Selebrasi Musikal Indra Lesmana

Musisi Indra Lesmana saat wawancara khusus dengan Kompas di Jakarta, Rabu (24/8/2022).

     Konser tunggal Indra Lesmana pada Sabtu (27/8/2022) akhirnya berlangsung setelah               tertunda akibat pandemi Covid-19. Rentang karir selama 47 tahun dipepatkan dalam                 pertunjukan kolosal.

Setelah berkiprah selama 47 tahun, Indra Lesmana (56) akhirnya menggelar konser tunggal Indra Lesmana Legacy, pada Sabtu (27/8/2022). Bagaimana mungkin musisi sekaliber Indra Lesmana baru satu kali bikin konser tunggal. Rupanya, dia terlalu asyik bikin lagu, sehingga harus dibantu pihak lain memanggungkan karya itu dengan cita rasa spesial.

Jumat diam-diam berganti Sabtu ketika lagu “Selamat Tinggal” dimainkan di panggung. Tiba-tiba, Indra berujar, “Pak Aksan, ada tiga hal. Pertama, pengisi sesi all-artists nggak hadir semua hari ini. Kedua, ini sudah malam. Ketiga, besok saja latihan lagi untuk sesi all-artists,” kepada Aksan Sjuman, sang konduktor, ketika jam sudah menunjukkan pukul 00.20.

Sekitar 60-an pemain musik berseru “Yeaaa!” diikuti dengan merapikan perangkat masing-masing. Mereka akhirnya bisa beranjak pulang dari gedung konser Jakarta International Theatre JIExpo, Kemayoran, Jakarta itu.

Mereka sudah berlatih sejak Jumat sekitar pukul 18.00. Sesi run-through, atau latihan menyeluruh secara berurutan dimulai sekitar pukul 20.15. Namun, di latihan terakhir itu, masih ada beberapa kendala, seperti pianika yang tidak bunyi, dan kendala pasokan daya listrik yang lumayan memakan waktu.

Alhasil, sesi gladi-hampir-bersih itu tak lancar-lancar amat. Durasi yang direncanakan kelar sekitar tiga jam jadi molor. Padahal, kurang dari 24 jam lagi konser penting inidimulai.

Keputusan Indra menyudahi latihan yang nyaris tuntas itu adalah noktah kecil dari seluruh dinamika. Itu pun masih dalam batas kewajaran mengingat kompleksitas pertunjukan. Konser ini terbilang kolosal mengingat banyaknya orang yang terlibat dan jumlah nomor yang dimainkan.

Tak kurang dari 60 musisi bergabung dalam Indonesia Legacy Orchestra yang dikomandoi Aksan Sjuman. Masih ada pula sekitar 30 musisi tamu, di antaranya Once Mekkel, Ardhito Pramono, Eva Celia, ILP, Kaka Slank, Tohpati, Teza Sumendra, Monita Tahalea, dan Maliq & D’Essentials. Belum lagi ada 200-an awak panggung yang bekerja.

Selain Jakarta, konser yang dikelola Senyawa Entertainment ini akan diputar ke tiga kota lain, yakni Bandung, Yogyakarta, dan Bali. Untuk seluruh rangkaian tur, Indra dan kawan-kawan menyiapkan 54 lagu, yang dipepatkan jadi 30-an nomor—beberapa lagu dirangkai sebagai medley. Durasi pertunjukannya sekitar tiga jam dengan satu kali jeda. Indra sampai menyiapkan empat kostum berbeda.

Musisi Indra Lesmana saat persiapan untuk konser "Indra Lesmana Legacy Concert" di Jakarta International Theatre, Kemayoran, Jakarta, Jumat (26/8/2022).

Dalam hidupnya, Indra pertama kali naik panggung ketika masih bocah, yakni 9 tahun, berduet dengan sang ayah, mendiang Jack Lesmana, begawan gitaris jazz Indonesia. Artinya, sudah 47 tahun Indra berkarir di bidang yang ia amat cintai ini.

Tapi kenapa baru sekarang dia membuat konser tunggal? “Bingung mau bawain semuanya. Harus konser sendiri. (Sementara) Konser sendiri pastinya harus besar (dalam skala pertunjukan, juga biaya),” kata dia ketika disambangi pada Rabu (24/8/2022) di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, tempatnya menginap selama menyiapkan konser ini.

Kebingungan Indra dilatari betapa beragamnya karya yang pernah dia hasilkan. Istrinya, Hon Lesmana, menyusun arsip karya-karya Indra yang berjumlah lebih dari 1.000 lagu, tersebar dalam 93 album baik sebagai solois, band, maupun di balik layar sebagai produser dan pencipta lagu. Corak musiknya pun beragam; mulai dari jazz instrumentalia, pop yang agak jazz, pop konsumsi radio, fusion, sampai metal progresif.

Sejak Indra dan Hon pacaran, sekitar 1998, dan menikah 1999, Hon selalu mendorong Indra untuk bikin konser tunggal. Tapi, Indra lebih suka bikin lagu. Kalau pun berkonser tunggal, dia ingin mempertontonkan bunga rampai rentang karier dan karyanya.

“Baru pada 2019 Reza Subekti dari Senyawa Entertainment bilang mau membikinkan konserku, menampilkan lagu-laguku dari pop, rock sampai jazz, dibalut orkestra. Lu gila. Lu tahu kan sesusah apa,” katanya disambung tawa kecil. Tawaran itu serius.

“Diskusi terus bergulir sampai Februari 2020 dan sepakat konser dibikin September 2020; angka tahunnya bagus, dan menandai 45 tahun karir bermusikku. Lalu pandemi. Aku jadi lupa (rencana konser) karena mengerjakan yang lain, bikin konten, bikin macam-macam,” kata Indra yang selama kurun 2020-2022 menghasilkan album penuh, album kompilasi, beberapa single, dan mendalami non-fungible token (NFT).

Baru pada Januari 2022, dia dihubungi kembali perihal konser itu. “Ooh, masih (lanjut), hehehe,” kenangnya. Indra dan Senyawa lantas makin menyeriusi konser perdana itu dengan menandatangani kontrak pada 20 Januari 2022. Jadilah mereka kerja bareng.

Diskusi terus bergulir sampai Februari 2020 dan sepakat konser dibikin September 2020; angka tahunnya bagus, dan menandai 45 tahun karir bermusikku. Lalu pandemi.

 

Meresapi lagu
Langkah pertama yang Indra lakukan adalah membongkar kaset-kaset koleksi album lamanya, mendengarnya satu per satu, mengingat-ingat momen apa yang yang membuatnya menciptakan karya itu. Perasaannya campur-aduk. Sebab, setiap lagu dan album punya ceritanya sendiri-sendiri. Ada yang manis, lucu, juga getir. Indra pernah sukses membuatkan album untuk Titi DJ, mantan pacarnya; juga kerja bareng Sophia Latjuba, mantan istrinya.

Tapi bukan romantisme sepele itu yang merisaukannya. Lagu-lagu itu perlu dipilih dan dipilah. Juga perlu diolah ulang dengan aransemen segar. Urusan memilih dikerjakan oleh tim Indra dan Hon. Mereka menyortir sekitar 100 lagu yang mengompromikan pilihan pribadi Indra dan selera pengikutnya di media sosial. “Kebanyakan permintaan follower-ku sesuai dengan yang kuharapkan,” kata dia yang nyaris menghabiskan seliter air putih selama bincang-bincang.

Lagu-lagu itu lantas dipilah lagi berdasarkan dekade lahirnya, mulai dari 1970-an sampai kiwari. Tiap dekade dicari lagu mana yang populer, atau menjadi favorit Indra meski tak terlalu ngetop. “Hits pop vokal seperti 'Ekspresi' atau 'Aku Ingin' itu harus ada. Lagu yang kurang popular tapi penting buatku itu seperti 'Stephanie', dan 'LA' dari album yang dirilis MCA Records di Amerika (Serikat) karena sebagai highlights perjalanan karirku,” ujarnya.

Indra pernah tinggal di Los Angeles, AS, sekitar 1,5 tahun waktu usianya baru 21 tahun. Ia tinggal di sana setelah mendapat kontrak rekaman dengan Zebra Records, unit perusahaan label besar MCA Records. Bersama label itu, ada dua album yang dia hasilkan, yakni No Standing (1984), dan For Earth and Heaven (1986).

Tantangan berikutnya adalah mengaransemen lagu-lagu terpilih untuk ditampilkan bersama orkestra. Nama pertama yang terlintas di benak Indra adalah Tohpati. Indra punya banyak kesamaan dengan gitaris itu. Mereka sama-sama main di kancah jazz, tapi juga gemilang menggarap musik pop. Tohpati juga berpengalaman merancang konser kolosal berdurasi panjang.

“Selera humor kami sama juga, he-he-he. Itu penting buatku,” kata Indra. Tohpati kebagian mengaransemen 20 nomor, misalnya beberapa lagu di era pop Indra Lesmana seperti “Aku Ingin” dan “Karina”. Selain Tohpati, Indra menggandeng Addie MS, Adra Karim, dan Indra Perkasa sebagai arranger.

“Aku ajak Mas Addie karena aku penggemarnya. Sebenarnya dulu aku skeptis dengan aransemen orkestra di musik pop Indonesia sempai aku dengar lagu ‘Burung Camar’. Aku suka banget. Aku cari tahu siapa yang mengaransemennya, ternyata Addie MS. Setelah itu aku selalu mengaguminya,” kata dia.

Hits pop vokal seperti 'Ekspresi' atau 'Aku Ingin' itu harus ada. Lagu yang kurang popular tapi penting buatku itu seperti 'Stephanie', dan 'LA' dari album yang dirilis MCA Records di Amerika (Serikat) karena sebagai highlights perjalanan karirku.

Regenerasi
Sementara Adra Karim dan Indra Perkasa dianggap Indra sebagai penerus arranger orkestra musik Indonesia di masa mendatang. Regenerasi pemusik di Indonesia sudah lama jadi pemikiran Indra. Ini adalah warisan pemikiran dari ayahnya.

“Ayah sering bilang, ‘In, Indonesia tidak akan kehabisan bakat, mungkin terhebat di Asia. Tapi kalau nggak didukung pendikan, sarana, dan komunitas yang baik, ya begitu-begitu saja.’ Aku setuju. Komunitas yang kuat bisa menghaislkan individu yang berkarakter. Bagiku, bikin sekolah musik bukan kasih pendidikannya saja, tapi lingkungannya juga, interaksi intens satu sama lain,” katanya.

Berbekal ilmu dari Conservatorium of Music di Sydney, Australia, dan berjejaring dengan pemusik jazz di Sydney dan Los Angeles, Indra diajak ayahnya mendirikan sekolah musik bernama Forum Musik Jack dan Indra Lesmana di Jakarta pada 1986. Beberapa murid awalnya adalah Dewa Budjana, Anto Hoed, mendiang Riza Arshad, dan Aksan Sjuman. Indra mengajar bidang improvisasi jazz.

“Sama murid-murid ini aku berteman karena sepantaran secara usia. Habis belajar, ya, aku ikut kumpul-kumpul. Aksan adalah salah satu yang paling akrab. Kami jadi berteman bukan hanya soal musik, tapi juga spiritual,” katanya. Komunitas yang terbentuk dari sekolah itu, harus diakui, mewarnai kancah musik dalam negeri sekarang.

Jack Lesmana meninggal dunia pada 1988. Kepergiannya meninggalkan lubang besar pada diri Indra. Dia berduka hampir dua tahun lamanya. Sekolah musik mereka berdua dihentikan karena Indra tak sanggup membawa beban nama besar sang ayah. Selama dua tahun itu pula dia tidak membuat album solo, periode yang cukup panjang bagi Indra yang produktif. Penampilan bersama band Krakatau dijalani sebatas sebagai anggota.

Sosoknya di depan panggung muncul lagi di tahun 1990 berkat album Aku Ingin yang bercorak pop. Indra menjadi penyanyi. Album itu sukses berat secara penjualan, yang katanya lebih dari satu juta kopi yang dilaporkan padanya. Saking larisnya, album itu dapat penghargaan dari BASF Awards. “Sebagai musisi jazz, penghargaan pertamaku justru dari album pop, ha-ha-ha,” tawanya berderai-derai.

Pada dekade ini, nama Indra Lesmana seolah jaminan kelarisan album pop dengan standar musikalitas tertentu. Album Cerita Lalu dan Biarkan Aku Kembali menempel di benak banyak kawula muda saat itu. Band Adegan pun menuai sukses. Indra juga sempat berduet dengan Gilang Ramadhan yang menghasilkan hit “Selamat Tinggal”. Album fusion yang patut dikenang dari dekade ini adalah dari band Java Jazz dengan lagu “Bulan di Atas Asia” yang dahsyat.

Sebagai musisi jazz, penghargaan pertamaku justru dari album pop, ha-ha-ha.
Menjelang akhir millenium, Indra mengaku jenuh bermain pop. Ia mengajak Aksan, Budjana dan Mates membikin proyek album Reborn (2000) yang seperti mengembalikan marwah Indra. Predikat sebagai musisi jazz menguat ketika menggarap musik untuk film Rumah Ketujuh (2003) yang kental nuansa swing itu.

Eksplorasi musikalitas Indra melebar ketika membikin grup ILP (Indra Lesmana Project) yang beraliran progresif metal pada 2018. Personilnya dia jaring dari pengikutnya di sosial media, yang umumnya berumur separuh dari dirinya. Di konser tunggal, ILP juga tampil memainkan dua lagu yang main kompleks karena iringan orkestra.

Orang-orang kunci di konser dan repertoar lagu jelas dipilih benar oleh Indra, menyesuaikan fase hidup, dan fase musikalitasnya. Dengan rentang karir 47 tahun, durasi pertunjukan sekitar tiga jam dirasa tak cukup. “Ini (konser) adalah perayaan kehidupanku dengan kalian dalam musik,” katanya. Setiap perayaan ada durasinya. Indra ingin orang-orang menikmatinya selagi bisa.

INDRA LESMANA
Lahir: Jakarta, 28 Maret 1966
  • Beberapa album penting:
  • Ayahku Sahabatku (1978)
  • No Standing (1982)
  • Tragedi (1984)
  • For Earth and Heaven (1986)
  • Karina (1986)
  • Kau Datang (Krakatau, 1988)
  • Aku Ingin (1990)
  • Bulan di Atas Asia (Java Jazz II, 1994)
  • Reborn (2000)
  • OST Rumah Ketujuh (2002)
  • Love Life Wisdom (LLW, 2011)
  • Sleepless Nights (2020)
  • In the Moment (2022)


Nungki Kusumastuti, Berbagi Ilmu Tari


Penari Nungki Kusumastuti


     Tari, kan, enggak melatih teknik fisik, tetapi lebih-lebih bagaimana mengolah rasa agar apa       yang kita ekspresikan benar-benar keluar sebagai bahasa batin,


Penari Nungki Kusumastuti sedang sibuk wara-wiri ke sejumlah kota. Tentu urusannya tak jauh-jauh dari soal seni, terutama tari dan film. Pekan ini, ia akan terbang ke Bali untuk menghadiri pembukaan program Belajar Bersama Maestro (BBM) di Studio GEOKS milik maestro tari I Wayan Dibia di Gianyar, Bali.


Menurut Nungki, jika dulu program dari Kemendikbudristek ini bagi siswa setingkat SMA, tahun 2022 berkembang menjadi para pegiat seni muda.


”Tahun ini ada tujuh wilayah, di antaranya Bali, Magelang, dan Wonosobo. Memang masih tetap pada seni pertunjukan,” kata salah satu kurator peserta BBM itu, Kamis (25/8/2022), di Jakarta.


Pada Juni 2022, maestro tari Didik Nini Thowok mengajar puluhan peserta di Studio Mendut Magelang. Didik mengajarkan bagaimana mengolah rasa saat menarikan topeng. Selain itu, seniman ketoprak Nano Asmorodono juga mengajar kesenian ketoprak yang tumbuh di kalangan rakyat.


Nah, kata Nungki, di Bali para pegiat seni akan belajar mengolah rasa saat menarikan tari legong dari koregrafer I Wayan Dibia.


”Tari, kan, enggak melatih teknik fisik, tetapi lebih-lebih bagaimana mengolah rasa agar apa yang kita ekspresikan benar-benar keluar sebagai bahasa batin,” katanya. Menurut rencana, BBM di Bali akan dibuka pada 2 September 2022.


BBM, tambah Nungki, menjadi wadah bagi generasi muda untuk memperdalam seni dan kebudayaan. Sebab, lewat keduanyalah, bangsa ini akan terus mengukuhkan eksistensinya dalam pergaulan dunia. ”Tanpa kebudayaan, kita hanya akan menjadi orang kebanyakan. Jadi, ini bukan hanya cermin identitas, tetapi adalah jati diri bangsa,” kata Nungki. 

Buru-buru ia pamit untuk mempersiapkan persiapan Indonesian Dance Festival (IDF) bulan Oktober nanti. Sibuk banget?


Ananda Sukarlan Siapkan Konser Istimewa di Borobudur


Pianis Ananda Sukarlan pada konser di atas perahu di Teluk Cantabria,
kota Playa el Sable, Cantabria, Spanyol, 2-3 Juli 2022.




G20 Orchestra, nama orkes bentukan Ananda, merupakan kumpulan 70 musisi muda dari 20 negara anggota G20 (30 musisi di antaranya dari Indonesia).


Musisi Ananda Sukarlan menyiapkan konser orkestra istimewa dengan musisi usia 17- 32 tahun di pelataran Candi Borobudur pada 12 September 2022. Untuk menyiapkan kebutuhan konser, Ananda yang tinggal di Spanyol sejak awal Agustus sudah di Jakarta.


G20 Orchestra, nama orkes bentukan Ananda, merupakan kumpulan 70 musisi muda dari 20 negara anggota G20 (30 musisi di antaranya dari Indonesia). Mereka bersama penyanyi Pepita Salim, Mariska Setiawan, Nick Lucas, dan Kadek Ari Ananda (semua pemenang The Ananda Sukarlan Vocal Award 2013-2021) akan tampil selama 1,5 jam di depan para menteri bidang kebudayaan negara anggota G20 di Borobudur.


Menurut Ananda, ide pembentukan orkestra dengan musisi dari sejumlah negara datang dari Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim. ”Mas Menteri (sebutan untuk Nadiem) melontarkan ide tersebut Januari lalu. Maret saya menyeleksi musisi dari dalam negeri dan meminta musisi senior kenalan saya dari sejumlah negara mengirim musisi muda berkualifikasi terbaik,” kata Ananda, Rabu (24/8/2022), di Jakarta.

Pianis Ananda Sukarlan pada konser di atas perahu di Teluk Cantabria,
 kota Playa el Sable, Cantabria, Spanyol, 2-3 Juli 2022.

Ia tak hanya ingin menampilkan kemampuan musisi Indonesia, tetapi juga mengangkat isu kesetaraan jender di kalangan musisi orkestra. ”Ternyata susah, tapi saya harus coba agar musisi lain memperhatikan isu ini,” kata Ananda.


Persoalan ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di negara maju, seperti Amerika dan Eropa. Lelaki masih mendominasi dunia orkestra.


Ananda memilih 54 persen musisi lelaki dan 46 persen musisi perempuan. ”Bagi saya, kualitas teknik musisi tetap nomor satu, tapi syukur perimbangannya tak telalu jauh,” ujarnya.


Budaya Pop




Dengan detail faktual yang tidak seragam, pembajakan karya warga bawahan oleh elite merupakan kisah abadi yang berulang dalam sejarah. Begitulah sejarah musik jazz, rap dan tarian break-dance. Juga tato dan celana robek.


Budaya pop bagian dari kehidupan khalayak urban sehari-hari. Yang ngepop datang dan pergi silih berganti. Semua itu biasa-biasa saja sepanjang abad. Wajar dan sah tanpa perlu diatur atau disahkan aparat negara.

Ceritanya jadi lain ketika suatu budaya pop menarik perhatian besar-besaran dari warga elite. Itu yang terjadi bulan lalu pada kegiatan remaja berlatar ekonomi pas-pasan di salah satu pusat keramaian Jakarta: Dukuh Atas. Kegiatan jalanan yang sebelumnya biasa saja mendadak jadi luar biasa sejak dinobatkan sebagai Citayam Fashion Week (CFW) oleh warga gedongan.

Kini debat CFW mulai mereda, terlepas apakah kegiatan di jalanan itu berlanjut. Seusai demam CFW itu berlalu, apa hikmah yang bisa diambil dari hiruk-pikuk sebulan terakhir? Jawabnya bisa beraneka, bergantung sudut pandang kita.

Bagi peminat kajian budaya pop seperti saya, bukan detail-detail fakta empiriknya yang paling penting. Sebab, popularitas kebanyakan budaya pop berusia pendek. Yang lebih menggoda untuk dikaji adalah posisinya dalam dinamika sosial berlingkup makro dan berjangka panjang.

Demam CFW itu gejala sesaat di permukaan. Namun, ia tidak hadir tiba-tiba lalu lenyap tanpa makna. Kasus semacam CFW bukan yang pertama. Sama sekali tidak unik. Berbagai kasus budaya pop lain memicu perdebatan serupa, misalnya dangdut.


Musik dan pentas dangdut punya sejarah panjang. Berpuluh tahun ia menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, khususnya kelas bawah. Sebagian ragam dangdut berselera norak, kasar, dan jorok jika dinilai dengan norma konservatif kelas menengah.

Sekitar 20 tahun lalu, Inul Daratista diidolakan sebagai salah satu primadona dangdut di berbagai kota di Jawa Timur. Tak ada kontroversi. Masalah baru muncul sejak Inul ditemukan oleh warga elite Jakarta dan diorbitkan di media nasional.

Di TV dan koran nasional, Inul mendadak lebih sering tampil ketimbang presiden RI. Pendapatan finansialnya berlipat ganda. Begitu juga caci maki dan ancaman dari yang pihak tidak suka padanya. Pentas Inul terlarang di beberapa kota.

Kegiatan remaja di penyeberangan zebra Dukuh Atas sudah berlangsung lebih dari setahun. Bincang nasional tentang mereka baru meledak belakangan setelah ada campur tangan dari warga yang lebih makmur. Kaum elite dan setengah elite berbondong ikutan acara mereka. Lalu lintas tambah macet. Di kota-kota besar lain warga yang hidupnya cukup makmur ikut bikin acara serupa CFW.

Ketika ada warga kelas gedongan mendaftarkan hak atas kekayaan intelektual (HAKI) untuk CFW, mereka diejek sesama elite sebagai cara orang kaya merebut ciptaan orang miskin. Ejekan semacam itu perlu, tetapi kurang tepat. Sebelum ada yang mendaftarkan HAKI, sebagian besar martabat dan identitas acara jalanan itu sudah direbut warga kelas gedongan.

Kelas menengah gedongan tidak hanya mengangkat derajat CFW sebagai kata kunci di ruang publik nasional, tetapi juga kerangka debatnya. Perlu forum lain jika mau dikaji apakah hal itu berkah atau bencana. Yang jelas, gara-gara campur tangan warga gedongan tadi, kurang tepat jika CFW diromantisir sebagai kegiatan ”organik”.

Remaja pinggiran perintis CFW bukan sebuah komunitas ”organik” dalam pengertian ”murni” dan tidak ”tercemar” pengaruh pihak lain di luarnya. Suka atau tidak, kita semua sudah menjadi bagian ”organik” dari kapitalisme global. Pegiat CFW tidak terkecuali. Perlu ditambahkan, kita tidak setara walau sama-sama menjadi bagian organik dari kapitalisme. Secara mendasar kapitalisme hidup dari ketimpangan sosial.

Andaikan Inul dan CFW diabaikan warga elite, kegiatan mereka berjalan biasa. Tanpa hiruk-pikuk nasional. Apakah itu cita-cita mereka? Sangat mungkin sebaliknya. Mereka tidak berbeda dari kebanyakan dari kita yang berusaha meningkatkan nilai ”jual” masing-masing dalam bidang profesi berbeda-beda. Popularitas adalah kekuatan yang bisa diterjemahkan jadi harta atau kuasa.

Maka, tidak aneh dua gubernur ikut menumpang bergaya di CFW. Tidak kebetulan keduanya sering disebut dalam bursa pencalonan presiden RI 2024. Sama tidak anehnya ada presiden dan calon presiden RI yang menebar pesona dengan gitar. Yang satu suka musik pop, yang lain musik metal.

Seorang politikus menasihati pengusaha agar tidak serakah dan mengomersialkan CFW lewat HAKI. Nasihat ini mengingatkan kita pada kejadian tahun lalu. Ketika Greysia Polli dan Apriyani Rahayu meraih medali emas Olimpiade, para politikus berlomba memasang baliho raksasa ucapan selamat. Wajah mereka tampil norak di latar depan, sedangkan sepasang juara itu ditempel sebagai embel-embel di latar belakang.

Mengharap pedagang tidak serakah seperti mengharap politikus tidak munafik. Di mana-mana budaya jelata diabaikan elite. Jika sulit diabaikan, akan ditindas. Jika sulit diabaikan dan gagal ditindas, mereka dirangkul dan dikemas-ulang sesuai selera dan kepentingan elite. Nasib dangdut dan CFW contohnya. Tidak unik.

Dengan detail faktual yang tidak seragam, pembajakan karya warga bawahan oleh elite merupakan kisah abadi yang berulang dalam sejarah. Begitulah sejarah musik jazz, rap, dan tarian break-dance. Juga tato dan celana robek sebagai gaya hidup urban di kalangan elite gedongan.

Jangankan CFW. Bahkan, reformasi berdarah-darah 1998 begitu mulus dibajak elite dari rezim yang digempur gerakan massa waktu itu. Agaknya ada yang terkaget-kaget lalu menilai CFW sebagai peristiwa luar biasa. Disebut sebagai perlawanan budaya. Bahkan, ada yang membahasnya sebagai subversi atau revolusi.

Bila demam CFW sudah basi bulan depan dan ternyata tidak ada perubahan sosial besar-besaran berbulan-bulan kemudian, apakah komentar menggebu semacam itu masih ada yang ingat? Banyak orang pendek ingatan. Mereka terkejut setiap kali ada produk baru budaya pop. Sebagian terkejut dengan risau, yang lain terpesona.

Nasib budaya pop penuh pengulangan walau rincian detailnya beraneka. Yang populer cepat berganti, kecuali setelah dikemas ulang dan dijinakkan elitenya. Detailnya beraneka, tetapi kisah mereka merupakan gejala sesaat dalam masyarakat yang timpang berkelanjutan.

Ariel Heryanto

Profesor Emeritus dari Universitas Monash, Australia

Editor:
MOHAMMAD HILMI FAIQ