta orang atau badan wajib pajak di negeri ini, hanya 12,5 juta yang menjalankan kewajiban.

”Ini pertanda Indonesia memiliki masalah serius. Masyarakat harus diberi pemahaman mudah dan tepat tentang pajak,” katanya. (KRN)

Sumber: Kompas, 2/1/2017


Blogger Widgets

Mengasah Toleransi lewat Musik Klasik

Pertengahan tahun ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggandeng pianis Ananda Sukarlan untuk melatih siswa sekolah dasar buat berlatih musik klasik. Pelatihan tidak bertujuan membuat anak-anak menjadi musisi, tetapi untuk mengasah otak dan rasa toleransi serta melatih anak-anak bersosialisasi. Program musik klasik masuk sekolah terinspirasi dari program Children in Harmony yang dijalankan Ananda bersama Yayasan Musik Sastra. Program musik klasik masuk sekolah menurut rencana dimulai pertengahan 2017. Sebagai percontohan, program digelar di 100 SD di Jakarta. Dengan bermain musik klasik, anak-anak akan belajar koordinasi, mulai dari membaca not balok, memainkan instrumen, hingga melakukan gerak tubuh. Melalui musik, otak terlatih untuk kreatif, berimajinasi, dan menemukan solusi. "Anak-anak belajar musik klasik enam bulan. Mereka dipinjami alat musik yang bisa dibawa pulang untuk berlatih di rumah. Setelah itu, mereka bertemu dalam latihan untuk berkolaborasi dalam pementasan," ujar Ananda, Selasa (3/1), di Jakarta. Dalam permainan musik bersama, anak-anak dari berbagai latar belakang bertemu dan bekerja sama. "Lewat musik, 'tembok' runtuh," kata Ananda. Untuk menjalankan program itu, diperlukan 33-50 tenaga pengajar. Mereka mengajar teknik dasar memainkan instrumen musik di kelas II-III SD. "Dibutuhkan alat musik yang banyak. Kami mengimbau mereka yang mempunyai instrumen musik bekas di rumah untuk mendonasikannya," tambah Ananda. Anak-anak yang mendapat pelatihan musik klasik akan dievaluasi. Mereka yang berbakat didorong untuk terus berlatih. Sekolah-sekolah diharapkan bisa membuat orkes kecil setelah latihan berlangsung satu tahun. Seluruh Indonesia Selain musik klasik, pendidikan seni lainnya, seperti seni rupa, pertunjukan, dan kriya, juga akan diperkenalkan langsung oleh seniman-seniman di sekolah-sekolah. Tahun ini ditargetkan 1.500 seniman bisa mengajar seni di sekolah di seluruh Indonesia. Direktur Jenderal Kebudayaan Kemdikbud Hilmar Farid mengatakan, pada Maret, ketika anggaran sudah turun, program tersebut akan dimulai di Jakarta terlebih dahulu. "Beberapa daerah lain seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Sumatera Utara telah menyatakan berminat. Sebagai awal, program ini akan diadakan di 500-an sekolah," ungkapnya. (ABK) Sumber: Kompas, 04/01/2017 Sumber foto: Arsip pribadi

Retronesia: Dangdut, Jengki, dan Tiga Dara

Oleh TARIQ KHALIL, Kompas, 24/12/2016

Saya datang ke Indonesia pertama kali saat liburan tahun 2005, lebih dari 10 tahun lalu. Musik dangdut menjadi bagian dari liburan itu, musik yang menemani perjalanan. Terpukau, saya menganalisis musik baru itu dalam pikiran. Vokalisasi khas Asia, ketukan rasa Bollywood, liak-liuk seruling, dan suara kencang gitar elektrik menggiring ingatan pada gaya rambut heboh dan semarak suasana. Saat saya mulai tenang dan menghayati, dangdut berubah menjadi musik yang luar biasa, sesuatu yang sangat khas Indonesia.



Beberapa tahun kemudian, sekitar tahun 2008 saya pindah ke Jakarta. Saat berkunjung di Bandung, Jawa Barat, saya melihat bangunan-bangunan tua dari era 1950 dan 1960 yang mengingatkan saya pada pengalaman mendengarkan dangdut. Penggabungan antara elemen-elemen khas yang menghasilkan sesuatu yang menakjubkan. Arsitektur yang berkarakter, dan bangunan khas Amerika di alam tropis Indonesia.

Diawali dengan ketidaktahuan tentang arsitektur, saya memulai sebuah misi. Misi untuk menemukan kembali dan memperkenalkan kepada awam kisah menarik, melebihi sekadar soal arsitektur, tentang bangunan di era 1950-1960-an.

Setiap akhir pekan saya bertemu dengan pelajar, sejarawan, dan aktivis budaya yang mengantarkan saya ke bangunan-bangunan indah. Saya menggunakan pesona saya untuk memasuki berbagai rumah, bahkan sempat mengajarkan seorang pembantu rumah tangga di daerah Tebet, Jakarta, cara memasak masakan india.

Bulan demi bulan, perjalanan demi perjalanan, koleksi bangunan saya, yang ditandai oleh garis tebal dan sudut tak lazim, bertambah. Namun, seakan ada lubang hitam menatap saya, perasaan kosong misterius yang mengisap segala cerita yang mungkin ada dari situs-situs itu, meninggalkan kekosongan budaya. Saya kembali menggunakan pesona dan bahasa Indonesia yang pas-pasan agar bisa memasuki gedung-gedung tersebut dengan segala ceritanya yang menghanyutkan. Pintu-pintu yang tak terhitung banyaknya pun terbuka seiring sang pemilik, entah penjaga atau seseorang dari warung, berbagi cerita tentang masa lalu yang menakjubkan.

Jejak 1950-an

Cerita dimulai sekitar tahun 1950, persis pada pertengahan abad. Insinyur-insinyur dan arsitek-arsitek Belanda sedang menjalankan bisnis besar, mengalirkan berbagai macam proyek atas nama untuk pembangunan negara, tanpa menyadari suasana pasca revolusi Soekarno.

Art Deco khas tropis dan hibridisasi Indo-Eropa, gaya Indische-yang populer pada era 1920 dan 1930-kembali marak. Arsitek Belanda datang kembali dan memulai revitalisasi arsitektur: gaya empire akhir, seperti yang dicontohkan di Kebayoran Baru, Jakarta.

Mulai tahun 1948 sampai 1957, walaupun tidak semua arsitek Belanda sibuk membuat gaya tua-baru Indonesia, beberapa arsitek, seperti Ger Boom dan Gmelig Meyling mengambil langkah lebih maju untuk menggabungkan gaya arsitektur. Mereka menggabungkan bentuk geometris dan ekspresionisme dari akhir tahun 1940-an khas California selatan. Inilah semangat pasca perang Amerika yang bertanggung jawab dalam memperkenalkan kultur mobil, masakan cepat saji, dan motel flamboyan ke dunia. Pada pertengahan abad, arsitektur modern telah tumbuh di Jawa yang sekarang dikenal sebagai gaya jengki.

Hasil-hasil pertama dari eksperimen modern tropis itu ditampilkan di dalam film Usmar Ismail, Tiga Dara, 1956. Adegan-adegan ikoniknya mulai dari Kebayoran Baru sekitar tahun 1956, melambangkan puncak dari inovasi arsitektur dan masa depan yang glamor. Art Deco dan gaya Indies "dibumbui" dengan geometris miring dan pengerjaan ulang yang serba bermain-main. Gaya Twilight Indies ini akan mengalami revolusi kedua.

Rumah bergaya jengki di jalan Martimbang, Kebayoran Baru, Jakarta, tampil dalam film Tiga Dara, 1956. Foto ini merupakan bagian dari hasil restorasi film Tiga Dara, 2016 (ARSIP RIZKA FITRI AKBAR SA FILMS PERFINI)

Optimisme film itu tampak tidak peduli dengan ketidakstabilan perjalanan geopolitik Soekarno menuju kemakmuran dan kemandirian ekonomi. Pada akhir 1957, masyarakat sedang berada dalam arus perubahan, terlepas dari Belanda sedang dipaksa untuk Dexit dan aset-aset mereka dijadikan milik negara (nasionalisasi). Pengusiran mereka memancing terbukanya ketegangan sosial. Di bawah sadar, ketimpangan, dan keretakan sosial mulai meletus. Konflik tak terselesaikan ini tecermin, misalnya dalam jejaring intrik novel Senja di Djakarta karya Mochtar Lubis. Ditulis di penjara, nada gelap novel itu menggambarkan situasi kemasyarakatan yang kejam, yang gagal menyebarkan kemakmuran dan peluang, seperti dijanjikan poros Asia-Afrika Soekarno.

Dexit tahun 1957-1958 bagai durian runtuh yang menciptakan jutawan dalam semalam, menyegarkan kembali elite-elite dunia masa lalu, dan membantu mendanai institusi negara baru. Suasana politik baru terbuka diamdiam, sekaligus membangkitkan dorongan kreatif. Gaya Twilight Empire Belanda mengalami revolusi, dipimpin oleh kontraktor bangunan atau Aannemer. Yang dulu hanya dipimpin oleh arsitek elite, sekarang dipegang oleh tangan-tangan baru dan lokal.

Pemimpin-pemimpin yang baru ditunjuk ini mulai memonopoli desain serta membangun proyek sederhana dan prestise. Sedikit hal yang dianggap pakem atau sakral kepada masa estetika merdeka: insinyur, pembangun, asisten, beberapa arsitek -dan kadang pemilik-menambah corakjengki ke vila, hotel, kantor, pabrik, ruko, gereja-bahkan kuburan.

Situs-situs itu menghadirkan kecanggihan dan daya tarik modern pada kota. Bagi kebanyakan orang, ini adalah zaman atom, saat ambisi Indonesia, kepercayaan diri menuju modernitas berdering keras. Melompat ke masa depan, beberapa generasi kemudian, yang tersisa adalah vila-vila yang terabaikan di kota-kota dan desa serta penginapan-penginapan di pegunungan yang ditinggalkan. Itulah warisan kultural dari masa ultra kreatif selama 15 tahun yang kini terserak.

Retronesia

Perjalanan saya mewujud Proyek Retronesia. Dengan bantuan ahli-ahli atau terkadang hanya dengan perjumpaan di jalan, saya menemukan lebih dari sekadar gedung-gedung elegan, tetapi aneh. Gedung-gedung itu ternyata adalah monumen budaya yang terkubur, tidak oleh bumi atau abu, tetapi karena ketidakacuhan.

Setelah misi selama 7 tahun menggali lapisan budaya ini, bangunan kuno terus bermunculan dan sejarah lisan yang terlupakan disatukan kembali. Kisah tentang keberanian dan memilih mengambil risiko yang mendefinisikan kehidupan para pemimpi, petualang, dan institusi publik mereka. Mulai dari pengusaha batik dari Solo, kehidupan puitis para elite dan vila-vila mahal mereka di pegunungan, hingga institusi yang bertransformasi, seperti Akademi Ilmu Pengetahuan Alam milik Belanda pendahulu LIPI serta klub yang didirikan oleh pemilik perkebunan Belanda di Bandung tahun 1956.

Meskipun para pembangkit budaya itu telah lama pergi, keanehan mereka yang luar biasa entah bagaimana tetap bertahan-bahkan di Jakarta yang cepat berubah. Bangunan tempo dulu, alternatif di era tahun 1950-1960-an Indonesia ini terus dikalahkan oleh periode kolonial dan kolonial tempo dulu. Namun, meski hanya sebentar, era yang kental penanda budaya zamannya itu berhasil menginspirasi seni, desain, dan kreativitas masa kini.

Sejalan dengan waktu, Retronesia telah menjadi "urban archeology 101". Arkeologi perkotaan tidak membutuhkan ekspedisi mahal ke wilayah terpencil, tidak perlu membeli berbagai peralatan baru-ataupun pakaian mahal untuk segala cuaca dan tidak memerlukan latihan khusus. Hanya minat dan semangat yang dibutuhkan untuk menemukan sesuatu yang sangat menakjubkan.



Harmoni Rasa di Ujung Tenggara

Matahari menyengat di sebagian besar wilayah Desa Liya Togo. Cuaca terik pada Senin (19/9/2016) yang melanda desa di Kecamatan Wangiwangi Selatan, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, itu membuat perjalanan mengelilingi desa cukup melelehkan bulir-bulir keringat.

Tubuh terasa seperti didekatkan dengan kobaran api unggun bersuhu relatif konstan. Seluruh tubuh terpapar dan membuat topi atau lilitan kain sebagai pelindung penting bagi wajah dan leher.

Sejumlah jurnalis mengelilingi sebagian wilayah Liya Togo atas undangan Swisscontact, lembaga berbentuk yayasan berorientasi bisnis pada bidang ekonomi, sosial, dan lingkungan. Kunjungan itu merupakan bagian dari perjalanan ke sejumlah lokasi di Wakatobi yang dilangsungkan pada 14-20 September lalu.

Akan tetapi, perjalanan dengan terik matahari yang seperti ”menggigit” permukaan kulit itu berakhir manis atau lebih tepatnya berakhir asam-manis.



Ini dikarenakan sajian minuman ringan bernama sampalu yang disajikan penduduk setempat. Minuman ini terbuat dari campuran buah asam (tamarind) yang dijadikan cairan berwarna coklat pekat untuk lantas diblender dengan susu kental manis dan es batu.

Penampilannya secara visual jika dilihat dari penampang depan gelas terbagi dua. Coklat muda di bagian tengah hingga dasar gelas. Buih putih dari batas tengah gelas ke permukaan.

Rasanya asam, manis, dan dingin yang meledak hingga ke langit-langit mulut di tengah hawa panas matahari.

Sejumlah pohon asam yang rimbun di perkampungan, selain mengurangi intensitas sorotan matahari, turut pula memastikan pasokan buah asam yang konstan. Tentu saja segelas tidak cukup, oleh karena itulah berlanjut pada gelas kedua.

Sajian kedua adalah penganan dari bahan tepung singkong yang menyelimuti buah pisang di dalamnya. Parutan kelapa menambah rasa gurih, selain manis yang diberikan pisang dan kelegitan tepung singkong yang membungkusnya.

Itu masih ditambah dengan sajian ubi goreng yang diambil tak jauh dari sana. Sebagian wilayah Liya Togo, dengan bebatuan memenuhi sebagian permukaannya, memang digunakan untuk menanami sejumlah jenis komoditas.

Beberapa di antaranya delima, srikaya, mangga, dan nangka. Sela-sela di antara bebatuan karang menjadi tempat yang dicari untuk menanam bibit tanaman, dengan tambahan dedaunan dan serakan sampah organik sebagai tambahan media tanam yang diselipkan di dalam sela-sela bebatuan itu.

Selain itu, karena berdekatan dengan pantai, pohon kelapa juga banyak terdapat di wilayah desa tersebut. Daging pohon kelapa inilah yang juga dijadikan campuran sayur daun kelor dengan kuah bening untuk menu makan siang.

Itu masih ditambah dengan suwiran daging ikan pari, sambal, irisan tipis sayur pepaya, dan kasoami atau soami.



Soami atau kasoami adalah sumber karbohidrat yang terbuat dari ampas singkong. Cara pembuatan makanan pokok ini relatif sederhana.

Singkong dikupas dari kulitnya sebelum diparut. Lantas parutan singkong diperas hingga tinggal ampas. Ampas singkong ini lantas dikeringkan untuk menghilangkan asam sebelum diolah lebih lanjut.

Pengolahan lebih lanjut melibatkan proses penghalusan bahan yang sudah kering itu secara manual, atau menggunakan tangan. Proses selanjutnya mencetak kasoami atau soami ke dalam cetakan khusus, biasanya berbentuk kerucut dari bahan cetakan anyaman daun kelapa untuk selanjutnya dikukus.

Serasa roti

Kasoami atau soami yang dijadikan makanan pokok ini menghadirkan sensasi tersendiri tatkala disantap. Cara menikmatinya mirip seperti mengonsumsi roti. Dipegang seluruhnya untuk digigit sebagian, atau dipotong sebagian untuk dikunyah sedikit demi sedikit. Rasa asam, terkait kandungan air dalam singkong dari proses sebelumnya, tidak serta-merta hilang begitu saja. Namun, kadarnya relatif tak berpengaruh besar, dan justru memberikan tambahan pada keragaman rasa.

Adapun sayur bening dengan kombinasi daging kelapa muda relatif menjadi sebuah kejutan. Namun, tentu saja, dengan ketersediaan pohon kelapa yang tumbuh di banyak lokasi dalam pulau tersebut, daging kelapa muda relatif tidak sulit disediakan.

Hal pasti yang bisa dirasakan dari sayur tersebut adalah kerenyahan serupa menggigit buah segar yang baru dipetik dari pohon. Kombinasi bumbu yang diracik juga seolah mempertemukan semua rasa di tengah-tengah. Ada gurih, manis, dan asin.

Belum lagi ikan segar berteman sambal yang sekali dua kali dicocolkan dengan potongan kasoami atau soami. Kata kunci semua menu itu adalah ”segar” sebab nyaris semua bahan baku berasal dari pulau yang sama, dengan ikan yang ditangkap dari perairan terdekat.

Semua sajian itu dihidangkan di dalam wadah anyaman bambu beralaskan daun pisang. Adapun sayur bening berisikan daging kelapa muda dan daun kelor disajikan dalam batok kelapa.

Kelompok Pengelola Pariwisata Liya Togo, Kepo’oli, menyiapkan dan mengirimkan sajian makan siang itu dari bagian lain pulau tersebut. Mereka juga membawa kami ke bagian lain lagi dari pulau tersebut untuk menikmati sajian makan siang itu.



Untuk mencapai tempat makan siang tersebut, pengunjung mesti berlayar dalam sampan yang bergerak dengan tenaga tolakan batang kayu ke dasar laut. Letaknya berada di dalam cekungan dengan dua bagian pulau yang menjorok di kedua sisi.

Kombinasi pemandangan lautan lepas, kecipak air laut, dan semilir angin terus-menerus memberikan asupan pada lima indera. Bagi pengunjung, ini seperti keseimbangan rasa di ujung Sulawesi Tenggara. (Ingki Rinaldi)

Sumber: Kompas, 27/11/2016


"Comandante"

Fidel Alejandro Castro Ruz telah tiada. Mulai kemarin (26/11/2016), Kuba tidak lagi memiliki El jefe máximo, pemimpin tertinggi. El Jefe, bahasa Spanyol yang berarti 'bos' atau 'ketua', begitu nama panggilan mantan Presiden Kuba Fidel Castro-El Jefe diambil dari gelar yang disandangnya, Comandante en Jefe atau Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Kuba, meninggal kemarin.

Memang, sejak 2006, kekuasaan Kuba telah diserahkan kepada saudara lelakinya, Raul Castro, tetapi Comandante di Kuba hanya satu: Fidel Castro, yang meninggal pada usia 90 tahun.



Fidel Castro lahir pada 13 Agustus 1926 di Biran, sebuah desa di Kuba bagian timur. Ayahnya seorang imigran, Angel Maria Bautista Castro Arguiz, yang memperistri pembantu perempuannya, Lina Ruz.

Ia menjadi tokoh terakhir, pengawal komunisme dunia sepanjang abad ke-20 dan awal ke-21. Tokoh lainnya, antara lain Mao Zedong dan Ho Chi Minh dari Vietnam, sudah mendahului. Bahkan, Castro yang selalu mengidentifikasi dirinya sebagai Don Quixote-seperti Don Quixote yang berjuang melawan ancaman baik nyata maupun imajinatif, selama berdekade mempersiapkan invasi militer dari AS setelah insiden Teluk Babi (1961), tetapi tak pernah terjadi-setia mempertahankan ideologi komunisme di negaranya meski komunisme sudah mati dan dikubur di Rusia pada 1991.

Castro selalu menyebut dirinya seorang Marxist-Leninis. Dan, menyatakan akan tetap seperti itu hingga mati. Ia yang mengunyah dan menelan karya-karya Karl Marx, Friedrich Engels, dan Vladimir Lenin, memang menjelma menjadi seorang Marxist-Leninist.

Castro juga menghayati kredo yang pernah diteriakkan oleh Karl Marx (1818-1883) bahwa agama adalah keluhan makhluk yang tertekan, perasaan dunia tanpa hati, sebagaimana ia adalah suatu roh zaman yang tanpa roh. Ia adalah candu masyarakat. Karena itu, sejak berkuasa, menjadi perdana menteri mulai 1959, secara resmi Kuba adalah negara ateis.

Akan tetapi, runtuhnya Uni Soviet menandai pula perubahan di Kuba. Pada 1991, Castro mengubah status Kuba dari negara "ateis" menjadi "sekuler" dan setahun kemudian mengamandemen konstitusi. Pada November 1996, Castro pergi ke Vatikan dan bertemu Paus Yohanes Paulus II. Hasil pertemuan tersebut, Paus Yohanes Paulus II berkunjung ke Kuba pada 21-25 Januari 1998.

Pertemuan kedua tokoh itu oleh banyak pihak dimaknai-dari sudut pandang Vatikan-sebagai penziarahan pastoral atau penziarahan Paus sebagai gembala yang dimaksudkan untuk memperkuat Gereja Katolik Kuba guna menghadapi masa depan Kuba, apa pun bentuknya. Dari sudut pandang Havana, inilah bagian dari usaha pemerintahan Fidel Castro untuk mengintegrasikan Kuba dengan kehidupan belahan bumi Barat.

Drama ideologi

Apabila dilihat secara lebih luas, inilah sentuhan terakhir dalam drama ideologi terbesar pada akhir abad ke-20, yakni konflik antara humanisme ateistis dan humanisme Kristiani. Komunisme, yang dianut oleh Kuba, adalah ekspresi humanisme ateistis. Dan, kedatangan Paus Yohanes Paulus II ke Kuba menawarkan kembali humanisme Kristiani.

Castro memang penuh warna. Ia membenci dan bahkan mengecam dollar AS yang dianggap sebagai simbol korup dari kapitalisme. Karena itu, ia menyatakan Kuba sebagai satu-satunya negara di dunia yang tidak perlu menjalin hubungan perdagangan dengan Amerika Serikat. Namun, runtuhnya Uni Soviet dan tiadanya bantuan subsidi dari Moskwa, pada 1993 memaksa Castro melegalkan orang Kuba memegang dollar AS, yang dibelanjakan para wisatawan atau kiriman dari para keluarga pelarian Kuba yang tinggal di AS.

Bahkan, kedua negara menyadari zaman telah berubah. Dari sudut pandang AS, sanksi ekonomi yang dijatuhkan terhadap Kuba selama hampir 60 tahun tidak banyak artinya: tak dapat menjatuhkan Castro, juga tidak mengubah sifat dasar masyarakat Kuba. Karena itu, jika AS membuka pintu bagi Kuba, perubahan diharapkan lebih cepat terjadi di Kuba. Kuba pun ingin bergabung dengan dunia yang berderap dalam pawai modernisasi. Keinginan tersebut mustahil tanpa persetujuan Castro meski ketika itu sudah sakit-sakitan.

Bagaimana Castro akan dikenang

Pada akhirnya, setelah tiada, akan dikenang sebagai apakah Fidel Alejandro Castro Ruz, selain sebagai mantan Presiden Kuba? Barangkali, pendapat Martin Heidegger (1889-1976), filsuf asal Jerman, bisa menjadi dasar untuk menempatkan di mana Castro diletakkan. Heidegger mengatakan, manusia harus terus mencari makna hidup, mengukir dan menciptakan sejarah sekaligus melakoninya. Manusia adalah pencipta sejarahnya sendiri. Ia, manusia, berjalan, berziarah, menggoreskan setiap perjalanannya sebagai sebuah pengalaman bernilai, indah, berisi, bermakna, tetapi juga gelap, tak berarti.

Dalam setiap momen, setiap peristiwa sejarah, manusia adalah sekaligus pemenang dan pecundang, menjadi pihak yang kalah. Oleh karena itu, sejarah tidak bisa diartikan hanya sekadar sejarah kemenangan, melainkan juga kadang sejarah kekalahan; bukan hanya sejarah kesenangan, melainkan juga sejarah kepiluan; bukan hanya sejarah keberhasilan yang memberikan semangat, melainkan juga sejarah kegagalan yang membuat frustrasi.

Semua itu dilakoni Castro. Karena itu, kiranya orang akan lebih mengenang Castro sebagai tokoh sejarah ketimbang seorang politisi. Castro adalah simbol revolusi di seluruh dunia dan inspirasi bagi banyak penirunya, seperti Hugo Chavez dari Venezuela, yang telah mendahuluinya.

Sumber: Kompas, 27/11/2016
Sumber foto: godfather.wikia.com