Learning Farm di Maleber

Langit Jakarta masih gelap sewaktu kami meninggalkan rumah dan beranjak menuju daerah Ceger, Cipayung. Di sana, telah menunggu Agus Tjiptomo, sahabat saya sejak zaman kuliah, yang kini tengah menekuni bidang pertanian dan peternakan. Hari ini kami hendak menuju ke Cianjur untuk meninjau Perkebunan Teh Maleber.

Perkebunan Teh Maleber

Di lahan perkebunan seluas 50 hektar tersebut Medco Foundation telah menanam 5000 pohon untuk mendukung program penghijauan Indonesia.

Setelah menempuh dua jam perjalanan, sampailah kami di kawasan Cipanas. Kami sempat mampir sebentar untuk minum kopi di Restoran Puncak Pas. Kami memilih duduk di dekat perapian karena udara cukup dingin pagi ini. Sayangnya, tungku perapian itu harus ditiup berulang-ulang dengan suluh bambu agar apinya tetap menyala.

Karang Widya: The Learning Farm

Di kawasan Perkebunan Teh Maleber ini juga berdiri Karang Widya, sebuah sekolah pertanian yang memberdayakan anak-anak muda yang semula hidup di jalanan dan para pemuda pengangguran yang putus sekolah. Mereka dididik untuk belajar hidup melalui pendidikan pertanian organik yang berlangsung selama enam bulan. Karang Widya dalam bahasa Sansekerta berati kebun belajar.

Tanaman sayuran diselingi tanaman bunga

Di sini para pemuda itu tidak hanya belajar teknik-teknik dalam pertanian organik, tetapi juga dilatih untuk hidup disiplin. Bangun pukul enam pagi, membersihkan rumah, bekerja di ladang dari pagi hingga tengah hari, mempelajari teori pertanian, komputer dan berorganisasi.

Bersama pemuda Karang Widya

Di dalam green house

Alumni dari Karang Widya ini ada yang kemudian berhasil mengelola pertanian sendiri, ada pula yang terpacu untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi, dan ada pula yang termotivasi untuk mengembangkan diri di bidang lain.

Tjiptomo, Jiway Tung, Rela, Dedi Panigoro

Project manager learning farm ini adalah Jiway Tung, seorang pemuda Taiwan yang lahir dan besar di Amerika Serikat kemudian terpikat dengan mojang Bogor, Rela. Maka sejak menikah, ia pun menetap di Indonesia. Menurut Jiway, memang sasaran dari learning farm ini bukanlah mencetak petani-petani terlatih, namun lebih kepada pengembangan diri mereka. Para koordinator memotivasi mereka dan membuat suasana belajar menyenangkan dengan menyanyikan lagu-lagu agar semangat.


"Organik, Yes! Racun, No!"

Ketika kami akan meninjau perkebunan, kami pun disambut dengan lagu-lagu bertema pertanian organik serta Mars Perjuangan. Di sana sempat pula saya sampaikan kepada para pemuda itu bahwa kunci kesuksesan itu ada tiga: jujur, kerja keras, dan bersikap ramah kepada orang lain.

Mengobrol dengan suguhan teh mint

Kami pun berkeinginan untuk juga mengadakan pembelajaran peternakan di Karang Widya ini. Sepanjang perjalanan tadi kami banyak membahas soal pentingnya pengembangan peternakan sapi di Indonesia. Amat menyedihkan bahwa setiap tahun satu juta sapi berkurang di negara ini. Tjiptomo sendiri telah mulai mengembangkan sektor ini sejak tahun lalu di peternakannya di Majalengka. Dari 50 sapi yang ia pelihara pada awalnya, kini telah meningkat jumlahnya menjadi 400, baik sapi perah maupun potong. Menurut Tjiptomo, memelihara sapi amat membutuhkan ketekunan dan kesabaran. Dari mulai kebersihan, kesehatan, reproduksi, pakan serta nutrisi harus diperhatikan.

Tak terasa dua jam sudah kami berkeliling, hingga tepat pukul sepuluh kami bertolak kembali ke Jakarta dan membawa oleh-oleh sayuran organik.

1 comment :

serangga pabrik uang said...

Saya sangat tersentuh membaca blog ini. saya mempunyai kesukaan bertani sewaktu kecil. Tetapi sekarang hidup di kota Surabaya. Saya ingin belajar bertani organik pada karang widya, mohon informasinya. terima kasih banyak. pabrikserangga@gmail.com sms or tlp: 081938627230