Merenda Kesementaraan Hidup

Di hari Minggu pagi yang cerah, saya terkesiap membaca artikel 'Etty Indriati Merenda Kesementaraan Hidup' di rubrik Persona Kompas. Kita sering sekali dari hari ke hari disibukkan dengan hal-hal yang sangat tergantung kepada peraturan, konstitusi, dan norma-norma yang jauh dari rasa keadilan dan penghayatan makna hidup yang hakiki.




Etty Indriati Merenda Kesementaraan Hidup

Sumber: Kompas, 3 Agustus 2008
Begitu seringnya menyaksikan kematian, yang telah terurai dari yang sehari sampai jutaan tahun, membuat Prof drg Etty Indriati PhD (44) semakin menghayati bagaimana alam bekerja melalui kehidupan dan kematian dan seluruh fenomena di antaranya.
Ilmu yang dikuasai guru besar Antropologi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada ini termasuk langka. Polisi dan dokter forensik sering membutuhkan keahliannya untuk menyempurnakan temuan identifikasi forensik mereka.


”Kalau tulang biasanya diberikan ke laboratorium kami. Polisi di Polda Jawa Tengah dapat memisahkan mana yang perlu dikerjakan antropolog forensik, mana yang dikerjakan dokter forensik,” ujar Etty.
Ketika pesawat Boeing 737- 400 terbakar di Bandara Adisucipto, Yogyakarta, Rabu pagi 7 Maret 2007, Etty bersama kolega forensik dan dokter gigi bekerja keras mengidentifikasi 22 jenazah.
”Di tengah puluhan jenazah, serasa banyak tangan yang menggapai-dan suara-suara ’tolong saya, tolong saya’. Bersama ahli identifikasi korban bencana, kami terus bekerja sampai dini hari, pagi-pagi sudah ada di lapangan lagi mencari jenazah karena ada ketidakcocokan jumlah,” ia mengenang.
Peristiwa kematian selalu menyisakan aroma yang khas, yang hanya bisa ditangkap mereka yang terlatih kepekaan inderawinya.
”Orang yang telah meninggal proteinnya terurai menimbulkan bau khas putrid,” jelas Etty.
”Kalau indera kita terlatih, kita bisa membauinya dalam jarak, juga dapat menangkap apa yang tak ditangkap banyak orang. Ketajaman inderawi ini juga terdapat pada mata burung elang atau penciuman anjing. Jadi, manusia bukan the best of the best di antara makhluk hidup. Tiap makhluk hidup memiliki kelebihan yang berbeda dari lainnya dan saling mengisi kekurangannya untuk hidup di muka Bumi.”
Identifikasi korban kecelakaan pesawat Garuda terbilang cepat. Seperti diungkapkan Etty, ”Kami melakukan klasifikasi, mana ras Kaukasid (warga Australia), mana ras Mongoloid (Indonesia), mana laki-laki, mana perempuan. Lalu kita kumpulkan data sebelum meninggal, ante-mortem, kita masukkan ke file. Data setelah meninggal, post-mortem, juga dimasukkan ke file sendiri. Kemudian kita bandingkan di ruang rekonsiliasi file siapa cocok dengan file siapa.”
Begitu seringnya bersentuhan dengan kematian membuat insting Etty terasah. Dengan itu pula ia menemukan jenazah Prof Kusnadi Hardjasumantri.
Kembali menjadi debu
Banyak orang bertanya mengapa Etty tidak takut memegang tulang manusia yang sudah mati. ”Saya justru merasakan Tuhan menghadirkan diri-Nya, tak hanya ketika memegang tulang dari korban mutilasi, bencana, kecelakaan, tetapi juga dalam fosil. Itulah prasasti yang dipahatkan Tuhan di alam. Di situ misteri alam disingkap sedikit demi sedikit,” ujarnya.
Apa artinya kematian?
Dengan kematian, manusia memberikan kembali ke alam apa yang sudah dia ambil dari alam; mengembalikan tubuh ke bumi. Raga kita mengucurkan air ke Bumi dan alam menyikluskannya. Jadi, siklus air dikembalikan.
Maksudnya?
Komposisi air dalam tubuh manusia 75 persen, persis seperti di Bumi, 75 persennya adalah lautan. Air tawar di Bumi sangat terbatas. Kalaupun teknologi bisa mengubah air laut dalam jumlah besar menjadi air tawar, keseimbangan akan terganggu, dan membahayakan kehidupan.
Tubuh manusia terbuat dari bahan-bahan yang terdapat di alam semesta. Di dalam tubuh kita juga ada kumpulan makhluk hidup. Ada bakteri E-coli di usus, ada mikroba Streptococcus mutans di rongga mulut. Mikro-organisme dan manusia saling membutuhkan. Yang harus dijaga keseimbangannya. Kalau jumlahnya terlalu banyak, kita infeksi.
Jadi, semua di alam ini harus seimbang, homeostasis. Kematian adalah keseimbangan, termodinamika, dinamika panas atau energi; hangat tubuh kita dikembalikan ke Bumi ketika kita mati.
Ketika kematian menjemput, raga kita secara gradual terurai kembali, dari individu, organ, jaringan, sel, molekul, atom, ke zarah sub atom. Jadi, kulit, otot, tulang, semua terurai menjadi tak kasatmata, menjadi fosfor, fosfat, natrium, kalsium hidrogen, sulfur, yang menyuburkan alam sekitar, dan jutaan atom yang melayang di udara ini dihirup lagi oleh segala yang hidup.
Tetap misteri
Menurut Etty, raga yang terurai ini dapat terhampiri oleh ilmu pengetahuan, tetapi jiwa atau roh tetap menjadi misteri sepanjang masa.
Perubahan wujud sisa hayat manusia tertangkap indera penglihatan dalam situs arkeologi. Kadang kita menemukan sisa rangka manusia, ada pula yang rangkanya telah membubuk seperti bedak tabur.
”Dalam situs paleoantropologis, sisa hayat manusia membatu karena proses fosilisasi di mana zat organik terisi anorganik. Sisa hayat berbagai rupa ini menunjukkan betapa manusia memerlukan makhluk hayati lain, tak hanya semasa hidup, tetapi juga setelah mati, untuk mencapai wujud atau energi yang lain,” jelas Etty.
Ia melanjutkan, ”Manusia makan ketika hidup, tetapi jasadnya dimakan mikroba dan insekta ketika meninggal. Ini menyiratkan betapa kehidupan di dalam semesta ini saling terkait satu sama lain seperti jaring-jaring raksasa.”
Lebih jauh ia menjelaskan, ”Planet Bumi, alam semesta raya, merupakan satu rumah bagi semua, manusia, hewan, tumbuhan, air, tanah, udara. Hukum telekinetik membuat perubahan di belahan dunia yang satu akan memengaruhi belahan dunia yang lain. Limbah merkuri perusahaan yang jauh dari Alaska dapat meracuni tubuh bayi yang minum ASI tercemar dari konsumsi salmon pada orang Inuit di Alaska.”
Apa yang hendak Anda katakan?
Planet Bumi dan segala isinya adalah rumah bersama kita semua. Kehidupan semua makhluk hayati bergantung pada sinar matahari dan erat berhubungan satu sama lain dalam rantai makanan. Tetapi, dalam sistem hayat di Planet Bumi, manusia adalah satu-satunya spesies yang tega membunuh sesama spesiesnya demi harta dan kekuasaan.
Manusia tega mengambil hak bertahan hidup manusia lainnya, tega membuang limbah yang meracuni kehidupan di wilayah tetangga, tega merusak alam demi uang sebanyak-banyaknya. Kalau sumber daya alam habis dan lingkungan alam rusak, kita tak bisa makan uang.
Pelajaran apa dari sejarah peradaban kalau manusia menghancurkan alam?
Kolaps. Peradaban manusia di berbagai belahan dunia pernah sangat maju dan kompleks. Bangunan kuno monumental di ketinggian hutan tropis di Tikal, Guamatemala, kini tinggal puing-puing. Lalu ke mana lenyapnya kejayaan suku Maya? Juga bangunan batu Kalasasaya yang mahaluas di ketinggian 4.000 meter di atas permukaan laut di Tiwanaku, Bolivia. Tiwanaku kolaps karena perubahan iklim makro yang menyebabkan kekeringan sekitar 1100 tahun Sesudah Masehi.
Berbagai studi menyimpulkan, kolapsnya peradaban terutama terkait dengan degradasi sistem sosial-politik karena hancurnya sumber daya alam, ledakan jumlah penduduk, penyakit zoonotik endemik karena habitat hewan dipakai untuk hunian manusia.
Manusia adalah pemakan segala: hewan, tanaman, ia juga pengguna energi alam, listrik, gas dan bensin, yang merupakan transformasi dari fosil pyhtoplankton di perut Bumi. Kalau sumber daya alam habis dan lingkungannya hancur, mudah terjadi disintegrasi sosial politik, komunikasi vertikal dan horizontal putus, perang, kelaparan.
Jumlah penduduk Bumi yang telah melebihi kapasitas Bumi mengolah siklus dan memberi energi terbukti dari deforestasi dan overfishing. Penting bagi Indonesia mengendalikan jumlah penduduknya karena tiap insan perlu makan, ruang, dan energi alam untuk menyangga hidupnya. Kalau tidak hati-hati, Bumi mereduksi jumlah manusia dengan timbulnya bencana kelaparan, konflik perebutan sumber daya, dan penyakit.
Dengan seluruh pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki, menurut Anda, hidup ini apa?
Yang sangat terasa dalam hidup ini adalah kesementaraannya. Kita di sini sebentar sekali. Umur kita berapa sih? Umur Bumi 4,5 miliar tahun menurut tafsiran geologis. Yang sebentar itu kita mau kita apakan? Apa mau mengeruk energi alam sebanyak-banyaknya untuk keluarga sendiri, kelompok sendiri, atau mau ikut memberikan kesadaran kepada sebanyak-banyaknya orang bahwa kita tak boleh serakah dan mau merawat produsen ini, yang kita makan, flora, fauna.
Jika kita mati, kita cuma membawa raga, bukan sertifikat, uang, atau pangkat. Orang bilang, kita harus tahu artinya cukup, tetapi itu relatif juga. Namun, kalau kita benar-benar memahami kesementaraan, kita tak akan menumpuk sedemikian rupa. (Maria Hartiningsih)

* * *

Sungguh kita sangat beruntung membaca penuturan Prof. drg. Etty Indriati, PhD ini, karena hanya dalam waktu beberapa menit kita dapat menerawang masa 4,5 miliar tahun umur bumi kita.

(DSP)

Bang Imad, Raja Tanpa Mahkota


Empat puluh tiga tahun yang lalu Bang Imad mengajar Agama Islam di kelas saya, di tingkat satu kampus Ganesha ITB.
Saat itu ia bertanya kepada semua mahasiswa, “Apa yang terjadi jika Nabi Muhammad dilahirkan di Cimahi?”
Ruangan kelas pun hening, tidak ada mahasiswa yang menjadi menjawab. Lalu Almarhum menunjuk kepada siswa, “Kalian putra-putri terbaik Indonesia. Pakai nalarmu!”
Kembali para mahasiswa hening, tetap tidak berani menjawab.
Akhirnya dia berkata, “Jika itu terjadi, maka Al-Qur’an akan ditulis dalam bahasa Sunda!”
Begitulah, beliau secara tersirat mengajarkan kita semua untuk memahami bahwa Islam adalah agama sepanjang zaman dan kita diminta untuk senantiasa menggunakan akal pikiran kita untuk mengikuti perkembangan zaman.
Sejak itu Bang Imad malang melintang dalam dunia intelektual Islam, seperti seorang raja tanpa mahkota.
(DSP)
* * *

Bang Imad, Pendidik Aktivis Masjid, Berpulang

Sumber: Kompas, 3 Agustus 2008

Indonesia kembali berduka karena kehilangan salah satu putra terbaiknya, Imaddudin Abdurrahim (78). Pendidik para aktivis masjid di Indonesia, pejuang Islam yang istiqomah dengan akidah yang dipegangnya, dan penerima anugerah Bintang Maha Putra Utama itu meninggal hari Sabtu (2/8) pukul 09.15 WIB.

Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa ketika takziah di kediaman almarhum Imaddudin di Jalan Bulak Raya, Klender, Jakarta Timur, Sabtu sore, menyampaikan pesan dari pemerintah kepada pihak keluarga bahwa almarhum yang dipanggil akrab Bang Imad itu berhak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
”Almarhum merupakan penerima anugerah Bintang Mahaputra Utama dari negara bersama almarhum Nurcholish Madjid dan Amien Rais. Jadi, rencananya besok jenazah akan diberangkatkan pukul 07.00 pagi dari rumah kediaman,” ujar Hatta.
Atas usulan pihak pemerintah ini, Fasiah Umri, adik almarhum, sepakat Bang Imad dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
”Semula pihak keluarga ingin almarhum dimakamkan selepas shalat ashar hari ini (Sabtu). Tetapi, atas usulan pemerintah yang dibawa Mensesneg Hatta Rajasa, kami pihak keluarga sepakat dengan usulan itu,” ujarnya.
Fasiah Umri menjelaskan, almarhum meninggalkan tiga putri dan seorang putra yaitu Nurhalisa, Sakinah, Halimah, dan Umar. Adik paling kecil almarhum Bang Imad, Abdullah Abdurrahim, mengatakan, dia juga menyepakati usulan dari pemerintah. Itu merupakan bentuk penghargaan dari negara untuk almarhum dan keluarga.
”Saya tadi masih di Medan ketika mendengar kabar. Alhamdulillah sekarang sudah tiba. Kami selaku pihak keluarga mengucapkan terima kasih atas perhatian yang diberikan pemerintah, rekan-rekan seperjuangan almarhum, serta seluruh kerabat,” ujarnya.
Kesan
Hatta Rajasa menilai almarhum Bang Imad sebagai seorang guru dan pendidik, terutama untuk dunia Islam. Almarhum dengan gerakan tauhidnya di Masjid Salman Institut Teknologi Bandung bisa dikatakan sebagai tokoh pendiri aktivis masjid kampus. ”Beliau juga banyak berkecimpung dan terlibat aktif dalam berbagai aktivitas di dunia Islam di Indonesia dan internasional,” ujarnya.
Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan yang ditemui saat takziah mengatakan, almarhum Bang Imad merupakan pendidik yang sangat bersemangat. ”Saya ingat salah satu kata-katanya bahwa beliau tidak membutuhkan 30 lebih aktivis, cukup dengan delapan orang yang serius, beliau bisa bangkitkan jadi aktivis Islam terbaik,” ujarnya.
Sejumlah karangan bunga ucapan turut berduka dikirimkan, antara lain, keluarga mantan Presiden BJ Habibie, Hatta Rajasa, Jimly Asshiddiqie, AM Fatwa, dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. (MAM)

Kemenangan Pianis Muda Indonesia di Ananda Sukarlan Award


No other accoustic instrument can match the piano's expressive range,
and no electric instrument can match its mystery.”
(Kenneth Miller)


(Ananda Sukarlan, duta musik Indonesia di mancanegara)

Permainan piano yang ekspresif dan penuh misteri itu berlimpah ruah di puncak acara final kompetisi piano Nasional Ananda Sukarlan Award (ASA Award), Sabtu, 26 Juli 2008 lalu, bertempat di Goethe Haus, Jl. Sam Ratulangi 9-15 Menteng Jakarta.

Suatu kompetisi, dalam dunia musik, bisa dibilang adalah 'necessary evil' yang mau tidak mau harus dilewati. Demikian ujar Henoch Kristianto, selaku salah seorang Dewan Juri Ananda Sukarlan Award. Ia juga mengumpamakan sebuah foto, bagus atau tidak hasilnya tergantung dari momen saat pengambilan foto tersebut. Hal yang sama terjadi pada suatu kompetisi. Ada banyak sekali faktor yang akan ikut menentukan hasil dari momen pertunjukan tiap peserta. Oleh karenanya, hasil permainan yang baik maupun kurang baik dari peserta hanyalah untuk tiga hari, bukan berarti untuk selamanya.

Sejalan pula dengan yang disampaikan oleh Latifah Koedijat, bahwa suatu kompetisi sebaiknya tidak dilihat hanya sebagai 'ajang bertanding' melainkan juga kesempatan untuk dapat membantu perkembangan bermusik bagi pesertanya.

(Dewan juri sedang bercengkrama bersama
Chendra Panatan & Pia Alisjahbana)

Finalis yang semula direncanakan hanya terdiri dari enam orang, pada hari terakhir semifinal diputuskan bertambah menjadi sepuluh orang. Ini berdasarkan berbagai pertimbangan sebagai hasil rapat dari Dewan Juri, yang selengkapnya terdiri dari Ananda Sukarlan, Henoch Kristianto, Pudjiwati Insia M. Effendi, Stephen Michael Sulungan, serta Latifah Koedijat. Acara final ini pun dihadiri oleh Dedi Sjahrir Panigoro dan Pia Alisjahbana selaku Steering Committe.

Sejak pukul 10.00 WIB, sesuai jadual panitia, satu demi satu peserta pun tampil. Mereka berasal dari berbagai daerah di antaranya Medan, Surabaya, Bandung, Malang serta Jakarta. Beberapa di antaranya masih berusia amat muda namun mampu menyajikan permainan yang memukau, seperti Stephanie Onggowinoto (13), Randy Ryan (13) dan Handy Suroyo (17). Ketiganya kemudian diumumkan sebagai penyandang Juara Ketiga dalam kompetisi ini, dan masing-masing memperoleh hadiah Rp. 2.500.000.


Juara Kedua adalah Edith Widayani (18), peserta dari Jakarta yang baru pulang dari Sekolah menengah Musik di China, memperoleh hadiah Rp. 12.500.000. Dan peringkat pertama diraih oleh Inge Buniardi (22), juga peserta dari Jakarta, yang sedang menimba ilmu di Conservatory Music di Belanda dan meraih hadiah tertinggi Rp. 25.000.000. Inge membawakan L.V. Beethoven: second and third movement from sonata op. 109, Heinz Holliger: Elis, F. Liszt: Valee d'Obermann, S160/6, serta komposisi wajib untuk seluruh finalis yaitu Ananda Sukarlan: Rhapsodia Nusantara no.1. Komposisi wajib ini rupanya menghasilkan berbagai interpretasi yang unik dan menarik dari masing-masing peserta.

Fariz Elka Prawira (20), finalis dari Bandung, mengaku persiapannya mengikuti kompetisi ini terbilang cukup singkat, yaitu hanya 2-3 bulan. Ia yang kini kuliah di Jurusan Seni Musik UPH ini telah beberapa kali mengikuti kompetisi, tapi untuk tampil di hari final ASA Award cukup membuatnya nervous terlebih melihat finalis lain yang semuanya bagus-bagus. Meski tak menggondol gelar juara, namun Fariz berhasil memperoleh suara kedua terbanyak pada Audience Choice Award (pilihan favorit hadirin) di acara ini.

Henoch Kristianto pun mengakui bahwa kualitas permainan peserta pada kompetisi ini terbilang amat baik, dengan level yang cukup tinggi. Ia hanya berharap bahwa pada tahun-tahun berikutnya akan lebih banyak peserta dari daerah-daerah lain seperti Sulawesi, Kalimantan, NTB dan lain-lain, karena saat ini yang mendominasi hanyalah pulau Jawa dan Sumatera.

Acara juga dimeriahkan oleh penampilan dari Brigifine dan Genssly Ediansyah Syams yang membawakan di antaranya Sonata for Piano Four Hands (Francis Poulenc) dan Apfelstrudel and Strawberry Cheesecake (Ananda Sukarlan).


Menyusul kemudian Bernadetta Astari dan Elwin Hendrijanto yang dengan menyentuh membawakan Kama IV (puisi oleh Ilham Malayu), dan dengan jenaka membawakan Di Kebun Binatang (puisi oleh Sapardi Djoko Damono). Keduanya digubah menjadi komposisi musik oleh Ananda Sukarlan.

Telah berbulan-bulan panitia mempersiapkan acara ini, namun setelah melihat prestasi pianis muda Indonesia, "Terhapuslah seluruh keringat," ujar Dedi Sjahrir Panigoro. "Bagi saya, berani berpartisipasi dan mempersiapkan diri untuk mengikuti kompetisi yang menuntut teknik virtuositas yang tinggi ini sudah merupakan suatu kemenangan."

Senada dengan yang disampaikan oleh Ananda Sukarlan, bahwa rupanya kualitas anak-anak negeri kita lebih baik dari yang dilihatnya di Eropa. "Sesuai nama acara ini, ASA, jadi kalau nggak menang, jangan putus asa," selorohnya.

Around Java

Kota Gudeg Jogja

Dari Borobudur, kami menuju Jogja, dan check in di hotel Ibis Malioboro. Pertama-tama malam itu kami mencari gudeg Jogja asli Bu Atmo di Godean. Memang rasanya agak lain, sangatlah segar.


Keesokan paginya, kami bersama teman lama, Hendro Martono mengunjungi lokasi penelitian dan pengembangan pertanian di Pasir Selatan di daerah Parantitis yang dikelola oleh perusahaan swasta nasional Indmira.







Sementara itu istri dan putri saya mengunjungi Situs Pesanggrahan Tamansari. Ini adalah situs bekas taman atau kebun istana Kraton Yogyakarta.




Semarang

Dari Jogja, kami menuju Semarang. Dalam perjalanan, ketika melewati Ungaran, kami mampir di Kampung Seni Lerep. Tempat para seniman belajar dan berkreasi ini dibangun pada tahun 2006 di atas lahan seluas 1 hektar di Desa Lerep.


Dalam rumah-rumah yang terbuat dari kayu, pengunjung bisa belajar membuat keramik, melukis, membatik, hingga memahat batu untuk patung. Penggagasnya ialah Handoko, seorang seniman 'gila' yang begitu penuh perjuangan mewujudkan mimpinya membangun tempat ini. Pada awalnya, kondisi medan di lokasi Kampung Seni yang amat curam membuat para perancang angkat tangan, dan pemodal tak mau ambil risiko. Akhirnya, selama dua tahun pertama Handoko bekerja seorang diri, baik dari segi modal maupun ide perencanaan bangunan. Ia sampai sempat koma selama tiga hari dalam proses pembangunan ini.


Usai dari Lerep, kemudian kami check in Hotel Novotel di Semarang. Kami lalu makan siang di Toko Oen di Jl. Pemuda 52.


Toko Oen ini adalah sebuah kafe dan restoran yang menyuguhkan suasana tempo dulu. Interiornya bernuansa kuno, dan menu sajiannya sebagian besar adalah masakan Eropa dengan resep asli Belanda. Bahkan nama-nama hidangannya pun berbahasa Belanda.

Setelah beristirahat sejenak, kami pun menuju Lasem, yaitu salah satu kota di pantai Utara di perbatasan Jawa Timur. Di sana kami mengunjungi Pesantren Al-Hidayat, pimpinan Ibu Hj. Azizah Ma'shum.

Kami baru tiba lagi di hotel setelah lewat tengah malam.


Keesokan harinya, kami lalu singgah ke Lawang Sewu (Seribu Pintu). Gedung bersejarah ini sesuai namanya memang memiliki pintu yang banyak, namun barangkali sebenarnya tak benar-benar sampai seribu. Gedung yang sudah berusia 100 tahun ini dulunya pernah difungsikan sebagai Kantor Pemerintah dan telah menjadi saksi pertempuran berdarah di masa-masa perang zaman Jepang.

Dari situ kami sempat mampir di Bandeng Djuana jalan Pandanaran, Semarang. Untuk kemudian menuju Kopi Eva di Ambarawa. Tempatnya luas dan sejuk. Di sana terhampar pula perkebunan kopi dari pemilik coffee house ini.

Masih di sekitar Ambarawa, kami menuju Losari Coffee Plantation Resort. Ini adalah tempat penginapan yang dikelilingi dengan pemandangan pegunungan dan perkebunan kopi yang indah. Resor ini dibangun dengan sentuhan arsitektur Jawa yang kental dan dengan aksen-aksen kayunya.

Sorenya kami menuju Wonosobo via Temanggung. Di sana kami menginap di hotel Sri Kencono. Dari kota ini, barulah kami kembali ke Bandung, untuk kemudian pulang ke Jakarta.

Borobudur

Akhir Juni 2008, Mala memulai liburannya ke Indonesia. Sepupunya, Nitya, menikah dengan pilihan hatinya, Syafik, mereka teman kuliah di ITB. Resepsi pernikahan diadakan di Sculpture Park Nyoman Nuarta, Bandung, di alam terbuka yang sangat indah.


Setelah beristirahat satu hari, kami dengan mengendarai mobil Kijang, berangkat ke Candi Borobudur dan menginap satu malam, untuk mengejar acara sunrise keesokan pagi.

Jam 4.30 kami telah dibangunkan oleh pengurus hotel dan berjalan kaki selama 10 menit menuju Candi Borobudur dipandu oleh guide.

Setelah kami memilih tempat yang sesuai, yaitu di Rupadhatu, maka jam 5.30 pagi, sinar merah mulai terlihat dan beberapa saat kemudian kilau Sang Surya pun perlahan muncul menyeruak membuka pagi.


Seluruh pengunjung dari berbagai negara mengabadikan pemandangan yang menakjubkan dengan kamera dan video masing-masing.

Secara keseluruhan, bangunan Candi Borobudur terdiri dari 10 tingkat yang masing-masingnya memiliki maksud tersendiri. Candi ini terbagi dalam tiga bagian, yaitu kaki (bagian bawah), tubuh (bagian pusat) dan puncak (bagian atas). Pembagian ini sesuai dengan tiga lambang dalam susunan ajaran Budha, yaitu Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu yang masing-masing memiliki makna.

Kamadhatu melambangkan alam bawah yaitu dunia hasrat/nafsu. Maknanya bahwa dalam dunia ini manusia terikat pada hasrat/nafsu.

Rupadhatu melambangkan dunia rupa, bentuk, dan wujud. Dalam dunia ini manusia telah meninggalkan segala nafsu, tapi masih terikat pada nama dan rupa, wujud, dan bentuk.

Arupadhatu melambangkan alam atas yaitu dunia tanpa rupa, wujud, dan bentuk. Pada tingkat ini manusia telah bebas sama sekali dan telah memutuskan untuk selama-lamanya segala ikatan kepada dunia fana.


Candi Borobudur ini didirikan pada sebuah bukit seluas sekitar 7,8 ha pada ketinggian 265 m di atas permukaan laut. Para ahli sejarah memperkirakan candi ini berdiri pada zaman keemasan dinasti Syailendra yaitu pada abad ke-8 sampai 9 M.

Setelah selesai dibangun, selama 150 tahun, Borobudur menjadi pusat ziarah megah bagi penganut Budha. Tetapi saat kerajaan Mataram runtuh sekitar tahun 930 M, pusat kekuasaan dan kebudayaan pindah ke Jawa Timur dan candi ini pun hilang terlupakan. Hingga seribu tahun kemudian, barulah orang-orang Belanda menemukan kembali candi ini dan melakukan pemugaran pertama.

Meski Borobudur tidak termasuk dalam daftar versi baru Tujuh Keajaiban Dunia, namun tentu tingginya nilai budaya, sejarah, serta kemegahan arsitektur yang dikandungnya tak dapat dipungkiri.