Showing posts with label Inspiration. Show all posts
Showing posts with label Inspiration. Show all posts

Pianis Berbela Rasa Itu Telah Pergi

Iravati M Sudiarso



Kepergian Iravati M Sudiarso pada Rabu (18/1/2023) merupakan duka bagi dunia musik klasik Indonesia. Sosoknya sebagai salah satu pianis legendaris dan pelopor musik klasik Tanah Air akan selalu dikenang.


Iravati kini telah tenang di tempat peristirahatan terakhir di TPU Tanah Kusir, Jakarta. Ia berpulang karena sakit pada Rabu pukul 15.00 dalam usia 85 tahun. Hingga akhir hayatnya, ia menjabat sebagai Direktur Utama Sekolah Musik YPM (Yayasan Pendidikan Musik), lembaga pendidikan musik yang disegani dan telah menghasilkan pianis andal, seperti Levi Gunardi, Adelaide Simbolon, Binu Sukaman, Harimada Kusuma, Mario Santoso, dan Gita Bayuratri, selain salah seorang putrinya sendiri, yaitu Aisha Sudiarso-Pletscher.

Penampilan publik di usia lanjut yang dapat dicatat adalah ketika Iravati merayakan HUT ke-80 September 2017 di Jakarta, di mana saat itu murid-muridnya mempersembahkan karya untuk ”Tante Ira”—sebutan akrab bagi Bu Guru tercinta (Kompas, 31/10/2017).

Menjadi murid Iravati, menurut Harimada, merupakan saat yang singkat. Namun, waktu tersebut sangat berkesan bagi murid-muridnya. Sebagai guru, Iravati mendidik dengan kesabaran dan kedisiplinan. ”Tak ada satu not atau jari pun yang luput dari perhatian beliau,” kenang Harimada tentang guru yang memimpin Sekolah Musik YPM yang berdiri sejak Oktober 1952 itu. Ira meminta Mario bersabar saat ia ingin mempelajari karya Chopin ”Barcarolle Opus 60” karena saat itu ia melihat Mario belum siap secara psikologis untuk memainkan karya tersebut.

Sebagai pianis, Iravati sendiri pernah mencatat prestasi cemerlang: menjadi pianis Asia pertama yang tampil sebagai solois bersama New York Philharmonic Orchestra dalam acara peresmian Lincoln Center for the Performing Arts tahun 1964.

Tak ada satu not atau jari pun yang luput dari perhatian beliau.


Sebagai pemusik, Iravati memperlihatkan kepekaan sosial. Saat Indonesia dilanda krisis di tahun 1990-an, Ira duo dengan Aisha memainkan karya Johan Sebastian Bach/ Mary Howe ”Sheep May Safely Graze” (Biarkan Domba Merumput dengan Aman) sebagai tema utama konser ”Pertiwi Menangis” April 2000. Selain agar bangsa Indonesia berkecukupan dalam pangan, Iravati juga memohon agar bangsa Indonesia menjadi lebih pintar. Hal itu bersama Aisha ia ungkapkan melalui Sonata Mozart yang sering dijadikan lambang sebagai anak cerdas. Saat warga Aceh berdoa, duo ibu-anak mengiringinya dengan memainkan ”Les Larmes” (Air Mata) dari Suite Opus 5 No 1 karya Rachmaninoff.

Di luar kepekaannya terhadap masalah sosial, Iravati tak berhenti menantang dirinya untuk memainkan karya sulit. Bersama Twilite Orchestra, Ira pernah memainkan bagian ”Allegro Scherzando” dari Konser Piano No 2 Rachmaninoff. Selain itu, saat usianya 80 tahun, di hadapanmurid-muridnya ia masih memainkan karya Chopin yang tak kalah menantang, yakni ”Nocturne” dalam D-flat Mayor Opus 27 No 2.

Iravati bangga murid-muridnya bisa melanjutkan karier bermusik, ada yang ke Manhattan School of Music, ada yang ke Konservatorium Amsterdam, dan St Petersburg. Mereka semakin canggih dalam piano performance, tetapi tetap hormat kepada Ibu Guru.

Dalam bermusik, Iravati juga tak melupakan karya komposer nasional dan mendorong murid-muridnya memainkan (juga menyanyikan) karya putra bangsa serta menulis komposisi bagi mereka yang berbakat di segi ini, seperti Marisa Sharon Hartanto.
Karena itulah, Iravati bersyukur mendapatkan kesempatan menikmati dan mengagumi the wonders of music. Kini, pianis kelahiran Surabaya 28 September 1937 itu telah berpulang dengan meninggalkan dua orang putri dan tiga cucu. Suaminya, Sudiarso, berpulang 11 Juni 2006.

Ira, lulusan Peabody Conservatory of Music, Baltimore, Maryland, AS (Bachelor, 1963) dan Master (1964), telah mewarnai perjalanan musik (klasik, utamanya piano) di Tanah Air. Bukan saja murid-muridnya yang kehilangan, melainkan juga masyarakat Indonesia yang mencintai seni musik dan budaya pada umumnya.
Selamat jalan Tante Ira.

SINDEN SUKOHARJO BERJAYA DI MUSKAT

 



Peni Candra Rini peraih Aga Khan Music Awards 2020-2022

Pengajar dan Komponis bersuara emas, berkarya dengan tradisi



Suara Peni Candra Rini terdengar bergetar menahan tangis. Sesaat ia diam, lalu suaranya kembali terdengar. “Al-Fatihah untuk beliau,” ujar Peni menyebut guru dan ayah angkatnya, (Almarhum) Rahayu Supanggah. Berkat kejelian sang maestro, Peni meraih puncak-puncak kesuksesan dalam berkesenian dengan tembang Jawa Tradisional dan kontemporer. Salah satu puncak kesuksesan yang baru saja diraih pengajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakart, Jawa Tengah, ini adalah Aga Khan Music Awards 2020-2022. “Ini amanah. Saya tidak tahu apakah ini ujian untuk saya,”


Ia menduga kiprahnya dalam kesenian dengan tradisi Jawa dan pengembangan dengan gaya kontemporernya selama ini serta upayanya menggaet anak-anak mudalah yang diakui para Juri Aga Khan. Adapun karya yang menurut dia diapresiasi adalah Maduswara yang dimainkan pula oleh Kronos Quarter di New York, Amerika Serikat, dan kota-kota besar lain di beberapa negara Eropa.


Pemenang sebutan khusus (special mention) datang dari Aceh, yakni Zulkifli dan Bur’am. Enam professional seni terkemuka dari Azerbaijan, Bahrain, India, Turki, Tunisia, dan Amerika Serikat, yakni H.E Shaikha Hala bint Mohammed Al Khalifa, Franghiz Ali-Zadeh, Divya Bhatia, Rachel Cooper, Yurdal Tokcan, dan Dhafer Youssef, memutuskan para pemenang Aga Khan Music Awards.


Para pemenang terpilih dari 400 nomine dari berbagai penjuru. Mereka dinilai para juri sebagai musikus dan pendidik music yang berkontribusi terhadap pelestarian dan pengembangan warisan music yang berkelanjutan, juga memanfaatkan kekuatan musik untuk meningkatkan kesadaran akan masalah sosial dan lingkungan.

Para pemenang akan berbagi hadiah sebesar US$500 ribu serta peluang pengembangan professional. Peluang ini termasuk komisi untuk pembuatan karya baru, kontrak rekaman dan manajemen artis, dukungan bagi inisiatif pendidikan percontohan, serta konsultasi teknis atau kuratorial buat proyek pengarsipan, pelestarian, dan penyebaran musik. Mereka akan menerima penghargaan tersebut di Muskat, Oman. Bersamaan dengan penghargaan Aga Khan for Architecture award pada 29-31 Oktober mendatang.

Para peraih Aga Khan Music Awards 2022 adalah Peni Candra Rini (Indonesia), Zakir Hussain (India), Afel Bocoum (Mali), Asin Khan Langa (India) Coumbane Mint Ely Warakane (Mauritania), Daud Khan Sadozai (Afganistan), Soumik Datta (Inggris), Yahya Husein Abdallah (Tanzania), Yasamin Shahhoseini (Iran), dan Zarsanga (Pakistan). Adapun pemenang special mention adalah Dilshad Khan (India), Golshan Ensemble (Iran), Sain Zahoor (Pakistan), Seyyed Mohammad Musayi dan Mahoor Institute (Iran), serta Zulkifli dan Bur’am (Indonesia).


Oleh para juri, Peni dinilai sebagai komponis, vokalis, dan pendidik Indonesia yang berimprovisasi dengan pengetahuannya tentang seni pertunjukan tradisional Indonesia yang cukup luas dan menginformasikan penciptaan karya-karya barunya yang diproduksi di seluruh dunia.


 
Peni Candra Rini tak pernah menyangka bisa menapaki panggung-panggung dunia saat kecil. Lahir pada 22 Agustus 1983 di Desa  Ngentrong, Campurdarat, Tulungagung, Jawa Timur, Peni tumbuh di lingkungan keluarga seniman tradisional, Ayahnya seorang dalang, sementara kakeknya pemain alat music gender. Sejak kecil ia mengikuti berbagai lomba olah suara. Ia memperdalam ilmu di Sekolah Menengan Karawitan Indonesia dan ISI Surakarta.


Ia pun sempat bergabung dalam kelompok Sono Seni Ensemble bentukan I Wayan Sadra dan menjadi sinden untuk karya Rahayu Supanggah bersama kelompok Garasi Seni Benowo. Ia kemudian diangkat sebagai anak oleh Rahayu. Sang maestro agaknya melihat bakat terpendam dalam diri Peni dan mengasahnya dengan mengajaknya tampai di berbagai pentas.


Hasilnya, Peni berhasil melompat dari satu titik ke titik, mulai melanglang buana dengan kemampuan vocal sebagai sinden, penembang Jawa yang kemudian mengeskplorasi tembang itu menjadi kontemporer. Ia tampil di berbagai panggung Internasional di Asia, Eropa, dan Amerika. Sebagai komponis ia sudah menciptakan ratusan tembang serta 12 album yang diproduksi di Amerika Serikat. Karya-karya itu beredar di luar negeri dan malah lebih dikenal di sana.


Peni bukan hanya seorang komponis perempuan yang diperhitungkan. Sehari-hari ia mengajar di almamaternya,bahkan meraih gelar doktor pada April lalu.   Ia juga menjadi dosen tamu di beberapa universitas di Amerika Serikat dan Eropa.


“Saya tidak pernah membayangkan, tak pernah terbayang. Dulu saya takut bermimpi karena tidak punya apa-apa kecuali suara dan tradisi. Saya Cuma yakin bergerak dan pintu akan terbuka” ucapnya.


Juli lalu, karyanya tampil di Goodman Arts Centre Singapura. Ia baru saja unjuk karya dalam perhelatan Indonesia Bertutur di Kawasan Candi Borobudur, Magelang. Tampil dalam konser tunggal terbatas yang diselenggatakan Kedutaan Besar Amerika Serikat dalam rangkaian acara pertemuan G-20 di Prambanan, Daerah Istimewa Jogjakarta. “Waktu itu saya membawakan karya berjudul air, tentang ancaman plastic, merenung dan mereka menangis” kata Peni yang sebelumnya menghasilkan karya Swarnadwipa berkolaborasi dengan Kitapoleng Bali. Sepak terjangnya inilah yang membuat para juri sudah mengintip semua aktivitas Peni.


Peni akan mengikuti acara diplomasi kebudayaan dunia melalui program residensi dalam OneBeat X di Taos, New Mexico, Amerika Serikat, pada 17 Oktober-7 November. Setelah menerima penghargaan Aga Khan, dia akan terbang ke Nex Mexico dan kemudian ke Los Angeles untuk memberikan workshop dan bertemu dengan pengelola Skirball Museum. Ia juga sudah menyimpan agenda pada 2023 berupa konser istimewa dengan Kronos Quartee, kelompok music berbasis di San Francisco. USA.

 

Didi Kempot yang Mulia


Banyak artis mengganti nama agar terdengar lebih trendi jika hendak menancapkan popularitas di tengah khalayak pendengar. Namun tidak dengan penyanyi satu ini, ia bahkan tetap membawa nama kelompoknya ketika masih menjadi pengamen jalanan. 

Dialah Didi Kempot yang adalah kependekan dari “Kelompok Penyanyi Trotoar”. 

Sumber foto: Wikimedia Commons

Ungkapan “from zero to hero” sepertinya layak disematkan kepada penyanyi bernama lengkap Dionisus Prasetyo ini. Didi Kempot bukanlah sosok penyanyi karbitan yang melesat sesaat seperti mainan baling-baling berlampu di tengah pasar malam. 

Didi memulai karirnya dari panggung kendaraan umum antarkota antarprovinsi yang tak menyediakan lampu sorot atau efek asap dan semburan api. Dapat dibayangkan Didi berlari-lari di antara semburan asap knalpot. Lagu “Bis Kota” Franky Sahilatua sepertinya dapat memberi gambaran tentang itu. Perihal debu-debu yang ramai beterbangan, serta tentang sang pengamen yang terjepit di sela-sela ketiak para penumpang yang bergantungan. 

Ciri khas penyanyi jalanan melekat pada lagu-lagu ciptaan Didi Kempot. Lagu-lagu yang ia perdengarkan kepada para penempuh perjalanan yang melalui stasiun kereta api, pelabuhan, serta terminal. Lagu-lagu yang mengingatkan pada perjalanan orang-orang biasa. Lagu-lagunya tak pernah menyebut kata bandara yang mengisyaratkan kelas sosial tertentu yang memilih perjalanan di atas angin. 

Ya, kebersahajaan itulah yang membuat Didi Kempot berakar di hati para pendengar. Genre musik Campur Sari yang ia pilih pun menunjukkan keberpihakannya untuk menghibur orang banyak yang menjadi bagian dari masyarakat akar rumput. 

Berdiri di atas akar yang teguh menghunjam bumi, Didi Kempot perlahan-lahan menjulang bagai pohon beringin yang teduh. Tempat bernaung bagi mereka yang butuh merenungkan nasib sepanjang perjalanan yang berkali-kali harus menginjak duri dan kerikil tajam. 

Sastrawan Martin Aleida menulis di lini masa media sosialnya: “Banyak yang menyesali tema Didi Kempot cuma patah hati. Mereka lupa ekspresi keindahan itu selalu memihak yang luka, tertindas.” 

Ketika menerima penghargaan Lifetime Achievement Award dari Billboard Indonesia Music Awards 2020 pada 26 Februari 2020, Didi Kempot berucap, “Terimakasih Sobat Ambyar! Penghargaan ini untuk para seniman tradisional di seluruh Indonesia karena Indonesia kaya dengan budaya.” 

Sama sekali tak ada kesan ia menepuk dadanya sendiri. Pernyataan itu ibarat tepukan di punggung untuk membesarkan hati para seniman tradisional yang tentu ia paham manis-getirnya menempuh jalur itu. 

Didi Kempot adalah “hero”, ia bahkan memperoleh julukan mentereng “godfather” dan “lord” yang barangkali tak pernah dibayangkan oleh penyanyi trotoar mendapat julukan yang mulia semacam itu. Dalam hal ini, Didi Kempot pantas disejajarkan dengan Virgiawan Listanto alias Iwan Fals yang juga memulai karir sebagai pengamen hingga dianggap seolah manusia setengah dewa oleh para penggemar fanatiknya. 

Kesederhanaan Didi Kempot adalah adiluhung. Rest in peace!

-- Dedi Sjahrir Panigoro

Didi Kempot berpulang ke Rahmatullah pada Selasa (5/5/2020) dalam usia 53 tahun. Ia yang lahir di Surakarta pada 31 Desember 1966 ini dikebumikan di Ngawi, Jawa Timur. Ia meninggalkan dunia yang sedang dilanda wabah virus Corona. Namun ia bukanlah korban, ia justru pahlawan di tengah wabah lewat Konser Amal dari Rumah yang berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp. 7,6 miliar untuk masyarakat yang terdampak wabah virus Covid-19. Ia telah membuktikan kemuliaan hatinya. Tunailah peran sosialnya sebagai seniman yang merakyat. 

Apakah kematian seorang Didi Kempot akan menambah patah hati para penggemarnya? 

Mari simak kata-kata Didi Kempot tentang patah hati: 

“Patah hati itu enggak usah dibawa terlalu jauh-jauh, jangan ngelamun terlalu panjang. Dibawa untuk hal-hal positif."  

Maka ada baiknya mengingat terjemahan selarik lirik lagu Didi Kempot berikut ini: 

“Seandainya kau telah pada posisi mulia, rela aku rela.” 

Ya, Didi Kempot telah berada di posisi mulia selama di dunia, semoga juga di alam baka.

 

Mengatasi Anak Putus Sekolah

Kajian Unesco 2012 lalu menyatakan bahwa “Seribu orang Indonesia hanya 1 orang yang membaca”. Dengan Gerakan Ayo Indonesia Membaca (AMIND) kita gerakkan perubahan menjadi “Seribu orang Indonesia hanya 1 orang yang tidak membaca”. Untuk itu, AMIND juga aktif mendorong upaya seperti Akhmad Supriyatna dalam bidang pendidikan dan pengajaran.

--DSP


Ketua Pengawas AMIND, Kemendikbud, Dewi Utama Faizah, menyerahkan hadiah buku kepada murid SDN Percobaan Palangka Raya saat pencanangan program Ayo Membaca Indonesia (AMIND), Selasa (28/4/15).
Foto: PPost/Dewi

.

~ o 0 o ~

Mengatasi Anak Putus Sekolah

Oleh Dwi Bayu Radius, Kompas,8/9/2016

Demi menyambung pendidikan remaja kurang mampu di Desa Rancasumur, Kecamatan Kopo, Kabupaten Serang, Banten, Akhmad Supriyatna (49) nekat mendirikan Sekolah Menengah Atas Bina Putera. Ia menggenjot semangat belajar anak muda sembari mempertahankan kepercayaan para penyandang dana. Kini, banyak anak bersekolah, bahkan sebagian melanjutkan kuliah.

Meski berasal dari keluarga bertaraf hidup di bawah rata-rata, murid Sekolah Menengah Atas (SMA) Bina Putera punya banyak prestasi. Saat Kompas mengunjungi SMA itu pertengahan Agustus lalu, piala-piala tampak berderet di rak.

Kebanyakan dari piala tersebut diraih dari kejuaraan olahraga, seperti bulu tangkis, voli, atletik, dan maraton. Para siswa Bina Putera memiliki fisik prima karena terbiasa dengan kegiatan di luar kelas. Kegiatan itu juga yang menempa mereka sehingga memiliki karakter yang matang.

Tidak hanya di bidang olahraga, para murid itu juga kreatif mengembangkan teknologi serta mengolah berbagai produk dan kerajinan. Itu terlihat dari penemuan mereka dalam mengolah tempe hemat energi, mengawetkan tahu secara alami tanpa formalin, memanen kangkung, dan menjahit. ”Banyak teman ngeledek, Bina Putera itu SMA atau SMK (sekolah menengah kejuruan)? Saya menyebutnya kampung belajar,” ujar Supriyatna sambil tersenyum.

Jumlah murid Bina Putera sekitar 260 orang. Semangat sebagian remaja di Kopo untuk belajar sebenarnya termasuk rendah. Kondisi tersebut menciptakan dilema. Remaja putus sekolah akan lontang-lantung, berisiko terjerumus narkoba, hingga terlibat kriminalitas.

”Di sini budayanya, ngapain sekolah? Saya harus yakinkan mereka, sekolah itu bermanfaat. Ketika sudah masuk sekolah, saya harus menjaga semangat mereka,” katanya. Di sisi lain, mereka yang masih ingin melanjutkan pendidikan terbentur ketidakmampuan membayar iuran sekolah.

”Kata orang, remaja di sini tidak siap bersekolah, tetapi kalau dibiarkan, mereka akan menghabiskan energi dengan kegiatan yang tidak konstruktif,” ucapnya.

KOMPAS/DWI BAYU RADIUS

Rasa memiliki yang kuat terhadap lingkungannya membuat Supriyatna merasa bertanggung jawab untuk mengentaskan remaja putus sekolah. ”Tugas murid hanya belajar. Mencari biaya sekolah dan pihak yang mau membantu adalah tugas kami,” ucapnya.

Biaya yang dibutuhkan dari setiap murid agar sekolah bisa beroperasi sebesar Rp 350.000. Jika orangtua murid dikenai biaya sebesar itu, mereka tak akan mampu membayarnya. Iuran yang ditarik hanya Rp 50.000 per bulan dan tidak pernah naik sejak SMA Bina Putera didirikan pada 2003.

”Kami sudah survei. Kalau lebih dari itu, orangtua berat membayarnya. Itu pun kalau mampu. Kalau mereka minta dibebaskan dari biaya, kami carikan donatur,” ucapnya.

Gundah

Pembentukan SMA Bina Putera berasal dari kegundahan orangtua dan lulusan sekolah menengah pertama setempat yang ingin melanjutkan pendidikan. Jarak SMA terdekat berada di Kecamatan Jawilan, Kabupaten Serang, sekitar 10 kilometer. Tidak ada angkutan umum ke SMA itu.

Sekolah lain, yakni SMA di Rangkasbitung, ibu kota Kabupaten Lebak, Banten, berjarak 17 kilometer. Transportasi publik yang tersedia hanya kereta. ”Muncul ide, mengapa tidak mendirikan SMA saja. Waktu itu, saya masih tinggal di Bogor (Jawa Barat),” katanya.

Ternyata, pengelola SMP setempat menaruh harapan kepada Supriyatna. Dia mulai mewujudkan keinginan itu. Sekolah didirikan di lahan hibah dari masyarakat. ”Lahan seluas 1 hektar dititipkan kepada saya. Jadi, saya tidak bisa lari,” ucapnya.

Berkat jaringan pertemanan, Supriyatna mengenal anggota komunitas sepeda motor besar. Dia berhasil meyakinkan anggota komunitas itu untuk berkunjung ke lahan tersebut. ”Kebiasaan mereka, kalau berkunjung ke suatu daerah, pasti mengadakan bakti sosial,” ucapnya.

Mereka datang dengan berkonvoi dan menyumbang Rp 43 juta. Selanjutnya, beberapa anggota komunitas sepeda motor besar menanyakan kemajuan pembangunan sekolah dan memberikan sumbangan lagi. Uang yang terkumpul digunakan untuk membangun tiga kelas.

Sekolah pun dimulai dengan 38 murid saja. Sesekali, mereka ikut membantu membersihkan lahan yang sebelumnya masih berupa hutan. Kiprah Supriyatna menarik BRI. Dia diminta menyelesaikan pembangunan SMA Bina Putera. Donatur lain memberikan 20 kambing untuk dikembangbiakkan dan dijual.

Reputasi yang bisa dijaga membuat Bina Putera mendapatkan sumbangan Rp 150 juta lagi untuk membeli lahan. Luas SMA itu bertambah menjadi 3,5 hektar sejak tahun 2010. Pemerintah Kabupaten Serang juga memberikan bantuan untuk membangun dua kelas baru tahun 2011 dan dua kelas lagi tahun 2012.

Jarak SMA Bina Putera dari Kota Serang hanya 44 kilometer, tetapi kondisi infrastruktur membuatnya cukup terpencil. Akses dari jalan raya ke SMA itu masih berupa jalur tanah berbatu. Kemacetan dan perbaikan jalan membuat perjalanan dengan kendaraan pribadi harus ditempuh hingga dua jam.

Mandiri

Namun, berbagai keterbatasan itu justru memicu murid-murid SMA Bina Putera menjadi mandiri. Mereka antara lain menjadi petugas kebersihan, penjaga toilet, dan resepsionis. ”Kami tak punya uang untuk membayar cleaning service (petugas kebersihan). Maka, murid-murid diberdayakan,” ucapnya.

Dia bersyukur, di tengah kekurangan pun, Bina Putera masih meraih penghargaan sekolah dengan indeks integritas penyelenggaraan ujian nasional yang tinggi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2015. Sejumlah murid juga berhasil diterima di perguruan tinggi negeri.

Tahun 2016 ini, misalnya, 2 murid diterima di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto, 1 orang di IAIN Salatiga, 4 orang di IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Serang, dan 2 murid diterima tanpa tes di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Serang.

Perguruan tinggi negeri lain yang dapat ditembus murid-murid Bina Putera adalah Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Supriyatna masih membantu hingga lulusan Bina Putra benar-benar bisa kuliah dengan lancar.

”Untuk ukuran kampung, mereka sangat memberikan harapan. Kalau mereka kuliah, saya harus cari dana. Saya menjembatani mahasiswa dengan donatur,” katanya. Donatur kemudian langsung berkomunikasi dengan lulusan Bina Putera. Mahasiswa-mahasiswa itu juga diupayakan mendapatkan beasiswa.

”Ketika kami pantau, lulusan Bina Putera bisa bersaing. Ada yang meraih IPK (indeks prestasi kumulatif) 3,5,” ucapnya.

Padahal, sebelum mendirikan SMA Bina Putera, Supriyatna tak menyukai profesi guru karena nasib sebagian guru memprihatinkan. ”Jadi, saya kualat. Teman-teman juga meledek. Orang biasanya ke kota, saya malah pulang kampung,” katanya sambil tertawa.


Rumah Penjaga Lawangwangi

Sahabat saya, Andonowati, atau biasa dipanggil Aan, adalah sosok luar biasa yang telah mencurahkan hidupnya pada dunia seni rupa dan juga sains. Sejak 1999 ia menjadi Associate professor di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Institut Teknologi Bandung (ITB) dan beberapa tahun kemudian ia mendirikan LabMath Indonesia, sebuah institut riset independen di bidang Matematika dan juga mendirikan ArtSociates, yang bertujuan mengangkat nama seniman-seniman berbakat Indonesia di kancah internasional. Kedua aktivitasnya tersebut bertempat di Lawangwangi Art & Science Estate, di Bandung (lawangwangi.com).

--DSP

Sumber: qraved.com

Sumber: lawangwangi.com

Lawangwangi Creative Space and Bistro Cafe
Jl. Dago Giri No. 99A - 101, Mekarwangi, Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Telp.: +62 22 2504065
Jam buka: Setiap hari, jam 11.00 - 23.00 (Senin tutup)

Tak jauh dari Lawangwangi, Aan juga membangun resor bernama VillaTel Salse dan juga sebuah restoran berdesain unik bernama Warung Salse.

Sumber: Google Streetview

VillaTel Salse
Jl. Dago Giri No.101, Lembang, Jawa Barat, Indonesia
Telp.: +62 811-2131-900

sumber: klikhotel.com
Warung Salse
Jl. Dago Giri No.101, Lembang, Jawa Barat, Indonesia
Telp.: +62 22 2504065
Jam buka: Setiap hari, jam 7.00 - 22.00

~ o 0 o ~

Rumah Penjaga Lawangwangi

Oleh Aryo Wisanggeni G., Kompas, 24/7/2016

Tidak banyak orang "segila" pasangan pakar matematika Dr Andonowati dan Prof Brenny van Groesen. Mereka menjual rumah peraih penghargaan "rumah terbaik Indonesia" untuk membangun galeri seni Lawangwangi Creative Space dan lembaga riset matematika LabMath-Indonesia yang kini berdiri di kawasan Dago Giri, Bandung.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO

Lalu, di pelataran yang sama, mereka bangun lagi sebuah rumah demi menjaga kedua "buah hati" mereka itu. Seperti kebanyakan tamu-tamu, Kamis (30/6) pagi itu, kami bersua Andonowati di kantor Lawangwangi Creative Space, menyela kesibukannya menyiapkan sebuah pameran seni rupa. Usai rapat persiapan yang serba kilat, ia keluar kantor. "Kita pergi ke rumah, yuk," ajaknya sambil berjalan cepat meniti turunan landai di halaman Lawangwangi.

Dalam 50-an langkah saja, kami sudah tiba di sebuah rumah bergaya limasan yang tersembunyi di balik punggung lereng halaman Lawangwangi. Andonowati membuka pintu kayunya yang kuno, melangkah masuk, menyilakan kami memilih sendiri tempat duduk ternyaman.

"Tidak banyak pilihan, kok. Rumah kami ini rumah kecil tanpa sekat, limasan bertipe studio," ujar Aan, sapaan Andonowati, tertawa.

Rumah Andonowati di Mekarwangi (KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO)

Limasan delapan tiang itu menjadi ganjil karena "terlalu" lapang. Sepasang meja kerja tertata di sebelah kiri pintu masuk, bersebelahan dengan sebuah lemari kaca di sudut pertama "limasan studio" itu. Di depan meja kerja, satu set sofa tertata, dikelilingi beragam karya seni ukuran kecil dan tumpukan buku.

Seperangkat perabot kayu dan meja marmer ada di sudut ruangan kedua, antiknya kontras dengan seperangkat televisi dan audio yang ada di sebelahnya. Lalu, di sudut ketiga limasan itu, sebuah meja makan bergaya kontemporer dikepung empat kursi sewarna. Di sebelahnya, sebuah batu fosil cokelat susu selebar dua meteran ditaruh di atas rak kayu bercat hitam.

Di balik batu fosil itu, sebuah tempat tidur tersembunyi, bersebelahan dengan lemari pakaian besar di sudut keempat limasan tanpa penyekat ruangan itu. Rumah yang sejuk, berkelimpahan cahaya dinding kaca berbingkai kayu yang memisahkan limasan dengan beranda samping berpemandangan horizon perbukitan Dago Giri.

"Kami menjalani beragam aktivitas di sini, mulai dari bangun tidur, makan, sampai kembali tidur. Tempat favorit kami berdua ya sepasang meja kerja itu, tempat kami menghabiskan sebagian besar waktu kami di rumah," ujar Aan.

Van Groesen tersenyum menyimak cerita Aan. "Tapi, dari yang sudah-sudah saya harus selalu bersiap, selalu ada kemungkinan kami akan sekali lagi berpindah rumah," katanya tertawa dari balik meja kerjanya.


Baca selanjutnya: Rumah Penjaga Lawangwangi - AB House dulu


Cahaya Ilmu dari Panjalu

Oleh Ahmad Arif & Nawa Tunggal, Kompas, 4/7/2016

Kanker darah telah melumpuhkan kaki, membutakan mata, dan membuatnya tak bisa bicara. Namun, Rossy Nurhayati (36) tak menyerah. Saat maut terasa mendekat, ia justru mendirikan Rumah Baca Cahaya Ilmu. Tak hanya menerangi warga Desa Panjalu dengan pengetahuan, ia juga menemukan kekuatan untuk kesembuhannya di rumah baca itu.

KOMPAS/AHMAD ARIF

Rossy yang lahir dan besar di Dusun Pabuaran, Desa Panjalu, Kecamatan Panjalu, Ciamis, Jawa Barat, baru mengetahui tubuhnya digerogoti kanker darah stadium empat pada tahun 2008. "Awalnya sedih, marah, kecewa, putus asa. Kenapa harus saya?" kisahnya.

Namun, tak lama, dia menemukan kekuatan dan keyakinannya kembali. "Hidup bukan untuk ditangisi, tetapi justru untuk diperjuangkan," tekad Rossy.

Doa anaknya yang masih kecil dan dorongan dari suami memompa semangatnya. "Kalaupun saya akhirnya meninggal, saya ingin berbuat untuk masyarakat. Dari dulu, saya suka buku dan mendapat banyak pengetahuan dari sana. Saya pun ingin membuat rumah baca di desa."

Maka, di sela-sela pengobatannya di Bandung, mulai dari kemoterapi hingga suntik sumsum tulang belakang, Rossy menyempatkan diri berburu buku. "Ditemani anak saya, Afifah, kami beli buku bekas di Pasar Palasari. Saat itu habis Rp 200.000, dapat tiga kardus," kisahnya.

Ia kemudian mendirikan taman bacaan di rumah ayahnya, Jajang Kabul Budiman (75). Suaminya, Mulyana (42), membantu menyulap ruang tengah rumah itu menjadi taman bacaan.

Awalnya, banyak saudara yang tidak setuju. Alasannya, ia tengah sakit malah mengurus orang lain, tanpa dibayar pula. Apalagi, Rossy sebenarnya juga kesulitan ekonomi untuk membiayai pengobatan. Bahkan, pernah, kartu tanda penduduk (KTP) suaminya terpaksa dijadikan jaminan untuk mencicil biaya pengobatan.

"Saat itu kami bawa uang Rp 5 juta, tetapi masih kurang Rp 1 juta. Jadi terpaksa ninggal KTP," ujarnya.

Kekuatan baru

Namun, Rossy merasa menemukan kekuatan baru dari kegiatan sosialnya. "Saya prihatin anak-anak di Panjalu lebih banyak nonton televisi dan main game. Dengan rumah baca ini, saya ingin membuat perubahan. Minimal, untuk keluarga sendiri, anak saya dulu," katanya.

Rossy merasakan hidupnya masih dibutuhkan oleh keluarga dan masyarakat sekitar, dan karena itu, ia tak ingin menyerah pada sakit yang diderita. Bahkan, ketika pada 2011 tubuhnya melemah sehingga kakinya lumpuh, matanya buta, dan mulutnya tak kuasa bicara, ia tetap menolak kalah. "Pekerjaan saya di rumah baca belum selesai. Saya tidak akan menyerah."

Ia mencoba berbagai macam pengobatan, selain rutin ke rumah sakit untuk kemoterapi dan suntik sumsum tulang belakang. Ia mencoba teh sarang semut, susu kefir, probiotik, remasan daun binahong, rosela, tapak dara. "Pernah juga ada yang menyarankan agar minum uap dari rebusan tulang ayam kampung yang telah dikeprek. Sampai habis ayam (milik) ayah. Semua saya coba karena ingin sembuh."

Anak-anak yang datang ke rumah bacanya pun diminta mendoakan kesembuhannya. Ajaib. Perlahan, kesehatannya membaik. Setelah setahun lumpuh, kakinya mulai pulih. Matanya kembali bisa melihat. Kanker darah yang dideritanya turun hingga stadium dua.

"Saya merasa yang menjadi kekuatan penyembuhan selama ini adalah semangat dari diri sendiri. Semangat itu saya dapatkan dari keluarga dan doa anak-anak. Rumah baca ini adalah semangat hidup saya," ujarnya.

Diusir petugas satpam

Rossy mencintai buku sejak kecil, tetapi sekolah di kampungnya hanya memiliki jumlah buku yang terbatas. Dia baru leluasa menyalurkan hobi membaca buku saat pindah ke Bogor, Jawa Barat, untuk sekolah menengah atas sekaligus bekerja di salah satu perusahaan garmen.

Di Bogor, ia tinggal di rumah pamannya yang kebetulan dekat dengan toko buku. Nyaris tiap hari, sepulang sekolah dia ke toko buku itu. Karena tidak memiliki cukup uang, ia lebih sering membaca buku-buku di tempat dibandingkan membelinya.

"Sering saya diusir petugas satpam, alasannya tokonya mau tutup," ujarnya. Hobi membaca ini berlanjut ketika ia kuliah.

Pada 2001, Rossy pindah ke Garut, mengikuti suami yang mengelola peternakan ikan milik keluarga. Di sana, ia menjadi penyiar radio. Ia juga mulai membuka kelas belajar membaca dan bahasa Inggris secara gratis. Inilah awal kegiatan sosialnya di bidang pendidikan.

Sejak 2004, ia pulang kampung ke Panjalu karena mesti menunggui ibunya yang sakit. Ketika itu, ia mulai merintis pendirian Sekolah Luar Biasa Panjalu dan menjadi guru di sana. Sekolah ini akhirnya berkembang dan mendapat penyetaraan dari pemerintah, tetapi Rossy akhirnya keluar pada 2012 ketika sakitnya bertambah parah.

Matematika Tuhan

Ditemui di rumahnya, Kamis (9/6) pagi, Rossy terlihat segar dan bersemangat. Rumah yang berjarak sekitar 2 kilometer dari alun-alun Desa Panjalu itu memiliki tiga kamar. Buku sebanyak 4.000 eksemplar memenuhi ruang tamunya. Tiga daun pintu kamar di rumah itu pun difungsikan sebagai rak buku, sementara di emperan rumah balok kayu untuk permainan anak-anak memenuhi satu-satunya meja yang ada.

Tak hanya mengelola rumah baca, hampir setiap hari ia menyambangi sekolah-sekolah taman kanak-kanak untuk mendongeng atau membacakan buku-buku serta mengajar bahasa Inggris. Dia juga merintis kembali pendirian SLB di desa tetangga. Setiap libur tiba, ia membawa sebagian koleksi bukunya ke alun-alun Panjalu dan membuka taman bacaan di sana.

Tak hanya itu, Rossy memprakarsai lomba mengarang dan juga menggambar. Tahun 2015, dia menyelenggarakan lomba menggambar untuk anak-anak. Pesertanya mencapai 1.476 anak.

Hebatnya, semua kegiatan dilakukan tanpa memungut bayaran. Padahal, kehidupan keluarga Rossy terbilang sederhana. Karena merawat Rossy, suaminya yang semula mengelola peternakan ikan keluarga di Garut pindah bekerja di perusahaan pakan ikan di Panjalu. Hingga saat ini keluarga ini pun masih menumpang di rumah ayah Rossy yang sekaligus menjadi rumah baca.

"Ini gerakan ikhlas. Saya percaya pada matematika Tuhan," ujar Rossy sambil tersenyum lebar.

Ketika hari menjelang siang, satu per satu anak-anak Desa Panjalu berdatangan ke Rumah Baca Cahaya Ilmu. Mereka segera mengisi buku tamu dan menyalami Rossy, yang menyambut mereka dengan wajah berbinar.

Sebelum memilih buku-buku yang berjajar di rak, bocah-bocah itu berdiri mengelilingi Rossy, sambil menengadahkan tangan. Mereka takzim berdoa. Suasana yang semula ramai beranjak syahdu. "Semoga, Bunda Rossy sembuh dan sehat sehingga bisa terus menyediakan bacaan bagi kami," ujar bocah-bocah itu....

Kamar Cuma-cuma untuk Pelancong

Oleh DEFRI WERDIONO, Kompas (24/6/2016), Rubrik Sosok

Bagi Ajeng Ria Aprilina (30), "kalkulator" Tuhan berbeda dengan kalkulator manusia. Karena itu, ia enteng saja menyediakan kamar secara cuma-cuma untuk pelancong. Mereka hanya perlu memberi buku atau mengajar anak-anak di sekitar rumah Ajeng. Lewat kegiatan itu, Ajeng membantu pelancong berkantong tipis sekaligus membantu anak-anak yang membutuhkan tambahan pengetahuan.

KOMPAS/DEFRI WERDIONO

Ajeng membuka lebar-lebar pintu rumahnya yang berada persis di pinggir Jalan Raya Malang-Batu di Desa Ngijo, Karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Sejak enam bulan lalu, lebih dari 130 pelancong yang sebagian besar backpacker menginap di tempat itu. Mereka bukan saja wisatawan domestik, melainkan juga wisatawan mancanegara.

Rumah yang disediakan Ajeng untuk para pelancong tidak terlalu besar. Rumah berwarna kuning yang berada di seberang Masjid An-Nur itu terdiri atas dua lantai. Ajeng tinggal bersama keluarganya di lantai dua. Sementara itu, dua kamar di lantai dasar diperuntukkan bagi wisatawan yang bepergian dengan isi kantong minim. Kedua kamar berukuran 3 meter x 2 meter itu langsung terhubung dengan ruang tamu.

Sebagai fasilitas tambahan, Ajeng menyediakan sebuah televisi dan Wi-Fi. Selain itu, ia menempatkan ratusan buku di ruang tamu yang bebas dibaca siapa saja, termasuk anak-anak tetangga. Setiap malam, 30-an anak-anak dari lingkungan sekitar berkumpul di ruang tamu untuk membaca dan belajar bersama.

Meski "resminya" Ajeng hanya menyediakan dua kamar untuk pelancong, kenyataannya tamu yang datang sering kali melonjak. Beberapa pekan lalu, misalnya, ada 19 pelancong yang datang dan menginap di rumah Ajeng. Bagi mereka, yang penting bisa istirahat. "Kalau tamu banyak, sebagian dari mereka tidur di ruang tamu ini," cerita Ajeng.

Omah Backpacker, begitulah Ajeng memberi nama untuk penginapan cuma-cuma miliknya. Penginapan itu berdiri sejak tahun 2015, tetapi embrionya sudah ada sejak 2011. Saat itu, ibu tiga anak tersebut membuat usaha serupa di rumah lamanya yang terletak di salah satu perumahan. Namun, ia merasa kondisi lingkungan perumahan kurang mendukung sehingga usaha penginapan yang dirintis Ajeng hanya bertahan sekitar satu tahun.

Bayar dengan buku

Keinginan Ajeng untuk membuat penginapan kembali hidup ketika seorang temannya yang masih kuliah di Universitas Indonesia meminta bantuan untuk dicarikan penginapan murah pada November 2015. Ajeng pun menawarkan rumahnya sebagai alternatif.

Tawaran tersebut diterima dengan senang hati. Sang tamu yang berasal dari Bekasi itu akhirnya menginap bersama sahabatnya yang masih kuliah di Universitas Negeri Jember.

"Rupanya tamu itu tahu bahwa saya suka membaca. Karena tahu kesenangan saya, dia membawa sejumlah buku fiksi berupa cerita pendek," ujarnya.

Cerita tidak berhenti sampai di situ. Buku-buku pemberian sang kawan ternyata diketahui oleh tetangganya. Karena memiliki kesenangan sama, yakni suka membaca, akhirnya buku-buku itu pun dipinjam oleh tetangga.

Dari situ kemudian tebersit di pikiran Ajeng dan keluarga untuk memanfaatkan dua kamar yang kosong agar bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Tercetuslah ide untuk menyewakan kamar itu. Selanjutnya, istri Rio Afif Mufarid (30) itu mengunggah Omah Backpacker ke media sosial Facebook dengan embel-embel menginap hanya dengan membayar buku.

Gayung bersambut, tiga hari kemudian tamu mulai datang untuk menginap. "Ada juga yang bukan tamu, mereka datang hanya memberikan buku. Bahkan, ada yang menelepon saya dari Jakarta menyampaikan keinginannya untuk mengirimkan buku," ucapnya.

Dari situlah koleksi buku Ajeng terus bertambah hingga sekarang jumlahnya lebih dari 300 buku, mulai dari buku anak-anak, nonfiksi, hingga esai. Sebagian rumahnya kini menjadi semacam perpustakaan kecil yang menjadi tempat alternatif bagi anak-anak sekitar untuk mendapatkan buku bacaan.

Belajar bersama

Dua bulan setelah Omah Backpacker berdiri, Ajeng juga menyematkan nama Omah Sinau di rumahnya. Di tempat itu anak-anak belajar bersama di bawah arahan Ajeng.

"Setelah buku terkumpul, saya berpikir, yang datang ke rumah saya, kok, anak itu-itu saja. Saya sendiri sering dengar cerita dari para orangtua bahwa anaknya sering mengisi waktu luang dengan nongkrong dan main tidak jelas. Akhirnya saya berpikir bagaimana jika kegiatan mereka bermain dipindah ke rumah saya," tuturnya.

Akhirnya kegiatan belajar di rumah Ajeng berkembang. Ada kelas gambar, kriya, tari, dan bahasa. Untuk kelas bahasa, tidak hanya pelajaran bahasa Inggris yang diberikan, tetapi juga Perancis dan Jepang. Ajeng turun tangan sebagai pengajar bahasa Inggris, sedangkan pengajar bahasa Perancis dan Jepang adalah mahasiswa dari Universitas Brawijaya, Malang.

Tidak jarang para backpacker asing yang menginap di rumah Ajeng juga menjadi mentor bahasa. Jika tamu domestik berbayar buku, Ajeng menerapkan aturan bagi tamu mancanegara. Mereka boleh menginap di sana asalkan mau mengajar (one night one teaching). Yang terjadi, para pelancong asing itu tidak hanya mengajarkan bahasa asing, tetapi juga berbagi cerita tentang budaya dan kebiasaan di negeri mereka.

Sejumlah pelancong dari luar negeri, seperti Maroko, Polandia, Ceko, dan Perancis, juga mengenyam hangatnya suasana rumah Omah Backpacker yang menyatu dengan Omah Sinau. Bahkan, seorang backpacker asal Maroko mengaku jatuh hati pada Malang setelah menginap selama dua pekan di Omah Backpacker.

Terkait dengan dunia pendidikan, sebulan terakhir Ajeng mengembangkan kegiatan Omah Sinau Berbagi Mimpi. Dalam program ini, Ajeng bersama teman-teman yang memiliki profesi out of the box (seperti musisi, bloger, dan agen perjalanan) memberikan semangat kepada anak-anak usia SMP di daerah marjinal perkotaan. Pesan yang disampaikan adalah bagaimana cara merajut mimpi dan meraih cita-cita sesuai bakat.

"Jangan sampai mereka terjebak oleh propaganda selama ini bahwa cita-cita itu adalah jadi dokter, insinyur, dan lainnya. Kalau tidak bekerja di profesi tersebut, seolah dianggap tidak bekerja," ucapnya.

Ajeng ingin mendorong anak-anak kelompok marjinal perkotaan untuk memiliki mimpi yang tinggi, sekaligus memberikan akses untuk mengejar mimpi tersebut. Dan, Ajeng memulainya dengan Omah Backpacker serta Omah Sinau.