Memahami Budaya Sebagai Investasi



Atraksi seni topeng ireng dari Komunitas Lima Gunung menyemarakkan pembukaan kegiatan Indonesia Bertutur di kompleks Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, September 2022.


 

Banyak negara telah mengalokasikan anggaran khusus untuk sektor kebudayaan. Mereka melihat kebudayaan sebagai investasi.     


    Banyak negara meyakini bahwa kebudayaan adalah ”detak jantung” masyarakat. Karena  itulah, pendanaan untuk sektor kebudayaan mesti dianggap sebagai sebuah investasi,  bukan sekadar biaya pengeluaran.

Sejak International Fund for Cultural Diversity (IFCD) diluncurkan pada tahun 2010, UNESCO telah menginvestasikan lebih dari 9,4 juta dollar AS di 129 proyek di 65 negara anggota. IFCD merupakan bagian dari Konvensi UNESCO 2005 tentang Perlindungan dan Pemajuan Keanekaragaman Ekspresi Budaya. Saat ini, 44 persen dana IFCD telah diinvestasikan di Afrika, terutama di negara-negara berkembang dan kepulauan-kepulauan kecil.

Pada tahun 2019, rata-rata 1,2 persen dari total belanja pemerintahan di negara-negara anggota Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) juga dialokasikan untuk sektor kebudayaan. Negara-negara seperti Estonia, Latvia, Hongaria, dan Eslandia bahkan sampai menyisihkan hampir 3 persen anggaran belanja mereka untuk sektor kebudayaanKebijakan serupa dilakukan National Endowment for the Arts (NEA) di Amerika Serikat yang memberikan hibah lebih dari 84 juta AS untuk mendukung proyek seni secara nasional pada tahun 2020. Hal ini menggarisbawahi komitmen moneter yang besar terhadap seni, yang mencerminkan upaya untuk mempertahankan dan memelihara sektor penting kebudayaan.

Setahun sebelumnya, pada 2019, sektor seni dan budaya di Amerika Serikat mampu menyumbang kontribusi ekonomi luar biasa sebesar 877,8 miliar dollar AS. Jumlah ini setara dengan 4,5 persen produk domestik bruto Amerika Serikat.

Di Eropa, Uni Eropa mengalokasikan sekitar 1,46 miliar euro untuk program Eropa Kreatif pada periode 2014-2020 (https://gitnux.org). Angka ini merupakan bukti nyata dukungan Uni Eropa terhadap kegiatan seni budaya.

Talangan darurat

Tak bisa dihindari, pandemi Covid-19 beberapa waktu lalu benar-benar memberikan pukulan berat pada sektor kebudayaan. Di tengah aktivitas kebudayaan yang ”mati suri” selama masa pandemi, para pelaku kebudayaan di sejumlah negara meminta pemerintah untuk menyediakan dana talangan darurat.

Jika dilihat dari besaran dana pemulihan, Amerika Serikat tercatat mengalokasikan anggaran terbesar, mencapai 15,71 miliar dollar AS, disusul Perancis (8,3 miliar dollar AS), Kanada (4,7 miliar dollar AS), Inggris (2,74 miliar dollar AS), Jerman (2,37 miliar dollar AS), Norwegia (543,8 juta dollar AS), Korea Selatan (269,1 juta dollar AS), Singapura (55,6 juta dollar AS), dan Afrika Selatan (6,64 juta dollar AS).

Namun, jika dilihat dari jumlah populasi, Perancis tergolong unggul dalam pendanaan kebudayaan per kapita disusul Kanada dan Norwegia. Sementaraitu, Amerika Serikat yang mengalokasikan nominal anggaran kebudayaan terbesar, tetapi memiliki populasi tertinggi di antara negara-negara lainnya, akhirnya harus berada di urutan ke-4, disusul Inggris, Jerman, Singapura, Korea Selatan, dan baru Afrika Selatan (https://news.artnet.com).

Pada tahun 2022, pendanaan dari pemerintah federal, negara bagian, dan daerah di Amerika Serikat untuk sektor seni budaya mencapai 1,85 miliar dollar AS. Rinciannya meliputi National Endowment for the Arts (NEA) menerima dana 180 juta dollar AS (meningkat 7,5 persen), State Arts Agencies (SAA) menerima 833 juta dollar AS (naik 106,8 persen), dan Local Arts Agencies (LAAs) menerima 837 juta dollar AS (naik 23,5 persen).

Amerika Serikat yang mengalokasikan nominal anggaran kebudayaan terbesar, tetapi memiliki populasi tertinggi di antara negara-negara lainnya, akhirnya harus berada di urutan ke-4, disusul Inggris, Jerman, Singapura, Korea Selatan, dan baru Afrika Selatan.

Direktur Senior Penelitian National Assembly of State Arts Agencies Ryan Stubbs mengatakan, pendanaan untuk sektor seni di Amerika Serikat turun pada tahun 2021 akibat dampak pandemi. Para pengambil kebijakan kemudian merespons tantangan ini dengan menyalurkan bantuan dana. ”Kombinasi bantuan federal dan negara bagian, serta membaiknya perekonomian ketika dibuka kembali (pascapandemi), menyebabkan pendanaan sektor seni mencapai angka tertinggi sepanjang masa pada tahun anggaran 2022,” ujarnya seperti dikutip dalam Grantmakers in the Arts, Annual Arts Funding Snapshot 2023.

Keberpihakan Amerika Serikat pada sektor seni budaya tidak sia-sia. Pada 2022 pula, sektor ini mampu menyumbang kontribusi ekonomi sebesar 1,1 triliun dollar AS atau 4,3 persen dari produk domestik bruto Amerika Serikat.

Dana perwalian kebudayaan

Meski belum terlalu lama seperti Amerika Serikat atau negara-negara Eropa, Pemerintah Indonesia juga mulai mengalokasikan Dana Perwalian Kebudayaan untuk membiayai kegiatan-kegiatan pemajuan kebudayaan seturut amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Dana Perwalian Kebudayaan merupakan wadah pengelolaan dana hibah dari berbagai sumber, baik dari pemerintah maupun donasi swasta.

Dana Perwalian Kebudayaan merupakan dana yang dihimpun kemudian diinvestasikan dalam bentuk saham, obligasi, atau surat berharga lainnya. Hasil investasi dari dana inilah yang kemudian disebut Dana Abadi yang bisa digunakan untuk pendanaan kegiatan pemajuan kebudayaan.Tahun ini, pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 2 triliun untuk Dana Perwalian Kebudayaan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Dana Perwalian Kebudayaan yang diwujudkan lewat dana abadi kebudayaan dan kemudian disebut Dana Indonesiana ini bersumber dari dana pokok yang diinvestasikan dan bunganya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk pelindungan, pengelolaan, dan penguatan kebudayaan. Pengelola Dana Indonesiana ini adalah Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Menurut peneliti Koalisi Seni Ratri Ninditya, dalam riset Koalisi Seni berjudul ”Keberlangsungan Lembaga Seni Delapan Kota” (2015) ditemukan fakta-fakta yang menegaskan bahwa faktor pendanaan merupakan hal krusial untuk laju perkembangan seni Indonesia. Sayangnya, kontribusi pemerintah terhadap pendanaan seni masih sangat minim.

”Dari 227 responden, hanya 33,9 persen yang memperoleh pendanaan dari pemerintah daerah, sementara 15,4 persen (lainnya) didanai pemerintah pusat. Sebanyak 68 persen lembaga seni menyatakan tidak ada sosialisasi dari pemerintah mengenai dukungan untuk seni sehingga akses ke dana publik menjadi sulit,” paparnya.

Pada umumnya, dukungan dari pihak swasta terhadap kesenian masih berupa sponsor kegiatan yang mengharapkan kontraprestasi ketimbang donasi melalui tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Dampaknya, mayoritas lembaga seni (79,7 persen) masih bergantung pada pendanaan swadaya dari sumber daya internal.

Ratri juga menemukan adanya ketimpangan pendanaan antara pegiat seni pemula dan nonkomersial yang lebih sulit mendapat pendanaan ketimbang seniman komersial yang sudah populer. Sejumlah kegiatan seni, seperti penelitian, penerbitan, ataupun pengarsipan, juga kurang menarik donordibandingkan pertunjukan, festival, ataupun pameran.

Karena itulah, kemunculan Dana Indonesiana dengan sistem penganggaran yang lebih fleksibel diharapkan bisa menjawab berbagai macam kebuntuan terkait pendanaan kegiatan-kegiatan seni budaya. Menurut Ratri, fasilitas ini diharapkan bisa memberikan kesempatan kepada pelaku-pelaku baru kesenian untuk berkembang mengingat selama ini mekanisme sponsorship dari perusahaan cenderung memilih seni komersial atau pelaku yang sudah terkenal.

Akan tetapi, selain dari sisi investasi ekonomi, tentu kebudayaan memiliki nilai-nilai imateriel lain yang tidak kalah luar biasa. Di tengah banyaknya krisis yang terjadi di seluruh penjuru bumi, manusia butuh waktu untuk saling terhubung, saling memahami, dan membayangkan masa depan yang lebih baik.

Di sinilah, musik, seni, sastra, bioskop, tari, dan beragam ekspresi budaya serta kreativitas lainnya memiliki kekuatan untuk menyembuhkan, memberdayakan, dan mendorong momentum guna mengatasi berbagai tantangan. Ini semua bisa terjadi jika seluruh komponen masyarakat benar-benar bisa memahami kebudayaan sebagai sebuah investasi.

artikel ini juga tayang di kompas.co.id


MENYEMAI HARAPAN PATUNG PUBLIK

Patung dunia hewan dengan bentuk yang dipipihkan karya Sumbul Pranov diberi judul ”Vacation Edition” ditampilkan di pameran Art Jakarta Gardens di Hutan Kota by Plataran, Gelora Bung Karno, Jakarta. Pameran berlangsung 22-28 April 2024.

Untuk menempatkan patung-patung di ruang publik hingga sekarang belumlah mendapatkan angin segar, mengapa demikian?



Pergelaran Art Jakarta Gardens untuk ketiga kalinya menunjukkan fokus seni patung luar ruang yang tak tergoyahkan. Meski demikian, untuk menempatkannya sebagai patung-patung publik, belumlah mendapatkan angin segar. Karya seni patung luar ruang masih jadi komoditas terbatas bagi para kolektor swasta.

Menempatkan patung luar ruang sebagai patung publik sebenarnya bisa dilakukan di taman-taman kota atau ruang sosial yang dapat dinikmati publik secara leluasa. Pemerintah daerah memiliki kewenangan untuk mewujudkannya. Pergelaran seperti Art Jakarta Gardens ini bisa menyemai harapan terwujudnya patung publik tersebut.
Selintas persoalan ini turut dikemukakan Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid seusai membuka Art Jakarta Gardens, Selasa (22/4/2024), di Hutan Kota by Plataran, Gelora Bung Karno, Jakarta. Pameran ini berlangsung hingga 28 April 2024 dengan menampilkan sekitar 30 patung luar ruang dan karya seni rupa dua dimensi dari 23 galeri.

”Patung-patung luar ruang yang ditampilkan bagus-bagus. Jika ditanya, bagaimana bisa ditempatkan di ruang publik seperti taman-taman terbuka di Jakarta, ya, harus ditanyakan kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta,” ujar Hilmar.

Sejauh ini belum tampak adanya respons dari institusi pemerintah daerah mana pun terhadap pameran ini. Ketika Hilmar menyampaikan karya patung-patung luar ruang yang ditampilkan cukup baik, wartawan pun mengejar dengan pertanyaan karya mana yang membuatnya paling tertarik.

Hilmar menunjuk karya komisi seniman Erwin Windu Pranata yang disajikan perusahaan investasi berbasis aplikasi digital PT Bibit Tumbuh Bersama atau Bibit.id. Erwin menyuguhkan karya yang diberi judul ”The Bouquet: Fall, Grow”.

Ini sebuah patung dengan media lapisan bahan tertentu yang dibentuk menyerupai daun-daun berukuran besar atau bentuk lainnya secara tiga dimensi. Media itu bisa diisi dengan angin seperti balon.

Patung keledai
Di sebelah karya Erwin terdapat karya komisi seniman Naufal Abshar yang disajikan perusahaan investasi emas dengan aplikasi digital Treasury. Naufal membangun patung keledai setinggi enam meter dengan menggunakan 9.000 kaleng bekas cat semprot dan 2.000 botol kaca. Patung keledai itu diberi judul ”Gold is King”.

”Cat semprot biasa saya gunakan ketika berkarya. Bekas kaleng cat semprot saya kumpulkan sampai 2.000 kaleng, selebihnya untuk patung keledai ini saya beli kaleng bekas cat semprot dari pengepul dan produsen di Bekasi dan Pamulang,” ujar Naufal.
Sejak 2014, Naufal memilih karakter keledai ke dalam karya-karya seninya. Ia terinspirasi animasi karakter keledai di film animasi Shrek. Keledai di dalam film itu memiliki sifat hiperaktif, cerewet, mudah bergaul, dan aneh.

Naufal tertarik menelusuri karakter keledai yang sesungguhnya. Ternyata keledai memiliki karakter yang kalem, loyal, dan pekerja keras. Dibandingkan kuda, keledai sering dianggap ada di tingkatan lebih rendah. Akan tetapi, keledai bisa lebih diandalkan untuk urusan pengangkutan barang.

”Terkait dengan investasi emas perusahaan Treasury, saya menyampaikan secara historikal bahwa keledai memiliki peranan penting dalam usaha pengangkutan material tambang, terutama untuk tambang emas. Keledai lebih banyak digunakan,” ujar Naufal.
Setelah dipamerkan di Art Jakarta Gardens, menurut Naufal, ada kemungkinan patung ini ditempatkan di salah satu ruang kantor Treasury. Bagi Naufal, karyanya menjadi patung publik meski masih sebatas lingkup perusahaan.

”Saya senang sekali jika patung ini ditempatkan di ruang publik yang bisa dinikmati lebih banyak orang. Tetapi, kita masih dihadapkan pada persoalan vandalisme yang cukup tinggi,” ujar Naufal.

Para seniman patung menyadari tidaklah mudah menempatkan patung-patung di ruang publik. Untuk pameran Art Jakarta Gardens ini, mereka pun merancang karya yang bisa ditempatkan di dalam ruang ataupun di luar ruang. Ini seperti dilakukan pematung Sumbul Pranov dengan 10 patung binatang yang dibentuk pipih menjadi instalasi patung yang diberi judul ”Vacation Edition”. Karya Sumbul ditampilkan Galeri CGArtspace.

”Saya membuat eksperimen tentang patung yang tidak harus bisa dinikmati dari semua sisi. Patung-patung hewan saya pipihkan supaya cukup bisa dinikmati dari sisi kiri dan kanan saja,” ujar Sumbul.
Karkas sapi

Di antara sekitar 30 patung luar ruang yang ditampilkan di Art Jakarta Gardens, sebuah patung karkas sapi yang digantung terbalik cukup menarik perhatian. Dari kejauhan patung itu mirip karkas sapi yang nyata. Patung ini karya Joko Avianto dengan media sulur-sulur rotan sintetis yang dianyam. Karya ini ditampilkan Galeri V&V.

”Karya ini berbicara tentang memilah dan memilih bagian daging sapi sebagai perubahan dari masa peradaban manusia berburu,” ujar Wilian Robin, pemilik dan pengelola Galeri V&V.

Wilian menceritakan metafora yang dibangun Joko Avianto lewat karyanya yang diberi judul ”Poems of Mamals” itu. Pada masa manusia berburu tidak begitu dipedulikan nama bagian daging yang dikonsumsi. Saat ini muncul perubahan dalam mengonsumsi daging dengan istilah-istilah tersendiri.

”Karya patung ini secara khusus menggunakan media yang cukup kuat untuk ditempatkan di luar ruang. Ini bisa menjadi patung publik,” ujar Wilian.
Selain di luar ruang, penyelenggara Art Jakarta Gardens mendirikan dua tenda yang digunakan sebanyak 23 galeri. Sebagian besar galeri menampilkan lukisan, tetapi ada di antaranya patung-patung khusus untuk interior.

Seperti patung karya seniman asal Malaysia, James Seet, ditampilkan Galeri Artserpong. Karya Seet cukup unik. Ia menggunakan keramik untuk membuat patung batu yang di dalamnya terdapat rongga. Pada karya yang diberi judul ”The Orang Asli”, di dalam rongga batu itulah James Seet membuat patung orang-orang suku asli Malaysia.
Begitu pula, Galeri Linda menampilkan sejumlah patung karya Ren Zhe asal Beijing, China. Galeri Jagad menampilkan patung karya Nyoman Nuarta. Satu di antaranya patung ayam jago.

”Kita sering mengistilahkan orang yang sok-sokan itu dengan kata ‘jagoan’. Iya, patung ayam jago saya buat karena itu pula,” kata Nuarta.

Nyoman Nuarta bertutur panjang tentang patung yang ditempatkan di ruang publik sekarang tidaklah mudah. Zaman kini sudah berbeda dengan masa Presiden Soekarno yang lebih banyak menempatkan karya seni patung di ruang publik untuk dinikmati bersama.


Tulisan ini ditulis oleh IGNATIUS NAWA TUNGGAL
di link berikut ini https://www.kompas.id/baca/hiburan/2024/04/26/menyemai-harapan-patung-publik

PERTANIAN, PANGAN DAN INDUSTRI, TIGA MESIN PERTUMBUHAN EKONOMI

Petani Memompa Air

Pembangunan ekonomi Indonesia periode 2024-2029 akan mengandalkan sektor pertanian, energi, dan manufaktur. Dengan ketiga mesin tersebut, ekonomi Indonesia diharapkan tumbuh lebih cepat, mandiri, dan inklusif.

Ketua Dewan Pakar Tim Kampanye Nasional Prabowo-Gibran, Burhannudin Abdullah, Jumat (22/3/2024), mengatakan, arah kebijakan ekonomi yang mengandalkan tiga mesin utama itu didasarkan kenyataan bahwa Indonesia sampai saat ini masih sangat bergantung pada negara lain untuk mencukupi berbagai kebutuhan dasar.

”Setelah krisis moneter yang melanda pada 1997-1998, kita pelan-pelan menghadapi tiga macam defisit, yaitu defisit pangan, energi, dan barang manufaktur, yang membuat kita terus bergantung pada impor,” kata Burhanuddin dalam Kompas Collaboration Forum (KCF) Afternoon Tea di Jakarta.

KCF adalah wadah para pemimpin perusahaan yang diselenggarakan harian Kompas. Dalam KCF edisi Maret 2024 tersebut, sejumlah pemimpin perusahaan hadir. Mereka berasal dari berbagai sektor, antara lain perbankan, tekstil, properti, pertanian, manufaktur, pangan, dan otomotif.

Indonesia sampai hari ini masih mengimpor berbagai jenis komoditas pangan yang merupakan konsumsi masyarakat sehari-hari. Sebut saja beras, jagung, kedelai, bawang putih, dan tapioka.

Di sektor energi, Indonesia mengimpor bahan bakar minyak (BBM) dan elpiji dalam jumlah yang besar. Akibatnya, anggaran subsidi energi yang harus ditanggung negara per tahun terus membengkak.

Deindustrialisasi
Industri manufaktur dalam negeri juga belum cukup berdaya saing. Burhanuddin mengatakan, Indonesia sampai saat ini masih menjadi net importir barang manufaktur. Hampir 40 persen dari pasar manufaktur Indonesia dikuasai China. Hasilnya, industri dalam negeri pun kerap kali tidak berdaya menghadapi gempuran impor barang manufaktur.

Di sisi lain, ancaman deindustrialisasi dini semakin nyata terjadi. Ia membandingkan, pada 1997-1998, kontribusi industri manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) masih berkisar 28-29 persen, hampir mendekati kategori negara industri yang porsi manufakturnya terhadap PDB adalah 30 persen.

“Saat ini, share industri manufaktur kita hanya di kisaran 18 persen. Itu di bawah 20 persen, yang artinya kita kembali ke kategori negara pra-industri, kita kembali lagi ke tahun 1971, kembali ke kondisi awal pemerintahan Presiden Soeharto dulu,” ucap Burhanuddin.

Oleh karena itu, arah kebijakan ekonomi Prabowo-Gibran ke depan akan mengandalkan ketiga mesin ekonomi itu. Industrialisasi, khususnya yang berbasis sumber daya alam, mesti dipacu dengan memperbaiki kondisi daya saing berusaha, mulai dari sisi kepastian hukum, perizinan, dan kemudahan berbisnis di Indonesia.

Menurut Burhanuddin, hal itu tidak mustahil dilakukan. Indonesia memiliki potensi sumber daya alam serta energi baru dan terbarukan yang melimpah dan bisa diolah menjadi beragam produk manufaktur. Ketiga sektor itu, terutama pertanian dan manufaktur, juga akan menciptakan lapangan kerja yang lebih luas.

“Oleh karena itu, tiga hal ini, pertanian, pangan, dan industri, harus menjadi mesin pertumbuhan ekonomi kita ke depan. Meskipun, pada dasarnya, tentu saja semua sektor ekonomi ke depan akan didorong untuk tumbuh dan berkembang,” kata Burhanuddin.

Menanggapi arah kebijakan ekonomi pemerintahan baru ke depan, Regional CEO PT Triputra Agro Persada Tbk Budiarto Abadi mengingatkan akan pentingnya memperkuat ketahanan pangan nasional. Salah satunya, swasembada beras.

Indonesia pernah mencapai swasembada beras. Indonesia juga pernah mengalami kesulitan mendapatkan beras seperti yang terjadi saat ini. "Ibu-ibu membeli beras dengan harga mahal, sedangkan petani diuntungkan karena harga gabah naik," ujarnya.
Budiarto berharap pemerintah bisa mewujudkan kembali swasembada beras. Indonesia bisa belajar dari sejumlah negara produsen beras. Meskipun terdampak El Nino, negara-negara tersebut tetap bisa mencukupi kebutuhan dalam negeri, bahkan mengekspor beras.

Salah satu upayanya adalah mengoptimalkan peran badan usaha milik negara (BUMN). Pemerintah telah memiliki Perum Bulog yang menyerap gabah dan beras di dalam negeri, serta mengimpor beras untuk cadangan pangan.

Dari sisi produksi, pemerintah juga bisa meminta BUMN, seperti PT Perkebunan Nusantara atau Perhutani bekerja sama dengan petani. BUMN tersebut bisa mengadopsi cara kemitraan pengelolaan produksi dari perusahaan sawit.

"Kenapa sistem petani plasma di industri sawit tidak dicoba diterapkan di sektor perberasan nasional. Kalau semua diserahkan ke swasta, banyak perusahaan yang enggan, karena bisnis beras itu ngeri-ngeri sedap," katanya.

Skema industrialisasi

Sementara itu, Wakil Presiden Direktur PT Toyota Manufacturing Indonesia, Bob Azam, berharap pemerintahan baru punya skema tepat untuk mendorong industrialisasi. Berkaca dari bidang yang ia geluti, dalam 10 tahun terakhir, industri otomotif baik mobil maupun sepeda motor mengalami stagnasi dalam hal produktivitas maupun pengembangan pasar.

Sayangnya, di tengah stagnansi sektor industri, para pelaku industri sudah dihadapkan pada rencana peningkatan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari 11 persen menjadi 12 persen. Kenaikan ini dikhawatirkan dapat memukul kinerja industri pengolahan yang dapat memberikan kesempatan kerja yang luas.



"Rantai pasok akan terdampak kenaikan PPN. Dari barang mentah menjadi barang setengah jadi terdampak (kenaikan) PPN. Lalu barang setengah menuju barang jadi juga terdampak. Pengadaan komponen pun terimbas kenaikan PPN. Mohon ini jadi perhatian," tuturnya.



Di luar itu, Bob berharap pemerintahan baru menjadikan sektor tenaga kerja sebagai indeks atau faktor utama untuk mengambil berbagai kebijakan industri. "Negara sekelas Amerika Serikat saja menjadikan faktor tenaga kerja untuk mengambil kebijakan suku bunga," katanya.