Zainab

Membaca “Wali Nusantara”

Tempo, 25-31 Mei 2020

Saya suka membaca dan kegiatan tersebut adalah vitamin yang cukup ampuh sebagai asupan bagi otak dan pikiran saya untuk terus bekerja. Majalah Tempo merupakan salah satu sumber bacaan yang saya suka. Pada edisi 25-31 Mei 2020, ada liputan khusus yang menarik, berjudul Wali Nusantara, ulama-ulama setelah era Wali Sanga yang mengembara menyebarkan Islam ke pelosok negeri berabad silam. Berikut, saya kutip untuk pembaca blog ini. Selamat membaca.

 

Zainab

Seorang wali perempuan terselip dalam sejarah penyebaran Islam di Pulau Bawean. Zainab, begitu namanya, meneruskan tugas dakwah suaminya yang tewas dalam pelayaran dari tanah Jawa. Zainab adalah putri Pangeran Geneng. Pengasuh Pesantren Luhur, Sidoarjo, Jawa Timur.

Dalam buku Waliyah Zainab, karya Dhiyauddin diterbitkan Yayasan Waliyah Zainab pada 2008. Menurut  buku itu, Zainab dewasa menikah dengan Pangeran Sedo Laut, cucu Sunan Giri 1, pendiri Kedatuan Giri, Gresik. Disebutkan juga bahwa Zainab adalah generasi keempat penerus ajaran Syekh Siti Jenar, pendiri tarekat Akmaliyah di Nusantara.

Dalam menunaikan tugas penyebaran Islam menuju Bawean, kapal Pangeran Sedo Laut karam, hanya Zainab dan Mbah Rambut, pembantunya yang selamat. Zainab selanjutnya mengambil alih tugas syiar suaminya. Menurut Jajat Burhanuddin pengajar di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, yang banyak menulis tentang sejarah Islam di Indonesia, tampilnya Zainab sebagai penerus dakwah suaminya yang meninggal merupakan kelaziman.

Hubungan Zainab dengan Kedatuan Giri dan Sunan Sendang tampak erat dari corak menur Masjid Diponggo, Menur masjid itu berbentuk tiara, dikelilingi motif sayap-sayap burung dan gunung. Di puncaknya terdapat ragam hias burung rajawali dengan sayap mengembang. Sedangkan di bawahnya terdapat corak naga membelit bumi. Corak serupa bisa dijumpai di Masjid Sendang Duwur dan kompleks makam Sunan Giri.

Pengaruh lain yang menabalkan jejak Waliyah Zainab adalah puyahale di daratan Jawa yang lebih dikenal sebagai zikir mider alias doa keliling kampung meminta keselamatan seluruh isi desa. Peserta zikir, yang semuanya pria berkeliling kampung dengan mengarak pusaka peninggalan Zainab seperti kendi, tombak, cawan besar dari besi, piring keramik, entong, dan batok kelapa besar. Di tiap simpang desa, peserta zikir menyerukan azan.     


No comments :