Sejak dua tahun lalu, Tiongkok memburu lahan pertanian dari mulai Myanmar hingga Australia. Di Myanmar, perusahaan Tiongkok mencari lahan untuk ditanami tanaman pangan, yaitu padi. Perusahaan lain mencari lahan di Australia untuk peternakan sapi. Agresivitas Tiongkok ini kini sempat dihambat karena persoalan urusan tanah-tanah yang masuk dalam perlindungan.
Para pengamat menduga, langkah tersebut dilakukan untuk memastikan pasokan pangan bagi penduduk Tiongkok pada masa depan, selain untuk memenuhi kebutuhan saat ini yang sudah meningkat. Pilihan mencari lahan di luar negeri dilakukan karena keterbatasan lahan yang mendapat pengairan. Pembangunan dam raksasa lebih banyak digunakan untuk memenuhi kepentingan industri. Sangat masuk akal apabila pilihan mencari lahan di luar negeri dilakukan untuk mendapatkan sumber pangan.
Cara lain yang ditempuh adalah membuat usaha patungan Tiongkok-Korea Selatan untuk memproduksi sapi kloning secara massal. Langkah yang diumumkan akhir 2015 lalu mengejutkan dunia karena meski kloning sudah lama dilakukan di Eropa, yaitu pada 1996, Eropa tidak melakukan pengembangan lebih lanjut karena perdebatan etika masih berlangsung. Bahkan, parlemen Eropa telah memilih untuk melarang kloning untuk hewan ternak dan melarang penjualan hewan hasil kloning.
Untuk produksi sapi kloning, perusahaan Tiongkok, BoyaLife, menggandeng Sooam Biotech, sebuah perusahaan riset asal Korea Selatan. Sooam dilaporkan telah mampu memproduksi 550 anjing kloning sejak 2005. Kedua perusahaan pernah bekerja sama riset untuk menghasilkan anjing tibet dari kloning. Terkait dengan produksi sapi kloning, kedua perusahaan menyatakan bahwa pada tahap pertama akan menghasilkan 100.000 sapi per tahun. Pada tahap kedua, mereka akan menghasilkan 1 juta sapi per tahun. Untuk upaya ini, mereka telah menyiapkan investasi 31 juta dollar AS dan produksi sapi akan dimulai tahun ini.
Tak berhenti sampai langkah itu, perusahaan Tiongkok, ChemChina, membeli perusahaan pestisida dan benih asal Swiss, Syngenta. Pembelian dengan nilai 43 miliar dollar AS ini boleh dibilang sangat ambisius. Langkah itu disebut ambisius karena ChemChina bersedia membayar tunai dan juga memenuhi sejumlah tuntutan seperti tidak ada pemutusan hubungan kerja dan kantor pusat tetap berada di Zurich, Swiss.
Sepertinya Tiongkok tidak akan selesai dengan beragam langkah tersebut. Kita bisa menduga Tiongkok akan melakukan sejumlah langkah strategis untuk memastikan pasokan pangan bagi warganya. Semua mengakui langkah-langkah ini dilakukan karena hanya 10 persen lahan pertanian di Tiongkok yang efisien. Apalagi ditambah dengan migrasi sekitar 300 juta warganya dari desa ke kota dan juga pertumbuhan kelas menengah, Tiongkok makin memerlukan pangan tidak hanya dalam jumlah mencukupi tetapi juga ragam makanan. Tidak mengherankan apabila Tiongkok tengah membangun "pabrik" pangan dalam skala besar.
(ANDREAS MARYOTO)
Sumber: Kompas, 1/3/2016
Showing posts with label Agriculture. Show all posts
Showing posts with label Agriculture. Show all posts
Strategi Pangan: Langkah Tiongkok
Post by
DSP
No comments
Dunia selalu bertanya, apa yang akan dilakukan Tiongkok untuk memberi makan penduduknya? Jawaban itu makin terang. Negeri tersebut telah menguasai lahan-lahan pertanian di beberapa negara. Tiongkok juga bekerja sama dengan Korea Selatan untuk memproduksi massal sapi hasil kloning. Terakhir, perusahaan Tiongkok membeli perusahaan pestisida dan benih asal Swiss, Syngenta.
Beberapa tahun lalu para pengamat bertanya mengenai cara-cara Tiongkok untuk menangani masalah pangan. Rupanya dunia hanya butuh menunggu beberapa tahun untuk mengetahui cara-cara Tiongkok memberi makan warganya.
Sejak dua tahun lalu, Tiongkok memburu lahan pertanian dari mulai Myanmar hingga Australia. Di Myanmar, perusahaan Tiongkok mencari lahan untuk ditanami tanaman pangan, yaitu padi. Perusahaan lain mencari lahan di Australia untuk peternakan sapi. Agresivitas Tiongkok ini kini sempat dihambat karena persoalan urusan tanah-tanah yang masuk dalam perlindungan.
Para pengamat menduga, langkah tersebut dilakukan untuk memastikan pasokan pangan bagi penduduk Tiongkok pada masa depan, selain untuk memenuhi kebutuhan saat ini yang sudah meningkat. Pilihan mencari lahan di luar negeri dilakukan karena keterbatasan lahan yang mendapat pengairan. Pembangunan dam raksasa lebih banyak digunakan untuk memenuhi kepentingan industri. Sangat masuk akal apabila pilihan mencari lahan di luar negeri dilakukan untuk mendapatkan sumber pangan.
Cara lain yang ditempuh adalah membuat usaha patungan Tiongkok-Korea Selatan untuk memproduksi sapi kloning secara massal. Langkah yang diumumkan akhir 2015 lalu mengejutkan dunia karena meski kloning sudah lama dilakukan di Eropa, yaitu pada 1996, Eropa tidak melakukan pengembangan lebih lanjut karena perdebatan etika masih berlangsung. Bahkan, parlemen Eropa telah memilih untuk melarang kloning untuk hewan ternak dan melarang penjualan hewan hasil kloning.
Untuk produksi sapi kloning, perusahaan Tiongkok, BoyaLife, menggandeng Sooam Biotech, sebuah perusahaan riset asal Korea Selatan. Sooam dilaporkan telah mampu memproduksi 550 anjing kloning sejak 2005. Kedua perusahaan pernah bekerja sama riset untuk menghasilkan anjing tibet dari kloning. Terkait dengan produksi sapi kloning, kedua perusahaan menyatakan bahwa pada tahap pertama akan menghasilkan 100.000 sapi per tahun. Pada tahap kedua, mereka akan menghasilkan 1 juta sapi per tahun. Untuk upaya ini, mereka telah menyiapkan investasi 31 juta dollar AS dan produksi sapi akan dimulai tahun ini.
Tak berhenti sampai langkah itu, perusahaan Tiongkok, ChemChina, membeli perusahaan pestisida dan benih asal Swiss, Syngenta. Pembelian dengan nilai 43 miliar dollar AS ini boleh dibilang sangat ambisius. Langkah itu disebut ambisius karena ChemChina bersedia membayar tunai dan juga memenuhi sejumlah tuntutan seperti tidak ada pemutusan hubungan kerja dan kantor pusat tetap berada di Zurich, Swiss.
Sepertinya Tiongkok tidak akan selesai dengan beragam langkah tersebut. Kita bisa menduga Tiongkok akan melakukan sejumlah langkah strategis untuk memastikan pasokan pangan bagi warganya. Semua mengakui langkah-langkah ini dilakukan karena hanya 10 persen lahan pertanian di Tiongkok yang efisien. Apalagi ditambah dengan migrasi sekitar 300 juta warganya dari desa ke kota dan juga pertumbuhan kelas menengah, Tiongkok makin memerlukan pangan tidak hanya dalam jumlah mencukupi tetapi juga ragam makanan. Tidak mengherankan apabila Tiongkok tengah membangun "pabrik" pangan dalam skala besar.
(ANDREAS MARYOTO)
Sumber: Kompas, 1/3/2016
Sejak dua tahun lalu, Tiongkok memburu lahan pertanian dari mulai Myanmar hingga Australia. Di Myanmar, perusahaan Tiongkok mencari lahan untuk ditanami tanaman pangan, yaitu padi. Perusahaan lain mencari lahan di Australia untuk peternakan sapi. Agresivitas Tiongkok ini kini sempat dihambat karena persoalan urusan tanah-tanah yang masuk dalam perlindungan.
Para pengamat menduga, langkah tersebut dilakukan untuk memastikan pasokan pangan bagi penduduk Tiongkok pada masa depan, selain untuk memenuhi kebutuhan saat ini yang sudah meningkat. Pilihan mencari lahan di luar negeri dilakukan karena keterbatasan lahan yang mendapat pengairan. Pembangunan dam raksasa lebih banyak digunakan untuk memenuhi kepentingan industri. Sangat masuk akal apabila pilihan mencari lahan di luar negeri dilakukan untuk mendapatkan sumber pangan.
Cara lain yang ditempuh adalah membuat usaha patungan Tiongkok-Korea Selatan untuk memproduksi sapi kloning secara massal. Langkah yang diumumkan akhir 2015 lalu mengejutkan dunia karena meski kloning sudah lama dilakukan di Eropa, yaitu pada 1996, Eropa tidak melakukan pengembangan lebih lanjut karena perdebatan etika masih berlangsung. Bahkan, parlemen Eropa telah memilih untuk melarang kloning untuk hewan ternak dan melarang penjualan hewan hasil kloning.
Untuk produksi sapi kloning, perusahaan Tiongkok, BoyaLife, menggandeng Sooam Biotech, sebuah perusahaan riset asal Korea Selatan. Sooam dilaporkan telah mampu memproduksi 550 anjing kloning sejak 2005. Kedua perusahaan pernah bekerja sama riset untuk menghasilkan anjing tibet dari kloning. Terkait dengan produksi sapi kloning, kedua perusahaan menyatakan bahwa pada tahap pertama akan menghasilkan 100.000 sapi per tahun. Pada tahap kedua, mereka akan menghasilkan 1 juta sapi per tahun. Untuk upaya ini, mereka telah menyiapkan investasi 31 juta dollar AS dan produksi sapi akan dimulai tahun ini.
Tak berhenti sampai langkah itu, perusahaan Tiongkok, ChemChina, membeli perusahaan pestisida dan benih asal Swiss, Syngenta. Pembelian dengan nilai 43 miliar dollar AS ini boleh dibilang sangat ambisius. Langkah itu disebut ambisius karena ChemChina bersedia membayar tunai dan juga memenuhi sejumlah tuntutan seperti tidak ada pemutusan hubungan kerja dan kantor pusat tetap berada di Zurich, Swiss.
Sepertinya Tiongkok tidak akan selesai dengan beragam langkah tersebut. Kita bisa menduga Tiongkok akan melakukan sejumlah langkah strategis untuk memastikan pasokan pangan bagi warganya. Semua mengakui langkah-langkah ini dilakukan karena hanya 10 persen lahan pertanian di Tiongkok yang efisien. Apalagi ditambah dengan migrasi sekitar 300 juta warganya dari desa ke kota dan juga pertumbuhan kelas menengah, Tiongkok makin memerlukan pangan tidak hanya dalam jumlah mencukupi tetapi juga ragam makanan. Tidak mengherankan apabila Tiongkok tengah membangun "pabrik" pangan dalam skala besar.
(ANDREAS MARYOTO)
Sumber: Kompas, 1/3/2016
Teten Masduki: Beras dan Warung Kopi
Post by
DSP
| KOMPAS/WISNU WIDIANTORO |
Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, yang lahir di Garut, Jawa Barat, 6 Mei 1963, Senin (1/2) lalu tampak sibuk bekerja di kantornya di Bina Graha, kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.
Di ruang bekas kantor presiden ke-2 RI (1967-1998) Soeharto itu, Teten dengan penuh semangat menjelaskan kepada rekannya soal peta persoalan beras dan padi di Indonesia, termasuk masalah swasembada dan impor beras.
Teten yang dulu aktif di lembaga swadaya masyarakat Indonesia Corruption Watch (ICW) kini ternyata sangat fasih bicara soal pertanian dan pedesaan secara nasional. "Ini antara lain berkat pengalaman saya mendampingi Presiden Joko Widodo yang punya perhatian pada masalah beras. Ini jadi pengetahuan saya saja," ujarnya.
Rekannya yang ada di situ memberi nasihat agar Teten terus menimba pengetahuannya tentang masalah beras di Indonesia. Menurut rekannya itu, banyak pengusaha besar dan sukses di Indonesia mulai berusaha di bidang perdagangan beras secara kecil-kecilan. "Siapa tahu kelak bila sudah tidak kerja di istana bisa jadi ahli beras atau pedagang beras yang andal," ucap rekannya.
"Waduh, sejak dulu sebenarnya saya punya cita-cita punya warung kopi dan memelihara kambing," kata Teten sambil mengeluarkan gaya tawanya yang khas itu. (OSD)
Sumber: Kompas, 6/2/2016
Subak, Riwayatmu Kini
Post by
DSP
Gagasan masyarakat Yunani kuno dengan republik ternyata masih hidup di Bali. Tak seperti Republik Indonesia yang besar, bermasalah, dan sulit menerapkan hukum langsung pada anggotanya, masyarakat desa Bali dengan kesederhanaan justru menjadi representasi republik sejati.
--Sunaryono Basuki Ks, KOMPAS (29/08/2012)
Subak merupakan salah satu sistem demokrasi tertua di dunia. Sistem pengairan subak, pembagian air untuk persawahan, pura, dan bagi masyarakat menggunakan filosofi demokratis yang tidak mengambil dari luar tetapi menggali dari dalam negeri sendiri.
Di Bali, sistem pura air yang diwariskan nenek moyang memungkinkan subak untuk mengatur kegiatan di sepanjang aliran sungai. Naskah leluhur dari raja-raja Bali di abad kesebelas menyebutkan tentang sistem subak dan pura air yang sebagian masih berfungsi sampai sekarang. Sistem pengairan dianggap sebagai anugerah dari dewi penguasa danau yang terbentuk dari kawah. Setiap subak memberikan persembahan kepada para dewa dewi di pura air masing-masing. Pura ini juga menjadi tempat bertemu bagi para petani guna memilih pemimpin dan membuat keputusan bersama tentang jadwal pengairan mereka. Kelompok-kelompok subak yang memiliki sumber air yang sama membentuk perkumpulan pura air per wilayah, di mana semua subak menyepakati jadwal tanam di Daerah Aliran Sungai (DAS).
Pada sistem subak terjadi model kerjasama sosial dalam mengelola air, intinya di dalam sistem sosial, bentang lahan (landscape) tidak boleh diubah. Aliran sungai yang tercipta oleh aliran gunung vulkanik tidak diubah, tetapi diatur aliran airnya untuk memenuhi kebutuhan areal persawahan. Jika terjadi pelanggaran, hukuman yang dijatuhkan, dilakukan melalui pembayaran sanksi denda berupa uang maupun kewajiban melakukan upacara. Karena sifatnya yang dibangun dari bawah (bottom up), pemerintah tidak melakukan intervensi dalam pengelolaan sistem subak ini.
Dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat dan berorganisasi, masyarakat adat Bali mempunyai konsep Tri Hita Karana sebagai landasannya. Menurut pengertiannya Tri Hita Karana adalah tiga penyebab kesejahteraan di dalam kehidupan manusia. Pengertian tersebut diambil dari masing-masing katanya yaitu Tri yang artinya tiga, Hita yang artinya sejahtera dan Karana yang artinya penyebab. Konsep tersebut kemudian diterapkan juga pada sistem organisasi subak. Penerapan konsep ini bertujuan agar keseimbangan hidup (antara Tuhan, manusia dan alam) sebagaimana dalam ajaran agama Hindu tetap terjaga.
Tantangan terhadap Subak Saat Ini
Lanskap subak di Bali yang sudah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia menghadapi tantangan, antara lain alih fungsi lahan dan minimnya regenerasi petani. Ratusan hektare lahan sawah di Bali beralih fungsi tiap tahun. Peralihan fungsi lahan sawah juga berdampak rusaknya sistem irigasi pertanian, yang berpengaruh terhadap subak.
Steve Lansing, dari Arizona University yang telah lebih dari tigapuluh tahun meneliti tentang subak, menguraikan beberapa ancaman terhadap keberadaan subak saat ini, seperti dikutip oleh Mongabay.co.id:
- - Penggunaan bahan kimia (pestisida) yang memperngaruhi kesuburan tanah. Petani sulit untuk mengembalikan lahan pertanian untuk produksi organik, karena lahan telah telanjur menggunakan bahan kimia penyubur tanah selama bertahun-tahun.
- - Turisme yang menyebabkan fragmentasi teras persawahan Subak, meningkatnya laju penjualan lahan pertanian dan hilangnya kesatuan bentang lahan yang berganti menjadi lahan komersil untuk pembangunan hotel, villa, kios-kios souvenir.
- - Kualitas air yang menurun disebabkan pesatnya tekanan pembangunan di kawasan hulu dan hilangnya wilayah tutupan hutan.
- - Potensi terjadinya bencana alam termasuk gempa bumi yang bisa menyebabkan perubahan bentang lahan dan aliran air disebabkan Bali merupakan wilayah vilkasin.
- - Perubahan iklim yang dapat berpengaruh terhadap frekuensi curah hujan baik menjadi lebih maupun curah hujan yang berkurang.
Usaha Konservasi Subak
Mengenai ancaman alih fungsi lahan subak, permasalahan yang terjadi sangatlah sistemik. Ketika sebuah petak sawah dijual untuk dikonversi menjadi bangunan komersial seperti hotel, maka otomatis pajak bumi dan bangunan serta tanah akan menjadi meningkat, tidak saja untuk bidang lahan yang dijual tersebut, namun juga berimbas untuk bidang lahan tetangganya yang berada dalam satu area.
Tentu saja, seorang petani tidak akan mampu untuk membayar pajak yang tinggi yang tidak sebanding dengan penghasilan yang dihasilkannya. Akibatnya, terjadi efek domino, seluruh wilayah yang terbebani oleh pajak yang meningkat akan dilepaskan oleh para petani. Alih-alih membayar pajak tinggi, pada akhirnya mau tidak mau, lahan persawahan produktif terpaksa dijual oleh pemiliknya. Dengan terjadinya efek berantai dari penjualan tanah, pada akhirnya sistem subak akan kolaps dan dikuatirkan berujung pada kehancuran.
Salah satu organisasi yang peduli terhadap keberlangsungan subak ialah Yayasan Konservasi Sawah Bali (Bali Rice Field Conservation Foundation). Manajemen pengelolaan lahan sawah yang akan diperkenalkan Yayasan ini mirip dengan konsep 'Land Trust' di Amerika Serikat yang telah berhasil diterapkan selama 40 tahun untuk melestarikan lahan pertanian. Yayasan Sawah Bali akan meniru konsep 'Land Trust' di AS untuk menjaga agar penduduk sekitar wilayah 'pilot project' mampu bekerja sama secara produktif dengan menerapkan praktek pengelolaan lahan dan sumber daya alam yang baik guna meningkatkan daya saing produk pertanian lokal.
Sebanyak 135 anggota Subak Malung Bulu Jauk di desa Bunutan dan Tanggayuda, Ubud Utara, telah bersedia dan bertekad untuk menjadi subak pertama di Bali yang berpartisipasi dalam 'pilot project' ini. Konsep pertama dan yang paling sentral dalam usaha konservasi lahan adalah dengan menawarkan kompensasi finansial untuk lahan sawah petani lokal setiap tahun agar tetap melanjutkan pengelolaan pertanian. Sebagai gantinya, pemilik lahan sawah akan kehilangan hak mereka untuk menjual sawah mereka untuk tujuan pembangunan rumah, gedung, villa, dan bangunan lainnya. Pemilik sawah tetap mendapatkan hak milik sepenuhnya terhadap lahan sawah mereka dan dapat diperjualbelikan kepada petani lain untuk pengelolaan pertanian atau diwariskan kepada ahli warisnya.
Dalam proses ini, para petani akan diberikan bimbingan teknis serta konsultasi dengan para ahli untuk melaksanakan sistem pertanian 100% organik, menanam padi dan tanaman lain dalam rangka menjaga kelangsungan lahan pertanian.
~ o 0 o ~
Sumber:
nationalgeographic.co.id
worldagroforestry.org
sawahbali.org
Learning Farm di Maleber
Langit Jakarta masih gelap sewaktu kami meninggalkan rumah dan beranjak menuju daerah Ceger, Cipayung. Di sana, telah menunggu Agus Tjiptomo, sahabat saya sejak zaman kuliah, yang kini tengah menekuni bidang pertanian dan peternakan. Hari ini kami hendak menuju ke Cianjur untuk meninjau Perkebunan Teh Maleber.
Di lahan perkebunan seluas 50 hektar tersebut Medco Foundation telah menanam 5000 pohon untuk mendukung program penghijauan Indonesia.
Setelah menempuh dua jam perjalanan, sampailah kami di kawasan Cipanas. Kami sempat mampir sebentar untuk minum kopi di Restoran Puncak Pas. Kami memilih duduk di dekat perapian karena udara cukup dingin pagi ini. Sayangnya, tungku perapian itu harus ditiup berulang-ulang dengan suluh bambu agar apinya tetap menyala.
Karang Widya: The Learning Farm
Di kawasan Perkebunan Teh Maleber ini juga berdiri Karang Widya, sebuah sekolah pertanian yang memberdayakan anak-anak muda yang semula hidup di jalanan dan para pemuda pengangguran yang putus sekolah. Mereka dididik untuk belajar hidup melalui pendidikan pertanian organik yang berlangsung selama enam bulan. Karang Widya dalam bahasa Sansekerta berati kebun belajar.
Di sini para pemuda itu tidak hanya belajar teknik-teknik dalam pertanian organik, tetapi juga dilatih untuk hidup disiplin. Bangun pukul enam pagi, membersihkan rumah, bekerja di ladang dari pagi hingga tengah hari, mempelajari teori pertanian, komputer dan berorganisasi.
Alumni dari Karang Widya ini ada yang kemudian berhasil mengelola pertanian sendiri, ada pula yang terpacu untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi, dan ada pula yang termotivasi untuk mengembangkan diri di bidang lain.
Project manager learning farm ini adalah Jiway Tung, seorang pemuda Taiwan yang lahir dan besar di Amerika Serikat kemudian terpikat dengan mojang Bogor, Rela. Maka sejak menikah, ia pun menetap di Indonesia. Menurut Jiway, memang sasaran dari learning farm ini bukanlah mencetak petani-petani terlatih, namun lebih kepada pengembangan diri mereka. Para koordinator memotivasi mereka dan membuat suasana belajar menyenangkan dengan menyanyikan lagu-lagu agar semangat.
Ketika kami akan meninjau perkebunan, kami pun disambut dengan lagu-lagu bertema pertanian organik serta Mars Perjuangan. Di sana sempat pula saya sampaikan kepada para pemuda itu bahwa kunci kesuksesan itu ada tiga: jujur, kerja keras, dan bersikap ramah kepada orang lain.
Kami pun berkeinginan untuk juga mengadakan pembelajaran peternakan di Karang Widya ini. Sepanjang perjalanan tadi kami banyak membahas soal pentingnya pengembangan peternakan sapi di Indonesia. Amat menyedihkan bahwa setiap tahun satu juta sapi berkurang di negara ini. Tjiptomo sendiri telah mulai mengembangkan sektor ini sejak tahun lalu di peternakannya di Majalengka. Dari 50 sapi yang ia pelihara pada awalnya, kini telah meningkat jumlahnya menjadi 400, baik sapi perah maupun potong. Menurut Tjiptomo, memelihara sapi amat membutuhkan ketekunan dan kesabaran. Dari mulai kebersihan, kesehatan, reproduksi, pakan serta nutrisi harus diperhatikan.
Tak terasa dua jam sudah kami berkeliling, hingga tepat pukul sepuluh kami bertolak kembali ke Jakarta dan membawa oleh-oleh sayuran organik.
Di lahan perkebunan seluas 50 hektar tersebut Medco Foundation telah menanam 5000 pohon untuk mendukung program penghijauan Indonesia.
Setelah menempuh dua jam perjalanan, sampailah kami di kawasan Cipanas. Kami sempat mampir sebentar untuk minum kopi di Restoran Puncak Pas. Kami memilih duduk di dekat perapian karena udara cukup dingin pagi ini. Sayangnya, tungku perapian itu harus ditiup berulang-ulang dengan suluh bambu agar apinya tetap menyala.
Karang Widya: The Learning Farm
Di kawasan Perkebunan Teh Maleber ini juga berdiri Karang Widya, sebuah sekolah pertanian yang memberdayakan anak-anak muda yang semula hidup di jalanan dan para pemuda pengangguran yang putus sekolah. Mereka dididik untuk belajar hidup melalui pendidikan pertanian organik yang berlangsung selama enam bulan. Karang Widya dalam bahasa Sansekerta berati kebun belajar.
Di sini para pemuda itu tidak hanya belajar teknik-teknik dalam pertanian organik, tetapi juga dilatih untuk hidup disiplin. Bangun pukul enam pagi, membersihkan rumah, bekerja di ladang dari pagi hingga tengah hari, mempelajari teori pertanian, komputer dan berorganisasi.
Alumni dari Karang Widya ini ada yang kemudian berhasil mengelola pertanian sendiri, ada pula yang terpacu untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi, dan ada pula yang termotivasi untuk mengembangkan diri di bidang lain.
Project manager learning farm ini adalah Jiway Tung, seorang pemuda Taiwan yang lahir dan besar di Amerika Serikat kemudian terpikat dengan mojang Bogor, Rela. Maka sejak menikah, ia pun menetap di Indonesia. Menurut Jiway, memang sasaran dari learning farm ini bukanlah mencetak petani-petani terlatih, namun lebih kepada pengembangan diri mereka. Para koordinator memotivasi mereka dan membuat suasana belajar menyenangkan dengan menyanyikan lagu-lagu agar semangat.
Ketika kami akan meninjau perkebunan, kami pun disambut dengan lagu-lagu bertema pertanian organik serta Mars Perjuangan. Di sana sempat pula saya sampaikan kepada para pemuda itu bahwa kunci kesuksesan itu ada tiga: jujur, kerja keras, dan bersikap ramah kepada orang lain.
Kami pun berkeinginan untuk juga mengadakan pembelajaran peternakan di Karang Widya ini. Sepanjang perjalanan tadi kami banyak membahas soal pentingnya pengembangan peternakan sapi di Indonesia. Amat menyedihkan bahwa setiap tahun satu juta sapi berkurang di negara ini. Tjiptomo sendiri telah mulai mengembangkan sektor ini sejak tahun lalu di peternakannya di Majalengka. Dari 50 sapi yang ia pelihara pada awalnya, kini telah meningkat jumlahnya menjadi 400, baik sapi perah maupun potong. Menurut Tjiptomo, memelihara sapi amat membutuhkan ketekunan dan kesabaran. Dari mulai kebersihan, kesehatan, reproduksi, pakan serta nutrisi harus diperhatikan.
Tak terasa dua jam sudah kami berkeliling, hingga tepat pukul sepuluh kami bertolak kembali ke Jakarta dan membawa oleh-oleh sayuran organik.
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)
