Dari Jakarta Menuju Semarang dan Bandung


Liburan Bersama Keluarga


Tepat tanggal 18 Maret lalu, usia saya genap 75 tahun. Ulang tahun pertama tanpa kakak pertama saya, Arifin Panigoro. Padahal jarak tanggal ulang tahun kami hanya terpaut empat hari saja. Arifin berulang tahun pada tanggal 14 Maret dan saya 18 Maret. Namun Arifin sudah meninggalkan kita semua sebelum ia berulang tahun.

Perayaan ulang tahun kali ini dilaksanakan di kediaman saya di Jeruk Purut, hanya dihadiri keluarga dan beberapa kolega, tidak lebih dari lima puluh orang yang hadir, semuanya dengan prosedur kesehatan yang ketat.

Penghelatan pertambahan usia saya kali ini diisi dengan alunan piano dari beberapa orang pianist diantaranya Aditya Setiadi, Dimas Kushapsoro, diiringi oleh nyanyian dari Edit Widayani, Jessica Januar dan Adit Silaban. Mereka mempersembahkan banyak lagu secara bergantian di acara ulang tahun saya. Semuanya indah dan terasa lengkap dengan penampilan mereka.


Ulang Tahun ke-75 tahun


Perayaan ulang tahun pun masih berlanjut. Istri dan anak mantu saya sudah merencanakan perjalanan ke Semarang-Bandung lewat darat bersama cucu-cucu saya. Akhirnya kami memutuskan berangkat di hari Minggu, 20 Maret dari Jakarta.

Saya berangkat ke Semarang bersama istri, mantu plus dua cucu. Cucu saya yang pertama bernama Daria dan yang kecil bernama Hanna. Kami menginap di Novotel Semarang.  Mengapa saya memilih menginap? Saya hanya ingin beristirahat sambil tetap bisa menikmati liburan kami keseluarga.

Sarapan pertama kami di Semarang, saya pilih di Pandanaran. Sebuah pusat jajan Semarang yang spesialisasinya menjual Bandeng, Lumpia kering dan basah, dan masih banyak lagi makanan khas Semarang lainnya. Perjalanan ke Semarang kali ini, bukanlah yang pertama kali bagi saya sekeluarga, namun untuk kesekian kalinya, tentu saja spot-spot wisata yang ternama seperti Simpang Lima Lawang Sewu dan tempat wisata lainnya di Semarang sudah pernah saya sambangi.

Dalam pandangan saya, arsitektur rumah gedung Belanda di Semarang tidak kalah indahnya dengan arsitektur rumah gedung Belanda yang ada di Bandung. Keduanya memiliki sisi estetika dan keunikan masing-masing.

Masih di hari yang sama, setelah breakfast saya langsung melanjutkan perjalanan ke rumah bambu di Salatiga, rumah yang berdesain arsitektur unik ini dibangun dan didesain oleh arsitek terkemuka, Budi Pradono. Desain rumah bambu memenangkan Arcasia Architecture Awards (AAA) 2016. Interior rumah bambu terdiri dari beberapa kamar, dan disewakan per rumah tidak per kamar.

Berbicara tentang Budi Pradono, ia seorang arsitek dengan banyak sekali maha karya dan sudah meraih banyak penghargaan seperti  Cityscape Architecture Award (2004), AR Awards for Emerging Architecture (2005), World Architecture Festival Award (2008), Silver medal & Honorary diploma INTERARCH, Triennial Architecture (2009) hingga Arcasia Architecture Awards (2016). Pada 2005, karyanya pun pernah diliput a+u, majalah arsitektur dan urbanisme Jepang yang menjadi benchmark bagi para arsitek.


Budi Pradono-Arsitek Rumah Bambu


Budi Pradono juga yang mendesain rumah yang saya tempati bersama keluarga. Tentu saja saya memilihnya karena konsep desainnya yang selalu mengedepankan Arsitek Hijau, dengan penggunaan bahan-bahan yang natural dan tidak biasa.
 

Rumah Bambu


Perjalanan kami selanjutnya ke desa Kandangan Temanggung, kami berburu Radio Magno. Sebuah pabrik radio dan sepeda berbahan kayu yang namanya sudah mendunia. Magno sendiri didirikan oleh Singgih Susilo Kartono, seorang alumni seni rupa ITB. Produk Magno telah mendunia di lima benua, dan uniknya radio Magno sendiri sulit untuk didapatkan di tanah air, karena lebih banyak dijual di luar negeri.


Kayu-kayu yang digunakan radio Magno berasal dari kayu Mahoni, Pinus dan Rosewood India. Harganya pun bervariasi rata-rata per unit jutaan rupiah. Saya beruntung mendapat sebuah radio kayu untuk hadiah kepada anak saya.

 

Bersama Singgih Susilo Kartono


 

Setelah dari Temanggung, kami menuju ke komplek candi Borobudur dan menginap di Hotel Plataran Heritage. Sebuah hotel yang indah dan nyaman. Hanya saja sayangnya saat sedang bermain di luar, cucu saya Hanna tertimpa ranting pohon dan mengalami luka goresan pada kulitnya.


Keesokan harinya, kami menuju candi Borobudur. Meskipun kami tidak bisa menaiki candi, namun kami mendapatkan banyak informasi dari guide dengan pengetahuan yang memadai, sehingga kami mengetahui beberapa informasi tentang sejarah candi Borobudur, bahwa candi ini sebuah kuil budha terbesar di dunia dan dibangun untuk memuliakan raja-raja saat dinasti Syailendra. Sempat mengalami beberapa pemugaran di zaman Inggris, Belanda hingga masuk ke dalam Keajaiban Dunia UNESCO.


Bersama Keluarga di Borobudur dan Prambanan


 

Keesokan harinya, kami menuju sebuah dusun di Bantul dan menginap di Mountain Cabin, berada di sebuah hutan, dengan konsep “Sunyi, Sepi dan Sendiri” sepertinya ini saatnya melakukan kontemplasi.

 

Mountain Cabin


Keesokan harinya kami mengunjungi seorang sahabat  bernama Djodi Trisusanto, seorang tokoh perhotelan yang memiliki sebuah rumah tua, yang dikonservasi di pusat batik Solo, bernama Lawean. Rumah tersebut diberi nama “When in Solo”.  Saudara Djodi tidak hanya merenovasi tapi juga mengkonservasi rumah tersebut dan mengisinya dengan perabotan yang memadai disertai koleksi buku yang sangat lengkap dan bagus.


Beruntungnya, di malam harinya, kami mendapatkan suguhan tari klasik Jawa, yang dipersembahkan oleh maestro tari yang bernama Rambat. Ia mengisi acara bersama sahabatnya, seorang dalang wanita yang bermain Rebab.

 

When in Solo-Laweyan


Rambat dan Dalang Wanita yang Bermain Rebab

 

Keesokan harinya kami mengunjungi dan menikmati menu andalan,  Soto Legendaris Solo, Triwindu.

 

Soto Triwindu


Usai kunjungan ke Lawean kami menuju ke Purwokerto, untuk mengunjungi tiga orang supir dan asisten rumah tangga yang sudah puluhan tahun bekerja pada kami, mereka bernama Karsono, Darsikin dan Nano. Syukur alhamdulillah rumah mereka luas dan asri.


Setelah dari Purwokerto, keesokan harinya, kami langsung menuju Bandung untuk mengunjungi Saung Mang Udjo dan  rumah keluarga besar Panigoro. Tepat 28 Maret dengan perasaan bahagia kami pulang menuju rumah saya di Jakarta. Perjalanan liburan kali ini terasa penuh warna.

 

 

 

 

Menelisik Isi Hati Sjafruddin Prawiranegara

Monolog Sejarah 

Oleh SEKAR GANDHAWANGI

Kompas, 17 April 2022

 





Dulu, jauh di dalam hutan rimba Sumatera Barat, Sjafruddin Prawiranegara (1911-1989) pernah menjabat sebagai orang nomor satu di pemerintahan Indonesia. Perannya penting untuk menyambung sejarah negara ini. Namun, agaknya ingatan bangsa akan Sjafruddin sudah pudar.

 

Kali ini, ”Sjafruddin” sendiri yang akan menceritakan dirinya. Cerita tentang pemerintah yang ada di ujung tanduk. Cerita tentang rindu pada keluarga yang terbendung rapatnya hutan. Dan, cerita tentang kekecewaan. Dia akan bercerita selama 40 menit.

 

Ada puluhan orang yang datang ke Gedung Kesenian Jakarta, Jumat (15/4/2022) malam, untuk mendengarkan kisah ”Sjafruddin”. Sedikitnya 60 kursi yang disusun di atas panggung terisi.

 

Penonton diajak pergi ke tahun 1948 begitu lampu panggung meredup. Itu adalah masa Agresi Militer II. Belanda baru saja menawan Soekarno, Mohammad Hatta, dan sejumlah tokoh bangsa lain. Mereka lantas diasingkan ke Muntok, Kepulauan Bangka Belitung.

 

Walau begitu, pemerintahan Indonesia tidak serta-merta kosong. Sjafruddin dipercaya untuk membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) jika Belanda menyerang. Keputusan itu dibuat dan disepakati para tokoh, antara lain Soekarno dan Hatta. Sjafruddin pun diminta segera ke Sumatera Barat, menjauhi pusat agresi militer di Jawa.

Telegram bertanggal 19 Desember 1948 dikirim kepada Sjafruddin oleh Soekarno dan Hatta. Isinya pemberitahuan bahwa Belanda mulai menyerang Yogyakarta. Sjafruddin, yang kala itu menjabat sebagai Menteri Kemakmuran, diminta membuat PDRI. Kekuasaan negara pun pindah ke tangan Sjafruddin.

”Bukan. Saya bukan presiden. Saya ketua PDRI,” kata sosok Sjafruddin yang kala itu diperankan oleh aktor Deva Mahenra pada teater berjudul Kacamata Sjafruddin.

Tim produksi teater berjudul Kacamata Sjafruddin berkumpul di panggung setelah pentas rampung di Gedung Kesenian Jakarta, Jakarta, pada Jumat (15/4/2022) malam. Teater ini mengisahkan sosok Sjafruddin Prawiranegara, seorang negarawan dan ekonom. Pentas ini melibatkan, antara lain, aktor Deva Mahenra, Titimangsa Foundation, KawanKawan Media, dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Adapun teater tersebut bagian dari seri monolog Di Tepi Sejarah.

Refleksi

Deva mengatakan, teater monolog ini adalah refleksi sosok Sjafruddin di tahun 1948-1951, khususnya di masa PDRI. Di tengah perjuangan, Sjafruddin mesti menahan rindu pada keluarganya yang tinggal di Yogyakarta. Salah satu anaknya bahkan sampai lupa siapa bapaknya.

Namun, perjuangan Sjafruddin berbuah kekecewaan karena Soekarno-Hatta berakhir berunding dengan Belanda. Hal itu bermuara ke Perjanjian Roem-Royen. Sebagai Ketua PDRI, Sjafruddin tidak dilibatkan, apalagi dimintai pendapat. Sjafruddin merasa dilangkahi.

Sutradara teater, Yudi Ahmad Tajudin, mengatakan, Sjafruddin pada akhirnya mengalah supaya kondisi negara tidak semakin rumit. Tampuk pemerintahan pun dikembalikan ke Soekarno-Hatta.

”Ada keputusan-keputusan Sjafruddin yang bisa dibilang mencerminkan kualitas dia sebagai negarawan. Keputusan itu melampaui ambisi pribadi. Walau beberapa tahun kemudian—karena akumulasi kekecewaannya ke Soekarno meningkat—ia membuat PRRI (Pemerintah Revolusioner RI),” kata Yudi.

Yudi menambahkan, tidak banyak orang yang tahu peran Sjafruddin dalam sejarah Indonesia, khususnya pada masa PDRI. Terlepas dari sosok Sjafruddin yang kemudian menuai pro-kontra (karena beberapa orang menyebut dia pengkhianat), peran ekonom tersebut bagi eksistensi RI tidak bisa diabaikan.

”Ada pula yang mengajukan argumentasi, secara tata hukum kenegaraan, Sjafruddin sah disebut presiden kedua RI,” kata Yudi. ”Teater membuka ruang diskusi soal kenyataan. Ini bukan definisi atau kesimpulan, tapi lontaran isu yang bisa sama-sama disimak dan didiskusikan.”

Teater ini juga diharapkan menjadi media mengenalkan tokoh-tokoh sejarah. Bila beruntung, teater ini diharapkan menjadi pemicu agar audiens menggali pengetahuan lebih lanjut, baik soal sosok maupun sejarah.

Deva Mahenra menambahkan, sosok Sjafruddin tidak digambarkan persis dengan aslinya. Sjafruddin diinterpretasikan secara terbuka oleh dia dan segenap tim produksi. ”Dengan berbagai referensi mengenai sosok Sjafruddin yang kami gunakan, kami ingin agar penonton jadi terbuka untuk diskusi,” katanya.

Aktor Deva Mahenra di Gedung Kesenian Jakarta, Jakarta, Jumat (15/4/2022). Ia memerankan tokoh Sjafruddin Prawiranegara di teater monolog berjudul Kacamata Sjafruddin, bagian dari seri monolog Di Tepi Sejarah.

Belajar sejarah

Direktur Perfilman, Musik, dan Media Baru Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Ahmad Mahendra mengatakan, teater ini ditujukan untuk generasi muda. Mereka diharapkan dapat belajar sejarah dengan cara baru yang tidak kaku.

”Teater ini akan disiarkan di Indonesiana TV. Ini akan kami jadikan pembelajaran ke sekolah-sekolah. Akan ada juga modul tentang bagaimana guru mengajarkan (sejarah),” kata Mahendra.

Suasana panggung untuk teater berjudul Kacamata Sjafruddin. Teater ini dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta, Jakarta pada Jumat (15/4/2022) malam. Kacamata Sjafruddin yang mengisahkan sosok Sjafruddin Prawiranegara ini bagian dari seri monolog berjudul Di Tepi Sejarah yang digarap Titimangsa Foundation dan KawanKawan Media.

Adapun Kacamata Sjafruddin bagian dari seri monolog bertajuk Di Tepi Sejarah, proyek seni garapan Titimangsa Foundation dan KawanKawan Media. Ada lima tokoh yang akan dikisahkan dalam proyek di tahun 2022, antara lain Gombloh dan Ismail Marzuki. Semuanya akan dipentaskan secara luring tahun ini.

Sebelumnya, Di Tepi Sejarah dipentaskan pada 2021 dan disiarkan secara daring. Beberapa tokoh yang dipentaskan tahun lalu adalah The Sin Nio, perempuan keturunan Tionghoa yang menyamar menjadi laki-laki agar bisa ikut berjuang secara gerilya. Ada juga Muriel Stuart Walker atau yang dikenal sebagai K’tut Tantri, perempuan kelahiran Skotlandia yang ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan siaran radio.

”Kami ingin mengembalikan sejarah, tapi dengan memberi jembatan ke generasi muda. Jadi, teater ini menjadi alternatif lain untuk belajar sejarah,” ujar Mahendra.

Editor: ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN

Rofikoh Rokhim dan Makanan nan Langka

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI) Jakarta Prof Dr Rofikoh Rokhim membuka usaha rumah makan di Jakarta Selatan dengan menawarkan makanan tradisional yang sudah langka.

Oleh TRI AGUNG KRISTANTO

Kompas, 15 Maret 2022

 


Berangkat dari kegemarannya menikmati makanan tradisional dari sejumlah daerah dan kesulitan untuk mendapatkannya saat pandemi Covid-19, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI) Jakarta Prof Dr Rofikoh Rokhim pun membuka usaha rumah makan. Restoran di Jakarta Selatan, yang, antara lain, menyajikan makanan nan langka dari sejumlah daerah di Nusantara itu sekaligus menjadi pertemuan antara hobi dan ilmunya.

”Saya ingin nguri-uri (melestarikan) pengananlawas agar tidak punah karena kaum milenial kini mengetahui makanan itu-itu saja, misalnya ayam geprak geprek saja,” kata Rofikoh di Jakarta, Minggu (13/3/2022) malam. Untuk olahan ayam, restoran yang dinamai Sumber Asli: Kuliner Tempo Dulu itu, misalnya, menawarkan menu ayam sasando (Nusa Tenggara Timur), ayam arohu (Ambon), ayam paniki (Ternate), ayam cincane (Samarinda), ayam panggang (Klaten), ayam andaliman (Tapanuli), ayam malbi (Palembang), ayam bekakak (Sunda), ayam bacem (Yogyakarta), ayam tangkap (Aceh), dan ayam garang asem (Kudus).

Selain itu, ada kudapan nan langka juga, terutama dari wilayah Jawa, yang disajikan, seperti bongko, proltape, mentho, gempol plered, carang gesing, stoombrood, jalangkote (Makassar), dan rujak Aceh. ”Restoran ini dibuka pada 18 Agustus 2020, pas pandemi Covid-19 menyebar di Indonesia. Saat itu banyak orang enggak bisa mudik. Kalau mereka kangen dengan makanan tradisional dari daerahnya, ya, bisa makan di Sumber Asli saja. Lumayan ada perwakilan dari berbagai daerah,” kata Rofikoh, yang juga Wakil Komisaris Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) itu.

Dengan banyak menu yang ditawarkan, termasuk aneka olahan nasi dan lauk pauk dari sejumlah daerah, Rofikoh mengaku tak khawatir jika tak semuanya bisa diserap pembeli. Ia dan karyawan serta koleganya bisa saja menghabiskannya.

”Niatnya kalau enggak laku, ya, dimakan sendiri. Saya, kan, suka sumua makanan itu,” ujarnya sambil tertawa. Rofikoh yang memang gemar memasak terlibat langsung dalam penyusunan resep, terutama untuk makanan yang langka. Ia juga ikut memasak saat senggang.

”Cak Lontong (komedian) pun mengatakan, di restoran ini, salah nuding (menunjuk) masakan saja enak…,” ucap Rofikoh. Kali ini, perempuan lulusan Administrasi Negara Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, serta peraih gelar master dan doktor ekonomi dari Université de Paris 1 Pantheon-Sorbonne, Paris, itu menerapkan ilmu ekonominya, berpromosi. (TRA)

 Editor: DAHONO FITRIANTO

Tumpal Tampubolon, dari Matematika ke Dunia Sinema

Di tengah pandemi Covid-19 yang menebar kepahitan bagi banyak orang, Tumpal justru mencicipi momen manis. Ia sukses meraih sejumlah penghargaan bergengsi dari dalam dan luar negeri lewat film pendek yang ia sutradarai. 

Oleh WISNU DEWABRATA



Membangun karier di dunia film tak seglamor seperti yang kerap dibayangkan orang. Tumpal Tampubolon, misalnya, kariernya di awal-awal sempat naik turun. Dalam perjalanan berikutnya, ia melewati masa-masa pahit dan manis.

 

Di tengah pandemi Covid-19 yang menebar kepahitan bagi banyak orang, Tumpal justru mencicipi momen manis. Ia sukses meraih sejumlah penghargaan bergengsi dari dalam dan luar negeri lewat film pendek yang ia sutradarai, Laut Memanggilku, secara beruntun pada 2021. Film itu dinobatkan sebagai film pendek terbaik, Sonje Award, Busan International Film Festival (BIFF) 2021, dan Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) 2021.

 

Saat berbincang daring, Selasa (8/3/2022), Tumpal menceritakan, setelah lulus sebagai sarjana Ilmu Matematika dari Institut Teknologi Bandung, ia memberanikan diri memilih sinematografi sebagai jalan hidupnya. Padahal, ia mengaku saat itu termasuk awam dalam urusan membuat film. Saking awamnya, ia mengira film dibuat dengan hanya melibatkan bintang film. Tidak heran jika lima tahun pertamanya di dunia film, ia merasa sangat berat.

 

Dunia film bagi Tumpal sama sekali baru dan hampir 100 persen tak berurusan dengan latar belakang pendidikannya. Sebagai mahasiswa jurusan ilmu matematika, dunia Tumpal hanya seputar mengkaji, memecahkan, dan membuktikan jawaban untuk setiap soal matematika.

”Keluarga dulu jelas khawatir, ya. Ini kok sudah disekolahin terus jadi apa? Memang lima tahun pertama berat banget. Ya, mau gimana. Dari (latar belakang) matematika terus ke film. Kadang kalau lagi kesulitan uang, ia pulang ke rumah. Ibu di rumah paling nanya, kerja apaan lu kok enggak ada duitnya. Aduh...,” kenang Tumpal.

 

Walau kerap merasa seperti menelan harga dirinya sendiri, Tumpal berusaha tetap bertahan. Dia yakin apa yang dilakukannya sudah benar dan sesuai panggilan jiwanya. Kerja keras dan konsistensinya akhirnya berbuah manis saat memenangi Piala Citra pertamanya pada 2014 di Palembang, Sumatera Selatan, kategori Penulis Skenario Terbaik lewat film Tabula Rasa (2014). Piala itu dia dedikasikan untuk ibunya, seperti juga beberapa penghargaan lain yang diperoleh kemudian.

 

Hingga kini, Piala Citra pertamanya dipajang sang ibu di lemari rumahnya. Ibunya kerap membanggakan dan memamerkan piala anaknya itu ke setiap tamu dan kenalan yang datang. Menurut Tumpal, keluarganya bangga dengan penghargaan yang familiar bagi mereka.

 

”Sebelumnya saya ikut banyak festival film. Mereka enggak paham dan enggak terlalu peduli. Apaan itu, mereka bilang. Tapi kalau Piala Citra mereka tahu. Soalnya, kan, memang sudah ada sejak dulu. Jadi mereka lihat, wah kayaknya anak gue benaran sudah jadi orang nih, ha-ha-ha,” kenangnya sambil terbahak.

 

Kaset video

Sejak kecil Tumpal senang menonton film lewat kaset video. Dia gemar menyewanya, terutama film anak-anak, untuk disetel di rumah. Terkadang dia nekat menyetel film video sewaannya di toko rental lantaran berkategori tontonan usia di atas 17 tahun, seperti film laga Hollywood atau film kungfu Hong Kong.

 

Keluarganya juga familiar dengan teknologi video lewat hobi mendiang sang ayah. Semasa hidupnya, ayah Tumpal, seorang pilot helikopter, senang merekam berbagai momen keluarganya. Rekaman itu juga dikirimkan ke opung (nenek) Tumpal di Medan, Sumatera Utara, sebagai ganti surat.

 

Biasanya Tumpal sekeluarga berkirim ucapan selamat hari raya atau sekadar rekaman kegiatan sehari-hari untuk menghibur dan melepas rindu keluarga di kampung. Saat sang nenek meninggal, Tumpal menemukan banyak kaset video, yang dulu dikirim, masih tersimpan rapi. Ibarat harta karun sejarah keluarganya, Tumpal berencana mendigitalisasikan semuanya.

Saat kuliah, terutama di semester-semester akhir, Tumpal baru mulai berkenalan lebih jauh dengan dunia film. Dia rajin ikut lomba penulisan naskah film pendek. Satu kali dia memenangi hadiah Rp 15 juta yang digunakan untuk memfilmkan naskahnya.

 

Film pendek perdananya itu bercerita soal para joki kuda sewaan, yang banyak beroperasi di jalan raya dekat kampus ITB. Kuda-kuda disewa wisatawan, seringnya anak kecil, yang naik berkeliling area luar kampus ITB. Sang joki berlari mengikuti kudanya. Hasil filmnya juga ditayangkan di acara salah satu stasiun televisi swasta penyelenggara lomba.

”Filmnya sih ya, lumayan berantakan, ha-ha-ha. Tapi dari situ saya terpikir, oh, apa mungkin ini jalan hidup saya? Saya enggak tahu juga waktu itu. Cuma memang yang jelas saya rasakan, ada sesuatu di sini,” kenangnya.

 

Keseriusan Tumpal berlanjut dengan rajin mengikuti beberapa festival film, salah satunya Jakarta International Film Festival (JiFFest) tahun 2006. Naskah film usulannya masuk final dan dia diberi kesempatan memfilmkannya, dengan melibatkan proses produksi lebih serius.

Hal itu berarti melibatkan peralatan dan para kru profesional. Awalnya Tumpal sempat tak percaya diri. Dia bahkan merasa canggung saat berada di sekitar kamera profesional 16 milimeter, yang digunakan di produksi itu.

 

”Di film soal joki kuda dulu kan saya cuma pakai kamera perekam biasa jadi pas lihat kamera 16 milimeter jadi takut. Apalagi lighting dan krunya semua profesional. Sampai-sampai saya ngerasa enggak layak ada di situ. Tapi ya, berlagak ngerti dan pede aja serta tetap bikin shot list dan storyboard,” tukas pengagum sutradara nasional Nya’ Abbas Akup itu.

Perjalanan dan pengalaman Tumpal terus berlanjut. Mengutip situs IdFilmCenter, pada 2009 Tumpal terpilih menghadiri Berlinale Talent Campus di Berlin, Jerman. Setahun kemudian dia kembali terpilih hadir di Asian Film Academy, Busan, Korea Selatan.

 

Pada dua kesempatan itu, Tumpal memanfaatkannya untuk memperdalam pengetahuan dan kemampuan lewat sejumlah workshop gratis. Dia sadar dirinya tak punya cukup biaya untuk belajar film secara formal.

 

Menjadi mumi

Selain menulis naskah dan menyutradarai, Tumpal juga berpengalaman menjajal dunia akting. Salah satunya di film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak (2017). Perannya lumayan unik, menjadi mumi suami tokoh utama, Marlina (Marsha Timothy), dan hanya duduk diam mematung di pojok ruangan.

 

Tumpal tertarik terlibat lantaran bertekad ingin merasakan semua aspek proses pembuatan film. Dia tak segan mencoba dan mengerjakan tugas apa saja demi menambah pengetahuan dan pengalaman.

 

”Di film itu akting saya cuma duduk diam sambil tangannya begini (menyilang di dagu) selama shooting lima hari. Ha-ha-ha. Saya waktu itu juga cuma untuk bantuin teman. Tapi kalau ditanya mana lebih disukai, terus terang ya menulis (naskah),” ujar penggemar film bergenre drama itu.

 

Namun begitu, penyutradaraan tetap menjadi tantangan baginya. Menyutradarai sebuah film butuh kemampuan manajemen tinggi dan rumit, termasuk mengatur para kru dan mengerjakan proses shooting di set.

 

Saat ini dia tengah menyutradarai sebuah film panjang pertamanya, yang sayangnya sempat terjeda lantaran pandemi. Film bergenre drama psikologis itu berjudul Crocodile Tears.

Walau tak secara langsung, Tumpal merasa bekalnya saat menimba ilmu di kampus lumayan berguna. Selama kuliah dia terbiasa berhadapan dengan banyak tugas, yang mengharuskannya mencari pembuktian atas suatu persoalan matematika.

 

Dalam matematika seseorang, menurut dia, bisa melihat banyak kemungkinan untuk membuktikan dan menyelesaikan satu persoalan. Pendekatan pembuktian dan penyelesaian masalah seperti itu sangat membantunya merangkai cerita untuk filmnya. Dengan lebih banyak melihat kemungkinan lain, jalan cerita filmnya bisa semakin kaya.

 

Kesejahteraan

Tumpal merasa perfilman di Tanah Air masih punya banyak pekerjaan rumah untuk diselesaikan jika ingin menyejajarkan diri dengan perfilman negara-negara lain, yang sudah lebih maju. Setidaknya mengacu ke beberapa negara, seperti India atau Korea Selatan, yang terbilang produktif dan malah bisa ”mengekspor” budayanya ke luar negeri lewat produk-produk film mereka.

 

Beberapa hal yang sangat dibutuhkan untuk memajukan perfilman di Tanah Air, menurut Tumpal, antara lain dukungan lebih kuat dari pemerintah, baik berupa kebijakan maupun pendanaan. Dia mencontohkan, beberapa negara tetangga, seperti Singapura dan Filipina, punya program funding, yang tujuan utamanya mengajak produsen film negara lain berkolaborasi dengan industri perfilman mereka.

 

Tumpal juga menyoroti pentingnya penambahan jumlah layar bioskop secara signifikan mengingat luasnya wilayah dan besarnya potensi penonton, terutama film nasional, yang dimiliki Indonesia. Kebijakan-kebijakan yang mendukung terbentuknya hub-hub baru produksi film, agar jangan terpusat hanya di Pulau Jawa juga diperlukan untuk mengangkat keberagaman.

 

”Selain itu, juga perbanyak sekolah film (formal) dan jangan dilupakan pula peningkatan jaminan kesejahteraan, kesehatan, dan keselamatan para pekerja industri film. Kalau tidak sejahtera, bagaimana bisa berpikir kreatif, kan?” kata Tumpal.

 

Fika, Jeda dalam Secangkir Kopi

Bekerja terus tanpa rehat sejenak di kantor atau di mana saja bisa stres bahkan depresi. Swedia memiliki tradisi fika atau rehat sejenak selama 10-15 menit untuk menikmati kopi atau teh beserta kudapan agar kerja lebih gembira.

Oleh: Luki Aulia

Kompas, 20 Februari 2022

 

Secangkir kopi atau teh. Roti cinnamon roll.  Keik Putri atau Princess Cake dengan ditemani teman mengobrol atau curhat, hemm.... Sesederhana itu kunci hidup bahagia dan produktif berkarya ala masyarakat Swedia.

Kebiasaan atau tradisi rehat sejenak kala sedang bekerja ini disebut fika atau fikarast atau fikapaus. Budaya kerja ini terbukti efektif karena tingkat stres karyawan atau pekerja di Swedia tercatat paling rendah di dunia. Kata fika sendiri merupakan kata dalam Bahasa Swedia abad ke-19 yang dibalik dari kaffi yang artinya ’kopi’. Ini bagian dari kebanggaan Swedia menjadi negara peminum kopi terbesar ketiga di dunia.

Mendengar Swedia saja,yang segera teringat pasti Pippi Long stocking, karakter dalam buku Astrid Lindgren atau kelompok penyanyi AB-BA. Tak dinyana, rupanya, negeri itu juga memiliki kunci kebahagiaan hidup. Berbeda dengan kebiasaan meminum kopi di negara lain, rehat kopi di Swedia menjadi momen yang betul-betul meninggalkan pekerjaan.

Situs harian USA Today, 13 Oktober 2016, menyebutkan fika sesungguhnya konsep ngopi atau ngeteh bareng ditemani kudapan sambil menikmati waktu mengobrol topik apa saja, selain pekerjaan, Bersama teman atau rekan kerja. Intinya, rehat sejenak dari kesibukan dan kelelahan mental dan fisik sehari-hari dan bersosialisasi dengan orang lain.

Di Swedia, fika dilakukan dua kali dalam sehari, yakni pukul 10.00 lalu 15.00 dan masing-masing hanya 10-15 menit. Jangan terlalu lama juga. Nanti malah menjadi malas untuk bekerja lagi.

Ritual sosial Swedia ini sudah berlangsung lama dan sebenarnya tidak selalu harus minum kopi berteman kue. Yang penting, rehat sejenak dari urusan tetek bengek pekerjaan. Begitu kata Mathias Kamann dalam bukunya, How to Be Swedish.

Anna Brones, salah satu penulis buku Fika: The Art of The Swedish Coffee Break (2015), menyebutkan kebiasaan mengopi Swedia berbeda dengan di Amerika Serikat yang menyeruput kopi sambal jalan karena yang penting butuh kafein cepat saja.

Di Swedia, rehat kopi itu waktu yang dinanti-nantikan. ”Momen saat segalanya berhenti dan kita menikmati saat-saat itu. Di dunia modern seperti sekarang, kita mendambakan itu. Kita selalu mencari alasan untuk memperlambat hidup,” tulis Brones. 

Jika di Swedia ada fika, di Inggris ada tradisi serupa, yakni minum teh di sore hari lalu di Spanyol, Amerika Selatan, serta Filipina ada merienda namanya. Hanya saja, kebiasaan rehat sejenak yang dilakukan dengan sengaja dan teratur setiap hari kala bekerja hanya ada di Swedia.

”Rehat fika 2-3 kali sehari membuat kami lebih produktif dan efisien,” kata Lars Åkerlund yang membuka warung kopi Swedia bernama Fika di New York, AS.

Åkerlund membuka warung kopi di AS semata-mata karena tidak tahan dengan kehidupan di New York yang bergerak serba cepat dan semua orang dalam kondisi terburu-buru terus. ”Tidak ada momen yang kalem. Semua serba ambil cepat lalu pergi. Saya pikir ’momen fika’ pasti akan sukses di sini. Toh, fika terbukti berguna,” ujarnya.

Usir stres

Pada tahun 2010, hasil studi organisasi konsultan pajak Grant Thornton menunjukkan pekerja Swedia ternyata pekerja yang paling tidak stres di seluruh dunia. Salah satunya, diduga, karena perusahaan-perusahaan di Swedia mempraktikkan ketentuan enam jam kerja sehari dan mewajibkan tradisi fika.

Situs BBC juga menyebutkan, aktivitas rehat Bersama yang terjadwal rutin ini juga menguatkan hubungan dan perasaan ke tempat kerja yang lebih adil. Secara umum, me-nurut Health Assured, fika bagus untuk kesehatan mental karena tanpa fika atau rehat sejenak, orang akan bisa gelisah terus, stres, bahkan merasa lelah luar biasa.

Terapis di London, Sally Baker, menjelaskan, rehat sejenak saja sebenarnya sudah berdampak positif bagi otak. Tidak selalu harus duduk sambil makan kue, tetapi paling  tidak jangan duduk terus atau jalan-jalan sebentar saja.

Sebenarnya, dengan berjalan-jalan sebentar sudah bisa mendongkrak aktivitas otak dan mendorong kesehatan mental positif. Dengan berjalan sebentar saja atau menggerakkan tubuh, tingkat konsentrasi dan kognisi akan membaik. Bahkan bisa merangsang pemikiran yang solutif. ”Tekanan darah juga bisa dijaga dan pola pemikiran yang negatif dan stres bisa berkurang. Bekerja dalam tekanan terus dalam waktu lama hanya akan membuat imun orang lemah, gelisah, dan depresi,” ujarnya.

Guru Besar Linkoping University, Swedia, Viveka Adel-sward, yang mempelajari sejarah ritual sosial Swedia menjelaskan, pekerja yang rutin melakukan fika bersama rekan-rekan kantor justru mendongkrak produktivitas bekerja dan efisien. Observasinya didukung studi produktivitas kerja Stanford tahun 2014 yang merekomendasikan agar jam kerja dibatasi maksimal 50 jam per minggu.

Manajer Umum perusahaan MUJI, Naoko Yano, semula terganggu dengan rehat-rehat pekerja Swedia karena mereka terlihat seperti santai bekerja. Berbeda dengan pekerja Jepang yang seakan bekerja serius tanpa henti. Namun ternyata, budaya bebas stres itu bisa terjadi karena mereka bisa dengan mudah bekerja keras dulu lalu rileks sejenak kemudian balik fokus bekerja lagi.

Adelsward menjelaskan, rehat-rehat ngopi ini juga efektif menghilangkan batasan-batasan di kantor karena suasananya lebih cair informal. Siapa saja bisa saling cerita bertukar informasi apa saja. Tidak ada bos atau atasan dan bawahan saat fika. Momen kedekatan seperti itu memungkinkan satu sama lain lebih bebas menjelaskan atau mencurahkan unek-unek soal apa pun, termasuk urusan kantor. ”Seperti ada kesempatan membersihkan otak, pikiran. Lalu mengisinya dengan inspirasi dari teman-teman. Orang juga bisa mengumbar ide dan pikirannya saat fika dan meminta pendapat teman-temannya,” ujarnya.

Kopi dilarang

 

Kata fika yang dibalik dari kaffi, menurut laporan the Lo-cal Sweden, semata-mata untuk menyamarkan kegiatan kumpul-kumpul sambil ngopi itu. Pasalnya, dulu impor dan konsumsi kopi pernah lima kali dilarang, antara 1756 dan 1817. Ada yang menyebutkan larangan tersebut karena dulu ahli botani Swedia, Carl Linn-aeus, pernah menganggap mengopi itu ancaman bagi bu daya Swedia. Tradisi minumkopi itu dianggap sebagai kebiasaan asing, dalam hal ini Perancis yang dianggap berbahaya jika memengaruhi rakyatSwedia.

Sejarawan lain memiliki hipotesis bahwa larangan itu dibuat karena terjadi krisis perdagangan di Eropa. Begitu larangan itu dicabut pada 1882,k onsumsi kopi pun melonjak. Kini, Swedia menjadi salah satu negara konsumen kopi terbesar di dunia dengan rata-rata 8,2 kilogram kopi per kapita per tahun.

Di Indonesia pun ngopi bareng sudah ada di mana-mana seiring dengan pertumbuhan kafe yang pesat selama beberapa tahun terakhir. Hanya saja, kita belum mempunyai kebiasaan atau budaya kerja terjadwal seperti fika. Apalagi di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang, semakin sulit untuk bisa duduk sambil rehat bersama di kantor mengingat banyak karyawan yang bekerja dari rumah.

Namun, fika bisa saja dilakukan selagi di rumah. Atur saja jadwal kerja setiap hari dengan waktu rehat 30-40 menit. Jika sudah sampai waktunya untuk fika, buat saja segelas kopi, teh, atau minuman apa saja berikut kudapannya.

Jangan melihat atau membuka ponsel agar mata dan pikiran bisa istirahat. Kalau mau fika bersama teman, atur saja fika virtual. Demi usir stress dan depresi, fika bareng, yuk!