Skenario Indonesia 2045 (2): Keluar dari Ancaman Negara Gagal

Seri Skenario Indonesia 2045 - Kompas (16/2/2016) Oleh BUDIMAN TANUREDJO "Indonesia tahun 2045 telah mampu keluar dari ancaman negara gagal. Pada waktu itu, Indonesia telah menjadi negara industri yang cukup maju dengan struktur ekonomi belah ketupat. Jumlah kelas menengah sudah lebih besar dibandingkan jumlah penduduk miskin maupun konglomerat." Itulah salah satu kesimpulan Indonesia 2045 dalam Skenario Sungai yang disusun tim Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas). Tim itu diketuai Dr Panutan S Sulendrakusuma. Tim Lemhannas menyusun empat skenario Indonesia 2045. Skenario Mata Air (Kompas, 15/2), Skenario Sungai (Kompas, 16/2), Skenario Kepulauan, dan Skenario Air Terjun. Pembangunan skenario sebagai upaya mengantisipasi masa depan sering digunakan perusahaan minyak asal Belanda, Shell. Kini, teori membangun skenario itu coba digunakan Lemhannas untuk membangun skenario Indonesia 2045. Adam Kahane, yang telah membangun skenario di sejumlah negara, tiga kali datang ke Indonesia untuk membangun skenario Indonesia 2045. Skenario sungai dibangun dengan daya penggerak (driving force) pembangunan ekonomi. Sejumlah guru besar, birokrat lintas profesi, dan pemimpin ormas terlibat dalam pembangunan skenario Indonesia 2045. Dalam buku Skenario Indonesia 2045 terdapat sejumlah nama sumber, antara lain Azyumardi Azra, Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Emil Salim, Hasyim Djalal, Paulus Wirutomo, serta tiga gubernur dari luar Jawa, yakni Gubernur Sulawesi Barat Anwar Adnan Saleh, Gubernur Bali Made Mangku Pastika, dan Gubernur Nusa Tenggara Barat Zainul Majdi. Diskusi terfokus dilakukan di sejumlah kampus di luar Jawa. "Kita memang ingin menampung pandangan mereka terhadap masa depan Indonesia," ujar Panutan. Pada Skenario Sungai, menurut Suhardi Alius, yang juga Sekretaris Utama Lemhannas, dalam percakapan dengan Kompas di Jakarta, kemitraan antara sektor besar, menengah, dan kecil berjalan baik. Kemitraan itu juga didukung infrastruktur, tata ruang, reforma agraria, kebijakan perbankan, fiskal, moneter, dan pasar modal. "Hasilnya, sektor agroindustri berkembang dan terjadi peningkatan kemakmuran di pedesaan karena dukungan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang lebih tinggi," kata Suhardi. Dalam narasi ini, pada tahun 2045, pada skenario tim Lemhannas, telah bekerja mekanisme "Indonesia Incorporated", yakni sinergi semua pelaku ekonomi dengan pemerintah, parlemen, dunia riset, dan pendidikan. "Sementara dalam pemerintah telah berkembang budaya dan etos kerja yang lebih profesional," tambah Suhardi. Skenario ini sejalan dengan prediksi McKinsey (2012). Prediksi McKinsey, Indonesia tahun 2030 akan menjadi negara dengan kekuatan ekonomi ke-7 di dunia yang memiliki 135 juta orang kelas menengah serta 113 juta pekerja berkemampuan. Dalam Skenario Sungai, proses pembangunan secara umum sudah relatif berbasis iptek pada semua tingkatan. Namun, permasalahan ekonomi membawa dampak pada kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan sosial serta korupsi masih menjadi tantangan besar. Juga masih akan terjadi konflik lahan dan buruh, yang mendapat upah di bawah standar. Adapun Indonesia sebagai negara kepulauan dengan penduduk besar dan sangat beragam juga masih akan menjadi persoalan yang berdampak secara ekonomi, sosial, politik, dan pertahanan serta keamanan. "Posisi Lemhannas adalah mengantisipasi kemungkinan segala skenario yang akan terjadi," kata Gubernur Lemhannas Budi Soepandji saat ditanya soal posisi Lemhannas dalam pembangunan empat skenario itu. Keluar dari ancaman Skenario Sungai yang dibangun tim Lemhannas diawali dengan asumsi bahwa Indonesia menuju 2045 telah keluar dari ancaman negara gagal. Isu soal negara gagal pernah menjadi isu politik hangat dalam sejarah Indonesia pasca reformasi. Pada tahun 2012, The Fund for Peace (FFP) menempatkan Indonesia dalam peringkat ke-63 dari 178 negara. Salah satu contoh negara gagal adalah Somalia. Harian Kompas, 20 Juni 2012, melaporkan, menurut The Fund for Peace, kondisi Indonesia memburuk terutama di tiga indikator yang digunakan untuk menyusun indeks negara gagal. Ketiga indikator itu adalah tekanan demografis, protes kelompok minoritas, dan isu hak asasi manusia. Penilaian The Fund for Peace tersebut mendapat tanggapan dari sejumlah pejabat Indonesia kala itu. Pada tahun 2015, menurut The Fund for Peace, Indonesia menunjukkan tren yang terus membaik. Berdasarkan data tren dari The Fund for Peace, dalam kurun waktu 2006-2015, Indonesia dalam tren membaik dengan nilai 74 dari 178 negara, sedangkan pada tahun 2012 dengan skor 80. Salah satu faktor yang belum menunjukkan perbaikan adalah pengaduan kelompok minoritas. Panutan, ketua tim pembangunan skenario Indonesia 2045, mengemukakan, penyusunan Skenario Sungai yang menempatkan pola pembangunan ekonomi driving force menangkap kekhawatiran Indonesia bakal terjebak dalam middle income trap (jebakan kelas menengah), yang dalam bahasa tim Lemhannas disebut sebagai negara gagal. Ada kekhawatiran kian melebarnya kesenjangan sosial, kesenjangan spasial antara barat dan timur untuk menghadirkan keadilan sosial. Ada juga bayangan terjadi aspirasi pemisahan diri. "Situasi itulah yang menjadi suasana diskusi ketika skenario itu disusun," ujar Panutan. Sebagai penyusun skenario bersama ahli lain, Panutan tetap optimistis dengan masa depan Indonesia 2045. Masalahnya adalah bagaimana pemerintah menyelesaikan pekerjaan rumah yang timbul, yakni mengatasi kesenjangan sosial yang kian melebar, kemiskinan, masalah lahan, dan persoalan lain sebagai dampak pembangunan. Sri Palupi, peneliti Institute of Ecosoc Rights, dalam diskusi di Redaksi Kompas bertajuk "Membayangkan Indonesia 100 Tahun", 5 Agustus 2015, mempunyai pandangan senada. Eksploitasi sumber daya alam yang mengabaikan daya dukung lingkungan telah menciptakan bencana berkelanjutan di Indonesia. Menurut laporan The Asia Pacific Disaster Report 2010, selama kurun waktu 1980-2009, Indonesia menempati urutan kedua setelah Banglades dalam daftar jumlah korban tewas akibat bencana di Asia Pasifik, dengan kerugian ekonomi 22,5 miliar dollar AS (Rp 301,51 triliun). Pada kurun waktu 2004-2009, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat terjadi 4.409 kali bencana di Indonesia. "Tingkat kerentanan terhadap bencana lebih besar diderita warga miskin akibat ketimpangan sosial ekonomi dan lingkungan alam," tulis Palupi dalam makalah bertajuk "Tantangan Pemenuhan Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya". Menurut Palupi, menguatnya kekuasaan korporasi membuat wacana hak asasi manusia di sektor bisnis kian terpinggirkan. Kondisi itu diperburuk mekanisme hak asasi manusia internasional untuk korporasi yang sifatnya tidak mengikat. Palupi mengkritik penanggulangan kemiskinan pemerintah yang tidak diarahkan untuk menciptakan lompatan bagi orang miskin masuk dalam kelas menengah. Akibatnya, ekonomi bisa saja tumbuh, tetapi jumlah orang miskin belum juga berkurang. Bagi Panutan, problem itulah yang harus diselesaikan pemerintah. "Skenario dibangun dan potensi masalah yang muncul harus diantisipasi. Memang itu tugas tim pembangunan skenario," katanya. Jika itu bisa dikelola dengan baik, ujar Panutan, pada tahun 2045 ketahanan ekonomi Indonesia menjadi lebih tangguh.

Skenario Indonesia 2045 (1): Seabad RI dalam Empat Skenario

Seri Skenario Indonesia 2045 - Kompas (15/2/2016) Oleh BUDIMAN TANUREDJO Lembaga Ketahanan Nasional menyusun empat skenario Indonesia pada tahun 2045. Dokumen berisi empat skenario Indonesia 2045 itu telah disampaikan Gubernur Lemhannas Budi Susilo Soepandji kepada Presiden Joko Widodo dan dipaparkan ke pimpinan redaksi media massa beberapa waktu lalu. Dokumen skenario itu tahun lalu telah disampaikan kepada Presiden Jokowi," kata Budi Susilo Soepandji kepada Kompas, Minggu (14/2) di Jakarta. Dalam pengantarnya, Budi menegaskan, "Lemhannas berkepentingan terhadap kondisi NKRI pada tahun 2045 tersebut karena keberadaan dan integritas bangsa Indonesia merupakan fokus perhatian Lemhannas." Kemampuan imajinasi manusia membayangkan situasi dan kondisi 30 tahun kemudian tidak mudah. Banyak faktor yang memengaruhi dan menentukan masa depan. Jumlah cadangan energi fosil berkurang dan lahan pertanian tak kunjung bertambah. Jumlah penduduk Indonesia pada 2045 menurut Lembaga Demografi diperkirakan 321,85 juta. Adapun menurut proyeksi Population Reference Bureau,jumlah penduduk Indonesia menjadi 365 juta tahun 2050 atau 350 juta pada 2045. Menurut Sekretaris Utama Lemhannas Komjen Suhardi Alius, Lemhannas menyusun skenario Indonesia 2045 dengan melibatkan narasumber lintas profesi. Ada birokrasi, pengusaha, peneliti, gubernur, hingga bupati/wali kota di Jakarta dan di daerah. Salah seorang penulis skenario Indonesia 2045, Panutan S Sulendrakusuma yang juga ketua tim, saat bertemu dengan pemimpin redaksi di Gedung Lemhannas mengatakan, skenario disusun menggunakan orientasi transformatif. Skenario bukanlah proyeksi atau target. Skenario adalah kisah tentang apa yang mungkin terjadi di masa depan. Skenario dibentuk bukan hanya untuk lebih memahami masa depan, melainkan lebih dari itu, yaitu untuk memengaruhinya. "Skenario bukanlah perencanaan," kata Budi Soepandji. Masih ada 29 tahun Menuju Indonesia 2045. Jika regularitas pemilu terjaga, tetap lima tahun sekali sebagai pertanda kian matangnya demokrasi, masih akan ada enam pemilu lagi menuju Seabad Republik Indonesia. Menurut catatan anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia Yudi Latif dalam curah pendapat diskusi di Kompas, menapaki Indonesia 2045 dunia akan dihadapkan pada dua fundamentalisme, yakni fundamentalisme pasar dan fundamentalisme agama. "Keduanya merupakan dua sisi dari koin yang sama, globalisme triumphalist yang berlomba menaklukkan setiap jengkal dunia hidup atas dasar hegemoni penunggalan agama dan pasar," tulis Yudi Latif dalam makalah Revitalisasi Pancasila di Tengah Dua Fundamentalisme." Dengan menggunakan skenario transformatif, ada empat skenario yang dikembangkan Tim Lemhannas, yakni Skenario Mata Air, Skenario Sungai, Skenario Kepulauan, dan Skenario Air Terjun. "Lemhannas tidak punya preferensi skenario mana yang akan terjadi, tetapi semuanya butuh antisipasi," kata Budi Soepandji. Skenario Mata Air Dalam Skenario Mata Air, pada tahun 2045, Lemhannas memproyeksikan Indonesia akan diisi generasi baru yang punya pandangan berbeda dengan pendahulunya. Penduduk Indonesia mulai didominasi generasi berpendidikan tinggi, menguasai teknologi komunikasi, aktif bermedia sosial, dan terpapar dengan nilai-nilai global. Mereka adalah generasi baru yang berasal dari keluarga biasa yang sudah terpisah jauh dari generasi pendahulu masa kemerdekaan Indonesia. Menurut kelompok ini, mempertahankan kesatuan NKRI harus lebih didasarkan pada prinsip integrasi fungsional dibandingkan integrasi historis. "Generasi inilah yang akan menempati posisi penting di bidang politik, birokrasi, bisnis dan ormas. Ide tentang cara berindonesia yang baik berbeda dengan ide generasi pendahulunya. Ini harus diantisipasi," kata Dr Panutan. Suhardi menambahkan, generasi ini menghargai prinsip demokrasi dan keadilan sosial. Mereka terbiasa mengkritik kekuasaan secara lugas. Setiap ketidakadilan akan dilawan melalui ormas dan kekuatan politik. Dalam Skenario Mata Air, kebijakan publik masih diwarnai percampuran kepentingan bisnis dan politik yang menyebabkan suhu politik meningkat. Di tingkat daerah, kualitas institusi dan sumber daya manusia yang belum merata menyebabkan tidak saja sering terjadi korupsi, tetapi juga menimbulkan gesekan sosial antara putra daerah dan pendatang sebagai akibat persaingan untuk memperoleh akses sumber daya ekonomi. Ketimpangan antardaerah masih terjadi sehingga aspirasi memisahkan diri kadang masih terdengar. Dalam Skenario Mata Air yang terfokus pada manusia, Indonesia tahun 2045 jadi lebih sejahtera dengan adanya penyebaran pusat pertumbuhan, meskipun dinamika politik di tingkat pusat akibat persinggungan politik kepentingan bisnis, politik, dan birokrasi masih tinggi. Ketimpangan antardaerah terjadi sehingga memunculkan gesekan sosial, termasuk aspirasi pemisahan diri.

Teten Masduki: Beras dan Warung Kopi

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO


Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, yang lahir di Garut, Jawa Barat, 6 Mei 1963, Senin (1/2) lalu tampak sibuk bekerja di kantornya di Bina Graha, kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.

Di ruang bekas kantor presiden ke-2 RI (1967-1998) Soeharto itu, Teten dengan penuh semangat menjelaskan kepada rekannya soal peta persoalan beras dan padi di Indonesia, termasuk masalah swasembada dan impor beras.

Teten yang dulu aktif di lembaga swadaya masyarakat Indonesia Corruption Watch (ICW) kini ternyata sangat fasih bicara soal pertanian dan pedesaan secara nasional. "Ini antara lain berkat pengalaman saya mendampingi Presiden Joko Widodo yang punya perhatian pada masalah beras. Ini jadi pengetahuan saya saja," ujarnya.

Rekannya yang ada di situ memberi nasihat agar Teten terus menimba pengetahuannya tentang masalah beras di Indonesia. Menurut rekannya itu, banyak pengusaha besar dan sukses di Indonesia mulai berusaha di bidang perdagangan beras secara kecil-kecilan. "Siapa tahu kelak bila sudah tidak kerja di istana bisa jadi ahli beras atau pedagang beras yang andal," ucap rekannya.

"Waduh, sejak dulu sebenarnya saya punya cita-cita punya warung kopi dan memelihara kambing," kata Teten sambil mengeluarkan gaya tawanya yang khas itu. (OSD)

Sumber: Kompas, 6/2/2016

Nonton Gedung Putih di Layar Washington

Oleh FRANS SARTONO Hari menjelang sore ketika kami tiba di depan Gedung Putih, Washington DC, Amerika Serikat. Rekan seperjalanan dari Jakarta sempat ragu, benarkah gedung yang berdiri di depan mata itu White House. Untuk meyakinkan diri, ia sampai harus bertanya kepada ”Mbah Google”, dan memang tidak keliru. Setelah mengetik ”w h i t e h o u s e” di mesin pencari, muncullah gambar Gedung Putih di layar ponsel rekan kami itu. Ia mencocokkan gambar itu, dengan rumah orang nomor satu di Amerika Serikat tersebut. Sesaat kemudian turis dari Jakarta itu tertawa. Ia bukan tidak percaya. Ia hanya heran karena Gedung Putih yang ia lihat dengan mata kepala sendiri itu berbeda dengan apa yang ia bayangkan selama ini. Dalam bayangannya, White House jauh lebih besar. Harap dicatat, selama ini Gedung Putih hanya ia tangkap dari televisi, foto-foto di media massa, dan terutama lewat film seperti White House Down dan Olympus Has Fallen. Ketika melihat sendiri, Gedung Putih serasa tidak semegah dengan gambaran yang tersimpan di benak. Itu salah satu pengalaman peserta acara Nissin Mendadak Eksis. Mereka mengajak pemenang untuk berkunjung ke Amerika Serikat, termasuk Washington DC dan New York. Keheranan lain muncul ketika melihat pengamanan di depan gedung yang tidak ”sangar”. Tampak hanya ada dua mobil polisi yang berada di jalan persis di depan Gedung Putih. Dan, hanya ada seorang polisi yang berdiri mengawasi para pengunjung yang melihat-lihat dari trotoar di seberang jalan depan White House. Pak polisi yang terlihat terus mengunyah permen karet itu akan segera berteriak jika ada orang yang melangkahkan kaki selangkah saja ke badan jalan. Penonton hanya boleh berada di trotoar. Ada puluhan pengunjung yang sore itu berkerumun di trotoar di depan Gedung Putih. Ditilik dari ciri fisik dan bahasa yang digunakan, mereka tampak datang dari berbagai kebangsaan, termasuk Tiongkok, India, selain juga Indonesia. Ada yang ber-selfie-ria, atau berswafoto menurut istilah baku yang katanya sesuai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ada pula pemrotes yang memasang poster perdamaian, anti senjata nuklir. Ada pula pengunjung remaja yang menghitung-hitung jendela. Rupanya mereka telah membawa data terkait Gedung Putih. Dari depan, tampak ”hanya” 21 jendela dari total 147 jendela White House. Gedung yang mulai dibangun tahun 1792 ini mempunyai 412 pintu. Data statistik Gedung Putih memang menarik. Gedung yang pertama kali ditempati Presiden John Adams itu mempunyai 132 ruang, 35 kamar mandi, 28 perapian, 8 tangga berundak, serta 3 elevator. Dan, seperti namanya, White House, tentu bercat putih. Diperlukan 570 galon cat. Itu hanya untuk mewarnai dinding bagian luar saja. Capitol Hill Sebelum ke Gedung Putih, kami terlebih dahulu ke Gedung Capitol atau Capitol Hill, tempat para anggota Kongres yang mulia bekerja. Jaraknya dengan Gedung Putih hanya sekitar 3,5 kilometer. Sempat ”kecewa” ketika melihat kubah atau Capitol Dome-nya sedang direnovasi. Seluruh bagian kubah yang menjadi salah satu ikon Amerika itu dipasang perancah untuk pengerjaan. Di antara perancah itu tampak menyembul Patung Kemerdekaan atau Statue of Freedom yang berada di puncak kubah. Rasa ”kecewa” terobati mendengar komentar pengunjung lain. ”Anda beruntung karena pemandangan Capitol Hill seperti ini belum tentu terjadi dalam 50 tahun....” Benar. Ternyata kubah itu terakhir direnovasi pada 1960. Laman Architect of the Capitol menjelaskan bahwa renovasi harus dilakukan karena kubah itu terbuat dari besi cor. Hujan, salju, dan terpaan sinar matahari menyebabkan kerusakan pada lapisan luar kubah. Air yang merembes atau menetes dari berbagai celah di sekitar puncak kubah mengakibatkan bahan-bahan besi yang digunakan dalam kubah berkarat. Jika tidak dilakukan perbaikan, kebocoran itu akan merusak karya seni yang mengisi interior bangunan bulat itu. Renovasi yang dimulai pada tahun 2013 itu direncanakan akan rampung pada 2017. Monumen Washington Capitol Hill terletak di kawasan yang disebut National Mall. Sebuah taman besar memanjang sekitar 1,6 kilometer. Ada tiga titik penting di sepanjang taman luas itu, yaitu Gedung Capitol, Washington Monument yang berupa tugu, dan Lincoln Memorial yang di dalamnya terletak patung Abraham Lincoln. Ketiganya, plus Gedung Putih merupakan penanda tempat atau landmark yang sangat Amerika. Kawasan ini menjadi sasaran wajib pengunjung ke Washington DC. Tercatat setiap tahun tempat ini didatangi sekitar 24 juta pengunjung. Washington Monument berupa tugu yang terbuat dari marmer dan granit itu bertinggi hampir 170 meter. Lebih tinggi dari Tugu Monumen Nasional (Monas), Jakarta, yang bertinggi 132 meter. Tugu selesai dibangun tahun 1877 sebagai penghormatan untuk George Washington, presiden pertama Amerika Serikat. Gedung Lincoln Memorial mengingatkan Kuil Dewa Zeus di Yunani. Monumen ini dibangun sebagai pengingat akan presiden ke-16 AS, Abraham Lincoln. Pejuang demokrasi ini dibuatkan patung setinggi 11 meter karya pematung Perancis, Daniel Chester. Di depan ”kuil” terbentang kolam memanjang atau reflecting pool yang memantulkan panorama obyek di sekitarnya, terutama Tugu Washington. Nun jauh di seberang kolam tampak tegak berdiri tugu Washington. Lanskap antara Lincoln Memorial, kolam, tugu Washington, dan Capitol itu menjadi latar berbagai film, termasuk Forrest Gump. Salah satu adegannya, tokoh Forrest Gump mencemplung ke kolam dengan latar tugu Washington disaksikan ribuan orang yang duduk di tangga Lincoln Memorial. Sumber: Kompas, 7/2/2016

Jelang Gerhana Matahari 9 Maret 2016

Rabu pagi, 9 Maret 2016, Matahari yang tampak di Indonesia tak akan sama seperti biasanya. Matahari tetap akan bersinar seperti hari-hari sebelumnya. Namun, untuk sesaat, sinarnya akan meredup di beberapa tempat hingga suasana yang semula terang benderang akan berubah gelap kembali seperti saat senja. Hari itu, sebagian kecil wilayah Indonesia mengalami gerhana Matahari total dengan lama totalitas gerhana hanya 1,5-3 menit. Inilah gerhana Matahari total pertama yang melintasi wilayah Indonesia pada abad ke-21. Gerhana matahari total bisa disaksikan sekali dalam 375 tahun di titik yang sama di muka Bumi. Lamanya rata-rata perulangan waktu terjadinya gerhana matahari total (GMT) membuat banyak orang berburu gerhana. Perburuan sering kali dilakukan dengan cara yang tidak biasa, mulai dari mendatangi lokasi-lokasi terpencil di berbagai belahan Bumi hingga mengamati gerhana dari ketinggian stratosfer Bumi. Alasan berburu gerhana pun beragam, mulai dari hanya ingin menyaksikan dan merasakan sensasi perubahan suasana saat piringan Matahari tertutup sepenuhnya oleh piringan Bulan, melakukan berbagai penelitian ilmiah atau membuktikan teori baru, hingga melepaskan hasrat berkelana. Dosen Astronomi Institut Teknologi Bandung, Moedji Raharto, mengatakan, jumlah GMT yang melintasi Indonesia selama abad ke-21 bisa dihitung hanya dengan sebelah tangan. Oleh karena itu, Moedji menilai, masyarakat yang tinggal di Pulau Jawa harus pergi berburu gerhana ke pulau lain jika ingin menyaksikan keindahan GMT, minimal sekali sepanjang hidupnya. Gerhana mendatang ini akan melintasi 12 provinsi dan 53 kabupaten/kota, mulai dari Kepulauan Pagai di Sumatera Barat hingga Pulau Halmahera di Maluku Utara. Di Jakarta, gerhana matahari akan terjadi sebesar 88,76 persen. Matahari mulai tertutup bulan pukul 06.19 WIB dan akan berakhir pada 08.31 WIB. Selain Jakarta berikut daftar daerah lain yang akan merasakan gerhana matahari sebagian (Sumber: Detik.com): 1. Padang Gerhana terjadi 95,41 persen Disaksikan mulai pukul 06.21 WIB hingga 08.27 WIB 2.Bandung Gerhana terjadi 88,76 persen Disaksikan mulai pukul 06.19 WIB hingga 08.32 WIB 3. Surabaya Gerhana terjadi 92,96 persen Disaksikan mulai pukul 06.23 WIB hingga 08.40 WIB 4. Pontianak Gerhana terjadi 92,96 persen Disaksikan mulai pukul 06.23 WIB hingga 08.40 WIB 5. Denpasar Gerhana terjadi 76,53 persen Disaksikan mulai pukul 07.22 WITA hingga 09.42 WITA 6. Banjarmasin Gerhana terjadi 98,22 persen Disaksikan mulai pukul 07.23 WITA hingga 09.47 WITA 7. Makassar Gerhana terjadi 88,54 persen Disaksikan mulai pukul 07.25 WITA hingga 09.54 WITA 8. Kupang Gerhana terjadi 65,49 persen Disaksikan mulai pukul 07.28 WITA hingga 09.55 WITA 9. Manado Gerhana terjadi 96,66 persen Disaksikan mulai pukul 07.34 WITA hingga 10.15 WITA 10. Ambon Gerhana terjadi 86,91 persen Disaksikan mulai pukul 08.33 WIT hingga 11.16 WIT ~ o 0 o ~ Referensi: Kompas: Berburu Kesempatan Langka Seumur Hidup Kompas: Kegelapan Sesaat Sepanjang 16.000 Kilometer DetikNews: Menpar Targetkan 100 Ribu Wisman Saksikan Gerhana Matahari Total di Indonesia