Showing posts with label Architecture. Show all posts
Showing posts with label Architecture. Show all posts

PESONA MASJID SYECH ZAID ABU DHABI

 

 

Megahnya Syech Zayed Mosque

 

Kami meninggalkan cerita Eropa lalu bergerak ke Abu Dhabi. Persinggahan terakhir sebelum kembali ke Jakarta-Indonesia.  Sebelumnya saya sudah meminta Lusi, sekretaris saya untuk mengurus visa di Abudhabi, jaga-jaga saat masuk Abu Dhabi tidak ada kendala apapun.

 

Namun, yahh kecele. Saat kami tiba di imigrasi Abu Dhabi pasport saya dan Soomy cuma dibubuhi cap saja, padahal Lusi sudah repot-repot mengurusi visa di Jakarta. Jadi, kesannya no visa required, apalagi ternyata orang indonesia  populer banget di sini, walaupuan sebagian besar tenaga kerja di Abudhabi,  mayoritas dari Banglades, India dan Pakistan.

 

Tiba di Abudhabi kami menginap di Sofitel, bagi saya ini adalah penerimaan terbaik selama perjalanan kami di Eropa hingga Abudhabi. Beruntungnya lagi tipe kamar kami diupgrade menjadi suite room.

Syech Zayed Mosque

 

Kami check-in di lantai 39 dengan tipe kamar suite room. Kesannya Sofitel hanya menjual kemewahan bisa dilihat dari fasilitas kamarnya, Sofitel ini terletak di pantai, namun sayangnya terhalang high way, jadi seperti bukan di pantai saja.

 

Esok harinya kami menuju salah satu destinasi wisata wajib di Abudhabi. Masjid Syech Zayed Mosque. Masjid Agung Abu dhabi ini sangat megah dan indah, didominasi warna putih. Manajemennya bagus sekali seperti hotel bintang lima.


Salah satu spot di Masjid Syech Zayed.

 Setelah drop off di lokasi masjid, kita dibawa turun dengan eskalator ke lobi  penerimaan, mirip seperti di Plaza Senayan. Tiba di lobi ini semua tersedia, mulai dari toko oleh-oleh, makanan dan minuman, semua lengkap. Untuk masuk ke area mesjid kita harus daftar dengan aplikasi. Setelah daftar kita dapat mengelilingi masjid dan disediakan kendaraan. Kami diangkut dengan travelator atau bugy car, lalu dengan eskalator naik lagi ke masjid. Di atas permukaan tanah hanya ada taman, kolam dan gedung masjid.

Tiang Masjid yang terbuat dari emas Italia 24K

Konsep Masjid ini mirip seperti Taj Mahal, Syech Zayed sendiri menginisiasi pembangunan masjid ini, sehingga beliau juga yang mengumpulkan arsitek terbaik, bahan terbaik dengan kualitas terbaik untuk pembangunan mesjid ini. Sehingga pembangunan mesjid ini memang direncanakan dengan baik, bahkan Syech Zayed meninggal dunia sebelum masjid ini selesai. Namun dengan perencanaan yang sangat profesional, masjid ini selesai dan diberi nama Syech Zayed Mosque.













SURAT CINTA DARI PRAHA

 

Praha Notes

 





Tengah Kota Praha

Setelah berkunjung ke Hungaria, kami melanjutkan perjalanan ke Praha, sebagai Ibu kota dari negara Cekoslowakia. Praha atau disebut juga dengan Prague, kota yang sangat cantik, karena sebagian besar bangunannya bergaya heritage, bohemian. Banyak sekali peninggalan sisa-sisa penjajahan komunis di kota ini. Meski sekarang negara ini sudah berubah ideologi dari komunis menjadi liberal demokrasi, namun sepertinya tidak membuat bangsa Ceko tersekat-sekat.


Sepanjang jalan saya melihat banyak perluasan kota dengan gaya modern, namun seninya tetap dipertahankan. Seperti bangunan dengan fondasi telapak tangan. Bangunan heritage yang terkenal di Praha adalah Prague Castle. Ini menjadi peninggalan sejarah Ceko pernah menjadi sebuah kerajaan di masa lampau.


Prague dan bangunannya


Transportasi di negara ini bervariasi, tersedia Tram, Bus, MRT. Dalam padangan saya kehidupan perekonomiannya tampak lebih bergulir dibandingkan dengan Hungaria.
 
Penduduk negara ini terutama yang wanita menarik perhatian saya. Wanita di negara ini mirip seperti Luci sekretaris saya dan Raisa seperti staf saya. Namun saya tidak menemukan wanita dengan wajah Widyawati (heheheh)

Resto Favorit Somya


Saya juga jarang menemukan anak kecil di negara ini. Sepertinya negara-negara Eropa semakin jauh dari pertambahan jumlah penduduk. Saya baca di koran-koran, pertumbuhan penduduk di Eropa sangat rendah, Aida (My Writer) mengatakan pada saya istilah itu dikenal dengan nama Demografi Winter, adanya penurunan jumlah kelahiran di negara-negara Eropa, karena perubahan ideologi dalam hal memiliki keturunan atau generasi selanjutnya.

 

WISATA SEJARAH ALA BUDAPEST


Hungaria Notes

 

Budapest

Sepuluh Juni saya dan Somya tiba di Hungaria, kami check in di Ibis Merah. Hotel ini berada di tengah kota Hungaria. Untungnya di sebelah Ibis ada resto Burger King, sehingga tidak sulit untuk mencari makanan. Kami disambut dengan sambutan istimewa di hotel, saya kira sambutan istimewa ini terasa hangat, karena Hungaria kota kecil.  Saat tiba di hotel waktu Hungaria sudah menjelang sore. Cocok sekali untuk jalan-jalan.

Hungaria pernah berjaya sekitar tahun 1850 dalam sistem Kerajaan Hungaria. Namun, setelah perang dunia pertama dan kedua, negara ini menjadi sulit bangkit, sekitar tahun 1980-an Hungaria bergabung dengan NATO dan kemudian dibantu dalam kebijakan ekonomi oleh Uni Eropa, terutama setelah  pemerintahan komunis jatuh dan Hungaria melakukan revolusi Hungaria. Sampai saat ini, sisa peninggalan komunis masih  banyak ditemui, bahkan dijadikan sebagai bukti sejarah dalam bentuk musium. Masih untung ya komunis di negara ini dibanding di negara-negara lain.

Gedung Parlement Budapest

Saat berjalan-jalan, kami tidak melihat ada mobil yang mewah,  mayoritas yang terlihat station car middle size Eropa, termasuk Mobil Skoda yang sudah diambil oleh perusahaan VW Jerman. Terasa sekali tingkat ekonomi negara ini lebih bawah dibanding Austria.

Namun, Budapest cukup menarik untuk wisata sejarah, selain bangunan sisa komunis, juga bisa ditemui banyak sekali stadiun sepak bola dengan ukuran yang besar, kesemuanya menjadi saksi sejarah, bahwa Hungaria pernah berjaya dalam hal sepakbola saat masa kecemerlangan Kiper Puskav.

Ornamen Patung di Budapest

Kekhasan bangunan-bangunan di Budapest berusia lebih dari 200 tahun, saya bisa melihat bangunan gedung Retrovit meski sangat jarang, sisanya bangunan bergaya heritage yang megah, style jembatan Sungai Danube yang mendunia, sempat diabadikan dalam karya John Strauzz Waltz. Jembatan itu sangat  terkenal dan tampak kokoh.


Khas Arsitektur Jembatan Budapest

 

Kereta Api Menolak Berkarat

Stasiun kereta api Hua Lamphong di Bangkok, Thailand, Selasa, 30 November 2021. Saat Thailand secara resmi membuka stasiun kereta api terbesar di Asia Tenggara di Bangkok, Kamis, 19 Januari 2023, ikon berusia seabad stasiun masih akan digunakan untuk operasi lokal untuk saat ini


Merestorasi garbong kereta untuk kepentingan pariwisata merupakan bagian dari merawat sejarah perkeretaapian. Seperti yang dilakukan di Thailand dan Perancis yang merestorasi gerbong menjadi resor mewah.

Naik kereta api, terutama kereta jarak jauh, memiliki sensasi yang berbeda dibandingkan moda transportasi lain. Dengan kereta api, pelancong bisa menikmati pemandangan di sepanjang perjalanan. Di hampir semua negara, kereta api jarak jauh pasti melewati daerah-daerah yang memiliki pemandangan alam yang indah. Begitu pula dengan Thailand yang dulu sangat mengandalkan kereta api sebagai transportasi utama.
Thailand memiliki sejarah perkeretaapian yang panjang, yakni sejak 1900-an, dan selalu padat penumpang yang hendak berlibur ke pantai atau daerah yang beriklim lebih dingin. Bagi pelancong dengan ransel atau backpacker, kereta api menjadi pilihan utama untuk menjelajahi Thailand dari ujung ke ujung. Di stasiun-stasiun kereta di Thailand masih banyak terlihat kereta api yang seakan minta pensiun karena jam terbang yang tinggi.

Dibuang sayang. Begitu pikir arsitek lansekap asal Amerika Serikat yang tinggal di ibukota Bangkok, Bill Bensley, yang merancang gerbong-gerbong kereta api yang lawas menjadi kamar-kamar mewah dan eksotis di resor baru InterContinental Khao Yai di Taman Nasional Khao Yai, Thailand. “Sayang sekali gerbong-gerbong tua yang karatan dibiarkan teronggok begitu saja. Pasti bisa dibuat sesuatu yang indah dari rongsokan itu dan kita tidak perlu membuatnya dari nol,” kata Bensley.

Di resor yang berjarak 2,5 jam dari Bangkok ini terdapat lebih dari 65 kamar mewah dan vila dari gerbong kereta api Thailand yang sudah didaur ulang dan diubah menjadi akomodasi mewah. Desain resor ini terinspirasi oleh awal-awal masa kejayaan kereta api Thailand dan sejarah daerah Khao Yai sebagai pintu gerbang ke timur Thailand semasa pemerintahan Raja Rama V (tahun 1868 hingga 1910). Untuk menciptakan suasana zaman dulu, desain bangunan di bagian penerima tamu dibuat seperti stasiun kereta Thailand zaman dulu, antara lain dengan bangku-bangku panjang dari kayu.

Selain didaur ulang menjadi kamar mewah dengan desain ruangan zaman dulu seperti di film “Pembunuhan di Orient Express” dari novel Agatha Christie, gerbong-gerbong tua itu juga bisa menjadi tempat untuk spa, kafe, taman bermain anak-anak, dan gerai makanan dan minuman. Untuk menghidupkan suasana seperti di film itu, Bensley berencana membuat paket perjalanan kereta khusus bertema buku itu yang dioperasikan setiap pekan.

Gerbong kereta yang direstorasi juga sudah dilakukan pada interior kereta Orient Express yang asli di Perancis tahun lalu. Sama seperti Bensley, perusahaan Perancis Accor juga merestorasi 17 gerbong Orient Express asli yang sebelumnya dikenal sebagai “Nostalgie-Istanbul-Orient-Express”. Agatha Christie pasti akan terkesan. Gerbong kereta ikonik ini identik dengan kemewahan yang tak lekang waktu. 

Orient Express, kereta penumpang jarak jauh yang awalnya dibuat pada tahun 1883 ini kemudian berhenti beroperasi pada 1977. Lalu pada 1980-an dihidupkan kembali dan beroperasi dengan rute Zurich (Swiss) dan Istanbul (Turki). Lalu setelah itu menghilang.Barulah pada tahun 2015 ditemukan 12 gerbong tidur, satu restoran, tiga lounge, dan satu gerbong untuk penjaga di Polandia, perbatasan Belarusia. Harian Daily Mail, 1 Desember 2022, menyebutkan gerbong kereta itu ditemukan tak sengaja dalam video yang diunggah di YouTube.

Arthur Mettetal, peneliti yang melakukan inventarisasi Orient Express untuk layanan kereta api Prancis SNCF, melihat ada tanda stasiun 'Malaszewicze', nama yang banyak digunakan di Polandia, dan akhirnya berhasil melacak gerbong itu memakai Google Maps dan Google 3D. Saat ditemukan, bagian luar gerbong-gerbong itu rusak tetapi interiornya masih bagus dengan gaya Art Deco dan panel Lalique yang diukir dengan motif 'burung hitam dan anggur'. Arsitek Maxime d'Angeac yang kemudian dipasrahi untuk merestorasi gerbong Orient Express ini dan kabarnya akan mulai dioperasikan kembali tahun 2024. Untuk kereta wisata Bensley di Thailand, ia berharap pelancong akan bisa menikmati gerbong kereta “lama rasa baru” sambil menikmati pemandangan di luar kereta. Salah satunya proyek pembangunan rel kereta cepat. Bagi pelancong yang datang ke Khao Yai dari Bangkok, naik mobil atau kereta api, pasti akan melihat proyek pembangunan jalur rel kereta yang ditinggikan.


Tangan dingin Bensley juga menggarap Imperial Hotel Bali dan Bukittinggi Novotel 


Pengembangan itu adalah bagian dari rute kereta berkecepatan tinggi dari Bangkok ke Nakhon Ratchasima yang sempat tertunda lama. Jalur rel sepanjang 250 kilometer ini menuju Laos dan China. Jalur itu kemungkinan akan mulai beroperasi pada tahun 2026. Saat para pelancong mulai membayangkan bisa bepergian menjelajahi pedesaan Thailand dengan kereta api berkecepatan tinggi di masa depan, senang mengetahui ada resor yang juga menghormati sejarah kereta api di Thailand.Pengalaman tersebut akan melengkapi perjalanan perkeretaapian Thailand yang memasuki era baru dengan stasiun kereta api terbesar di Asia Tenggara, Terminal Pusat Krung Thep Aphiwat. Hampir semua layanan kereta api jarak jauh domestik dan internasional Thailand akan melewati stasiun baru yang proyek pembangunannya sudah dimulai sejak 10 tahun lalu itu. Kereta pertama yang keluar dari stasiun baru itu menuju ke Sungai Kolok di perbatasan selatan Thailand dan Malaysia.

Hanya saja, banyak pelancong yang masih lebih suka bepergian melalui Stasiun Hua Lamphong di tengah kota Bangkok. Stasiun klasik dengan desain ruang tunggu dengan langit-langit tinggi itu puluhan tahun melayani banyak orang, mulai dari pekerja pedesaan yang mencari pekerjaan di kota hingga turis dengan ransel yang hendak bersantai di daerah Selatan. Stasiun tua bergaya neo-Renaisans yang dirancang arsitek Italia dan dibuka pada1916 itu masih digunakan. Setidaknya ada 62 kereta yang merapat di stasiun ini setiap harinya.

Meski stasiun kereta yang baru berlantai empat dengan luas hampir 30 hektar dan mampu mengelola hingga 40 kereta pada saat yang bersamaan (ini 10 kali lipat dari kapasitas Hua Lamphong), masyarakat masih menginginkan stasiun tua ini hidup. Awalnya, ada rencana stasiun ini dirubuhkan atau diubah menjadi museum tetapi diprotes masyarakat lalu batal. “Saya lebih suka di sini. Stasiun ini hanya perlu direnovasi sedikit dan semuanya akan baik-baik saja. Kalau dijadikan museum, malah jadi tidak bernyawa. Biarkan saja tetap dipakai,” kata Prathuang Ruengsamut (68), warga Bangkok. 


Menerobos Konsep Umum, Bandara Banyuwangi Menangi Aga Khan Award

Atap Bandara Blimbingsari Banyuwangi berupa hamparan rumput. Foto ini diunggah di website resmi AKDN.org, Desain Bandara Blimbingsari dan rumah tumbuh di Batam terpilih menjadi 20 nominator penerima Aga Khan Award. periode 2017-2022.



Bandara Banyuwangi yang didesain oleh Andra Matin ini memenangi penghargaan karena dianggap memiliki arsitektur yang mengusung nilai-nilai pembaruan. Bandara ini menerobos konsep bandara yang pada umumnya tertutup.


Bandara Banyuwangi di Jawa Timur meraih penghargaan dunia Aga Khan Award for Architecture 2022. Bandara itu menyisihkan 463 bangunan dengan arsitektur terbaik dari seluruh dunia.

Bandara Banyuwangi yang didesain oleh arsitek Andra Matin ini memenangi penghargaan karena dianggap memiliki arsitektur yang mengusung nilai-nilai pembaruan. Bandara ini menerobos konsep bandara yang pada umumnya tertutup dan eksklusif.

Penghargaan Aga Khan Award diterima oleh Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani di Royal Opera House of Muscat Arts, Muscat, Oman, Senin (31/10/2022) malam waktu setempat atau Selasa (1/11) pagi. Selain dihadiri para arsitek terkenal dari seluruh dunia, acara dihadiri Putra Mahkota Kerajaan Oman Theyazin bin Haitham Al Said serta Princess Zahra Aga Khan.

”Tidak seperti bangunan bandara lain, yang kerap merupakan tempat kedap,tertutup, dan terasing dari lingkungan sekitar, Bandara Banyuwangi adalah perlawanan elegan terhadap bentuk bandara pada umumnya,” tulis para juri dalam keputusan pemenang lewat rilis Pemkab Banyuwangi, Senin (1/11).

Dalam penilaian juri independen, Bandara Banyuwangi disebut menghindari gaya internasional standar yang dianut sebagian besar bandara di dunia. Bandara ini justru membawa identitas sekaligus memori budaya lokal. Desain lokal terlihat dari atap bandara yang bernuansa tradisional berbentuk ikat kepala suku Osing yang merupakan masyarakat asli Banyuwangi.

Bandara ini juga didesain ramah lingkungan dengan memanfaatkan serambi (overhang) yang lebar dan dinding-dinding dari bilahan kayu ulin bekas yang semi-terbuka. Dinding terluar yang semi-terbuka itu mampu membuat aliran udara masuk dengan mudah ke ruangan-ruangan dan mengurangi penggunaan pendingin udara. Kolam ikan di dalam dan luar dinding serta pepohonan dan rumput di halaman juga turut membantu meredam suhu panas tropis daerah ini sekaligus memberi kesan alami.

Bandara ini bisa menjadi paradigma baru dan game changer di waktu mendatang dalam arsitektur bandara.

Saat mulai dibangun pada 2016, Bupati Banyuwangi saat itu, Abdullah Azwar Anas, bersama arsitek Andra Matin memilih menekankan nilai-nilai lokal, fungsionalitas, dan pemeliharaan berbiaya rendah dalam pemilihan material, tetapi tetap memiliki nilai modern dan efisien dalam segala aspek.

Bupati Banyuwangi Ipuk Festiandani (tengah) menerima penghargaan Aga Khan Award for Architectur 2022 di Muscat, Oman, Senin (31/10/2022) malam waktu setempat. Bandara Banyuwangi memenangi penghargaan ini setelah menyisihkan 463 nomine di seluruh dunia.

Skema pembangunan yang diterapkan bersandar pada sumber daya lokal, memakai teknologi tepat guna, dan menerapkan prinsip-prinsip desain pasif vernakular atau bertumpu pada arsitektur rakyat.

”Bandara ini bisa menjadi paradigma baru dan game changer di waktu mendatang dalam arsitektur bandara,” kata dewan juri.

Lebih jauh, para dewan juri juga menilai, arsitektural Bandara Banyuwangi juga memiliki dampak luas terhadap masyarakat. Seperti halnya mengharmonisasi keberadaan bandara dengan alam di sekitarnya. Kawasan di sekitar bandara diproteksi sebagai lahan hijau dengan lanskap persawahan.

Arsitek Andra Matin, peraih penghargaan Aga Khan Award 2022

”Salah satu unsur penilaiannya termasuk bagaimana karya itu berdampak pada banyak manusia di sana dan di sekitarnya,” tutur Andra Matin yang turut hadir di Oman.

Salah satu unsur penilaiannya termasuk bagaimana karya itu berdampak pada banyak manusia di sana dan di sekitarnya.

Ipuk Fiestiandani mengungkapkan kehadiran bandara ini, selain capaian di bidang arsitektur dan menjadi penanda daerah, juga telah mampu menggerakkan perekonomian lokal dengan kemudahan akses ke Banyuwangi.

”Bandara menjadi salah satu pengungkit kemajuan Banyuwangi. Semoga ini berkah manfaat. Membawa kebanggaan. Menghadirkan keberkahan. Meningkatkan kesejahteraan warga,” ujar Ipuk.

Dinobatkannya Bandara Banyuwangi sebagai pemenang Aga Khan Award for Architecture juga membuat warga Banyuwangi bangga. Joko Sulistyo (43) warga yang sehari-hari menjadi pemandu wisata mengatakan, bandara ini bisa menjadi bagian dari destinasi baru Banyuwangi. "Turis-turis, dari dulu banyak yang suka dengan konsep bandara ini. Beberapa yang mengerti arsitektur malah maunya diajak keliling ke tempat-tempat seperti ini," kata Joko.

Selain Bandara, sejumlah tempat yang memiliki arsitektur modern namun unik di antaranya Pendopo Kabupaten Banyuwangi, tempat wisata Grand Watu Dodol, dan Taman Makam Pahlawan Sayu Wiwit yang juga berfungsi sebagai tempat berkumpul anak muda.

Muhammad Nawi (56), pemain musik tradisional pun senang karena daerahnya kini jadi terkenal. Menurutnya Udeng (penutup kepala) yang ia pakai sehari-hari bisa go internasional lewat desain bandara.

Retronesia: Dangdut, Jengki, dan Tiga Dara

Oleh TARIQ KHALIL, Kompas, 24/12/2016

Saya datang ke Indonesia pertama kali saat liburan tahun 2005, lebih dari 10 tahun lalu. Musik dangdut menjadi bagian dari liburan itu, musik yang menemani perjalanan. Terpukau, saya menganalisis musik baru itu dalam pikiran. Vokalisasi khas Asia, ketukan rasa Bollywood, liak-liuk seruling, dan suara kencang gitar elektrik menggiring ingatan pada gaya rambut heboh dan semarak suasana. Saat saya mulai tenang dan menghayati, dangdut berubah menjadi musik yang luar biasa, sesuatu yang sangat khas Indonesia.



Beberapa tahun kemudian, sekitar tahun 2008 saya pindah ke Jakarta. Saat berkunjung di Bandung, Jawa Barat, saya melihat bangunan-bangunan tua dari era 1950 dan 1960 yang mengingatkan saya pada pengalaman mendengarkan dangdut. Penggabungan antara elemen-elemen khas yang menghasilkan sesuatu yang menakjubkan. Arsitektur yang berkarakter, dan bangunan khas Amerika di alam tropis Indonesia.

Diawali dengan ketidaktahuan tentang arsitektur, saya memulai sebuah misi. Misi untuk menemukan kembali dan memperkenalkan kepada awam kisah menarik, melebihi sekadar soal arsitektur, tentang bangunan di era 1950-1960-an.

Setiap akhir pekan saya bertemu dengan pelajar, sejarawan, dan aktivis budaya yang mengantarkan saya ke bangunan-bangunan indah. Saya menggunakan pesona saya untuk memasuki berbagai rumah, bahkan sempat mengajarkan seorang pembantu rumah tangga di daerah Tebet, Jakarta, cara memasak masakan india.

Bulan demi bulan, perjalanan demi perjalanan, koleksi bangunan saya, yang ditandai oleh garis tebal dan sudut tak lazim, bertambah. Namun, seakan ada lubang hitam menatap saya, perasaan kosong misterius yang mengisap segala cerita yang mungkin ada dari situs-situs itu, meninggalkan kekosongan budaya. Saya kembali menggunakan pesona dan bahasa Indonesia yang pas-pasan agar bisa memasuki gedung-gedung tersebut dengan segala ceritanya yang menghanyutkan. Pintu-pintu yang tak terhitung banyaknya pun terbuka seiring sang pemilik, entah penjaga atau seseorang dari warung, berbagi cerita tentang masa lalu yang menakjubkan.

Jejak 1950-an

Cerita dimulai sekitar tahun 1950, persis pada pertengahan abad. Insinyur-insinyur dan arsitek-arsitek Belanda sedang menjalankan bisnis besar, mengalirkan berbagai macam proyek atas nama untuk pembangunan negara, tanpa menyadari suasana pasca revolusi Soekarno.

Art Deco khas tropis dan hibridisasi Indo-Eropa, gaya Indische-yang populer pada era 1920 dan 1930-kembali marak. Arsitek Belanda datang kembali dan memulai revitalisasi arsitektur: gaya empire akhir, seperti yang dicontohkan di Kebayoran Baru, Jakarta.

Mulai tahun 1948 sampai 1957, walaupun tidak semua arsitek Belanda sibuk membuat gaya tua-baru Indonesia, beberapa arsitek, seperti Ger Boom dan Gmelig Meyling mengambil langkah lebih maju untuk menggabungkan gaya arsitektur. Mereka menggabungkan bentuk geometris dan ekspresionisme dari akhir tahun 1940-an khas California selatan. Inilah semangat pasca perang Amerika yang bertanggung jawab dalam memperkenalkan kultur mobil, masakan cepat saji, dan motel flamboyan ke dunia. Pada pertengahan abad, arsitektur modern telah tumbuh di Jawa yang sekarang dikenal sebagai gaya jengki.

Hasil-hasil pertama dari eksperimen modern tropis itu ditampilkan di dalam film Usmar Ismail, Tiga Dara, 1956. Adegan-adegan ikoniknya mulai dari Kebayoran Baru sekitar tahun 1956, melambangkan puncak dari inovasi arsitektur dan masa depan yang glamor. Art Deco dan gaya Indies "dibumbui" dengan geometris miring dan pengerjaan ulang yang serba bermain-main. Gaya Twilight Indies ini akan mengalami revolusi kedua.

Rumah bergaya jengki di jalan Martimbang, Kebayoran Baru, Jakarta, tampil dalam film Tiga Dara, 1956. Foto ini merupakan bagian dari hasil restorasi film Tiga Dara, 2016 (ARSIP RIZKA FITRI AKBAR SA FILMS PERFINI)

Optimisme film itu tampak tidak peduli dengan ketidakstabilan perjalanan geopolitik Soekarno menuju kemakmuran dan kemandirian ekonomi. Pada akhir 1957, masyarakat sedang berada dalam arus perubahan, terlepas dari Belanda sedang dipaksa untuk Dexit dan aset-aset mereka dijadikan milik negara (nasionalisasi). Pengusiran mereka memancing terbukanya ketegangan sosial. Di bawah sadar, ketimpangan, dan keretakan sosial mulai meletus. Konflik tak terselesaikan ini tecermin, misalnya dalam jejaring intrik novel Senja di Djakarta karya Mochtar Lubis. Ditulis di penjara, nada gelap novel itu menggambarkan situasi kemasyarakatan yang kejam, yang gagal menyebarkan kemakmuran dan peluang, seperti dijanjikan poros Asia-Afrika Soekarno.

Dexit tahun 1957-1958 bagai durian runtuh yang menciptakan jutawan dalam semalam, menyegarkan kembali elite-elite dunia masa lalu, dan membantu mendanai institusi negara baru. Suasana politik baru terbuka diamdiam, sekaligus membangkitkan dorongan kreatif. Gaya Twilight Empire Belanda mengalami revolusi, dipimpin oleh kontraktor bangunan atau Aannemer. Yang dulu hanya dipimpin oleh arsitek elite, sekarang dipegang oleh tangan-tangan baru dan lokal.

Pemimpin-pemimpin yang baru ditunjuk ini mulai memonopoli desain serta membangun proyek sederhana dan prestise. Sedikit hal yang dianggap pakem atau sakral kepada masa estetika merdeka: insinyur, pembangun, asisten, beberapa arsitek -dan kadang pemilik-menambah corakjengki ke vila, hotel, kantor, pabrik, ruko, gereja-bahkan kuburan.

Situs-situs itu menghadirkan kecanggihan dan daya tarik modern pada kota. Bagi kebanyakan orang, ini adalah zaman atom, saat ambisi Indonesia, kepercayaan diri menuju modernitas berdering keras. Melompat ke masa depan, beberapa generasi kemudian, yang tersisa adalah vila-vila yang terabaikan di kota-kota dan desa serta penginapan-penginapan di pegunungan yang ditinggalkan. Itulah warisan kultural dari masa ultra kreatif selama 15 tahun yang kini terserak.

Retronesia

Perjalanan saya mewujud Proyek Retronesia. Dengan bantuan ahli-ahli atau terkadang hanya dengan perjumpaan di jalan, saya menemukan lebih dari sekadar gedung-gedung elegan, tetapi aneh. Gedung-gedung itu ternyata adalah monumen budaya yang terkubur, tidak oleh bumi atau abu, tetapi karena ketidakacuhan.

Setelah misi selama 7 tahun menggali lapisan budaya ini, bangunan kuno terus bermunculan dan sejarah lisan yang terlupakan disatukan kembali. Kisah tentang keberanian dan memilih mengambil risiko yang mendefinisikan kehidupan para pemimpi, petualang, dan institusi publik mereka. Mulai dari pengusaha batik dari Solo, kehidupan puitis para elite dan vila-vila mahal mereka di pegunungan, hingga institusi yang bertransformasi, seperti Akademi Ilmu Pengetahuan Alam milik Belanda pendahulu LIPI serta klub yang didirikan oleh pemilik perkebunan Belanda di Bandung tahun 1956.

Meskipun para pembangkit budaya itu telah lama pergi, keanehan mereka yang luar biasa entah bagaimana tetap bertahan-bahkan di Jakarta yang cepat berubah. Bangunan tempo dulu, alternatif di era tahun 1950-1960-an Indonesia ini terus dikalahkan oleh periode kolonial dan kolonial tempo dulu. Namun, meski hanya sebentar, era yang kental penanda budaya zamannya itu berhasil menginspirasi seni, desain, dan kreativitas masa kini.

Sejalan dengan waktu, Retronesia telah menjadi "urban archeology 101". Arkeologi perkotaan tidak membutuhkan ekspedisi mahal ke wilayah terpencil, tidak perlu membeli berbagai peralatan baru-ataupun pakaian mahal untuk segala cuaca dan tidak memerlukan latihan khusus. Hanya minat dan semangat yang dibutuhkan untuk menemukan sesuatu yang sangat menakjubkan.



Rumah Tanpa Tembok di Jepang

Seperti apa rasanya tinggal di rumah tanpa tembok? Konsep rumah seperti ini bisa Anda temui di Jepang. Uniknya, walaupun tanpa tembok, privasi kamar tidur, kloset, dan kamar mandi tetap terjaga. Seperti dilansir laman www.trendir.com, rumah yang disebut bergaya urban glass-walled ini berlokasi di Tokyo. Rumah unik ini sebenarnya lebih cocok disebut sebagai karya seni daripada tempat tinggal. Maklum, jika rumah biasa dibalut tembok, rumah ini dilapisi kaca sehingga terlihat isi dalam rumahnya. Dominasi kaca Arsitek di balik rumah ini adalah Sou Fujimoto Architects. Terletak di antara kompleks yang cukup padat, rumah ini terlihat begitu menonjol dibandingkan yang lainnya. Fasad yang digunakan didominasi dinding kaca dengan material rangka berwarna putih. Bagian depan dan sisi bangunan dipisahkan beberapa balkon dengan atap berisi tanaman pot. Walaupun dipenuhi dinding kaca, ruang privat dikemas secara presisi sehingga tak terlihat dari luar. Denah ruangan dirancang dengan unik. Sang arsitek mengkreasikan setidaknya enam lantai di antara tiga ruang vertikal. Menariknya, hanya ada beberapa pintu formal di antara ruangan. Hasilnya menakjubkan. Sebuah rumah dengan organisasi ruang kompleks yang saling terkoneksi. Variasi lantai sangat mudah terlihat dari luar. Ada beberapa balkon tanpa pagar yang bisa digunakan untuk bersantai. Tempat ini juga menjadi wadah untuk menaruh aneka tanaman. Konsep desain interior berjenjang membuat rumah memiliki banyak ruang tambahan. Di bagian dalam rumah, hampir seluruhnya hanya bisa dilalui satu orang. Tiap area dibagi dalam tingkat berbeda. Namun, interior secara keseluruhan mencerminkan satu kesatuan ruang. Garasi untuk mobil juga dibuat terlihat elegan. Letaknya di dekat pintu masuk. Ukurannya muat untuk satu mobil. Bagian samping garasi diberi elemen pagar berwarna cokelat. Garasi ini dibuat terbuka tanpa adanya pintu pagar dorong. Jika dilihat sekilas, rumah ini terkesan sempit. Padahal, rumah ini memiliki ruangan yang cukup besar secara vertikal. Setiap ruangan memiliki langit-langit yang tinggi. Ada cukup banyak sudut terbuka. Dari dalam rumah, kita bisa melihat panorama pemandangan seluruh kota dari balik kaca. Ruang publik Seperti rumah konvensional pada umumnya, rumah ini memiliki ruang publik, yaitu ruang keluarga dan dapur. Kedua ruangan ini terletak di bagian bawah rumah. Ada juga ruang privat, yaitu kamar tidur yang dibangun di bagian atas rumah. Aneka furnitur dan dekorasi interior dibuat sesuai dengan motif warna rumah yaitu putih. Hal ini bisa dilihat pada penggunaan rak buku dan tangga. Bagi orang awam, rumah ini mungkin terlihat seperti dibuat dengan abstrak. Padahal, menurut arsitek, setiap bagian rumah memiliki tujuan yang spesifik. Hal ini tergambar di bagian denah rumah. Setiap ruangan ditempatkan dan diukur sesuai kebutuhan tiap tipe ruangan. [INO] @inojulianto Sumber artikel: Kompas, 29/9/2016 Sumber gambar: trendir.com