Seribu Tangan Penggali Peradaban Muarajambi

 

Penelitian di Candi Sialang, KCBN Muarajambi, Desa Kemingking Luar, Kecamatan Taman Rajo, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, Rabu (8/5/2024).





Jejak peradaban Muarajambi sempat hilang ditelan zaman. Candi-candi yang menjadi saksi kejayaan Swarnadwipa terkubur selama berabad-abad. Tangan-tangan warga lokal menggali tapak peradaban di situs Buddha terbesar di Asia Tenggara tersebut.

Sunyi membekap kompleks Candi Parit Duku di Desa Muaro Jambi, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, Kamis (6/6/2024). Desir angin terdengar pelan. Para pekerja pemugaran situs di Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muarajambi itu sedang beristirahat dan makan siang.

Puluhan struktur bangunan berbahan terakota menyembul di antara pepohonan. Sebelum dipugar, struktur-struktur itu terkubur dalam gundukan tanah selama ratusan tahun. Tidak sedikit bangunan yang ambruk sehingga perlu dibongkar dan disusun kembali.
Selesai beristirahat, Rakaini (38), pekerja pemugaran, kembali dengan membawa dua timba berisi air. Ia lalu duduk bangku kayu sembari mengasah sekrap sebagai alat membersihkan tanah dan kotoran yang menempel di bata.

”Jika tidak dibersihkan, permukaan bata menjadi tidak rata. Ini membuat batanya tidak kuat menempel saat disusun sehingga hasilnya kurang bagus,” ujarnya.

Sambil mengasah sekrap, Rakaini memperhatikan struktur candi yang sedang direkonstruksi. Matanya sangat jeli menemukan sebuah bata yang berlubang di bagian sudutnya. Ia kemudian menggantinya dengan bata lain.




”Lubangnya memang kecil, tapi batanya tetap harus diganti. Lubang itu bisa ditumbuhi rumput liar. Kalaupun diisi nat (campuran serbuk bata dan air untuk mengisi celah), lama-kelamaan akan terkikis juga. Itu bisa membuat struktur bangunan gampang keropos,” jelasnya.


Rakaini merupakan warga Desa Muaro Jambi. Latar belakang pendidikannya bukan teknik sipil, apalagi rekonstruksi bangunan cagar budaya. Ia menamatkan pendidikan SMP pada 2001. Setelah itu mengejar Paket C atau setara SMA. Namun, ia punya pengalaman ikut dalam pemugaran pagar Candi Gumpung sekitar 12 tahun lalu.


Selain di Candi Parit Duku, pemugaran juga dilakukan di Candi Kotomahligai, Menapo Alun-alun, dan Candi Sialang. Proyek revitalisasi juga meliputi penataan lingkungan di situs-situs candi lainnya dengan melibatkan 1.000 tangan dari 500 warga lokal.


Menurut Rakaini, pelibatan warga lokal dalam pemugaran sangat penting untuk menciptakan rasa memiliki terhadap bangunan cagar budaya tersebut. ”Bisa dibilang, (rekonstruksi) candi ini karya kami juga. Kami akan menjaganya dari hati. Kalau ada yang merusaknya, warga setempat akan sangat marah,” ucapnya.


Pelestarian ekologi
Akan tetapi, revitalisasi cagar budaya bukan sekadar menggali dan membangun kembali bangunannya. Banyak tangan yang terlibat. Ada yang mendokumentasikan setiap tahapannya dalam bentuk foto, sketsa, dan digital. Ada pula arkeolog pendamping yang mengawasi proses rekonstruksi dan mengidentifikasi temuan.

Masih banyak peninggalan situs KCBN Muarajambi yang belum digali. Hal ini perlu terus diungkap. Selain untuk menelusuri jejak sejarah masa lalu, jugamenggali nilai-nilai budaya masyarakat yang masih hidup hingga sekarang.

Selain itu, ada campur tangan arsitek dan ahli botani. Pemugaran candi diselaraskan dengan pelestarian ekologi. Oleh karenanya, penebangan pohon diminimalkan agar tidak menggerus daya dukung lingkungan di sekitarnya.

Di antara pekerja yang mondar-mandir mengangkat bata, Supriyadi Ecen (29) duduk bersila di atas salah satu struktur candi. Namun, ia tidak sedang bersantai, melainkan membuat sketsa susunan bata lapisan luar pada struktur tersebut.

Pensil, penggaris, dan buku gambar milimeter blok menjadi senjata utamanya. Setiap baris bata ia buat sketsanya. Siang itu, sudah hampir 50 bata yang ia sketsa. Ukuran panjang, lebar, dan tinggi bata menjadi acuan.

Tidak semua bata berukuran serupa. Hal ini mengindikasikan bata-bata tersebut tidak bersumber dari tempat pembuatan yang sama. Bahkan, bisa saja berasal dari masa berbeda. Namun, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan hal itu.

Ecen merupakan lulusan SMK jurusan pemasaran. Latar belakang pendidikannya tidak ada hubungannya dengan keterampilan membuat sketsa. Namun, ia menyukai seni. Hobinya membuat patung dari tanah liat.

”Membuat sketsa tidak gampang, tapi menyenangkan. Yang penting teliti karena harus benar-benar presisi,” ucapnya.

Di salah satu sudut lainnya, Yulia Maya Overa (25), arkeolog penanganan temuan, sedang meregistrasi temuan-temuan di Candi Parit Duku, seperti bata stupa, bata berprofil, dan tembikar. Setiap temuan diberi keterangan seperti tanggal dan lokasi penemuan.

Data tersebut dihimpun dalam basis data yang menyimpan banyak informasi terkait temuan di candi tersebut. Tak hanya itu, data juga disertai dengan gambar temuan yang dibuat secara manual.

”Penanganan temuan sangat penting untuk mengidentifikasi benda-benda sehingga bisa mengetahui fungsi bangunan ini di masa lalu,” ucapnya.

Koordinator Pemugaran Candi Parit Duku, Mubarak Andi Pampang, mengatakan, pemugaran sangat diperlukan untuk mengungkap peradaban di lokasi itu pada masa lalu. Semula kompleks berukuran 81 x 80 meter tersebut hanya berupa enam gundukan tanah. Namun, setelah digali, ditemukan 23 struktur bangunan yang kebanyakan berbentuk persegi.

Kebanggaan

Di Candi Kotomahligai, Sulaiman (54), pekerja, sedang memasang bata di struktur mandapa (tempat ritual). Namun, ukuran bata yang dipegangnya tidak sesuai. Ia pun mengikis ujung bata agar saat dipasang tidak mengenai akar pohon yang menjalar, bahkan menembus struktur bangunan.

Sebenarnya tugas para pekerja akan lebih mudah jika akar-akar pohon disingkirkan. Namun, ia menyadari, justru akar-akar itulah yang membuat candi semakin menarik sekaligus menjadi saksi hidup perjalanan peradaban Muarajambi.

Menurut Sulaiman, revitalisasi KCBN Muarajambi yang memiliki luas 3.981 hektar tak hanya menyerap banyak tenaga kerja lokal. ”Yang lebih penting, kami juga bangga karena bisa ikut terlibat. Di masa depan, cucu-cucu kami bisa bercerita kalau kakeknya ikut membangun kembali candi ini,” ujar warga Desa Baru, Kecamatan Maro Sebo, itu.

Berjarak sekitar 20 meter dari Sulaiman, Amril Prayoga (17), sedang sibuk menumbuk bata-bata yang sudah pecah. Bata dihancurkan memakai palu sehingga menjadi serbuk. Setelah itu serbuk diayak menggunakan saringan kelapa.

Pemuda Desa Danau Lamo itu menyebutkan, setelah dicampur air, serbuk bata akan dijadikan nat untuk mengisi celah di antara bata. Dengan begitu, struktur bangunan menjadi lebih kokoh.

Di Menapo Alun-alun, Bintang Dwi Wahyudi (22) menatap layar laptopnya saat kebanyakan pekerja lainnya sibuk menyusun kembali bata-bata merah di lokasi penemuannya. Pemuda Desa Muaro Jambi itu sedang mendigitalisasi hasil sketsa lapangan.

”Dengan gambar digital menggunakan AutoCad akan mempermudah dalam merencanakan rekonstruksi bangunan. Selain itu, hasilnya bisa disimpan dalam jangka panjang sebagai dokumentasi,” katanya.

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah V Jambi Agus Widiatmoko mengatakan, revitalisasi Muarajambi turut mengungkap bukti-bukti baru terkait eksistensi peradabannya. Berdasarkan hasil penanggalan dari sisa arang yang terakhir ditemukan, peradaban di sana diperkirakan dari abad ke-6.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek Hilmar Farid mengatakan, masih banyak peninggalan situs KCBN Muarajambi yang belum digali. Hal ini perlu terus diungkap. Selain untuk menelusuri jejak sejarah masa lalu, juga menggali nilai-nilai budaya masyarakat yang masih hidup hingga sekarang.

”Yang utama adalah merekonstruksi peradaban itu sebagai sumber inspirasi kita di masa depan,” katanya.


Tayang di Kompas.com 



Tidak Akan Ada Hotel Modern di Kawasan Muarajambi

Kompleks Candi Kedaton di Kawasan Cagar Budaya Nasional Muarajambi di Desa Danau Lamo, Kecamatan Maro Sebo, Muaro Jambi, Jambi, Selasa (7/5/2024).


 

MUARO JAMBI, KOMPAS — Pengembangan Kawasan Cagar Budaya Nasional Muarajambi dilakukan selaras dengan kearifan lokal dan kekhasan masyarakat adat setempat. Karena itu, di kawasan ini tidak akan dibangun hotel-hotel modern. Para pengunjung bisa merasakan suasana keheningan di pusat pendidikan Buddha peninggalan abad ke-6 ini dengan menginap di rumah-rumah adat dan tempat penginapan khas Jambi.

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah V Jambi Agus Widiatmoko mengatakan, Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muarajambi hanya berjarak sekitar 15 kilometer dari Kota Jambi dan bisa dijangkau dengan mudah karena terhubung oleh jalan nasional. ”Pembangunan hotel atau penginapan modern di kota saja. Jangan sampai investor membangun hotel-hotel dengan membeli lahan-lahan di desa sehingga delapan desa penyangga KCBN Muarajambi tetap memiliki kekhasan dengan rumah-rumah adat panggung mereka dan penginapan-penginapan khas Jambi yang dikelola BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) setempat,” ucapnya, Kamis (6/6/2024) di Kabupaten Muaro Jambi, Jambi.

Menurut Agus, rata-rata luas permukiman masyarakat desa di sekitar KCBN Muarajambi hanya sepertiga dari total luasan desa. Dengan demikian, masyarakat ataupun BUMDes masih bisa memanfaatkan lahan mereka untuk membangun tempat penginapan bernuansa adat Jambi.

”Kami sudah rintis BUMDes agar bisa mengoordinasi pembangunan rumah adat atau membuat penginapan yang memiliki kekhasan Jambi. Harapannya, ini akan mendukung kemajuan desa dan ke depan anggaran BUMDes juga bisa menyokong pendanaan kegiatan-kegiatan desa, pendidikan anak usia dini, madrasah, panti asuhan, dan juga guru-guru di desa yang selama ini jauh dari sejahtera,” tambahnya.


Seperti Angkor Wat
Penasihat Arsitektur pembangunan Museum KCBN Muarajambi, Yori Antar, sepakat menjaga keselarasan Muarajambi dengan kearifan lokal masyarakat setempat. “Biarlah hotel dibangun di luar kawasan ini. Yang kita garap di sini seperti Angkor Wat (Kamboja) saja. Di Angkor Wat, hotelnya semua, kan, di Siem Reap, tidak ada hotel di Angkor Wat,” ujarnya.

Menurut Yori, di Muarajambi, arsitektur-arsitektur adat khas Jambi akan diangkat lagi. Rumah-rumah panggung akan dikelola menjadi tempat penginapan. Dengan demikian, masyarakat akan ikut menikmati “kue pariwisata”.

Biarlah hotel dibangun di luar kawasan ini. Yang kita garap di sini seperti Angkor Wat (Kamboja) saja. Di Angkor Wat, hotelnya semua, kan, di Siem Reap, tidak ada hotel di Angkor Wat.

“Secara sosial, mereka ikut menjadi pendukung, bukan penonton. Homestay ini bisa masuk program Kementerian PUPR, bangunannya kita arahkan. Sekarang, kita sekarang sedang menggali lagi arsitektur rumah-rumah adat di sekitar Muarajambi,” ucap Yori.

Yori bersama tim kini sedang membangun Museum KCBN Muarajambi di atas lahan seluas 25 hektar. Luasan kompleks museum sekitar 10 hektar, yang terdiri dari museum, laboratorium, tempat studi merdeka belajar, galeri, dan tempat pameran.

Sekarang, di antara situs Muarajambi sedang dibangun jalan dengan resapan berupa kerikil, bukan konblok. “Bangunan-bangunan yang tidak relevan kita bongkar. Situs-situs sekarang terasa lebih luas, dan narasi yang kita pertahankan adalah suasana hutan,” kata Yori.

Menurut Yori, ada tiga hal yang penting untuk dijaga di Muarajambi, yaitu situs, alam, dan sosial budaya. Selain menjaga situs, alam juga harus dilestarikan sehingga pohon-pohon yang ada di kawasan ini tetap diperhatikan. Namun, kondisi sosial budaya masyarakat di sekitarnya juga harus dirawat.“Koleksi museum akan terus bertambah karena temuan-temuan baru terus muncul. Muarajambi menjadi laboratorium lapangan yang sangat besar. Tempat ini akan dikembalikan menjadi tempat pendidikan,” paparnya.

Pembangunan Museum KCBN Muarajambi berlangsung sekitar dua tahun. Namun, penataan KCBN Muarajambi ditargetkan akan selesai dalam tiga bulan ke depan.Terkait pembangunan museum, Koordinator Program Studi Arkeologi Universitas Jambi Irsyad Leihitu berpendapat, museum tidak cuma berfungsi melindungi sejarah masa lalu, tetapi juga mencatat sejarah masa sekarang. “Dengan menciptakan sejarah kecil dari masyarakat Jambi, hal itu bisa membuat museum ini semakin relevan, baik untuk warga setempat maupun wisatawan,” katanya.

Museum KCBN Muarajambi nantinya tidak hanya difungsikan untuk menyimpan artefak. Berbagai budaya masyarakat akan ditampilkan di sana. Selain itu, museum ini akan menjadi ruang belajar untuk berbagai bidang ilmu, seperti arsitektur, arkeologi, antropologi, dan botani.

Pengembangan KCBN Muarajambi juga perlu dibarengi dengan peningkatan kapasitas masyarakat. Pelatihan terhadap para pedagang terus dilakukan. Jumlah pemandu wisata di kawasan itu belum memadai.Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Hilmar Farid memastikan Muarajambi adalah situs Buddha terbesar di Asia Tenggara. “Kita menargetkan, dalam lima tahun ke depan, Muarajambi bisa lebih besar dari Angkor Wat. Inilah situs terpenting di Asia Tenggara,” paparnya.

Jaga marwah

Pelaksana Tugas Kepala Badan Layanan Umum Museum dan Cagar Budaya atau Indonesian Heritage Agency (BLU MCB/IHA) Ahmad Mahendra mengatakan, pengembangan KCBN Muarajambi sangat terbuka untuk dikerjasamakan dengan berbagai pihak. Namun, pembangunan penginapan perlu disesuaikan dengan arsitektur lokal.

“Kita ingin menjaga marwah kebudayaan Jambi. Baiknya Muarajambi menjadi inspirasi bagi keseluruhan, termasuk bentuk rumah dan penginapan,” ujarnya.

Mahendra menuturkan, melalui BLU, pendapatan dari pengelolaan kawasan tersebut dapat langsung digunakan untuk memperkuat program pemajuan kebudayaan. BLU MCB mengelola 18 museum dan 34 cagar budaya nasional di Tanah Air.

“Kami juga mohon kepada pemda (pemerintah daerah) dan semua pihak, kalau mau berinvestasi di sini, silakan. Nanti bicara dengan BLU MCB. Kita bisa bekerja sama, tapi tidak merusak marwah budaya yang kita lindungi,” ucapnya.

Irsyad menambahkan, diperlukan sinergi yang lebih intim antara pemerintah pusat dan pemda dalam merancang konsep branding untuk Jambi. Hal ini dinilai penting agar Jambi lebih mudah dikenal dengan identitas yang kuat.

“Seperti Solo punya slogan Spirit of Java. Bali disebut sebagai Pulau Dewata. Padang punya Taste of Padang. Kalau Jambi, saya belum ketemu (slogannya). Dengan segala kekayaan kebudayaan, slogan ini harus diputuskan. Kita bisa riset bareng-bareng untuk memberikan legitimasi pada slogan itu,” jelasnya.

KCBN Muarajambi seluas hampir 4.000 hektar mempunyai lebih dari 115 situs percandian dan lebih dari 3.000 koleksi. Kompleks candi tersebut diperkirakan dibangun pada abad ke-6 dan bertahan hingga abad ke-13.

Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Jambi Abdul Haviz menuturkan, saat ini hanya ada tujuh pemandu wisata bersertifikasi di Muarajambi. “Hanya satu yang bisa berbahasa Inggris. Padahal, peranpemandu wisata sangat penting. Jika dilihat, bangunan candi hanya benda mati. Perlu pemandu yang bercerita untuk menghidupkan narasi candi tersebut. Jadi, pelatihan bagi pemandu wisata sangat dibutuhkan,” ujarnya.

artikel ini juga tayang di kompas

Iringan Tradisi Melestarikan Muarajambi

 

Tiang Tuo yang terbuat dari kayu bulian diberi hiasan dalam prosesi tradisi Tegak Tiang Tuo atau peletakan batu pertama pembangunan Museum KCBN Muarajambi di Desa Danau Lamo, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, Rabu (5/6/2024).


Kekayaan tradisi lokal jadi bekal pembangunan Museum KCBN Muarajambi. Museum lebih banyak mengakomodasi ruang terbuka.


Berbagai tradisi mengiringi pembangunan museum di Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muarajambi. Tak cuma menyimpan benda bersejarah dan melestarikan budaya yang menebalkan jejak peradaban, museum ini juga membuka jalan untuk mengembalikan fungsi kawasan candi bercorak Buddha tersebut sebagai pusat pendidikan.

Terik menyengat di KCBN Muarajambi, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, Rabu (5/6/2024) siang. Irama musik gambang, gendang, dan gong menyatu dengan desir angin yang membawa kesejukan. Alunan musik tradisional itu mengiringi langkah para alim ulama, petugas syara’, kepala desa, cerdik pandai, dan tuo tengganai (orang yang dihormati) yang menggotong balok kayu bulian (ulin) sepanjang 4 meter.

Suara alat musik tiup tekut (berbahan bambu) dan tamtuang (berbahan tanduk kerbau) bersahutan. Suara ini menandai dimulainya peletakan cecokot yang terdiri dari emas, perak, serbuk besi, tapak kuda, dan sawang angin ke dalam lubang pancang. Kemudian, setabun tawar dan secupak garam ditabur yang bermakna pengusiran segala bentuk hal negatif dari kawasan tersebut.

Kayu bulian dimasukkan ke lubang sedalam 1,5 meter. Bagian atasnya dipakaikan pakaian dan dirias bak seorang gadis dengan menggunakan minyak kemiri, bedak, celak, gincu, dan parfum. Ritual ini merupakan prosesi Tegak Tiang Tuo yang menandai peletakan tiang pertama pembangunan Museum KCBN Muarajambi.

”Karena tiang tuo untuk membangun museum ini ditegakkan di tanah kami, budaya kami juga tegak di sini. Kami berharap tradisi ini akan mengiringi perjalanan museum dalam melestarikan candi dan nilai-nilai budaya yang diwariskan turun-temurun,” ujar Sabli Usman, sesepuh adat Desa Danau Lamo, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi.

Sabli mengatakan, setiap unsur dalam tradisi itu bukan sebatas material, melainkan juga sarat makna filosofis. Lima unsur cecokot, misalnya, mempunyai makna berbeda-beda. Emas melambangkan cahaya dan rezeki, perak melambangkan kemakmuran, serbuk besi melambangkan kekuatan tekad, tapak kuda melambangkan kekuatan dalam bergotong royong, serta sawang angin melambangkan kesejukan.

Adapun merias tiang tuo melambangkan harapan agar bangunan museum itu seperti seorang gadis yang memikat hati siapa pun yang memasukinya. Perempuan juga menggambarkan penghuni rumah yang mendatangkan ketenteraman.

”Jadi, tradisi ini bukan sebatas ritual. Ada makna dan nilai yang perlu diperkenalkan dan dilestarikan. Itu juga yang kami harapkan dengan adanya museum ini,” ucapnya.

Sabli menuturkan, saat ini alat musik tekut lebih banyak digunakan untuk memikat burung dengan tujuan menangkapnya. Padahal, dahulu tekut ditiup untuk mengundang burung memakan serangga di kebun dan sawah. Namun, ada juga yang memakainya saat mengawali membangun rumah.

”Suara tekut dipakai untuk memanggil burung. Kemudian, burung memakan rayap yang ada di sekitar rumah. Dengan begitu, kayu-kayu di rumah warga tetap kuat sehingga rumahnya tahan lama,” ucapnya.

Museum KCBN Muarajambi dibangun di atas lahan seluas sekitar 30 hektar. Pembangunan museum ini akan lebih banyak mengakomodasi ruang terbuka ketimbang bangunan permanen. Pembuatan museum merupakan bagian dari proyek revitalisasi KCBN Muarajambi.

Revitalisasi yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) diharapkan mendukung pemajuan kebudayaan dan pembangunan masyarakat di Jambi. KCBN Muarajambi seluas hampir 4.000 hektar mempunyai lebih dari 115 situs percandian dan lebih dari 3.000 koleksi.

Emas melambangkan cahaya dan rezeki, perak melambangkan kemakmuran, serbuk besi melambangkan kekuatan tekad, tapak kuda melambangkan kekuatan dalam bergotong royong, serta sawang angin melambangkan kesejukan.

Kawasan ini terletak di delapan desa di sekitar Sungai Batanghari. Kedelapan desa itu adalah Muaro Jambi, Danau Lamo, Kemingking Luar, Kemingking Dalam, Desa Baru, Tebat Patah, Dusun Mudo, dan Teluk Jambi.

Merekonstruksi peradaban

Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek Hilmar Farid mengatakan, prosesi Tegak Tiang Tuo merupakan langkah penting dalam upaya pemerintah mendorong perlindungan warisan budaya di Indonesia. ”Ini lebih dari sekadar pembangunan fisik. Kompleks candi ini dibangun kira-kira pada abad ke-6 hingga abad ke-12 atau ke-13. Artinya, selama lebih dari 600 tahun kawasan ini pernah dihuni dan ada peradabannya,” ujarnya.

Menurut Hilmar, masih banyak peninggalan situs KCBN Muarajambi yang belum digali. Hal ini perlu terus diungkap. Selain untuk menelusuri jejak sejarah masa lalu, juga menggali nilai-nilai budaya masyarakat yang masihhidup hingga sekarang.
”Kita tidak sekadar membuat proyek bangunan untuk bisa dikunjungi. Wisata memang salah satu aspeknya. Namun, yang utama adalah merekonstruksi peradaban itu sebagai sumber inspirasi kita di masa depan,” katanya.

Gubernur Jambi Al Haris mengatakan, revitalisasi KCBN Muarajambi akan mengembalikan fungsi kawasan tersebut sebagai pusat pendidikan. Hal ini diharapkan meningkatkan daya tarik pengunjung untuk mendatangi kawasan itu. Tak hanya untuk berwisata, tetapi juga mempelajari peradaban dan budaya.

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah V Jambi Agus Widiatmoko mengatakan, pembangunan museum sangat dibutuhkan di kawasan yang pernah menjadi pusat pendidikan Buddha terbesar di Asia Tenggara itu. Ia berharap museum tersebut dapat menjadi pusat pengetahuan berbagai bidang ilmu.

”Dalam pendidikan, kita punya kekayaan kearifan lokal yang memuat banyak pengetahuan. Museum ini nantinya bisa menjadi wadah untuk saling belajar tentang kearifan lokal tersebut,” ucapnya.

Pemugaran dan penataan kawasan masih berlangsung di sejumlah situs, seperti di Candi Kotomahligai, Candi Parit Duku, Menapo Alun-alun, dan Candi Sialang. Pemugaran dilakukan sejak Maret dengan melibatkan pekerja dari masyarakat setempat. Pemugaran sudah mencapai 45 persen dan ditargetkan rampung Oktober.

Saat proses ekskavasi, para pekerja harus berhati-hati dalam menggali agar tidak memutus akar pohon yang tumbuh di atas struktur candi. Penggalian memang diperlukan untuk mengungkap struktur, tetapi pelestarian alam di sekitarnya tidak boleh diabaikan.

Penasihat arsitektur pembangunan Museum KCBN Muarajambi, Yori Antar, mengatakan, museum tersebut dapat dimanfaatkan sebagai tempat belajar bersama berbagai bidang ilmu, seperti arsitektur, arkeologi, antropologi, dan botani.

 Bangunannya akan menggunakan terakota seperti halnya struktur candi di kawasan itu.
”Museum ini akan menjadi laboratorium terbuka. Jadi, yang diangkat bukan cuma situs Muarajambi-nya, tapi juga alamnya dan sosial budayanya,” ujarnya.