Memedi Sawah

Oleh SINDHUNATA

Tahun 2019 adalah Tahun Babi. Tahun Babi ini tahun terakhir dalam siklus dua belas tahunan kalender China. Menurut mitos, babi jatuh pada urutan paling akhir karena binatang ini tiba paling lambat di garis finis dalam lomba yang diadakan Kaisar Langit untuk menentukan urutan tahun dalam siklus kalender yang sedang ditentukan.
Ada beberapa alasan mengapa babi datang paling lambat. Sebuah versi bercerita, babi lelap tertidur sampai terlambat bangun. Alasan lain, sarangnya dirusak serigala, maka babi harus memperbaikinya. Apa pun alasannya, prestasinya patut dipuji. Babi dikenal malas, toh berhasil meraih garis finis. Maka, jangan ditertawakan bila sampai garis finis, sambil terengah-engah babi bertanya: apa di sini tersedia makanan enak untuk dimakan?
Babi dianggap binatang pembawa rezeki. Ramalan astrologi sudah mengait- ngaitkan, mana saja shio yang boleh ikut memetik keuntungan di tahun ber-shio Babi ini. Kata sebuah ramalan, shio Kerbau dan Naga akan banyak beruntung. Shio Kuda, Macan, Ular harus berhati-hati karena di Tahun Babi ini mereka akan dijauhi keberuntungan.

Kita memang harus optimistis di Tahun Babi ini. Namun, perlu diingat, tahun 2019 bukan sekadar Tahun Babi, tapi Tahun Babi Tanah. Artinya, babi itu tak bisa dipisahkan dari sifat dan hakikat unsur tanah, yang gelap, pekat, dan keras. Apalagi Tahun Babi Tanah terjadi bertepatan dengan tahun politik menuju pilpres, yang de facto kini telah membuat banyak orang takut dan miris.
Itulah keprihatinan yang hendak dikemukakan perupa Yogyakarta, Hari Budiono, dalam pamerannya di Bentara Budaya Jakarta, Februari ini. Dalam karyanya, ”Babi Tanah, 2019”, Hari melukiskan seekor babi, berbulu kecoklatan. Babi itu berada di tengah suasana tanah, yang gelap dan muram. Pada suasana yang muram itu tertera pelbagai tulisan, yang tak bisa jelas terbaca.
Tulisan itu merupakan celoteh pelbagai omongan yang tak terkontrol dan kabar bohong. Maka awas, Tahun Babi Tanah ini adalah tahun gelap dan muram karena dipenuhi kata-kata bohong. Seperti babi tak berkutik karena tertimpa gelapnya tanah, kebenaran jadi sulit menyelinap di tengah gelapnya kebohongan.
Karena kebohongan meraja, kebenaran jadi tak berdaya. Akhirnya kebohongan jadi kebenaran yang dipuja. Siapa pandai berbohong akan jadi penguasa. Sarana paling ampuh membenarkan kebohongan adalah kebohongan sendiri. Tak heran, orang berlomba menyusun kebohongan agar bisa membangun kebenaran atas kebohongannya. Sebenarnya, semakin benar sebuah kebohongan, semakin berbahayalah kebohongan itu. Apa mau dikata, sekarang kebohongan demi kebohongan terus meluncur. Kebenaran tak mungkin lagi menyalipnya. Seperti kata Mark Twain, kebohongan telah tiga kali mengitari bumi, bahkan sebelum kebenaran mengenakan sepatunya.
Pasar ketakutan
Hari Budiono meletakkan lukisan ”Babi Tanah, 2019” itu dalam tema pamerannya yang diberinya judul ”Memedi Sawah”. Tidak tanggung-tanggung, sebanyak lebih dari peraga 100 memedi sawah dipasangnya di ruang pameran Bentara Budaya. Pesan yang ingin ditampilkan adalah memedi sawah bukan lagi orang-orangan yang dibuat untuk menakut-nakuti burung pipit pemakan padi di sawah, melainkan manusia-manusia yang kini di mana-mana menakuti sesamanya. Jelas memedi sawah adalah simbol yang memadatkan pengalaman ketakutan yang sedang mencekam banyak warga di tahun politik 2019 ini.
Memedi sawah tampil kapan saja, di mana saja, dalam pelbagai ekspresinya: teror, kampanye politik yang membakar, kabar bohong, fitnah, hasutan, intoleransi, dan kekerasan. Nyaris tak ada wilayah yang tak bisa dimasukinya. Media sosial sudah dijadikan koloni ketakutannya. Bahkan memedi sawah bisa menyusup masuk ke dalam kealiman dan kesalehan agama. Di bawah kesalehan agama, ia bisa memaksakan kebenaran yang mutlak. Jika kebenarannya sendiri telah menjadi mutlak, maka kebenaran lain hanya ada untuk ditiadakan dan dilindas.
Untuk mengimajinasikan ketakutan yang ditimbulkan oleh memedi sawah itu, Hari Budiono menampilkan beberapa lukisan lagi, di antaranya adalah manusia bertopeng. Manusia ini mempunyai banyak topeng, yang rupanya tenang, sabar, bijak, sampai yang alim. Ia bisa berganti-ganti topeng sesuai dengan kebutuhan dan situasinya. Namun, kali ini ia mengenakan topeng yang menakutkan, maklum tahun ini ketakutan paling laku dijual di pasar.
Di pasar, ketakutan bisa diancamkan pada massa untuk membuat mereka panik. Namun, massa tak hanya bisa jadi obyek ketakutan. Massa malah bisa dijadikan subyek atau sumber ketakutan. Caranya gampang, cukup dengan menyulut api kemarahan mereka. Ibaratnya, seperti digambarkan Hari Budiono, dengan menyulutkan korek api ke balon. Dan ketika ”meledak balon hijau, dor!”, agresi massa untuk menebar ketakutan takkan bakal lagi bisa tertahankan. Agresi itu bisa menjadi teror.
Sementara siapa yang menyulut korek api tak diketahui lagi. Ia hanya seperti tangan tanpa wajah yang tak bisa dilacak rimbanya. Tampak agresi massa bukan berasal dari kekuatan, melainkan dari kelemahan rakyat, yang diprovokasi dengan ketakutan untuk dijadikan kemarahan yang harus dilampiaskan. Provokasi macam itulah yang biasa dikerjakan oleh tangan-tangan tersembunyi, memedi-memedi sawah populis yang suka membakar emosi massa.
Keluar dari kerumunan massa yang agresif, orang akan kembali menjadi individu, yang sendiri dan ketakutan. Secara individual, ia bukan lagi makhluk yang kuat. Ia takut dan menggigit jari dengan perasaan cemas. Ia tidak tahu bagaimana keluar dari kecemasannya. Ia hanya bisa menggantung kecemasannya tanpa penyelesaian apa-apa. Itulah situasi eksistensial manusia di tengah ketakutan iklim memedi sawah ini.
Ketakutan adalah kekuasaan
Ketakutan itu eksistensial. Karena itu, ketakutan bisa dijadikan materi politik bagi banyak tokoh populis. Presiden Donald Trump, populis kelas wahid ini, jelas menggunakan ketakutan itu sebagai alat politiknya. Seperti dikutip oleh penulis Bob Woodward, Trump pernah mengatakan, ”Kekuasaan yang sesungguhnya— sebenarnya saya tak ingin menggunakan kata ini—adalah ketakutan.”
Tokoh populis Adolf Hitler juga menggunakan ketakutan untuk memupuk kekuasaan politiknya yang brutal dan kejam. Celakanya, Hitler seakan menemukan pembenaran politiknya pada ajaran filsuf terpandang Martin Heidegger. Menurut Heidegger, keberadaan manusia ini terarah pada kematian dan peniadaannya. Karena itu, ketakutan adalah esensi dari keberadaannya. Karena esensial, ketakutan bisa dimanfaatkan untuk apa saja, termasuk kekuasaan. Peluang ini yang dipakai Hitler untuk mengesahkan rezimnya yang fasis dan otoriter itu.
Ketakutan jelas bisa dijadikan modal untuk kekuatan politik. Hal ini telah diteliti filolog sekaligus filsuf Martha Nussbaum. Menurut Nussbaum, lapisan terdasar dan terawal dari emosi manusia adalah ketakutan. Sebagai bayi, manusia sudah dicekam ketakutan. Secara radikal bayi bergantung pada orangtua. Dalam ketakutan, bayi merasa secara naluriah, ia akan mati jika tak bisa menguasai orangtuanya untuk memenuhi kebutuhannya.
Maka, dengan bahasa politik yang mungkin agak berlebihan, Nussbaum bilang, manusia mengawali hidupnya bukan dengan demokrasi, melainkan dengan monarki. Nanti pelan-pelan bayi akan menjadi manusia dewasa dan matang, ketika ia belajar menjalin hubungan dengan orangtuanya bukan sebagai agen yang harus memuaskan kebutuhannya, melaikan sebagai person yang harus dihargai. Ia mulai meninggalkan kecenderungan yang monarkis untuk berkuasa menuju ke sikap demokratis yang bisa secara dewasa mengolah ketakutannya.
Ketakutan itu terlihat bersifat egois dan narsis. Secara politis, ketakutan macam itu berlawanan dengan demokrasi yang justru hendak mengikis egoisme dan narsisme pribadi. Demokrasi akan berhasil bila ia bisa mengatasi ketakutan itu. Sebaliknya, demokrasi akan ambruk bila ia tidak mampu melawan ketakutan yang narsis dan egois itu.
Hal terakhir inilah yang dimanfaatkan sebagai peluang oleh demagog-demagog populis. Mereka terus menghidupkan ketakutan agar pengikut-pengikutnya tersulut marah dan memandang kelompok lain hanya sebagai lawan yang harus ditumbangkan. Jelaslah, ketakutan adalah lawan berat dan ancaman serius bagi demokrasi yang mau mengakui hak dan keberadaan siapa saja, termasuk lawan.
Dari kemarahan lahirlah kemudian kebencian. Karena terus tersulut provokasi kemarahan, kebencian itu akhirnya mengubu dalam kelompok-kelompok. Jika suatu kelompok sudah dilanda kebencian, tak dapatlah mereka diajak berargumentasi terhadap pendirian kelompok lain. Memang siapa membenci, dia tidak mau berkompromi lagi. Kebencian ini pasti berlawanan dengan demokrasi karena demokrasi itu selalu mengandaikan argumentasi dan kompromi terhadap pendirian yang berbeda. Politik kebencian yang mengancam demokrasi ini tengah melanda dunia, juga di Indonesia, lebih-lebih menjelang pilpres mendatang ini.
Lukisan Hari Budiono menggambarkan dengan hidup politik kebencian itu. Dua ekor jago berhadapan, siap bertarung. Keduanya berupa galak dan buas, hendak saling mengabruk. Dan keduanya mempunyai cakar yang kuat luar biasa. Cakar itu demikian kuat, tak seperti cakar ayam biasanya. Dengan cakar itu, kedua ayam jago itu mencengkeram anak-anak ayam, yang bulunya berwarna-warni, merah, kuning, putih, hijau, biru, seperti warna-warni partai politik di Indonesia. Mestikah pilpres mendatang seperti adu jago sambil mencengkeramkan cakar pada rakyat dalam ketakutan? Itulah pertanyaan yang muncul ketika mengamati lukisan berjudul ”Warna-warni Ayam Negeri” tersebut.
Indonesia yang tertawa
Pesimisme ini rasanya dengan sengaja dimunculkan dalam pameran lukisan Hari Budiono. Ia memasang delapan memedi sawah, yang pada perutnya ditempelkan tulisan berhias. Kalau diurutkan, tulisan itu adalah rangkaian syair dua bait pertama dari lagu ”Ibu Pertiwi”, yang melagukan kedukaan dan kesedihan Bumi Pertiwi yang tercinta ini. Tentu kini Ibu Pertiwi sedang bersedih hati, merintih, dan berdoa, melihat keadaan anak-anaknya yang saling marah dan membenci ini.
Kita berasal dari satu hutan, gunung, sawah, dan lautan, yang menyimpan kekayaan, mengapa kita bertengkar baku hantam, seakan kita bukan saudara setanah air yang saling mengenal? Ini sungguh menyedihkan. Siapa pun tahu, juga memedi sawah yang menakutkan itu. Kendati segala ketegaannya, sebagai anak bangsa mereka pun tahu dan harus mengaku bahwa Ibu Pertiwi pasti sedang bersedih hati melihat kelakuan mereka yang menakutkan itu.
Memang, betapapun minimnya, memedi sawah masih tetap mempunyai nurani kebangsaan. Maka, delapan memedi sawah lainnya memasang potongan kalimat dua bait berikutnya dari syair lagu Ibu Pertiwi. Mereka ingin datang berbakti dan menggembirakan Ibu Pertiwi. Karena itu, mereka menyanyi: Ibu kami tetap cinta/putramu yang setia/menjaga harta pusaka/untuk nusa dan bangsa.
Cinta, kesetiaan, dan kegembiraan terhadap Ibu Pertiwi itulah sesungguhnya inti pesan dari karya seni instalasi ”Memedi Sawah” dari Hari Budiono ini. Maka, dengan sabar, ia mencari, mempersiapkan, dan kemudian melukis seratus wajah manusia Indonesia. Wajah yang mewakili siapa saja. Wajah presiden dan wakilnya, wajah penantangnya di pilpres mendatang. Wajah menteri, gubernur, wakil rakyat. Wajah guru bangsa, intelektual, dan tokoh masyarakat. Wajah artis, film, penyanyi, pelawak. Wajah sastrawan, seniman kolektor seni.
Orang pasti langsung mengenal sebagian besar dari wajah-wajah itu. Namun, ada wajah juga yang mungkin tidak kenal, wajah tukang becak, pedagang kecil, dan petani. Dan apa yang fantastis dari 100 wajah tersebut? Semua wajah itu tertawa! Tak ada satu pun yang tidak tertawa. Dalam tawa, tiada lagi bedanya presiden dan tukang becak, menteri dan kuli, artis cantik dan orang biasa, kaum cerdik pandai dan orang tak berpendidikan tinggi, mereka yang suci dan mereka yang tak beribadat sama sekali.
Tertawa membuat semua orang jadi sama. Karena tertawa, semua orang adalah manusia. Maka, dalam tawa, kendati orang tahu nama presiden, tokoh, atau orang-orang ternama itu, mereka-mereka ini pada hakikatnya adalah mereka yang tak bernama, seperti orang biasa. Tertawa membuat semua orang jadi sama, yakni manusia Indonesia. Itulah makna gambar 100 wajah tertawa yang tak bernama.
Lalu, 100 wajah tertawa itu ditempelkannya pada dada 100 memedi sawah. Maka, inilah puncak pesan dari karya instalasi seni Hari Budiono itu: memedi sawah itu jadi tidak menakutkan lagi, mereka telah tertawa dengan tawa manusia Indonesia, mulai dari presiden sampai rakyat biasa. Memang, ketakutan sosial hanya bisa dikalahkan dengan tertawa bersama-sama. Ketakutan itu memecah belah, sedangkan pada hakikatnya tertawa itu menyatukan. Maka, dengan senjata kesatuan tawa ini, ketakutan yang hanya pandai marah, membenci, dan memecah belah pasti akan dibuat lari terbirit-birit dan berantakan nasibnya.
Kita pasti lebih suka tertawa daripada takut. Takut membuat kita terkurung, tertawa membuat kita bebas. Takut cenderung menjadikan suatu pegangan atau kebenaran hidup menjadi absolut. Tertawa tidak pernah mengabsolutkan apa pun. Ketika orang tertawa, semuanya bisa jadi relatif, termasuk dirinya sendiri.
Bagi mereka yang suka tertawa, pengabsolutan itu menggelikan, tapi juga mengerikan. Karena itu, mereka menolak keabsolutan. Mereka percaya, kegembiraan hidup bisa diperoleh bila orang mau menerima bahwa dunia selalu berubah, tidak ada yang tetap dan pasti dalam perubahan di dunia ini. Takut itu mengunci masa depan, sedangkan tertawa membuka masa depan, karena mampu melihat adanya kemungkinan-kemungkinan baru, suatu tata dunia baru, dan suatu cara hidup baru yang bakal terjadi nanti.
Karena pandai tertawa, orang bisa menerima kegagalan dan keterbatasannya. Dengan demikian, ia juga bisa toleran terhadap keterbatasan dan kegagalan sesamanya. Maka, tak mungkin orang bisa toleran bila ia dilanda takut. Ia harus berani tertawa, dan lepas dari ketakutannya. Dan siapa bisa melepaskan diri dari ketakutannya terhadap sesama atau kelompok di luar dirinya akan menjadi toleran dan menghormati sesamanya.
Dengan tertawa, kita bisa mengembalikan memedi sawah ke habitatnya. Biarlah mereka kembali ke sawah, menjaga padi para petani. Jangan ada memedi sawah berkeliaran dalam dunia politik dan terus menakut-nakuti di Tahun Babi Tanah ini. Pilpres dan pemilu legislatif mendatang kiranya harus bisa mengembalikan kita menjadi bangsa yang tertawa, bangsa yang dikenal ramah di dunia. Kalau sampai pilpres membuat kita menjadi bangsa yang dilanda takut, pastilah ada yang salah dengan politik kita.
Sebelum itu terjadi, baiklah ketakutan itu kita robohkan. Caranya, kita bersedia untuk tertawa dan ramah terhadap sesama. Demokrasi tak mungkin dibangun dengan kemarahan, yang sumbernya adalah ketakutan karena egoisme, narsisme diri yang berlebihan. Kita bisa membangun demokrasi itu bila kita rela untuk tidak mengabsolutkan kehendak kita. Dan untuk itu kita harus berani kembali menjadi bangsa yang mudah tertawa. Ya, tertawa itu mempunyai kekuatan magis. Seperti kata peribahasa: ”dengan tawa di antara kita, air tawar saja langsung jadi manis rasanya”.
Sindhunata Wartawan, Penanggung Jawab Majalah Basis, Yogyakarta
Dikutip dari Kompas edisi 23 Februari 2019



Ayu Utami Prihatin dengan Bahasa yang Jelek



Penulis novel Ayu Utami beranggapan menulis jadi salah satu cara berkomunikasi. Perempuan kelahiran Bogor,  21 November 1968 itu,  selalu menyisipkan pesan dan peristiwa tertentu dalam karyanya.  Sebagaimana novel Saman, karyanya,  memuat kisah tentang ketidakadilan pada era Presiden Soeharto.
Namun Ayu prihatin kualitas tulisan generasi muda, terutama murid yang ikut dalam kelas menulisnya semakin jelek. “Dari tahun ke tahun saya semakin banyak menemukan orang makin jelek tulisannya. Tata bahasanya jelek, logika kalimatnya tidak nyambung, dan tidak bisa membuat tulisan runtut,” ujar Ayu, di Jakarta, Rabu (16/1/2019) malam.
Menurut dia, fenomena ini disebabkan banyaknya anak-anak yang terpapar bahasa jelek di media sosial. Untuk itu, cara yang paling mudah mempelajari bahasa yang benar adalah membaca karya tulisan yang mendapat penghargaan.
Kini, ia sedang menyiapkan karya terbarunya,  Anatomi Rasa yang akan terbit  Februari 2019. Buku ini  memuat pemikiran yang seolah ditulis oleh Parang Jati, tokoh utama dalam novel Bilangan Fu. “Ini adalah teorisasi dari konsep rasa yang sangat penting dalam seni dan kebatinan Jawa,” jelas dia.
Novel itu akan menjadi karya pertama Ayu Utami yang berisikan unsur  puisi bahasa Jawa dalam bentuk pangkur dan sinom. Karena itu, ia banyak mempelajari karya dari Mangkunegara IV dan Ranggawarsita. (Fransisca Natalia Anggraeni)

Ditulis oleh Budi Suwarna, dikutip dari Kompas edisi 21 Januari 2019

Keheningan Liar Rawa Bento di Jambi

Menyatu dengan alam rawa berikut masyarakat pendukungnya tak harus jauh-jauh dari kota. Berjarak 60 kilometer dari Bandara Kerinci, Jambi, surga alam rawa tertinggi di Sumatera siap menyambut pengunjung.


Deru mesin perahu mengusik sekawanan bangau putih di hamparan rawa. Kawanan itu melesat terbang menuju tepian Rawa Bento, Kecamatan Gunung Tujuh, Kabupaten Kerinci, Jambi.
Pemandangan alam di sekitar Rawa Bento di Desa Jernih Jaya, Kecamatan Gunung Tujuh, Kabupaten Kerinci, Jambi, Sabtu (18/8/2018) dari atas perahu
Jika tidak ada deru mesin, permukaan rawa itu pastilah dipadati bangau-bangau putih. Tak jarang bangau tongtong melintas di atasnya.
Jalur sungai yang membelah hutan tropis di dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) itu adalah rumah nyaman bagi kawanan itu. Sekaligus tempat berburu makanan. Di balik permukaan sungai, beragam jenis ikan air tawar hidup, mulai dari semah, seluang, pareh, hingga belut.
Bangau-bangau tak sendirian. Lebih dari 400 jenis burung berseliweran, meramaikan surga alam di tengah lembah yang memisahkan Gunung Tujuh dan Gunung Kerinci.
Bersama burung-burung itu, berbaur ratusan kerbau. Warga setempat terbiasa melepas ternak kerbaunya berkeliaran. Ternak-ternak itu bebas merumput semau hati di Rawa Bento.
Di antara pepohonan, sekelompok primata bermain-main, seakan tak menghiraukan kehadiran para tamu di atas kapal. Pemandangan begitu luas di jalur itu. Terbentang wajah Gunung Tujuh nan hijau di sisi barat, sedangkan di bagian timur menjulang Gunung Kerinci yang puncaknya mencapai tinggi 3.805 meter di atas permukaan laut.
Kami jelas beruntung, karena masih sempat menyaksikan seluruh pemandangan itu pada medio September 2018. Tak sampai satu jam kemudian, awan mulai menyingkap puncak gunung-gunung.
Sekitar 20 menit menyusur sungai hingga sepanjang 4 kilometer, kapal berbelok ke salah satu anak sungai. Pada jalur ini, badan sungai semakin menyempit. Di salah satu perhentian, Samto, warga setempat, mengajak turun dari perahu.
Tibalah kami pada hamparan luas rerumputan. Pepohonan tua yang batang dan akarnya diliputi lumut tersebar di hamparan itu. Bagian puncak pohon bertajuk luas sehingga melindungi satwa liar di saat hari beranjak siang.
Rawa Bento sejatinya juga telah menjadi sandaran hidup masyarakat lokal. Menurut Samto, mereka memperoleh sumber air dan makanan dari sana. Kebutuhan lauk sehari-hari mereka didapatkan dari memancing ikan. Pucuk-pucuk rumput yang menjalar di atas rawa pun dapat diolah menjadi sayuran. Tak jarang tamu yang berwisata disuguhi beragam jenis masakan asli setempat.
Rawa tertinggi
Berada pada ketinggian lebih dari 1.300 meter di atas permukaan laut, Rawa Bento itu dinobatkan sebagai rawa tertinggi di Sumatera. Luasnya mencapai 1.000 hektar dilengkapi beragam vegetasi rumput. Leersia hexandra merupakan salah satu jenis rumput ilalang yang paling dominan. ”Kami biasa menyebutnya rumput bento. Dari situlah muncul istilah rawa bento,” kata Samto.
Rawa itu dulunya tampak luas seperti danau. Sedimentasi membuat danau itu mendangkal sehingga kini dipenuhi rumput. Saat menyusurinya tampak dari kejauhan air rawa berwarna kehitaman, tetapi jika dilihat dari dekat, airnya jernih dan banyak ikan.
Peneliti yang juga ahli biologi konservasi Jatna Supriatna dalam bukunya berjudul Berwisata Alam di Taman Nasional yang terbit tahun 2014 menyebut Rawa Bento sebagai hutan rawa air tawar yang sebagian besar permukaannya ditumbuhi rumput bento. Terdapat sungai yang mengalir di bawah rawa ini, yaitu Sungai Rumpun dan Sungai Sangir.
Kawasan itu habitat burung migran, burung rawa, serta kerbau liar milik penduduk yang dilepas bertahun-tahun. Rawa air tawar itu disebutnya sebagai sumber tangkapan air.
Selain rumput bento, terdapat pula jenis-jenis rumput dari keluarga Cyperaceae atau rumput teki. Adapun vegetasinya berisi jenis nyatoh (Palaquium sp), pakoba (Syzygium sp), janitri (Elaeocarpus sp), dan jenis beringin (Ficus sp).
Pemandu kami, Dozer Holizar, yang juga mengetuai BUMDes Rawa Bento, menceritakan, di masa lalu rawa itu dipenuhi tanaman eceng gondok. Masyarakat percaya eceng gondok dapat bersih sewaktu-waktu dari permukaan rawa setiap kali digelar tradisi bersih desa. Namun, di masa kini, masyarakat memilih bergotong royong membersihkan rawa agar perahu dapat tetap melintas.
Meski masuk kawasan hutan, rawa itu relatif mudah dicapai. Ada sejumlah akses dari desa-desa penyangga taman nasional. Jalur yang terdekat dan termudah adalah lewat Desa Jernih Jaya, Kecamatan Gunung Tujuh, Kabupaten Kerinci.
Dari Bandara Depati Parbo Kerinci, rawa ini dapat ditempuh dengan perjalanan darat berjarak 60 kilometer. Setelah tiba di Dermaga Desa Jernih Jaya, tersedia sejumlah perahu sewaan untuk menuju lokasi rawa. Perahu-perahu itu dibeli dari modal awal dana desa yang dikelola BUMDes Jernih Jaya.
Masyarakat masih terbiasa menyusuri sungai dengan sampan. Belakangan, setelah dana desa masuk, mereka membuat perahu mesin agar ujung rawa dapat ditempuh lebih cepat. Jika sebelumnya butuh lima jam menyusuri sepanjang sungai menuju Rawa Bento, kini cukup 50 menit dengan perahu motor.
Namun, tak semua tamu memilih perahu bermesin. Beberapa lainnya malah lebih suka menggunakan sampan karena dapat menyusuri sungai tanpa suara bising mesin kapal. Dengan begitu, tamu lebih leluasa menikmati satwa bermain-main di atas air atau melintas di udara.
Surga terancam
Keasrian alam di Rawa Bento terbilang utuh. Namun, pesona itu bukanlah tanpa ancaman. Beberapa kali masyarakat menangkap basah pemburu liar burung.
Ada pula pencari ikan yang membawa alat setrum. Jika dibiarkan, pelengkap lanskap surga alam tersebut terancam lenyap dari ekosistem Rawa Bento.
Menyadari besarnya ancaman, sejak tahun lalu mereka menerbitkan peraturan desa (perdes). Isinya berupa larangan menyetrum ikan dan memburu burung. Perdes juga melarang penebangan pohon. Jika pelakunya tertangkap tangan, akan dikenai denda Rp 5 juta.
Kepala Balai Besar TNKS, Tamen Sitorus menyebut kelestarian di Rawa Bento didukung oleh masyarakat yang sadar untuk turut menjaga. Kelestarian itu menjadi aset penting tumbuhnya pariwisata dalam taman nasional.
Keindahan alam berpadu dengan berbagai potensi lain, di antaranya kuliner kopi Kerinci dan kerajinan tangan. Taman nasional jangan sampai hanya menjadi monumen alam, tetapi selayaknya memberi manfaat bagi seluruh kehidupan masyarakat.
Di Rawa Bento, keheningan alam liar adalah surga dunia yang selayaknya dijaga keberlanjutannya.
Ditulis oleh Irma Tambunan, dikutip dari Kompas edisi 11 November 2018

Jennifer Lawrence Belajar Aksen Rusia



Aktris Jennifer Lawrence tidak ingin melibatkan teman-temannya untuk belajar aksen Rusia sesuai dengan perannya di film terbaru, Red Sparrow. Alasannya, Jennifer khawatir teman-temannya tidak mau berbicara dengannya lagi karena merasa dimanfaatkan untuk kepentingan pribadinya.
“Dua minggu sebelum shooting film, Francis Lawrence (sutradara) mengatakan, ‘Kamu harus beraksen (Rusia) di rumah, atau bicaralah dengan teman-temanmu’. Lalu, saya jawab saja, ‘Francis, saya tidak punya teman-teman yang bisa diajak ngobrol dengan aksen Rusia. Bisa-bisa nanti saya tidak diajak bicara lagi’,” ujar Jennifer kepada Majalah Star, Minggu (8/7/2018).
Untuk itulah, Jennifer yang mementingkan persiapan yang matang untuk sebuah film, belajar sendiri aksen bicara Rusia selama beberapa bulan. Dalam film arahan Francis Lawrence, Jennifer berperan sebagai Dominika Egorova, seorang balerina yang menjadi mata-mata Rusia.
“Sebelumnya, saya tidak pernah belajar aksen bicara dari negara lain dalam jangka waktu yang lama. Selama empat bulan, saya berusaha sampai kemudian mirip dengan orang Rusia. Sampai kemudian, ketika kamu memakai kostum sesuai dengan sosok yang diperankan, langsung bisa menyesuaikan gaya bicaranya,” ujar peraih Oscar lewat film Silver Linings Playbook ini.
Bukan hanya berbicara dalam aksen Rusia, Jennifer juga belajar balet. “Selama empat bulan, saya belajar balet tiga jam sehari. Rasanya mustahil, bisa belajar balet hanya dalam waktu empat bulan. Tetapi, saya kira, usaha itu tidak sia-sia,” ujarnya. (Contact Music)
Oleh MARIA SUSY BERINDRA
Dikutip dari Kompas edisi 10 Juli 2018

Meneropong APBN 2019

Rapat paripurna DPR 31 Oktober 2018 menyetujui Rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2019 disahkan menjadi Undang-Undang APBN 2019.
APBN 2019 memiliki nilai dan peran strategis karena merupakan APBN terakhir di pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla, sekaligus APBN transisi yang akan menjembatani dengan pemerintahan pasca-pilpres 17 April 2019. Alih-alih menganalisis APBN 2019 secara parsial-jangka pendek, kita membutuhkan pengamatan dalam bentangan yang lebih luas agar kesinambungan pembangunan ekonomi dapat terjaga.
APBN lebih sehat, adil, dan mandiri
Postur APBN 2019 secara alamiah meningkat sekitar 30 persen dibandingkan posisi 2014, baik pendapatan negara yang naik dari posisi Rp 1.667 triliun (2014) menjadi Rp 2.165 triliun (2019) maupun belanja negara dari Rp 1.842 triliun (2014) menjadi Rp 2.461 triliun (2019). Pemerintah mengklaim APBN 2019 berciri ”sehat, adil, dan mandiri”.
Sehat lantaran target rasio defisit APBN terhadap produk domestik bruto (PDB) semakin turun, yakni 1,84 persen (target 2019), dari 2,33 persen (2013), 2,25 persen (2014), 2,59 persen (2015), 2,49 persen (2016), 2,51 persen (2017), dan 2,12 persen (outlook 2018). Rasio keseimbangan primer terhadap PDB pun konsisten menurun mendekati nol, yakni 0,12 persen atau Rp 20,1 triliun, dari sebelumnya 1,23 persen (2015), 1,01 persen (2016), 0,92 persen (2017), dan 0,44 persen (outlook 2018).
APBN 2019 juga adil karena menekankan efisiensi dan relokasi dengan berfokus pada pembangunan manusia. Pascamenggenjot pembangunan infrastruktur yang menjadi prasyarat dasar bagi produktivitas dan daya saing perekonomian yang tertinggal, pemerintah menggeser fokus ke sumber daya manusia (SDM) yang akan menjadi prasyarat penting bagi investasi di era Industri 4.0. Inilah ABPN yang berparas humanis karena secara eksplisit menyatakan pentingnya kualitas manusia dan mengalokasikan insentif khusus untuk sektor ini.
Rinciannya, anggaran pendidikan tahun 2019 sebesar Rp 492,5 triliun atau naik 40 persen dibandingkan anggaran tahun 2015 sebesar Rp 390 triliun, dengan fokus percepatan pembangunan sarana dan prasarana, perluasan program beasiswa, alokasi dana abadi penelitian, dan penguatan pendidikan vokasi. Khusus untuk pendidikan vokasi, APBN 2019 mengalokasikan belanja Rp 17,2 triliun atau 2,5 kali dari anggaran tahun 2015 sebesar Rp 6,8 triliun, dan alokasi insentif pajak (tax expenditure) untuk penelitian dan pengembangan oleh dunia usaha dan dunia industri sebesar Rp 18 triliun.
Di sektor kesehatan, APBN 2019 mengalokasikan anggaran Rp 123,1 triliun atau naik dua kali lipat dibandingkan alokasi 2015 sebesar Rp 69,3 triliun, dengan berfokus pada perluasan penerima bantuan iuran Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menjadi 96,8 juta jiwa, perbaikan pelayanan, percepatan penanganan stunting, dan optimalisasi bauran kebijakan bagi program JKN. Untuk memberikan perlindungan sosial dan peningkatan kesejahteraan bagi 40 persen penduduk berpenghasilan terendah, APBN 2019 memperkuat Program Keluarga Harapan (PKH) dengan sasaran 3,5 juta keluarga (2015) menjadi 10 juta keluarga (2019), peningkatan jumlah sasaran penerima kredit ultramikro dari 0,3 juta orang (2017) menjadi 1,4 juta orang (2019), mahasiswa penerima Bidikmisi meningkat dari 269.000 orang 2015) menjadi 471.000 orang (2019).
Alokasi transfer ke daerah dan dana desa meningkat tajam dari Rp 623,1 triliun (2015) jadi Rp 826,8 triliun (2019), dengan dana desa dari Rp 20,8 triliun (2015) jadi Rp 70 triliun (2019) ditambah alokasi Rp 3 triliun untuk dana kelurahan.
Ciri mandiri dalam APBN tecermin dalam dua hal, menurunnya pembiayaan utang dalam dua tahun terakhir dan peningkatan pendapatan negara. Jauh dari gegap gempita polemik di ruang publik, tahun 2019 pemerintah menargetkan utang sebesar Rp 359,3 triliun atau tumbuh negatif 7,3 persen dibandingkan outlook posisi utang 2018 sebesar Rp 387,4 triliun dan posisi 2017 sebesar Rp 429,1 triliun. Sebaliknya, pembiayaan investasi meningkat dari Rp 59,7 triliun (2015) jadi Rp 75,9 triliun (2019). Dengan kata lain, rasio utang terhadap PDB tetap terjaga. Hal ini juga ditopang kinerja penerimaan perpajakan yang semakin prima.
Meski sempat terseok-seok pada 2015- 2016 akibat target pajak yang cukup ambisius di tengah perlambatan ekonomi, dan mencapai titik nadir pada 2017, kini kita mengalami titik balik yang menggembirakan. Kontribusi penerimaan perpajakan terhadap APBN semakin signifikan, dari 74 persen pada 2014 menjadi 83,1 persen tahun 2019.
Untuk pertama kali dalam sejarah, pendapatan negara diproyeksikan menembus Rp 2.000 triliun, atau persisnya Rp 2.142,5 triliun. Pertumbuhan penerimaan perpajakan hingga 30 September 2018 sebesar 16,6 persen, jauh di atas rata-rata pertumbuhan penerimaan perpajakan 2013- 2017 sebesar 6,5 persen. Titik balik ini merupakan buah positif amnesti pajak yang berhasil membangun kesadaran dan meningkatkan kepatuhan wajib pajak, di samping perekonomian yang terus tumbuh dan ditopang kenaikan harga komoditas. Membaiknya kinerja sektor perpajakan menjadi angin segar bagi kesinambungan pembiayaan pembangunan, termasuk dukungan sektor penerimaan negara bukan pajak yang semakin baik.
Tantangan dan arah
Perbaikan kinerja APBN menyembulkan optimisme bahwa tata kelola perekonomian Indonesia telah berjalan di rel yang tepat dan menuju arah yang benar. Meski demikian, beberapa hal perlu menjadi catatan kewaspadaan agar momentum ini tidak terlewatkan sia-sia.
Pertama, mewaspadai kinerja dan tren perekonomian global. Semakin terhubungnya perekonomian Indonesia dengan perekonomian global membawa konsekuensi pada semakin besarnya pengaruh eksternal. Alih-alih mengarahkan biang permasalahan kepada faktor luar, kita harus terus melakukan otokritik dan memperkuat kinerja perekonomian domestik dengan kebijakan yang tepat dan cepat, termasuk mendorong kinerja ekspor dan menjaga nilai tukar.
Kedua, kebutuhan akan visi besar perekonomian nasional. APBN adalah satu hal dan perekonomian nasional adalah hal lain. Meski tak dapat dipisahkan, keduanya dapat dibedakan. Cakupan perekonomian nasional lebih luas dan kompleks dibandingkan APBN, tetapi visi ekonomi politik pemerintah dalam APBN akan menentukan arah perekonomian nasional. Diperlukan perubahan paradigma seluruh elemen pemerintah pusat ataupun daerah dari sekadar regulator menjadi fasilitator dan akselerator. Orkestrasi—melalui tiga peran kunci harmonisasi, breakthrough (terobosan), dan debottlenecking (menghilangkan hembatan-hambatan)—akan amat menentukan.
Ketiga, penataan ulang format desentralisasi politik dan fiskal agar kompatibel dengan kebutuhan corak struktur yang lebih ramping dan gesit. Arsitektur fiskal yang masih tumpang tindih dan ruang fiskal yang sempit jelas tidak efektif dan tidak sehat sehingga membutuhkan penataan kewenangan dan kelembagaan yang baru, termasuk pengukuran outcome belanja APBN/APBD yang lebih baik.
Keempat, daya ungkit ekonomi membutuhkan investasi baru yang signifikan. Dalam waktu singkat, belanja pemerintah, daya beli masyarakat, dan kinerja ekspor memiliki keterbatasan untuk mendorong pertumbuhan. Maka, kita patut bertumpu pada investasi. Sayangnya, paket kebijakan dan insentif pajak yang sudah digelontorkan, termasuk membaiknya berbagai kemudahan bisnis, belum mampu menarik investasi dalam jumlah besar. Diperlukan koordinasi dan sinergi kelembagaan yang lebih baik, terutama kepastian hukum dan iklim politik yang kondusif, agar investor mendapat jaminan kemudahan hingga implementasi teknis di lapangan. Sektor hulu migas yang secara tradisional berkontribusi cukup besar tetapi belakangan seret perlu mendapat perhatian yang lebih baik. Sektor padat karya yang selama ini menyangga perekonomian nasional dan kini sekarat juga layak mendapat pertolongan.
Kelima, arah kebijakan perpajakan sudah tepat tetapi perlu akselerasi. Reformasi perpajakan yang sedang dilakukan merupakan satu tarikan napas dengan amnesti pajak dan kebijakan keterbukaan informasi keuangan untuk kepentingan perpajakan. Penuntasan agenda reformasi menjadi keniscayaan, terutama fokus pada peningkatan kepastian hukum melalui harmonisasi dan sinkronisasi kebijakan/ aturan perpajakan dengan iklim investasi usaha, penyederhanaan sistem administrasi dan tata cara perpajakan, khususnya pemeriksaan, restitusi, dan sengketa pajak, serta meningkatkan akuntabilitas dan profesionalitas lembaga pemungut pajak.
Di balik hiruk-pikuk politik nasional yang prima facie sangat dikotomis dan keruh, kita layak berharap bahwa arah kebijakan ekonomi Indonesia yang sedang berjalan pada arah yang benar ini terjaga kesinambungannya. Racikan antara penguatan infrastruktur, deregulasi, dan pembangunan manusia menjadi bekal awal yang baik. Seraya menikmati dinamika politik yang semakin mendominasi ruang publik, kita wajib memastikan kinerja ekonomi terus membaik tanpa harus terinterupsi oleh proses politik.
Dalam lintasan sejarah, ekonomi Indonesia telah terbukti memiliki daya tahan tinggi dalam menghadapi gelombang besar. Melampaui aneka capaian dan perdebatan statistika, konstitusi harus menjadi pemandu arah. Dalam impitan arus populisme dan sentimen nasionalisme kerdil yang deras menghantam, siapa pun yang kini bersolek dan mendaku layak menjadi pemimpin ditantang dan diuji untuk menjadi negarawan yang sanggup menggembalakan rasionalitas publik.
Yustinus Prastowo Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis, Jakarta
Dikutip dari Kompas edisi 6 November 2018