Berkunjung Kembali ke Ranah Minang (2)

Maninjau






Kemudian kami mengunjungi danau Maninjau yang sangat indah. Hampir semua wisatawan yang ke Bukittinggi akan mampir di danau Maninjau. Setelah kami melihat Maninjau dari atas, kami turun melalui kelok 44 yang terkenal. Di pinggir danau terdapat Masjid Hamka dan rumah-rumah peniggalan Belanda yang indah.



Ini rumah yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi home stay dan kafe. Di dekatnya terdapat peninggalan H. Rj. Rasuna Said, tokoh pergerakan wanita terkemuka asal Maninjau.


(Rumah kediaman Alm. Rasuna Said)

(Baitul Mal Tanwil mengenang Alm. Rasuna Said)

(Murid sekolah mempersiapkan perayaan HUT kemerdekaan RI)


(Berburu babi)

Berburu babi dengan anjing menjadi suatu kebiasaan masyarakat Sumatera Barat. Mereka datang dari berbagai pelosok berkumpul di satu tempat kemudian naik bukit dan anjingnya memburu babi hutan sampai mati dan dimakan habis oleh anjing tersebut. Agak sulit untuk dimengerti di daerah yang sangat kuat agama Islamnya terdapat hobi demikian.




Lembah Sianok

Lembah Sianok adalah sebuah atraksi penting lainnya di Bukittinggi, yang mirip Grand Canyon di Amerika.







Pantai Nirwana


Dari Padang, kami menyusur pantai ke arah Selatan sejauh 10 km kami menemukan pantai Nirwana yang sangat indah. Katanya dulu banyak dikunjungi orang.




Haur Kuning


Pada saat akan meninggalkan Bukittinggi kami sempat mampir ke Haur Kuning, sebuah pasar tekstil terkemuka di Sumatera, mirip pasar Tanah Abang Jakarta. Kami terkejut banyak sekali kain songket, kerudung, dan lain-lain buatan Thailand, India dan Malaysia.

Sebuah songket asli Minang berharga Rp. 1-5 juta. Tapi sebuah songket tiruan dari Thailand yang diberi bordir secara cerdik oleh pengrajin Bukittinggi dapat dijual dengan harga 100 ribu rupiah saja. Sedang kerudung buatan India dan Malaysia dijual Rp. 20 ribu.

Demikian perjalanan kami ke Bukittinggi yang menawan. Sampai berjumpa lagi!





Artikel sebelumnya:
Berkunjung Kembali ke Ranah Minang (1)

No comments :