Lepas Jabatan Tinggi, Nila Tanzil Bangun 29 Taman Bacaan di Indonesia Timur



















Jakarta - Sebagian orang merasa pekerjaan yang ditekuni sekarang ini bukanlah keinginan utamanya. Banyak di antara mereka yang justru ingin melakukan apa yang digemarinya namun tidak tahu cara mencapainya.
Tetapi hal ini tidak berlaku bagi Nila Tanzil, seorang konsultan travel dan pendiri Taman Bacaan Pelangi, perpustakaan gratis yang ditujukan untuk anak-anak Indonesia yang terletak di Indonesia bagian timur. Ia rela meninggalkan pekerjaannya lamanya meski sudah menduduki jabatan sebagai kepala komunikasi di salah satu perusahaan swasta demi bisa melakukan suatu hal yang sangat digemarinya, yaitu travelling.

Berawal dari kegemarannya itulah, wanita 36 tahun tersebut 'nekat' tinggal di Pulau Komodo selama satu tahun. Tujuannya ingin sejenak meninggalkan rutinitas kehidupan perkotaan. Selama tinggal disana, yang dilakukannya hanya menyelam dan bermain di pantai.
Namun hal itu justru membuatnya menemukan minat terbesar yang selama ini tersembunyi. Saat sedang berinteraksi dengan penduduk lokal, ia sering melihat anak-anak kecil berlalu-lalang menyusuri sungai untuk pergi ke sekolah dengan jarak yang ditempuh dua jam lamanya. Modal mereka hanya satu, buku dan pensil yang ditaruh di dalam kantong plastik. Tak jarang mereka harus mendaki gunung tanpa alas kaki untuk tiba di sekolah. Hal inilah yang menginspirasinya untuk berbuat sesuatu agar bisa mengedukasi anak-anak tersebut.

"Yang aku lihat, mereka sama sekali tidak punya buku bacaan dan seperti haus ilmu pengetahuan. Dari situ aku tergerak untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk anak-anak Indonesia," ceritanya saat menjadi salah satu pembicara dalam acara Cewequat International Forum 2015 di Kuningan City, Jakarta Selatan, Sabtu (7/2/2015).

Tak tanggung-tanggung, wanita yang pernah mengenyam pendidikan S2 di Belanda ini mendatangkan sekitar 2000 buku yang dibawa langsung dari Jakarta. Hal inilah yang akhirnya membuatnya mendirikan perpustakaan umum bernama Taman Bacaan Pelangi. Perpustakaan tersebut memang didedikasikan untuk anak-anak kecil sehingga mereka bisa membaca buku dengan mudah.

Sukses dengan perpustakaan pertamanya, lulusan hubungan internasional Universitas Parahyangan Bandung ini semakin tertarik untuk mengajarkan anak-anak yang tinggal di daerah terpencil lewat buku-buku yang disediakannya. Bahkan kini ia mempunyai 29 taman bacaan yang sudah tersebar di Indonesia bagian timur seperti Flores, Maluku, Sumbawa, Halmahera, hingga Papua.

Dengan melakoni pekerjaan ini, Nila merasa ia sudah menemukan minatnya, yaitu mengedukasi anak-anak Indonesia agar bisa mendapatkan pendidikan melalui buku yang dibacanya. Ada satu hal yang selalu ia cari saat dirinya membuka perpustakaan di daerah baru, yaitu semangat dan antusiasme anak-anak kecil yang melihat buku sebagai benda mewah.

"Setiap kali aku lihat mereka baca buku, seperti ada satu kebahagiaan di mata mereka. Itu kelihatan banget. Mereka berbinar-binar dan rasanya aku ikut bahagia juga. Untuk menciptakan Indonesia yang kuat kan dimulai dari anak-anaknya dulu. Aku rela bekerja nggak dibayar agar bisa mengedukasi mereka," katanya lagi.

Hingga kini, berbagai macam bantuan datang dari para relasinya. Mereka biasanya mengirimkan buku-buku bacaan yang akan disebar ke seluruh perpustakaan. Nila merasa hal ini terjadi berkat jaringan pertemanan yang luas dengan berbagai kalangan. Bahkan, rekannya yang merupakan warga negara Jerman pernah membantunya dengan menjadi pengajar sukarela di Pulau Flores selama satu tahun.

Seolah tak mengenal lelah, wanita yang pernah mengelilingi 28 negara ini mengaku akan tetap terus mengedukasi anak-anak Indonesia dengan menyebarkan semangat membaca karena ini adalah minat terbesarnya. "Passion is your greatest work. Percaya deh kalau kamu menemukan minatmu, kamu nggak akan pernah mengeluh saat bekerja. Bahkan kamu nggak akan merasa kalau lagi kerja," tutupnya.
Artikel ini dikutip dari https://wolipop.detik.com/read/2015/02/08/094332/2826697/1133/lepas-jabatan-tinggi-nila-tanzil-bangun-29-taman-bacaan-di-indonesia-timur [11/07/2018]

No comments :