Sokola Rimba

Depdiknas Harus "Belajar"dari Butet

Saur Marlina Manurung (36) atau dikenal dengan Butet Manurung celingukan ke arah teman-temannya ketika ditanya berminat menjadi pegawai negeri sipil atau PNS atau tidak. Pendiri perkumpulan Sokola ini celingukan, terutama karena dirinya tidak tahu apa itu kepanjangan PNS.

Setelah mendapat penjelasan bahwa PNS adalah singkatan dari pegawai negeri sipil, Butet yang membiarkan rambut ikalnya tergerai tersenyum.

”Saya sih enggak suka. Lagi pula, enggak cocok kali ya? Bagaimana kami bisa upacara setiap Senin pagi, sementara kami ada di ujung gunung,” ujar Butet yang semasa mahasiswi juga aktif sebagai pencinta alam Palawa Universitas Padjadjaran, Bandung, itu sambil senyum.


Jawaban Butet disampaikan saat jumpa pers setelah diterima Presiden dan Ny Ani Yudhoyono di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (4/12). Presiden mengundang Butet untuk memberikan apresiasi dan dukungan atas upaya perkumpulan Sokola menjangkau dan mendidik anak-anak usia sekolah yang tidak terjangkau sama sekali oleh pendidikan formal.

Sokola mengembangkan metode dan kurikulum belajar yang disesuaikan dengan karakter dan kebutuhan komunitas agar terintegrasi dengan kehidupan nyata sehari-harinya. Sokola dengan 16 relawannya melayani anak-anak di daerah terpencil dan daerah pascabencana. Butet dikenal pertama karena perjuangannya melayani anak-anak komunitas Orang Rimba, Jambi.

Butet dan empat temannya (Indit, Hari, Dodi, dan Deddy) datang di Kantor Presiden karena undangan Presiden dan Ny Ani Yudhoyono setelah mendengar Sokola akan menutup sementara dua sekolahnya. Presiden mengajak Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo saat menerima Butet.

Bambang mengakui, Depdiknas harus belajar dari Butet untuk memberi layanan warga negara sesuai prinsip education for all. ”Tidak selalu model terbaik dari pemerintah. Kami tak akan segan memakai model Sokola untuk menjangkau mereka yang terpencil,” ujarnya.

Kepada perkumpulan Sokola, Presiden memberi dana Rp 200 juta dan paket makanan standar militer jenis T2 untuk keluarga di daerah terpencil. Butet berterima kasih dan sama sekali tidak menduga, apalagi mengharapkannya.

Dalam artikel yang dimuat di majalah Time, Presiden menyebut Butet dan sukarelawan lainnya sebagai pahlawan senyap (silent heroes).

Dalam pertemuan itu, sebutan itu kembali disebut. ”Pahlawan ada di mana-mana, tidak hanya mereka yang direkam oleh media,” ujar Presiden.

Butet juga diperkenalkan program ”Indonesia Pintar” yang dirintis Ny Ani bersama istri para menteri.

(Wisnu Nugroho)

Sumber: Kompas, 5 Desember 2008

No comments :