A New French (Tech) Revolution?


Telecom enterpreneur XAVIER NIEL wants to shake up his home country’s education system.
By: Vivienne Walt 

            A tall, middle aged man is propped against a wall inside a building on the gritty nothern edge of Paris. He’s deep in discussion with a young woman sporting bright-green hair tied in pigtails; she’s sucking on a neon-blue lollipop and driving home a point to him with her hands.
            The man listening intently to the artsy-looking twentysomething isn’t a talent agent or even a college professor—though he’s keenly interested in education. He is Xavier Niel, one of the richest people in France (estimated net worth: $7.8 billion), who achieved his wealth by disrupting his country’s tellecommunication industry. Now Niel, 46, wants to upend another French institution: its notoriously rigid education system.
            In September he opened a programming school called 42, a name derived from the 1970s classic The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy, in which the answer to life’s mysteries is always 42. The school, in Nothern Paris (where Fortune found Niel chatting with students), breaks almost every rule of French matriculation: Tuition is zero. So too, are prerequisites. Of the 70,000 young French who took 42’s application test, about 40% were high school dropouts. To underscore the school’s edgy feel, Niel (pronounced “nee-el”) had a pirate flag hoisted outside the building.
Niel says he was inspired to start his school not only because French companies report a chronic shortage of high-tech talent to hire, but also because some 200,000 youths drop out of school each year. Many, including Niel, believe that is because french education focuses on formalized, nationaly controled testing that favors workhorses over creative geeks and maverick innovators. The country that once churned out geniuses such as painter Pierre-Auguste Renoir and composer Claude Debussy has struggled to create a Mark Zuckenberg or Steve Jobs.
Niel sees technology skills as a way to even the playing field in France, not just for diadvantage kids but also for middle-class and elite students who want to explore different career paths. “There’s a lack of social mobility,” he says. “If you are the son of a doctor.” By contrast, his new school is “a little subversive,” he says with a delighted grin.
Niel knows all about being subversive. He was raised in the modest suburb of Creteil, a far cry from Paris’s majestic avenues. And while the great majority of French CEOs come out of the grandes ecoles, the equivalent of the Ivy League, Niel skipped college altogether and holed up at home with his computer, coding. “I started literally in a garage alone,” he explains. “I had some luck.”
Niel developed sex-chat software (he was 18, after all) and other communication tools, which he sold to tech companies that provided content for France Telecom’s groundbreaking Minitel online service. At 26, he created France’s first ISP, WorldNet, and sold it for about $55 million in 2000. In 1991 he launched Iliad, the first French company to offer a “tripple play” TV-phone-Internet service, naming it (in English, no less) Free. Last year Niel won the bid for France’s fourth mobile service and launched Free Mobile, offering a floor-smashing 20 Euro (about $28) monthly plan for unlimited calls, far cheaper than other French services.
His competitors cried foul, but Niel couldn’t have cared less. Iliad’s market cap has ballooned 11-fold over the decade, to 9.8 billion Euro ($13.5 billion), making Niel, who owns 55.3% of Iliad, immenslyy rich. Yet despite that (and even though the now owns a sizable chunk of France’s ultimate establishment newspaper, Le Monde), Niel retains his outsider image among French execs, having smashed his way into the elite. Niel is smart enough to know that image works to his advantage, as he throws his energies into new projects; his other company, Kima Ventures, invest in 100 startups a year.
“He is very un-French, but maybe that is why he has succeeded,” says Christophe Roquilly, a professor at EDHEC Business School in Lille. “He doesn’t accept the establishment’s state of mind.”
An antiestablishment culture pervades Niel’s school. During a recent boot camp for about 3,000 programers, the floor was littered with inflatable mattresses and soda cans from students who’d hopped trains to Paris from the hiterlands and bunked there for weeks. About 1,000 will make the cut for a three-year programming course that begins in mid-November. Even then there will be few teachers of classes. Students sit in warehouse-size rooms at aApple computers, creating whatever program they dream up, in a kind of giant hackathon.
Not everyone is sold on the idea Government rules dictate that since 42’s students need no high school diploma, the three-year courses will not have degree status. Wannabe students seem unconcerened. “ I’ve been earning the SMIC [minimum wage] in different jobs for years,” says Clement Aupetit, 26, who did not finish high school. “This might open doors.” Conservative French corporations could be wary of recruiting Niel’s new army of coders. “Opening themselves to different profiles will be a big leap for them,” wrote one blogger on the French site rude Baguette. Niel has not exactly ingratiated himself with France’s elits. He was once an investor in a chain of sex-toy shops; he spent a month in jail in 2004 on charges that he brokered prostitutes from his stores. The charges were later dropped.
But Niel is optimistic. If just a few students make it, he says, his investment – about 70 million Euro ($96 million) so far – will be worth it.
And besides, Niel is already at work creating his next project, 1000 Startups, which he claims will be the world’s biggest incubator and will open in 2016. “We don’t think we can change everything in France,” he says. “But we’ll have some impact.” There seems no better person to make that happen.[]

 Taken from FORTUNE Magz.

Berkunjung ke Negara Beruang Putih

Sudah lama kami berkeinginan untuk berkunjung ke negara Rusia, dimana daratan terluas didunia terletak. Federasi Rusia dulu merupakan bagian dari Uni Soviet, pusat komunis dunia. Bahasa Rusia menjadi kendala utama disini, dimana semua tertulis dengan huruf Rusia. Namun hal ini tidak menyurutkan niat kami untuk berkunjung ke negara beruang putih dan menikmati 5 malam di kota Moscow & St. Petersburg pada bulan Juni 2013

Bagi WNI yang ingin berkunjung ke Rusia, memerlukan visa dengan persyaratan yang cukup rumit. Surat Konfirmasi (Visa Support) dari hotel / travel agent di Rusia yang mencantumkan nomor referensi & nomor konfirmasi, wajib diberikan pada saat apply visa di Kedutaan. Surat Konfirmasi / Visa Support ini harus tertulis dalam bahasa rusia. Kita juga diwajibkan memberikan copy kartu kredit tampak depan & belakang (3 digit kode ditutup). Jika terjadi pembatalan dikenakan fee sebesar RUB 2000 yang di charge ke kartu kredit tersebut. Durasi tinggal yang diberikan pun sesuai dengan tanggal reservasi hotel diajukan, hanya dilebihkan 2 hari.

MOSCOW
Setelah menempuh perjalanan selama hampir kurang 16 jam dari Jakarta termasuk transit selama 3 jam di Doha, akhirnya kami mendarat dengan mulus di Domodedovo International Airport sore hari. Proses imigrasi lancar karena kami melalui jalur APEC yang kosong. Sempat kaget saat tiba di Domodedovo, ternyata kecil dan sederhana.

Dari bandara, kami naik kereta api ekspres dengan tarif 320 RUB/orang, perjalanan menuju stasiun utama Moskow bernama Paveletskaya ditempuh selama 40 menit melalui hutan kota. Sesampainya di sana, kami kebingungan karena tidak ada orang yang mau dan bisa berbahasa Inggris. Kita tahu hotel Ibis Paveletskaya terletak di sekitar stasiun akhirnya Sommy punya ide bagus minum kopi di Starbucks depan stasiun. Akhirnya kami bertemu dengan orang Rusia muda, kaya, ramah, dan bisa berkomunikasi dalam berbahasa Inggris. Dengan cekatan dia menelpon ke Ibis Paveletskaya, konfirmasi hotelnya dan langsung menunjukkan arah dengan Iphone miliknya. Setelah selesai ngopi, kami berjalan 5 menit dan terlihatlah papan nama Ibis Paveletskaya.

Hotel Ibis Paveletskaya Moscow terletak 400 m dari stasiun kereta api utama. Dari hotel kita bisa naik Trem No. 39 atau No. 3 dengan tarif 25 RUB/ pax dan berhenti distasiun metro dekat Red Square dan daerah Kremlin yang legendaris, icon Moskow-Rusia. Cuaca disini sangat ideal, 14-24 derajat celcius.

Moscow merupakan ibukota negara terluas didunia, berusia lebih dari 850 tahun yang didirikan oleh Pangeran Yuri Dolgoruky pada tahun 1147. Memiliki sejarah panjang yang menarik untuk dilihat dari peninggalannya.

Hari pertama, kita menjelajah Moscow dari pagi sampai malam menggunakan city tour Hop On Hop Off dengan tarif 600 RUB/pax dikombinasi dengan Tram dan Metro . Kita lebih suka naik Tram karena bisa melihat suasana kota . Hop on hop off kelihatannya pilihan terbaik karena mayoritas nama tempat di Moskow tidak menggunakan huruf Latin.

Menjelajah kota Moscow dengan Hop On Hop Off

Transportasi disini memadai, sayangnya banyak kabel listrik melintang di atas jalan bahkan terpasang di gedung yang menjadi tujuan wisata.

Kesulitan Bahasa kalau pakai metro. Tulisan Rusia susah dibaca karena tidak ada latinnya. Ada kejadian lucu, karena kesulitan langsung difoto saja. Setelah itu mau pulang ke stasiun yang difoto tadi, orang Rusia yang kami tanya kebingungan. Ternyata foto yang diperlihatkan itu adalah tulisan yang berarti “EXIT” dari stasiun tersebut. Yang seharusnya difoto adalah dinding yang ada di stasiun persis saat turun.

Secara umum rusia terasa seperti raksasa tidur. Mobil mewah berkeliaran tapi Domestic Economy tidak terasa. Rusia membayar utang ke IMF lebih dahulu kelihatannya dengan sumber daya alamnya.

Most of the day kita ada disekitar Red Square, sebuah alun-alun dengan lantai batu dimana aktifitas warga seperti karnaval, upacara kenegaraan, jalan santai dilakukan disini. Dari Red Square, untuk mengunjungi obyek wisata seperti Musoleum Lenin, St. Basil Catedral, Istana Negara Kremlin tempat Presiden Russia berkantor, cukup berjalan kaki saja. Nama Red Square diambil dari warna batu bata pada dinding bangunan yang mengelilingi lapangan ini.

Red Square

Red Square






St. Basil Catedral

St. Basil Catedral merupakan Gereja Ortodok Rusia, dan landmark kota Moscow karena bentuk bangunannya unik, berwarna merah bata dengan kombinasi warna cerah seperti istana Aladin. Postnik Yakovlev, nama arsitek yang membangun St. Basil Catedral.

GUM 

Kami sempatkan untuk mengunjungi GUM di Red Square berhadapan dengan Musoleum Lenin, sebuah gedung tua yang dijadikan Departement Store atau mall besar dengan 3 lantai dan terdapat lebih dari 1200 toko. GUM dibangun tahun 1890  dan 1893 oleh Arsitek Alexander Pomerantsev dan Engineer Vladimir Shukhov. Atap bangunan ini terbuat dari kaca, sehingga hemat listrik dan terasa hangat karena matahari menyinari seluruh gedung. Disini hampir tidak terasa suasana komunis. Sommy tidak suka GUM, kita lebih suka daerah sekitar ujung Tram No. 39 dan No. 3. Harga barang di GUM sama dengan di Jakarta. Bir dan air mineral harganya 20 RUB di mini market.

Arbat Street, jalan terkenal di Moscow, ’Malioboro’nya Moscow atau ’La Rambla’ Barcelona. Terletak hanya satu stasiun metro dari Kremlin. Ada Hard Rock Cafe, di kedua ujung jalan ditutup untuk kendaraan, sehingga turis bisa berlalu lalang dengan berjalan kaki melihat seniman musik, tari dan seniman jalanan melukis wajah turis. 

Sore harinya ke Gorky Park sebuah taman terbuka berisi berbagai kegiatan music dan pusat seni kontemporer. Parkir gratis. Nama stasiun metro Oktyabraskaya. Pulang dari Gorky Park, kita kembali ke Kremlin.

Malam hari, saat melewati Teater Utama Moskow, Teater Bolshoi, ada pertunjukan ballet dari Paris. Tiket yang tersisa seharga Rp. 5 juta per orang. Mereka sedang sibuk mempersiapkan Olimpiade musim dingin di Sochi tahun 2014 mendatang. Gedungnya besar dan kuno. Ingin melihat pertunjukan tersebut namun lelah setelah seharian berkeliling Moscow.

Sekedar informasi, breakfast di hotel Ibis Moscow Paveletskaya sebesar Rp 200 ribu. Kebab di stasiun Metro Rp. 35 ribu. Kopi di restaurant Rp. 100 ribu. Buah cherry 100 rub per kilo, Aqua setengah liter 20 rub, Sandwich 100 rub. Tiket Trem 25 RUB / orang, Tiket Metro 30 RUB / orang, Hop On Hop Off 600 RUB/ orang/ hari. Toilet umum 25 RUB/ orang.

Makan malam di Coffee Shop Greek namanya Cafe Danish. Makannya ditimbang, good price & good taste berdua Rp 100 ribu, kentang, salad, schalik, terong, sebotol soda.

Sebelum menuju Airport untuk terbang ke St. Petersburg, kami mampir ke Moskow state University yang merupakan universitas tertua dan terbesar di Rusia.

ST. PETERSBURG
Kota kedua sekaligus terakhir yang kami kunjungi di Rusia. Kota ini dikenal sebagai jendela Rusia ke dunia barat yang dibangung oleh Tsar Peter dan Tsarina Catherina tahun 1703 dan dibangun diatas 100 kepulauan yang tersambung lebih dari 700 jembatan. Kota yang terletak di pinggir sungai Neva ini merupakan kota kebanggaan kekaisaran Rusia sebelum abad 20.

Kami terbang dengan S7 Airlines selama 2 jam. Tadinya kami berniat menggunakan kereta api, setelah di cek ternyata menghabiskan waktu selama 8 jam. Dikarenakan waktu berkunjung ke Rusia terbatas dan alasan kepraktisan, pilihan menggunakan pesawat menjadi pilihan kami.

Perjalanan mulus dari airport menuju hotel Ibis dengan bus ke stasiun metro 50 RUB/orang. Kami dibantu dua wanita muda Rusia yang ramah, salah satunya namanya Batrakova Marina. (marina-cneg@handed.ru). Dia mengantar sampai hotel naik bus dan metro. Sesampaikan di hotel Ibis, kami disambut oleh GM Nicholas Torio. “ Welcome to St. Petersburg” “Apa Kabar?” sapanya dengan ramah. Torio pernah bekerja selama 5 tahun di Indonesia.

St. Petersburg lebih kecil dari Moskow, sangat cantik, dan lebih tourist-oriented. Ornamen artistik ditempatkan di mana-mana. Berbeda dengan Moscow, disini banyak yang bisa berbahasa Inggris. Sebagai kota turis, peta bisa ditemukan dengan mudah di pinggir jalan sebagai petunjuk jalan.

Kita kebetulan lewat dan melihat gereja indah yang ada kubahnya, Church of our savior and spilledblood. Ketemu teman dari Indonesia yang juga berkunjung ke St.Petersburg pagi-pagi : Luci, Isye, Pak Dani, dan Bu Didong.

Isye, Lusi & Somy 
Nevsky Prospekt adalah salah satu jalan terpanjang di dunia, sepanjang 4 km, tempat usaha dan pertokoan. Tempat yang harus dikunjungi di St. Petersburg adalah Istana Hermitage yang sekarang menjadi museum akbar dan Istana musim panas yang berlokasi di pinggir pantai, Peterhof Palace & Garden dengan sistem air mancur di area tamannya, disusun tanpa menggunakan pompa namun dengan sistem gravitasi. Tempat ini merupakan bekas istana yang sekarang menjadi tempat istirahat para kepala negara. Untuk menuju kesini, agak jauh naik metro & bus total 1 jam.

Untuk mengunjungi Peterhof Palace & Garden, dari stasiun kereta menuju kesini naik bus kecil dengan tujuan Peterhof, tiket 70 RUB/ orang. Perjalanan ditempuh selama 30 menit. Di depan Palace ada kanal ke laut. Kami sempatkan melihat laut sebentar, terus balik lagi. Beristirahat sambil makan hot dog di taman hutan. Minum kopi untuk masuk toilet, karena masuk toilet disana pakai kode dari kafe yang punya toilet.

Peterhof Palace & Garden

Karena di St Petersburg hanya 1 malam, kami memilih 2 obyek wista utama yaitu St. Peter and Paul Fortness dan Hermitage Museum.

Hermitage Museum, dahulu sebuah Istana yang saat ini dijadikan museum. Besar dan indah tapi kalah gengsi dengan Louvre Museum Paris. Hermitage tidak jauh dari hotel kami, dikelilingi oleh taman dan sungai yang indah. Disekitar museum terdapat banyak restaurant .

Hermitage Museum
Pulang sudah malam, kita dinner di TGI It's Friday dekat hotel.

Besok pagi kita breakfast dengan GM Nikolas Torio lalu menuju bandara dengan taxi 1500 RUB.

3 hari di Moscow dan 2 hari di St. Petersburg memang tidak cukup rasanya, namun membuat kami kagum dengan kedisiplinan orang Rusia, sistem transportasi umum yang tertata rapi, toilet umum yang bersih. Tempat wisata juga cantik. Jangan lupa membeli Matryoshka, boneka khas rusia.

Matryoshka Doll


Note:
Mata uang : Russian Ruble (RUB), 1 RUB = 306 IDR
Kode Telepon : +7
International Airport : Domodedovo International Airport (DME), Pulkovo International Airport (LED)
Stasiun Kereta Utama : Paveletskaya (Moscow), Moskovsky (St. Petersburg)
Where to stay :
·         Ibis Moscow Paveletskaya
Terletak tak jauh dari Paveletskaya Central Station.
Shchipok Str.22, bld 1, Moscow, 115054 Russia
T. +7 (495) 661-8500 / F. +& (495) 661 8501

·         Ibis St. Petersburg Centre
Terletak di pusat kota St. Petersburg
Ligovsky prospect, 54
191040, St. Petersburg, Russia
T. +7 812 622 0100 / F. +7 812 622 0101


Kalimat Bijak dari Puisi Agus Budiyanto

  • Tak ada orang lain yang mampu merubuhkan kehidupan kita kecuali diri kita sendiri yang sering merusaknya (Bali, 2007)

  • Orang berpendidikan tinggi belum tentu perilakunya terpelajar (Solo, 2008)

  • Kekayaan yang paling tinggi nilainya adalah kesederhanaan, kehinaan yang paling rendah adalah miskin rasa malu (Tangerang, 2009)

  • Miskin adalah ketidakmampuan memiliki cita-cita (Florence, 2007)

  • Banyak orang berlimpah harta namun hanya sedikit yang memahami makna hidupnya (Tanggerang, 2009)

  • Kita senantiasa lupa mengingat usia sementara waktu terus menghitungnya (Jakarta, 2009)

  • Tak satu pun penduduk dunia yang luput dari genggaman waktu (Paris, 2007)

  • Banyak orang berpengalaman selalu gagal mencerdaskan dirinya karena kurang baik wawasan dan penyerapannya (Semarang, 2000)

  • Jangan pernah menuntut kasih sayang dari anak-anak kita jika kita menelantarkan orang tua (Tanggerang, 2009)

  • Orang terkaya adalah ia yang tidak pernah melakukan kecurangan dalam hidupnya (Florence, 2007)

  • Jika ingin tahu perilaku anak-anak kita yang sesungguhnya tanyakan kepada orang-orang yang membencinya bukan kepada sahabatnya (Tanggerang, 2008)

  • Anak yang baik bukan sebagai penurut tetapi pandai berterima kasih kepada orang tuanya (Tanggerang, 2009)

  • Pembohong adalah orang yang selalu tidur bersama kekhawatiran (Tanggerang, 2008)

  • Kemilalu perempuan bukan karena kecantikaanya atau perhiasannya namun wajah cerahnya ketika disapa (Jakarta, 2004)

  • Sebaik-baik penglihatan adalah yang mampu melihat kesalahannya sendiri (Tanggerang, 2009)

  • Hidup adalah pengembaraan di hutan dunia (Jakarta, 1994)

  • Jangalah hidup hanya untuk dinilai orang lain tetapi hiduplah bermanfaat (bukan dimanfaatkan) (Tanggerang, 2008)

  • Mengalahlah jika ada orang bersikeras dengan pendapatnya yang keliru karena sesungguhnya anda sedang mengalahkan diri sendiri (Tanggerang, 2009)

  • Orang baik selalu gelisah melihat kesulitan orang lain (Tanggerang, 2009)

  • Orang yang berpikiran maju tidak pernah memikirkan cara mendapatkan rezeki tetapi selalu berpikir cara membagi rezeki (Tanggerang, 2009)

  • Keberhasilan seseorang bukan dilihat dari apa yang ia miliki tetapi seberapa banyak yang dia beri (Tanggerang, 2009)

  • Kejantanan pria terletak pada kesantunan bicaranya terhadap wanita (Tanggerang, 2009)

  • Jika ada orang lain memudahkan jalan kita berarti ia memiliki frekuensi yang sama dengan kita (karena kita sering memudahkan jalan orang lain) (Tanggerang, 2009)

  • Hidup bahagia hanya milik orang-orang yang pandai berterima kasih (Florence, 2007)

  • Jangan pernah menyesali keputusan yang sudah kita buat karena baik atau buruk selalu ada manfaatnya (Tanggerang, 2006)

  • Pemalas adalah kepompong yang tak pernah menjadi kupu-kupu (Paris, 2007)

  • Sahabat baik adalah orang yang tidak memiliki catatan untung rugi dalam hidupnya (Tanggerang, 2008)

  • Kebaikan seseorang bukan dinilai dari ucapannya namun dari perbuatannya terhadap makhluk hidup lainnya (Tanggerang, 2009)

  • Janganlah hidup sekedar menunggu surga namun isilah hidup agar berguna bagi sesama (Semarang, 2000)

  • Perjalanan yang bermanfaat adalah yang memberi kemudahan kepada orang lain (Bandung, 2008)

  • Kesantunan berbahasa tidak menjamin kesantunan di meja makan namun kesantunan di meja makan pasti menjamin kensantunan berbahasa (Jakarta, 2009)

  • Seniman modern adalah orang yang tidak mengenal batasan estetika (Florence, 2007)

  • Kesuksesan tidak pernah berpihak kepada orang-orang yang cuma berkhalayak (Venesia, 2007)

  • Perjalanan cita-cita tidak pernah membosankan jika kita punya keinginan untuk sampai (Florence, 2007)

  • Pemusik adalah orang yang melihat dengan telinga (Jogja, 2009)

Akrab dan Kekeluargaan


Majalah Griya Asri, Januari 2013
Penulis : Qisthi Jihan, Fotografer : Ahkamul Hakim





Secondary skin yang juga akan diisi pot plant

Rumah merupakan sebuah tempat tinggal bagi pemilik rumah dan keluarganya. Namun, fungsi dan kebutuhan akan rumah bagi setiap keluarga pasti berbeda-beda. Contohnya, pada rumah yang diliput Griya Asri ini. Selain sebagai tempat beristirahat, rumah ini juga sebagai tempat keluarga dan kerabat berkumpul dan menjadi tempat menyimpan koleksi benda seni sang pemilik rumah.


Tampak depan rumah yang memanjang dilengkapi dengan secondary skin pelat baja bercat putih memberikan tampilan yang khas dan unik.

 BERLOKASI di salah satu kawasan padat Kota Jakarta Selatan, rumah ini berdiri dengan lingkungan yang tetap terasa tenang dan jauh dari suara bising kendaraan. Dedi Panigoro yang namanya sudah tidak asing lagi di dunia bisnis, ingin mewujudkan sebuah rumah yang nyaman sebagai tempat beristirahat dan tempat berkumpul bersama keluarga maupun kerabat. Dalam rangka memenuhi keinginan akan membangun sebuah rumah, Dedi berkonsultasi dengan salah satu kerabatnya, seorang arsitek, Arya Abieta.

Melihat kondisi awal tanah yang berkontur, terutama pada bagian belakang Arya mengajukan konsep rumah dengan lantai basemen untuk mengurangi proses cut and fill. Area semi basemen tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai ruang servis dan area kolam renang sesuai dengan permintaan sang pemilik rumah. Adapun lantai satu dan lantai dua merupakan area keluarga yang dibedakan berdasarkan zona publik dan zona privat.

Zona publik di lantai satu terdiri dari ruang makan dan teras outdoor di depan kolam renang. Zona privat di lantai satu diisi oleh ruang menonton TV privat dan kamar tidur utama. Pada lantai dua pun diisi oleh ruang privat untuk anak-anaknya yaitu dua kamar tidur. Sang pemilik rumah yang senang mengajak berkumpul anggota keluarganya memang membuat ruangan ini tidak banyak diisi furnitur. Pemilik rumah hanya menempatkan meja besar untuk mengisi ruangan tengah atau ruangan makan.



Tangga yang menjadi point of interest ruang dalam. Tampil elegan dengan bentuknya yang melingkar dan melalui kombinasi materialnya. Tangga ini tampil megah dan menunjukkan kekokohannya.

Ruang tengah yang cukup luas diisi pula dengan meja makan besar sebagai sarana menaruh jamuan makanan saat ada acara berkumpul bersama keluarga atau teman-teman.

Rumah diatas lahan 1400 m2 ini dibangun dengan konsep modern tropis yang lebih mengutamakan bentuk simpel dengan bukaan-bukaan lebar sehingga dapat berinteraksi dengan lingkungan alami. Bentuk bangunan rumah persegi berbentuk huruf L dengan orientasi ke arah kolam renang. Bangunan berkonsep modern dan cenderung “bermain” dengan pola persegi dengan tampilan dinamis yang terlihat dari aplikasi secondary skin pada fasad rumah ini. Pemilik rumah menambahkan lapisan pelat baja laser cutting untuk fungsi secondary skin dan fungsi estetis yang berhasi membuat tampilan rumah yang sudah berdiri beberapa tahun ini berbeda dan unik.

Satu lagi yang menarik perhatian di rumah ini ada keberadaan tangga melingkar yang berada di tengah ruangan. Tangga melingkar dengan rangka baja dan kombinasi material kayu jati pada bagian food step tampil elegan mengisi ruang dalam rumah. Tangga ini pun menjadi point of interest bagi rumah modern yang biasanya “bermain” dengan pola geometri. Untuk memberikan kesinambungan bentuk, bidang void pun didesain melengkung. Hal ini juga berhasil memberikan tampilan yang tidak biasa dan unik. Penambahan seperti secondary skin dan keberadaan tangga diusulkan oleh arsitek Budi Pradono.


Ruangan menonton TV privat yang dilengkapi dengan sofa dan arm chair untuk melengkapi ketika bersantai.
Material parket dan lampu indirect pada kamar tidur utama memberikan kesan "hangat".

Setiap sudut ruangan diisi dengan koleksi lukisan sang pemilik rumah.

Dapur yang compact dan simpel sebagai sarana aktivitas hobi pemilik rumah yang juga gemar memasak

Kamar anak perempuan dilengkapi dengan side table bergaya oriental

Balok-balok kayu bekas dimanfaatkan untuk treatment dinding. Hasilnya tidak kalah indah dan artistik dibandingkan dengan pengolahan dari material mewah.

Pada saat mengolah interior rumah ini, pemilik rumah cenderung memilih elemen bermaterial alami dan mengisinya dengan seperangkat furnitur yang simpel. Misalnya, untuk pengolahan bagian lantai, kayu parket yang “hangat” menjadi pilihan untuk mengisi lantai ruangan privat seperti area lantai dua dan kamar tidur. Di lantai satu, pemilik rumah menggunakan lantai marmer untuk memberikan tampilan yang elegan. Selain itu, pemilik rumah juga memilih material recycle pada beberapa elemennya. Misalnya, dinding lift yang menggunakan balok kayu bekas sebagai treatment dinding. Balok-balok ini pun ditemui pada dinding pembatas area kolam renang. Penggunaan material kayu juga terlihat pada meja makan yang menggunakan bahan kayu bekas kapal.

Dalam interior rumah, bagi Dedi, elemen lukisan tidak dapat dipisahkan dalam ruang interiornya. Ia yang sangat menyukai seni lukis, mengisi setiap sudut rumahnya dengan berbagai lukisan dari beberapa pelukis ternama, termasuk Baron Basuning. Dapat disimpulkan bahwa sebuah rumah menjadi berarti bukan hanya dengan barang-barang pengisinya saja, tetapi juga fungsi rumah sebagai tempat berkumpul yang akan memberikan kehangatan tersendiri, baik bagi pemilik rumah maupun bagi para tamunya. Itulah yang terlihat di rumah milik Dedi Panigoro ini.



Dapur di lantai basemen bersinggungan langsung dengan ruang hijau.

Aplikasi material kayu bekas yang kembali ditemui.

Ruang berbentuk huruf L dengan orientasi ke arah kolam renang.


Lokasi : Rumah Tinggal Dedi Panigoro, Jakarta Selatan

Arsitek : Arya Abieta, Budi Pradono





Mohammad Sjafei, Tokoh Pendidik Ruang Pendidikan INS Kayutanam

Kira - kira satu abad yang lalu dilahirkan guru besar Mohammad Sjafei yang mendirikan I.N.S Kayutanam. Seorang guru sejati yang dipanggil murid-muridnya dengan sebutan Engku Syafei telah berhasil merekat spirit pendidikan Indonesia dari sabang hingga Merauke dalam bentuk aplikasi melatih guru - guru sekolah rakyat (SD) dengan berkendara kapal api dan kereta api. Kemudian mereka dikumpulkan di gedung ASKI Padang Panjang Sumatra Barat. Tiap-tiap kelompok dilatih 3 bulan lamanya. Yang sudah dilatih ada 6 kelompok, hingga kemudian pecah pergolakan PRRI/ Permesta.

Moh. Syafei pada tanggal 31 Mei 1922 berangkat ke negeri Belanda menempuh pendidikan atas biaya sendiri. Belajar selama 3 tahun dengan memperdalam ilmu musik, menggambar, pekerjaan tangan, sandiwara termasuk memperdalam pendidikan dan keguruan. Pada tahun 1925 kembali ke Indonesia untuk mengabdikan ilmu pengetahuannya. 

Ketajaman kalbu dan pemikiran M. Syafei sebagai pendidik, meliputi hampir semua aspek kehidupan. Beliau benar - benar tercelup sebagai 'lifelong learners" bersama dengan murid - muridnya, beliau mendidik dengan pijakan awal bertumbuh dari ranah domestik sains. Dari ranah domestik sains yang mengolah kalbu, raga, dan rasa karsa itulah olah pikir murid - muridnya tumbuh pesat dan beliau membuktikan saat mengajar disekolah Kartini Kweekschool yang bergerak dibidang kepandaian putri. Saat perkumpulan guru - guru Belanda mengadakan kongres tahun 1918 semua muridnya menampilkan hasil pekerjaan tangan yang mendapat pujian pengawas pendidikan Pemerintah Hindia Belanda kala itu. 

Adapun aspek - aspek yang diajarkan di mulai dari :

1. Pendidikan dan Pengajaran

Apakah yang dimaksud pendidikan dan pengajaran?
Secara ringkas dapat dijawab :  " Untuk membawa si anak kepada kesempurnaan lahir dan batin ".

2. Pendidikan dan Pengajaran untuk Anak - Anak

Mengapa pendidikan dan pengajaran dimulai dari bawah benar? mengapa tidak dari masyarakat dewasa? jawab  atas pertanyaan ini banyak ragamnya. Boleh disendikan kepada ilmu jiwa atau sendi ilmu ekonomi atau ilmu tubuh dan sebagainya. Jawab yang mudah adalah "di masa-masa manusia kecil itulah mudah mengubahnya, kalau ia telah dewasa sulit !".
Indonesia saat ini memilki kepentingan yang hebat dalam menaruh anak - anak Indonesia :

a. Sebanyak Mungkin orang - orang pandai

b. Selekas mungkin karena kita sudah tertinggal.

3. Sedikit Ilmu Jiwa

Prof. Dr. Van Houte berkata :

" Dalam tahun - tahun terakhir sudah dibuktikan dengan jelas oleh ahli ilmu jiwa, bahwa pembentukan tinjauan, pandangan, dan alam pikiran semata-mata dapat dibangunkan jika ada kerja sama yang serapat-rapatnya antara bagian - bagian tubuh yang melakukan, sehingga terbentuklah kemudian suatu alam keinsyafan".

 4. Pengalaman, Kebiasaan, Pengertian

Pengalaman - pengalaman ini memberikan kepada otak dua macam pekerjaan, antara lain  :

a. Pengalaman berulang sehingga otak mendapat istirahat (tidak berfikir)

b. Pengalaman berulang yang memaksa otak bekerja terus-menerus.

5. Bermain

Semua anak biasanya suka bermain. Bermain bebas atau bermain merdeka merupakan salah satu alat yang banyak mengandung emosi dan spontanitiet . Kalau ada anak - anka yang tidak suka bermain, ia masuk ke bilangan meluar daripada biasa. Tentu ada suatu sebab yang menjadikan dia menjadi demikian. Kewajiban guru atau otang tua untuk menyelidiki hal itu dan berusaha membantu supaya kembali kepada keadaan biasa.

Ziarah bersama Elvira Putri Alm. Mohammad Syafei
Halaman luas di Kayutanam
Sekarang I.N.S Kayutanam masih berdiri dengan luas lahan 18 Hektar merupakan boarding school tingkat SMA dan akan dikembangkan lebih jauh atas perkarsa banyak orang awak antara lain Prof. Dr. Fasli Djalal, Prof. Dr. Muluk, Asmaniar, Dewi Utama, Zulkifli dan lain-lain. Saya pun sempat mengunjungi makam beliau bersama anaknya elvira beberapa waktu lalu untuk mengenang jasa - jasa beliau dalam mendidik anak - anak bangsa.

Semoga Tuhan YME memberikan Taufiq dan Hidayahnya.


Pohon rindang dan kuat mahoni di pekarangan I.N.S  Kayutanam




Sumber : Arah Aktif, Yayasan Jembatan Pekerti didukung Penerbit Tiga Serangkai yang dipersembahkan untuk Para Pendidik Indonesia

Gubahan : M. Syafei

Editor Budaya : DU. Faizah