Bang Imad, Raja Tanpa Mahkota


Empat puluh tiga tahun yang lalu Bang Imad mengajar Agama Islam di kelas saya, di tingkat satu kampus Ganesha ITB.

Saat itu ia bertanya kepada semua mahasiswa, “Apa yang terjadi jika Nabi Muhammad dilahirkan di Cimahi?”
Ruangan kelas pun hening, tidak ada mahasiswa yang menjadi menjawab. Lalu Almarhum menunjuk kepada siswa, “Kalian putra-putri terbaik Indonesia. Pakai nalarmu!”
Kembali para mahasiswa hening, tetap tidak berani menjawab.
Akhirnya dia berkata, “Jika itu terjadi, maka Al-Qur’an akan ditulis dalam bahasa Sunda!”
Begitulah, beliau secara tersirat mengajarkan kita semua untuk memahami bahwa Islam adalah agama sepanjang zaman dan kita diminta untuk senantiasa menggunakan akal pikiran kita untuk mengikuti perkembangan zaman.
Sejak itu Bang Imad malang melintang dalam dunia intelektual Islam, seperti seorang raja tanpa mahkota.
(DSP)
* * *

Bang Imad, Pendidik Aktivis Masjid, Berpulang

Sumber: Kompas, 3 Agustus 2008

Indonesia kembali berduka karena kehilangan salah satu putra terbaiknya, Imaddudin Abdurrahim (78). Pendidik para aktivis masjid di Indonesia, pejuang Islam yang istiqomah dengan akidah yang dipegangnya, dan penerima anugerah Bintang Maha Putra Utama itu meninggal hari Sabtu (2/8) pukul 09.15 WIB.

Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa ketika takziah di kediaman almarhum Imaddudin di Jalan Bulak Raya, Klender, Jakarta Timur, Sabtu sore, menyampaikan pesan dari pemerintah kepada pihak keluarga bahwa almarhum yang dipanggil akrab Bang Imad itu berhak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
”Almarhum merupakan penerima anugerah Bintang Mahaputra Utama dari negara bersama almarhum Nurcholish Madjid dan Amien Rais. Jadi, rencananya besok jenazah akan diberangkatkan pukul 07.00 pagi dari rumah kediaman,” ujar Hatta.
Atas usulan pihak pemerintah ini, Fasiah Umri, adik almarhum, sepakat Bang Imad dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
”Semula pihak keluarga ingin almarhum dimakamkan selepas shalat ashar hari ini (Sabtu). Tetapi, atas usulan pemerintah yang dibawa Mensesneg Hatta Rajasa, kami pihak keluarga sepakat dengan usulan itu,” ujarnya.
Fasiah Umri menjelaskan, almarhum meninggalkan tiga putri dan seorang putra yaitu Nurhalisa, Sakinah, Halimah, dan Umar. Adik paling kecil almarhum Bang Imad, Abdullah Abdurrahim, mengatakan, dia juga menyepakati usulan dari pemerintah. Itu merupakan bentuk penghargaan dari negara untuk almarhum dan keluarga.
”Saya tadi masih di Medan ketika mendengar kabar. Alhamdulillah sekarang sudah tiba. Kami selaku pihak keluarga mengucapkan terima kasih atas perhatian yang diberikan pemerintah, rekan-rekan seperjuangan almarhum, serta seluruh kerabat,” ujarnya.
Kesan
Hatta Rajasa menilai almarhum Bang Imad sebagai seorang guru dan pendidik, terutama untuk dunia Islam. Almarhum dengan gerakan tauhidnya di Masjid Salman Institut Teknologi Bandung bisa dikatakan sebagai tokoh pendiri aktivis masjid kampus. ”Beliau juga banyak berkecimpung dan terlibat aktif dalam berbagai aktivitas di dunia Islam di Indonesia dan internasional,” ujarnya.
Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan yang ditemui saat takziah mengatakan, almarhum Bang Imad merupakan pendidik yang sangat bersemangat. ”Saya ingat salah satu kata-katanya bahwa beliau tidak membutuhkan 30 lebih aktivis, cukup dengan delapan orang yang serius, beliau bisa bangkitkan jadi aktivis Islam terbaik,” ujarnya.
Sejumlah karangan bunga ucapan turut berduka dikirimkan, antara lain, keluarga mantan Presiden BJ Habibie, Hatta Rajasa, Jimly Asshiddiqie, AM Fatwa, dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. (MAM)

1 comment :

norman said...

menarik sekali artikelnya.. kapan yah itb menghasilkan kader lagi seperti bang imad?