Paris, Halte Terakhir 'Long Journey' Eropa 2023

Kami berdua baru saja menjalani tahap akhir long journey menjelajah 12 kota 8 negara Eropa. Enjoy traveling 2023 kami mulai dari Roma - Italia, dan Paris - Prancis, sebagai kota dan negara tujuan terakhir.

Paris menjadi 'meet up point', tempat singgah dan titik berkumpul keluarga. Saya bersama istri tiba duluan dari Karlsruhe, Jerman. Anak, cucu, dan menantu kami datang belakangan, menyusul dari tempat lain, dari rute traveling mereka. 

Traveling ke Paris 2023 kali ini terasa istimewa. Kami menjalani Hari Raya Idul Adha 1444 Hijriah, 29 Juni 2023 di sini, Paris, Prancis. Pengalaman berbeda dari biasanya. Di Paris, waktu lebih longgar, kami singgah seminggu dan bisa enjoy menjalani 'Family Time. Kami berdua juga berkesempatan berwisata sejarah bersama cucu yang masih dalam masa liburan sekolah. 

Berlibur Bersama Cucu - Mendampingi dan menemani cucu jalan-jalan di spot favorit di dataran tertinggi kota seni Paris.

Basilique Sacre-Coeur de Montmarte
Kami berkesempatan menginjakkan kaki di daratan tertinggi kota Paris. Di area ini berdiri kokoh salah satu bangunan heritage kota Paris, Basilique Sacre-Coeur de Montmarte. Sacre-Couer, begitu biasanya sebutan singkatnya. 

Dari literasi sejarah diketahui, groundbreaking Sacre-Coeur dilakukan tahun 1875. Konstruksi bangunan yang berada di puncak bukit itu mulai berbentuk gedung tahun 1882. Arsitektur Sacre-Coeur dengan bangunan tembok berwarna serba putih, berkesan megah dan anggun. Sacre-Coeur adalah salah satu gereja tertua di kota Paris. Kini menjadi salah satu destinasi wisata favorit bagi para wisatawan.

Sacre-Coeur Heritage Kota Paris - Berpose bersama anak, cucu, dan menantu di altar bangunan heritage Basilique Sacre-Coeur de Montmarte, salah satu gereja tertua di kota Paris.

Sacre-Coeur, gereja Katholik Roman yang berdiri kokoh dan indah di puncak bukit itu mulai dibuka untuk umum tahun 1891. Pembangunan Dome gereja sendiri baru selesai tahun 1899, dan tower lonceng selesai dibangun tahun 1912.

Champs Ellysee Kini
Traveling ke Paris kali ini saya menyempatkan jalan-jalan ke salah satu kawasan ikonik ibukota di area jalanan utama kota Paris, Champ Ellysees. 

Di jalan-jalan utama, resto Prancis menjual secangkir kopi seharga 12€ euro atau sekira IDR200.000. Resto-resto di sekitar Champs Elysee kini mulai surut, tersaingi pendatang baru. Coffee Shop China, Jepang, Korea menjual makan siang komplit seharga 12€ euro plus kopi 12€ euro. Kehadiran mereka mulai menyaingi resto-resto Prancis.

Museum Louvre
Kami bersama cucu mengunjungi museum seni termashur di dunia, Louvre, yang arsitektur bangunannya sangat ikonik, berbentuk prisma trapezium itu. Kami menemani cucu, juga mengunjungi museum, situs sejarah lainnya, berwisata sejarah. Dari museum yang kami kunjungi tergambarkan Prancis adalah negara besar.

Catatan Kecil 'Tour de France'
Saya ada catatan kecil tentang Paris terkini. Kota seni ini kini terasa kurang bersih, kurang teratur dibanding ibukota negara-negara Eropa Timur yang sempat kami kunjungi. Namun demikian, Paris terasa egaliter, warganya ramah kepada pendatang. Sekurangnya itulah yang saya lihat dan rasakan kini.

Kami berada di Paris, Prancis saat event tahunan legendaris, balap sepeda 'Tour de France' sedang berlangsung. 'TDF' 2023 digelar start dari Bilbao-Spanyol dan final stage, etape terakhirnya di area Champs Ellysees, Pariis. Seperti 'Tour de France', traveling 'long journey' Europe 2023 kami di kota Paris kali ini, juga sebagai halte dan etape terakhir, sebelum kami kembali ke Tanah Air. []

Nostalgia Bertiga @Karlsruhe

Nostalgia Bertiga @Karlsruhe

Berkesempatan menjalani 'One Day Trip' di kota Munchen, menyambangi keponakan, kami berdua meneruskan 'enjoy traveling' naik kereta cepat ICE bergerak ke arah barat menuju negara bagian Baden-Wurttenberg yang ber-ibukota Stuttgart. Tujuan kami adalah kota Karlsruhe. Perjalanan 184mil atau sekira 296km ditempuh dalam waktu 2jam 45menit. 

Sampai di Karlsruhe Centra Station, kami dijemput Pak Andi Dharsono, putra sulung Pak Jendral (purn) HR Dharsono (alm), kakak kandung istri saya, Somya. Kami bertiga melanjutkan perjalanan ke selatan ke arah luar kota menuju kediaman Pak Andi di daerah Niebelsbach, berada di wilayah antara kota Karlsruhe dan Pforzheim.

Bertiga Bernostalgia - mampir sejenak berkuliner sore hari di Karlsruhe, kota terbesar ketiga di negara bagian Baden Wurttenberg, Jerman.

Dalam perjalanan ke rumah tampak perkebunan rapi dan hijau di kiri-kanan jalan. Rumah Pak Andi besar, bangunan rumah terletak diantara kebun yang luas. Kakak ipar sudah menetap selama 50 tahun di sini. Pak Andi sejak lulus sebagai engineer langsung bekerja di wilayah kota industri produsen mesin-mesin perkakas, microchip, dan otomotif ini. 

Kami menginap tiga malam, sekaligus untuk bernostalgia dan silaturahmi keluarga Pak Ton. Silaturahmi putra sulung dan putri bungsu Pak Ton. Selama singgah, Pak Andi sempat membawa kami berwisata kuliner ke sebuah resto yang menawarkan menu masakan ikan segar dan ikan hasil budidaya di kolam air tawar. Resto Zordel namanya.

Resto itu menawarkan menu forellengrill ikan panggang, raucherfisch ikan asap berwarna kekuningan, dan frischfisch ikan segar hasil budidaya di air tawar. Saya mencicip semuanya. Soal rasa, jangan ditanya. Semuanya lezat dan bergizi tinggi.

Wisata Kuliner Zordel - Kami bertiga menikmati kuliner ikan asap, semacam pepes ikan dimasak ala Jerman.
Tiga malam puas melepas rindu, kami berdua persiapan meluncur menyeberang perbatasan negara, ke arah barat menuju Paris, Prancis. Saya sangat senang karena sebentar lagi kembali ke Tanah Air. Sesuai jadwal long jouney, di Pariis kami bermalam dulu beberapa hari di salah satu rumah tinggal almarhum abang 'Pipin', H. Arifin Panigoro. Kami semakin senang karena akan bertemu anak, cucu, dan menantu yang akan tiba di kota Paris, sesuai jadwal traveling mereka.

Sebelum meluncur naik kereta cepat TGV ke Pariis, pada 21Juni ada berita ramalan cuaca, perkiraan akan ada hujan es sebesar bola ping-pong. Waduuh, sungguh mengerikan.... Kami bersyukur, ternyata ramalan cuaca itu keliru. []

'One Day Trip' ke Negara Bavarian

'One Day Trip' ke Negara Bavarian

Dari Postdam Berlin, kami berdua melanjutkan enjoy traveling, 'One Day Trip' ke Munchen, ibukota negara bagian terbesar Jerman, Bayern Bavarian. 

Di Munchen, Munich, saya dan istri tercinta Somya, menyambangi keponakan yang berprofesi sebagai arsitek. Keponakan sudah menetap dan menjadi warga Munich. Dia alumni Universitas Parahiyangan yang karirnya kini sudah mendunia. Saya ikut bangga. 

Dia bekerja di perusahaan Allianz, perusahan yang namanya diabadikan menjadi nama stadion baru nan megah 'Allianz Arena'. Stadion super modern yang sejak 2005 jadi markas klub sepak bola legendaris di Bundesliga (Liga utama sepakbola Jerman) dan prestasi hebat di level Eropa, Bayern Munich.

Munchen terkenal di dunia karena antara lain memiliki stadion besar bersejarah legendaris, Stadion Olimpiade Munich. Salah satu karya 'masterpiece' arsitektur stadion modern pada jamannya. Stadion itu dibangun untuk penyelenggaraan Olimpiade Munich 1972 dan menjadi venue final sepakbola Piala Dunia FIFA 1974. 

Danau Michaeligarten - Menjelang petang berjalan-jalan di area danau kecil di Ostpark Munich-Neuperlach, Bayern Bavarian. Taman publik Ostpark digagas sejak 1960an dan mulai dibuka pada tahun 1973.
Kami berkesempatan makan malam di area danau indah di taman kota, bagian tenggara kota Munich. Danau itu bernama Michaeligarten. Tampak angsa-angsa berenang riang dan burung-burung terbang di atasnya. Suhu udara petang hari saat kami berada di wilayah Jerman bagian selatan, pada pertengahan Juli itu, berada sekira 20° derajad Celcius (68 derajad Fahreinheit). Suhu udara nyaman dan menyenangkan.

Silaturahmi Two Couples - Bersama keponakan, kami jalan-jalan dan makan malam di area Danau Michaeligarten, Bayern Bavarian, Munchen. 

Kami berempat menikmati schnitzel dan spargel (asparagus). Ini makanan bermutu dan lezat, harga terjangkau. Kami makan jam 9 malam, namun cakrawala di kota Munchen saat itu masih tampak terang. Munchen masih mengalami hari panjang sekira 16 jam, dan matahari terbenam sekira jam 9 malam. 

Saat menyantap hidangan makan malam saya teringat salah satu ayat dari Kitab Suci Al-Quran yang inti-sarinya, hidup adalah perjalanan, healing dan mencari rezeki.

"Tuhan menjadikan bumi itu untuk mudah bagimu. Maka berjalanlah ke segala penjuru dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya". Manusia diciptakan laki-laki dan perempuan menjadi berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal. 

Jangan lupa bersyukur, nikmatilah sebagian rezeki-Nya, termasuk rezeki makanan warga setempat. Inilah rezeki wisata kuliner. Kami bersyukur bisa menjalani perintahNya. Alhamdulillah. []

Hiking Berdua di Jalanan 'Jantung Eropa'

Hiking Berdua di Jalanan 'Jantung Eropa' 

Kami berdua baru saja menjelajahi lima kota, lima negara 'benua biru' Eropa Timur. Dari kota Warsawa, Polandia, naik moda transportasi kereta api, kami bergerak ke arah barat daya. Menyeberang, melintasi perbatasan menuju "Jantung Eropa", Jerman.

Inilah negara Eropa yang memiliki tetangga paling banyak. Terletak di tengah-tengah daratan Eropa. Sebelah utara Jerman ada negara skandinavia Denmark. Di sisi barat ada Benelux (Belgia, Netheland, Luxemburg), plus Prancis. Di sebelah selatan perbatasan ada Swis dan Austria. Di sebelah timur ada Republik Ceko Relublik Slowakia dan Polandia. 

Ketika menyebut negara Jerman, kota dan daerah apa yang pertama melintas dalam pikiran Anda? Apakah Berlin! Apakah Tembok Berlin? Bila iya, kita sama. Tujuan pertama kami di Jerman juga kota Berlin dan berkunjung ke 'Memorial Tembok Berlin'. Tembok perbatasan wilayah Berlin Timur dan Barat yang sangat ikonik dan bernilai sejarah politik 'perang dingin' dua kutub di Eropa itu sudah dirubuhkan sejak 1989. Jerman yang terbelah tahun 1961 saat Perang Dunia II, sudah menjadi 'Jerman Bersatu' sejak 3 Oktober 1990.

√ 'Memorial Tembok Berlin' - Melihat lebih dekat ke monumen kepingan puing sejarah bekas tembok perbatasan Berlin, dan 'The Wall Museum' area, spot favorite berselfi para wisatawan domestik maupun Eropa.

Di Berlin kami menginap dua malam di hotel Ibis Berlin Kurfuerstendamm. Setiap ngopi pagi di depan hotel, saya perhatikan, warga Jerman lebih suka berjalan kaki dan bersepeda. Saya dan Somya, istri tercinta, saat berdua menjalani 'City Tour' menyempatkan diri hiking, walking around ke wilayah Postdam, ke area 'Jembatan Merah' di daerah aliran sungai Spree yang membelah kota Berlin.

Menghirup Udara Segar Berlin - Jalan berdua saja. Somya ngopi pagi di depan hotel Ibis Berlin, persiapan 'walking around' ke 'Jembatan Merah' ikonik di daerah aliran sungai Spree, Berlin, di East Side Gallery area.

Kami juga tidak melewatkan kesempatan berkunjung ke 'Checkpoint Charlie', kawasan bekas pintu gardu pemeriksaan 'US Army Checkpoint'. Pasca perang dunia kedua, kota Berlin di bawah administrasi pemerintahan bersama Amerika Serikat, Inggris, Prancis dan Uni Soviet, sebagai pihak pemenang PD II. 

'Checkpoint Charlie' - Berpose di bekas pos jaga 'US Army Checkpoint', wilayah administratif AS di Berlin pasca Perang Dunia II.

Rehat sejenak usai 'CityTour', kami berdua bergerak dari wilayah Postdam Berlin melanjutkan traveling 'One Day Trip' naik kereta api cepat ICE menuju ke arah wilayah Jerman bagian selatan. Menuju ibu kota negara bagian terbesar Bayern Bavarian, Munchen. []

PESONA MASJID SYECH ZAID ABU DHABI

 

 

Megahnya Syech Zayed Mosque

 

Kami meninggalkan cerita Eropa lalu bergerak ke Abu Dhabi. Persinggahan terakhir sebelum kembali ke Jakarta-Indonesia.  Sebelumnya saya sudah meminta Lusi, sekretaris saya untuk mengurus visa di Abudhabi, jaga-jaga saat masuk Abu Dhabi tidak ada kendala apapun.

 

Namun, yahh kecele. Saat kami tiba di imigrasi Abu Dhabi pasport saya dan Soomy cuma dibubuhi cap saja, padahal Lusi sudah repot-repot mengurusi visa di Jakarta. Jadi, kesannya no visa required, apalagi ternyata orang indonesia  populer banget di sini, walaupuan sebagian besar tenaga kerja di Abudhabi,  mayoritas dari Banglades, India dan Pakistan.

 

Tiba di Abudhabi kami menginap di Sofitel, bagi saya ini adalah penerimaan terbaik selama perjalanan kami di Eropa hingga Abudhabi. Beruntungnya lagi tipe kamar kami diupgrade menjadi suite room.

Syech Zayed Mosque

 

Kami check-in di lantai 39 dengan tipe kamar suite room. Kesannya Sofitel hanya menjual kemewahan bisa dilihat dari fasilitas kamarnya, Sofitel ini terletak di pantai, namun sayangnya terhalang high way, jadi seperti bukan di pantai saja.

 

Esok harinya kami menuju salah satu destinasi wisata wajib di Abudhabi. Masjid Syech Zayed Mosque. Masjid Agung Abu dhabi ini sangat megah dan indah, didominasi warna putih. Manajemennya bagus sekali seperti hotel bintang lima.


Salah satu spot di Masjid Syech Zayed.

 Setelah drop off di lokasi masjid, kita dibawa turun dengan eskalator ke lobi  penerimaan, mirip seperti di Plaza Senayan. Tiba di lobi ini semua tersedia, mulai dari toko oleh-oleh, makanan dan minuman, semua lengkap. Untuk masuk ke area mesjid kita harus daftar dengan aplikasi. Setelah daftar kita dapat mengelilingi masjid dan disediakan kendaraan. Kami diangkut dengan travelator atau bugy car, lalu dengan eskalator naik lagi ke masjid. Di atas permukaan tanah hanya ada taman, kolam dan gedung masjid.

Tiang Masjid yang terbuat dari emas Italia 24K

Konsep Masjid ini mirip seperti Taj Mahal, Syech Zayed sendiri menginisiasi pembangunan masjid ini, sehingga beliau juga yang mengumpulkan arsitek terbaik, bahan terbaik dengan kualitas terbaik untuk pembangunan mesjid ini. Sehingga pembangunan mesjid ini memang direncanakan dengan baik, bahkan Syech Zayed meninggal dunia sebelum masjid ini selesai. Namun dengan perencanaan yang sangat profesional, masjid ini selesai dan diberi nama Syech Zayed Mosque.













SURAT CINTA DARI PRAHA

 

Praha Notes

 





Tengah Kota Praha

Setelah berkunjung ke Hungaria, kami melanjutkan perjalanan ke Praha, sebagai Ibu kota dari negara Cekoslowakia. Praha atau disebut juga dengan Prague, kota yang sangat cantik, karena sebagian besar bangunannya bergaya heritage, bohemian. Banyak sekali peninggalan sisa-sisa penjajahan komunis di kota ini. Meski sekarang negara ini sudah berubah ideologi dari komunis menjadi liberal demokrasi, namun sepertinya tidak membuat bangsa Ceko tersekat-sekat.


Sepanjang jalan saya melihat banyak perluasan kota dengan gaya modern, namun seninya tetap dipertahankan. Seperti bangunan dengan fondasi telapak tangan. Bangunan heritage yang terkenal di Praha adalah Prague Castle. Ini menjadi peninggalan sejarah Ceko pernah menjadi sebuah kerajaan di masa lampau.


Prague dan bangunannya


Transportasi di negara ini bervariasi, tersedia Tram, Bus, MRT. Dalam padangan saya kehidupan perekonomiannya tampak lebih bergulir dibandingkan dengan Hungaria.
 
Penduduk negara ini terutama yang wanita menarik perhatian saya. Wanita di negara ini mirip seperti Luci sekretaris saya dan Raisa seperti staf saya. Namun saya tidak menemukan wanita dengan wajah Widyawati (heheheh)

Resto Favorit Somya


Saya juga jarang menemukan anak kecil di negara ini. Sepertinya negara-negara Eropa semakin jauh dari pertambahan jumlah penduduk. Saya baca di koran-koran, pertumbuhan penduduk di Eropa sangat rendah, Aida (My Writer) mengatakan pada saya istilah itu dikenal dengan nama Demografi Winter, adanya penurunan jumlah kelahiran di negara-negara Eropa, karena perubahan ideologi dalam hal memiliki keturunan atau generasi selanjutnya.

 

WISATA SEJARAH ALA BUDAPEST


Hungaria Notes

 

Budapest

Sepuluh Juni saya dan Somya tiba di Hungaria, kami check in di Ibis Merah. Hotel ini berada di tengah kota Hungaria. Untungnya di sebelah Ibis ada resto Burger King, sehingga tidak sulit untuk mencari makanan. Kami disambut dengan sambutan istimewa di hotel, saya kira sambutan istimewa ini terasa hangat, karena Hungaria kota kecil.  Saat tiba di hotel waktu Hungaria sudah menjelang sore. Cocok sekali untuk jalan-jalan.

Hungaria pernah berjaya sekitar tahun 1850 dalam sistem Kerajaan Hungaria. Namun, setelah perang dunia pertama dan kedua, negara ini menjadi sulit bangkit, sekitar tahun 1980-an Hungaria bergabung dengan NATO dan kemudian dibantu dalam kebijakan ekonomi oleh Uni Eropa, terutama setelah  pemerintahan komunis jatuh dan Hungaria melakukan revolusi Hungaria. Sampai saat ini, sisa peninggalan komunis masih  banyak ditemui, bahkan dijadikan sebagai bukti sejarah dalam bentuk musium. Masih untung ya komunis di negara ini dibanding di negara-negara lain.

Gedung Parlement Budapest

Saat berjalan-jalan, kami tidak melihat ada mobil yang mewah,  mayoritas yang terlihat station car middle size Eropa, termasuk Mobil Skoda yang sudah diambil oleh perusahaan VW Jerman. Terasa sekali tingkat ekonomi negara ini lebih bawah dibanding Austria.

Namun, Budapest cukup menarik untuk wisata sejarah, selain bangunan sisa komunis, juga bisa ditemui banyak sekali stadiun sepak bola dengan ukuran yang besar, kesemuanya menjadi saksi sejarah, bahwa Hungaria pernah berjaya dalam hal sepakbola saat masa kecemerlangan Kiper Puskav.

Ornamen Patung di Budapest

Kekhasan bangunan-bangunan di Budapest berusia lebih dari 200 tahun, saya bisa melihat bangunan gedung Retrovit meski sangat jarang, sisanya bangunan bergaya heritage yang megah, style jembatan Sungai Danube yang mendunia, sempat diabadikan dalam karya John Strauzz Waltz. Jembatan itu sangat  terkenal dan tampak kokoh.


Khas Arsitektur Jembatan Budapest

 

WARSAWA SEKALI PANDANG

 Polandia Notes

 

Warsawa






Setelah perjalanan dari Praha, kami melanjutkan perjalanan ke Warsawa-Polandia.  Tiba di Warsawa, langsung check in di Novotel Warsawa, kamar kami letaknya di Top Floor  Executive Lantai 31. Begitu sampai di hotel sudah jelang malam, saya memilih istirahat setelah perjalanan yang lumayan melelahkan dari Praha.

Patung-patung di Warsawa

Keesokan harinya kami mulai mengelilingi Warsawa,  pagi ini  kami mengunjungi pusat turis Royal Castle. Dari Novotel menuju Royal Castle bisa menggunakan bus dengan No.180 atau pilihan lainnya dengan  berjalan kaki.

Patung di Warsawa


Polandia ibarat raksasa yang baru bangun tidur,  penduduknya sebanyak 40 juta jiwa, jumlah ini empat kali lebih banyak dari penduduk dari negara di sekitarnya, tapi ini tidah termasuk Rusia ya. Menariknya Warsawa saat ini sedang melakukan pembangunan gedung-gedung baru. Kondisi ini sangat menonjol karena gedung-gedung tua peninggalan perang dua kedua tetap dipelihara dengan sangat baik.

Royal Castle

Objek wisata utama Warsawa yaitu Old Town, atau lazim disebut Royal Castle yang dibangun pada abad ke-14 oleh Raja Zygmunt ke-3 dengan nama Vasa The Castle. Lalu pada  tahun 1944 dihancurkan oleh Jerman. Kemudian pada tahun 1971, Polandia kembali dibangun dengan dana gotong royong, sekarang Royal Castle menjadi pusat lukisan penting Eropa.  Banyak sekali pameran lukisan dan fotografi sisa peninggalan perang dunia kedua yang bisa kita nikmati di Royal Castle Warsawa.

Polandia ternyata memiliki sejarah yang kental dengan pemusik legendaris Mozart. Komposer Mozart yang legendaris ternyata lahir di Polandia, meski meninggal di Paris. Mozart memang menginspirasi dimanapun ia berada, sehingga patungnya bisa kita temui bukan saja di Polandia, namun juga di Austria sebagai tempat ia berkarya dan melahirkan banyak karya-karya fenomenal.

NEGERINYA PEMUSIK DUNIA

 Austria Notes




Parkiran Sepeda di Wien

Perjalanan menuju Wien kami tempuh selama enam jam dengan menggunakan kereta api cepat. Saat berada di stasiun Wien. Ada sebuah tempat makan yang menjadi favorit kami bernama, SOM KITCHEN. Selain karena makanannya enak, tentu saja karena namanya sama dengan nama Somya, istri saya. Stasiun Wien sangat besar dan modern, lebih mirip seperti airport.

Resto Favorit kami di stasiun Wien

Tiba di Wien kami langsung check in di Novotel Ibis atau disebut juga di Wien sebagai NoBis. Hotel ini berukuran besar seperti Novotel Bukittinggi. Di sini tersedia sejumlah 500 kamar. Dalam kota Wien sendiri banyak menggunakan transportasi Tram atau MRT yang terintegrasi dengan sangat baik. Malam pertama di Wien dengan sambutan yang hangat.

Putri di depan Hotel Ibis

Menarik sekali, saat kami menginap di sini,  di depan NoBis sedang ada pameran tanaman, sehingga pemandangannya menjadi hijau dan segar.

Pameran di depan Hotel NoBis

Berkunjung ke Wien artinya bernostalgia tentang adikaryanya Johan Strauss. Bahkan di Wien tersedia taman Johann Strauss, kita bisa melihat plang tamannya dengan nama 13 Johann Strauss Platz Der Hietzinger Bevolkerung Gewidmet. Strauss terkenal dengan  musik Waltz nya yang mendunia. Selama di Wien, jika kita ingin mendengarkan summer concert juga tersedia di Channel ORF2 pada jam 21.20 waktu Wien.

Mengunjungi Austria tidak sah jika tidak mengunjungi cafe yang pertama kali digunakan oleh Johan Strauss saat performa dengan Biolanya, yakni sekitar tahun 1825. Cafe itu diberi nama CAFE DOMMAYER.  Selain Johann Strauss, jangan lupa juga mengunjungi rumah pemusik legendaris, Mozart yang terletak di city center.

Cafe pertamakali John Strauss  memainkan biolanya.

 

MENGUNJUNGI LJUBIJANA


Slovenia Notes



Dari Venice kami melanjutkan perjalanan ke Slovenia, negara yang menjadi salah satu negara pecahan dari Yugoslavia. Ibukotanya dikenal dengan nama Lubyana atau biasa ditulis dengan ejaan Ljubijana. Perjalanan kami menuju Lubyana menggunakan bus yang bagus, dengan kecepatan 100 km per jam.

Ada sebuah cerita unik. Saat saya dan istri turun di stasiun utama dengan bus kota Lubyana. Kami tiba di siang hari, dalam kondisi kami lapar. Akhirnya kami putuskan untuk makan di restoran Thailand. Waktu masuk ke dalam, kami sangat terkejut, karena semua pramusajinya orang Indonesia, ternyata restoran itu dipimpin oleh arsitek ITB yang kecantol dengan guru TK yang cantik di Lubyana, mereka menikah dan menetap di Lubyana. 


Restoran Thailand dikelola oleh alumni ITB

 

Mengunjungi Lubyana seperti mengunjungi sebuah kota kecil yang indah, luas negara ini hanya 20.273 kilometer persegi. Kami menginap di hotel The Fuzzy Log, hotel ini masih groupnya Ibis Ljubijana. Kamar hotel ini mirip seperti cabin dan capsule, karena didesain bergaya minimalis modern.







Penampakan Hotel The Fuzzy Log

Bagi saya, hampir semua yang ada di kota ini tampak indah, mulai dari barang-barangnya yang unik, patung-patung yang indah menghiasi Lubyana. Sepertinya negara ini banyak sekali menghasilkan patung-patung yang indah, berdasarkan berita yang ada, sebagian besar patung-patung tersebut dieksport ke Eropa lalu dibeli oleh orang-orang kaya di Eropa secara luas.
 
Wisata alam yang terkenal yaitu Danau Bled yang menjadi tujuan wisata di Slovenia, uniknya di tengah Danau ini terdapat gereja yang bisa ditempuh dengan perahu lokal yang disebut dengan Pletna. Sepertinya jumlah gereja di negara ini lebih banyak daripada pusat perbelanjaannya.



Icon Kota Lubyana

Slovenia memang negara yang kecil dan baru berkembang, sehingga saya tidak menemukan industri yang besar di negara ini. Begitulah Slovenia dalam sekali pandang, moga ada kesempatan mengunjungi kembali kota yang indah ini.
 
Dari Slovenia, kami berangkat menuju Wien-Austria. Transportasi yang kami gunakan dengan kereta api, kira-kira dari Slovenia menuju Wien aka memakan waktu enam jam. Kami sudah merencanakan akan menginap di Ibis Wien, hotel yang besar dengan jumlah 500 kamar. Sampai jumpa di Wien. 


Konser Kemerdekaan RI 2023, Konser Kemerdekaan 78 Tahun Indonesia Merdeka

'Malam Apresiasi Bagimu Negeri' - Medco Energi.

Medco Energi terus mendorong kemajuan musik pertunjukan Indonesia. Malam peringatan Kemerdekaan ke-78 Republik Indonesia, Kamis, 17 Agustus 2023, Medco menggelar Konser Kemerdekaan Republik Indonesia 2023. Konser bertema 'Terus Melaju untuk Indonesia Maju' digelar di Soehanna Hall, The Energi Building, SCBD, Jakarta.

Konser kali ini berkonsep pergelaran musik kolaboratif. Perpaduan musik orkestra dan musik pop kontemporer. Konser terdiri dari dua babak sajian. Sesi pertama menyajikan musik kamar orkestratif. Sesi kedua menampilkan musik pop kekinian.

Pada sesi pertama, Orkes Kamar Jayakarta dipimpin konduktor Asep Hidayat Wirayudha mengiringi tiga penampil. Para penampil sesi pertama adalah penyanyi senior seriosa wanita Indonesia, Aning Katamsi, penyanyi seriosa pria bersuara tenor Farman Purnama, dan pianis muda bertalenta yang berkebutuhan khusus, Michael Anthony. 

Sesi kedua konser malam kemerdekaan 2023, menampilkan musisi jazz senior Candra Darusman, penyanyi wanita generasi millenial Andien, dan New Chaseiro--pemusik muda generasi Z asuhan Candra Darusman.

√ Presiden Direktur Medco Energi International, Hilmi Panigoro. Foto by esp

Dalam kata sambutan, Presiden Direktur Medco Energi International Hilmi Panigoro mengatakan pergelaran pada malam itu bukan sekadar perayaan kemerdekaan tetapi pada esensinya adalah wujud apresiasi mengisi kemerdekaan melalui musik. Pergelaran didedikasikan untuk para pejuang kemerdekaan. 

Menurut pegiat seni pertunjukan Dedi Sjahrir Panigoro, Indonesia sudah 78 tahun merdeka setelah melalui perjuangan panjang. Kini saatnya mengisi kemerdekaan. Saatnya para pelaku ekonomi kreatif, para musisi perform, memberikan sumbangsih bagimu negeri.

Konser kemerdekaan 2023 dibuka dengan suara denting dan gemerincing nada crescendo instrumen harpa yang dimainkan pemusik harpa Lisa G Supadi. Bunyi suara harpa menjadi intro sajian lagu nasional 'Bagimu Negeri' karya Kusbini. Lagu pembuka konser dinyanyikan secara bersama, sopran Aning Katamsi dan tenor Farman Purnama. Lagu 'Bagimu Negeri' merepresentasikan rasa bersyukur Indonesia yang sudah merdeka dan kini saatnya berbagi mengisi kemerdekaan, berbagi bagimu negeri.

√ Bagimu Negeri - Duet penyanyi seriosa wanita Aning Katamsi dan seriosa pria Farman Purnama tampil bersama menyanyikan lagu 'Bagimu Negeri' sebagai pembuka konser. Foto: Istimewa

Orkes Kamar - Sesi pertama konser, konduktor Asep Hidayat Wirayudha memimpin Orkes Kamar Jayakarta, mengiringi penyanyi seriosa wanita bersuara sopran Aning Katamsi. 
Foto by: esp

Pada sesi pertama malam persembahan itu, Aning Katamsi dan Farman Purnama perform bergiliran masing-masing melantunkan lagu nasional 'Lukisan Tanah Air' karya Oesman Effendi dan 'Simpomi Raya' karya Guruh Soekarno Putra (GSP). Farman melanjutkan perform melantunkan 'Sarinande' karya Nicholas M Mamihit. Mereka kembali berduet menyanyikan lagu 'Rayuan Pulau Kelapa' karya komponis besar Ismail Marzuki. 

√ Duo Seriosa - Duet sopran Aning Katamsi dan tenor Farman Purnama. 

Aning Katamsi mengajak hadirin menjaga semangat kejuangan dengan membawakan lagu karya Titiek Puspa, 'Pantang Mundur'. Pada akhir persembahan, duet Aning dan Farman menutup sesi pertama konser kemerdekaan 2023 dengan membawakan lagu karya Guruh Soekarno Putra (GSP),  'Indonesia Jiwaku'. []