Sri Kurnawati Memberantas Buta Aksara di Jayapura

 “Buku adalah Jendela Dunia” 



Kita tentu sangat dekat dengan kalimat ini, dari usia sekolah. Dan hari ini, saya membaca kisah:

Sri Kurnawati Memberantas Buta Aksara di Jayapura yang ditulis oleh FABIO MARIA LOPES COSTA pada rubrik Sosok Harian Kompas, 2 September 2021, Sosok Kompas. Berikut kisahnya: 

 

Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Kasih terletak di pinggir jalan Trans-Papua yang menghubungkan Kota Jayapura ke Kabupaten Keerom, tepatnya di Kampung Biak, kawasan Abe Pantai, Distrik Abepura. TBM Kasih menempati ruang tamu dan halaman rumah Sri dan keluarga.

 

Suatu hari di akhir Juli, Sri beraktivitas bersama Vita Gasperz, salah seorang tenaga pendidik di TBM Kasih. Sekitar 30 menit kemudian, datanglah lima ibu yang bermukim di sekitar Kampung Biak. Mereka mengambil buku di perpustakaan TBM Kasih, lantas membaca buku-buku dengan beragam tema itu.


Kegiatan dilanjutkan dengan berlatih membuat puding cokelat.  Di bawah bimbingan tenaga pendidik TBM, mereka membaca dan berlatih keterampilan di sela-sela kesibukan sebagai ibu rumah dan pedagang di pasar tradisional.

 

Aktivitas para ibu itu disebut Program Noken Literasi. Program yang berlangsung setiap Jumat merupakan kerja sama antara Yayasan Mahkota Bunda dan TBM Kasih sejak tahun  2020. Tujuannya memberikan pengetahuan umum bagi para ibu lewat bacaan dan meningkatkan aneka keterampilan mulai membuat kue hingga kerajinan tangan.

 

Sementara itu, Vita dan para ibu berlatih membuat puding, Sri pergi ke sebuah pondok sekitar 100 meter dari TBM Kasih. Biasanya pondok itu digunakan sebagai tempat pertemuan masyarakat setempat. Di sana, Sri membantu tiga sukarelawan TBM Kasih yang sedang mengajar 20 anak kampung membaca dan menulis. Peserta berusia 5 tahun sampai 10 tahun.

Sri menggelar tikar dan mulai ikut mengajar anak-anak. Kegiatan dilakukan dengan memperhatikan protokol kesehatan selama pandemi Covid-19. Setiap anak wajib menggunakan masker saat mengikuti kelas literasi bersama Sri. Ketika waktu menunjukkan pukul 17.30 WIT, Sri dan para sukarelawan mengakhiri kegiatan dan pulang ke rumah masing-masing.

 

Sri mengajar baca-tulis dan terlibat dalam Program Noken Literasi tanpa dibayar. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia mengandalkan gajinya sebagai guru honorer yang mengajar matematika di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Jayapura sejak 2019.

 

Dari pasar

Lahirnya TBM Kasih berawal ketika Sri menggelar program literasi bagi masyarakat yang bermukim di sekitar Pasar Youtefa pada awal 2019. Saat itu Sri masih bergabung sebagai tenaga pengajar lembaga Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Puspita.

 

PKBM Puspita adalah lembaga mitra pemerintah daerah setempat yang mempersiapkan masyarakat untuk mengikuti pendidikan kesetaraan Paket A untuk jenjang sekolah dasar hingga Paket C di jenjang SMA. Sri bergabung dengan lembaga PKBM untuk program kesetaraan pendidikan sejak 2017.

 

Di sana, Sri menemukan banyak anak berusia di atas 10 tahun yang belum lancar membaca dan menulis. Kenyataan itu mengusik hati Sri. Ia pun terdorong untuk membeli pelajaran baca tulis secara sukarela bagi anak-anak di sekitar rumah Sri di Kampung Biak. Agar niatnya bisa diwujudkan, ia berdiskusi dengan para tokoh masyarakat di Kampung Biak, tempatnya bermukim. Niat Sri didukung dan disambut antusias oleh masyarakat. Mereka juga mengizinkan Sri untuk menggunakan pondok sebagai tempat belajar.


Sri memutuskan berhenti bekerja di PKBM Puspita agar bisa fokus dengan kegiatan sosialnya. Pada Juni 2019, ia mulai berkeliling kampung sambil membawa buku pelajaran. Ia mengumpulkan anak-anak untuk mengikuti kegiatan belajar  baca tulis. Awalnya,  hanya 10 anak yang tertarik mengikuti kegiatan itu. Seiring waktu, peserta bertambah hingga 50 anak tahun ini.

 

”Banyak anak yang merasakan dampak positif setelah mengikuti kegiatan ini. Mereka dapat mengenal huruf, membaca dan menulis dalam waktu beberapa bulan saja,” ungkap Sri.

 

Maret 2020, Sri memutuskan untuk mendirikan TBM Kasih. Ia mendapatkan bantuan banyak buku dari sejumlah donatur dan Dinas Pendidikan, Perpustakaan, dan Arsip Daerah Provinsi Papua. Saat ini TBM Kasih mengoleksi 1.500 buku  dengan berbagai tema.

 

Penulis buku berjudul Semangat Literasi di Tengah Pandemi (2020) ini sering memublikasikan kegiatan mengajar baca-tulis di Kampung Biak melalui media sosial. Dari situ, sejumlah orang dengan latar belakang berbeda-beda tertarik membantu Sri dan TBM Kasih. Akhirnya, bertambah lima tenaga pendidik yang secara sukarela membantu Sri. Pelajar, mahasiswa, dan warga secara umum juga kian banyak datang ke TBM Kasih untuk membaca.

 

Namun, seiring melonjaknya kasus Covid-19 di Provinsi Papua, kegiatan pembelajaran untuk anak dan kaum ibu di pondok tersendat. Bahkan, memasuki Agustus 2021, kegiatan terpaksa dihentikan untuk menghindari penyebaran Covid-19. Meski begitu, Sri masih menggelar kegiatan belajar membaca dan menulis di rumahnya  pada Senin hingga Jumat setiap pukul 15.00 WIT. Kegiatan digelar di ruang perpustakaan TBM Kasih yang hanya seluas 9 x 6 meter. Jumlah anak yang dapat mengikuti kegiatan hanya lima orang dengan mengikuti protokol kesehatan.

 

”Kami akan membuka kembali kegiatan Noken Literasi dan kegiatan belajar di pondok setelah kasus Covid-19 di Kota Jayapura turun. Semangat masyarakat di sini untuk belajar sangat tinggi,” ungkap Sri.

 

Selain pandemi, TBM Kasih menghadapi persoalan klasik, yakni fasilitas yang minim. Rak buku yang dimiliki minim. TBM Kasih pun belum memiliki komputer. Itu sebabnya, pembelajaran jarak jauh belum bisa dilakukan. ”Anak-anak tidak memiliki telepon seluler ataupun komputer untuk mengakses pendidikan secara daring. Karena itu, mereka sangat membutuhkan kegiatan belajar secara tatap muka,” tutur Sri.

 

Di tengah keterbatasan, Sri dan para sukarelawan di TBM Kasih tetap semangat berjuang demi memberantas buta aksara di Kota Jayapura. Atas hasil kerja kerasnya bersama tim pengajar, TBM Kasih meraih penghargaan juara satu Perpustakaan Umum Desa, Kelurahan Kampung Terbaik Tingkat Provinsi Papua pada 2021.

 

”Saya berharap TBM Kasih terus berkontribusi untuk dunia pendidikan di tanah Papua. Anak-anak Papua harus menguasai literasi secara lebih dini agar mengikuti kegiatan belajar di sekolah dengan mudah,” harap Sri.

 

Editor:

BUDI SUWARNA

Avip Priatna: Penghargaan Duta Budaya




Kompas, 24 Juli 2021 

Avip Priatna: Penghargaan Duta Budaya

oleh NINOK LEKSONO


Avip Priatna bersama grupnya, melalui kiprahnya selama bertahun-tahun dalam bidang musik, tidak pernah melupakan hubungannya dengan Austria. Ia memajukan kerja sama dan pertukaran budaya antara Indonesia dan Austria.

Konduktor dan pimpinan paduan suara ternama Maestro Avip Priatna, Kamis (22/7/2021), mendapatkan Penghargaan Emas (Decoration of Honor in Gold) dari Pemerintah Austria untuk sumbangsihnya dalam memajukan kebudayaan di antara kedua bangsa. Penghargaan diserahkan di Jakarta oleh Wakil Duta Besar Austria Phillip Rossl.

Dalam sambutannya, Wakil Dubes Rossl mengatakan, Avip bersama grupnya juga melalui kiprahnya selama bertahun-tahun dalam bidang musik tidak pernah melupakan hubungannya dengan Austria. Ia memajukan kerja sama dan pertukaran budaya di antara kedua negara, antara lain dengan mendatangkan seniman dari Austria ke Indonesia dan sebaliknya.

”Melalui karya yang luar biasa ini, Anda benar-benar telah menjadi duta budaya Austria di Indonesia, mempromosikan Austria sebagai negara musik dan kebudayaan,” tambah penjelasan dari Pemerintah Austria.

Atas penghargaan yang ia terima, Avip mengatakan, ”Penghargaan itu untuk kita semua.” Ia tak lupa mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang selama ini mendukung kiprahnya.

Selama pandemi Avip bersama orkestra yang ia dirikan dan ia pimpin, Jakarta Concert Orchestra, terus bergiat menyelenggarakan konser meski secara daring. Setelah konser Beethoven Forever, Avip yang juga Direktur Studio Musik Resonanz mengangkat musik karya WA Mozart ”Amadeus”, lalu menayangkan ulang konser ”When You Wish Upon A Star”, dan akhir pekan (24 dan 25 Juli 2021) Avip dan JCO akan menggelar konser ”I See A Star” menampilkan The Resonanz Children’s Choir.

Di antara sukses yang pernah ditorehkan Avip adalah membawa paduan suara Batavia Madrigal Singers yang ia dirikan tahun 1996 (sebelumnya sukses membina Paduan Suara Universitas Parahyangan Bandung) memenangi lomba bergengsi dunia, seperti 57th Certamen Internacional de Habaneras y Polifonia di Torrevieja, Spanyol (2011), di mana Avip selaku dirigen juga meraih penghargaan sebagai Konduktor Terbaik.

Kesuksesan telah diraih, tetapi Avip masih ingin terus belajar, berbagi, dan menyajikan musik agar setiap orang bisa menikmatinya.

Editor: MOHAMMAD HILMI FAIQ

Persahabatan Antarbangsa lewat Musik

 



Magelang, Kompas, Jumat 25 Juni 2021

Lebih dari 200 alat musik tergambar di 40 panel relief Candi Borobudur , Kabupaten  Magelang, Jawa Tengah. Alat-alat musik itu tak hanya ada di Indonesia , tetapi juga belahan dunia lain, seperti China, India, dan Mesir. Hal itu berpotensi jadi inspirasi memperkuat persahabatan antar bangsa melalui musik.

Hal itu dibahas dalam Konferensi International Sound of Borobudur MUSICoverNATIONS bertema “Menggali Jejak Persaudaraan Lintas Bangsa Melalui Musik”, Kamis (24/6/2021), di Balai Ekonomi Kecamatan Borobudur, Magelang. Konferensi diadakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama Yayasan Padma Sada Svargantara dan Kompas Group, secara luring dan daring.

Relief pada candi itu mengindikasikan bahwa Borobudur pada 13 abad lalu jadi pusat musik dunia. Seiring berjalannya waktu, alat musik itu tersebar tidak hanya di Jawa, tetapi menyebar ke 34 provinsi dan sedikitnya 40 negara. Penyebaran terjadi melalui jalur perdagangan laut.

Ketua Yayasan Pada Sada Svargantara, Purwa Caraka, menuturkan ada ratusan gambar alat musik di lebih dari 40 panel relief di Candi Borobudur. Mayoritas alat musik itu ditemukan di 34 provinsi di Indonesia dan di 40 negara lain. “Belum ditemukan di tempat lain ada siplay (tampilan) sekian banyak alat musik beserta pemainnya seperti di Candi Borobudur,” kata Purwa.

Alat musik relief di Candi Borobudur itu terdiri dari alat musik petik, pukul, tabuh, dan tiup. Salah satu alat musik di relief yang ditemukan di Indonesia dan mirip dengan alat musik negara lain, yakni garantung, serta mirip ranat ek di Thailand, marimba (Kongo), dan balafon (Gabon).

Margaret Katomi, guru besar emeritus di Sir Zelamn Cowen School of Music and Performance, Monash University, Australia, menjelaskan alat musik di relief candi umumnya dimainkan untuk upacara, perayaan, atau hiburan. Ia memprediksi penggunaan alat-alat musik, antara lain untuk ritual pembersihan desa dari roh jahat. “Instrumen musik di relief Borobudur, termasuk variannya di daerah lain, mengindikasikan ada perdagangan sekaligus instrumen musik sebagai obyek sacral masyarakat,” ujarnya.

Memainkan kembali

Purwa menuturkan, selama ini, relief bergambar alat musik itu hanya jadi sumber pengetahuan pasif. Karena itu, sejumlah musisi dan tokoh lain menggagas untuk menghidupkan alat-alat musik yang tergambar di relief Borobudur melalui gerakan Sound of Borobudur.

Selain Purwa Caraka, sejumlah musisi lain terlibat dalam Sound of Borobudur, misalnya penyanyi Trie Utami dan gitaris Dewa Budjana. Alat-alat musik pada relief Borobudur diproduksi lagi demi membuat

 komposisi musik.

“Usaha membunyikan alat-alat musik ini lewat proses panjang. Ada banyak alat musik diproduksi, direproduksi, direka ulang, dicari ke pelosok negeri, dipastikan bunyinya, dimainkan, dan dibuat komposisi dengan interpretasi tertentu,” kata Purwa, yang juga komposer musik.

Kolaborasi

Setelah komposisi itu berhasil dibuat, Sound of Borobudur mengajak musisi dari sejumlah negara lain berkolaborasi untuk memperkuat persahabatan bangsa-bangsa.

“Setelah melalui kajian ilmiah sebagai penguatan landasan, kami ingin mengeksplorasi untuk menunjukkan keterkaitan dengan bangsa lain dan persahabatan antar-bangsa melalui musik yang dijalin sejak dulu,” ujarnya.

Trie Utami mengatakan, sejumlah musisi dsri 11 negara berkolaborasi dengan Sound of Borobudur antara lain dari Jepang, Laos, dan China.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno mengatakan, Candi Borobudur merupakan mahakarya yang menyimpan pengetahuan serta peristiwa masa lalu. “Borobudur menyimpan 1.460 relief. Narasi visual panel relif sarat pengetahuan dan seni.” Ujarnya. (SKA/HRS)   


Setangkup Burger Ini untukmu

Bagi saya burger adalah makanan yang mudah divariasikan isiannya sehingga berbagai jenis varian dapat dikreasikan untuk memenuhi selera pecinta burger. Salah satunya adalah lawless Burger, sebuah nama yang dapat dibilang baru dalam dunia kuliner namun mampu menarik perhatian banyak dari pecinta kuliner. Di bawah ini tulisan menarik tentang burger, sumber tulisan dari kolom GAYA HIDUP,Kompas, 6 Juni 2021.





Setangkup Burger Ini untukmu

Burger-burger lokal muncul dengan narasi kesehatan dan kebaikan hidup. Di luar mengurusi produk utama secara serius, mereka leluasa membuat gimik yang pas untuk target pasarnya.

Oleh HERLAMBANG JALUARDI/DWI AS SETIANINGSIH/RIANA A IBRAHIM

Gelombang burger merek lokal hampir mirip dengan yang terjadi pada komoditas kopi beberapa tahun belakangan. Masing-masing jenama punya cirinya sendiri, bahkan ciri yang sangat khas koki peraciknya. Di luar mengurusi produk utama secara serius, mereka leluasa membuat gimik yang pas untuk target pasarnya.

Pada Minggu (30/5/2021) selepas tengah hari, Amalia Puri datang ke gerai Lawless Burgerbar di daerah Kemang, Jakarta Selatan. Setelah memarkir mobilnya lewat jasa valet karena kehabisan tempat parkir reguler, dia memesan burger favoritnya, Sabbath Burger. Biasanya dia pesan ukuran single—takaran satu daging patty. ”Tapi, di toko cuma bisa pesan yang double,” ujarnya.

Walhasil, dia harus membayar Rp 82.600 termasuk kutipan pajak untuk makan siangnya di hari libur itu. Harga dasar Sabbath Burger ukuran double adalah Rp 68.000. Ditambah dengan tarif parkir Rp 10.000 untuk pesan bawa pulang, dia mengeluarkan uang Rp 92.600. Tarif parkir mobil layanan valet untuk makan di tempat Rp 25.000.

Bagi pekerja lembaga nirlaba ini, biaya segitu tergolong mahal. Makanya, jajan burger Lawless biasanya sehabis gajian. ”Harganya memang mahal, tapi layak. Ya, ini adalah makanan mewah, untuk momen tertentu saja,” lanjutnya.

Menu favoritnya itu adalah burger keju. Namun, bagi lidahnya, cita rasanya lengkap, tak sekadar asin dari keju American cheddar dan gurihnya daging sapi berbumbu. Bawang bombai yang dipakai telah digoreng terlebih dulu dan dikaramelisasi (caramelized). Jika acar di burger lain selalu disingkirkan, Amalia melahap habis acar pada burger Sabbath. Dengan kelengkapan nuansa rasa itu, dia memberi gelar Sabbath sebagai burger terenak yang pernah dia makan di Indonesia.

Sabbath adalah satu dari tiga menu burger terfavorit di seluruh gerai Lawless yang beroperasi sejak 2018 ini. Dua lainnya adalah Motley Burg seharga Rp 74.000 di luar pajak, dan yang terbesar sekaligus termahal, The Lemmy (Rp 135.000). Satu menu burger lainnya yang bertahan sejak Lawless berdiri adalah pilihan para vegetarian, Joey Bellodona (Rp 47.000).

”Ini (Joey) adalah menu permintaan gue,” kata Roni Pramaditia, salah satu dari enam punggawa Lawless Burgerbar, dan satu-satunya yang tidak makan daging. Medhina Purwadi, rekannya, memilih jamur portobello sebagai pengganti patty daging. ”Gramasinya sama dengan patty versi daging, sih, sekitar 120 gram,” kata Medhi.

Medhi, yang sebelumnya membuka restoran steak ini, bilang, perlakuan pada jamur portobello dan daging sapi sebagai patty mirip-mirip. Keduanya sama-sama dipanggang dengan imbuhan bumbu dasar seperti lada, garam, cabai, dan bawang. Hasilnya, panggangan patty jamur dan daging sapi berkarakter juicy, alias cenderung basah.

Bergeming urusan musik

Roni bilang, seluruh penyedia (vendor) bahan burger berasal dari dalam negeri. Selada romain ditanam sendiri di kebun dapur sentral, walau baru bisa memasok kebutuhan gerai Kemang saja. Daging sapinya bukan sapi impor. ”Yang pasti impor adalah musiknya,” seloroh Arian Arifin, alias Arian13, pendiri Lawless juga.

Musik adalah komponen penting buat produk makanan Lawless. Nama-nama menunya berkonotasi kancah metal. Penggemar band Motley Crue, misalnya, bisa langsung mengidentifikasi asal nama burger Motley Burg. Setiap gerainya memutarkan lagu-lagu rock dan heavy metal pilihan Arian dan Sammy Bramantyo, rekannya. Mereka berdua adalah separuh band kencang Seringai.

Banyak ulasan di internet yang memuji rasa burgernya tapi mengutuk pilihan musiknya. Ada juga ulasan satu bintang yang mengkritik cita rasa makanan, sekaligus menghujat kebisingan lagunya. Untuk urusan musik mereka bergeming. Malahan, ulasan sumbang satu bintang itu diabadikan menjadi desain kaus Lawless Burgerbar. Kaus itu laris.

Benar, kedai burger ini punya produk turunan berupa kaus, seperti layaknya band saja. Mereka mengakui, perangkat pemasaran mereka berkaca dari yang dilakukan banyak band, seperti membuat acara, menjual kaus, dan membagikan stiker.

Di awal masa pandemi tahun lalu, misalnya, mereka menganggarkan hampir Rp 100 juta ”hanya” untuk mencetak segepok gambar tempel. Salah satu desainnya bersih dari merek, cuma tulisan ”Corona Virus Sucks”—mewakili kegeraman banyak orang pada wabah virus itu.

Dekorasi gerai, bonus stiker, bungkus kertas bergambar tengkorak, dan humor mereka pada heavy metal mungkin dianggap sebagian orang sebagai gimik. Tapi, semua trik itu berbanding lurus dengan kualitas produk utamanya, yaitu burger. Tak heran, mereka bisa menjual rata-rata 50.000 porsi burger dalam sebulan, dan sepertinya sebentar lagi layak menjadi ”oleh-oleh khas Jakarta”.

Burger biar bugar

Sebaliknya, merek 2080 Burger (dibaca Twenty Eighty Burger) yang bermula di Pecatu dan Canggu, Bali pada awal 2020, telah ”menginvasi” sekitaran Jakarta. Mereka membuka cloud/ghost kitchen (gerai tanpa fasilitas nongkrong) di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Mulai Maret 2020, 2080 Burger buka gerai di Fresh Market di Bintaro, Tangerang Selatan.

Lokasi gerai itu telah identik sebagai tempat nongkrong warga sekitar Jabodetabek di sela-sela berolahraga. Akhir pekan, mulai Jumat hingga Minggu adalah saat paling ramai. Sejak pagi banyak pesepeda dan pelari yang mampir. Burger mereka dicitrakan sebagai kudapan sehat.

Penamaan ”2080”, kata salah satu pendirinya Heru Dwi Soesilo, mengacu pada 20 persen lemak dan 80 persen protein dalam daging sapi murni asal Australia yang dipakai sebagai patty-nya. Menurut mereka, komposisi itu sesuai kebutuhan lemak dan protein bagi tubuh. Dengan kata lain, daging yang mereka pakai memenuhi syarat baik untuk dikonsumsi.

Sayurannya semua organik. Untuk gerai di Bintaro, sayuran didapat dari petani sayur organik di daerah Bogor. Sementara untuk gerai di Bali pasokan sayuran berasal dari petani di Bedugul. Konsep sehat itu menarik perhatian, dan memantik pujian.

”Kalian harusnya bisa dapat Michelin Star,” kata Heru, menirukan pujian dari Chef Javier, koki andal di restoran milik Gordon Ramsey di London, yang kini bermukim di Bali. Javier, bersama para surfer, atlet, dan foto model jadi pelanggan 2080 Burger. Javier bahkan rutin jajan di 2080 Burger hampir tiga hari sekali.

Banyak atlet datang ke 2080 setiap habis olahraga di sasana. Bila sedang tidak membutuhkan protein tinggi dari daging sapi, mereka tetap bisa menikmati burger ikan atau ayam. Minumnya pun teh kombucha.

”Jadi, pola hidup mereka tetap terjaga. Proteinnya dapat, healthy-nya juga dapat. Kalau di Bali, narasi bahwa burger itu nggak sehat udah patah, sih,” kata Heru.

Panggang dulu

Selain lekat dengan citra sehat, produk mereka juga dikenal atas aroma panggangannya yang kuat (smokey). Sebut saja salah satu menu favorit, El Matador. Selain berisi ”komponen dasar” burger, seperti patty, beef bacon, keju, selada romaine dan tomat, terselip pula kerpik tortilla yang renyah dan potongan cabai jalapeno. Dua bahan khas Meksiko menambah meriah rasa burger.

Saat digigit, keripik tortilla dan cabai jalapeno-nya seperti menggigit balik. Sensasi renyah dan pedas asam mengisi rongga mulut. Paduan daging patty yang cenderung berair (juicy) dan beef bacon yang kering menambah keseruan mengunyah. ”Enak nih. Dagingnya empuk, juicy. Aroma smokey-nya juga kuat,” kata Hadi (43), salah seorang konsumen 2080 Burger.

Aroma bebakaran itu muncul karena bahan-bahannya—mulai dari patty, sayuran sampai roti—telah diasapi terlebih dulu menggunakan alat panggang gaya barbekyu. Arang yang dipakai adalah arang dari kayu kopi, sehingga aromanya wangi dan tahan lama. Mereka mengeklaim sebagai pionir metode ini dalam penyajian burger.

”Sampai kalau cegukan, berasa aroma smokey di tenggorokan, jadinya keinget terus burgernya,” kata Heru. Pantaslah mereka berani mengusung slogan ”smokey burger specialty”.

Menu lain yang digemari adalah Say Cheese, yang dari namanya ketahuan ini adalah burger keju. Selain memakai daging sapi Australia, rasa asin gurih diperoleh dari paduan keju philly, dan saus keju. Rotinya memakai bun yang bau dan rasanya seperti susu. Tampilannya menjulang. Harganya terentang dari Rp 69.000 untuk ukuran single, sampai Rp 129.000 ukuran triple.

Mereka juga punya menu khusus Onde Mande Burger yang berisi daging rendang, juga Hang Loose Burger yang pattynya terbuat dari paduan daging sapi dan seafood. Nonpemakan daging tentunya bakal memilih menu Mofajun, karena ini adalah burger vegan.

Roti segar

Kedai Dope Burger & Co di daerah Menteng, Jakarta Pusat juga patut dicoba. Kedai yang berdiri sejak 2018 ini punya 13 pilihan menu berbahan utama daging sapi Australia, dan roti brioche sebagai bun. Kelebihan lainnya terdapat pada racikan saus barbekyu dengan potongan cabai jallapeno. Kalau potongan jallapenonya tergigit rasanya bikin kaget tapi enak.

Menu yang pakai saus ini adalah burger Redemption yang masih ditambahi saus khas racikan mereka. Sedangkan menu The Multisensory pakai saus sriracha dan saus aioli sehingga nuansa rasanya jadi pedas dan gurih sekaligus. Saus sriracha yang khas Thailand itu juga dipakai di menu The Yolk, yang isinya pakai daging, hash brown (semacam perkedel), telur mata sapi, tumisan jamur, juga keju. Ketiga menu itu jadi favorit.

”Menu-menu yang ada di sini tentu dijajal terlebih dulu, dan juga melihat dari beberapa tren di luar negeri,” kata salah satu pemilik Dope Burger & Co, Andre Morgan. Daging dari Australia dipilih karena teksturnya lembut untuk diolah menjadi patty, serta gampang didapat dengan harga dan kualitas bagus.

Urusan roti, yang jadi komponen penting setiap burger, dipilih dengan cermat. Saban hari, roti brioche produksi rumahan dengan taburan wijen selalu datang dalam keadaan segar. ”Roti ini dipilih yang homemade dan selalu baru untuk menjaga kualitas rasa dan kesegarannya. Sayurannya juga demikian,” tutur Andre.

Roti brioche juga dipakai Flip Burger, yang berdiri sejak 2016. Bedanya, roti mereka tanpa wijen. Jenis roti asal Perancis ini dipilih karena kaya kandungan mentega (butter). Roti itu jadi lembut dan gurih manis setelah dipanggang. Roti yang dipakai Flip Burger bikinan Animo Bakery, milik Muhammad Abgari, alias Agam.

”Pada dasarnya Flip itu gabungan dari tukang daging dan tukang roti. Saya di Holycow!, Agam di Animo,” kata Afit D Purwanto, salah satu pendiri Flip Burger.

Sebagai ”tukang daging”, Afit jadi tahu benar bagian sapi mana yang paling tepat dipakai. ”Untuk patty, itu campuran ada yang bagian brisket, pundak, dan yang terpenting harus memiliki kandungan lemak sehingga kelembutan tekstur dan cita rasanya menonjol,” katanya.

Pengetahuan akan asal-usul makanan ini tak disediakan restoran waralaba internasional zaman dulu. Burger hari ini jadi menambah wawasan pelahapnya, sekaligus menambah berat badan, tentunya.

Editor: MOHAMMAD HILMI FAIQ


YUMNA DZAKIYYAH DAN RICHIE FANE CIPTAKAN BATERAI ORGANIK DARI ALGA MERAH






Kompas, 30 Mei 2021

Oleh: ELSA EMIRIA LEBA

Mimpi akan adanya baterai ramah lingkungan menjadi selangkah lagi akan terwujud. Yumna Dzakiyyah (20) dan Richie Fane (19) menggarap proyek baterai organik dari tumbuhan rumput laut. Prototipe baterai karya dua anak bangsa ini bahkan menang dalam kompetisi Schneider Go Green 2021 tingkat Asia Pasifik.

Pembuatan baterai selalu merusak lingkungan akibat penambangan. Sementara itu, penanganan limbah baterai di Indonesia masih buruk karena masih mencemari lingkungan dan mengganggu kesehatan masyarakat sekitar. Padahal, baterai mengandung berbagai macam logam berat, seperti merkuri, mangan, timbal, nikel, lithium, dan kadmium.

Dalam artikel Lead Exposure From Battery Recycling in Indonesia oleh Budi Haryanto (2016), terdapat lebih dari 200 smelter ULAB (used lead acid battery) ilegal di Indonesia. Penelitian ini menemukan, penduduk di dekat smelter berisiko tinggi mengalami masalah kesehatan kronis.

Karena itu, Yumna dan Richie, sebagai Tim Carragenergy, berusaha membuat baterai ramah lingkungan menggunakan ekstrak alga merah (karagenan atau carrageenan). Alga merah dipilih setelah dua mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) ini melakukan studi literatur mendalam, termasuk membandingkannya dengan material selulosa dan kitosan.

“Kami membawa ide baterai isi ulang organik. Inovasi ini memanfaatkan bahan organik, yaitu elektroda organik dan biopolimer elektrolit solid-state yang menggunakan karagenan. Secara garis besar, kami ingin menggeser energi agar lebih hijau dan ramah lingkungan,” kata Yumna dalam wawancara virtual eksklusif yang diselenggarakan Schneider Electric Indonesia, Jakarta, Senin (24/5/2021).

Tampilan protitipe baterai Carragenergy jenis AA, baterai organik dari alga merah, buatan dua mahasiswa Institut Teknologi Bandung, Yumna Dzakiyyah dan Richie Fane. Mereka menang dalam kompetisi Schneider Electric Go Green 2021 tingkat Asia Pasifik

Dalam paparan Yumna dan Richie, prototipe baterai Carragenergy berbentuk seperti baterai jenis AA konvensional. Mengandung 87,6 persen konten lokal, komponen baterai ini terdiri dari katoda, anoda, elektrolit, serta pemisah dan pembungkus dari plastik daur ulang. Satu prototipe baterai ini berisi satu gram karagenan.

Tim Carragenergy telah melakukan tes open-circuit voltage dan tes lampu LED untuk mengetahui daya baterai itu. Hasilnya, tegangan listrik prototipe baterai Carragenergy dalam kondisi terbaik bisa mencapai 1,57 volt. Ini lebih baik dibandingkan baterai dari bahan organik lainnya yang sekitar 0,8 volt. Sebagai perbandingan, baterai AA di pasaran biasanya memiliki tegangan 1,5 volt.

Baterai organik itu unggul dari segi keamanan, keberlanjutan, dan ekonomi karena tidak mengandung logam berbahaya. Elektrolit solid-state dalam baterai membuat jumlah material aktif lebih sedikit sebab tidak ada cairan dalam baterai. Isu kebocoran baterai bisa terhindari dan bobot baterai menjadi lebih ringan.

Ditambah lagi, pembuatan baterai organik itu bisa lebih murah karena berasal dari sumber daya alam terbarukan yang banyak tersedia di Indonesia. “Proses pembuatan, penggunaan, dan pengolahan baterai ini bisa lebih ramah lingkungan sekaligus mengurangi kecelakaan dalam pengolahan limbah,” tutur Richie.

Prototipe baterai Carragenergy rencananya masih akan melalui beberapa fase uji coba yang sedikit terhambat akibat pandemi. Yumna sedang berada di Kalimantan Tengah sementara Richie pulang ke Jambi. Keduanya sulit melakukan uji coba lanjutan di laboratorium kampus untuk mengetahui kualitas baterai dalam ruangan terkondisikan.

Namun, mereka optimistis dengan masa depan proyek ini. Baterai Carragenergy diproyeksikan bisa menjadi baterai isi ulang sebab bahan elektroda yang dipilih adalah bahan untuk baterai sekunder. Yumna dan Richie juga ingin menggali lebih jauh tentang pengembangan baterai ini menjadi baterai kecil jenis lainnya serta pengolahan limbah baterai sebagai pupuk atau pakan ikan.

Yumna Dzakiyyah, mahasiswa Institut Teknologi Bandung yang membuat baterai organik berbahan dasar alga merah, Carragenergy. Bersama Richie Fane, kedua mahasiswa ini menang dalam kompetisi Schneider Electric Go Green 2021 tingkat Asia Pasifik

Meraih juara

Proyek pengembangan baterai alga merah berawal dari niat Yumna dan Richie mengikuti Schneider Go Green 2021. Dalam tim yang terbentuk sejak Desember 2020 ini, Yumna berperan sebagai peneliti dan pengembang produk (R&D), sedangkan Richie menjadi ahli strategi dan analis bisnis.

Mereka mengeksplorasi banyak ide untuk diajukan ke kompetisi yang digelar secara virtual ini, seperti teknologi pemanen energi dari sol sepatu, aspal, dan sel surya. Setelah berkonsultasi dengan beberapa dosen, mereka menggali lebih jauh potensi baterai organik berbahan dasar alga merah. Prototipe baterai digarap mulai Maret 2021.

Dibantu dosen ITB dan mentor dari Schneider Electric, tim Carragenergy mengalahkan kampus lainnya, seperti Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Udayana, dan Universitas Prasetiya Mulya, dalam lomba tingkat nasional. Mereka melaju ke kompetisi tingkat kawasan melawan delapan negara Asia Pasifik, seperti Korea Selatan, Singapura, dan Australia, dan berhasil menang, April lalu.

“Proses perjalanannya panjang dan persaingannya ketat tetapi kami mendapat kesempatan untuk terekspos ke peserta lainnya. Bahkan penjuriannya sampai overtime jadi terasa deg-degan terus kami sampai speechless pas dipanggil sebagai pemenang,” tutur Richie, disetujui Yumna.

Richie Fane, mahasiswa Institut Teknologi Bandung yang membuat baterai organik berbahan dasar alga merah, Carragenergy. Bersama Yumna Dzakiyyah, kedua mahasiswa ini menang dalam kompetisi Schneider Electric Go Green 2021 tingkat Asia Pasifik

Schneider Go Green adalah kompetisi global untuk mahasiswa guna menemukan ide baru bagi masa depan dunia yang berkelanjutan dalam berbagai kategori, seperti akses terhadap energi. Hingga tahun 2020, sudah sebanyak 24.463 mahasiswa dari 172 negara menyumbang ribuan ide dalam kompetisi ini. Kompetisi ini juga mewajibkan agar setiap tim memiliki minimal satu anggota perempuan.

“Mahasiswa mendapat kesempatan untuk mengembangkan diri, menjalin network dengan ahli di industri, dan memenangkan trip internasional. Intinya adalah lomba ini untuk mahasiswa dan juga agar mereka bisa memberi ide terbaik dalam rangka energi efisiensi dan keberlanjutan di dunia,” ujar Zanuar Galang Bewana, Talent Acquisition and Employer Branding Schneider Electric Indonesia.

Galang melanjutkan, tidak menutup kemungkinan tim Schneider Electric Venture akan menginkubasi ide para peserta. Mahasiswa juga bisa mendapat kesempatan untuk bekerja di Schneider Electric setelah lulus.

Tim Carragenergy akan berkompetisi di Schneider Go Green 2021 tingkat global melawan tim delapan tim dari seluruh dunia pada 15 Juni 2021. Kita doakan yang terbaik untuk Yumna dan Richie!

Yumna Dzakiyyah

Lahir: Banjarbaru, 16 Januari 2001

Pendidikan: Mahasiswa Teknik Elektro ITB

Pengalaman:

Chief of Human Resources Akademis.id (2020-sekarang)
CEO Analyst Akademis.id (2019-2020)
Avionics Hardware Control Engineer Aksantara ITB (2020-sekarang)
Co-Founder dan Product Research and Development Associated GrowthLabs (2020-sekarang)
Paper, Project, and Competition Officer IEE ITB Student Branch (2020-sekarang)
Prestasi:

Penerima Teladan Leadership Program dari Tanoto Foundation
Runner Up Kedua Swiss Innovation Challenge Asia (2020)
Juara Pertama Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia (KMI) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2020)
Runner Up Pertama Ganesha Student Innovation Summit (2020)
Lima Besar National UAV Competition 2020  on Technology Development Flight Controller Category (2020)
Finalis Bandung Startup Pitching Day (2020)
 

Richie Fane

Lahir: Jambi, 30 Agustus 2001

Pendidikan: Mahasiswa Teknik Industri ITB

Pengalaman:

Business Transformation Intern Danone Indonesia (2021)
Student Consultant ShARE ITB (2020-2021)
Director of Human Resource ShARE ITB (2020-sekarang)
Director of Ideation GFD ITB (2020-2021)
Prestasi:

Campus Representative of Global Consulting Project ShARE Global (2020)
Penerima Sea Freshman Scholarship (2019)
Wakil 1 Bujang Kota Jambi (2018)

Editor: MARIA SUSY BERINDRA