Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Tidak Akan Ada Hotel Modern di Kawasan Muarajambi

Kompleks Candi Kedaton di Kawasan Cagar Budaya Nasional Muarajambi di Desa Danau Lamo, Kecamatan Maro Sebo, Muaro Jambi, Jambi, Selasa (7/5/2024).


 

MUARO JAMBI, KOMPAS — Pengembangan Kawasan Cagar Budaya Nasional Muarajambi dilakukan selaras dengan kearifan lokal dan kekhasan masyarakat adat setempat. Karena itu, di kawasan ini tidak akan dibangun hotel-hotel modern. Para pengunjung bisa merasakan suasana keheningan di pusat pendidikan Buddha peninggalan abad ke-6 ini dengan menginap di rumah-rumah adat dan tempat penginapan khas Jambi.

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah V Jambi Agus Widiatmoko mengatakan, Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muarajambi hanya berjarak sekitar 15 kilometer dari Kota Jambi dan bisa dijangkau dengan mudah karena terhubung oleh jalan nasional. ”Pembangunan hotel atau penginapan modern di kota saja. Jangan sampai investor membangun hotel-hotel dengan membeli lahan-lahan di desa sehingga delapan desa penyangga KCBN Muarajambi tetap memiliki kekhasan dengan rumah-rumah adat panggung mereka dan penginapan-penginapan khas Jambi yang dikelola BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) setempat,” ucapnya, Kamis (6/6/2024) di Kabupaten Muaro Jambi, Jambi.

Menurut Agus, rata-rata luas permukiman masyarakat desa di sekitar KCBN Muarajambi hanya sepertiga dari total luasan desa. Dengan demikian, masyarakat ataupun BUMDes masih bisa memanfaatkan lahan mereka untuk membangun tempat penginapan bernuansa adat Jambi.

”Kami sudah rintis BUMDes agar bisa mengoordinasi pembangunan rumah adat atau membuat penginapan yang memiliki kekhasan Jambi. Harapannya, ini akan mendukung kemajuan desa dan ke depan anggaran BUMDes juga bisa menyokong pendanaan kegiatan-kegiatan desa, pendidikan anak usia dini, madrasah, panti asuhan, dan juga guru-guru di desa yang selama ini jauh dari sejahtera,” tambahnya.


Seperti Angkor Wat
Penasihat Arsitektur pembangunan Museum KCBN Muarajambi, Yori Antar, sepakat menjaga keselarasan Muarajambi dengan kearifan lokal masyarakat setempat. “Biarlah hotel dibangun di luar kawasan ini. Yang kita garap di sini seperti Angkor Wat (Kamboja) saja. Di Angkor Wat, hotelnya semua, kan, di Siem Reap, tidak ada hotel di Angkor Wat,” ujarnya.

Menurut Yori, di Muarajambi, arsitektur-arsitektur adat khas Jambi akan diangkat lagi. Rumah-rumah panggung akan dikelola menjadi tempat penginapan. Dengan demikian, masyarakat akan ikut menikmati “kue pariwisata”.

Biarlah hotel dibangun di luar kawasan ini. Yang kita garap di sini seperti Angkor Wat (Kamboja) saja. Di Angkor Wat, hotelnya semua, kan, di Siem Reap, tidak ada hotel di Angkor Wat.

“Secara sosial, mereka ikut menjadi pendukung, bukan penonton. Homestay ini bisa masuk program Kementerian PUPR, bangunannya kita arahkan. Sekarang, kita sekarang sedang menggali lagi arsitektur rumah-rumah adat di sekitar Muarajambi,” ucap Yori.

Yori bersama tim kini sedang membangun Museum KCBN Muarajambi di atas lahan seluas 25 hektar. Luasan kompleks museum sekitar 10 hektar, yang terdiri dari museum, laboratorium, tempat studi merdeka belajar, galeri, dan tempat pameran.

Sekarang, di antara situs Muarajambi sedang dibangun jalan dengan resapan berupa kerikil, bukan konblok. “Bangunan-bangunan yang tidak relevan kita bongkar. Situs-situs sekarang terasa lebih luas, dan narasi yang kita pertahankan adalah suasana hutan,” kata Yori.

Menurut Yori, ada tiga hal yang penting untuk dijaga di Muarajambi, yaitu situs, alam, dan sosial budaya. Selain menjaga situs, alam juga harus dilestarikan sehingga pohon-pohon yang ada di kawasan ini tetap diperhatikan. Namun, kondisi sosial budaya masyarakat di sekitarnya juga harus dirawat.“Koleksi museum akan terus bertambah karena temuan-temuan baru terus muncul. Muarajambi menjadi laboratorium lapangan yang sangat besar. Tempat ini akan dikembalikan menjadi tempat pendidikan,” paparnya.

Pembangunan Museum KCBN Muarajambi berlangsung sekitar dua tahun. Namun, penataan KCBN Muarajambi ditargetkan akan selesai dalam tiga bulan ke depan.Terkait pembangunan museum, Koordinator Program Studi Arkeologi Universitas Jambi Irsyad Leihitu berpendapat, museum tidak cuma berfungsi melindungi sejarah masa lalu, tetapi juga mencatat sejarah masa sekarang. “Dengan menciptakan sejarah kecil dari masyarakat Jambi, hal itu bisa membuat museum ini semakin relevan, baik untuk warga setempat maupun wisatawan,” katanya.

Museum KCBN Muarajambi nantinya tidak hanya difungsikan untuk menyimpan artefak. Berbagai budaya masyarakat akan ditampilkan di sana. Selain itu, museum ini akan menjadi ruang belajar untuk berbagai bidang ilmu, seperti arsitektur, arkeologi, antropologi, dan botani.

Pengembangan KCBN Muarajambi juga perlu dibarengi dengan peningkatan kapasitas masyarakat. Pelatihan terhadap para pedagang terus dilakukan. Jumlah pemandu wisata di kawasan itu belum memadai.Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Hilmar Farid memastikan Muarajambi adalah situs Buddha terbesar di Asia Tenggara. “Kita menargetkan, dalam lima tahun ke depan, Muarajambi bisa lebih besar dari Angkor Wat. Inilah situs terpenting di Asia Tenggara,” paparnya.

Jaga marwah

Pelaksana Tugas Kepala Badan Layanan Umum Museum dan Cagar Budaya atau Indonesian Heritage Agency (BLU MCB/IHA) Ahmad Mahendra mengatakan, pengembangan KCBN Muarajambi sangat terbuka untuk dikerjasamakan dengan berbagai pihak. Namun, pembangunan penginapan perlu disesuaikan dengan arsitektur lokal.

“Kita ingin menjaga marwah kebudayaan Jambi. Baiknya Muarajambi menjadi inspirasi bagi keseluruhan, termasuk bentuk rumah dan penginapan,” ujarnya.

Mahendra menuturkan, melalui BLU, pendapatan dari pengelolaan kawasan tersebut dapat langsung digunakan untuk memperkuat program pemajuan kebudayaan. BLU MCB mengelola 18 museum dan 34 cagar budaya nasional di Tanah Air.

“Kami juga mohon kepada pemda (pemerintah daerah) dan semua pihak, kalau mau berinvestasi di sini, silakan. Nanti bicara dengan BLU MCB. Kita bisa bekerja sama, tapi tidak merusak marwah budaya yang kita lindungi,” ucapnya.

Irsyad menambahkan, diperlukan sinergi yang lebih intim antara pemerintah pusat dan pemda dalam merancang konsep branding untuk Jambi. Hal ini dinilai penting agar Jambi lebih mudah dikenal dengan identitas yang kuat.

“Seperti Solo punya slogan Spirit of Java. Bali disebut sebagai Pulau Dewata. Padang punya Taste of Padang. Kalau Jambi, saya belum ketemu (slogannya). Dengan segala kekayaan kebudayaan, slogan ini harus diputuskan. Kita bisa riset bareng-bareng untuk memberikan legitimasi pada slogan itu,” jelasnya.

KCBN Muarajambi seluas hampir 4.000 hektar mempunyai lebih dari 115 situs percandian dan lebih dari 3.000 koleksi. Kompleks candi tersebut diperkirakan dibangun pada abad ke-6 dan bertahan hingga abad ke-13.

Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Jambi Abdul Haviz menuturkan, saat ini hanya ada tujuh pemandu wisata bersertifikasi di Muarajambi. “Hanya satu yang bisa berbahasa Inggris. Padahal, peranpemandu wisata sangat penting. Jika dilihat, bangunan candi hanya benda mati. Perlu pemandu yang bercerita untuk menghidupkan narasi candi tersebut. Jadi, pelatihan bagi pemandu wisata sangat dibutuhkan,” ujarnya.

artikel ini juga tayang di kompas

SINDEN SUKOHARJO BERJAYA DI MUSKAT

 



Peni Candra Rini peraih Aga Khan Music Awards 2020-2022

Pengajar dan Komponis bersuara emas, berkarya dengan tradisi



Suara Peni Candra Rini terdengar bergetar menahan tangis. Sesaat ia diam, lalu suaranya kembali terdengar. “Al-Fatihah untuk beliau,” ujar Peni menyebut guru dan ayah angkatnya, (Almarhum) Rahayu Supanggah. Berkat kejelian sang maestro, Peni meraih puncak-puncak kesuksesan dalam berkesenian dengan tembang Jawa Tradisional dan kontemporer. Salah satu puncak kesuksesan yang baru saja diraih pengajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakart, Jawa Tengah, ini adalah Aga Khan Music Awards 2020-2022. “Ini amanah. Saya tidak tahu apakah ini ujian untuk saya,”


Ia menduga kiprahnya dalam kesenian dengan tradisi Jawa dan pengembangan dengan gaya kontemporernya selama ini serta upayanya menggaet anak-anak mudalah yang diakui para Juri Aga Khan. Adapun karya yang menurut dia diapresiasi adalah Maduswara yang dimainkan pula oleh Kronos Quarter di New York, Amerika Serikat, dan kota-kota besar lain di beberapa negara Eropa.


Pemenang sebutan khusus (special mention) datang dari Aceh, yakni Zulkifli dan Bur’am. Enam professional seni terkemuka dari Azerbaijan, Bahrain, India, Turki, Tunisia, dan Amerika Serikat, yakni H.E Shaikha Hala bint Mohammed Al Khalifa, Franghiz Ali-Zadeh, Divya Bhatia, Rachel Cooper, Yurdal Tokcan, dan Dhafer Youssef, memutuskan para pemenang Aga Khan Music Awards.


Para pemenang terpilih dari 400 nomine dari berbagai penjuru. Mereka dinilai para juri sebagai musikus dan pendidik music yang berkontribusi terhadap pelestarian dan pengembangan warisan music yang berkelanjutan, juga memanfaatkan kekuatan musik untuk meningkatkan kesadaran akan masalah sosial dan lingkungan.

Para pemenang akan berbagi hadiah sebesar US$500 ribu serta peluang pengembangan professional. Peluang ini termasuk komisi untuk pembuatan karya baru, kontrak rekaman dan manajemen artis, dukungan bagi inisiatif pendidikan percontohan, serta konsultasi teknis atau kuratorial buat proyek pengarsipan, pelestarian, dan penyebaran musik. Mereka akan menerima penghargaan tersebut di Muskat, Oman. Bersamaan dengan penghargaan Aga Khan for Architecture award pada 29-31 Oktober mendatang.

Para peraih Aga Khan Music Awards 2022 adalah Peni Candra Rini (Indonesia), Zakir Hussain (India), Afel Bocoum (Mali), Asin Khan Langa (India) Coumbane Mint Ely Warakane (Mauritania), Daud Khan Sadozai (Afganistan), Soumik Datta (Inggris), Yahya Husein Abdallah (Tanzania), Yasamin Shahhoseini (Iran), dan Zarsanga (Pakistan). Adapun pemenang special mention adalah Dilshad Khan (India), Golshan Ensemble (Iran), Sain Zahoor (Pakistan), Seyyed Mohammad Musayi dan Mahoor Institute (Iran), serta Zulkifli dan Bur’am (Indonesia).


Oleh para juri, Peni dinilai sebagai komponis, vokalis, dan pendidik Indonesia yang berimprovisasi dengan pengetahuannya tentang seni pertunjukan tradisional Indonesia yang cukup luas dan menginformasikan penciptaan karya-karya barunya yang diproduksi di seluruh dunia.


 
Peni Candra Rini tak pernah menyangka bisa menapaki panggung-panggung dunia saat kecil. Lahir pada 22 Agustus 1983 di Desa  Ngentrong, Campurdarat, Tulungagung, Jawa Timur, Peni tumbuh di lingkungan keluarga seniman tradisional, Ayahnya seorang dalang, sementara kakeknya pemain alat music gender. Sejak kecil ia mengikuti berbagai lomba olah suara. Ia memperdalam ilmu di Sekolah Menengan Karawitan Indonesia dan ISI Surakarta.


Ia pun sempat bergabung dalam kelompok Sono Seni Ensemble bentukan I Wayan Sadra dan menjadi sinden untuk karya Rahayu Supanggah bersama kelompok Garasi Seni Benowo. Ia kemudian diangkat sebagai anak oleh Rahayu. Sang maestro agaknya melihat bakat terpendam dalam diri Peni dan mengasahnya dengan mengajaknya tampai di berbagai pentas.


Hasilnya, Peni berhasil melompat dari satu titik ke titik, mulai melanglang buana dengan kemampuan vocal sebagai sinden, penembang Jawa yang kemudian mengeskplorasi tembang itu menjadi kontemporer. Ia tampil di berbagai panggung Internasional di Asia, Eropa, dan Amerika. Sebagai komponis ia sudah menciptakan ratusan tembang serta 12 album yang diproduksi di Amerika Serikat. Karya-karya itu beredar di luar negeri dan malah lebih dikenal di sana.


Peni bukan hanya seorang komponis perempuan yang diperhitungkan. Sehari-hari ia mengajar di almamaternya,bahkan meraih gelar doktor pada April lalu.   Ia juga menjadi dosen tamu di beberapa universitas di Amerika Serikat dan Eropa.


“Saya tidak pernah membayangkan, tak pernah terbayang. Dulu saya takut bermimpi karena tidak punya apa-apa kecuali suara dan tradisi. Saya Cuma yakin bergerak dan pintu akan terbuka” ucapnya.


Juli lalu, karyanya tampil di Goodman Arts Centre Singapura. Ia baru saja unjuk karya dalam perhelatan Indonesia Bertutur di Kawasan Candi Borobudur, Magelang. Tampil dalam konser tunggal terbatas yang diselenggatakan Kedutaan Besar Amerika Serikat dalam rangkaian acara pertemuan G-20 di Prambanan, Daerah Istimewa Jogjakarta. “Waktu itu saya membawakan karya berjudul air, tentang ancaman plastic, merenung dan mereka menangis” kata Peni yang sebelumnya menghasilkan karya Swarnadwipa berkolaborasi dengan Kitapoleng Bali. Sepak terjangnya inilah yang membuat para juri sudah mengintip semua aktivitas Peni.


Peni akan mengikuti acara diplomasi kebudayaan dunia melalui program residensi dalam OneBeat X di Taos, New Mexico, Amerika Serikat, pada 17 Oktober-7 November. Setelah menerima penghargaan Aga Khan, dia akan terbang ke Nex Mexico dan kemudian ke Los Angeles untuk memberikan workshop dan bertemu dengan pengelola Skirball Museum. Ia juga sudah menyimpan agenda pada 2023 berupa konser istimewa dengan Kronos Quartee, kelompok music berbasis di San Francisco. USA.

 

Penghuni Laut Gorontalo

Gorontalo selalu mendapat tempat di hati saya. Di sanalah alm. Jusuf Panigoro, ayah dari sebelas anak dilahirkan pada tanggal 5 Mei 1920. Tepatnya di Kampung Potanga.

Kalau Banda Aceh dikenal sebagai Serambi Mekkah, maka Gorontalo dikenal sebagai Kota Serambi Madinah. Julukan lain bagi Gorontalo adalah Bumi Para Sastrawan, karena di sini lahir para tokoh sastrawan, seperti Hans Bague Jassin, dan juga pakar bahasa Jusuf Syarif Badudu.

--DSP



Penghuni Laut Gorontalo

Oleh Irene Barlian*

Terbentang di sepanjang pantai utara Teluk Tomini, Sulawesi Utara, Gorontalo merupakan surga alam bawah laut yang tersembunyi. Kekayaan hayati serta keanekaragaman terumbu karang dan makhluk laut memenuhi perairan yang terletak persis di garis khatulistiwa ini. Uniknya, di kota yang terkenal dengan sebutan "Kota Serambi Madinah" ini, belasan ekor hiu paus muncul. Penduduk Desa Botubarani, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, terkejut dengan datangnya munggiango hulalo, sebutan penduduk lokal terhadap salah satu jenis ikan terbesar di dunia tersebut. Mereka berdansa dengan anggun di tengah laut Gorontalo yang eksotis.

Seorang warga dari desa Botubarani bersiap untuk memberi makan para hiu paus. Hanya dengan mengetuk perahu beberapa kali, ikan-ikan ini mulai berdatangan. Hiu paus dengan ukuran antara 3 higga 7 meter berenang di bawah perahu dengan anggunnya. Di Borubarani, sisa ampas udang digunakan sebagai pakan ikan yang dikenal memiliki rasa ingin tahu yang tinggi ini.



Berinteraksi dan berenang bersama hiu paus merupakan salah satu fenomena yang unik. Namun, raksasa yang memiliki karakteristik jinak dan ramah ini dikategorikan dalam hewan yan terancam punah dan dilindungi. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui dan mengingat aturan-aturan yang diberlakukan ketika berinteraksi dengan hewan ini.



Berlimpahnya sumber makanan menjadi faktor utama munculnya segerombolan hiu paus ke pesisir selatan Gorontalo. Sebelumnya, diketahui bahwa memang ada beberapa hiu paus di perairan Sulawesi, khususnya Gorontalo. "Namun, mereka tidak berkumpul seperti ini," seru Yunis, seorang penyelam asal Gorontalo. Kesempatan langka ini juga tidak dilewatkan oleh penggemar diving. Mereka berbondong-bondong datang untuk menyelam bersama raksasa yang terkenal ramah ini.



Dilihat dari ukuran ikan hiu paus, diketahui bahwa ikan hiu ini termasuk dalam kategori yang belum dewasa. Meskipun memiliki tubuh yang besar, faktanya ikan ini hanya memakan plankton atau ikan-ikan kecil. Namun, nelayan setempat mengatakan bahwa ikan hiu paus di Botubarani memuntahkan kembali ikan kecil yang tidak senagaja termakan.



Seorang turis menikmati keindahan alam bawah laut di Pulo Cinta. Resor dengan konsep ramah lingkungan ini berdiri dengan mewah di antara pulau-pulau di Teluk Tomini. Akses menuju pulau yang memiliki pasir berbentuk hati di porosnya ini relatif mudah. Hanya dengan berkendara selama dua jam dari pusat Gorontalo menuju Kabupaten Boalemo, dilanjutkan dengan perjalanan selama 15 menit menggunakan kapal cepat. Menikmati kekayaan biota laut seraya menghidupkan kembali hubungan manusia dengan alam menjadikan tempat ini permata di tengah keunikan Gorontalo.



Rhincondon typus, nama ilmiah dari hiu paus, sedang berenang di bawah perahu para nelayan. Awalnya, raksasa laut ini bermunculan karena adanya aliran limbah pencucian udang dari pabrik setempat yang dibuang ke pantai. Limbah yang mengandung sari dan kulit udang itu mengundang ikan hiu untuk datang.



Suasana pagi hari di pesisir pantai Desa Botubarani. Para wisatawan dapat menyewa kapal yang disediakan oleh warga atau langsung berenang dari bibir pantai untuk dapat bertemu dengan raksasa ini. Salah satu ikan paus yang sering muncul di Botubarani diberi nama Sherly oleh para penduduk setempat. Jika beruntung, para pelancong bahkan dapat bertemu dengan 8 hingga 10 ekor hiu paus dalam satu waktu.



Taman Laut Olele dapat diakses melalu perjalanan darat ataupun laut. Letaknya yang berada tepat di garis khatulistiwa menjadikan perairan ini dipenuhi oleh makhluk laut yang unik serta bunga karang raksa. Salvador Dali adalah koral khas Gorontalo yang hanya dapat ditemukan di perairan ini. Bentuknya yang menyerupai lukisan "L'enigma Del Desiderio" oleh pelukis terkenal Salvador Dali menjadi asal-muasal nama koral ini.



Selain di Gorontalo, fenomena bertemu dengan ikan hiu paus ini dapat ditemukan di Papua, Kalimantan Timur, Jawa Timur, dan Aceh. Namun, mudahnya akses dan kepastian untuk dapat melihat hiu paus menjadikan wisata ini populer dalam jangka waktu yang cepat. tidak perlu menunggu lama untuk dapat melihat raksasa laut di Gorontalo ini.



*Photographer | Twitter: @irenebarlian | Instagram: @irenebarlian | @kompasklass #pelesir

Sumber: Kompas, 10/8/2016


Pariwisata: Indonesia Berdaya Saing

Sebagai warga negara Indonesia, sering kali kita merasa pesimistis. Apa, sih, sebenarnya daya saing Indonesia? Sejak lama Indonesia dikenal sebagai negara agraris, tetapi ternyata hingga kini kita belum swasembada. Masih banyak produk pertanian yang harus diimpor dalam jumlah besar. Untuk menjadi negara yang berdaya saing di bidang pertanian, Indonesia masih kalah dengan Thailand.

Demikian juga untuk manufaktur. Walaupun Indonesia memiliki tenaga kerja yang murah, untuk industri, Indonesia tidak bisa bersaing dengan Tiongkok. Bahkan, negara-negara di Eropa Barat dan Amerika telah menyerahkan manufakturnya kepada Tiongkok.

Lalu, jika sudah begitu, apa yang bisa dijadikan Indonesia sebagai modal untuk berdaya saing?

Kita tidak perlu pesimistis. Indonesia masih mempunyai modal besar untuk bisa berdaya saing. Modal itu adalah industri kreatif, yakni pariwisata. Saat ini posisi pariwisata masih dalam urutan keempat sebagai penyumbang terbesar produk domestik bruto (PDB) atau sekitar 5 persen.

Masih berada di urutan pertama adalah minyak dan gas, lalu batubara, dan yang ketiga adalah minyak sawit mentah (CPO). Tetapi, dalam waktu dekat, bukan tidak mungkin pariwisata menjadi posisi yang pertama dalam menyumbang PDB dengan porsi mencapai 15 persen.

Dalam hitungan World Travel & Tourism Council, setiap pembelanjaan di sektor pariwisata akan berdampak 17 persen terhadap PDB. Sementara pembelian mobil seharga Rp 100 juta hanya berdampak 0,7 persen pada PDB.

Menggali devisa dari pariwisata relatif tidaklah sulit. Bahkan, pariwisata sudah dipercaya menjadi cara yang paling mudah dan murah untuk mendatangkan devisa. Untuk mengembangkan pariwisata, biaya yang dibutuhkan juga tidak mahal. Untuk mendapatkan 100 juta dollar AS, biaya yang dibutuhkan hanya 2 juta dollar AS atau sekitar 2 persen. Biaya pendidikan bagi tenaga kerja di bidang pariwisata juga tidak mahal. Jika tenaga ahli di bidang lain membutuhkan biaya 100.000 dollar AS, biaya untuk mendidik tenaga pariwisata hanya sekitar 5.000 dollar AS, atau sekitar Rp 65 juta dengan kurs rupiah Rp 13.086 per dollar AS.

Walau mengembangkan pariwisata menjadi cara yang termudah dan termurah, pengembangan pariwisata juga memerlukan komitmen yang sangat kuat, terutama dari para pemimpinnya. Bekal alam yang indah, budaya, kuliner, dan sebagainya tidak akan bisa dikembangkan apabila tidak ada kebijakan dan keberpihakan untuk mengembangkannya.

Komitmen ini bisa dilihat dari terobosan-terobosan yang dilakukan oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah selaku pemilik destinasi untuk mengembangkan wilayahnya. pemimpin jangan lagi memegang semboyan, kalau bisa diperlambat, kenapa harus dipercepat. Sebaliknya, pemimpin harus bisa mempermudah, mendorong, dan terus menggali apa yang bisa dikembangkan untuk mendatangkan wisatawan.

Misalnya, jika sudah ada wilayah yang diputuskan untuk menjadi Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata, segeralah dibangun kawasan itu. Jangan didiamkan saja, dan akhirnya malah diduduki oleh warga ilegal.

Pemimpin juga harus mempunyai cita rasa yang tinggi. Jika sudah ingin membidik wilayahnya menjadi destinasi wisata tingkat dunia, segala sesuatu harus dipersiapkan dengan standar dunia. Misalnya, penari, penata musik, dan busana, juga harus standar dunia, atau minimal standar nasional. Dengan demikian, yang ditampilkan adalah sesuatu yang bagus dan bermutu.

Jika pemimpin sudah menunjukkan komitmen yang tinggi terhadap pariwisata, semua unsur di bawahnya akan mengikuti. Perlu diingat, saat ini adalah momen yang tepat untuk meningkatkan pariwisata. Pemerintah pusat sangat mendorong dengan diberikannya bebas visa kunjungan kepada 169 negara. Penerbangan langsung dan carter juga terus dibuka. Jika semua pemimpin sudah berkomitmen, sudah pasti Indonesia akan menjadi negara dengan daya saing yang kuat untuk pariwisata.

(M Clara Wresti)

Sumber artikel: Kompas, 16/7/2016

~ o 0 o ~

Raja Ampat, Papua - (sumber)

Pantai Mandalika, Lombok

Pantai Mandalika, Lombok

Labuan Bajo, Flores

Bersama Suku Bajo

Danau Toba, Sumatera Utara


Skenario Indonesia 2045 (4): Defisit Pangan Menjadi Ancaman

Seri Skenario Indonesia 2045 - Kompas (18/2/2016) Oleh BUDIMAN TANUREDJO Kondisi Indonesia tahun 2045 tidak terlepas dari kondisi dunia yang mengalami defisit pangan. Dua puluh sembilan tahun dari sekarang, Indonesia belum akan mampu memproduksi pangan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dan karena itu negara mengalami kesulitan. Skenario Air Terjun, skenario keempat yang dibangun Tim Skenario Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), memberikan gambaran wajah Indonesia 2045. Pesimisme sekaligus optimisme tergambar pada Skenario Air Terjun tersebut. Digambarkan, akibat krisis pangan ini akan terjadi letupan-letupan di sejumlah daerah. Namun, letupan tersebut dapat dimitigasi karena kedaulatan pangan dijadikan fokus utama dalam mengelola ketahanan pangan, misalnya, melalui pengembangan usaha petani dalam bentuk struktur yang lebih sesuai. Keempat skenario yang dibangun Lemhannas, yakni Skenario Mata Air, Skenario Sungai, Skenario Kepulauan, dan Skenario Air Terjun, merupakan hasil diskusi tim dengan sejumlah narasumber lintas profesi. Sejumlah ahli terlibat, seperti Andrinof Chaniago, Arif Budimanta, Azyumardi Azra, Bambang Susantono, Chappy Hakim, Darmin Nasution, Emil Salim, Makarim Wibisono, Said Aqil Siroj, Kurtubi, dan sejumlah pakar. "Proses itu berjalan lebih dari satu setengah tahun dan masih terus berjalan," kata Gubernur Lemhannas Budi Susilo Soepandji kepada Kompas. Setelah empat skenario selesai dibangun, Lemhannas kemudian menyerahkan dokumen itu untuk disosialisasikan dan diantisipasi oleh para pemangku kepentingan. Dengan model pembangunan skenario bersifat transformatif, menurut Ketua Tim Skenario Panutan Sulendrakusumah, intervensi bisa dilakukan untuk mengantisipasi kecenderungan yang bakal terjadi, termasuk juga soal defisit pangan. Peringatan defisit pangan sebenarnya masuk akal jika melihat proyeksi perkembangan pertumbuhan penduduk. Pada 2045 jumlah penduduk Indonesia mencapai 321 juta jiwa. Sementara itu, pada kondisi aktual sekarang ini, swasembada pangan belum bisa dicapai. Impor beras dan bahan pangan lain selalu dilakukan. Ketimpangan Skenario Air Terjun juga menarasikan penurunan kemiskinan yang terjadi sejak era sebelumnya belum dapat mengurangi ketimpangan pendapatan yang semakin lebar. Ketimpangan menjadi isu yang harus dicermati. Dampak pertumbuhan ekonomi yang tinggi, sekitar 6 persen per tahun, ternyata lebih banyak dinikmati kelompok berpendapatan tinggi, yang jumlahnya hanya 5 persen dari populasi penduduk Indonesia. Hal itu akan menimbulkan ketimpangan pendapatan yang makin mencolok. "Rasio gini yang begitu menganga bisa meningkatkan kriminalitas, konflik sosial, dan instabilitas politik, bahkan mengarah pada penurunan pertumbuhan ekonomi secara drastis," kata Komisaris Jenderal Suhardi Alius, fasilitator dan Sekretaris Utama Lemhannas. Pemerintah memang terus berupaya mengurangi kemiskinan melalui berbagai program. Berbagai program terus dilakukan dalam upaya pemenuhan kebutuhan dasar warga negara secara layak, meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat miskin, penguatan kelembagaan sosial ekonomi masyarakat, serta percepatan pembangunan daerah tertinggal. Panutan Sulendrakusumah menjelaskan, dalam Skenario Air Terjun, pembangunan Indonesia pada 2045 telah berdasarkan tiga pilar dalam konsep pengembangan Sustainable Development Goals (SDG). Pilar pertama melekat pada pembangunan manusia, yaitu pembangunan pendidikan dan kesehatan. Pilar kedua melekat pada lingkungan kecil (social economic development), yaitu ketersediaan sarana dan prasarana lingkungan serta pertumbuhan ekonomi. Adapun pilar ketiga melekat pada lingkungan yang lebih besar (environmental development), berupa ketersediaan sumber daya alam dan kualitas lingkungan berdasarkan standar global dalam konsep pembangunan berkelanjutan secara terukur. Menurut Panutan, pembangunan Indonesia berbasis karbon pada 2045 merupakan penerapan ekonomi hijau (green economy) sebagai respons terhadap perubahan iklim demi ketahanan ekosistem. "Penggunaan energi tidak ramah lingkungan, seperti minyak dan batubara, harus ditinggalkan. Saatnya Indonesia menggunakan energi terbarukan, antara lain tenaga surya, untuk mengurangi emisi rumah kaca," kata Panutan. Perubahan iklim Panutan mengingatkan, wilayah Indonesia tahun 2045 akan mengalami peningkatan suhu rata-rata permukaan Bumi akibat peningkatan jumlah emisi gas rumah kaca di atmosfer. Pemanasan diikuti perubahan iklim akan meningkatkan curah hujan yang berpotensi menyebabkan banjir dan erosi. Berkaitan dengan persiapan untuk menciptakan energi terbarukan, Menteri Energi Sumber Daya Mineral Sudirman Said yang dihubungi Kompas di Jakarta, Rabu (17/2), mengatakan, pengelolaan karbon, emisi, pembangunan energi, dan pangan merupakan isu strategis yang tak bisa ditangani dengan perspektif jangka pendek. "Harus mampu menjaga jarak dengan problem kekinian. Apalagi kita merancang pembangunan energi, pangan, dan kaitannya dengan perubahan iklim," kata Sudirman. "Sebagai pengelola sektor energi, saya makin memahami bahwa kita sempat agak terlena dengan pendekatan myopic, berpikir pendek, mengerjakan yang mudah, dan terjebak pada kebijakan yang diwarnai transaksi kepentingan jangka pendek," tutur Sudirman. Sudirman mengakui, ada kesenjangan yang dia rasakan. Kesenjangan antara lokasi sumber daya dan kebutuhan, kesenjangan antara sumber daya dan ketersediaan energi, kesenjangan antara energi fosil yang semakin kritis dan kemampuan di bidang energi terbarukan. "Jika kesenjangan itu tak segera diatasi, bukan tidak mungkin suatu saat kita akan mengalami krisis energi yang sulit diatasi," kata Sudirman. Menurut Sudirman, yang harus dilakukan adalah berani melakukan lompatan, mendorong kebijakan energi yang mungkin dalam jangka pendek tidak menyenangkan, tapi dalam jangka panjang memberi keamanan bagi kepentingan nasional. "Keberanian memilih jalan tidak populis akan menentukan keamanan energi di masa depan," kata Sudirman. Empat skenario yang disusun Lemhannas memang bukanlah sebuah kepastian atau proteksi karena itu adalah narasi yang mungkin terjadi. Masalahnya adalah bagaimana segala kecenderungan dari empat skenario itu diantisipasi.

Skenario Indonesia 2045 (3): Memudarnya Nasionalisme Indonesia

Seri Skenario Indonesia 2045 - Kompas (17/2/2016) Oleh BUDIMAN TANUREDJO Pada 2045, setelah 100 tahun merdeka, Negara Kesatuan Republik Indonesia tetap eksis di tengah peradaban modern dunia sebagai bangsa multietnis, multikultur, bangsa yang pluralis. Namun, bangsa Indonesia semakin melupakan dan meninggalkan sejarahnya. Ketua tim penyusun Skenario Indonesia 2045, Panutan S Sulendrakusuma, menyebut Indonesia 2045 dalam Skenario Kepulauan. Skenario Kepulauan adalah skenario ketiga yang dibangun dengan mempertimbangkan aspek geopolitik sebagai faktor utama untuk menyusun narasi tentang Indonesia 2045. Sebelumnya ada Skenario Mata Air (Kompas, 15/2), Skenario Sungai (Kompas, 16/2), dan Skenario Air Terjun (Kompas, 18/2). "Cara bernegara orang Indonesia pada 2045 telah berubah," kata Panutan kepada Kompas, Minggu (14/2). Rasa hormat dan bangga serta keinginan untuk meneladani pahlawan pendahulu bangsa tidak lagi menjadi motivasi generasi muda Indonesia dalam menghadapi tantangan zamannya. "Hari Pahlawan dan hari besar nasional sudah kehilangan maknanya dan hanya dimaknai sebagai perayaan rutin belaka tanpa dijiwai emosi, sifat, tingkah laku, opini, dan motivasi," kata Panutan. "Nasionalisme warga negara Indonesia pada 2045 kian tipis," lanjut Suhardi Alius, Sekretaris Utama Lemhannas. Temuan tim Lemhannas itu sudah tampak gejalanya. Ada dinamika dalam anak muda Indonesia. Persoalan kepemudaan tenggelam dalam isu besar yang mewarnai kehidupan politik negeri ini. Dalam jajak pendapat Kompas, 28 Oktober 2013, dalam mengamalkan Pancasila sebagai ideologi negara, misalnya, 73,6 persen responden memandang pemuda tidak ikut ambil bagian dalam mewujudkan butir Pancasila. Jajak pendapat itu juga merekam bagaimana ingatan makna Sumpah Pemuda 28 Oktober 2028 mulai pudar. Responden kelompok ini bahkan kesulitan menyebutkan Sumpah Pemuda. Harian Kompas, 28 Oktober 2013, menyebutkan, hanya 9,4 persen responden yang menyebutkan isi Sumpah Pemuda dengan benar. Membayangkan Indonesia 2045 adalah membayangkan bagaimana siswa-siswi sekolah dasar dan sekolah menengah akan memimpin bangsa ini. Ada yang akan menjadi bupati, wali kota, gubernur, anggota DPR, ketua partai, dan posisi struktural lainnya. Betapa pentingnya posisi sekolah untuk menyemai calon pemimpin bangsa. Kondisi ini mengingatkan pada buku John W Gardner berjudul Can We Equal and Excellent Too. Gardner menulis, "Tidak ada negara bangsa yang dapat menjadi besar kalau tidak meyakini sesuatu dan kalau sesuatu yang diyakininya itu tidak memiliki ajaran moral untuk membawa kemajuan peradaban." Mengacu pada pandangan Gardner, kita akan menyebut sekolah adalah tempat paling berperan dalam membentuk wawasan mengenai bangsa dan kebangsaan. Wawasan mengenai nasionalisme Indonesia. Sekolah bukan hanya mengajarkan tentang ilmu pengetahuan dan keterampilan serta lulus ujian, melainkan menjadikan siswa sebagai orang Indonesia dan bangga dengan Indonesia. Siswono Yudo Husodo dalam artikel di Kompas, 23 April 2015, menulis, di Amerika Serikat, kalau ada fenomena negatif merebak di masyarakat, pertanyaan yang muncul adalah "Whats' wrong with American class room?". Pertanyaan itu relevan direnungkan mengacu pada skenario Lemhannas bahwa bangsa Indonesia 2045 mempunyai persepsi dan cara bernegara yang berbeda dengan kadar nasionalisme yang tipis. Situasi kontemporer menunjukkan bagaimana anak-anak terpikat dengan ideologi bukan asli Indonesia, ideologi yang radikal yang sangat jauh dari nilai Pancasila. Bagaimana buku-buku ajar siswa disusupi ajaran radikal. Gambaran pesimistis-jika tidak ada intervensi apa pun-bisa dibaca dalam dokumen Skenario Indonesia 2045. Dituliskan dalam dokumen itu, pada era 2010-2040, perhatian dunia tertuju ke Asia Pasifik karena jumlah penduduk Indonesia yang besar. Menurut proyeksi Lembaga Demografi, pada 2045 jumlah penduduk Indonesia 321,86 juta jiwa. Dengan jumlah penduduk sebesar itu, Indonesia merupakan potensi pasar yang besar. Potensi sumber daya alam besar dan beragam, termasuk potensi pariwisata, sumber daya genetika, dan letak geografis Indonesia dengan poros maritimnya. "Indonesia diperhitungkan dunia sebagai negara yang memiliki potensi kekuatan ekonomi, militer dalam politik di wilayah Asia Pasifik," tulis Panutan. Namun, karena kadar nasionalisme yang tipis, termasuk orang yang menjadi penyelenggara pada 2045, bangsa Indonesia semakin tidak menjiwai kesepakatan dasar bangsa Indonesia yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 sebagai dasar bernegara. Tim penyusun Skenario Indonesia 2045 menulis, kondisi Indonesia dengan kadar nasionalisme tipis, langkanya pemikiran strategis yang berjangka panjang, kualitas pendidikan dan penguasaan teknologi informasi selama 30 tahun terakhir tidak dipersiapkan benar dan baik untuk menghadapi tuntutan Indonesia setelah 100 tahun merdeka, tidak cocok dengan kebutuhan zaman. Selanjutnya, skenario yang perlu mendapat perhatian adalah gambaran elite parpol dan ormas yang masih berkutat pada kepentingan individu dan golongan. Hal tersebut juga terjadi di birokrasi, TNI dan Polri, karena sistem meritokrasi belum diterapkan sebagaimana mestinya. "Kondisi ini diperparah dengan masih sering terjadinya inkonsistensi kebijakan yang sering berubah dan tumpang tindih," kata Panutan. Kekuatan militer Indonesia sudah besar dalam jumlah, tetapi belum efektif dan belum efisien karena teknologinya tak sesuai lagi dengan perkembangan zaman sehingga pengamanan maritim Indonesia sebagai poros maritim dunia masih sering dipertanyakan dunia. Tim penyusun menggambarkan, pada 2045, Indonesia disibukkan dengan pengamanan maritim nasional karena ramainya kegiatan eksplorasi bawah laut yang dilakukan state dan non-state actor di sekitar Indonesia. Sementara itu, regionalisasi pengaturan operasional penerbangan dunia yang mengatasnamakan keamanan dan keselamatan penerbangan Indonesia sudah merambah wilayah Indonesia, dikendalikan oleh satu atau dua negara tetangga sehingga kedaulatan Indonesia banyak diatur oleh negara dan aktor non-negara dunia. "Kondisi ini terjadi karena selama 40 tahun terakhir Indonesia hanya berwacana untuk mengambil alih pengendalian operasi penerbangan di atas kepulauan Riau dan Natuna dari Singapura, tanpa perencanaan dan program yang jelas." Dari dua skenario yang dibangun Lemhannas, faktor generasi muda dan nasionalisme mereka menjadi amat penting untuk eksistensi NKRI. Faktor pendidikan menjadi penting. Boleh jadi gagasan Presiden Joko Widodo dalam peringatan Hari Pers Nasional tentang perlunya televisi menyiarkan lagu nasional menjadi relevan untuk membangkitkan nasionalisme. Skenario kepulauan itu seharusnya mendorong semua komponen bangsa berpikir ulang dan menyadari sejarah terbentuknya bangsa, letak dan kondisi geografi, demografi, dan perkembangan global. Pemimpin dengan karakter kebangsaan yang tangguh, memahami visi bangsa, dan memiliki ambisi terukur amat dibutuhkan bangsa ini. Profesor riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Mochtar Pabottingi, menyebut isu nasionalisme sebenarnya agak ketinggalan zaman karena isme berbicara soal paham. Yang penting sebenarnya bagaimana situasi bangsa itu sendiri. "Apakah bangsa Indonesia itu masih dirawat oleh para penyelenggara negara saat ini," kata Pabottingi. Kondisi Indonesia 2045 sangat tergantung pada apa yang dibuat bangsa ini sekarang. "Apakah undang-undang yang diproduksi digunakan untuk menguntungkan bangsa atau digunakan untuk kepentingan asing. Banyak produk undang-undang yang esensi sebenarnya hanyalah menjual Tanah Air. Ini adalah pengkhianatan terhadap bangsa," kata Pabottingi. Pabottingi juga menyoroti bagaimana bahasa Indonesia telah dikhianati. Menyaksikan siaran televisi, hampir separuh dari presenter menggunakan kata-kata bahasa Inggris, padahal bahasa Indonesia ada padanannya. "Ini, kan, melecehkan mereka di desa yang tak bisa berbahasa asing," ucapnya. Pemahaman soal bangsa dan tokoh bangsa harus diajarkan agar anak bangsa punya hero di negerinya sendiri. "Kisah IJ Kasimo, Mohammad Natsir, Mohammad Hatta, dan Agus Salim dengan kesederhanaannya perlu disampaikan kepada anak didik agar mereka punya hero dan idola terhadap tokoh-tokoh bangsa," kata Pabottingi. Untuk menggapai 100 tahun republik, bangsa ini membutuhkan negarawan yang punya imajinasi soal bangsa dan masa depannya. Negarawan berbeda dengan politisi, seperti dikatakan intelektual Amerika Serikat, James Clarke, "Seorang politisi berpikir tentang pemilihan ketika seorang negarawan berpikir tentang generasi masa depan."

Skenario Indonesia 2045 (2): Keluar dari Ancaman Negara Gagal

Seri Skenario Indonesia 2045 - Kompas (16/2/2016) Oleh BUDIMAN TANUREDJO "Indonesia tahun 2045 telah mampu keluar dari ancaman negara gagal. Pada waktu itu, Indonesia telah menjadi negara industri yang cukup maju dengan struktur ekonomi belah ketupat. Jumlah kelas menengah sudah lebih besar dibandingkan jumlah penduduk miskin maupun konglomerat." Itulah salah satu kesimpulan Indonesia 2045 dalam Skenario Sungai yang disusun tim Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas). Tim itu diketuai Dr Panutan S Sulendrakusuma. Tim Lemhannas menyusun empat skenario Indonesia 2045. Skenario Mata Air (Kompas, 15/2), Skenario Sungai (Kompas, 16/2), Skenario Kepulauan, dan Skenario Air Terjun. Pembangunan skenario sebagai upaya mengantisipasi masa depan sering digunakan perusahaan minyak asal Belanda, Shell. Kini, teori membangun skenario itu coba digunakan Lemhannas untuk membangun skenario Indonesia 2045. Adam Kahane, yang telah membangun skenario di sejumlah negara, tiga kali datang ke Indonesia untuk membangun skenario Indonesia 2045. Skenario sungai dibangun dengan daya penggerak (driving force) pembangunan ekonomi. Sejumlah guru besar, birokrat lintas profesi, dan pemimpin ormas terlibat dalam pembangunan skenario Indonesia 2045. Dalam buku Skenario Indonesia 2045 terdapat sejumlah nama sumber, antara lain Azyumardi Azra, Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Emil Salim, Hasyim Djalal, Paulus Wirutomo, serta tiga gubernur dari luar Jawa, yakni Gubernur Sulawesi Barat Anwar Adnan Saleh, Gubernur Bali Made Mangku Pastika, dan Gubernur Nusa Tenggara Barat Zainul Majdi. Diskusi terfokus dilakukan di sejumlah kampus di luar Jawa. "Kita memang ingin menampung pandangan mereka terhadap masa depan Indonesia," ujar Panutan. Pada Skenario Sungai, menurut Suhardi Alius, yang juga Sekretaris Utama Lemhannas, dalam percakapan dengan Kompas di Jakarta, kemitraan antara sektor besar, menengah, dan kecil berjalan baik. Kemitraan itu juga didukung infrastruktur, tata ruang, reforma agraria, kebijakan perbankan, fiskal, moneter, dan pasar modal. "Hasilnya, sektor agroindustri berkembang dan terjadi peningkatan kemakmuran di pedesaan karena dukungan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang lebih tinggi," kata Suhardi. Dalam narasi ini, pada tahun 2045, pada skenario tim Lemhannas, telah bekerja mekanisme "Indonesia Incorporated", yakni sinergi semua pelaku ekonomi dengan pemerintah, parlemen, dunia riset, dan pendidikan. "Sementara dalam pemerintah telah berkembang budaya dan etos kerja yang lebih profesional," tambah Suhardi. Skenario ini sejalan dengan prediksi McKinsey (2012). Prediksi McKinsey, Indonesia tahun 2030 akan menjadi negara dengan kekuatan ekonomi ke-7 di dunia yang memiliki 135 juta orang kelas menengah serta 113 juta pekerja berkemampuan. Dalam Skenario Sungai, proses pembangunan secara umum sudah relatif berbasis iptek pada semua tingkatan. Namun, permasalahan ekonomi membawa dampak pada kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan sosial serta korupsi masih menjadi tantangan besar. Juga masih akan terjadi konflik lahan dan buruh, yang mendapat upah di bawah standar. Adapun Indonesia sebagai negara kepulauan dengan penduduk besar dan sangat beragam juga masih akan menjadi persoalan yang berdampak secara ekonomi, sosial, politik, dan pertahanan serta keamanan. "Posisi Lemhannas adalah mengantisipasi kemungkinan segala skenario yang akan terjadi," kata Gubernur Lemhannas Budi Soepandji saat ditanya soal posisi Lemhannas dalam pembangunan empat skenario itu. Keluar dari ancaman Skenario Sungai yang dibangun tim Lemhannas diawali dengan asumsi bahwa Indonesia menuju 2045 telah keluar dari ancaman negara gagal. Isu soal negara gagal pernah menjadi isu politik hangat dalam sejarah Indonesia pasca reformasi. Pada tahun 2012, The Fund for Peace (FFP) menempatkan Indonesia dalam peringkat ke-63 dari 178 negara. Salah satu contoh negara gagal adalah Somalia. Harian Kompas, 20 Juni 2012, melaporkan, menurut The Fund for Peace, kondisi Indonesia memburuk terutama di tiga indikator yang digunakan untuk menyusun indeks negara gagal. Ketiga indikator itu adalah tekanan demografis, protes kelompok minoritas, dan isu hak asasi manusia. Penilaian The Fund for Peace tersebut mendapat tanggapan dari sejumlah pejabat Indonesia kala itu. Pada tahun 2015, menurut The Fund for Peace, Indonesia menunjukkan tren yang terus membaik. Berdasarkan data tren dari The Fund for Peace, dalam kurun waktu 2006-2015, Indonesia dalam tren membaik dengan nilai 74 dari 178 negara, sedangkan pada tahun 2012 dengan skor 80. Salah satu faktor yang belum menunjukkan perbaikan adalah pengaduan kelompok minoritas. Panutan, ketua tim pembangunan skenario Indonesia 2045, mengemukakan, penyusunan Skenario Sungai yang menempatkan pola pembangunan ekonomi driving force menangkap kekhawatiran Indonesia bakal terjebak dalam middle income trap (jebakan kelas menengah), yang dalam bahasa tim Lemhannas disebut sebagai negara gagal. Ada kekhawatiran kian melebarnya kesenjangan sosial, kesenjangan spasial antara barat dan timur untuk menghadirkan keadilan sosial. Ada juga bayangan terjadi aspirasi pemisahan diri. "Situasi itulah yang menjadi suasana diskusi ketika skenario itu disusun," ujar Panutan. Sebagai penyusun skenario bersama ahli lain, Panutan tetap optimistis dengan masa depan Indonesia 2045. Masalahnya adalah bagaimana pemerintah menyelesaikan pekerjaan rumah yang timbul, yakni mengatasi kesenjangan sosial yang kian melebar, kemiskinan, masalah lahan, dan persoalan lain sebagai dampak pembangunan. Sri Palupi, peneliti Institute of Ecosoc Rights, dalam diskusi di Redaksi Kompas bertajuk "Membayangkan Indonesia 100 Tahun", 5 Agustus 2015, mempunyai pandangan senada. Eksploitasi sumber daya alam yang mengabaikan daya dukung lingkungan telah menciptakan bencana berkelanjutan di Indonesia. Menurut laporan The Asia Pacific Disaster Report 2010, selama kurun waktu 1980-2009, Indonesia menempati urutan kedua setelah Banglades dalam daftar jumlah korban tewas akibat bencana di Asia Pasifik, dengan kerugian ekonomi 22,5 miliar dollar AS (Rp 301,51 triliun). Pada kurun waktu 2004-2009, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat terjadi 4.409 kali bencana di Indonesia. "Tingkat kerentanan terhadap bencana lebih besar diderita warga miskin akibat ketimpangan sosial ekonomi dan lingkungan alam," tulis Palupi dalam makalah bertajuk "Tantangan Pemenuhan Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya". Menurut Palupi, menguatnya kekuasaan korporasi membuat wacana hak asasi manusia di sektor bisnis kian terpinggirkan. Kondisi itu diperburuk mekanisme hak asasi manusia internasional untuk korporasi yang sifatnya tidak mengikat. Palupi mengkritik penanggulangan kemiskinan pemerintah yang tidak diarahkan untuk menciptakan lompatan bagi orang miskin masuk dalam kelas menengah. Akibatnya, ekonomi bisa saja tumbuh, tetapi jumlah orang miskin belum juga berkurang. Bagi Panutan, problem itulah yang harus diselesaikan pemerintah. "Skenario dibangun dan potensi masalah yang muncul harus diantisipasi. Memang itu tugas tim pembangunan skenario," katanya. Jika itu bisa dikelola dengan baik, ujar Panutan, pada tahun 2045 ketahanan ekonomi Indonesia menjadi lebih tangguh.