Showing posts with label Culture. Show all posts
Showing posts with label Culture. Show all posts

Ruang Bersama yang Menginspirasi

Oleh DWI AS SETIANINGSIH Usianya baru 1,5 tahun. Namun, Paviliun 28 yang dikelola duet Eugene Panji dan Nova Dewi ini sudah berhasil memosisikan diri sebagai ruang bersama yang tak sekadar mempertemukan, tetapi juga memberi bobot bagi pertemuan-pertemuan kaum urban Jakarta dari berbagai komunitas.
KOMPAS/LUCKY PRANSISKA

Paviliun 28 berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 350 meter persegi di Jalan Petogogan 1, Jakarta. Bangunannya terdiri atas dua lantai dengan penanda yang sangat menarik mata berupa pintu besar bercat merah yang kontras.

Lantai bawah merupakan Bar Jamu yang menyajikan jamu dan berbagai jenis makanan khas Indonesia yang bisa dinikmati di bar atau meja kursi yang tersedia di lantai tersebut. Ada juga beberapa ruangan untuk penyewa (tenant) dan sebuah elemen penting dari bangunan itu, yaitu bioskop berkapasitas 40 orang yang terletak di bagian belakang.

Di lantai atas ada ruang rapat, ruang operator, dan taman mini yang mengalirkan udara segar ke dalam ruangan. Siapa saja boleh menggunakan ruang rapat, termasuk yang ingin sekadar kongkow-kongkow di taman. ”Bebas, asal bertanggung jawab,” kata Eugene.

Saat tak ada acara yang digelar, orang bisa sekadar makan, minum, dan ngobrol-ngobrol saja. Beberapa di antaranya melakukannya sambil membuka laptop dan mengobrol serius, membiarkan suara musik mendominasi ruangan.

Ketika sebuah acara tengah digelar, jangan ditanya seperti apa suasananya. Seluruh bagian ruangan akan penuh sesak, nyaris tak menyisakan ruang untuk bergerak.

”Tempat ini dibuat sebagai entry point buat new comer. Siapa new comer-nya, ya merangkul teman-teman yang hidupnya di industri kreatif atau yang tertarik sama industri kreatif. Siapa pun itu,” ungkap Eugene.

Gagasan tentang keberadaan Paviliun 28 itu berawal dari mimpi Eugene yang sejak dulu sangat ingin memiliki bioskop. ”Banyak pelaku industri film mengeluh karena bioskop dimonopoli si A, atau si B. Namun, mereka tidak berbuat apa-apa, misalnya membuat optional medium untuk menayangkan film mereka,” kata Eugene.

Dengan gagasan memberi ruang alternatif untuk film itulah, pada tahap awal Paviliun 28 banyak mengakomodasi acara untuk orang-orang yang bergerak di industri film. Misalnya memutar film-film yang bagus, tetapi tak mendapat cukup tempat di bioskop, termasuk di antaranya film Senyap karya Joshua Openheimer dan film Nay karya Djenar Maesa Ayu.

Nyatanya, pemutaran film yang diikuti interaksi dengan sutradara dan pemain-pemain film itu menyedot animo luar biasa. Dari situ lalu lahir acara lain yang juga terus menyedot perhatian massa. Seperti acara pembacaan puisi dan acara musik yang menghadirkan beragam penampil, salah satunya White Shoes and The Couples Company.

Belakangan, setiap Kamis malam ada Jazz Malam Jumat yang menghadirkan Agam Hamzah, termasuk musisi-musisi cilik yang tampil di Paviliun 28 sebagai ajang belajar tampil di depan audiens. Pengalaman-pengalaman tampil seperti itu menjadi hal yang sangat berharga, mengingat tak banyak tempat yang mau memberi ruang bagi para pendatang baru.

Aktivitas yang menyedot animo kaum urban Jakarta tersebut lambat laun menjadikan Paviliun 28 sebagai basis bagi berbagai komunitas. ”Kami sendiri surprised. Sejak bulan pertama sampai hari ini, tempat ini selalu ramai dikunjungi berbagai komunitas,” kata Eugene.

Hal itu, menurut Nova, menjadi bukti bahwa anak-anak muda memang mencari wadah agar bisa saling menginspirasi dan selalu mencari ruang untuk mengaktualisasi diri dengan segala sesuatu yang terhubung dengan mereka. ”Enggak usah jauh-jauh, kadang ada anak-anak SMK jurusan film yang datang ke sini hanya untuk ketemu dengan pembuat film. Jadi, mereka ke sini sekadar untuk foto dengan Riri Riza atau Mira Lesmana,” tambah Eugene.

Dari sisi itu, tambah Nova, Paviliun 28 tak sekadar memberi ruang untuk pertemuan-pertemuan yang menginspirasi, tetapi juga berperan mengecilkan kesenjangan antara figur publik dan komunitasnya. ”Karena anak-anak muda kan butuh idola, jadi perlu sosok yang bisa menginspirasi mereka. Nah, kami di sini menghadirkan mereka untuk mengecilkan gap itu karena sosok-sosok seperti mereka kadang sulit dijangkau,” kata Nova.

Belajar terus

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA

Baik Eugene maupun Nova sepakat, siapa pun bisa tampil atau membuat acara di Paviliun 28 tanpa ditarik biaya alias gratis. Imbal balik yang ditetapkan lebih berupa kesediaan berbagi ilmu dari para pengisi acara kepada yang hadir agar setiap orang memiliki kesempatan untuk belajar, terus dan terus.

”Selama kegiatan yang digelar berhubungan dengan seni dan budaya, kami akan support. Tetapi kalau komersial, memang akan ada biaya yang ditarik. Ya, fair-fair saja,” kata Eugene.

Belakangan, seiring popularitas Paviliun 28, banyak orang tertarik menggunakannya sebagai tempat untuk merayakan ulang tahun hingga acara pernikahan. Ada juga sekelompok ibu yang menyewa bioskop untuk memutar film yang ingin mereka tonton. ”Walaupun enggak sering-sering amat supaya tempat ini enggak beralih fungsi,” kata Eugene.

Sejauh ini keduanya sepakat tak mau menjadikan Paviliun 28 sebagai ruang dengan batas-batas formal karena ada banyak komunitas yang tak punya wadah dan harus dirangkul. Harapannya agar mereka tidak merasa sebagai komunitas yang sendirian.

Yang jelas, mengelola tempat seperti Paviliun 28 harus sepenuh hati. ”Kami berdua banyak bantu juga karena tidak banyak tim yang terlibat dan banyak yang free juga sehingga kami kerap terlibat di belakang layar. Kalau enggak sepenuh hati, ya, enggak bisa,” tambah Nova.

Yang jelas, setiap pertemuan yang terjadi harus dapat membuat setiap orang belajar. Eugene mencontohkan staf-staf Paviliun 28 yang dulunya tak punya banyak kemampuan, kini menguasai banyak hal, mulai dari menjadi pelayan, kasir, hingga menjadi sound engineering.

”Ini semua benar-benar setara, semua orang di sini dapat kesempatan belajar dengan porsi yang sama sesuai kebutuhan masing-masing. Yang punya belajar terus, yang kerja juga, yang datang juga belajar terus,” kata Eugene.

Paviliun 28 barangkali menjadi satu dari banyak ruang publik yang dibutuhkan untuk mewadahi ekspresi kaum urban. Di situ, ruang diperlakukan sebagai bagian penting dari kehidupan sehari-hari yang membutuhkan keguyuban gaya urban.

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA

Sumber: Kompas, 6/3/2016


Bali Emerging Writers Festival 2011


Bali Emerging Writers Festival (BEWF) 2011, diadakan pada tanggal 27-29 Mei 2011 di Serambi Arts Antida, Jl. Waribang No. 32, Sanur Denpasar. Didukung penuh oleh Ubud Writers & Readers Festival (Yayasan Mudra Swari Saraswati)


Bali Emerging Writers Festival (BEWF) sebuah festival bagi penulis muda, merupakan gagasan Janet De Neefe, pendiri Ubud Writers and Readers Festival.

BEWF dirancang untuk menjadi wahana dialog dan saling berbagi pemikiran bagi para penulis muda Bali, dan juga diharapkan akan mampu menjadi ajang pendewasaan diri bagi para penulis muda Bali serta media untuk menularkan kecintaan mereka terhadap sastra kepada para pelajar dan mahasiswa.



Sarapan di Sanur Beach Hotel dengan Dorothea Rosa Herliany

Dorothea Rosa Herliany, lahir di Magelang 20 Oktober 1963. Karyanya dimuat disejumlah media di Australia, Jerman, Jepang, Korea, Vietnam, Usa, Italia, Inggris. Menerima penghargaan dari Menteri Lingkungan Hidup RI (1994), buku puisi terbaik Dewan Kesenian Jakarta (2000). Pengarang terbaik Pusat Bahasa (2003), serta penghargaan seni dari Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata RI (2004).


Akar Narwastu

Akar Narwastu aktif melatih musik untuk musikalisasi puisi, menyanyi & berteater. Karya yang telah ditulis diantaranya Mei, Suara Hati, Kopi Pagi Ini, Sayap-sayap cahaya, Cindel Jepit, Ibu Pelacur, dll

Suasana diskusi dengan Harian Bali  Post & Majalah Rolling Stone

Minum teh sore di Sanur Beach Hotel dengan Iyut Fitra (kiri)


Iyut Fitra penyair terkemuka dari Payakumbuh. Buku kumpulan puisi yang sudah terbit, Musim Retak (2006). Sangat fasih membacakan sajak Alm. Chairil Anwar yang juga sekampung dengan Iyut di Payakumbuh.

Ayu Diah Cempaka (kanan)

Ayu Diah Cempaka lahir di Gianyar 18 Juli 1993, peserta termuda di Festival. Mengenal sastra & jurnalistik sejak bergabung dengan teater lingkar dan team sekolah SMP 2 Denpasar. Saat SMA aktif di Madyapadma Journalistic Park yang juga mengenalkannya pada film dokumenter. Tahun 2010 meraih The Best Documentary Film HIV/AIDS The Bodyshop Documentary Film Competition.

Kelinci Emas yang Tenang


Menyongsong perayaan Imlek, masyarakat Tionghoa di Yogyakarta berharap tahun baru China mendatang situasi sosial politik bangsa Indonesia tak lagi bergejolak seperti halnya Tahun Harimau 2010. Pada Tahun Kelinci 2011, situasi Indonesia diharapkan lebih tenang. Meski demikian, kewaspadaan tetap harus diutamakan.

”Pada Tahun Kelinci 2011, kami berharap situasi sosial politik Indonesia lebih tenteram dan jangan lagi bergejolak. Yang terpenting dari segalanya adalah bagaimana mengusahakan adanya perbaikan ekonomi masyarakat,” kata Ketua Paguyuban HAKA Yogyakarta Suryadi Suryadinata, Senin (31/1) di Yogyakarta.

Sebagai salah satu tokoh masyarakat Tionghoa di Yogyakarta, Suryadi mengharapkan, tahun ini pemerintah lebih memfokuskan diri dalam pelayanan kepada masyarakat. Menurut dia, pergolakan politik dengan segala macam kepentingan di dalamnya justru akan mengorbankan kepentingan masyarakat banyak.

Sementara itu, Ketua Umum Paguyuban Budi Abadi Hop Hap Hwe mengungkapkan, pengharapan untuk berubah harus ada di tahun baru China. Ia mencontohkan, salah satu perubahan nyata harus dilakukan oleh pemerintah.

”Selama ini, banyak politikus yang terlalu mengutamakan citra diri tanpa memerhatikan kepentingan masyarakat. Mereka harus berjuang untuk diri sendiri ataukah masyarakat? Jika kepentingan pribadi masih diutamakan, permasalahan negeri ini tidak akan selesai,” ujarnya.

Hop Hap Hwe mengatakan, situasi politik Indonesia hingga saat ini belum stabil. Salah satu penyebabnya adalah masih adanya sikap-sikap mementingkan kepentingan pribadi dan golongan.
”Di tengah situasi seperti ini, kami masyarakat Tionghoa lebih enak bergerak di sektor-sektor lain yang tidak bersentuhan dengan politik, seperti seni, budaya, ekonomi, dan budaya,” ungkapnya.

Hop Hap Hwe mengakui, budaya dan tradisi politik di Indonesia belum sepenuhnya terbuka bagi masyarakat etnis Tionghoa. Meski demikian, hal ini tak menjadi masalah baginya. Prinsipnya, jika mau berkiprah, masyarakat umum pasti akan menerima tanpa memerhatikan faktor etnis atau kesukuan.

”Jika kita berpikir sederhana dan jujur, orang akan menerima pula dengan penuh kesederhanaan dan kejujuran,” tambah Hop Hap Hwe.

Sementara itu, Suryadi menambahkan, sulitnya akses masyarakat etnis Tionghoa ke ranah politik merupakan warisan sejarah. Menurut dia, untuk mengikis stigma ini, masyarakat Tionghoa harus melakukan perubahan sikap secara internal.

”Meski di depan hukum status kami sama dengan masyarakat lainnya, dunia politik masih menjadi semacam trauma bagi masyarakat Tionghoa karena dulu kelompok ini banyak dijadikan sebagai kambing hitam dalam politik. Perubahan harus dimulai dari masyarakat Tionghoa sendiri dengan berlaku baik dan berbaur ke masyarakat umum. Kami sendirilah yang terlebih dulu harus memulai,” ungkapnya.

Sama seperti perayaan-perayaan pergantian tahun lainnya, momen Imlek juga menjadi momen pengharapan bagi masyarakat Tionghoa, begitu juga masyarakat pada umumnya. Roberto, warga etnis Tionghoa Yogyakarta, berharap, tahun baru mendatang situasi Indonesia akan lebih tenang, adil, dan makmur. Tentu saja situasi ini harus dialami dan dirasakan siapa pun tanpa terkecuali.

Sesuai dengan personifikasi kelinci yang tenang dan lembut, pada Tahun Kelinci 2011 masyarakat Tionghoa memiliki harapan baik bagi situasi negeri ini. Meski demikian, semuanya juga harus menjaga kewaspadaan jika sewaktu-waktu timbul kejutan- kejutan dari loncatan-loncatan sang kelinci.
(Aloysius B Kurniawan)

Pesan Terakhir Burung Merak

Kenangan dan Kesepian 


Rumah tua dan pagar batu
Langit desa sawah dan bambu
Berkenalan dengan sepi pada kejemuan disandarkan dirinya
Jalanan berdebu tak berhati lewat nasib menatapnya
Cinta yang datang burung tak tergenggam
Batang baja waktu lengang dari belakang menikam
Rumah tua dan pagar batu
Kenangan lama dan sepi yang syahdu

Penyair yang selalu seperti mengepakkan sayapnya saat-saat membacakan puisi itu telah pergi. Mungkin keadaannya sebagaimana yang ia gambarkan dalam puisinya di atas.


WS Rendra bersama istri-istrinya, Sunarti (kanan) dan Sitoresmi (belakang), serta sebagian anak- anaknya.


Pesan terakhir ayahandanya, menurut Clara, hanya ingin tanah di Citayam seluas 6 hektar, di mana Bengkel Teater Rendra beralamat, dihutankan. Rendra sudah menanam ratusan pohon ulin dan eboni, yang tidak boleh ditebang sampai berusia 20 tahun. Dan tidak ada pesan apa pun dari Rendra menyangkut kelanjutan Bengkel Teater Rendra.

”Papa itu sebagai ayah sangat unik. Dia mengekspresikan perhatiannya dengan cara unik, jujur menghadapi situasi kehidupannya. Papa selalu ke saya, bahkan untuk hal yang sangat pribadi,” tutur Clara.

Sedang Rachel melihat Rendra sebagai a complete man. ”Dia itu orang lengkap, figur ayah, teman, dan guru. Saya anak beruntung karena tidak semua anak mempunyai pergaulan kreatif dengan ayahnya,” kata Rachel.

Minta lagu

Saat-saat dirawat di rumah sakit, kata Rachel, ia selalu diminta ayahnya menyanyikan lagu Don’t Cry for Me Argentina yang dipopulerkan Madonna lewat film Evita Peron. Lagu itu, kata Rachel, mewakili perasaan ayahnya dalam menjalani hari-harinya di rumah sakit. ”Rendra menyadari sakitnya mungkin tak bisa disembuhkan, tetapi semangatnya tetap kuat,” tutur Rachel, yang menetap di Yogyakarta.

Bengkel Teater Rendra memang satu cita-cita yang diwujudkan. Komunitas ini dibangun Rendra sebagaimana ia juga menyuarakan soal-soal kehidupan dalam komunitas manusia. Sitok bahkan menggambarkan Rendra adalah guru yang mengajarkan tentang keberanian hidup.

Keberanian itulah, yang menurut sahabat terdekat Rendra, budayawan Emha Ainun Nadjib, dihancurkan ketika ia sedang berbaring di rumah sakit. Rendra secara fisik memang sudah berumur, tetapi dia terlahir dengan semangat hidup menyala. ”Nah, jika semangat hidupnya yang dihancurkan, tahulah apa jadinya...,” tutur Emha. (XAR/IAM)

oleh Putu Fajar Arcana & Ninuk M Pambudy

Dikutip dari: Kompas, 9 Agustus 2009

Karena Namanya Tertulis di Langit

Mengenang Rendra adalah mengenang keberaniannya menerobos batas dan kebebasannya berkreasi. Bukankah kebebasan berpikir dan keberanian melakukannya yang membawa perubahan?


Jenazah almarhum penyair WS Rendra diusung menuju masjid untuk dishalatkan sebelum dimakamkan di padepokan seni Bengkel Teater di Citayam, Depok, Jawa Barat, Jumat (7/8). Rendra meninggal Kamis malam pada usia 74 tahun akibat serangan jantung.

Aktor Ikranegara telah bergaul dengan Rendra sejak 1960-an. Ketika Rendra pulang dari belajar di The American Academy of Dramatic Art di New York, Amerika, tahun 1967, Ikra melihat Rendra mengejutkan publik dengan mementaskan teater di luar cara yang dikenal selama ini.

”Dia membawa teater tanpa dialog dengan seminim mungkin menggunakan suara. Goenawan Mohamad kemudian memberi nama teater mini kata,” kata Ikra, yang saat itu menjadi wartawan lepas.

Pemimpin Redaksi Majalah Prisma Daniel Dhakidae yang mengenal Rendra sejak awal 1967-an saat kuliah di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, melihat Rendra sebagai sosok yang melawan feodalisme yang kental di Yogyakarta, tempat Bengkel Teater berada. Karena itu, Rendra mengeluarkan pernyataan tentang kebudayaan Jawa seperti kasur tua yang harus dirombak. Tetapi, itu menurut Daniel menjadi energi kreatif Rendra yang melawan budaya yang dia anggap sebagai penghalang. Daniel mencontohkan puisi ”Khotbah” yang terdapat di dalam Blues untuk Bonnie (1971).

Bagi sastrawan Danarto (69), Rendra adalah sosok seniman yang, selain menghasilkan bentuk-bentuk baru, juga mewakili suara hati masyarakatnya.

Danarto yang mengenal Rendra sejak 1958 terlibat dalam produksi Oedipus Rex pada tahun 1962 di Yogyakarta sebagai produser dan art director. Penerima Penghargaan Achmad Bakrie 2009 ini menyebut Rendra sebagai pujangga dengan semangat melakukan perubahan sosial.

Lalu, apakah seorang seniman dapat mengubah kedaan, seperti yang dikhawatirkan pemerintahan Orde Baru sehingga perlu memenjarakannya selama enam bulan pada tahun 1978?

”Saya tidak percaya seniman akan mengubah keadaan, seperti yang terjadi pada revolusi. Peran Mas Willy sebagai seniman adalah memberi visi, arah perjalanan bangsanya,” kata Danarto.

Apabila pengaruh Rendra terasa begitu luas dan dalam, Danarto mengatakan, ”Karena nama Rendra sudah tertulis di langit.” (NMP/CAN/IAM)

Dikutip dari: Kompas, 9 Agustus 2009

Inspirasi dari Rendra


Pentas puisi Rendra di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, tahun 2005
foto:KOMPAS/DANU KUSWORO

Di balik pesona sebagai ”Burung Merak”, almarhum WS Rendra adalah pekerja seni budaya yang teguh memperjuangkan cita-cita. Melintasi berbagai tekanan ekonomi dan politik, Bengkel Teater-nya menancapkan tonggak penting teater modern serta melahirkan sejumlah seniman kuat di Tanah Air.

”Bersumpahlah.... Jangan bikin grup teater.... Hasilnya apa? Jangan nulis sastra.... Gajinya tak seberapa. Tidak ada kesempatan beridealisme di Indonesia,” kata Narti. Demikian catatan Rendra mengutip ancaman istri pertamanya, Sunarti, dalam buku Rendra dan Teater Modern Indonesia (editor Edi Haryono, tahun 2000).

Ancaman itu dilontarkan Narti ketika Rendra baru pulang studi dari American Academy of Dramatic Arts di New York, Amerika Serikat, tahun 1967. Namun, ternyata larangan itu didobrak, bahkan kemudian Narti ikut hanyut dalam idealisme jalan kesenian.

Masa sulit

Karena semua anggota belum bekerja dan sehari-hari hanya berlatih teater, Rendra menanggung makan mereka. ”Saya tanya, ’Mau makan apa?’. Rendra bilang, ’Sudah, pokoknya makan di rumah’. Dan saya tahu persis, banyak kawan disuruh Rendra menggadaikan apa saja, termasuk piring makan Mbak Narti,” tutur Amaq Baldjun, anggota Bengkel Teater sewaktu bermarkas di Yogyakarta.

Sitok Srengenge, penyair dan anggota Bengkel Teater, mengenang bagaimana seorang Rendra menekankan kebersamaan dan ketahanan dalam segala situasi. Seluruh anggota, misalnya, hanya boleh punya dua celana. Jika lebih, harus diberikan kepada kawan lain. ”Tujuannya, mengajarkan kesederhanaan. Kata Rendra, kegagahan dalam kemiskinan,” kenang Sitok.

Setelah tahun 1989, anggota teater mencapai sekitar 30 orang dan sebagian tinggal di bengkel. Setelah keuangan membaik dan dengan manajemen keuangan lebih profesional, anggota dapat uang transpor dan uang saku untuk keluarga. ”Bagi Rendra, berkesenian adalah jalan hidup dan kami bisa hidup dari karya seni,” kata Edi menambahkan.

Bengkel Teater terakhir kali pentas dengan lakon Sobrat tahun 2005. Setelah itu, tak ada lagi pentas atas nama kelompok ini karena biaya pentas semakin mahal dan sulit mencari sponsor. Rendra kemudian memilih banyak tampil membaca puisi, mengunjungi kelompok seni di daerah-daerah, dan berceramah.

Sosok Rendra bersama Bengkel Teater-nya telah menjadi kawah penggodok beberapa seniman penting di Tanah Air. Beberapa anggota Bengkel yang kemudian tumbuh menjadi seniman mandiri, sebut saja, antara lain, dramawan dan penyair Putu Wijaya, sutradara Chaerul Umam, aktor Amaq Baldjun, Edi Haryono, penyair Sitok Srengenge, dan aktor Adi Kurdi.

”Kehidupan dan kesenian Rendra itu sangat impresif dan inspiratif bagi anggota teater dan para seniman lain, mungkin juga siapa pun yang pernah menjumpainya,” kata Adi Kurdi, anggota Bengkel saat masih di Yogyakarta.
(Ilham Khoiri/ Putu Fajar Arcana/ Ninuk Mardiana Pambudy)

Dikutip dari: Kompas, 9 Agustus 2009

Hati Nurani Rendra Memilih Jalan Seni yang Terlibat...

...Inilah sajakku

pamflet masa darurat
Apakah artinya kesenian
bila terpisah dari derita lingkungan
Apakah artinya berpikir
bila terpisah dari masalah kehidupan...

Penggalan puisi WS Rendra berjudul ”Sajak Sepasang Lisong”, yang ditulis tahun 1978, tadi seolah menjelaskan seluruh kerja kesenian yang ditekuni lelaki berjuluk ”Si Burung Merak” ini sejak masih sangat belia.

Dramawan WS Rendra bersama anak-anak dari Sanggar Teater Jakarta ketika mementaskan "Saatnya Mendengar Suara Anak-anak" pada Parade Teater Anak di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Minggu (22/7). Pementasan itu dilaksanakan dalam rangka menyemarakkan Hari Anak Nasional 2007

Seni tidak berhenti pada bentuk estetika, tetapi ia menjadi seruan hati nurani yang berfungsi kritis, profetik. Seni, apa pun bentuknya, harus selalu berpikir kontekstual dan terlibat. Tidak hanya dalam puisi, karya drama pendiri Bengkel Teater Rendra ini juga menunjukkan kecenderungan serupa. Ia misalnya melahirkan SEKDA, Mastodon dan Burung Kondor, serta Perjuangan Suku Naga.

”Tidak berlebihan jika dikatakan pada sosok Rendra kesenian setiap kali berfungsi sebagai nurani peradaban. Orang menjadi merenung, berefleksi, atau becermin pada karya Rendra,” kata guru besar filsafat Universitas Parahyangan, Bandung, Bambang Sugiharto.

Bukan politikus

Penangkapan dan pemberangusan pentas-pentas Rendra justru telah menempatkannya pada kutub ”oposisi” dengan pemerintahan Orde Baru.

Budayawan dan anggota awal Bengkel Teater Rendra saat bermarkas di Yogyakarta, Bakdi Soemanto, melihat posisi yang melawan kekuasaan itu membuat Rendra menjadi besar. ”Ia bukan politikus,” kata Bakdi.

Menurut Bakdi, Rendra menganggap seni bukan art, tetapi juga masalah bangsa, manusia, dan kehidupan. ”Ia sangat perhatian pada soal-soal hidup manusia, masyarakat, ketertindasan, dan ketersingkiran,” ujar Bakdi.

Satu hal yang sebenarnya dirindukan Rendra adalah keseimbangan, adil, merdeka, punya banyak pilihan, membela kehidupan dan memiliki banyak harapan, serta tak ada penindasan.

Pekerjaan besar yang ”diwariskan” Rendra kepada kita adalah penyadaran harga diri bangsa, keberpihakan kepada hidup, keberanian, dan menolak menjadi koma.


Siswa dan guru SMA Pangudi Luhur Santo Yosef, Solo, Jawa Tengah, melepas kepergian WS Rendra dengan menggelar musikalisasi puisi karya Rendra di halaman sekolah, Jumat (7/8). Selain membaca puisi, mereka juga mendoakan agar arwah Rendra diterima di sisi-Nya. Rendra alumnus sekolah ini.

Kini ”Si Burung Merak” itu terbaring abadi di tempat ia mengonkretkan cita-citanya membentuk komunitas yang berpikir bebas, disiplin, penuh kreativitas berpikir, dan sederhana.

Penyair Sitok Srengenge mengakui Bengkel Teater Rendra adalah universitas sejati, tempat ia belajar hidup. ”Kami diajar berani menghadapi hidup,” ujar Sitok.

Rendra kini boleh tiada, tetapi semangatnya tetap hidup. Di Bengkel Teater Rendra, misalnya, semalam masyarakat spontan bertahlil, sementara keluarga bertahlil di rumah putri Rendra, Clara Shinta, di Depok.

Karyanya mungkin tidak dinilai dari pentas ke pentas, tetapi pada kelahiran seniman dan intelektual yang kini mendorong gerbong kebudayaan kontemporer di mana kita hidup. (CAN/NMP/XAR/IAM)

Dikutip dari: Kompas, 8 Agustus 2009

Artikel terkait:

Rendra: Saya Sangat Bahagia

In Memoriam Rendra: Tanahku, Hutanku, Kuburanku