Syekh Burhanudin Ulakan

Membaca “Wali Nusantara”

Tempo, 25-31 Mei 2020

 

Saya suka membaca dan kegiatan tersebut adalah vitamin yang cukup ampuh sebagai asupan bagi otak dan pikiran saya untuk terus bekerja. Majalah Tempo merupakan salah satu sumber bacaan yang saya suka. Pada edisi 25-31 Mei 2020, ada liputan khusus yang menarik, berjudul Wali Nusantara, ulama-ulama setelah era Wali Sanga yang mengembara menyebarkan Islam ke pelosok negeri berabad silam. Berikut, saya kutip untuk pembaca blog ini. Selamat membaca.

 

 

Syekh Burhanudin Ulakan

 

Syekh Burhanuddin Ulakan lahir dengan nama Pono pada 1646. Pendidikan agama dipelajari Pono dari Syekh Abdullah Arif, pengembara Arab yang menetap di Nagari Tapakis, tak jauh dari Ulakan. Abdullah adalah murid Syekh Ahmad al-Qusyasyi, guru tarekat Syattariyah terkenal di madinah, Arab Saudi. Setelah Abdullah wafat, Pono belajar kepada Syekh Abdurrauf al-Singkili di Singkil, Aceh.

 

Guru Besar Universitas Islam Negeri Jakarta, Oman Fathurahman memperkirakan Burhanuddin; nama yang diberikan oleh Abdurrauf al Singkili untuk Pono, berguru di Singkil selama 18 tahun atau setidaknya kurang dari 30 tahun. Abdurrauf menyeruhnya kembali ke Ulakan untuk menyebarkan agama Islam. Ia memulai pengajarannya dengan mendirikan sebuah surau di Tanjung Medan, yang sekarang dikenal dengan nama Surau Gadang, bentuk awal pendidikan pesantren. Selaian ilmu agama, Burhanuddin juga meramaikan kegiatan di Surau gadang dengan melatih kecakapan muridnya dalam ilmu beladiri. Kesuksesan Syekh Burhanuddin dalam menyebarkan Islam disebabkan oleh dakwahnya yang persuasive. Ia, misalnya, mengajak anak-anak bermain sambil menyisipkan ajaran agama.

 

Ajaran yang disebarluaskan oleh Syekh Burhanuddin mengikuti ajaran tarekat Sattariyah, yang mengenalkan pemahaman agama dan interaksi dengan Tuhan melalui tingkatan ilmu kebatinan. Di dalamnya ada ritual zikir. Sejak diperkenalkan kepada masyarakat Ulakan, ajaran ini masih bertahan hingga kini. Hari wafat beliau diperingati hingga saat ini, setiap 10 Safar dan dikenal sebagai “Basapa” atau Bersafar.

No comments :