Yazidi

Naseema. Perempuan Yazidi ini berusia 45 tahun. Ia mempunyai tiga anak perempuan dan tiga anak laki-laki dari seorang suami. Ia kehilangan hampir semua orang-orang yang dicintainya itu. Naseema kehilangan suaminya, dua putrinya, dan seorang anak laki-laki. Mereka ditangkap oleh orang-orang dari kelompok yang menyebut diri mereka Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS). Tragedi itu terjadi pada suatu hari di musim panas, dua tahun lalu. Ia tidak tahu, bagaimana nasib orang-orang yang dicintainya itu. Namun, sebagaimana para korban lainnya yang ditangkap NIIS, mereka dibunuh. "Mereka menangkap kami, putri tertua saya menjerit-jerit. Ia berteriak kepada mereka, 'Saya tak akan pernah pergi bersamamu'," kata Naseema mengenang peristiwa yang menimpa keluarganya. "Setelah mereka menyeretnya ke luar rumah, mereka menutup pintu dan sejak saat itu, putri saya hilang." Naseema juga ditangkap. Selama lima bulan ia ditawan dalam kondisi yang serba kekurangan, baik air maupun makanan. Baru pada Januari 2015, Naseema dibebaskan dan kemudian tinggal di kamp penampungan pengungsi Kurdi di Dohuk, Irak utara. Di Dohuk ada sekitar 2,1 juta pengungsi. Kisah mengunjungi kamp Duhuk direkam Angelina Jolie, Utusan Khusus UNHCR Urusan Pengungsi, menjadi sebuah film pendek yang antara lain mengisahkan keluarga Naseema. Film pendek lainnya berisi tentang pembicaraan Jolie dengan Amusha, seorang perempuan Yazidi berusia 58 tahun, yang putrinya bersama lusinan perempuan muda lainnya diculik NIIS. Amusha meyakini bahwa putrinya dibawa ke Raqqa untuk dijadikan budak seks (The Huffington Post). Naseema dan Amusha, adalah dua dari begitu banyak perempuan Yazidi, dua dari kaum Yazidi yang hidupnya kini penuh penderitaan, menjadi korban keganasan kelompok NIIS. Bukan kelompok minoritas Yazidi yang menjadi korban NIIS tetapi juga kaum minoritas Kristen. Komunitas Yazidi adalah sebuah komunitas kuno yang tinggal wilayah Irak bagian utara, Turki tenggara, Suriah, dan Iran. Sebagian besar dari mereka berbicara dalam bahasa Kurdi. Jumlah mereka hingga tahun 2014, menurut para ahli Timur Tengah, sekitar 700.000 orang, tetapi ada pula yang menyebut angka 500.000 orang. Cerita lain mengisahkan, orang-orang selama berabad-abad tinggal di wilayah pegunungan di Irak barat daya, sekitar Sinjar, suatu wilayah yang tidak jauh dengan perbatasan Suriah. Selain di Sinjar, mereka juga tinggal di Mosul-sebelah timur Sinjar-dan Provinsi Dohuk yang dikuasai Kursi. Provinsi Dohuk adalah provinsi di Irak yang paling utara berbatasan dengan Turki. Mengapa mereka menjadi korban keganasan orang-orang NIIS? Karena keyakinan mereka, karena iman mereka. J Brooks Spector dalam Daily Maverick menulis bahwa keyakinan mereka campuran dari Yudaisme, Islam, Zoroaster, Kristen, dan bahkan kepercayaan animis. Karena kepercayaan "unorthodox" inilah mereka sering disalah mengerti dan dipandang sebagai agama yang menyembah setan. Avi Asher-Schapiro dalam National Geogrphic News (11 Agustus 2014) menulis, kepercayaan mereka telah berabad-abad menjadi sasaran kebencian. Mereka dianggap sebagai penyembah setan. Karena itu, berulang kali mereka menghadapi bahaya genosida. Yazidisme adalah kepercayaan kuno yang kaya dengan tradisi lisan. Mereka mengombinasikan berbagai sistem kepercayaan yang dalam istilah keagamaan disebut sinkretisme. Akan tetapi, hingga kini, asal muasal kepercayaan mereka masih menjadi bahan perdebatan. Beberapa ilmuwan berpendapat bahwa Yazidisme dibentuk ketika seorang pemimpin Sufi, Adi ibn Musafir, bermukim di Kurdistan pada abad ke-12 dan mendirikan sebuah komunitas yang mencampur elemen-elemen Islam dengan kepercayaan pra-Islam. Mereka mulai dituduh menyembah setan pada akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17. Pada paruh kedua abad ke-19, orang-orang Yazidi menjadi target, baik para pemimpin Ottoman maupun Kurdi. Menurut Matthew Barber, seorang ilmuwan sejarah Yazidi di Universitas Chicago, orang-orang Yazidi sering mengatakan menjadi korban 72 kali genosida atau usaha pembasmian. "Ingatan akan penganiayaan menjadi komponen identitas mereka," kata Matthew Barber. Akan tetapi, karena banyak di antara mereka yang berbicara dalam bahasa Kurdi, sering kali mereka bernasib sama dengan orang-orang Kurdi di Irak pada zaman Saddam Hussein. Pada akhir tahun 1970-an, ketika Saddam Hussein melancarkan kampanye Arabisasi brutal terhadap orang-orang Kurdi, ia membumihanguskan desa-desa orang Yazidi. Lalu, mereka dipaksa tinggal di pusat-pusat kota, terputus dari cara hidup mereka di pedesaan. Sadam Hussein membangun kota Sinjar dan memaksa orang-orang Yazidi tinggal di kota itu. Orang-orang Yazidi percaya akan satu dewa, figur sentral dalam kepercayaan mereka, yakni Tawusî Melek, malaikat yang menentang Tuhan (ada yang menyebutnya sebagai Lucifer atau ada pula yang menyebut sebagai setan). Namun, bagi orang-orang Yazidi, Tawusî Melek adalah kekuatan untuk kebaikan dalam kepercayaan Yazidi. Tawusî Melek berperan sebagai mediator antara manusia dan Ilahi. Thomas Schmidinger, seorang ahli politik Kurdi di Universitas Wina, mengatakan, saat ini orang-orang Yazidi dianggap sebagai penyembah setan. Barangkali karena itulah mereka menjadi sasaran keganasan dan kebrutalan NIIS, sama dengan orang-orang Kristen di Mosul serta kota-kota lainnya di wilayah Irak bagian utara dan Suriah yang juga menjadi korban NIIS. Apa yang dilakukan NIIS adalah sebuah bentuk pelenyapan perbedaan dan perampasan terhadap hak-hak individu, hak-hak kaum minoritas. Mereka sama sekali tidak menghargai perbedaan (yang juga masih sering terjadi di negeri ini). Tidak ada lagi kebebasan di sana (juga di sebagian negeri ini). Kebebasan tidak hanya membiarkan "yang lain" berbeda, tetapi juga memberanikan diri untuk berbeda. Keberanian untuk berbeda di negeri ini pun kerap kali mulai digantikan ketakutan; ketakutan akan perbedaan. Sumber: Kompas, 11/9/2016 Sumber gambar: pixabay.com

No comments :