Persahabatan Antarbangsa lewat Musik

 



Magelang, Kompas, Jumat 25 Juni 2021

Lebih dari 200 alat musik tergambar di 40 panel relief Candi Borobudur , Kabupaten  Magelang, Jawa Tengah. Alat-alat musik itu tak hanya ada di Indonesia , tetapi juga belahan dunia lain, seperti China, India, dan Mesir. Hal itu berpotensi jadi inspirasi memperkuat persahabatan antar bangsa melalui musik.

Hal itu dibahas dalam Konferensi International Sound of Borobudur MUSICoverNATIONS bertema “Menggali Jejak Persaudaraan Lintas Bangsa Melalui Musik”, Kamis (24/6/2021), di Balai Ekonomi Kecamatan Borobudur, Magelang. Konferensi diadakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama Yayasan Padma Sada Svargantara dan Kompas Group, secara luring dan daring.

Relief pada candi itu mengindikasikan bahwa Borobudur pada 13 abad lalu jadi pusat musik dunia. Seiring berjalannya waktu, alat musik itu tersebar tidak hanya di Jawa, tetapi menyebar ke 34 provinsi dan sedikitnya 40 negara. Penyebaran terjadi melalui jalur perdagangan laut.

Ketua Yayasan Pada Sada Svargantara, Purwa Caraka, menuturkan ada ratusan gambar alat musik di lebih dari 40 panel relief di Candi Borobudur. Mayoritas alat musik itu ditemukan di 34 provinsi di Indonesia dan di 40 negara lain. “Belum ditemukan di tempat lain ada siplay (tampilan) sekian banyak alat musik beserta pemainnya seperti di Candi Borobudur,” kata Purwa.

Alat musik relief di Candi Borobudur itu terdiri dari alat musik petik, pukul, tabuh, dan tiup. Salah satu alat musik di relief yang ditemukan di Indonesia dan mirip dengan alat musik negara lain, yakni garantung, serta mirip ranat ek di Thailand, marimba (Kongo), dan balafon (Gabon).

Margaret Katomi, guru besar emeritus di Sir Zelamn Cowen School of Music and Performance, Monash University, Australia, menjelaskan alat musik di relief candi umumnya dimainkan untuk upacara, perayaan, atau hiburan. Ia memprediksi penggunaan alat-alat musik, antara lain untuk ritual pembersihan desa dari roh jahat. “Instrumen musik di relief Borobudur, termasuk variannya di daerah lain, mengindikasikan ada perdagangan sekaligus instrumen musik sebagai obyek sacral masyarakat,” ujarnya.

Memainkan kembali

Purwa menuturkan, selama ini, relief bergambar alat musik itu hanya jadi sumber pengetahuan pasif. Karena itu, sejumlah musisi dan tokoh lain menggagas untuk menghidupkan alat-alat musik yang tergambar di relief Borobudur melalui gerakan Sound of Borobudur.

Selain Purwa Caraka, sejumlah musisi lain terlibat dalam Sound of Borobudur, misalnya penyanyi Trie Utami dan gitaris Dewa Budjana. Alat-alat musik pada relief Borobudur diproduksi lagi demi membuat

 komposisi musik.

“Usaha membunyikan alat-alat musik ini lewat proses panjang. Ada banyak alat musik diproduksi, direproduksi, direka ulang, dicari ke pelosok negeri, dipastikan bunyinya, dimainkan, dan dibuat komposisi dengan interpretasi tertentu,” kata Purwa, yang juga komposer musik.

Kolaborasi

Setelah komposisi itu berhasil dibuat, Sound of Borobudur mengajak musisi dari sejumlah negara lain berkolaborasi untuk memperkuat persahabatan bangsa-bangsa.

“Setelah melalui kajian ilmiah sebagai penguatan landasan, kami ingin mengeksplorasi untuk menunjukkan keterkaitan dengan bangsa lain dan persahabatan antar-bangsa melalui musik yang dijalin sejak dulu,” ujarnya.

Trie Utami mengatakan, sejumlah musisi dsri 11 negara berkolaborasi dengan Sound of Borobudur antara lain dari Jepang, Laos, dan China.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno mengatakan, Candi Borobudur merupakan mahakarya yang menyimpan pengetahuan serta peristiwa masa lalu. “Borobudur menyimpan 1.460 relief. Narasi visual panel relif sarat pengetahuan dan seni.” Ujarnya. (SKA/HRS)   


Setangkup Burger Ini untukmu

Bagi saya burger adalah makanan yang mudah divariasikan isiannya sehingga berbagai jenis varian dapat dikreasikan untuk memenuhi selera pecinta burger. Salah satunya adalah lawless Burger, sebuah nama yang dapat dibilang baru dalam dunia kuliner namun mampu menarik perhatian banyak dari pecinta kuliner. Di bawah ini tulisan menarik tentang burger, sumber tulisan dari kolom GAYA HIDUP,Kompas, 6 Juni 2021.





Setangkup Burger Ini untukmu

Burger-burger lokal muncul dengan narasi kesehatan dan kebaikan hidup. Di luar mengurusi produk utama secara serius, mereka leluasa membuat gimik yang pas untuk target pasarnya.

Oleh HERLAMBANG JALUARDI/DWI AS SETIANINGSIH/RIANA A IBRAHIM

Gelombang burger merek lokal hampir mirip dengan yang terjadi pada komoditas kopi beberapa tahun belakangan. Masing-masing jenama punya cirinya sendiri, bahkan ciri yang sangat khas koki peraciknya. Di luar mengurusi produk utama secara serius, mereka leluasa membuat gimik yang pas untuk target pasarnya.

Pada Minggu (30/5/2021) selepas tengah hari, Amalia Puri datang ke gerai Lawless Burgerbar di daerah Kemang, Jakarta Selatan. Setelah memarkir mobilnya lewat jasa valet karena kehabisan tempat parkir reguler, dia memesan burger favoritnya, Sabbath Burger. Biasanya dia pesan ukuran single—takaran satu daging patty. ”Tapi, di toko cuma bisa pesan yang double,” ujarnya.

Walhasil, dia harus membayar Rp 82.600 termasuk kutipan pajak untuk makan siangnya di hari libur itu. Harga dasar Sabbath Burger ukuran double adalah Rp 68.000. Ditambah dengan tarif parkir Rp 10.000 untuk pesan bawa pulang, dia mengeluarkan uang Rp 92.600. Tarif parkir mobil layanan valet untuk makan di tempat Rp 25.000.

Bagi pekerja lembaga nirlaba ini, biaya segitu tergolong mahal. Makanya, jajan burger Lawless biasanya sehabis gajian. ”Harganya memang mahal, tapi layak. Ya, ini adalah makanan mewah, untuk momen tertentu saja,” lanjutnya.

Menu favoritnya itu adalah burger keju. Namun, bagi lidahnya, cita rasanya lengkap, tak sekadar asin dari keju American cheddar dan gurihnya daging sapi berbumbu. Bawang bombai yang dipakai telah digoreng terlebih dulu dan dikaramelisasi (caramelized). Jika acar di burger lain selalu disingkirkan, Amalia melahap habis acar pada burger Sabbath. Dengan kelengkapan nuansa rasa itu, dia memberi gelar Sabbath sebagai burger terenak yang pernah dia makan di Indonesia.

Sabbath adalah satu dari tiga menu burger terfavorit di seluruh gerai Lawless yang beroperasi sejak 2018 ini. Dua lainnya adalah Motley Burg seharga Rp 74.000 di luar pajak, dan yang terbesar sekaligus termahal, The Lemmy (Rp 135.000). Satu menu burger lainnya yang bertahan sejak Lawless berdiri adalah pilihan para vegetarian, Joey Bellodona (Rp 47.000).

”Ini (Joey) adalah menu permintaan gue,” kata Roni Pramaditia, salah satu dari enam punggawa Lawless Burgerbar, dan satu-satunya yang tidak makan daging. Medhina Purwadi, rekannya, memilih jamur portobello sebagai pengganti patty daging. ”Gramasinya sama dengan patty versi daging, sih, sekitar 120 gram,” kata Medhi.

Medhi, yang sebelumnya membuka restoran steak ini, bilang, perlakuan pada jamur portobello dan daging sapi sebagai patty mirip-mirip. Keduanya sama-sama dipanggang dengan imbuhan bumbu dasar seperti lada, garam, cabai, dan bawang. Hasilnya, panggangan patty jamur dan daging sapi berkarakter juicy, alias cenderung basah.

Bergeming urusan musik

Roni bilang, seluruh penyedia (vendor) bahan burger berasal dari dalam negeri. Selada romain ditanam sendiri di kebun dapur sentral, walau baru bisa memasok kebutuhan gerai Kemang saja. Daging sapinya bukan sapi impor. ”Yang pasti impor adalah musiknya,” seloroh Arian Arifin, alias Arian13, pendiri Lawless juga.

Musik adalah komponen penting buat produk makanan Lawless. Nama-nama menunya berkonotasi kancah metal. Penggemar band Motley Crue, misalnya, bisa langsung mengidentifikasi asal nama burger Motley Burg. Setiap gerainya memutarkan lagu-lagu rock dan heavy metal pilihan Arian dan Sammy Bramantyo, rekannya. Mereka berdua adalah separuh band kencang Seringai.

Banyak ulasan di internet yang memuji rasa burgernya tapi mengutuk pilihan musiknya. Ada juga ulasan satu bintang yang mengkritik cita rasa makanan, sekaligus menghujat kebisingan lagunya. Untuk urusan musik mereka bergeming. Malahan, ulasan sumbang satu bintang itu diabadikan menjadi desain kaus Lawless Burgerbar. Kaus itu laris.

Benar, kedai burger ini punya produk turunan berupa kaus, seperti layaknya band saja. Mereka mengakui, perangkat pemasaran mereka berkaca dari yang dilakukan banyak band, seperti membuat acara, menjual kaus, dan membagikan stiker.

Di awal masa pandemi tahun lalu, misalnya, mereka menganggarkan hampir Rp 100 juta ”hanya” untuk mencetak segepok gambar tempel. Salah satu desainnya bersih dari merek, cuma tulisan ”Corona Virus Sucks”—mewakili kegeraman banyak orang pada wabah virus itu.

Dekorasi gerai, bonus stiker, bungkus kertas bergambar tengkorak, dan humor mereka pada heavy metal mungkin dianggap sebagian orang sebagai gimik. Tapi, semua trik itu berbanding lurus dengan kualitas produk utamanya, yaitu burger. Tak heran, mereka bisa menjual rata-rata 50.000 porsi burger dalam sebulan, dan sepertinya sebentar lagi layak menjadi ”oleh-oleh khas Jakarta”.

Burger biar bugar

Sebaliknya, merek 2080 Burger (dibaca Twenty Eighty Burger) yang bermula di Pecatu dan Canggu, Bali pada awal 2020, telah ”menginvasi” sekitaran Jakarta. Mereka membuka cloud/ghost kitchen (gerai tanpa fasilitas nongkrong) di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Mulai Maret 2020, 2080 Burger buka gerai di Fresh Market di Bintaro, Tangerang Selatan.

Lokasi gerai itu telah identik sebagai tempat nongkrong warga sekitar Jabodetabek di sela-sela berolahraga. Akhir pekan, mulai Jumat hingga Minggu adalah saat paling ramai. Sejak pagi banyak pesepeda dan pelari yang mampir. Burger mereka dicitrakan sebagai kudapan sehat.

Penamaan ”2080”, kata salah satu pendirinya Heru Dwi Soesilo, mengacu pada 20 persen lemak dan 80 persen protein dalam daging sapi murni asal Australia yang dipakai sebagai patty-nya. Menurut mereka, komposisi itu sesuai kebutuhan lemak dan protein bagi tubuh. Dengan kata lain, daging yang mereka pakai memenuhi syarat baik untuk dikonsumsi.

Sayurannya semua organik. Untuk gerai di Bintaro, sayuran didapat dari petani sayur organik di daerah Bogor. Sementara untuk gerai di Bali pasokan sayuran berasal dari petani di Bedugul. Konsep sehat itu menarik perhatian, dan memantik pujian.

”Kalian harusnya bisa dapat Michelin Star,” kata Heru, menirukan pujian dari Chef Javier, koki andal di restoran milik Gordon Ramsey di London, yang kini bermukim di Bali. Javier, bersama para surfer, atlet, dan foto model jadi pelanggan 2080 Burger. Javier bahkan rutin jajan di 2080 Burger hampir tiga hari sekali.

Banyak atlet datang ke 2080 setiap habis olahraga di sasana. Bila sedang tidak membutuhkan protein tinggi dari daging sapi, mereka tetap bisa menikmati burger ikan atau ayam. Minumnya pun teh kombucha.

”Jadi, pola hidup mereka tetap terjaga. Proteinnya dapat, healthy-nya juga dapat. Kalau di Bali, narasi bahwa burger itu nggak sehat udah patah, sih,” kata Heru.

Panggang dulu

Selain lekat dengan citra sehat, produk mereka juga dikenal atas aroma panggangannya yang kuat (smokey). Sebut saja salah satu menu favorit, El Matador. Selain berisi ”komponen dasar” burger, seperti patty, beef bacon, keju, selada romaine dan tomat, terselip pula kerpik tortilla yang renyah dan potongan cabai jalapeno. Dua bahan khas Meksiko menambah meriah rasa burger.

Saat digigit, keripik tortilla dan cabai jalapeno-nya seperti menggigit balik. Sensasi renyah dan pedas asam mengisi rongga mulut. Paduan daging patty yang cenderung berair (juicy) dan beef bacon yang kering menambah keseruan mengunyah. ”Enak nih. Dagingnya empuk, juicy. Aroma smokey-nya juga kuat,” kata Hadi (43), salah seorang konsumen 2080 Burger.

Aroma bebakaran itu muncul karena bahan-bahannya—mulai dari patty, sayuran sampai roti—telah diasapi terlebih dulu menggunakan alat panggang gaya barbekyu. Arang yang dipakai adalah arang dari kayu kopi, sehingga aromanya wangi dan tahan lama. Mereka mengeklaim sebagai pionir metode ini dalam penyajian burger.

”Sampai kalau cegukan, berasa aroma smokey di tenggorokan, jadinya keinget terus burgernya,” kata Heru. Pantaslah mereka berani mengusung slogan ”smokey burger specialty”.

Menu lain yang digemari adalah Say Cheese, yang dari namanya ketahuan ini adalah burger keju. Selain memakai daging sapi Australia, rasa asin gurih diperoleh dari paduan keju philly, dan saus keju. Rotinya memakai bun yang bau dan rasanya seperti susu. Tampilannya menjulang. Harganya terentang dari Rp 69.000 untuk ukuran single, sampai Rp 129.000 ukuran triple.

Mereka juga punya menu khusus Onde Mande Burger yang berisi daging rendang, juga Hang Loose Burger yang pattynya terbuat dari paduan daging sapi dan seafood. Nonpemakan daging tentunya bakal memilih menu Mofajun, karena ini adalah burger vegan.

Roti segar

Kedai Dope Burger & Co di daerah Menteng, Jakarta Pusat juga patut dicoba. Kedai yang berdiri sejak 2018 ini punya 13 pilihan menu berbahan utama daging sapi Australia, dan roti brioche sebagai bun. Kelebihan lainnya terdapat pada racikan saus barbekyu dengan potongan cabai jallapeno. Kalau potongan jallapenonya tergigit rasanya bikin kaget tapi enak.

Menu yang pakai saus ini adalah burger Redemption yang masih ditambahi saus khas racikan mereka. Sedangkan menu The Multisensory pakai saus sriracha dan saus aioli sehingga nuansa rasanya jadi pedas dan gurih sekaligus. Saus sriracha yang khas Thailand itu juga dipakai di menu The Yolk, yang isinya pakai daging, hash brown (semacam perkedel), telur mata sapi, tumisan jamur, juga keju. Ketiga menu itu jadi favorit.

”Menu-menu yang ada di sini tentu dijajal terlebih dulu, dan juga melihat dari beberapa tren di luar negeri,” kata salah satu pemilik Dope Burger & Co, Andre Morgan. Daging dari Australia dipilih karena teksturnya lembut untuk diolah menjadi patty, serta gampang didapat dengan harga dan kualitas bagus.

Urusan roti, yang jadi komponen penting setiap burger, dipilih dengan cermat. Saban hari, roti brioche produksi rumahan dengan taburan wijen selalu datang dalam keadaan segar. ”Roti ini dipilih yang homemade dan selalu baru untuk menjaga kualitas rasa dan kesegarannya. Sayurannya juga demikian,” tutur Andre.

Roti brioche juga dipakai Flip Burger, yang berdiri sejak 2016. Bedanya, roti mereka tanpa wijen. Jenis roti asal Perancis ini dipilih karena kaya kandungan mentega (butter). Roti itu jadi lembut dan gurih manis setelah dipanggang. Roti yang dipakai Flip Burger bikinan Animo Bakery, milik Muhammad Abgari, alias Agam.

”Pada dasarnya Flip itu gabungan dari tukang daging dan tukang roti. Saya di Holycow!, Agam di Animo,” kata Afit D Purwanto, salah satu pendiri Flip Burger.

Sebagai ”tukang daging”, Afit jadi tahu benar bagian sapi mana yang paling tepat dipakai. ”Untuk patty, itu campuran ada yang bagian brisket, pundak, dan yang terpenting harus memiliki kandungan lemak sehingga kelembutan tekstur dan cita rasanya menonjol,” katanya.

Pengetahuan akan asal-usul makanan ini tak disediakan restoran waralaba internasional zaman dulu. Burger hari ini jadi menambah wawasan pelahapnya, sekaligus menambah berat badan, tentunya.

Editor: MOHAMMAD HILMI FAIQ


YUMNA DZAKIYYAH DAN RICHIE FANE CIPTAKAN BATERAI ORGANIK DARI ALGA MERAH






Kompas, 30 Mei 2021

Oleh: ELSA EMIRIA LEBA

Mimpi akan adanya baterai ramah lingkungan menjadi selangkah lagi akan terwujud. Yumna Dzakiyyah (20) dan Richie Fane (19) menggarap proyek baterai organik dari tumbuhan rumput laut. Prototipe baterai karya dua anak bangsa ini bahkan menang dalam kompetisi Schneider Go Green 2021 tingkat Asia Pasifik.

Pembuatan baterai selalu merusak lingkungan akibat penambangan. Sementara itu, penanganan limbah baterai di Indonesia masih buruk karena masih mencemari lingkungan dan mengganggu kesehatan masyarakat sekitar. Padahal, baterai mengandung berbagai macam logam berat, seperti merkuri, mangan, timbal, nikel, lithium, dan kadmium.

Dalam artikel Lead Exposure From Battery Recycling in Indonesia oleh Budi Haryanto (2016), terdapat lebih dari 200 smelter ULAB (used lead acid battery) ilegal di Indonesia. Penelitian ini menemukan, penduduk di dekat smelter berisiko tinggi mengalami masalah kesehatan kronis.

Karena itu, Yumna dan Richie, sebagai Tim Carragenergy, berusaha membuat baterai ramah lingkungan menggunakan ekstrak alga merah (karagenan atau carrageenan). Alga merah dipilih setelah dua mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) ini melakukan studi literatur mendalam, termasuk membandingkannya dengan material selulosa dan kitosan.

“Kami membawa ide baterai isi ulang organik. Inovasi ini memanfaatkan bahan organik, yaitu elektroda organik dan biopolimer elektrolit solid-state yang menggunakan karagenan. Secara garis besar, kami ingin menggeser energi agar lebih hijau dan ramah lingkungan,” kata Yumna dalam wawancara virtual eksklusif yang diselenggarakan Schneider Electric Indonesia, Jakarta, Senin (24/5/2021).

Tampilan protitipe baterai Carragenergy jenis AA, baterai organik dari alga merah, buatan dua mahasiswa Institut Teknologi Bandung, Yumna Dzakiyyah dan Richie Fane. Mereka menang dalam kompetisi Schneider Electric Go Green 2021 tingkat Asia Pasifik

Dalam paparan Yumna dan Richie, prototipe baterai Carragenergy berbentuk seperti baterai jenis AA konvensional. Mengandung 87,6 persen konten lokal, komponen baterai ini terdiri dari katoda, anoda, elektrolit, serta pemisah dan pembungkus dari plastik daur ulang. Satu prototipe baterai ini berisi satu gram karagenan.

Tim Carragenergy telah melakukan tes open-circuit voltage dan tes lampu LED untuk mengetahui daya baterai itu. Hasilnya, tegangan listrik prototipe baterai Carragenergy dalam kondisi terbaik bisa mencapai 1,57 volt. Ini lebih baik dibandingkan baterai dari bahan organik lainnya yang sekitar 0,8 volt. Sebagai perbandingan, baterai AA di pasaran biasanya memiliki tegangan 1,5 volt.

Baterai organik itu unggul dari segi keamanan, keberlanjutan, dan ekonomi karena tidak mengandung logam berbahaya. Elektrolit solid-state dalam baterai membuat jumlah material aktif lebih sedikit sebab tidak ada cairan dalam baterai. Isu kebocoran baterai bisa terhindari dan bobot baterai menjadi lebih ringan.

Ditambah lagi, pembuatan baterai organik itu bisa lebih murah karena berasal dari sumber daya alam terbarukan yang banyak tersedia di Indonesia. “Proses pembuatan, penggunaan, dan pengolahan baterai ini bisa lebih ramah lingkungan sekaligus mengurangi kecelakaan dalam pengolahan limbah,” tutur Richie.

Prototipe baterai Carragenergy rencananya masih akan melalui beberapa fase uji coba yang sedikit terhambat akibat pandemi. Yumna sedang berada di Kalimantan Tengah sementara Richie pulang ke Jambi. Keduanya sulit melakukan uji coba lanjutan di laboratorium kampus untuk mengetahui kualitas baterai dalam ruangan terkondisikan.

Namun, mereka optimistis dengan masa depan proyek ini. Baterai Carragenergy diproyeksikan bisa menjadi baterai isi ulang sebab bahan elektroda yang dipilih adalah bahan untuk baterai sekunder. Yumna dan Richie juga ingin menggali lebih jauh tentang pengembangan baterai ini menjadi baterai kecil jenis lainnya serta pengolahan limbah baterai sebagai pupuk atau pakan ikan.

Yumna Dzakiyyah, mahasiswa Institut Teknologi Bandung yang membuat baterai organik berbahan dasar alga merah, Carragenergy. Bersama Richie Fane, kedua mahasiswa ini menang dalam kompetisi Schneider Electric Go Green 2021 tingkat Asia Pasifik

Meraih juara

Proyek pengembangan baterai alga merah berawal dari niat Yumna dan Richie mengikuti Schneider Go Green 2021. Dalam tim yang terbentuk sejak Desember 2020 ini, Yumna berperan sebagai peneliti dan pengembang produk (R&D), sedangkan Richie menjadi ahli strategi dan analis bisnis.

Mereka mengeksplorasi banyak ide untuk diajukan ke kompetisi yang digelar secara virtual ini, seperti teknologi pemanen energi dari sol sepatu, aspal, dan sel surya. Setelah berkonsultasi dengan beberapa dosen, mereka menggali lebih jauh potensi baterai organik berbahan dasar alga merah. Prototipe baterai digarap mulai Maret 2021.

Dibantu dosen ITB dan mentor dari Schneider Electric, tim Carragenergy mengalahkan kampus lainnya, seperti Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Udayana, dan Universitas Prasetiya Mulya, dalam lomba tingkat nasional. Mereka melaju ke kompetisi tingkat kawasan melawan delapan negara Asia Pasifik, seperti Korea Selatan, Singapura, dan Australia, dan berhasil menang, April lalu.

“Proses perjalanannya panjang dan persaingannya ketat tetapi kami mendapat kesempatan untuk terekspos ke peserta lainnya. Bahkan penjuriannya sampai overtime jadi terasa deg-degan terus kami sampai speechless pas dipanggil sebagai pemenang,” tutur Richie, disetujui Yumna.

Richie Fane, mahasiswa Institut Teknologi Bandung yang membuat baterai organik berbahan dasar alga merah, Carragenergy. Bersama Yumna Dzakiyyah, kedua mahasiswa ini menang dalam kompetisi Schneider Electric Go Green 2021 tingkat Asia Pasifik

Schneider Go Green adalah kompetisi global untuk mahasiswa guna menemukan ide baru bagi masa depan dunia yang berkelanjutan dalam berbagai kategori, seperti akses terhadap energi. Hingga tahun 2020, sudah sebanyak 24.463 mahasiswa dari 172 negara menyumbang ribuan ide dalam kompetisi ini. Kompetisi ini juga mewajibkan agar setiap tim memiliki minimal satu anggota perempuan.

“Mahasiswa mendapat kesempatan untuk mengembangkan diri, menjalin network dengan ahli di industri, dan memenangkan trip internasional. Intinya adalah lomba ini untuk mahasiswa dan juga agar mereka bisa memberi ide terbaik dalam rangka energi efisiensi dan keberlanjutan di dunia,” ujar Zanuar Galang Bewana, Talent Acquisition and Employer Branding Schneider Electric Indonesia.

Galang melanjutkan, tidak menutup kemungkinan tim Schneider Electric Venture akan menginkubasi ide para peserta. Mahasiswa juga bisa mendapat kesempatan untuk bekerja di Schneider Electric setelah lulus.

Tim Carragenergy akan berkompetisi di Schneider Go Green 2021 tingkat global melawan tim delapan tim dari seluruh dunia pada 15 Juni 2021. Kita doakan yang terbaik untuk Yumna dan Richie!

Yumna Dzakiyyah

Lahir: Banjarbaru, 16 Januari 2001

Pendidikan: Mahasiswa Teknik Elektro ITB

Pengalaman:

Chief of Human Resources Akademis.id (2020-sekarang)
CEO Analyst Akademis.id (2019-2020)
Avionics Hardware Control Engineer Aksantara ITB (2020-sekarang)
Co-Founder dan Product Research and Development Associated GrowthLabs (2020-sekarang)
Paper, Project, and Competition Officer IEE ITB Student Branch (2020-sekarang)
Prestasi:

Penerima Teladan Leadership Program dari Tanoto Foundation
Runner Up Kedua Swiss Innovation Challenge Asia (2020)
Juara Pertama Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia (KMI) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2020)
Runner Up Pertama Ganesha Student Innovation Summit (2020)
Lima Besar National UAV Competition 2020  on Technology Development Flight Controller Category (2020)
Finalis Bandung Startup Pitching Day (2020)
 

Richie Fane

Lahir: Jambi, 30 Agustus 2001

Pendidikan: Mahasiswa Teknik Industri ITB

Pengalaman:

Business Transformation Intern Danone Indonesia (2021)
Student Consultant ShARE ITB (2020-2021)
Director of Human Resource ShARE ITB (2020-sekarang)
Director of Ideation GFD ITB (2020-2021)
Prestasi:

Campus Representative of Global Consulting Project ShARE Global (2020)
Penerima Sea Freshman Scholarship (2019)
Wakil 1 Bujang Kota Jambi (2018)

Editor: MARIA SUSY BERINDRA

Kenangan Asia Afrika

Gedung Merdeka, gedung bersejarah di Bandung 

Hotel Grand Preanger sebagai saksi sejarah  Konferensi Asia Afrika 1955, Bandung

Soekarno, presiden pertama RI sebagai pencetus Konferensi Asia Afrika


ANALISIS BUDAYA, Kompas 24 April 2021

Kenangan Asia Afrika

Meski peran Presiden Soekarno sering dibicarakan, Ali Sastroamidjojo telah berjasa menggagas, merintis, dan mengorganisasi Konferensi Asia Afrika. Ia seorang visioner dan diplomat ulung yang dimatangkan pengalaman.

Oleh: Linda Christanty

Langit kota Rabat biru cerah. Udara panas dan berangin di bulan Juni. Sopir taksi ini mengemudi Peugeot tuanya ke Kasbah Oudaya, benteng abad ke-12 yang menghadap Sungai Bou Regreg dan Samudra Atlantik Utara. Namanya Mohammed, orang Amazigh, suku asli Maroko. Ia sedikit menguasai  bahasa Inggris. Ketika saya menyebut asal negara, ia berseru, ”Soekarno!”

Setelah mobil memasuki kawasan tertentu, ia menunjuk papan nama jalan: Rue Soukarno, dalam huruf Arab dan huruf Latin. Katanya, seharusnya ada nama Jalan Asia Afrika untuk mengenang konferensi bersejarah. Ia membagi warisan memori tentang masa itu dengan rasa bangga. Maroko masih dijajah Perancis ketika mengirim peninjau ke Konferensi Asia Afrika pada 1955. Kemerdekaannya setahun kemudian.

Meski peran Presiden Soekarno sering dibicarakan, Ali Sastroamidjojo telah berjasa menggagas, merintis, dan mengorganisasi Konferensi Asia Afrika. Ia seorang visioner dan diplomat ulung yang dimatangkan pengalaman. Pergaulannya dengan kaum intelektual dan aktivis antikolonial Asia Afrika semasa kuliah hukum di Belanda menumbuhkan kesadaran serta tanggung jawab untuk membangun solidaritas antarbangsa agar bebas dari penjajahan dan penindasan. Pertemuan pemikiran dengan para pemimpin dunia ketika menjabat duta besar dan perdana menteri menguatkan tekadnya.

Perwujudan impian membutuhkan strategi saat dunia memasuki era Perang Dingin. Ali membicarakan idenya dengan empat perdana menteri sepemikiran, yaitu Pandit Jawaharlal Nehru dari India, Mohammad Ali Bogra dari Pakistan, Sir John Kotelawala dari Sri Lanka, dan U Nu dari Burma (nama lama Myanmar), seraya mengusulkan Indonesia jadi tuan rumah konsolidasi politik pertama itu.

Wildan Sena Utama, sejarawan dari Universitas Gadjah Mada, menulis buku tentang konferensi tersebut yang diterbitkan pada 2017, Konferensi Asia-Afrika,  1955: Asal-Usul Intelektual dan Warisannya bagi Gerakan Global Antiimperialisme. Dalam wawancara dengan situs Hubungan Internasional Indonesia, ia mengungkap sejumlah alasannya, termasuk ”fenomena sejarah yang memperlihatkan bahwa jaringan yang ditempa aktivis antiimperial/antikolonial Asia dan Afrika berujung pada satu momen pascakolonial penting di pertengahan abad ke-20, yaitu Konferensi Asia Afrika.”

Tahun lalu, sebelum pandemi, saya berkunjung ke Museum Konferensi Asia Afrika di Bandung, Jawa Barat, untuk melihat masa kini kita melalui masa silam. Bangunan bergaya art deco di kawasan Braga itu dulu bernama Gedung Merdeka. Pada 24 April 1980, Presiden Soeharto meresmikannya sebagai museum.

DOKUMENTASI SEMBILAN MATAHARI

Pertunjukan video mapping oleh studio kreatif Sembilan Matahari dalam rangka peringatan Konferensi Asia Afrika ke-60 tahun di Gedung Merdeka Bandung.

Konferensi berlangsung dari 18 April sampai 24 April 1955, dihadiri delegasi 29 negara dan para peninjau. Delegasi Indonesia dipimpin Ali, yang juga ketua umum konferensi. Ruslan Abdulgani menjabat sekretaris jenderal. Anggota delegasi berjumlah 33 orang, termasuk Menteri Luar Negeri Sunario, Silas Papare, Maria Ulfah Santoso, dan Achmad Soebardjo, Menteri Luar Negeri pertama Indonesia.

Kliping-kliping surat kabar dalam dan luar negeri pada dinding museum mengungkap sambutan ataupun reaksi di sejumlah negara. Surat kabar terbesar Sri Lanka, Ceylon Daily News, melansir berita dengan tajuk ”Bandung Mendukung Konferensi Regional dengan Syarat: Kolonialisme Dikecam di Segala Manifestasinya”. Judul berita surat kabar Amerika Serikat mencoba menepis kekhawatiran bangsa kulit putih yang dikaitkan dengan praktik kolonialisme Barat, ”Bahaya Perang Salib Anti-Putih akibat Perundingan Bandung Dianggap Terlalu Berlebihan”. Sinpo bernada optimistis, ”Bangsa Asia-Afrika Buka Lembaran Sejarah Baru di Bandung.”

Kolonialisme pun ditampilkan melalui reproduksi foto-foto hitam putih. Budak-budak Afrika berbaris, dengan leher dirantai sambung-menyambung. Lelaki dengan wajah tertutup keffiyeh, penutup kepala khas Timur Tengah, kecuali sepasang matanya, membopong bocah dalam pelukan.

Tragedi terjadi seminggu sebelum konferensi. Pada 11 April 1955, pesawat maskapai India, Khasmir Princess, yang terbang dari Hong Kong ke Jakarta meledak hingga jatuh di perairan Kepulauan Natuna. Delapan anggota delegasi China meninggal, juga dua jurnalis Austria dan Polandia. Pemerintah China menduga dinas rahasia Amerika Serikat dan pemimpin Taiwan, Chiang Kai Shek, terlibat.

Kehadiran Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri China Chou En Lai pun didahului silang pendapat. Nehru ingin mengundang China. U Nu sepakat. Mohammad Ali dan Kotelawala keberatan karena khawatir memengaruhi kesediaan hadir sejumlah negara yang cenderung di pihak Amerika Serikat atau blok Barat. Utusan Irak, Mohammad Fadhil El Jamali, mencemaskan komunisme. Dalam wawancara dengan jurnal Impact: International Fortnightly edisi 24 November-7 Desember 1972, El Jamali yang pernah menjabat Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Irak itu mengenang perdebatannya secara tertutup dengan Nehru di Bandung, ”Saya mengatakan, kolonialisme sudah pergi dan kami berhasil menghadapinya, tetapi komunisme adalah kolonialisme yang akan datang, dan lebih berbahaya.”

Masa kini Asia Afrika seharusnya lebih baik dibandingkan masa silam.

Empat tahun setelah konferensi, Nehru mengunjungi China untuk mempertanyakan batas wilayah India yang dilanggar. Namun, Chou menyatakan China tidak mengakui perbatasan warisan kolonial Inggris. Sengketa perbatasan itu belum berakhir. Burma pasca-U Nu menjalani masa suram hak-hak asasi manusia. Irak mengalami berkali-kali turbulensi yang melibatkan kekuatan besar dunia, begitu pula Iran. Hubungan Pakistan dan India suam-suam kuku. Situasi Indonesia diwarnai pasang surut demokrasi.

Dasa Sila Bandung disepakati pada akhir konferensi. Namun, pelaksanaan butir-butir pentingnya, yang meliputi menjunjung tinggi hak-hak dasar manusia sesuai Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa, menyelesaikan sengketa dengan jalan damai, dan menghormati hukum internasional menghadapi rintangan besar.

Saya masih sering teringat pertemuan dengan sopir taksi di Rabat beberapa tahun lalu. Masa kini Asia Afrika seharusnya lebih baik dibandingkan masa silam. Editor:SARIE FEBRIANE

Linen Three for your well sleep and better life


 


Founded and established in 2020, Linen Three is a luxurious bed and bath company providing comfort as its utmost priority. As one of the best linen suppliers, Linen Three's premium cotton delivers from high-quality duvet covers, fitted sheets, moltons, to embellished cushions and towels. 

With a passion of providing the best quality at an affordable price, Linen Three will bring relaxation, comfort and satisfaction to your homes like never before.

Sleep well, Live better.

Further Info: 0812 10105068