Indonesian Concert Peace Tour


Bersama tokoh senior piano Indonesia, Ary Sutedja dan Insia Effendy

Di hari pertama bulan Agustus ini, Mikhail David dan Ary Sutedja mengadakan makan malam menyambut kehadiran Swara Sonora Trio dari Arizona, Amerika Serikat.


Cellis kondang, Asep bersama pianis Aryo Wicaksono


pianis Aryo Wicaksono, soprano Kathryn Mueller, bariton Nathan Krueger dari Arizona, USA

Trio yang terdiri dari, pianis Aryo Wicaksono, soprano Kathryn Mueller, dan bariton Nathan Krueger ini akan mengadakan Indonesian Concert Peace Tour, di Jakarta, Jogja, Bali, dan Surabaya, mulai tanggal 7 Agustus 2009.

Yang berminat mengadiri concert ini dapat menghubungi (021) 7496377

Bisnis Rezeki Dunia Digital

oleh BUDI SUWARNA

Shinta W Dhanuwardoyo (39) yakin benar, media generasi mendatang adalah media digital. Keyakinan itu mendorong dia masuk ke bisnis ini. Kini, Shinta menuai hasilnya.



Awalnya, Shinta bersama beberapa teman mendirikan PT Bubu Kreasi Perdana (bubu.com) tahun 1996 yang memberikan layanan perancangan situs. Ketika itu belum ada perusahaan sejenis di Indonesia. Sumber daya manusia di bidang itu pun masih minim. Pasarnya belum terbentuk. Orang bahkan belum banyak yang melek internet, apalagi merasa perlu membikin situs.

Namun, Shinta tidak menyerah. Dia berusaha mengedukasi masyarakat agar melek situs internet. Salah satunya dengan menggelar Bubu Awards, semacam kompetisi pembuatan situs. Hingga 2009, kompetisi ini telah berlangsung enam kali.

”Responsnya bagus. Sekarang, Bubu Awards tidak hanya mengompetisikan web design, tetapi juga konsep digital advertising,” ujar Shinta, Chief Executive Officer bubu.com, Selasa (28/7).

Meski edukasi berjalan, bisnis ini awalnya berkembang lambat. Hingga tahun 2000, kata Shinta, baru segelintir perusahaan Indonesia memiliki situs. Baru dua tahun belakangan kebutuhan membuat situs bermunculan.

Fenomena ini, menurut Shinta, antara lain dipicu semakin meluasnya penggunaan telepon seluler, merebaknya situs Facebook, dan krisis ekonomi global. ”Krisis memaksa perusahaan membuat kampanye yang murah, tetapi efektif. Internet kemudian jadi pilihan utama.”

Sejak saat itu, berbagai perusahaan, besar atau kecil, berlomba membuat situs kreatif. Permintaan pembuatan situs yang datang ke bubu.com pun deras berdatangan. Shinta mengatakan, dua tahun terakhir omzet usahanya tumbuh rata-rata 100 persen setiap tahun, tetapi dia tidak bersedia menyebutkan jumlahnya.

Bukan hanya bubu.com, para perancang situs yang bekerja paruh waktu pun kebanjiran order dari dalam negeri dan juga mancanegara. ”Saya sampai sering kehabisan tenaga freelance karena mereka juga sibuk semua,” ujar Shinta.

Pemain baru di bisnis ini pun bermunculan, tetapi menurut Shinta persaingannya belum tajam karena bisnis ini tumbuh terus.

Seiring dengan itu, Shinta memperluas layanan bubu.com dari perancangan situs ke digital marketing. Perusahaan itu sekarang memberikan layanan terintegrasi mulai dari pembuatan strategi kampanye di internet, perancangan, pengelolaan, pemeliharaan, hingga pengembangan situs. Perusahaan itu pun menjelma menjadi semacam perusahaan periklanan digital.

Ini memang zaman digital, Bung!

Sumber: Kompas, Minggu, 2 Agustus 2009

Aku dan Rumahku, Rumah untuk Semua Orang

oleh Putu Fajar Arcana dan Susi Ivvaty

Sastrawan Putu Oka Sukanta (70) tak pernah berpikir teknik pengobatan yang diajarkan dr Lie Tjwan Sien menginspirasi banyak orang. Selama periode 1966-1976, semasa keduanya berada dalam satu sel di penjara Salemba dan Tangerang, Putu belajar dan mengobati para narapidana dengan teknik pengobatan ”acupressure”, sejenis akupunktur tetapi tidak menggunakan jarum.

Salah satu buku karya Putu Oka Sukanta

Ketika dibebaskan, acupressure tak hanya membawa Putu menjadi pengobat, tetapi bersama istrinya, Endah Lasmadiwati (62), tahun 1992 ia kemudian membeli tanah seluas 700 meter persegi di Kampung Cimanengah, RT 04 RW V, Kelurahan Cipaku, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat. ”Hampir enam tahun kami hunting mencari lokasi. Saya beli tanah dari hasil warisan sebesar Rp 17 juta,” tutur Putu Oka Sukanta, Kamis (30/7) di rumahnya yang teduh dan harum herbal itu.

Di situlah obsesi keduanya sebagai pengobat mulai tersalurkan. Endah tak hanya belajar acupressure dari suaminya, tetapi mantan pemilik tujuh sanggar tari Bali ini juga secara tekun mempelajari jenis tanam-tanaman obat. Sampai kini tak kurang lebih dari 400 jenis tanaman obat tumbuh di pekarangan rumah mereka.

”Kami berobsesi menjadikan rumah sebagai ruang publik, di mana semua orang bebas keluar masuk untuk memperoleh layanan kesehatan,” kata Putu. Benar saja, hasil praktiknya sebagai pengobat di bilangan Rawamangun, Jakarta, sebesar Rp 6 juta, dimanfaatkan untuk membangun rumah seukuran 8 meter x 13 meter. Dari sisi material, rumah yang berhadapan langsung dengan Gunung Salak di penjuru selatan itu sangat sederhana. Selain berdinding batako tanpa kulit, lantainya juga ”hanya” dilapisi ubin tua kombinasi warna terakota dan putih. Pada bagian depan terdapat ruang berukuran 32 meter persegi.

”Ruang ini kami manfaatkan sebagai tempat latihan pengobatan,” tutur Endah. Ada tiga kamar di bangunan utama ini, satu kamar tidur utama, satu kamar anak, satu kamar lainnya terdapat di lantai dua. Lantai dua dikonstruksi dengan kayu yang memberikan kesan natural dan bersahaja.

Ruang publik

Bangunan utama yang terletak pada sisi kanan bidang tanah, boleh dikata menjadi inspirasi munculnya dua bangunan berikutnya. Karena pengunjung terus bertambah, baik mereka yang berobat, mengikuti pelatihan, maupun sekadar studi banding soal tumbuh-tumbuhan berkhasiat obat, pasangan ini kemudian membeli tanah seluas 300 meter persegi di samping tanah terdahulu. Di situlah kemudian didirikan Rumah Obat dan Klinik Pengobatan. Pasangan ini sepakat memberi rumah mereka nama Taman Sringanis. ”Nama ini kami ambil dari nama ibu, Ni Ketut Taman, dan kakak ibu yang membesarkan saya, Ni Ketut Sringanis. Kami satukan jadi Taman Sringanis, kedua orang ini yang berjasa dalam hidup saya,” tutur Putu.

Taman Sringanis kini tak kurang dikunjungi sekitar 500 orang setiap minggu. ”Mereka berasal dari kalangan PSK sampai ibu-ibu majelis taklim,” kata Endah. Pada awal pendirian Taman Sringanis, para PSK datang untuk memperoleh layanan informasi tentang HIV/AIDS. Putu sendiri selain menjadi guru acupressure dan akupunktur, juga melakukan pelayanan penyuluhan HIV/AIDS sampai ke penjara.

Putu Oka Sukanta
(photo: Armando Siahaan, JG)

”Saya selalu sebut rumah ini rumah dalam hati, tidak berpintu tidak berjendela. Artinya, biarkan ia menjadi milik semua orang, kapan dan untuk keperluan apa saja silakan,” kata sastrawan yang baru saja menerbitkan cerita-cerita seputar tragedi 1965/1966 di Bali berjudul Lobakan karya 12 pengarang.

Secara perlahan rumah pasangan Putu-Endah menjadi ruang publik yang ”riuh” oleh berbagai kepentingan seputar kesehatan. ”Karena kesehatan harus bisa diakses semua orang. Makanya kami beri pelatihan tentang kesehatan mandiri, semua orang harus sehat karena diri sendiri,” tutur Endah.

Masa-masa kritis, saat Putu dipenjara tanpa diadili dan depresi akut yang diderita Endah lantaran lima dari tujuh sanggar tari Balinya bangkrut, memunculkan kesadaran tentang pentingnya rumah bagi semua orang. Bagi keduanya rumah tak sekadar tempat tinggal, tetapi rumah mereka adalah wahana bagi semua orang yang membutuhkan bantuan, terutama kesehatan.

Sumber: Kompas, Minggu, 2 Agustus 2009

Terpesona "Sekar Pembayun"


Selasa (7/7) malam di Griya Jenggala, Kebayoran Baru, Jakarta, berlangsung pentas dongeng, tari, dan lagu yang dibawakan Franky Sahilatua, Garin Nugroho, dan Endang Moerdopo.

Dua tembang yang diiringi tari dalam pentas ini berjudul "Sesambating Manah" (Jeritan Jiwa) dan "Aku Papua". Rupanya dua lagu yang diciptakan Franky ini menyentuh hati pemilik tempat pentas, pengusaha terkemuka Arifin Panigoro.

"Sesambating Manah" dilantunkan mengiringi dongeng Garin tentang kisah Ki Ageng Mangir dan Sekar Pembayun. "Dulu ketika saya menyaksikan tari tentang Sekar Pembayun, saya tertarik untuk memiliki perangkat gamelan Jawa. Sekarang gamelan terbaik di Indonesia ada di tempat ini," ujar Arifin (63).

Sejak tahun lalu mantan aktivis politik yang kini banyak memerhatikan soal seni dan budaya ini sering ke Papua. "Saya sekarang punya anggrek sarang semut dari Wasurd, Papua, setinggi 2 meter di tempat ini," ujar Arifin.

Pengalaman Arifin jika mau mendarat di tanah Papua adalah munculnya perasaan yang penuh misteri. "Lain kalau kita mau liburan ke Bali. Kalau mau mendarat di Sentani, Merauke, atau tempat lainnya di Papua, terasa lain, ada sesuatu, ada daya magisnya," ujarnya.

Maka, Arifin hanyut ketika mendengarkan lagu "Aku Papua". "Kalau saya undang 1000 budayawan ke sini untuk mendengarkan lagu ini, mereka akan lebih terharu lagi daripada saya," ujar Arifin. (OSD)

Sumber: Kompas, 10 Juli 2009

Tomohon International Choir Competition (TICC)

Tanggal 22 di pagi buta saya dengan Ed Van Ness terbang dengan Lion Air nonstop ke Manado. di bandara dijemput teman Ismail Siden dan langsung diantar ke Gardenia Villa yang indah di Tomohon, hanya 30 menit dari kota Manado. Setelah check in kami langsung diantar ke tempat dimana kompetisi berlangsung.

Opera Messiah - Georg Frederich Handel

TICC merupakan sebuah kompetisi paduan suara internasional diikuti oleh kurang lebih 50 peserta. TICC tidak dapat berlangsung tanpa dukungan penuh dari walikota Tomohon, Sdr. Jefferson S. M Rumajar, S.E. yang baru berusia 43 tahun dan tokoh paduan suara dari Bandung, Sdr. Tommyanto Kandisaputra. Dari jajaran Internasional tampak artistik director Prof. Andre de Quadros (Boston University, USA). Sebagai juri antara lain Thomas Chaplin (Norwegia), Anne-Charlotte Lundell (Swedia), Anna Tabitha V. Abeleda (Philipina) Dr. Miguel Felipe (Boston, USA), Branden Grimmentt (USA) dan Hwang Hwa Sook (Korea).

Prof. Dr. Andre de Quadros

Pembukaan dilakukan tanggal 22 Juni sore hari dengan jamuan makan di rumah walikota Tomohon, dan dilanjutkan dengan pertunjukan orchestra dan paduan suara Messiah karya akbar Georg Frederich Handel.

Bersama Sdr. Jefferson S.M Rumajar S.E, Walikota Tomohon

Bertindak selaku konduktor Prof. Andre de Quadros (Boston, USA), dengan solis Hwang Hwa Sook (Soprano-Korea), Ivonne Nouke Dayoh (Alto-Indonesia), Christopher Abimanyu (Tenor-Indonesia). Orchestranya diboyong dari Yogya dibawah asuhan I.G.N Wiryawan Budhiana atau yang lebih dikenal dengan Budi Ngurah.

Mazmur Chorale, Kupang

Suasana akbar Messiah tercipta berkat dukungan dua paduan suara terkemuka yaitu, Paduan Suara Universitas Manado, yang saat ini tercatat sebagai juara dunia dan University of the Visayas Chorale Philipina dibawah asuhan Anna Tabitha Abeleda -Piquero.

Bersama Anna Tabitha Abeleda -Piquero

Berkat dukungan luar biasa dari para pendukung acara, konser ini berlangsung dengan akbar.

Kompetisi Paduan Suara

Kompetisi diselenggarakan dalam kategori : Children Choir , Gospel & Spiritual, Male Choir, Musica Sacra, Female Choir, Youth Choir, Pop & Jazz dan Folklore.

Peserta kompetisi bersama Anna Tabitha Abeleda -Piquero

Pertandingan diadakan di beberapa gereja.

Susana Kompetisi Paduan Suara

Kompetisi berlangsung meriah dan seru dengan bintang-bintang antara lain Mazmur Choral Kupang NTT, dengan konduktor Yakob Andre Masemana, University of the Visayas Choral Philipines, Bitung Student Singers, Universitas Manado Choir, dengan konduktor Riffel Pakasi.

Mazmur Chorale, Kupang

Tomohon terletak di dataran tinggi hanya 30 menit dari Manado, di kaki gunung Lokon.

Makan pagi bersama di Gardenia

Hanya 30 menit dari Tomohon, kita akan mencapai danau Tondano yang sangat indah, berada 1000 meter diatas laut.