Showing posts with label UAE. Show all posts
Showing posts with label UAE. Show all posts

Kehidupan Ekonomi di Dubai

Konon dulunya Dubai merupakan sebuah perkampungan nelayan, dengan mata pencarian memancing ikan, membudidayakan mutiara, dan juga menggembala kambing dan domba. Hingga pada tahun 1830 diambil alih oleh suku Bani Yan yang dipimpin oleh keluarga Maktoum yang masih memerintah sampai saat ini. Sheikh Mohammad bin Rashid Al Maktoum adalah salah satu dari tujuh Sheikh yang tergabung dalam United Arab Emirates (UAE).

Dubai kiranya pernah berada di bawah protektorat Inggris, yaitu sejak adanya Exclusive Agreement tahun 1892. Seperti kebiasaannya Inggris memungkinkan sistem manajemen yang baik di negeri ini, utamanya di bawah pemerintahan Sheikh Al-Maktoum, yang istananya berada di muara Dubai Creek dengan kemewahan yang jangan ditanya.

UAE yang berpenduduk sekitar dua juta orang ini, singkatnya, digerakkan dengan uang rizki dari Allah, yang dihasilkan dari minyak dan gas, dengan mesin uang modern Barat yang diperuntukkan bagi kepentingan segelintir Sheikh (tujuh keluarga), dan tentunya sisanya untuk 400 ribu penduduk asli dan 1,5 juta penduduk pendatang.

Memang cukup banyak pendatang yang memenuhi negeri ini, antara lain dari India, Pakistan, Iran, Irak, Bangladesh, Nepal, Filipina dan sedikit dari Indonesia. Mayoritas pendatang didominasi oleh India, tampak dari penerbangan pesawat tiap harinya dari Dubai ke India selalu fully booked.

Peluang bagi orang Indonesia bekerja di Dubai sebenarnya besar karena masalah agama. Terbukti di sini orang-orang dari Cina dan Jepang tidak favour, padahal Cina terbilang cukup aktif menawarkan investasi. Problem Indonesia hanya bahasa, sedikit keterampilan, dan perlu biro jasa yang dapat menawarkan jasa mereka.

Pendapatan dari hasil bumi minyak dan gas UAE ini oleh para Sheikh juga dipergunakan untuk membangun berbagai infrastruktur, sarana pariwisata, perbankan, IT, dan lain-lain. Mereka juga berusaha mendorong kesejahteraan pribumi dengan memberikan gaji lumayan. Sebagai contoh, petugas imigrasi gajinya US$ 10.000 atau 30.000 Dirham, dan mereka juga dapat mengangsur rumah dengan harga US$ 20.000 dengan tanah seluas 500 – 1000 m², tapi tidak boleh diperjualbelikan lagi.

Yang terkenal selain Dubai adalah Abu Dhabi, yang jaraknya sekitar 170 km dari Dubai. Abu Dhabi adalah tempat Sheikh kedua terbesar di antara UAE dengan kekayaan yang tidak lebih sedikit, namun kalah pamor oleh Dubai karena proyek-proyek gemerlapnya.



(Hotel Burj Al Arab Terlihat dari Medina Al Jumeira)

Proyek-proyek raksasa baru di Dubai antara lain Hotel Burj Al Arab, Souk Madinat Jumeirah, Mall of the Emirates, Time Square, Mercato Mall, Karama Little India, Wafi City, Dubai Festival City yang kesemuanya terletak bukan di creek, melainkan di tepi teluk Arab dan di sebagian besar reklamasi pantai putih.

Transportasi cukup menjadi masalah di Dubai ini. Taksi yang ada hanya berjumlah sekitar 10.000, padahal yang diperlukan adalah dua kali lipatnya. Jadi, jika kita hendak naik taksi, butuh waktu menunggu kira-kira satu sampai dua jam. Untunglah saya tidak perlu naik taksi, karena telah ikut bus city tour yang selama delapan jam nonstop berkeliling kota untuk singgah di objek-objek penting.

Keadaan di bandara internasional Dubai, airport Sheikh Rashid, sangat ramai seperti pasar. Mungkin karena faktor geografis di mana Dubai menghubungkan antara benua Eropa dan Asia. Juga faktor flight fare ticket bussiness class Emirates setengahnya SQ, dengan pesawat-pesawat Boeing 777 yang semuanya baru, tidak seperti pesawat-pesawat umumnya di Indonesia. Mereka juga telah memesan Airbus 380 untuk beroperasi tahun ini.

Demikianlah tentang Dubai, dari sini kami akan menuju Pau, Prancis.

(DSP)

Pesona Teluk Dubai



Pepatah tak kenal maka tak sayang, rupanya berlaku juga buat Dubai.

Hari Senin pagi, di penghujung bulan Maret 2008, saya mendarat di kota yang merupakan bagian dari United Arab Emirates (UAE) ini. Yang saya tuju untuk menginap adalah Deira, yang terletak di bantaran teluk Dubai. Deira ini merupakan sebuah daerah tua yang terkenal, yang mengingatkan kepada daerah Glodok atau Pasar Baru di Jakarta.

Setelah check in di hotel Al Khaleej, saya pun mengikuti city tour selama delapan jam, dengan maksud ingin menyelami kota Dubai dalam waktu singkat.

Ternyata Dubai adalah sebuah creek atau teluk kecil, dengan lebar hanya puluhan meter dengan panjang sekitar dua kilometer. Di teluk inilah hingga kini menjadi pusat perdagangan antar pulau dan negara.

Hotel tempat saya menginap sangat dekat pelabuhan lama yang masih dioperasikan. Yang menarik adalah bahwa kapal-kapal tua tradisional masih berfungsi sampai sekarang. Kapal-kapal itu mengangkut bermacam kebutuhan logistik seperti makanan dan minuman, juga membawa bahan-bahan bangunan dan sebagainya.

(Angkutan Tradisional di Dubai Creek)

Di sana juga ada pasar rempah yang terkenal, yaitu Spice Market, dan juga pasar emas, yaitu Gold Souk, yang suasananya seperti pasar ikan di Jakarta Kota. Tersedia di sana emas 18 hingga 22 karat yang harganya sekitar 10% lebih murah dari harga di Jakarta.

Objek penting lainnya di sekitar Dubai Creek adalah sebuah teluk alam yang lebarnya kira-kira 50 m dengan panjang sekitar 1 km yang dikeruk dan bisa dilalui kapal seberat 500 ton. Dapat dinikmati pula pameran dari deretan kapal pesiar mewah beserta puluhan restoran terapung. Kisaran dinner cruise di sana adalah sekitar US$ 50-100, atau sekitar 150-300 Dirham (biasa disebut AED).

Selama ini orang mengenal UAE karena hal-hal yang secara fisik terlihat, misalnya penerbangan Emirates, hotel tertinggi di dunia, yaitu Burj Al Arab, dan proyek reklamasi pantai dengan desain palm tampak dari udara sebanyak tiga buah yang habis dalam waktu 24 jam, berkat ikon David Beckham. Di dekat hotel super tinggi ini berdiri kompleks Souk Madinat Jumeira, atau Pasar Kota Jumeirah, yaitu sebuah kompleks baru dengan suasana Arab yang kental, dan tampak asri dengan danau buatan di sekelilingnya.

Soal kuliner, di hotel Al Khaleej yang bertarif US$ 100 semalam ini sebenarnya menyediakan breakfast, namun saya lebih suka mencari makanan khas Iran yang tersebar di sekitar hotel. Ada swarma kambing dan ayam, yang dimakan dengan roti khasnya, dan salad serta kopi yang kesemuanya seharga tak lebih dari 10 Dirham saja.

Dubai di waktu Maghrib hingga malam secara umum seperti suasana di Mekah atau Jeddah, hanya dengan nuansa keislaman yang tidak sekental kedua kota suci itu.

Inilah sekelumit sosok Dubai, kota di mana para Sheikh telah memerintah secara turun temurun.

(DSP)