Showing posts with label USA. Show all posts
Showing posts with label USA. Show all posts

Nonton Gedung Putih di Layar Washington

Oleh FRANS SARTONO Hari menjelang sore ketika kami tiba di depan Gedung Putih, Washington DC, Amerika Serikat. Rekan seperjalanan dari Jakarta sempat ragu, benarkah gedung yang berdiri di depan mata itu White House. Untuk meyakinkan diri, ia sampai harus bertanya kepada ”Mbah Google”, dan memang tidak keliru. Setelah mengetik ”w h i t e h o u s e” di mesin pencari, muncullah gambar Gedung Putih di layar ponsel rekan kami itu. Ia mencocokkan gambar itu, dengan rumah orang nomor satu di Amerika Serikat tersebut. Sesaat kemudian turis dari Jakarta itu tertawa. Ia bukan tidak percaya. Ia hanya heran karena Gedung Putih yang ia lihat dengan mata kepala sendiri itu berbeda dengan apa yang ia bayangkan selama ini. Dalam bayangannya, White House jauh lebih besar. Harap dicatat, selama ini Gedung Putih hanya ia tangkap dari televisi, foto-foto di media massa, dan terutama lewat film seperti White House Down dan Olympus Has Fallen. Ketika melihat sendiri, Gedung Putih serasa tidak semegah dengan gambaran yang tersimpan di benak. Itu salah satu pengalaman peserta acara Nissin Mendadak Eksis. Mereka mengajak pemenang untuk berkunjung ke Amerika Serikat, termasuk Washington DC dan New York. Keheranan lain muncul ketika melihat pengamanan di depan gedung yang tidak ”sangar”. Tampak hanya ada dua mobil polisi yang berada di jalan persis di depan Gedung Putih. Dan, hanya ada seorang polisi yang berdiri mengawasi para pengunjung yang melihat-lihat dari trotoar di seberang jalan depan White House. Pak polisi yang terlihat terus mengunyah permen karet itu akan segera berteriak jika ada orang yang melangkahkan kaki selangkah saja ke badan jalan. Penonton hanya boleh berada di trotoar. Ada puluhan pengunjung yang sore itu berkerumun di trotoar di depan Gedung Putih. Ditilik dari ciri fisik dan bahasa yang digunakan, mereka tampak datang dari berbagai kebangsaan, termasuk Tiongkok, India, selain juga Indonesia. Ada yang ber-selfie-ria, atau berswafoto menurut istilah baku yang katanya sesuai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ada pula pemrotes yang memasang poster perdamaian, anti senjata nuklir. Ada pula pengunjung remaja yang menghitung-hitung jendela. Rupanya mereka telah membawa data terkait Gedung Putih. Dari depan, tampak ”hanya” 21 jendela dari total 147 jendela White House. Gedung yang mulai dibangun tahun 1792 ini mempunyai 412 pintu. Data statistik Gedung Putih memang menarik. Gedung yang pertama kali ditempati Presiden John Adams itu mempunyai 132 ruang, 35 kamar mandi, 28 perapian, 8 tangga berundak, serta 3 elevator. Dan, seperti namanya, White House, tentu bercat putih. Diperlukan 570 galon cat. Itu hanya untuk mewarnai dinding bagian luar saja. Capitol Hill Sebelum ke Gedung Putih, kami terlebih dahulu ke Gedung Capitol atau Capitol Hill, tempat para anggota Kongres yang mulia bekerja. Jaraknya dengan Gedung Putih hanya sekitar 3,5 kilometer. Sempat ”kecewa” ketika melihat kubah atau Capitol Dome-nya sedang direnovasi. Seluruh bagian kubah yang menjadi salah satu ikon Amerika itu dipasang perancah untuk pengerjaan. Di antara perancah itu tampak menyembul Patung Kemerdekaan atau Statue of Freedom yang berada di puncak kubah. Rasa ”kecewa” terobati mendengar komentar pengunjung lain. ”Anda beruntung karena pemandangan Capitol Hill seperti ini belum tentu terjadi dalam 50 tahun....” Benar. Ternyata kubah itu terakhir direnovasi pada 1960. Laman Architect of the Capitol menjelaskan bahwa renovasi harus dilakukan karena kubah itu terbuat dari besi cor. Hujan, salju, dan terpaan sinar matahari menyebabkan kerusakan pada lapisan luar kubah. Air yang merembes atau menetes dari berbagai celah di sekitar puncak kubah mengakibatkan bahan-bahan besi yang digunakan dalam kubah berkarat. Jika tidak dilakukan perbaikan, kebocoran itu akan merusak karya seni yang mengisi interior bangunan bulat itu. Renovasi yang dimulai pada tahun 2013 itu direncanakan akan rampung pada 2017. Monumen Washington Capitol Hill terletak di kawasan yang disebut National Mall. Sebuah taman besar memanjang sekitar 1,6 kilometer. Ada tiga titik penting di sepanjang taman luas itu, yaitu Gedung Capitol, Washington Monument yang berupa tugu, dan Lincoln Memorial yang di dalamnya terletak patung Abraham Lincoln. Ketiganya, plus Gedung Putih merupakan penanda tempat atau landmark yang sangat Amerika. Kawasan ini menjadi sasaran wajib pengunjung ke Washington DC. Tercatat setiap tahun tempat ini didatangi sekitar 24 juta pengunjung. Washington Monument berupa tugu yang terbuat dari marmer dan granit itu bertinggi hampir 170 meter. Lebih tinggi dari Tugu Monumen Nasional (Monas), Jakarta, yang bertinggi 132 meter. Tugu selesai dibangun tahun 1877 sebagai penghormatan untuk George Washington, presiden pertama Amerika Serikat. Gedung Lincoln Memorial mengingatkan Kuil Dewa Zeus di Yunani. Monumen ini dibangun sebagai pengingat akan presiden ke-16 AS, Abraham Lincoln. Pejuang demokrasi ini dibuatkan patung setinggi 11 meter karya pematung Perancis, Daniel Chester. Di depan ”kuil” terbentang kolam memanjang atau reflecting pool yang memantulkan panorama obyek di sekitarnya, terutama Tugu Washington. Nun jauh di seberang kolam tampak tegak berdiri tugu Washington. Lanskap antara Lincoln Memorial, kolam, tugu Washington, dan Capitol itu menjadi latar berbagai film, termasuk Forrest Gump. Salah satu adegannya, tokoh Forrest Gump mencemplung ke kolam dengan latar tugu Washington disaksikan ribuan orang yang duduk di tangga Lincoln Memorial. Sumber: Kompas, 7/2/2016

New York Top Ten


Empire State Building

1. Check out the city before your first appointment --there's n better overview than from the top of the 102-story Empire State Building. It's not as tall as downtown's World Trade Towers, but this Art-Deco treasure has been wowing visitors since 1931. (350 Fifth Avenue, at 34th Street, 212-736-3100)

2. A beacon of freedom around the world, the Statue of Liberty can be reached by ferry from Battery Park. One price includes a free stopover at Ellis Island, home to the profoundly affecting Museum of Immigration. (New York Harbor, 212-269-5755)


Statue of Liberty

3. A Circle Line Cruise sails past all the major sights of Manhattan, and the narrated three-hour tour will turn you into an instant expert. Best seats are on the upper deck, in the back, on the left side. (Pier 83, West 42nd Street, at the Hudson River, 212-563-3200)


Metropolitan Museum of Art

4. Highlights of the Metropolitan Museum of Art, largest in the Western Hemisphere, include the majestic Temple at Dendur and the dazzling Costume Institute. Friday and Saturday nights, unwind with clients on the rooftop garden, where drinks are served. (Fifth Avenue, at 82nd Street, 212-535-7710)

5. The world's biggest naval museum and a National Historic Landmark, the Intrepid Sea Air Space Museum floats on a 900-foot-long converted World War II aircraft carrier. Objects on permanent display include a Lockheed A-12 Blackbird spy plane, among the fastest aircraft in the world. (Pier 86, West 46th Street and 12th Avenue, 212-245-0072)

6. Pitch to your baseball-loving clients while cheering New York's World-Series-winning team in it's Yankee Stadium home, up in the Bronx. The 2000 season opener is April 11. (East 161st Street, 718-293-6000)


Broadway

7. The lights of Broadway are brighter than ever, now that the Times Square Theater District has been spiffed-up. Invite your best customers to join you to see a comedy, drama, or musical. (Broadway, between 42nd and 49th streets)


Central Park

8. For a breath of fresh air and a patch of green, head for Central Park. Right outside this urban oasis' 59th Street entrance: toy store extraordinaire FAO Schwarz and Bergdorf Goodman, which maintains separate but elegant department stores and salons for men and women.

9. World-renowned Rockefeller Center is home to the newly renovated Radio City Music Hall and NBC Studios as well as indoor restaurants and outdoor cafes, above and underground shops, Art-Deco sculptures and lush garden displays. (49th to 52nd streets, Fifth to Sixth avenues)


Brooklyn Bridge

10. Spanning the boroughs of Manhattan and Brooklyn for more than a century, the Brooklyn Bridge features walking and bike lanes with panoramic views of the city. After completing your round-trip journey, catch a cab to nearby Chinatown for lucnh or dinner. (Bridge entrance near Chambers Street)

Source: Fortune Magazine, September 25, 2000

Dansa dan Pesta bagi Seluruh Amerika

Bagi Presiden AS Barack Obama, mengucapkan sumpah dan berdansa rupanya sama-sama sulit. Saat pengambilan sumpah, Obama sempat lupa kata-kata yang harus ditirukannya. Saat berdansa dalam 10 pesta pelantikan resmi, Obama juga berupaya keras agar tidak menginjak gaun yang dikenakan istrinya, Ibu Negara Michelle Obama.

Namun, itu semua tidak menyurutkan kegembiraan dalam pesta merayakan pelantikan Obama sebagai presiden ke-44 Amerika Serikat, Selasa (20/1) malam waktu setempat. Keduanya tampak menikmati momen mereka saat mulai berdansa untuk pertama kali dengan iringan lagu At Last yang dibawakan penyanyi Beyonce di ”Pesta Tetangga”.


Presiden AS Barack Obama dan Ibu Negara Michelle Obama berdansa di Southern Ball pada Selasa (20/1) malam di Washington DC.

Obama mengenakan tuksedo hitam dengan dasi putih, sementara Michelle mengenakan gaun panjang putih rancangan desainer muda kelahiran Taiwan, Jason Wu. Sesuai tradisi, gaun yang dikenakan Michelle segera disumbangkan ke Museum Sejarah Amerika di Smithsonian di Washington DC.

”Pertama-tama, seperti apa cantiknya istri saya?” ujar Obama sebelum dansa pertama, memuji penampilan sang istri.

Kepada USA Today, Obama menuturkan, dia khawatir soal dansanya. Michelle, kata Obama, akan menyindirnya tanpa ampun jika sampai dia menginjak kaki Michelle saat berdansa.

Sedikitnya 2.000 orang hadir dalam pesta itu. Deretan bintang top, seperti will.i.am, Mariah Carey, Mary J Blige, dan Maroon 5, turut memeriahkan pesta. Setelah itu, penyanyi legendaris Stevie Wonder, diikuti penyanyi lainnya, menyanyikan Signed, Sealed, Delivered bagi Obama dan Michelle.


Obama bersama istrinya, Michelle, serta kedua putrinya, Sasha & Malia

”Kami memperoleh ide Pesta Tetangga karena kita semua bertetangga. Jika Anda memikirkan kata itu, tetangga mengindikasikan bahwa Amerika terikat bersama oleh apa yang menyatukan kita, lebih daripada yang memisahkan kita,” kata Obama.

Di Pesta Kepala Staf, Obama dan Michelle bertukar mitra dansa dengan Sersan Margaret Herrara dan Sersan Elidio Guillen. Obama juga bersenda gurau dengan beberapa prajurit yang ditugaskan di Kabul, Afganistan, melalui sambungan video.

Pesta itu juga dimeriahkan penyanyi Jon Bon Jovi yang menghibur para tentara dan 300-an prajurit yang luka-luka akibat perang.

Terima kasih

Pesta berikutnya adalah Pesta Pemuda yang dimeriahkan oleh pemenang Grammy, Kanye West. Di pesta itu, Obama berterima kasih kepada pendukungnya yang berusia 18-35 tahun karena merekalah kekuatan di balik kampanyenya.

”Kalau Anda melihat riwayat kampanye yang diawali dengan perjalanan mustahil, saat tidak seorang pun memberi kita kesempatan, (kampanye) ini disegarkan oleh anak muda di seluruh Amerika,” ujarnya.

Pesta lainnya termasuk Pesta Kampung Halaman dan Pesta Wilayah Selatan. Pesta-pesta lain diselenggarakan di negara bagian asal Obama dan asal Wakil Presiden Joe Biden.

Dalam setiap pesta, Obama berbicara soal pemilu dan janji yang dibuatnya selama kampanye, termasuk memulihkan Amerika dari keterpurukan ekonomi. ”Anda meraih apa yang orang lain tidak percaya bisa diraih. Jika kita bisa memenangi pemilu seperti ini, kita bisa membuat orang bekerja seperti ini,” ujarnya.

Di luar 10 pesta resmi, banyak pesta-pesta digelar dan berlomba mendapat perhatian publik. Pesta-pesta itu berhasil mengubah malam yang dingin menjadi hangat oleh kegembiraan. Orang-orang yang tidak bisa hadir di National Mall tempat Obama dilantik bisa sedikit lega karena bisa ikut dalam berbagai pesta yang digelar.

Pada dansa di pesta terakhir, Obama memberi Michelle pelukan erat dan ciuman romantis. ”Malam ini kita berpesta, tetapi besok kerja dimulai,” kata Obama. (afp/reuters/fro)



Sumber: Kompas, 22 Januari 2009

Links:


Sejarah Baru AS

Gedung Putih Dengarkan Suara Dunia
oleh Budiarto Shambazy

WASHINGTON, SELASA — "Saya, Barack Hussein Obama, sungguh-sungguh bersumpah bahwa saya akan setia menjalankan tugas sebagai Presiden Amerika Serikat dan akan melestarikan, melindungi, dan mempertahankan konstitusi AS."


Barack Hussein Obama, disaksikan istrinya, Michelle, diambil sumpahnya sebagai presiden ke-44 Amerika Serikat oleh Ketua MA John Roberts di Capitol Hill, Washington DC, Selasa (20/1).

Amerika Serikat menapaki sejarah baru setelah Barack Obama diambil sumpahnya sebagai Presiden ke-44 Amerika Serikat, Selasa (20/1) pukul 12.00 waktu setempat atau Rabu tengah malam WIB. Pelantikan ini merupakan lompatan besar bagi AS di mana untuk pertama kalinya seorang keturunan kulit hitam menjadi presiden.

Sesuai tradisi, sebelum upacara pelantikan, Obama bersama istrinya, Michelle, minum kopi bersama Presiden George W Bush dan Ibu Negara Laura Bush di Gedung Putih. Setelah itu, mereka bersama-sama menuju Capitol Hill.

Rangkaian pelantikan disaksikan para mantan Presiden AS, Jimmy Carter, George HW Bush, dan Bill Clinton. Sebelum pengambilan sumpah, penyanyi Aretha Franklin membawakan My Country "Tis of Thee”.

Wakil presiden terpilih Joe Biden dilantik sebagai wakil presiden.


Joe Biden & Barack Obama

Obama mengulangi sumpah jabatan yang diucapkan Hakim Mahkamah Agung John Roberts dan menumpangkan tangan di atas Injil yang digunakan saat pelantikan Abraham Lincoln tahun 1861. Dia sempat lupa beberapa kata yang harus ditirukannya dan sambil tersenyum menoleh ke istrinya.

Dalam pidato pelantikan selama 20 menit, Obama menekankan kebesaran Amerika yang harus ditegakkan kembali di tengah situasi krisis dan perang di luar negeri. ”Hari ini saya katakan bahwa tantangan yang kita hadapi sangat nyata. (Tantangan) itu serius dan banyak. Tidak akan mudah diatasi atau selesai dalam waktu singkat. Akan tetapi ketahuilah, tantangan itu akan kita selesaikan,” katanya.

Amerika baru

”Telah tiba waktunya kita membangkitkan kembali semangat kita yang abadi,” kata Obama. Dia menjanjikan Amerika baru kepada dunia, Amerika yang mendengarkan suara dunia. Obama juga bersedia memenuhi janjinya untuk menyerahkan Irak kepada rakyatnya dan terus memperjuangkan perdamaian di Afganistan.

Di luar, hadirin yang diperkirakan mencapai 2 juta orang dari berbagai penjuru AS dan dunia memadati National Mall, ingin menjadi bagian dari momen bersejarah ini. Udara musim dingin yang menusuk tidak mampu menghentikan kegembiraan mereka.

”Selamat datang, Pak Presiden”, ”Terima kasih, Pak Presiden”, bisa dibaca di poster-poster yang dibawa orang-orang. Mereka menyaksikan upacara pelantikan dari layar-layar lebar yang dipasang hingga lebih dari 1 kilometer jauhnya dari Capitol Hill.


Capitol Hill, Washington
(sumber foto: Kompas/Budiarto Shambazy)

”Setiap kali Obama berbicara benar-benar menginspirasi. Kami begitu senang dengan perubahan ini,” kata Lari Taylor asal Middletown, New Jersey. Dia datang tanpa tiket ke Washington hanya demi mendengar pesan harapan dan perubahan.

”Energi di jalan-jalan ini belum pernah saya lihat sebelumnya. Orang berjalan lebih ringan, berdiri lebih tinggi, dan saling bergandengan. Rasanya seperti harapan. Rasanya seperti berbagi kebahagiaan,” kata Nancy Wigal yang tinggal di Mount Vernon Square, seperti dikutip CNN.

Upacara pelantikan dilanjutkan dengan Parade Pelantikan ke-56 yang digelar sepanjang Pennsylvania Avenue. Masyarakat tumpah ruah di kedua sisi jalan untuk menyaksikan Obama dari dekat.(ap/afp/reuters/bbc/fro)

Sumber: Kompas, 21 Januari 2009


Links:


Selamat, Barry!

Ketika memasuki dekade 1970, Jakarta memasuki era kultural baru ”the post baby boomers”. Generasi baru era ini terdiri dari murid-murid 3 sampai 6 SD serta kelas 1 sampai 3 SMP. Kami masih remaja karena baru berusia 10-17 tahun. Kami secara samar-samar mendengar ingar-bingar Perang Vietnam, mulai tak menyukai The Beatles atau Bob Dylan, berani mencoba ganja, dan apolitis.

Dalam berbagai literatur, budaya pop tahun 1970-an disebut dengan the me decade karena semuanya ”serba saya”. Jika generasi the baby boomers memuja gaya hidup komunalisme ala hippy, kami the post baby boomers lebih nekat dan lebih egois.


(Gambar hitam putih tahun 1970-an yang disiarkan kubu kampanye Barack Obama memperlihatkan Barack Obama berusia 9 tahun (paling kanan), ibunya, Ann Dunham (tengah), dan ayah tirinya yang asal Indonesia, Lolo Soetoro, serta saudari tirinya, Maya Soetoro, yang berusia kurang dari 1 tahun di tempat tinggal mereka di Jakarta. Obama saat di Indonesia sering dipanggil Barry oleh teman-temannya.)

Barrack Hussein Obama atau Barry bersekolah di SD Negeri 04 Percobaan di Jalan Besuki, Jakarta Pusat. Saya ”mengenal” dia dua tahun lalu lewat perjumpaan kebetulan. Akhir 2006 Ufuk Press menghubungi saya menulis Kata Pengantar buku kedua Barry, The Audacity of Hope (2006).

Di buku ini dan juga buku Dreams from My Father (1996) Barry banyak menyinggung periode dia tinggal di Jakarta tahun 1968-1971. ”Ia termasuk anak hiperaktif. Kami tak berhenti bermain kelereng, tak gebok, tak lari, dan gambaran,” kata Rully Dasaad, sohib Barry di SD Besuki. ”Waktu tiga bulan pertama Barry anak alim. Tetapi, setelah itu nakal. Tingkat kebandelan kami masih wajar,” ujar Rully, yang kini fotografer profesional.

”Saya ingat kalau bermain detektif ala film serial I Spy Barry memilih peranan aktor kulit hitam di film itu, Bill Cosby. Padahal, Barry itu tak terlalu hitam karena ibunya bulé,” kenang Rully. Berbicara tentang ibunya, suatu kali Ann Dunham datang ke SD Besuki untuk memprotes guru siapa yang usil melempar kepala anaknya dengan batu sampai bocor.

Apa bakat Barry yang menonjol? ”Ia senang menggambar. Saya suka bawa komik-komik impor ke kelas, Barry suka meniru gambar Superman, Batman, atau Spiderman. Kami sering bertukar koleksi komik, ia suka membaca komik yang waktu itu terkenal, Wiro Si Anak Rimba. Tetapi, jangan suruh Barry bernyanyi. Pernah dia disuruh guru nyanyi lagu untuk mengenang pahlawan, Syukur. Wah, lucu banget,” kenang Rully lagi.

Ketika terbit, Hope bertengger selama sembilan pekan di Daftar Buku Terlaris. Bangsa Amerika Serikat tak pernah bosan didongengi kisah ”Obambi” ini. Film Bambi bercerita tentang seekor anak rusa lugu yang berkenalan dengan kejamnya rimba belantara. Barry calon presiden terfavorit Demokrat meskipun dianggap ”mentah” alias kurang berpengalaman.

Ibu Barry asal Kansas, ayahnya orang Kenya. Bapak tirinya Lulu Soetoro. Waktu kecil Barry hidup sederhana di Jakarta, saat dewasa pengacara top lulusan Harvard. Setiap orang terkesiap mendengar ia menyebut namanya ”Barry Hussein Obama” (mirip Saddam Hussein dan Osama bin Laden) sambil mengulurkan tangan saat kampanye jadi anggota Senat di Springfield, Illinois.


Hope ibarat skripsi berpredikat summa cum laude yang meluluskan Barry sebagai pemimpin masa depan. Ia terpilih sebagai Senator Negara Bagian Illinois setelah meniti karier dari bawah. Ia bukan dari keluarga politik yang mapan seperti trah Bush atau Kennedy, tetapi dielu-elukan sebagai penjelmaan John Fitzgerald Kennedy. Nama Barry meroket ketika dipilih sebagai pengucap pidato kunci Konvensi Partai Demokrat 2004.

”Tak ada orang hitam Amerika dan orang putih Amerika dan orang Latin Amerika dan orang Asia Amerika—yang ada hanyalah Amerika Serikat. Saya tak punya pilihan lain kecuali memercayai visi Amerika. Sebagai anak lelaki hitam dan perempuan putih, sebagai orang yang lahir di Hawaii yang multirasial bersama saudara tiri yang separuh Indonesia, punya ipar dan keponakan keturunan China, punya saudara-saudara mirip Margaret Thatcher..., saya tak bisa setia pada sebuah ras saja.”

Di Hope, Barry menulis esai mengenai tanah airnya yang ketiga, Indonesia. Sepanjang sepuluh halaman ia mengulas evolusi Indonesia dari sebuah kampung besar, lalu jadi antek politik dan ekonomi AS, kemudian mengalami krisis moneter dan reformasi, sampai jadi negara yang tak toleran lagi.

Rumahnya di Jakarta tak berkakus duduk, di halaman belakang ada beberapa ekor ayam peliharaan, dan di dekat jendela banyak jemuran bergelantungan. ”Jenderal-jenderal membungkam hak asasi, birokrasinya penuh korupsi. Tak ada uang untuk masuk ke sekolah internasional, saya masuk sekolah biasa dan bermain dengan anak-anak jongos, tukang jahit, atau pegawai rendahan,” tulisnya. Bagi Barry, Indonesia kini tak sama lagi. ”Indonesia terasa jauh dibandingkan dengan 30-an tahun yang lalu. Saya takut ia menjadi tanah yang asing,” tulisnya.

Di buku Dreams of My Father, ia banyak bercerita tentang ayah kandungnya, jebolan University of Hawaii (UH) yang jadi anggota Phi Beta Kappa—komunitas akademisi elitis yang susah diterobos masuk orang luar AS. Ia diterima di Harvard dan pulang meninggalkan Barry kecil untuk mengabdi negaranya. Ayahnya dari suku Luo yang lahir di Alego yang menikahi ibu Barry tahun 1959 di Honolulu saat miscegenation (pernikahan antarras) dilarang di banyak negara bagian Amerika Serikat.

Ia penerima beasiswa pertama asal Afrika di UH dan belajar ekonometri dengan menggaet terbaik di angkatannya. Barry Junior juga lulus dari Harvard Law School dan jadi presiden kulit hitam pertama di Harvard Law Review—jurnal hukum berwibawa. Ia senator kulit hitam yang ketiga dalam sejarah Amerika Serikat.

Dreams bercerita tentang perjalanan hidup dia yang biasa saja. Ia dari kecil hidup dengan ayah tiri, waktu remaja ditinggal ibu, dan sampai dewasa diasuh kakek-nenek. Ia pernah tinggal di Honolulu, Jakarta, New York City, Boston, Chicago, Springfield, kini Washington DC. Tanpa malu ia mengaku pernah dijerat ganja dan alkohol serta menjadi perokok berat selama bertahun-tahun.

Ia memiliki keyakinan pada organisasi politik yang dikelola atas basis komunitas tempat tinggal. Dreams menyajikan perjuangan Obama mengorganisasi ”mikropolitik” yang mudah diberdayakan ke skala lebih besar, mulai dari tingkat kota, regional, sampai nasional. Ia memulai awal karier politik di Chicago tahun 1983. Ia tinggalkan gaji besar di pasar saham Wall Street, New York, untuk menjadi community organizer alias politisi. ”Perubahan bukan slogan kosong yang datang dari atas, tetapi dari pengalaman berpolitik di akar rumput,” kata Barry.

Ia organisator komunitas di Calumet, Chicago selatan, yang dihuni kalangan bawah dari warna kulit yang berwarna-warni. Dana bagi politisi ”bau kencur” macam Obama datang dari kalangan kaya, kota praja, pebisnis, atau para donor di luar negeri. Gajinya pas-pasan, jadwal hariannya bagai ”diuber setan”, dan akhir pekan dia habiskan untuk belajar lagi.

Ia datangi rumah warga satu per satu mendata masalah mereka, mulai dari selokan mampat, leding air tak menetes, sampai bagaimana caranya mengusir para muncikari. Tak jarang ia ditolak, diusir, bahkan dimaki. Di Altgeld Gardens, Chicago selatan, Barry mencari lowongan bagi penganggur menyusul penutupan sejumlah small and medium enterprises (SME) atau pabrik-pabrik yang produk-produknya kalah bersaing dengan kualitas barang-barang serupa dari luar negeri.

Barry memaksa kota praja membongkar asbestos di apartemen karena bahan bangunan itu menjadi sumber penyakit kanker hati. Ia tak segan mengerahkan pendemo atau memanfaatkan pers untuk membongkar konspirasi pebisnis dengan politisi. Secara perlahan tetapi pasti, warga mendengar rekor Barry yang akhirnya memimpin CCRC. Ia sukses menambah jumlah organisasi antikenakalan remaja, membuat sistem manajemen sampah, memperbaiki jalan raya, membersihkan selokan, dan membuat sistem keamanan mandiri.

Barry politisi yang merangkak dari bawah, yang telah membuktikan politik pengabdian tak kenal lelah, yang jika diseriusi pasti membuahkan hasil. Ia matang berkat ”politik eceran” (retail politics) yang rajin ditekuninya dengan menggeluti topik hubungan luar negeri, UU kode etik politisi, kesejahteraan rakyat miskin, pendidikan anak, masalah veteran, kesehatan, pendidikan, buruh, pensiunan, sampai pembasmian flu burung.

Hari-hari ini Barry bertemu ribuan orang tiap hari, sudah berdebat 20 kali di stasiun-stasiun televisi nasional melawan capres-capres Partai Demokrat, dan sedikitnya melakukan lima putaran reli per hari selama berbulan-bulan sejak akhir 2006. Barry adalah presiden pertama dari generasi the post baby boomers yang berslogan, ”Change, We Can Believe In”.

(Budiarto Shambazy)

Sumber: Kompas, 6 November 2008


Links: