DI depan Sultan Langkat Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah, Tengku Amir Hamzah terpaksa menandatangani surat perintah penangkapan Achmad Chiari. Sahabat Amir itu hendak diringkus karena tergabung dalam barisan pemuda di Langkat, Sumatera Utara. Bukan cuma Achmad, sejumlah nama tertera dalam surat itu.
Sepenggal kisah itu tertuang dalam buku Nh. Dini, Amir Hamzah: Pangeran dari Seberang. Ia memperoleh cerita itu dari Tengku Tahura, putri Amir, 37 tahun silam. "Tahura memaparkan hal tersebut, lalu saya tulis di buku ini," kata Dini, memperlihatkan buku yang ditulisnya saat datang ke kantor Tempo, akhir Juli lalu.
Tahura mendapat cerita itu dari ibunya, Tengku Kamaliah. Setelah Indonesia merdeka, Amir adalah penguasa Binjai. Jabatannya Asisten Residen Langkat. "Binjai adalah daerah kuasa ayahmu," kata Kamaliah kepada Tahura. "Jadi dialah yang harus menunjukkan kewenangannya." Karena itu, Sultan Mahmud meminta Amir yang menandatangani surat penangkapan karena sultan tidak memiliki wewenang.
Amir juga masih terikat hukum adat. Ia sudah bersumpah setia kepada Sultan Langkat saat diangkat menjadi abdi kesultanan. "Sumpahnya untuk setia kepada paman dan sultan masih berlaku dan berdengung dalam hatinya," ujar Kamaliah. Meski menandatangani surat penangkapan, Amir justru membocorkan informasi tersebut agar mereka melarikan diri sebelum surat perintah dijalankan.
Sikap Amir terkesan mendua. Dalam buku Amir Hamzah: Sebagai Manusia dan Penyair, Abrar Yusra mengatakan Amir keliru tidak membela para aktivis pejuang Republik. Dia justru memerintahkan penangkapan meski tidak sesuai dengan kata hatinya. Karena itu, "Para pejuang Republik memandangnya sebagai tokoh feodal yang berbahaya," kata Abrar.
Sikap mendua Amir tidak lepas dari kondisi sosial politik di Sumatera Timur, khususnya Langkat. Sejarawan Universitas Sumatera Utara, Suprayitno, mengatakan, ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, organisasi pemuda dan laskar pejuang mendesak Gubernur Sumatera Teuku Mohammad Hasan menekan kesultanan untuk menyatakan diri bergabung dengan Indonesia.
Salah satu organisasi pemuda yang menekan Kesultanan Langkat adalah Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo). Organisasi ini belakangan bersalin nama menjadi sayap politik Partai Komunis Indonesia. Ketua Pesindo Cabang Langkat adalah Usman Parinduri.
Selain Pesindo, kelompok laskar pejuang membangun front pergerakan yang sama dengan Pesindo. Di antaranya Laskar Hizbullah, Gagak Hitam, dan Barisan Harimau Liar. Mereka juga membuka cabang di Langkat. Tapi pengaruhnya tidak sekuat Pesindo. "Pesindo yang sangat berpengaruh di sana," kata Suprayitno, pertengahan Juli lalu.
Suprayitno mengatakan Pesindo dan barisan pemuda menuding kesultanan sebagai pemerintahan feodal. Mereka juga menuding kesultanan sebagai kaki tangan Belanda. "Kelompok-kelompok yang radikal ini ingin menghancurkan kesultanan," ujarnya.
Salah satu penyebabnya, menurut Suprayitno, kesultanan tetap menjalin hubungan dengan Belanda, yang berencana bercokol lagi di Langkat setelah Jepang bertekuk lutut pada Perang Dunia II. Banyaknya laskar pejuang yang tak terkendali menyebabkan kesultanan tidak percaya pemerintah Indonesia mampu menjamin keamanan.
Satu bulan setelah Amir menjadi Asisten Residen Langkat-tepatnya pada 30 November 1945-Pesindo mengultimatum Sultan Langkat agar mengakui Republik Indonesia dan memutus hubungan dengan Belanda. Jauh sebelum itu, organisasi pemuda dan laskar sudah menuding Sultan Langkat sebagai antek Belanda. Isu itu kian bertiup kencang ketika tentara Sekutu hendak kembali ke Tanah Air setelah Jepang kalah.
Dalam bukunya, The Blood of the People, Anthony Reid menyebutkan, tudingan itu muncul karena Sultan Langkat menjadi ketua Comite Van Ontvangst (CVO) atau panitia penyambutan tentara Sekutu. Panitia ini sesungguhnya terbentuk berdasarkan hasil rapat di rumah Tengku Mansur, yang dihadiri perwakilan kesultanan, organisasi pemuda, dan laskar. Sebagai Ketua Shu Sangi Kai, Mansur bertindak sebagai sahibulbait. Selain Sultan Langkat, Xarim M.S. dan Mohammad Joesoef hadir di sana. Xarim adalah tokoh barisan pemuda, sedangkan Joesoef merupakan anggota Partai Indonesia (Partindo).
Reid mengatakan tudingan miring terhadap Sultan Langkat muncul karena ia dicurigai hendak menyambut kembali kedatangan Belanda dan menangkap pemimpin pergerakan. Reid ragu terhadap tudingan itu. Para sultan, kata Reid, tetap berkomunikasi dengan perwakilan Inggris dan Belanda atas inisiatif sendiri.
Amir Hamzah, yang menjadi wakil pemerintah di Langkat, tidak dapat dipisahkan dari sikap Sultan Langkat. Barisan pemuda tetap mencurigai Amir. Selain karena sikap Sultan Langkat, kedekatan Amir dengan Belanda berembus ketika ia menerima Kapten Brondgeest, pemimpin tentara Sekutu berkebangsaan Belanda, di kantornya pada akhir 1945.
Amir pernah menceritakan pertemuan itu kepada Saidi Husny, anak buah Amir di Keresidenan Langkat. Amir mengatakan Brondgeest hendak meminta izin agar tentara Sekutu bisa bercokol di Langkat demi menjaga keamanan daerah tersebut. "Saya jawab bahwa ini adalah hak pemerintah pusat, yaitu Gubernur Hasan," kata Amir kepada Saidi, seperti tertulis dalam buku Pahlawan Nasional Amir Hamzah yang ditulis Sagimun M.D.
Namun, kata Saidi, isu yang menggelinding di masyarakat Langkat berbeda. Amir dituduh sudah bersepakat dengan Belanda. "Amir Hamzah sebagai wakil pemerintah RI menerima segala tamu, baik bangsa asing maupun siapa saja, untuk kepentingan pemerintah di daerah Langkat," ujarnya.
Untuk meredakan ketegangan, Amir pernah berpidato di tengah masyarakat, tepatnya di daerah Kebun Lada, beberapa hari sebelum revolusi sosial meletus. Zainuddin Hamid Rokyoto dalam bukunya, Penemuan Pusara Pudjangga Amir Hamzah, mengutip isi pidato Amir tersebut. "Tuhan menjadikan manusia ini tidak semua sama. Kalaulah semua orang mau disamakan di dunia ini, berlawananlah dengan kodrat Tuhan." Pidato inilah yang diduga kian membakar amarah kelompok anti-kesultanan terhadap Amir.
Ketegangan antara kelompok pro dan anti-kesultanan itu memupus semangat Amir memimpin Langkat. Dalam buku yang ditulisnya, Anthony Reid mengatakan Amir diam-diam mengundurkan diri dari jabatan Asisten Residen Langkat. Atas persetujuan Komite Nasional Indonesia Langkat, Adnan Nur Lubis, politikus Partai Nasional Indonesia dan mantan aktivis Partai Gerindo, mengambil alih fungsi pemerintahan Langkat. Tapi pengunduran diri itu tak membuat Amir lolos dari revolusi berdarah pada Maret 1946.
Dikutip dari Laporan Utama Majalah Tempo Edisi Paradoks Amir Hamzah 14 Agustus 2017
Abdi Negara Pelayan Sultan
Post by
DSP
No comments
DI depan Sultan Langkat Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah, Tengku Amir Hamzah terpaksa menandatangani surat perintah penangkapan Achmad Chiari. Sahabat Amir itu hendak diringkus karena tergabung dalam barisan pemuda di Langkat, Sumatera Utara. Bukan cuma Achmad, sejumlah nama tertera dalam surat itu.
Sepenggal kisah itu tertuang dalam buku Nh. Dini, Amir Hamzah: Pangeran dari Seberang. Ia memperoleh cerita itu dari Tengku Tahura, putri Amir, 37 tahun silam. "Tahura memaparkan hal tersebut, lalu saya tulis di buku ini," kata Dini, memperlihatkan buku yang ditulisnya saat datang ke kantor Tempo, akhir Juli lalu.
Tahura mendapat cerita itu dari ibunya, Tengku Kamaliah. Setelah Indonesia merdeka, Amir adalah penguasa Binjai. Jabatannya Asisten Residen Langkat. "Binjai adalah daerah kuasa ayahmu," kata Kamaliah kepada Tahura. "Jadi dialah yang harus menunjukkan kewenangannya." Karena itu, Sultan Mahmud meminta Amir yang menandatangani surat penangkapan karena sultan tidak memiliki wewenang.
Amir juga masih terikat hukum adat. Ia sudah bersumpah setia kepada Sultan Langkat saat diangkat menjadi abdi kesultanan. "Sumpahnya untuk setia kepada paman dan sultan masih berlaku dan berdengung dalam hatinya," ujar Kamaliah. Meski menandatangani surat penangkapan, Amir justru membocorkan informasi tersebut agar mereka melarikan diri sebelum surat perintah dijalankan.
Sikap Amir terkesan mendua. Dalam buku Amir Hamzah: Sebagai Manusia dan Penyair, Abrar Yusra mengatakan Amir keliru tidak membela para aktivis pejuang Republik. Dia justru memerintahkan penangkapan meski tidak sesuai dengan kata hatinya. Karena itu, "Para pejuang Republik memandangnya sebagai tokoh feodal yang berbahaya," kata Abrar.
Sikap mendua Amir tidak lepas dari kondisi sosial politik di Sumatera Timur, khususnya Langkat. Sejarawan Universitas Sumatera Utara, Suprayitno, mengatakan, ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, organisasi pemuda dan laskar pejuang mendesak Gubernur Sumatera Teuku Mohammad Hasan menekan kesultanan untuk menyatakan diri bergabung dengan Indonesia.
Salah satu organisasi pemuda yang menekan Kesultanan Langkat adalah Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo). Organisasi ini belakangan bersalin nama menjadi sayap politik Partai Komunis Indonesia. Ketua Pesindo Cabang Langkat adalah Usman Parinduri.
Selain Pesindo, kelompok laskar pejuang membangun front pergerakan yang sama dengan Pesindo. Di antaranya Laskar Hizbullah, Gagak Hitam, dan Barisan Harimau Liar. Mereka juga membuka cabang di Langkat. Tapi pengaruhnya tidak sekuat Pesindo. "Pesindo yang sangat berpengaruh di sana," kata Suprayitno, pertengahan Juli lalu.
Suprayitno mengatakan Pesindo dan barisan pemuda menuding kesultanan sebagai pemerintahan feodal. Mereka juga menuding kesultanan sebagai kaki tangan Belanda. "Kelompok-kelompok yang radikal ini ingin menghancurkan kesultanan," ujarnya.
Salah satu penyebabnya, menurut Suprayitno, kesultanan tetap menjalin hubungan dengan Belanda, yang berencana bercokol lagi di Langkat setelah Jepang bertekuk lutut pada Perang Dunia II. Banyaknya laskar pejuang yang tak terkendali menyebabkan kesultanan tidak percaya pemerintah Indonesia mampu menjamin keamanan.
Satu bulan setelah Amir menjadi Asisten Residen Langkat-tepatnya pada 30 November 1945-Pesindo mengultimatum Sultan Langkat agar mengakui Republik Indonesia dan memutus hubungan dengan Belanda. Jauh sebelum itu, organisasi pemuda dan laskar sudah menuding Sultan Langkat sebagai antek Belanda. Isu itu kian bertiup kencang ketika tentara Sekutu hendak kembali ke Tanah Air setelah Jepang kalah.
Dalam bukunya, The Blood of the People, Anthony Reid menyebutkan, tudingan itu muncul karena Sultan Langkat menjadi ketua Comite Van Ontvangst (CVO) atau panitia penyambutan tentara Sekutu. Panitia ini sesungguhnya terbentuk berdasarkan hasil rapat di rumah Tengku Mansur, yang dihadiri perwakilan kesultanan, organisasi pemuda, dan laskar. Sebagai Ketua Shu Sangi Kai, Mansur bertindak sebagai sahibulbait. Selain Sultan Langkat, Xarim M.S. dan Mohammad Joesoef hadir di sana. Xarim adalah tokoh barisan pemuda, sedangkan Joesoef merupakan anggota Partai Indonesia (Partindo).
Reid mengatakan tudingan miring terhadap Sultan Langkat muncul karena ia dicurigai hendak menyambut kembali kedatangan Belanda dan menangkap pemimpin pergerakan. Reid ragu terhadap tudingan itu. Para sultan, kata Reid, tetap berkomunikasi dengan perwakilan Inggris dan Belanda atas inisiatif sendiri.
Amir Hamzah, yang menjadi wakil pemerintah di Langkat, tidak dapat dipisahkan dari sikap Sultan Langkat. Barisan pemuda tetap mencurigai Amir. Selain karena sikap Sultan Langkat, kedekatan Amir dengan Belanda berembus ketika ia menerima Kapten Brondgeest, pemimpin tentara Sekutu berkebangsaan Belanda, di kantornya pada akhir 1945.
Amir pernah menceritakan pertemuan itu kepada Saidi Husny, anak buah Amir di Keresidenan Langkat. Amir mengatakan Brondgeest hendak meminta izin agar tentara Sekutu bisa bercokol di Langkat demi menjaga keamanan daerah tersebut. "Saya jawab bahwa ini adalah hak pemerintah pusat, yaitu Gubernur Hasan," kata Amir kepada Saidi, seperti tertulis dalam buku Pahlawan Nasional Amir Hamzah yang ditulis Sagimun M.D.
Namun, kata Saidi, isu yang menggelinding di masyarakat Langkat berbeda. Amir dituduh sudah bersepakat dengan Belanda. "Amir Hamzah sebagai wakil pemerintah RI menerima segala tamu, baik bangsa asing maupun siapa saja, untuk kepentingan pemerintah di daerah Langkat," ujarnya.
Untuk meredakan ketegangan, Amir pernah berpidato di tengah masyarakat, tepatnya di daerah Kebun Lada, beberapa hari sebelum revolusi sosial meletus. Zainuddin Hamid Rokyoto dalam bukunya, Penemuan Pusara Pudjangga Amir Hamzah, mengutip isi pidato Amir tersebut. "Tuhan menjadikan manusia ini tidak semua sama. Kalaulah semua orang mau disamakan di dunia ini, berlawananlah dengan kodrat Tuhan." Pidato inilah yang diduga kian membakar amarah kelompok anti-kesultanan terhadap Amir.
Ketegangan antara kelompok pro dan anti-kesultanan itu memupus semangat Amir memimpin Langkat. Dalam buku yang ditulisnya, Anthony Reid mengatakan Amir diam-diam mengundurkan diri dari jabatan Asisten Residen Langkat. Atas persetujuan Komite Nasional Indonesia Langkat, Adnan Nur Lubis, politikus Partai Nasional Indonesia dan mantan aktivis Partai Gerindo, mengambil alih fungsi pemerintahan Langkat. Tapi pengunduran diri itu tak membuat Amir lolos dari revolusi berdarah pada Maret 1946.
Dikutip dari Laporan Utama Majalah Tempo Edisi Paradoks Amir Hamzah 14 Agustus 2017
Eksekutor dari Halaman Istana
Post by
DSP
SEORANG kakek mendadak menangis di depan Tengku Tahura. Sambil terisak, ia meminta maaf kepada putri tunggal Amir Hamzah dan Tengku Kamaliah tersebut. "Ia mengatakan terlibat penculikan Atuk," kata Ameliah Hariana, cucu Amir Hamzah, pada Kamis medio Juli lalu. Ameliah biasa menyebut kakeknya dengan panggilan Atuk.
Rina-sapaan Ameliah-lupa persisnya kapan kejadian tersebut berlangsung. Kala itu, ia masih duduk di kelas II sekolah menengah pertama. Siang itu, Rina menemani ibunya menyelesaikan beberapa urusan di Kantor Pemerintahan Kota Binjai. Saat mereka sedang istirahat, kakek itu menghampiri Tahura, ibu Rina.
Selain ikut menculik Amir Hamzah, pria tua itu mengaku menjarah harta benda di Istana Langkat. Salah satunya cincin yang ia pakai. "Gara-gara cincin itu, anaknya tidak bisa memiliki keturunan," ujar Rina. Maka kakek itu ingin mengembalikan cincin tersebut.
Tahura sempat naik pitam. "Kakek jangan bilang seperti itu, karena kami sudah ikhlas," kata Rina menirukan Tahura. "Kami juga sudah memaafkan Ijang Widjaja, yang membunuh Bapak."
Anak Amir satu-satunya itu kemudian meminta kakek tersebut pergi. Setelah itu, Rina bertanya kepada ibunya.
Rina: Siapa Ijang Widjaja?
Tahura: Dia itu sahabat Atuk kamu.
Rina: Kenapa dia membunuh Atuk?
Tahura: Dia disuruh orang. Kalau dia tidak mau, keluarga Ijang Widjaja yang dibunuh.
***
AWAL Maret 1946. Amir sedang makan siang dengan Kamaliah dan Tahura di Gedung Kerapatan Binjai. Pintu depan diketuk. Sekelompok pemuda menunggu di luar. Mereka lalu "menjemput" Amir. Menurut Rina, yang mendapat cerita dari Tahura, Amir sempat pamit kepada istri dan anaknya. Ia berjanji kembali setelah rapat.
Nyatanya, selama hampir sepekan, Amir tak memberi kabar. Kamaliah lalu membawa Tahura pulang ke Istana Langkat di Tanjung Pura, 50 kilometer di sebelah utara Binjai. Setelah menikah, Amir tinggal di Gedung Kerapatan Binjai. Bangunan itu kini menjadi Gedung Pengadilan Agama Kota Binjai.
Saat Kamaliah pulang ke Langkat, revolusi sosial pecah. Keluarga kesultanan kocar-kacir. Ada yang melarikan diri ke Medan dan berusaha kabur ke Malaysia. Namun tak sedikit yang ditangkap pejuang revolusi, termasuk Tahura dan Kamaliah. Tiga tahun setelah revolusi sosial pecah, istri Amir itu baru mendapat kabar bahwa suaminya meninggal. Kematian Amir diketahui dari persidangan Ijang Widjaja.
Pembunuhan itu terungkap setelah pemerintah pusat-di bawah pimpinan Perdana Menteri M. Sjahrir-menugasi sejumlah petinggi Republik ke Sumatera Utara, April 1946. Tujuannya: meredam revolusi sosial. Menteri Perhubungan A.K. Gani dan Menteri Sosial Abdul Madjid pergi ke sana.
Setiba di Langkat, keduanya bertemu dengan sejumlah pejabat daerah. Mereka bertanya tentang "revolusi sosial", termasuk soal Amir yang tak kunjung pulang. "Di mana Amir Hamzah?" kata Gani. Karena tak ada yang menjawab, dia langsung menduga Amir sudah wafat. Ia mengenang Amir sebagai salah satu pujangga besar yang sukar sekali dicari gantinya. "Kalau ada di Jakarta, mungkin ia diberi tugas dalam kabinet."
Dari kunjungan itu, pemerintah pusat memperoleh informasi bahwa masih banyak orang ditahan. Gani meminta tahanan diinterogasi agar bisa ditentukan kesalahannya. Polisi getol melakukan pencarian setelah salah satu anggotanya, Philips Simandjuntak, hilang di masa revolusi sosial. Pengusutan itu menuntun polisi pada sosok Ijang, yang pernah bekerja di kompleks Kesultanan Langkat.
Menurut Pemangku Kerapatan Adat Kesultanan Langkat, Tengku Azwar Aziz, ia hanya tahu Ijang berasal dari Rambung, Binjai. Ijang diketahui bekerja sebagai pelatih silat dan mandor kebun. Menilik namanya, Azwar yakin Ijang bukan orang Sumatera Utara. "Yang bekerja di kebun itu kebanyakan orang Jawa," ujar Azwar, akhir Juli lalu.
Kepala Polisi Binjai Tengku Anuah Husny memeriksa Ijang pada awal 1947. "Pemeriksaan itu berdasarkan perintah atasannya," tulis Saidi Husny dalam buku Kenangan Masa: Mengenang Pribadi Pudjangga Amir Hamzah. Upaya mengusut Ijang tak berlangsung mulus. Rupanya, orang-orang "kiri" berusaha menghentikan pemeriksaan itu. Caranya: melobi tokoh-tokoh sosialis di Jakarta. Menurut Saidi, upaya ini berhasil. Tak berselang lama, muncul perintah baru dari pemerintah pusat. Isinya meminta pemeriksaan terhadap Ijang Widjaja dihentikan.
Dua tahun kemudian, berdasarkan instruksi Pemerintah Negara Sumatera Timur, kasus Ijang kembali diusut. Pemeriksanya adalah jaksa Lubis. Berbeda dengan sebelumnya, kasus Ijang dilimpahkan ke Pengadilan Binjai.
Dalam persidangan yang dipimpin hakim W.C. Soatarduga, Ijang mengaku membunuh Philips di Kwala Begumit. Yang membuat banyak orang terperenyak, ia juga mengaku mengeksekusi Amir Hamzah. Berbekal informasi itu, Soatarduga memerintahkan lokasi tempat eksekusi yang ditunjuk Ijang dibongkar.
Selama persidangan, Ijang mengaku bersimpati kepada Amir. Di matanya, Amir tidak pernah berbuat sewenang-wenang dan bersedia mengulurkan tangan menolong sesama. Sang algojo sebenarnya tak kuasa melakukan eksekusi. Namun ia tidak berdaya menolak perintah. Ijang sempat dikabarkan ragu-ragu saat hendak melakukan eksekusi. Orang-orang di belakangnya berteriak: "Cepat, mandor!"
Amir sempat meminta tak dieksekusi. "Mohon jangan bunuh saya," katanya. "Nanti Republik yang dipersalahkan." Ijang tak memenuhi permintaan itu. "Saya hanya menjalankan perintah."
Pengadilan Binjai menghukum Ijang Widjaja 20 tahun penjara. Menurut keterangan petugas penjara, Ijang tiap malam meraung-raung dihantui bayangan orang-orang yang dipenggalnya. "Matanya liar seperti orang ketakutan," tulis Tengku M.H. Lah Husny dalam Biografi Sejarah Pujangga dan Pahlawan Nasional Amir Hamzah.
Jumlah orang yang dieksekusi Ijang tak pernah jelas. Saat lahan yang menjadi tempat pembantaian di Kwala Begumit dibongkar, setidaknya ditemukan 26 kerangka di sana. Dua di antaranya Amir Hamzah dan Philips Simandjuntak. Di dalam salah satu lubang ditemukan sejumlah barang, termasuk cincin emas berbatu nilam dan jimat timah yang terselip di celana. Barang itu milik Amir.
Belum selesai menjalani masa hukuman, Ijang mendapat amnesti dari pemerintah Republik Indonesia Serikat di Jakarta pada 1950. Alasannya, menurut Lah Husny, "…perbuatan Ijang Widjaja akibat dari perjuangan."
Tengku Kamaliah sempat mempertanyakan bebasnya Ijang kepada Saidi Husny, yang saat itu bertugas sebagai kepala polisi di Langkat. Menurut Saidi, dalam buku Kenangan Masa, saat datang ke kantornya, wajah Tengku Kamaliah terlihat tidak begitu gembira. "Apakah orang yang telah dihukum pengadilan sampai 20 tahun penjara dapat dikeluarkan begitu saja?" Saidi hanya mendengarkan keluhan Kamaliah dan berjanji menyampaikan pesan itu kepada atasannya.
Meski telah bebas, Ijang tak bisa menghirup udara segar. Di rumahnya di Kampung Rambung Binjai, ia dikurung dalam kamar tertutup karena dianggap gila, terlihat ketakutan, dan seperti berusaha selalu kabur. Menurut Nh. Dini, Tahura pernah bertemu dengan Ijang Widjaja. "Tapi ngomong-nya sudah tidak keruan. Mungkin dia juga stres."
Sang mandor mati dalam keadaan gila empat tahun setelah keluar dari penjara.
Dikutip dari Laporan Utama Majalah Tempo Edisi Paradoks Amir Hamzah 14 Agustus 2017
Terjepit di Antara Dua Gelombang
Post by
DSP
Sampai Nyawa Menjadi Taruhannya
Para pemuda sosialis menuduh Amir pro-Belanda seperti keluarganya. Ia dibunuh karena dianggap tak tegas mendukung kemerdekaan Indonesia.
Biarlah daku tinggal di sini
Sentosa diriku di sunji sepi
Tiada berharap tiada berminta
Djauh dunia di sisi dewa
DITULIS dalam huruf-sambung berkelir emas, bait pamungkas sajak "Naik-Naik" itu terpatri di nisan makam Tengku Amir Hamzah, pencipta sajak tersebut, di pelataran Masjid Azizi Tanjung Pura, Sumatera Utara. Di kanan-kiri pusara sastrawan berjulukan Raja Penyair Pujangga Baru itu terukir nukilan-nukilan dari beberapa puisinya yang lain.
Pusara dari pualam putih itu tak terlampau istimewa. Makam Amir Hamzah nyempil di antara sekitar 100 makam lain. Status Amir sebagai menantu Sultan Langkat Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah tidak lantas menjadikan kuburannya berbeda dengan orang kebanyakan. "Amir Hamzah pernah berpesan, jika meninggal, ia ingin dimakamkan di luar kompleks kesultanan," kata Ameliah Hariana, cucu Amir Hamzah, pada Juli lalu.
Jasad Amir dipindahkan ke Masjid Azizi di kompleks permakaman keluarga Sultan Langkat pada November 1949. Ia wafat dalam revolusi sosial yang mengoyak Sumatera Timur pada 20 Maret 1946 di Kwala Begumit. Selama tiga setengah tahun jasadnya terkubur di kebun pisang, satu lubang dengan delapan korban revolusi lainnya.
Kwala Begumit terletak 20 kilometer ke arah selatan dari Tanjung Pura menuju Medan. Kuburan Amir berada sekitar 100 meter dari Kantor Urusan Agama Kecamatan Binjai. Ketika Tempo ke sana pada Kamis tiga pekan lalu, kebun pisang separuh lapangan sepak bola itu hanya tanah berisi tanaman liar dikelilingi perdu.
Tidak ada patok atau apa pun yang menandai lokasi itu sebagai tempat eksekusi 26 tahanan pemuda sosialis Langkat. "Dulu ada semacam lubang seperti sumur yang tertutup tanah," ujar Abdul Kayum, penduduk setempat.
Di lubang yang ditunjuk Abdul kini berdiri sepuluh pohon pisang setinggi dua meter. Abdul mengetahui tanah itu bekas kuburan Amir Hamzah karena beberapa kali ada acara napak tilas. Napak tilas terakhir digelar untuk mengenang satu abad Amir Hamzah, pada 2011.
Di lubang itulah Amir dieksekusi, oleh Ijang Widjaja, guru silat Kesultanan Langkat, pengurus kebun yang amat disayangi Amir. Ijang menghabisi Amir dengan memenggal leher majikannya memakai katana. "Disembelih seperti ayam," kata Tengku Nurzeihan, adik ipar Amir Hamzah, yang menyaksikan eksekusi itu, kepada Tempo pada 2006.
***
MASIH lekat dalam ingatan Trisutji Djuliati Kamal peristiwa gaduh pada 5 Maret 71 tahun silam. Saat itu pukul setengah tujuh pagi. Trisutji, putri dokter keluarga Kesultanan Langkat, Djulham Surjowidjojo, tengah berjalan kaki menuju Istana Binjai bersama ibunya, Nedima Kusmarkiay.
Setiba di halaman istana yang menjadi tempat tinggal Sultan Mahmud dan keluarganya tersebut, Trisutji, yang saat itu berusia sepuluh tahun, dan ibunya melongo. "Kami melihat Istana sudah diserang oleh pemuda-pemuda yang membawa bambu runcing," katanya pada Rabu dua pekan lalu.
Melihat keributan itu, ibunya bergegas menyeret Trisutji kembali ke rumah mereka, yang berjarak tak sampai dua kilometer dari Istana Binjai. Belakangan, Trisutji tahu bahwa kericuhan di Istana Binjai dikenal dalam sejarah sebagai revolusi sosial Langkat.
Lahir di Jakarta, Trisutji tumbuh di lingkungan Kesultanan Langkat di Binjai sejak berusia dua tahun. Saban pagi, ia dan ibunya diminta datang ke Istana untuk sarapan bersama Sultan Mahmud dan keluarganya. Trisutji masih ingat sempat berkenalan dengan Amir Hamzah, yang tinggal di kompleks Istana.
Di rumah itu pula Amir dijemput para pemuda yang tergabung dalam banyak organisasi. Mereka marah karena menganggap keluarga Sultan pro-Belanda dan tak mengakui Republik yang belum genap berusia satu tahun. Mereka mengabaikan apa yang sudah dilakukan Amir sebagai peletak dasar bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan Nusantara. Ketika itu bahkan Amir menjadi wakil Indonesia sebagai Asisten Residen Langkat-setingkat bupati-di Binjai.
Amir berusia 35 tahun ketika dijemput dari rumahnya. Ia ditahan berpindah-pindah tempat selama dua pekan bersama 37 tawanan lain yang dianggap sebagai antek kesultanan. Di Sumatera Timur, ada tiga kesultanan yang menjalin kerja sama dengan Belanda dalam produksi minyak dan hasil bumi. "Semua yang dianggap pro-Belanda dihabisi," kata Suprayitno, sejarawan Universitas Sumatera Utara.
Menurut Saleh Umar, pentolan Barisan Harimau Liar, yang menjadi salah satu organisasi dalam revolusi itu, kesalahan Amir adalah punya dua kantor yang bertentangan. Gelar Amir di kesultanan adalah Pangeran Langkat Hulu, sementara pekerjaannya sebagai asisten residen berada dalam struktur pemerintahan Indonesia. "Amir dianggap pengkhianat," ujar Saleh kepada sejarawan Muhammad Said, yang ditulis dalam What was the "Social Revolution of 1946" in East Sumatra?, yang terbit pada 1972.
Selain Barisan Harimau Liar, kelompok pemuda yang menjadi motor revolusi adalah Gagak Hitam, Pasukan Marsose, dan Laskar Hizbullah. Organisasi-organisasi itu berhimpun dalam Persatuan Perjuangan atau Volksfront. Di Langkat, Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo), yang dipimpin Usman Parinduri, berandil besar dalam peristiwa berdarah itu. "Umumnya mereka pemuda beraliran kiri," kata Suprayitno.
Gerakan anti-kesultanan di Sumatera Timur dimulai pada 1942. Motifnya, menurut sejarawan Anthony Reid dari Australian National University, adalah merebut lahan-lahan perkebunan yang dikelola para sultan. Selain tokoh organisasi, tokoh lokal dari Karo-Batak menjadi motor kerusuhan itu.
Isu yang dikembangkan tokoh komunis seperti Xarim M.S. dan Laut Siregar saat itu adalah Sultan memimpin wilayah-wilayahnya secara feodal dan menjadi antek Belanda. Mereka berusaha memupus ingatan publik akan janji para sultan yang bakal bergabung dengan Republik dalam pertemuan dengan Gubernur Sumatera Tengku Muhammad Hasan pada 3 Februari 1946.
Sebagai orang pergerakan sejak bersekolah di Algemene Middelbare School Solo, Jawa Tengah, Amir sudah mencium gelagat gawat begitu demonstrasi menentang kesultanan mulai merebak. Tengku Lah Husny, yang pernah merantau bersama Amir ke Batavia, menulis dalam Biografi Sejarah Pujangga dan Pahlawan Nasional Amir Hamzah bahwa Amir sudah mengingatkan mertuanya, Sultan Mahmud, agar mengungsi.
Kakak Lah Husny, Saidi Husny, yang menjadi polisi di Binjai dan berkawan dengan Amir sejak kecil, bahkan meminta sahabatnya itu segera hengkang dari rumahnya jauh sebelum demonstrasi membesar. "Amir menolak karena yakin rakyatnya tak akan menyakiti dia," kata Tengku Azwar Aziz, pemangku Kerapatan Adat Kesultanan Langkat, Juli lalu.
***
CAP pengkhianat kepada Amir dan saudara-saudaranya tak hanya karena ia bagian dari keluarga Sultan. Dalam dokumen Geschiedenis van de Geheime Organisatie atau Riwajat Serikat Rahasia yang ditulis Datuk Hafiz Haberham, nama Amir Hamzah tertera sebagai anggota Treffers Organization, dinas rahasia Belanda yang berpusat di Kolombo, Sri Lanka.
Organisasi itu dibentuk Belanda untuk mencegah invasi Jepang pada 1942. Hafiz adalah kepala organisasi itu. Dokumen yang dibuat Hafiz pada 1947 itu kini tersimpan di Arsip Nasional, Jakarta. Dalam laporannya, Hafiz menceritakan dengan detail apa saja yang harus dilakukan para agen-umumnya anggota keluarga Sultan di Sumatera Timur. Ia, misalnya, membangun benteng tombak di sepanjang pesisir Langkat-Asahan sepanjang lebih dari 250 kilometer.
Oleh Hafiz, organisasinya diberi nama lokal Siap Sedia atau SS. "Tapi keterlibatan Amir dalam organisasi itu tidak pernah ada catatan resminya," kata Tengku Mira Rozanna Sinar, tokoh budaya Melayu.
Misteri soal pemicu Amir dibunuh masih simpang-siur. Selain alasan antek Belanda dan anggota intelijen, para sejarawan belum bisa memastikan mengapa para pemuda di Langkat juga mengeksekusi Amir, yang terkenal sebagai seorang nasionalis dan pro-Republik sejak belia.
Dalam tabloid mingguan Bintang edisi 29 Maret-4 April 1995, muncul sebuah artikel berjudul "Tengku Amir Hamzah Dicap Penghianat". Dalam tulisan itu, pihak yang menyebut diri "Para pejuang kemerdekaan RI di Kabupaten Langkat dan Kodya Binjai" menggugat gelar pahlawan nasional yang diberikan pemerintah Indonesia untuk Amir Hamzah pada 1975.
Lewat surat pernyataan setebal 13 lembar, para penggugat itu menguraikan musabab pecahnya revolusi sosial di Sumatera Timur. "Revolusi terjadi akibat penolakan para Raja dan Sultan terhadap ajakan Gubernur Sumatera mendukung Proklamasi Kemerdekaan RI, terkecuali Sultan Siak Sri Indrapura," begitu sebagian pernyataan mereka dalam kliping Perpustakaan Tengku Luckman Sinar di Medan.
Soal para penggugat menyinggung keanggotaan Amir Hamzah dalam Comite van Ontvangst Netherland India Comite Administration Oranje Boven Langkat van Binjai juga disinggung dalam artikel itu. Ini regu panitia penyambutan kembalinya Belanda ke Langkat setelah Jepang hengkang. Para penggugat tak menyinggung soal organisasi rahasia Siap Sedia. Mereka juga menolak kabar bahwa para sultan itu sepakat dengan ajakan Gubernur Sumatera.
Menurut Mira Rozanna Sinar, silsilah Amir Hamzah sebagai menantu Sultan Mahmud sekaligus keponakannya itu menjadi faktor utama ia dihabisi. Jabatannya sebagai asisten residen yang mewakili Republik tak dianggap oleh para pemuda sosialis. "Kaum merah menuduh dia tak membantu perjuangan rakyat," ujar tokoh budaya Melayu yang juga Kepala Perpustakaan Tengku Luckman Sinar itu.
Tengku Saridjat, 81 tahun, sepupu Amir Hamzah yang mengalami revolusi itu, mengatakan situasi pada hari-hari kerusuhan memang tak terkendali. Banyak hasutan di sana-sini, membikin merah kuping sesama kaum pribumi. Orang Langkat yang tahu sepak terjang Sultan juga ikut berdemo. "Sepertinya mereka dihasut bahwa Sultan masih mendukung Belanda meski Indonesia sudah merdeka," katanya. "Wajar saja karena Sultan punya kontrak minyak dengan Belanda."
Tengku Azwar Aziz, yang meneruskan trah Kesultanan Langkat kini, yakin Amir Hamzah tak pernah membelot dari Republik. "Amir Hamzah itu seratus persen republikan," katanya.
Penulis Nurhayati Sri Hardini alias Nh. Dini, yang melacak kisah hidup Raja Penyair Pujangga Baru itu, juga menemukan fakta dan kesaksian bahwa Amir tak seperti yang dituduhkan para demonstran. Amir, menurut pengarang Pada Sebuah Kapal itu, mendukung Republik Indonesia sepenuhnya. "Hanya nasibnya malang, berada di tempat yang salah," katanya.
Dalam puisi "Naik-Naik" yang diterbitkan majalah Poedjangga Baroe pada 1935, Amir seperti telah meramalkan nasibnya. Ia tetap di Langkat, menolak mengungsi, dan memilih menghadapi para eksekutor yang menuduhnya berkhianat. Dalam stanza sebelum bait terakhir puisi itu, Amir menulis:
bertiup badai merentak topan
larikan daku hembuskan badan
hembuskan daku ke puncak tinggi
ranggikan daku ke lengkung pelangi....
Dikutip dari Laporan Utama Majalah Tempo Edisi Paradoks Amir Hamzah
14 Agustus 2017
Sri Mulyani Indrawati: Gemar Bersepeda
Post by
DSP
Kota Semarang, Jawa Tengah, mengembalikan memori Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (54) semasa sekolah. Ia gemar bersepeda dari rumah menuju sekolah. Itu ia lakoni sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, yaitu SMAN 3 Semarang
”Saya paham betul sepeda, termasuk cara memompa. Pompa zaman dulu ya, bukan yang diinjak seperti sekarang,” ujarnya sembari mempraktikkan cara memompa dengan dua tangannya. Dia menceritakan hal tersebut di sela-sela sosialisasi pengampunan pajak di Semarang, Kamis (29/12).
Ingatan tentang sepeda dan pompa memberi Sri Mulyani inspirasi tentang ilustrasi pajak di Indonesia. Menurut dia, sistem perpajakan Indonesia dilakukan seperti memompa ban sepeda. Uang pajak dipompa ke rakyat, lalu disedot kembali oleh negara, begitu seterusnya. Penggerak sistem adalah pendapatan pajak atau dalam ilustrasi adalah angin.
Hampir satu tahun ke belakang, Sri Mulyani gencar menyosialisasikan program pengampunan pajak untuk meningkatkan pendapatan pajak negara. Rasio kepatuhan pajak di Indonesia saat ini masih rendah, yaitu 62,2 persen. Dari 32,7 juta orang atau badan wajib pajak di negeri ini, hanya 12,5 juta yang menjalankan kewajiban.
”Ini pertanda Indonesia memiliki masalah serius. Masyarakat harus diberi pemahaman mudah dan tepat tentang pajak,” katanya. (KRN)
Sumber: Kompas, 2/1/2017
| KOMPAS/Wawan H Prabowo |
”Saya paham betul sepeda, termasuk cara memompa. Pompa zaman dulu ya, bukan yang diinjak seperti sekarang,” ujarnya sembari mempraktikkan cara memompa dengan dua tangannya. Dia menceritakan hal tersebut di sela-sela sosialisasi pengampunan pajak di Semarang, Kamis (29/12).
Ingatan tentang sepeda dan pompa memberi Sri Mulyani inspirasi tentang ilustrasi pajak di Indonesia. Menurut dia, sistem perpajakan Indonesia dilakukan seperti memompa ban sepeda. Uang pajak dipompa ke rakyat, lalu disedot kembali oleh negara, begitu seterusnya. Penggerak sistem adalah pendapatan pajak atau dalam ilustrasi adalah angin.
Hampir satu tahun ke belakang, Sri Mulyani gencar menyosialisasikan program pengampunan pajak untuk meningkatkan pendapatan pajak negara. Rasio kepatuhan pajak di Indonesia saat ini masih rendah, yaitu 62,2 persen. Dari 32,7 juta orang atau badan wajib pajak di negeri ini, hanya 12,5 juta yang menjalankan kewajiban.
”Ini pertanda Indonesia memiliki masalah serius. Masyarakat harus diberi pemahaman mudah dan tepat tentang pajak,” katanya. (KRN)
Sumber: Kompas, 2/1/2017
Mengasah Toleransi lewat Musik Klasik
Post by
DSP
Pertengahan tahun ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggandeng pianis Ananda Sukarlan untuk melatih siswa sekolah dasar buat berlatih musik klasik. Pelatihan tidak bertujuan membuat anak-anak menjadi musisi, tetapi untuk mengasah otak dan rasa toleransi serta melatih anak-anak bersosialisasi.
Program musik klasik masuk sekolah terinspirasi dari program Children in Harmony yang dijalankan Ananda bersama Yayasan Musik Sastra. Program musik klasik masuk sekolah menurut rencana dimulai pertengahan 2017. Sebagai percontohan, program digelar di 100 SD di Jakarta.
Dengan bermain musik klasik, anak-anak akan belajar koordinasi, mulai dari membaca not balok, memainkan instrumen, hingga melakukan gerak tubuh. Melalui musik, otak terlatih untuk kreatif, berimajinasi, dan menemukan solusi.
"Anak-anak belajar musik klasik enam bulan. Mereka dipinjami alat musik yang bisa dibawa pulang untuk berlatih di rumah. Setelah itu, mereka bertemu dalam latihan untuk berkolaborasi dalam pementasan," ujar Ananda, Selasa (3/1), di Jakarta.
Dalam permainan musik bersama, anak-anak dari berbagai latar belakang bertemu dan bekerja sama. "Lewat musik, 'tembok' runtuh," kata Ananda.
Untuk menjalankan program itu, diperlukan 33-50 tenaga pengajar. Mereka mengajar teknik dasar memainkan instrumen musik di kelas II-III SD. "Dibutuhkan alat musik yang banyak. Kami mengimbau mereka yang mempunyai instrumen musik bekas di rumah untuk mendonasikannya," tambah Ananda.
Anak-anak yang mendapat pelatihan musik klasik akan dievaluasi. Mereka yang berbakat didorong untuk terus berlatih. Sekolah-sekolah diharapkan bisa membuat orkes kecil setelah latihan berlangsung satu tahun.
Seluruh Indonesia
Selain musik klasik, pendidikan seni lainnya, seperti seni rupa, pertunjukan, dan kriya, juga akan diperkenalkan langsung oleh seniman-seniman di sekolah-sekolah. Tahun ini ditargetkan 1.500 seniman bisa mengajar seni di sekolah di seluruh Indonesia.
Direktur Jenderal Kebudayaan Kemdikbud Hilmar Farid mengatakan, pada Maret, ketika anggaran sudah turun, program tersebut akan dimulai di Jakarta terlebih dahulu. "Beberapa daerah lain seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Sumatera Utara telah menyatakan berminat. Sebagai awal, program ini akan diadakan di 500-an sekolah," ungkapnya. (ABK)
Sumber: Kompas, 04/01/2017
Sumber foto: Arsip pribadi
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)