Showing posts with label Sports. Show all posts
Showing posts with label Sports. Show all posts

Bintang Baru Sepak Bola Indonesia

Oleh Gatot Widakdo/Buyung Wijaya Kusuma, KOMPAS (5/6/2016)

Pesta sepak bola Indonesia kembali bergelora setelah Presiden Joko Widodo turun tangan merestui digelarnya Kejuaraan Sepak Bola Torabika (Torabika Soccer Championship/TSC), yang dimulai 29 April 2016. Dari kejuaraan ini sudah memunculkan bintang baru, yakni Ratu Tisha Destria (30). Dialah Direktur Kompetisi TSC yang akan berperan besar untuk mengawal kualitas kompetisi.

KOMPAS/GATOT WIDAKDO

Kehadiran alumnus FIFA Master dalam setiap rapat penting dengan klub, pertemuan dengan Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI), dan pembahasan peraturan kompetisi yang kadang berlangsung alot itu mengundang perhatian wartawan. Termasuk ketika dirinya mengantar semua punggawa klub peserta TSC bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Presiden karena satu-satunya perempuan.

Tisha bisa dibilang masih muda sehingga awalnya banyak yang meragukan kapasitas dari perempuan sarjana Matematika Institut Teknologi Bandung (ITB) ini. Namun, pengetahuan dan visinya tentang sepak bola sangat jauh ke depan. Dengan peran besarnya dalam melahirkan konsep kompetisi yang baru ini, Tisha dengan mudah mendapat kepercayaan dan respek dari anggota asosiasi provinsi dan pengurus klub di Tanah Air.

"Saat ditunjuk sebagai direktur kompetisi, tentu saya kaget juga. Akan tetapi, saya kemudian merasa tertantang dan secepatnya pula saya ingin bekerja," kata Tisha saat dijumpai di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan, Rabu (27/4).

Menurut Tisha, tantangan terberat untuk penyelenggaraan kompetisi ini, selain membangun infrastruktur, juga dalam membangun komunikasi dan mendapatkan kepercayaan dari semua pemangku kepentingan.

"Sepak bola itu butuh sistem pendukung yang kuat, tidak bisa hanya satu aspek untuk membuat fondasi. Selama ini, mungkin yang berjalan baru satu aspek, yakni sisi penyelenggara kegiatan saja. Padahal, kolaborasi dengan banyak mitra menjadi kunci," ujar Tisha.

Tisha menambahkan, agar sepak bola berkembang lebih pesat, yang perlu dilakukan adalah bagaimana menciptakan keadaan atau kondisi yang mengundang banyak pihak untuk kreatif. Sepak bola tidak bisa dikelola dan dikuasai secara eksklusif. Pengembangannya harus dinamis dengan membangun banyak jaringan. "Meminjam istilah Steve Jobs, kita harus membuat connecting the dot,"ujar Tisha.

Selama ini orang memahami permainan bola adalah memperebutkan satu bola oleh 22 pemain. Namun, bagi Tisha, yang sesungguhnya adalah bagaimana sebelas pemain dari setiap tim membagi bola untuk mencetak gol dengan alur permainan dari kaki ke kaki yang indah.

Inspirasi kota Leipziq

Ketertarikan Tisha dalam mengurus olahraga, khususnya sepak bola, sebenarnya sudah ada sejak duduk di bangku kelas I SMA Negeri 8 Jakarta. Saat itu ia terlibat membangun tim sepak bola sekolah dan sekaligus menjabat sebagai manajer. Kemudian semakin tertarik ketika mengikuti pertukaran antarbudaya AFS, di kota Leipzig, Jerman, yang kehidupan masyarakatnya begitu bersemangat dengan acara-acara olahraga.

Hidup selama setahun di kota kecil di bagian Jerman timur, dia sangat menikmati masyarakat yang sangat senang dengan sepak bola. Bahkan, komunikasi dengan orang-orang bisa nyambung dengan membahas sepak bola.

KOMPAS/GATOT WIDAKDO

"Saya juga senang melihat masyarakatnya yang mengambil nilai-nilai sportivitas untuk diterapkan ke dalam kehidupan sehari-hari," ujar Tisha.

Selama setahun berguru di Max-klinger Schule Gymnasium, Tisha juga sempat belajar manajemen olahraga. Pada kesempatan inilah, dia makin memahami bahwa yang menjadi kunci dalam olahraga adalah semangat.

Ketika kembali ke Tanah Air dan menyelesaikan sekolah di SMA Negeri 8 Jakarta, Tisha masih kembali mengurus kesebelasan sekolahnya dan berhasil membawa juara. Lulus SMA, dia langsung mengikuti tes masuk ke Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ITB, meninggalkan kesempatan bebas tes di Universitas Telkom di Bandung. Alasannya, dia memilih studi pada jurusan Matematika karena yakin dengan pilihannya dan juga tahu bahwa angka-angka berhubungan dengan olahraga, khususnya bola.

"Matematika itu raja dari semua ilmu," ujarnya sambil tertawa.

Sama seperti di SMA, Tisha kembali menjadi manajer bagi tim PS ITB yang berlaga di Divisi I Provinsi Jawa Barat. Dia tidak hanya menjadi manajer yang hanya mengurus persiapan tim untuk bertanding, tetapi juga menyusun data klub, jadwal latihan, serta kalender pertandingan dari klubnya. PS ITB sempat mendapatkan promosi naik tingkat ke divisi utama.

"Waktu di SMA, saya membangun tim sepak bola dari nol, dan saat di kampus saya langsung melebur mengurus tim ITB. Sebelum mendatangkan pelatih, untuk mendapatkan menu dan metode latihan fisik, saya selalu mempelajarinya dari buku di perpustakaan kampus. Modalnya cuma semangat. Dan ternyata, jika kita lakukan sungguh-sungguh apa yang kita impikan, bisa terwujud. Kami tak cuma sekadar membangun tim, tetapi juga menghasilkan tim juara," kenang Tisha, yang mahir dalam enam bahasa.

Pada akhir masa kuliah, Tisha bersama teman-teman yang hobi sepak bola mulai merintis membangun bisnis yang bergerak di bidang statistik olahraga, khususnya sepak bola.

Dengan bendera perusahaan yang diberi nama LabBola, Tisha dan kawan-kawan menawarkan jasa penyediaan data statistik performa tim. Data tersebut bisa membantu tim untuk mengajukan proposal kepada sponsor.

Setelah lulus dari ITB tahun 2008, Tisha menerima tawaran bekerja pada perusahaan jasa perminyakan Schlumberger. Di perusahaan ini, Tisha mendapat banyak tambahan ilmu, terutama dalam eksplorasi data dan konflik manajemen. Meskipun harus bekerja berpindah-pindah dari Kairo, Mesir; Houston, Amerika Serikat; London, Inggris; dan Beijing Tiongkok; di sela-sela waktu luangnya, Tisha tetap bisa berkomunikasi dengan teman-temannya yang mengelola LabBola.

Empat tahun kemudian Tisha memutuskan berhenti bekerja dan lebih memilih fokus untuk membesarkan LabBola. Dia kemudian mulai mempelajari kondisi sepak bola nasional sekaligus mencari kesempatan untuk menjalin komunikasi dengan federasi. Selain itu, untuk menambah ilmu dan wawasan, berbagai seminar sepak bola dia ikuti, termasuk seminar sepak bola internasional di Jepang, Belgia, dan Denmark.

Jaringan Tisha semakin luas. Dia pun mendapat informasi tentang program FIFA Master yang disponsori FIFA sebagai bagian dari mengembalikan 90 persen keuntungan mereka untuk pengembangan sepak bola. Program ini dijalankan International Centre for Sports Studies (CIES) yang menggandeng beberapa universitas. Beberapa bidang studi yang dipelajari dalam program ini di antaranya Sport Humanity, Manajemen Olahraga, dan Hukum Olahraga.

Berbekal portofolio dari kegiatan seminar yang dia ikuti, Tisha kemudian mendaftar dan mengikuti tes program FIFA Master. Dari 6.400 pendaftar, akhirnya hanya 28 orang yang diterima, termasuk Tisha. Setelah menyelesaikan studi selama satu setengah tahun dalam program FIFA Master, Tisha berhak menyandang gelar Master of Art. Tisha lulus dengan hasil memuaskan menduduki peringkat ke-7 dari 28 siswa.

Tisha menceritakan, program FIFA Master memberi dia banyak pandangan baru dalam pengembangan olahraga, terutama sepak bola. Potensi sepak bola Indonesia jauh lebih menjual dibandingkan dengan negara lain. "Basis market kita sudah jadi. Sekarang kita tinggal mengubah sistem marketing yang selama ini bersifat ownership menjadi partnership," katanya.

LabBola, yang kini memiliki 23 personel kreatif, sudah kian berkembang. Turnamen sepak bola Inter Island menjadi proyek besar pertama mereka. Berikutnya menyusul proyek di Liga Indonesia, tim nasional PSSI, serta klub Persebaya dan Bali United. Belakangan menyusul klien baru, seperti tabloid Bola, Chanel Bola Indonesia di K-Vision, serta Liga Kompas Gramedia U-14 Panasonic. Bahkan, LabBola juga sudah go internasional dengan menggarap proyek data dan statistik pada kompetisi Piala Raja Malaysia.

Kini, Tisha harus membuktikan keyakinan dan semangatnya mengurus sepak bola nasional ini agar bisa menuai hasil yang membuat pencinta bola di Tanah Air kembali bergairah kembali.

LPI, Serius Membangun Kompetisi Profesional dan Mandiri

Arifin-Panigoro.jpg

Menurut Juru bicara LPI, Abi Susanto, semua itu bukti keseriusan LPI membangun iklim kompetisi yang benar-benar profesional dan mandiri, termasuk tidak menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). "Tidak fair uang rakyat buat kontrak pemain asing, Ujarnya.

Masih terasa hangat dan semangatnya masyarakat pecinta sepak bola di tanah air yang begitu genggap gempitanya mendukung tim nasional Indonesia, terutama sejak menunjukan prestasi lumayan mengilap dan mencapai final pada turnamen Piala AFF 2010, Desember tahun lalu. Sementara disisi lain, sejulah pihak terys menyoroti kinerja Persatuan Sepak Bola Indonesia (PSSI) yang ditudinghanya bisa ,enghabiskan uang rakyat, ditambah ketidakmampuan memberikan prestasi membanggakan. Selama dua periodekepemimpinan Nurdin Halid yang akan berakhir tahun 2011 ini, Timnas Indonesia mengalami Paceklik gelar. Gelar juara timnas pada piala kemerdekaan 2009 lalu lebih karena keberuntungan, karena hanya menang WO menyusul penolakan Libya melanjutkan pertandingan pada babak kedua setelah pelatih mereka dipukul oleh salah satu timnas Indonesia.

Perubahan iklim sempat mengemuka ketika banyak pihak, termasuk suporter sepak bola, berharap kongres Sepak Bola Nasional (KSN) di Malang, Maret 2010, akan menjadi momentum kebangkitan sepak bola indonesia, sekaligus mereformasi PSSI sebagai induk organisasi yang menaunginya, Buruknya prestasi Timnas sejak PSSI dipimpin Nurdin Halid selama 7 tahun, membuat pecinta sepak bola menginginkan sang ketua umum mundur dari jabatanya, sekaligus sebagai bentuk pertanggung jawaban atas kinerja PSSI yang jauh dari harapan Bahkan sejumlah pihak sangat menyayangkan salah satu rekomendasi tentang pembentukan Dewan Sepak Bola telah dicabut. Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng pun mengingatkan kepada semua pihak untuk melaksanakan ke tujuh butir rekomendasi yang sudah di sepakati. Menpora juga mengingatkan rekomendasi poin pertama KSN tentang perlunya reformasi dan restrukturasi di tubuh PSSI untuk mencapai prestasi yang menjadi harapan masyarakat Indonesia. "Kalau tidak dilakkan, keterlaluan,"kata Andi saat itu."

Apa yang di khawatirkan akhirnya menjadi kenyataan. KSN pun seperti menjadi sia-sia setelah rekomendasi yang dihasilkanya tak sepenuhnya dijalankan dengan sungguh-sungguh. Hingga akhirnya deklrasi berdirinya Liga Primer Indonesia (LPI), di Semarang, 24 Oktober 2010, seakan menjadi pemuas dahaga pecinta sepak bola yang menginginkan iklim kompetisi yang jauh lebih bersih, mandiri, dan profesional. Kompetisi yang di gagas Geraka Reformasi Sepak Bola Nasional Indonesia (GRSNI) dan pengusaha Arifin Panigoro itu memang sudah bergulir sejak awal januari 2011 dan melibatkan 19 klub dari Sumatra, Jawa, Bali, Sulawesi, dan Papua. Beberapa klub lain diantaranya berasal dari Liga Super Indonesia (LSI) yang diakui PSSI, kini masih dalam proses verifikasi yang akan menggenapi jumlah 20 klub di LPI. GRSNI sendiri dibentuk oleh sejumlah pihak yang berkepentingan dalam sepak bola nasional untuk menindaklanjuti gagasan Presien SBY untuk mengembalikan kejayaan sepak bola Indonesia.

Anggota komisi X DPR RI, Deddy 'Miing' Gumelar, tak menampik melihat munculnya LPI sebagai bentuk protes terhadap kinerja PSSI yang selama ini banyak dinilai berbagai kalangan tak mampu memberikan prestasi bagi sepak bola Indonesia. Namun Miing mengingatkan agar LPI juga tetap harus menghormati aturan FIFA yang hanya mengakui PSSI sebagai organisasi dibawahnya. "Mereka harus duduk bersama. Kalau bicaranya Merah-Putih, tidak ada yang tidak bisa di Musyawarahkan,"kata Miing."


Selain Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) yang sudah mengajak PSSI dan LPI untuk mencari solusi terbaik, rasanya tak berlebihan juga meminta peran Komite Olah Raga Nasional Indonesia (KONI) Pusat. Selama ini peran KONI pusat dalam menengahi PSSI dan LPI nyaris tak terdengar suaranya.

Tentang latar belakang dan rencana jangka panjang LPI, termasuk data dan fakta, dalam beberapa kesempatan telah diungkap . Di antaranya adalah pertandingan kondisi di LPI dan LSI. Menurut Juru Bicara LPI, Abi Hasantoso, semua itu bukti keseriusan LPI membangun Iklim Kompetisi yang benar-benar profesional dan mandiri, termasuk tidak menggunakan APBD. Tidak fair uang rakyat untuk kontrak pemain asing. LPI akan menjadi industri yang mampu menghidupi banyak orang, termasuk perusahaan yang ikut mengsponsori. Bahkan Abi pun tidak menyangka laga pembukaan LPI antara Solo FC melawan Persema malang disaksikan lebih dari 30.000 penonton yang hadir melebihi kapasitas tempat duduk di Stadion Manahan , Solo (8/1). Sambutan yang dahsyat , katanya.

Indonesia corruption Watch (ICW) pun telah menaksirkan kecurangan  dana daerah untuk klub yang mencapai Rp. 720 Milliar setiap tahunya. sebanyak 10 klub di LSI tercatat sebagai penerima dana tersebut. Kontribusi klub bagi kemajuan sepak bola nasional dinilai ICW masih sangat minim. Apalagi dana yang diterima kerap disalahgunakan, sepeti untuk kepentingan pengurus klub atau pemilihan kepala daerah. 

Pihak LPI juga merujuk rilis hasil riset yang dikeluarkan perusahaan survei dan analis independen terkemuka Repucom tentang potensi komersial Kompetisi sepak bola Indonesia yang ternyata besaran nilainya puluhan kali dari target PSSI dan raihan yang dicapai sekarang ini. Bayangkan saja, pertandingan-pertandingan besar yang melibatkan klub-klub kaya bisa bernilai lebih dari Rp. 10 milliar setiap pertandinganya. Jika dalam setahun ada 300 pertandingan, itu berarti memilki nilai komersial hingga Rp. 3 triliun. Sangat luar biasa , menariknya, walaupun hanya tercapai 30 %, maka setidaknya pemasukan dari sponsor dan hak siar TV tetap akan mampu menjamin kondisi keuangan yang menguntungkan. Roda kompetisi akan berjalan lancar, klub yang semakin berkembang, dan tentunya PSSI dan penyelenggara liga pun akan mendapat jatah tanpa harus bermain mata. Dengan kondisi ideal seperti ini, semua klub dipastikan bisa mandiri tanpa perlu kucuran APBD. disisi lain, pembinaan pemain usia dini pun akan berkesinambungan. Dan bukan hal muluk menjadikanya sebagai dasar untuk menanggapi prestasi persepakbolaan nasional menembus pentas dunia.

Soal penghentian penggunaan dana APBD untuk sepak bola profesional, Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi sudah memberikan sinyal. Menurut Gamawan saay ini masih digodok aturan soal pencucuran dana APBD untuk klub sepak bola profesional. bila sudah rampung aturan tersebut bakal mulai efektif pada 2012.
Ini masih kami kaji dan bicarakan, kata Gamawan seperti dikutip tempointeraktif. Walau demikian Gamawan masih memperkenankan anggaran daerah untuk olag raga yang digunakan hanya untuk pembinaan dan infrstruktur. Nanti masuknya ke KONI. tapi kalau kompetisi klub harus cari sendiri, katanya ".

Arifin: Tidak Terpisahkan dari Bola

Kiprah Arifin Panigoro tak terbatas pada dunia bisnis.

Belakangan Arifin mengalihkan energinya ke bidang olah raga. Ia, seperti banyak rakyat Indonesia, gregetan dengan prestasi sepakbola nasional yang redup. Maka, ia pun menggelar Liga Primer Indonesia (LPI), kompetisi sepakbola, yang diharapkan mampu memberi contoh kepada masyarakat maupun PSSI tentang pengelolaan mandiri, tidak merugikan Pemda serta mampu menghasilkan pemain bagus.

Arifin menginjeksi modal masing-masing Rp.20 Miliar kepada 20 klub sepakbola. Ia melarang klub peserta Liga Primer memakai dana anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk operasional tim. Liga Primer memilki konsep pengelolaan yang baik dan bisa  menjadi kompetisi profesional yang mandiri.

Tidak ada yang meragukan, LPI adalah anak tangga Arifin untuk menuju kursi ketua PSSI. Namun apapun target arifin di LPI, ia masih kental jiwa nasionalismenya.
Alasan ingin melepas Medco ke Pertamina pun, dilandasi rasa nasionalisme ingin melihat pertamina sejajar dengan BUMN migas di negara lain. Karena menurutnya pemain migas dunia yang besar adalah perusahaan BUMN, tidak ada perusahaan migas swasta berkelas dunia yang besar selain di Amerika Serikat. Target menjadi pemain Global, tenyata tidak melupakan akar kecintaan Arifin pada bangsanya.

Memories (miscellanous pic)

Berrend Chorengel, Adri Palar, Gerald Green, DSP, Alm. Sudibyo, Andre Pury, Alm. Maman.

Almarhum Priyatna Kusumah dan Arifin Panigoro, grand opening Preanger, Bandung, 1990.

Alm. Dina, Kusnoroto, dan Putu Swasti -- Grand opening Grand Hotel Preanger, Bandung, 1990

Paduan Suara Mahasiswa Trisakti, Konser Melati Suci, Gedung Kesenian, 2001

Joy Sie, Rara Rengganis Dewi, Zalmi Zubir, Citroenia Dinny,
Evie Hasan, Yenli Wongso, Rahmi Indira (Reuni Bali Imperial Hotel di Jakarta, 2005).

Topping-Off Novotel Bukittinggi, 22 Oktober 1994.

Ir. Hendirman Sapiie, sang pembangun Grand Hotel Preanger, Bali Imperial Hotel dan Bukittinggi Novotel.

Fund raising Elfa Singer Goes to Linz, Austria, 2003.

Bagus Wirajaya dan Mitamura.

Imel, Andien, di reuni Bali Imperial Hotel, Jakarta, 2002.

Ketua International Olympic Committee, Juan Antonio Samaranch, Swiss, 2002.

Recital piano, Jenggala.

Paduan Suara Mahasiswa Trisakti, Gedung Kesenian, 2001.

Konser musik di Jenggala.

Srikandi Martels, Grand opening Novotel Bukittiinggi, 1995.

Taufik Darusman, Swan River, Perth, 2001.

Chatib Basri, Mari Pangestu, Departemen Keuangan Australia, Canberra, 2001.

Garin Nugroho, singgah di Berastagi menuju Aceh Barat, saat tsunami.

Peresmian Suhanah Jack Up Rig, Singapore.

Menteri Luar Negeri Irak, di Bali Imperial Hotel, 2001.

Menteri Luar Negeri Irak, di Bali Imperial Hotel, 2001.

Sommy dan Miranda

Bangun Sarwito Kusmuljono, Irsa Destiwi, Agastya dan Fauzie Wiriadisastra.
Yazeed Jamin Award

Dengan Dian Sastrowardoyo di gd. Medco

Dengan Mangku Prastika, Rai Soekidjo dan Oka Muliawan di Bali.

Atlet anggar Phillipine, SEA Games, Kuala Lumpur 2001

Tan Joe Hok

Selalu punya cita-cita, punya tujuan. Sikap hidup inilah yang membuat Tan Joe Hok—satu-satunya pebulu tangkis anggota tim Piala Thomas 1958 yang masih tersisa—meraih sukses demi sukses dalam hidupnya. Bahkan, dalam usia senja sekalipun, ia masih punya cita-cita.

Kita hidup, menurut Tan Joe Hok (71), memang selalu harus punya attainable goal, tujuan yang bisa kita capai. Kalau tidak punya cita-cita, itu sama halnya dengan kapal yang tanpa tujuan di tengah lautan, lalu limbung diombang-ambingkan ombak.

Tan Joe Hok

Ketika ia masih kecil, misalnya. Mungkin sekitar umur 12 tahun. Si kecil Tan Joe Hok di Kampung Pasir Kaliki, Bandung, juga punya cita-cita sederhana, ”ingin hidup berkecukupan, bisa makan”. Si kecil Tan lalu merintis tujuannya itu melalui bulu tangkis. Berlatih di lapangan yang dibangun ayahnya, di depan rumah mereka. Dan, ikut bergabung di klub Blue White, Bandung, ketika ia ditawari Lie Tjuk Kong. Siapa tahu bisa berkecukupan dari bulu tangkis....

Tentu bukan tanpa upaya untuk meraih cita-citanya. Ia biasa berlatih keras dari pagi-pagi buta (sampai sekarang pun Tan Joe Hok terbiasa bangun pukul 04.15 dan senam di gym pribadinya untuk tetap menjaga kebugarannya di usia senja, di rumahnya di kawasan Jalan Mandala, Pancoran, Tebet, Jakarta).

Pintu menuju tujuan sederhananya mulai terkuak lima tahun kemudian di Surabaya tahun 1954.

”Saya mengalahkan Njoo Kiem Bie dan tampil sebagai juara nasional pada usia 17 tahun,” katanya. Setelah sukses pertamanya itu, pintu-pintu cita-cita seperti mulai terbuka.

”Saya mulai diundang ke kanan, ke kiri, dan saya pun diundang ke India bersama (pasangan juara All England) Ismail bin Mardjan dan Ong Poh Lin,” tutur Tan.

Mulailah Tan pergi keliling India—ke Bombay, New Delhi, Calcutta, Ghorapur, Jabalpur, dan kota lainnya di India. Keliling lebih dari setengah bulan, pulangnya mampir di Bangkok dan Singapura (Malaya, waktu itu).

”Ismail bin Mardjan bilang kepada saya, ini saya tak akan lupakan, ’Eh, Joe Hok, kamu akan menjadi yang terbaik di dunia. Asalkan kamu latihan keras seperti sekarang. Tetapi jangan hidupnya kayak saya ini...’,” tutur Ismail bin Mardjan.

Ketika mampir di rumah Ismail di Malaya, barulah mengerti apa arti kata Ismail ”jangan hidupnya kayak saya”.

”Jangan bayangkan Singapura seperti sekarang ini. Rumah Ismail ada di kampung, kotor, dan sungainya hitam, berbau,” tutur Tan. Sore hari, pukul 18.00, Ismail selalu pamit kepada Tan Joe Hok. Ternyata, guna menyambung hidupnya, sang juara All England itu harus bekerja jadi petugas satpam, dari pukul 6 petang sampai pukul 6 pagi.

”Doa” Ismail kepada Tan Joe Hok itu rupanya terwujud.

Tak hanya berhasil tampil sebagai atlet bulu tangkis pertama yang meraih medali emas di arena Asian Games dan orang Indonesia pertama yang mampu juara All England, pada tahun 1959, Tan Joe Hok rupanya juga memikat publik di Amerika Serikat.

”Saya dimasukkan di majalah Sports Illustrated,” tutur Tan Joe Hok. Majalah itu masih rapi disimpannya dan, memang, profil Tan Joe Hok menghiasi dua halaman majalah tersebut, terbitan 13 April 1959.

”Wonderful World of Sports. Tan Joe Hok Takes Detroit...”, tulis majalah tersebut.

Sejak tahun 1959 itu, Tan Joe Hok studi di Texas, memenuhi beasiswa dari Baylor University Jurusan Premedical Major in Chemistry and Biology.


Mengganti Nama

Situasi konfrontasi, Bung Karno mencanangkan ”Ganyang Malaysia” dan ”Ganyang Antek Imperialis”, membuat Tan Joe Hok mengurungkan niatnya untuk kembali ke AS meneruskan studi S-2. Ia lalu tinggal di Tanah Air.

”Apa kata Bung Karno, saya nurut saja. Saya malah sempat main di perbatasan Kalimantan sampai ke Mempawah, menghibur sukarelawan kita di medan perang,” ungkap Tan Joe Hok.

”Dulu Ganyang Amerika, eh, tahun 1965 giliran Ganyang China. Dampaknya, kita yang nggak ngerti apa-apa jadi kena,” tutur Tan Joe Hok.

Di pelatnas Senayan pun terjadi perubahan drastis. Suatu siang, di flat atlet—kini Plaza Senayan—Kolonel Mulyono dari CPM Guntur, Jakarta Pusat, mengumpulkan para atlet.

”Kami semua disuruh ganti nama begitu saja. Pak Mulyono yang tentukan,” tutur Tan.

Maka, anggota-anggota Piala Thomas pun ”diberi nama” Indonesia, Ang Tjing Siang menjadi Mulyadi, Wong Pek Sen menjadi Darmadi, Tan King Gwan menjadi Dharmawan Saputra, Lie Tjuan Sien menjadi Indra Gunawan, Tjiong Kie Nyan menjadi Mintarya, Lie Poo Djian menjadi Pujianto, dan Tjia Kian Sien menjadi Indratno.

Tim Thomas Cup Indonesia (1984), Tan Joe Hok sebagai pelatih

”Saya diberi nama Hendra oleh (Panglima Kodam Siliwangi) HR Dharsono. Kartanegara saya karang sendiri, pokoknya ada ’tan’- nya,” papar Tan Joe Hok.

Ternyata tak sesederhana pergantian nama. Perlakuan terhadap Tan Joe Hok dan kawan- kawannya itu ternyata ”dibedakan”.

Mengurus KTP dan paspor, mereka harus menunjukkan bukti Surat Bukti Kewarganegaraan RI (SBKRI) meski nyata-nyata bertahun-tahun mereka sebenarnya telah berjuang untuk negeri ini. Itulah namanya dinamika hidup, terkadang manis, ada waktunya pula pahit-getir.

(Jimmy S Harianto)

Sumber: Kompas, 7 Desember 2008