Padang Panjang Menuju ”Kota Keju”

Oleh ISMAIL ZAKARIA


Produk olahan susu sapi, keju, ditunjukkan, Sabtu (7/7/2018). Keju disiapkan sebagai salah satu produk olahan baru dari Kota Padang Panjang, Sumatera Barat.

PADANG PANJANG, KOMPAS — Keju disiapkan menjadi produk olahan susu segar yang dihasilkan peternak sapi perah di Kota Padang Panjang, Sumatera Barat. Kementerian Pertanian melalui Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian mengembangkan keju di sana dengan meluncurkan ”Rumah Keju”, cikal bakal unit pengolahan keju di Padang Panjang, Sabtu (7/7/2018).
Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian Risfaheri pada Peluncuran ”Rumah Keju”, Demo, dan Bazar Keju Serta Aneka Olahan Susu di Gedung M Syafei Padang Panjang, mengatakan, Padang Panjang dipilih karena salah satu daerah di Sumbar yang terkenal sebagai penghasil susu segar.
Berdasarkan data Dinas Pangan dan Pertanian Kota Padang Panjang, ada sembilan kelompok peternak sapi perah dengan total peternak 100 orang. Setiap hari mereka memproduksi 1.600-1.800 liter susu segar. Sekitar 54 persen susu segar di Sumbar dari Padang Panjang. Selain dikonsumsi di Sumbar, susu segar dikirim ke Pekanbaru (Riau), Batam (Kepulauan Riau), dan Jambi.
”Susu segar itu sebagian besar dikonsumsi. Dengan pengembangan keju ini, jika tidak kuat dipasarkan dalam bentuk susu segar, bisa dalam bentuk olahan seperti keju,” kata Risfaheri, Sabtu kemarin.
Program pengembangan keju  itu bagian dari upaya mendorong pengembangan daerah-daerah baru agar tak hanya terpusat di Jawa. ”Kalau di Jawa, seperti Jawa Barat, sudah banyak. Perlu pembangunan di daerah baru,” katanya.
Menurut Risfaheri, Sumbar berpeluang besar menjadi produsen keju karena sudah menjadi produsen susu. Apalagi, Sumbar adalah daerah wisata.
Demi memastikan mutu keju di Padang Panjang sesuai harapan, kata Risfaheri, pihaknya tidak hanya mengajarkan bagaimana membuat keju, tetapi juga menyediakan bahan seperti starter dan rennet, peralatan, tenaga pendidikan, serta teknisi.
Keju produk lokal Kota Padang Panjang, Sumatera Barat, ditunjukkan di Rumah Keju, Sabtu (7/72018).
Untuk bersaing dengan produsen keju besar memang belum bisa. Yang terpenting, produk keju Padang Panjang  menjangkau masyarakat sekitar.
”Paling tidak, keju untuk wilayah Padang Panjang dan Sumbar tidak lagi dari luar, tetapi sepenuhnya dari Padang Panjang, termasuk daerah lain di Sumbar yang juga mengembangkan keju, seperti Limapuluh Kota dan Payakumbuh. Peluangnya besar apalagi tren produk makanan dengan campuran keju semakin meningkat,” kata Risfaheri.
Mereka tidak akan membantu penjualan langsung ke pasar, tetapi menjembatani produk-produk keju dari Padang Panjang ke pembelinya melalui pameran. Hal serupa juga akan dilakukan oleh pemerintah daerah.
”Melalui program ini, kami coba mencari model yang nantinya bisa dikembangkan juga oleh pemerintah daerah atau direktorat jenderal terkait,” katanya.
Ditunggu-tunggu
Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kota Padang Panjang Syahdanur menambahkan, program pengembangan keju dari Balai Besar Litbang Pascapnen Pertanian memang sangat ditunggu peternak sapi perah Padang Panjang. Apalagi, mereka telah menandatangani nota kesepahaman di Bogor pada Januari 2018.
”Selama ini, peternak kami hanya menjual susu segar dalam bentuk pasteurisasi dan yogurt. Program ini menambah diversifikasi produk. Artinya, dengan adanya olahan lain, seperti keju, mozarella, dan lainnya, nilai ekonomis dari susu itu akan bertambah,” kata Syahdanur.
Saat ini, susu segar di kandang dijual Rp 7.000 per liter. Artinya, jika susu yang dihasilkan sekitar 11 liter, nilai jualnya hanya Rp 77.000. Sementara, dengan 11 liter susu segar itu, peternak bisa menghasilkan 1 kilogram keju yang dijual dengan harga sekitar Rp 150.000.
”Memang susu segar produksi Padang Panjang selalu habis terserap pasar. Namun, ada waktu tertentu, seperti libur sekolah dan puasa, di mana susu tidak terjual seluruhnya. Saat itulah peternak mengolahnya menjadi keju. Mengingat nilai ekonomisnya lebih tinggi, ke depan kami ingin agar mereka sepenuhnya mengolah susu segar sebagai keju,” kata Syahdanur.
Sejak Akhir April lalu, peternak Padang Panjang sudah menghasilkan sekitar 100 kilogram keju. Mereka memanfaatkan peralatan bantuan Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian secara gratis di Rumah Keju yang berada di Kelurahan Ganting, Kecamatan Padang Panjang Timur. Itu di bawah pengawasan petugas yang sebelumnya sudah mendapat pelatihan.
”Selanjutnya, Rumah Keju ini kami harapkan bisa menjadi cikal bakal unit pengolahan keju di Padang Panjang. Tahun ini, bangunan akan kami rehab menjadi lebih bagus lagi,” kata Syahdanur.
Sekretaris Koperasi Peternak Sapi Perah Merapi-Singgalang Amrizal mengatakan, mereka menyambut positif program pengembangan keju di Padang Panjang. Menurut dia, peternak memang belum beralih sepenuhnya ke keju, tetapi dia optimistis secara perlahan akan ke sana.
”Kami berharap ke depan juga ada satu koperasi yang mengelola keju dengan bahan baku susu segar dari peternak. Kalau saat ini, (mengolahnya) masih perorangan saja,” kata Amrizal.
Dikutip dari Kompas edisi 8 Juli 2018

Blogger Widgets

Lepas Jabatan Tinggi, Nila Tanzil Bangun 29 Taman Bacaan di Indonesia Timur



















Jakarta - Sebagian orang merasa pekerjaan yang ditekuni sekarang ini bukanlah keinginan utamanya. Banyak di antara mereka yang justru ingin melakukan apa yang digemarinya namun tidak tahu cara mencapainya.
Tetapi hal ini tidak berlaku bagi Nila Tanzil, seorang konsultan travel dan pendiri Taman Bacaan Pelangi, perpustakaan gratis yang ditujukan untuk anak-anak Indonesia yang terletak di Indonesia bagian timur. Ia rela meninggalkan pekerjaannya lamanya meski sudah menduduki jabatan sebagai kepala komunikasi di salah satu perusahaan swasta demi bisa melakukan suatu hal yang sangat digemarinya, yaitu travelling.

Berawal dari kegemarannya itulah, wanita 36 tahun tersebut 'nekat' tinggal di Pulau Komodo selama satu tahun. Tujuannya ingin sejenak meninggalkan rutinitas kehidupan perkotaan. Selama tinggal disana, yang dilakukannya hanya menyelam dan bermain di pantai.
Namun hal itu justru membuatnya menemukan minat terbesar yang selama ini tersembunyi. Saat sedang berinteraksi dengan penduduk lokal, ia sering melihat anak-anak kecil berlalu-lalang menyusuri sungai untuk pergi ke sekolah dengan jarak yang ditempuh dua jam lamanya. Modal mereka hanya satu, buku dan pensil yang ditaruh di dalam kantong plastik. Tak jarang mereka harus mendaki gunung tanpa alas kaki untuk tiba di sekolah. Hal inilah yang menginspirasinya untuk berbuat sesuatu agar bisa mengedukasi anak-anak tersebut.

"Yang aku lihat, mereka sama sekali tidak punya buku bacaan dan seperti haus ilmu pengetahuan. Dari situ aku tergerak untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk anak-anak Indonesia," ceritanya saat menjadi salah satu pembicara dalam acara Cewequat International Forum 2015 di Kuningan City, Jakarta Selatan, Sabtu (7/2/2015).

Tak tanggung-tanggung, wanita yang pernah mengenyam pendidikan S2 di Belanda ini mendatangkan sekitar 2000 buku yang dibawa langsung dari Jakarta. Hal inilah yang akhirnya membuatnya mendirikan perpustakaan umum bernama Taman Bacaan Pelangi. Perpustakaan tersebut memang didedikasikan untuk anak-anak kecil sehingga mereka bisa membaca buku dengan mudah.

Sukses dengan perpustakaan pertamanya, lulusan hubungan internasional Universitas Parahyangan Bandung ini semakin tertarik untuk mengajarkan anak-anak yang tinggal di daerah terpencil lewat buku-buku yang disediakannya. Bahkan kini ia mempunyai 29 taman bacaan yang sudah tersebar di Indonesia bagian timur seperti Flores, Maluku, Sumbawa, Halmahera, hingga Papua.

Dengan melakoni pekerjaan ini, Nila merasa ia sudah menemukan minatnya, yaitu mengedukasi anak-anak Indonesia agar bisa mendapatkan pendidikan melalui buku yang dibacanya. Ada satu hal yang selalu ia cari saat dirinya membuka perpustakaan di daerah baru, yaitu semangat dan antusiasme anak-anak kecil yang melihat buku sebagai benda mewah.

"Setiap kali aku lihat mereka baca buku, seperti ada satu kebahagiaan di mata mereka. Itu kelihatan banget. Mereka berbinar-binar dan rasanya aku ikut bahagia juga. Untuk menciptakan Indonesia yang kuat kan dimulai dari anak-anaknya dulu. Aku rela bekerja nggak dibayar agar bisa mengedukasi mereka," katanya lagi.

Hingga kini, berbagai macam bantuan datang dari para relasinya. Mereka biasanya mengirimkan buku-buku bacaan yang akan disebar ke seluruh perpustakaan. Nila merasa hal ini terjadi berkat jaringan pertemanan yang luas dengan berbagai kalangan. Bahkan, rekannya yang merupakan warga negara Jerman pernah membantunya dengan menjadi pengajar sukarela di Pulau Flores selama satu tahun.

Seolah tak mengenal lelah, wanita yang pernah mengelilingi 28 negara ini mengaku akan tetap terus mengedukasi anak-anak Indonesia dengan menyebarkan semangat membaca karena ini adalah minat terbesarnya. "Passion is your greatest work. Percaya deh kalau kamu menemukan minatmu, kamu nggak akan pernah mengeluh saat bekerja. Bahkan kamu nggak akan merasa kalau lagi kerja," tutupnya.
Artikel ini dikutip dari https://wolipop.detik.com/read/2015/02/08/094332/2826697/1133/lepas-jabatan-tinggi-nila-tanzil-bangun-29-taman-bacaan-di-indonesia-timur [11/07/2018]

Menebar Kebaikan lewat Dongeng

Rona Mentari (25), juru dongeng

Dongeng sangat berarti bagi kehidupan Rona Mentari (25). Lewat dongeng, Rona bisa mengubah dirinya dari seorang yang pemalu menjadi penuh percaya diri. Melalui dongeng pula, Rona menemukan panggilan hatinya: menjadi juru dongeng yang menyebarkan pesan-pesan kebaikan bagi sesama.
”Aku dulu waktu masih TK orangnya minderan, pemalu banget. Cuma ditegur sama guru saja ngompol di celana, ha-ha-ha,” ujar Rona terbahak mengingat masa kecilnya.
Karena sangat pemalu, Rona mengaku tidak banyak memiliki teman. Ia sangat kesulitan untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. Saat jam istirahat, Rona lebih memilih diam di dalam kelas dan membantu gurunya mempersiapkan makan siang untuk para siswa TK Budi Mulia II Yogyakarta.
Namun, di masa-masa sulit itu, ada hal yang sangat disukai Rona. Ia menyukai sesi mendongeng yang dibacakan guru TK-nya. Sang guru adalah pendongeng pertamanya. Ia bisa larut dalam cerita yang dibawakan sang guru sembari berimajinasi. Ia selalu mengikuti sesi mendongeng dengan antusias.
Sepulang sekolah, Rona terbiasa menceritakan kembali dongeng itu kepada ibunya. Sembari mengerjakan pekerjaan rumah, ibunya pun mendengarkan cerita Rona dengan penuh perhatian. ”Mamaku adalah seorang pendengar yang baik. Meski sembari menyetrika, dia selalu mendengarkan cerita-ceritaku,” ujar Rona.
Orangtuanya kemudian melihat ada potensi mendongeng dalam diri Rona. Lalu saat naik ke sekolah dasar, ia mulai dipilih untuk mewakili sekolah dalam lomba dongeng. Pertama kali mendongeng, ia langsung juara I. Prestasinya itu kemudian membuatnya sering ditunjuk mewakili sekolah dalam lomba-lomba dongeng.
Saat diajak orangtuanya menghadiri acara resmi, ia juga kerap tiba-tiba dipanggil maju untuk membaca puisi atau dongeng. Walaupun grogi, cara orangtua mengondisikan supaya Rona berani tampil di depan umum ternyata berhasil. Kebiasaan itu akhirnya membentuk mental Rona menjadi lebih berani dan percaya diri.
Saat kelas IV SD, Rona juga mulai membuat program sendiri, yaitu Safari Dongeng Ramadhan. Berbekal cerita para nabi dan rasul, Rona berkeliling ke beberapa masjid di Yogyakarta.
”Saat ulang tahun, pernah suatu ketika saya mendongeng di perempatan dekat rumah untuk anak-anak jalanan. Orangtuaku sangat mendukung dengan cara mereka yang unik dan demokratis,” kata Rona.
Kian beranjak dewasa, Rona menjadi lebih percaya diri. Saat duduk di SMP kelas I, ia pernah mengikuti pemilihan dai cilik yang disiarkan di salah satu stasiun televisi swasta. Ia bisa masuk sampai ke tahapan grand final dan mendapatkan peringkat ketiga. Dongeng benar-benar mengubahnya dari seorang yang minder dan pemalu menjadi lebih percaya diri. Saat SMA, ia pun mulai mengikuti banyak kegiatan, seperti fotografi, membuat film, pencak silat, dan lain-lain.
Kini, jejak pemalu itu bahkan sudah tidak terlihat lagi di wajahnya yang selalu ceria. Dia kerap tertawa lebar dan memperlihatkan barisan giginya yang rapi. Dia juga ramah dan senang mengobrol dengan orang-
orang baru.
Rumah dongeng
Saat lulus SMA, dia semakin menyadari bahwa mendongeng memiliki banyak manfaat. Ia pun mulai menanamkan di benaknya, bahwa ia ingin mendalami dunia mendongeng. Bersama dua saudara perempuannya, ia kemudian mendirikan Rumah Dongeng Mentari (RDM) pada 2010.
RDM menjadi rumah bagi warga sekitar rumahnya di Condongcatur, Yogyakarta, untuk belajar, membaca buku-buku, dan mendengarkan dongeng. Di situ, Rona juga merekrut beberapa sukarelawan.
”Rumah dongeng itu didirikan karena melihat di sekitar rumah banyak yang putus sekolah, mabuk-mabukan, dan menyalurkan kegiatan ke arah negatif. Kami ingin kasih tempat bermain mereka yang edukatif,” kata Rona.


Tak berhenti sampai di situ, saat kuliah di Universitas Paramadina Jakarta, Rona juga membuat channel Youtube Dongeng.tv. Ini merupakan cara Rona untuk memperkenalkan budaya bertutur di era digital.

Saat ini, banyak anak-anak terpapar tontonan melalui layar gawai. Tontonan ada yang bersifat edukatif, tetapi ada banyak juga yang tidak sesuai dengan karakteristik anak. Dengan Dongeng.tv, diharapkan anak-
anak mendapatkan pilihan tontonan yang berkualitas. Salah satu konten dalam channel Dongeng.tv juga ada tips mendongeng, dan pengetahuan tentang dongeng.
”Harapannya justru supaya setelah nonton Dongeng.tv, anak-anak minta kepada orangtuanya atau gurunya supaya didongengin,” kata Rona.
Kenapa budaya bertutur langsung menurutnya penting? Karena dalam bertutur langsung ada interaksi dua arah, ada sentuhan, ada kontak mata, yang bisa menjadi media untuk menyampaikan pesan-pesan kebaikan.
Tahun 2017, Rona juga menyelenggarakan Festival Dongeng Awicarita, kerja sama dengan Rumah Dongeng Mentari dan RWE Digital Agency. Festival yang diadakan di Amphitheater Hutan Pinus Mangunan itu menampilkan 300 pendongeng, artis, dan tokoh masyarakat. Acara juga diikuti oleh pendongeng dari Korea Selatan, Kim Seung Ah.
Pesan kebaikan
Saat masih mahasiswa, Rona mulai banyak mendapatkan undangan untuk mendongeng. Baik dari instansi pemerintah, sekolah, komunitas, dan sebagainya. Saat berinteraksi dengan audiensnya, Rona harus menyampaikan materi dengan cara menarik. Karena ia suka bermain musik, ia akhirnya menggunakan gitar untuk bernyanyi dan mendongeng. Kini, Rona identik dengan permainan gitar kecilnya saat mendongeng di depan anak-anak.
Dengan bakat mendongengnya, Rona juga berkesempatan berkeliling Nusantara. Rona sering bertemu dengan anak-anak yang unik dan lucu. Pernah suatu ketika saat ia mendongeng di Karimunjawa, Jawa Tengah, ia bertemu dengan anak yang bercita-cita ingin menjadi koruptor. Anak itu sering melihat di televisi bahwa koruptor berpenampilan keren, memiliki mobil bagus, dan hidupnya berlimpah harta.
Rona pun miris mendengar kejujuran dari anak itu. Semenjak itu, ia semakin bertekad untuk menyebarkan pesan-pesan kebaikan seperti kejujuran, integritas, dan kepedulian kepada anak-anak. Ia juga pernah bekerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk menyebarkan dongeng bertema integritas.
Tahun 2018 ini, Rona mendapatkan kesempatan untuk mendalami dunia dongeng dan memperluas jaringannya. Selama empat bulan, ia belajar bersama 18 orang juru dongeng dari berbagai negara dan latar belakang. Ia mendapatkan beasiswa dari International School of Storytelling, England Storyteller.
Ia pun semakin mantap memilih juru dongeng sebagai panggilan jiwanya.
”Aku akan terus menjadi juru dongeng. Aku juga ingin supaya banyak bermunculan juru dongeng lainnya di Indonesia. Karena pesan-pesan kebaikan bisa disampaikan melalui kekuatan dongeng,” kata Rona.
Rona Mentari
    • Lahir: Yogyakarta, 23 September 1992
    • Pendidikan: S-1 Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina
    • Pencapaian:
    1. Selected Storyteller Sydney International Storytelling Conference 2014
    2. Scholarship Student Storytelling Beyond Words 2018, International School of Storytelling, England Storyteller
    3. Pendiri Rumah Dongeng Mentari
    4. Pendiri Festival Dongeng Nasional ”Awicarita Festival” di Yogyakarta

               Oleh: Dian Dewi Purnamasari
               Dikutip dari Kompas edisi 21 Juni 2018







Maya Hasan: Banyak Perayaan


Memiliki kerabat dengan beragam agama membuat harpis Maya Hasan punya banyak momen berkumpul bersama keluarga besarnya. Maya lima bersaudara. Dua kakaknya beragama Islam, sementara Maya, ibu, dan dua saudaranya yang lain Kristen. Meski berbeda keyakinan, mereka selalu merayakan Lebaran dan Natal bersama. "Kami jadi punya banyak perayaan, makan-makannya lebih banyak," kata Maya, Kamis pekan lalu.
Dalam setiap momen perayaan, semua anggota keluarga datang ke rumah yang ditempati Maya dan ibunya. Saat Lebaran, Maya ikut mengenakan kaftan, pakaian longgar dan panjang yang berasal dari kerajaan Persia kuno. Di Indonesia, model pakaian ini identik dengan acara religi Islam, seperti puasa dan Lebaran.
Maya, 46 tahun, juga menyiapkan menu makanan istimewa. Ia menugasi asisten rumah tangganya menyiapkan ketupat, opor ayam, sayur labu, sambal goreng ati-kentang-pete, sambal, dan kerupuk. Yang berbeda dengan keluarga lainnya, mereka menambahkan koya. "Jadi enak karena gurih," ucap ibu tiga anak itu.
Saat Natal, sajiannya lain. Maya menyediakan kalkun, seperti menu perayaan Thanksgiving di Amerika Serikat. Yang lebih spesial, ia memasak kalkun itu bersama anak-anaknya yang mudik dari luar negeri. "Pas mereka libur. Jadi bisa ngumpul," katanya.
Dikutip dari Tempo edisi 11-17 Juni 2018

Setelah Salah Salat


Buka puasa bersama di Masjid Abdullah Quilliam, Liverpool, Inggris, dua pekan lalu didominasi obrolan tentang Mohamed Salah. Bintang asal Mesir itu menjadi pahlawan setelah mencetak 44 gol dan membawa Liverpool FC ke final Liga Champions Eropa. Pemain sepak bola terbaik Inggris musim 2017/2018 itu juga menyumbangkan lima gol dan mengantar negaranya ke Piala Dunia 2018-penampilan pertama mereka setelah 28 tahun.

Buka puasa bersama di Masjid Abdullah Quilliam, Liverpool, Inggris, dua pekan lalu didominasi obrolan tentang Mohamed Salah. Bintang asal Mesir itu menjadi pahlawan setelah mencetak 44 gol dan membawa Liverpool FC ke final Liga Champions Eropa. Pemain sepak bola terbaik Inggris musim 2017/2018 itu juga menyumbangkan lima gol dan mengantar negaranya ke Piala Dunia 2018-penampilan pertama mereka setelah 28 tahun.
Setelah menghabiskan samosa-kue goreng-seorang anggota jemaah, Rifat Khan, berbicara lebih jauh ketimbang sekadar gol. Seperti ditulis harian Inggris, Mirror, suporter Liverpool itu menilai Salah mengikis pandangan buruk masyarakat Inggris terhadap Islam. "Ketika para fan meneriakkan yel-yel tentang Salah sebagai muslim, saya merasa lebih diterima. Tidak lagi dilihat sebagai pendatang, karena saya juga muslim," kata Khan, 25 tahun, korban kekerasan rasial saat remaja.
Dengar saja pekikan girang para penggemar The Reds-julukan Liverpool-saat Salah mencetak gol. "If he's good enough for you, he's good enough for me. If he scores another few, then I'll be muslim too." Gubahan Good Enough milik Dodgy itu diakhiri "Sitting in the mosque, that's where I wanna be."
Salah, 25 tahun, muncul sebagai fenomena di waktu yang tepat. Rentetan serangan teroris, termasuk pengeboman di London dan di Manchester tahun lalu, membuat angka islamofobia di Inggris mencapai 47 persen. Situs Football Against Racism in Europe menempatkan stadion-stadion di Inggris sebagai tempat insiden rasisme dan islamofobia terbanyak di Eropa selama 2014-2017.
Pada Maret 2015, saat jeda laga Liverpool versus Blackburn, Abubakar Bhula dan Ashif Bodi menunaikan salat magrib di kolong tangga di salah satu sudut Stadion Anfield. Seseorang mengunggah foto mereka di Twitter dengan tulisan "memalukan".
Express memberitakan bahwa insiden yang sama terjadi pada 2013, saat sekelompok penonton yang sedang beribadah salat magrib berjemaah diintimidasi sesama suporter di Stadion Boleyn Ground, London, kandang West Ham United. Di Nice, Prancis, wali kota dan pengurus federasi sepak bola mengancam akan memotong subsidi bagi klub yang melanggar "Aturan Sekularisme", termasuk salat di stadion. Alasannya, seperti ditulis situs The Local, sepak bola adalah olahraga universal yang tak boleh dicampuradukkan dengan praktik religi.
Salah, yang hijrah dari AS Roma di Italia ke Liverpool pada Juni tahun lalu, menyatakan identitas keagamaannya secara terang-terangan. Sebelum kick-off, dia selalu menengadahkan tangannya. Juergen Klopp, Manajer Liverpool, mengatakan pemainnya itu selalu khusyuk berdoa setiap kali hendak memulai laga. "Termasuk berwudu dan hal-hal lainnya," ucap pelatih asal Jerman itu. Setelah menjebol gawang lawan, Salah memilih bersujud syukur ketimbang jejingkrakan.
Ashif Bodi mengatakan aksi itu membuat suporter, baik di stadion maupun pemirsa televisi, lebih menerima cara umat Islam beribadah. Dia menyebutnya "Efek Salah". Meski Anfield telah memiliki ruang sembahyang sejak 2016, dia masih menunaikan salat di kolong tangga sesekali. "Tapi tidak ada lagi yang memberikan pandangan aneh," kata warga Liverpool itu kepada Middle East Eye. Kebiasaan sujud sebagai perayaan gol pun menular ke bocah-bocah di Inggris.
Mengapa Salah bisa menjungkirbalikkan persepsi dalam tempo kurang dari setahun? "Karena gol-golnya, tentu saja, ha-ha-ha...," ucap Chris Pajak, analis di The Redmen TV, kanal penggemar independen Liverpool. Dengan 44 gol dalam satu musim, pemain kidal itu hanya kalah dibanding Ian Rush, legenda The Reds yang mencetak 47 gol pada musim 1983/1984.
Perilaku Salah di luar lapangan juga membuat penggemar seperti Pajak jatuh hati. Salah adalah antitesis dari kebanyakan bintang sepak bola, yang hedonistis, doyan gonta-ganti pacar, dan gila pesta. Selain di lapangan, Salah biasa ditemui di masjid saat salat Jumat. Biasanya dia bersama Sadio Mane, tandemnya di lini depan Liverpool, asal Senegal. Keduanya selalu membalas sapaan para penggemar dengan ramah. Abdullah Quilliam, masjid tertua di Inggris yang dibangun pada 1887, menikmati 10 persen kenaikan anggota jemaah sejak Salah kerap Jumatan di sana.
Di Mesir, Salah membangun stasiun ambulans dan pusat pendistribusian makanan bagi warga miskin. Saban bulan, dia menyalurkan bantuan kepada 400 keluarga miskin dan madrasah yang diikuti seribuan anak, yang mengajarkan Islam moderat serta menjauhkan mereka dari ekstremisme. Saking cintanya kepada pemain itu, lebih dari sejuta warga Mesir menulis "Mohamed Salah" di kertas pemilihan umum, meski jelas-jelas Salah bukan calon presiden. April lalu, Kerajaan Arab Saudi menghadiahinya sebidang tanah di Kota Suci Mekah. Aidh al-Qarni, cendekiawan Arab Saudi dan penulis La Tahzan, mengatakan Salah telah merepresentasikan Islam dengan cara terbaik. "Mungkin lebih baik dari seratus atau seribu khotbah," tulis Al-Qarni di akun Twitternya.
Sebelum Salah menjadi ikon, dalam skala lebih kecil, sejumlah pemain sepak bola muslim merebut hati Eropa. Rabah Madjer asal Aljazair mengawalinya pada 1980-an, lalu ada megabintang Prancis, Zinedine Zidane, pada 1990-an. Pemain muslim mulai bertebaran di Benua Biru pada pertengahan 2000-an. Mereka memiliki kelebihan karena pantang menyentuh alkohol dan judi. "Intinya, jauh dari masalah," ujar Sam Cunningham, penulis artikel sepak bola di situs I News.
Contohnya saat Sam Allardyce mendatangkan Ali al-Habsi ke klub Liga Primer Inggris, Bolton Wanderers, pada 2006. Dia kerap mendampingi kiper Oman tersebut ke masjid. Paul Pogba di Manchester United, Mesut Oezil dan Shkodran Mustafi di Arsenal, serta Edin Dzeko di AS Roma adalah segelintir contoh bintang yang aktif saat ini.
Perubahan pun datang mengikuti. Tempat latihan Arsenal dan Liverpool hanya menyediakan makanan halal. Musala dibuka di berbagai stadion, seperti Saint James Park di Newcastle dan Emirates di London. Bahkan Allianz Arena, kandang Bayern Muenchen, punya masjid. Rumah ibadah yang juga memiliki imam tetap dan perpustakaan itu dibangun atas usul dan urunan para pemain Muenchen, di antaranya Franck Ribery. Liga Primer Inggris sampai mengganti kebiasaan memberikan sampanye kepada man of the match karena Yaya Toure, gelandang muslim Manchester City asal Pantai Gading, kerap merebut gelar itu dan selalu mengoper hadiah minuman beralkohol tersebut kepada rekannya.
l l l
WAJAH Islam di kancah sepak bola tidak seindah gol-gol Mohamed Salah. Tiga tahun lalu, 13 remaja di Mosul ditembak mati oleh pasukan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Penyebabnya, mereka menonton tayangan Piala Asia yang menampilkan laga antara Irak-negeri mereka-dan Yordania. Setelah memberondong mereka dengan senapan mesin, eksekutor baru menyatakan bahwa para remaja itu melanggar aturan agama dengan menonton sepak bola.
Setahun sebelumnya, Boko Haram meledakkan bom di arena nonton bareng laga Piala Dunia 2014 di Nayi-Nama, Damaturu, Nigeria. Akibatnya, 21 orang tewas saat menyaksikan pertandingan Brasil melawan Meksiko itu. Abubakar Shekau, pemimpin organisasi militer tersebut, mengatakan sepak bola adalah musuh Islam. Dalam pergelaran Piala Dunia tahun ini, ISIS menyatakan akan membunuh Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi. Ancaman itu dilengkapi poster bergambar eksekusi dua megabintang tersebut dengan latar belakang Stadion Luzhniki, Moskow.
Banyak dalil yang mengharamkan sepak bola. Misalnya dalam kitab Inarotud Duja karya Syekh Muhammad al-Maliki, yang menyamakan bola sepak dengan kepala Husein, cucu Nabi Muhammad, yang dipenggal dan ditendang-tendang dalam Peristiwa Karbala. Alasan lain, menurut sebagian orang, adalah pemain mengumbar bagian badan yang tak boleh kelihatan. Menurut hadis riwayat Bukhori, "paha adalah aurat".
Ada juga yang mengaitkannya dengan larangan penerimaan hadiah. Dalam hadis riwayat Ahmad, Tarmizi, dan Abu Daud disebutkan, "Tidak ada hadiah perlombaan kecuali dalam balapan unta, memanah, atau pacuan kuda." Yang terbaru, pada 2003, seperti ditulis Washington Post, ulama Arab Saudi, Syekh Abdullah al-Najdi, mengharamkan sepak bola, kecuali dimainkan sebagai latihan berjihad.
Al-Shabaab, kelompok militan yang berafiliasi dengan Al-Qaidah di Somalia, mencoba memberi gambaran sepak bola halal versi mereka. Wartawan Al Jazeera, Hamza Mohamed, menuliskannya dari Barawe, wilayah yang dikuasai kelompok pemberontak itu, pada Juli 2014, saat seluruh kolong langit menikmati Piala Dunia.
Pemain boleh mengenakan jersey klub-klub Eropa, asalkan berlengan panjang. Seragam merah-putih Arsenal menjadi pilihan terbanyak di antara 40-an kombatan Al-Shabaab. Celana wajib menutupi lutut. Berapa pun waktu tersisa, peluit panjang bertiup 15 menit menjelang azan. Saat terjadi gol, selebrasi yang diizinkan adalah takbir dengan telunjuk teracung. Buka baju dan pamer otot ala Mario Balotelli dianggap sebagai pornoaksi dan pelakunya dikenai sanksi larangan bermain seumur hidup. Pemain yang bergoyang pinggul ala Roger Milla dihukum cambuk.
Wasit, selain tidak menggunakan kartu dan berwenang memberikan hukuman di tempat, anti-omongan jorok. Pemain yang kedapatan berkata kasar ditarik dari garis depan. Kalau pemain itu anggota brigade bom bunuh diri, namanya dihapus-hukuman yang dinilai paling memalukan karena menunda perjalanan menuju janah.
Tentu saja banyak ulama berpendapat lain. Mufti Arab Saudi, Syekh Abdul Aziz bin Abdullah al-Sheikh, mengatakan fatwa Al-Najdi ngaco dan harus dituntut ke pengadilan syariah. Bahkan akhir tahun lalu Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman mencabut larangan keberadaan perempuan di stadion. Keputusan ini menyusul diizinkannya perempuan mengendarai mobil.
Adapun, seperti dikutip dari Arab News, Mufti Besar Mesir Shawki Allam membolehkan pemain tim nasionalnya tidak berpuasa selama Ramadan tahun ini untuk berkompetisi di Piala Dunia. Mereka disamakan dengan musafir, yang boleh menunda puasa hingga kembali ke rumah. "Namun tetap lebih baik jika mereka berpuasa," kata Allam.
Mesir akan melakoni laga perdana di Piala Dunia 2018 bertepatan dengan Idul Fitri, 15 Juni, melawan wakil Amerika Latin, Uruguay. Kabar buruknya, Raja Mesir-julukan Mohamed Salah-masih dirawat di Spanyol untuk menyembuhkan cedera bahu kiri yang ia peroleh saat Liverpool ditaklukkan Real Madrid di final Liga Champions Eropa, 27 Mei lalu. Di Twitter, dia mengunggah foto dirinya sedang melatih otot bahu. "Meski sulit, saya yakin bisa tampil di Rusia dan membuat kalian semua bangga," ujar Salah.
Oleh : Reza Maulana
Dikutip dari Kompas Edisi 11-17 Juni 2018