Tony Fernandes Air-Travel Companion By Richard Branson

Tony Fernandes
Air-Travel Companion
By Richard Branson

More Than 8 million people are in the air each day traveling in planes, trusting their lives t the care of strangers. Technicians, in-flight crew, pilots. You don’t hear much when things go as planned. When things go wrong, there is terrible speculation, uncertainty and questions from every direction. People reveal their trus selves in the worst of times. After learning that AirAsia Flight 8501 had gone missing, Tony Fernandes stilled the chaos by being himself-a family man and a business leader. He guided his company and employees through the horror. As AirAsia continued to serve its passengers, Tony acted as a friend, father and son to families whose darkest days were not done. The end of every journey is home. With his strength, candor and compassion, Tony helps get AirAsia’s passengers home every day. And he continues to lead a company that has earned the trust of travelers.

Branson is the founder of the Virgin Group.

Time, April 27 /May 4, 2015


Kanye West Boundary Breaker by Elon Musk

 “I’m living in that 21st century doing something mean to it. Do it better than anybody you ever seen do it.
Screams form the haters, got a nice ring to it.
I guess every superhero need his theme music” – Kanye West, Artist and Enterpreneur 37
Lyric from “Power”

Kanye West
Boundary Breaker by Elon Musk

Kanye West would be the first person to tell you he belongs on this list. The dude doesn’t believe in false mdesty, and he shouldn’t. Kanye’s belief in himself and his incredible tenacity-he performed his first single with his jaw wired shut-got him to where he is today. And he fought for his place in the cultural pantheon with a purpose. In his debut album, over a deacde ago, Kanye issued what amounted to a social critique and a call to arms (with a beat): “We rappers is role models: we rap, we don’t think.” But Kanye does think. Constantly. About everything. And he wants everybody else to do the same: to engage, question, push boundaries. Now that he’s a pop-culture juggernaut, he has the platform to achieve just that. He’s not afraid of being judged or ridiculed in the process. Kanye’s been playing the game all along, and we’re only just beginning to see why. 

Musk, an engineer and entrepreneur, is the CEO of SpaceX and Tesla Motors
Time, April 27 /May 4, 2015


Selamat Jalan Jaya Ibrahim



Jaya Ibrahim lahir di Yogyakarta 67 tahun yang lalu, putra diplomat Sumatera & puteri Jawa. Kuliah Ekonomi & Sosiologi di York University. Bekerja di Blakes, Luxes Hotel London, Karya Anousky Hempel. Disitulah ia menemukan jati dirinya sebagai perencana hotel, saat mulai menjadi asisten sang desainer interior ternama. 20 tahun tinggal di London menjadikannya seorang arsitek yang tangguh.

Jaya Ibrahim mewujudkan karyanya di ada di banyak belahan dunia, seperti Jakarta, Singapore, Miami, Shanghai, Oman, India, dll. Hasil karyanya antara lain Aman at Summer Palace, Amanfayun, Fuchun Resort, T8 Rest & Lounge, Shiatzy Chen Flagship Store, The Legian Bali, Amanikan, Cipicong, The Darmawangsa, Erlangga, The Club at The Saujana, The Capella, The Datai, The Nam Hai, The Club at the Leela Goa, The Chedi Muscat, Christopher Noto Residence, Aman Spa at The Connaught, The Setai Miami.

Jaya Ibrahim memiliki hubungan yang erat dengan Adrian Zecha putra Sukabumi yang telah sangat melambung namanya berkat keberhasilannya membangun Aman Resort. Dalam bekerja Jaya Ibrahim sangat mementingkan konsep dan akan berusaha sekuat mungkin untuk mewujudkan konsep tersebut.
 
Ia terpilih sebagai 100 desainer terbaik di dunia dari Architectural Digest Magazine. Jaya selalu mencari semangat dari sebuah desain dan menyesuaikannya dengan lingkungan dimana bangunan tersebut akan dibangun. Baginya bangunan hotel sebaiknya tidak memberikan rasa asing bagi tamunya tetapi rasa bahwa tamu tersebut sadar sedang berada di suatu tempat bukan berada di tempat yang mirip dengan tempat lain.

Ia telah bekerjasama dengan banyak orang ternama, beberapa diantaranya adalah Bruce M. Goldstein, Shaun Yeo dan Larry Van Ooyen. Karya emasnya dapat dilihat dalam coffee table book “Jaya Contemporary Design with Pedigree”

Pada tanggal 5 Mei 2015 yang lalu, ia jatuh di rumahnya di Jakarta Timur dan setelah mengalami pendarahan otak, Ia meninggalkan kita selama lamanya tetapi karya-karyanya tetap dapat hidup dan dinikmati oleh banyak orang.

Rest in Peace

Juni 2015

Taman Nasional Komodo


Tidak sabar rasanya untuk segera mendarat di Bandar Udara Komodo Labuan Bajo. Perjalanan ditempuh dengan pesawat Wings Air ATR selama 1, 5 jam dari Denpasar terasa lama. Dari pinggir jendela terlihat pulau pulau indah. Tidak ada penerbangan langsung ke Labuan Bajo dari Jakarta, harus transit di Denpasar terlebih dahulu. Labuan Bajo, ibukota Manggarai Barat, pintu gerbang menuju keajaiban dunia, Taman Nasional Komodo.

Menjelang berlayar dengan Komodo Sea Dancer


Ucha & Emmy siap menyelam

Sommy & Nita





Sommy & Emmy


Trip kali ini bersama Sommy, Ucha anakku & Nita menantuku, Emmy adik iparku. 6 Hari 5 Malam kami habiskan untuk menikmati keindahan Taman Nasional Komodo.

Hari Pertama, Sabtu 2 Mei 2015

Tiba di Labuan Bajo sekitar jam 4 sore, kami berempat dijemput oleh Tim dari Komodo Sea Dancer, langsung menuju Hotel Luwansa tempat kami menginap selama semalam sebelum besok pagi mulai explore Pulau Komodo.

Hari Kedua, Minggu 3 Mei 2015

Selama 3 malam kami berpetualang menjelajahi Taman Nasional Komodo dengan live on Board, dengan KLM Komodo Sea Dancer, kapal Wisata tradisional yang dimiliki oleh Koperasi Wisata Sehati, Koperasi pribumi Manggarai Barat. 

Pulau Kanawa, pulau yang kami kunjungi pertama, ditempuh selama kurang lebih 1 jam dari Pelabuhan Labuan Bajo. Kami berkeliling dan melihat Kanawa Resort. Pulau Kanawa  terkenal dengan keindahan terumbu karangnya,selain itu pantai panjang berpasir putih, sangat cocok untuk snorkeling. Airnya bersih, temperature juga tidak dingin, kami bisa melihat Penyu , ikan yang berwarna-warni. 

Pulau Sebayur, adalah tujuan kami berikutnya. Pulau Sebayur ada dua, Sebayur besar dan Sebayur kecil, terletak di perbatasan Taman Nasional Komodo.  

Setelah makan siang dengan menu lezat seperti ikan bakar, sayur kemangi, timun, daun kelor, tomat, kami melanjutkan perjalanan menuju Gili Lawa, sebuah pulau yang terletak bagian utara pulau Komodo, di tempat inilah dive spot yang terbaik di perairan Komodo, selain itu banyak pulau-pulau yang mengitari pulau ini,menawarkan keindahan pantai pasir putihnya, di sinilah tempat trekking sunset terbaik di Taman Nasional Komodo, Kapal berlabuh di sini. Sebelum kami tidur masih bisa menikmati keindahan bintang-bintang di sun deck kapal.





Ucha & Nita di Taka Makassar


Pink Beach







Hari Ketiga, Senin 4 Mei 2015

Hari kedua Live on Board dengan KLM Komodo Sea Dancer, setelah sarapan kami menuju Karang Makasar atau Manta Point untuk melihat salah satu keistimewaan perairan Taman Nasional Komodo, yaitu Pari Manta. 

Karang Makasar, adalah lokasi  yang paling mudah melihat pari manta berenang di permukaan, sehingga bisa disebut Manta Point. Snorkeling dengan ada arus sedikit, tapi arus tidak membahayakan, karena kita bisa snorkeling ikut arus melihat manta bermain-main  di arus sambil menangkap plankton. Menghabiskan waktu sekitar 1 jam snorkeling di tempat ini        
Pantai Merah atau sering disebut Pink Beach, adalah tujuan kami berikutnya. Disini kami kembali snorkeling selama kurang lebih 1 jam.

Jam 3.00 sore kami berangkat ke desa Komodo melihat kehidupan masyarakat Komodo dan menikmati fasilitas desa wisata yang ada di Komodo oleh Koperasi masyarakat komodo. Kemudian menuju ke pulau Lasa, makan malam di alam terbuka yang disediakan oleh masyarakat desa Komodo .
Malam hari kapal berlabuh di sekitar Pulau Lasa, sebuah pulau kecil di depan desa Komodo dan bermalam di sekitar pulau. Desa Komodo berpenduduk sekitar 1500 orang, merupakan campuran antara orang Bima, Bajo, Bugis. Karena itu bahasa mereka merupakan campuran dari ke-3 suku tersebut dan disebut Bahasa Modo.

Hari keempat, Selasa 5 Mei 2015

Pagi hari kapal bergerak menuju dolphin spot sambil menuju Loh Liang.  Setelah berkelana dua hari di pulau-pulau di Taman Nasional, tibalah saatnya bertemu dengan binatang purba yang hanya ditemukan di tempat ini di dunia, Sang Komodo. Tiba di Loh Liang, kami treking 1 jam untuk bertemu dengan Komodo dan melihat pemandangan sekitarnya serta bermacam-macam burung endemik pulau Komodo. Di sini kita selalu ditemani oleh Ranger dan tidak diperbolehkan trekking sendiri. Loh Liang adalah pusat pengunjung di pulau Komodo. Di pulau Komodo ada kurang lebih 1700 ekor Komodo, apabila beruntung dapat melihat Komodo di sekitar restoran dan dapur Resort Taman Nasional. Sayangnya kami hanya berpapasan dengan 2 ekor komodo pada saat kami melakukan trekking sehingga kami tidak mempunyai kesempatan untuk berfoto yang bagus.

Saya baru menyadari setelah sampai di Pulau Komodo dan menyaksikan sendiri binatang tersebut ternyata Komodo termasuk binatang purbakala…..sungguh luar biasa keajaiban Fauna Indonesia.
Saya bersyukur bahwa Komodo tersebut masih berkembang biak. Anak komodo setelah menetas lari ke pohon selama 2 tahun untuk menghindari kanibalisme dari komodo dewasa. Kami beruntung bertemu dengan anak komodo di pohon bersembunyi di sebuah lubang, yang terlihat hanya mulutnya dan sesekali mereka makan serangga, tikus, dll.

Setelah itu berlayar menuju pulau Padar dan menikmati kesenyapan dan keindahan bukit batu dan padang rumput pulau Padar yang tidak berpenghuni  dan terdiri dari batuan yang indah dan padang rumput. Di Pulau Padar kami berenang dan snorkeling. Malam hari, kapal berlabuh disini. 





Dermaga Pulau Komodo (Loh Liang)



Hari kelima, Rabu 6 Mei 2015.

Kapal bergerak menuju pulau Rinca, kami menikmati perjalanan sepanjang pulau Padar dan Rinca dan snorkeling. Ucha diving di mud dive di pulau Wae Nilu. Dari sini,  kita berlayar menuju pulau Bempe dan beraktivitas seperti kayaking ke pulau bakau di dekatnya, snorkeling  dan glass bottom. Kami juga sempat berkunjung ke Kampung Pasir Panjang di pulau Rinca. Makan siang disediakan oleh masyarakat Rinca. Sore hari kami melihat pemandangan spektakuler keluarnya ribuan kalong  dari sarangnya untuk mencari makan di pulau Flores, pemandangan yang sulit dicari tandingannya. 

Malam hari kami kembali ke Labuan Bajo untuk menginap di Luwansa sebelum keesokan hari terbang kembali ke Jakarta Berkelana dengan kapal di Taman Nasional Komodo  sudah selesai. 

Selama 3 malam menginap di Kapal Phinisi Komodo Sea Dancer dengan Kapten Kapal Andi, Juru Masak Una dan tim penyelam Herman dan Yuri. Didarat yang bertugas mengatur segala sesuatu Ita Evalin dari Maumere.


Menjelang sunset di Gili Lawa / Gili Laba

Tarian adat Desa Cecer

Hari keenam, Kamis 7 Mei 2015

Hari ini adalah hari rileks dan santai. Karena pesawat kami terbang sore hari, kami berkesempatan untuk ke desa Cecer, melihat pemandangan Labuan bajo dan pertunjukan tarian dan adat Manggarai Barat. saya terkejut karena mereka adalah turunan generasi ke 9 dari Gorontalo.

Makan siang di Labuan Bajo, di restoran Pesona sambil menikmati pemandangan Teluk Baji.
Desa Cecer terletak di ketinggian 900 meter dari permukaan laut, berjarak kira-kira 15 km dari Labuan Bajo,dapat ditempuh dalam waktu kurang dari setengah jam dengan mobil. Walaupun rumahnya sudah berbentuk rumah desa biasa bukan rumah asli Manggarai, namun desa ini masih ketat menjaga adat istiadat Manggarai Barat, utamanya suku Kempo. Di sini, kami menikmati pertunjukan tari-tarian , pertunjukan Caci, dan musik Manggarai dengan serulingnya yang merdu. Sambil menikmati kopi Manggarai yang terkenal.

Insya Allah saya dan keluarga ingin berlayar di Raja Ampat, saya percaya bahwa setiap jengkal tanah di Papua adalah rejeki untuk Bangsa Indonesia.

Dua tahun lalu kami mengunjungi Wakatobi, namun pemandangan Taman Nasional Komodo lebih indah.

Mei 2015