Showing posts with label Sulawesi. Show all posts
Showing posts with label Sulawesi. Show all posts

Penghuni Laut Gorontalo

Gorontalo selalu mendapat tempat di hati saya. Di sanalah alm. Jusuf Panigoro, ayah dari sebelas anak dilahirkan pada tanggal 5 Mei 1920. Tepatnya di Kampung Potanga.

Kalau Banda Aceh dikenal sebagai Serambi Mekkah, maka Gorontalo dikenal sebagai Kota Serambi Madinah. Julukan lain bagi Gorontalo adalah Bumi Para Sastrawan, karena di sini lahir para tokoh sastrawan, seperti Hans Bague Jassin, dan juga pakar bahasa Jusuf Syarif Badudu.

--DSP



Penghuni Laut Gorontalo

Oleh Irene Barlian*

Terbentang di sepanjang pantai utara Teluk Tomini, Sulawesi Utara, Gorontalo merupakan surga alam bawah laut yang tersembunyi. Kekayaan hayati serta keanekaragaman terumbu karang dan makhluk laut memenuhi perairan yang terletak persis di garis khatulistiwa ini. Uniknya, di kota yang terkenal dengan sebutan "Kota Serambi Madinah" ini, belasan ekor hiu paus muncul. Penduduk Desa Botubarani, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, terkejut dengan datangnya munggiango hulalo, sebutan penduduk lokal terhadap salah satu jenis ikan terbesar di dunia tersebut. Mereka berdansa dengan anggun di tengah laut Gorontalo yang eksotis.

Seorang warga dari desa Botubarani bersiap untuk memberi makan para hiu paus. Hanya dengan mengetuk perahu beberapa kali, ikan-ikan ini mulai berdatangan. Hiu paus dengan ukuran antara 3 higga 7 meter berenang di bawah perahu dengan anggunnya. Di Borubarani, sisa ampas udang digunakan sebagai pakan ikan yang dikenal memiliki rasa ingin tahu yang tinggi ini.



Berinteraksi dan berenang bersama hiu paus merupakan salah satu fenomena yang unik. Namun, raksasa yang memiliki karakteristik jinak dan ramah ini dikategorikan dalam hewan yan terancam punah dan dilindungi. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui dan mengingat aturan-aturan yang diberlakukan ketika berinteraksi dengan hewan ini.



Berlimpahnya sumber makanan menjadi faktor utama munculnya segerombolan hiu paus ke pesisir selatan Gorontalo. Sebelumnya, diketahui bahwa memang ada beberapa hiu paus di perairan Sulawesi, khususnya Gorontalo. "Namun, mereka tidak berkumpul seperti ini," seru Yunis, seorang penyelam asal Gorontalo. Kesempatan langka ini juga tidak dilewatkan oleh penggemar diving. Mereka berbondong-bondong datang untuk menyelam bersama raksasa yang terkenal ramah ini.



Dilihat dari ukuran ikan hiu paus, diketahui bahwa ikan hiu ini termasuk dalam kategori yang belum dewasa. Meskipun memiliki tubuh yang besar, faktanya ikan ini hanya memakan plankton atau ikan-ikan kecil. Namun, nelayan setempat mengatakan bahwa ikan hiu paus di Botubarani memuntahkan kembali ikan kecil yang tidak senagaja termakan.



Seorang turis menikmati keindahan alam bawah laut di Pulo Cinta. Resor dengan konsep ramah lingkungan ini berdiri dengan mewah di antara pulau-pulau di Teluk Tomini. Akses menuju pulau yang memiliki pasir berbentuk hati di porosnya ini relatif mudah. Hanya dengan berkendara selama dua jam dari pusat Gorontalo menuju Kabupaten Boalemo, dilanjutkan dengan perjalanan selama 15 menit menggunakan kapal cepat. Menikmati kekayaan biota laut seraya menghidupkan kembali hubungan manusia dengan alam menjadikan tempat ini permata di tengah keunikan Gorontalo.



Rhincondon typus, nama ilmiah dari hiu paus, sedang berenang di bawah perahu para nelayan. Awalnya, raksasa laut ini bermunculan karena adanya aliran limbah pencucian udang dari pabrik setempat yang dibuang ke pantai. Limbah yang mengandung sari dan kulit udang itu mengundang ikan hiu untuk datang.



Suasana pagi hari di pesisir pantai Desa Botubarani. Para wisatawan dapat menyewa kapal yang disediakan oleh warga atau langsung berenang dari bibir pantai untuk dapat bertemu dengan raksasa ini. Salah satu ikan paus yang sering muncul di Botubarani diberi nama Sherly oleh para penduduk setempat. Jika beruntung, para pelancong bahkan dapat bertemu dengan 8 hingga 10 ekor hiu paus dalam satu waktu.



Taman Laut Olele dapat diakses melalu perjalanan darat ataupun laut. Letaknya yang berada tepat di garis khatulistiwa menjadikan perairan ini dipenuhi oleh makhluk laut yang unik serta bunga karang raksa. Salvador Dali adalah koral khas Gorontalo yang hanya dapat ditemukan di perairan ini. Bentuknya yang menyerupai lukisan "L'enigma Del Desiderio" oleh pelukis terkenal Salvador Dali menjadi asal-muasal nama koral ini.



Selain di Gorontalo, fenomena bertemu dengan ikan hiu paus ini dapat ditemukan di Papua, Kalimantan Timur, Jawa Timur, dan Aceh. Namun, mudahnya akses dan kepastian untuk dapat melihat hiu paus menjadikan wisata ini populer dalam jangka waktu yang cepat. tidak perlu menunggu lama untuk dapat melihat raksasa laut di Gorontalo ini.



*Photographer | Twitter: @irenebarlian | Instagram: @irenebarlian | @kompasklass #pelesir

Sumber: Kompas, 10/8/2016


Sastra Lisan Makassar: Sayup-sayup Sinrili'

Syarifuddin Daeng Tutu (sumber: indonesiaproud)

Gesekan keso-keso Daeng Tutu membuka acara Pentas Seni dan Pameran Industri Kreatif Makassar di Benteng Rotterdam, Juni lalu. Riuh hadirin seketika hening. Semua mata terpaku menatap sosok tunggal di panggung acara, Daeng Tutu yang duduk di sudut depan panggung memainkan keso-keso dan melantunkan syair-syairnya.

Permainan keso-keso Daeng Tutu pada malam itu sungguh menyerupai pertunjukan tradisional sinrili’. Sebagai ”penampil tunggal”, Daeng Tutu menjadi ”penguasa panggung”, menentukan apa yang terjadi di panggung layaknya seorang pembawa acara.

Bait-bait syair ia tembangkan, mengantar acara demi acara. Kadang dia serius, melempar kalimat yang mengkritik pemerintah, membuat hadirin bertepuk tangan senang. Kali lain ia jenaka menghidupkan suasana.

Saat mengetahui Kepala Dinas Pariwisata Kota Makassar Rusmayani Madjid memaksakan datang walau habis didera sakit, Daeng Tutu pun melagukan pujian. Iya mi anjo nikana pimpinan. Manna garring inji, manna bosi lompo, bosi sarro punna untuk rakyatna, battu ji, lantun Daeng Tutu merdu. Kalimat itu lebih kurang berarti, ”Ini yang disebut pimpinan. Walau sakit, bahkan walau hujan deras, jika untuk rakyat, dia akan datang.” Semua yang mendengar bertepuk tangan, menghormati kehadiran Rusmayani.


Sastra Lisan Sinrili'

Sastra lisan menemukan tempat dan bentuknya masing-masing di tiap-tiap daerah, pada ruang etnik dan suku yang mengusung adat yang berbeda-beda. Hal ini juga menjadi suatu bentuk ekspresi budaya masyarakat pemiliknya, sastra lisan tidak hanya mengandung unsur keindahan (estetik) tetapi juga mengandung berbagai informasi nilai-nilai kebudayaan tradisi yang bersangkutan.

Sastra lisan bertahan cukup lama dan menjadi semacam ekspresi estetik tiap-tiap daerah dan suku yang ada di Nusantara. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, dalam khasanah kesusastraan dalam bentuk lisan, sastra tulis lebih mendominasi dan sastra lisan mulai terpinggirkan bisa saja sampai terhapuskan. Hal ini mulai berkembang ketika munculnya anggapan bahwa sastra tulis mempunyai nilai yang lebih tinggi dibandingkan sastra lisan. Ditambah lagi oleh arus modernisasi yang masuk dan membawa corak kebudayaan baru, maka posisi sastra lisan di masyarakat semakin pudar dan akan menghilang. Dalam hal lain sastra lisan yang banyak tersebar di Nusantara menjadi kekayaan budaya bangsa Indonesia yang senantiasa harus dilestarikan dan dikembangkan. Demikian halnya di Sulawesi Selatan Khususnya dalam masyarakat Etnik Bugis-Makassar yang mendiami pesisir pantai jazirah selatan pulau Sulawesi.

Sinrili' merupakan salah satu jenis sastra bertutur tradisional di Sulawesi Selatan. Umumnya sebagai hiburan di hajatan atau syukuran masyarakat. Dibawakan dengan gaya berbicara atau berdendang dipadu iringan alat musik kesok-kesok, tapi tidak bernyanyi. Alat pengiringnya seperti biola dengan dua dawai kuningan yang digesek dengan bahan ekor kuda. Bunyinya nyaring melengking mirip rebab.

Sinrili' hakikatnya digunakan untuk menyampaikan legenda klasik dalam bahasa Makassar. Misalnya perjalanan hidup Syekh Yusuf Tuanta Salamaka, kisah percintaan Datu Museng dengan Maipa Deapati, atau perjuangan rakyat Gowa menghadapi penjajah. Juga makna adat budaya tradisional seperti pernikahan serta falsafah bijak leluhur soal pesan-pesan moral kehidupan. Sering pula dijadikan media kritik sosial.

Kindoq Satuni memainkan kecapi khas Mandar, kacapi baine, dalam pembukaan Makassar International Writers Festival 2015 di benteng Rotterdam Makassar, beberapa waktu lalu. Kindoq Satuni adalah satu dari sangat sedikit pemain kecapi perempuan khas Mandar yang telah memainkan kecapi selama lebih dari 70 tahun. (KOMPAS, ARYO WISANGGENI GENTHONG)


”Tantangan seorang pasinrili’ adalah menghafal naskah klasik, sekaligus bisa memainkan keso-keso. Banyak orang bisa memainkan keso-keso, tetapi tidak bisa melagukan naskah. Orang yang bisa melagukan naskah tidak mampu memainkan keso-keso. Mereka yang mencoba belajar selalu terhenti di tengah jalan. Hanya para peneliti seni tradisi yang tekun, tetapi mereka tidak belajar menutur sinrili' dan memainkan keso-keso,” ujar Daeng Tutu.

Pergeseran bahasa juga membuat sinrili' semakin jauh dari anak budaya lantaran bahasa sastra Makassar kian tidak dipahami para penutur bahasa Makassar. Mirip dengan bahasa sastra dalang wayang purwa dalam tradisi Jawa, yang semakin tidak dipahami para penutur bahasa Jawa.

Daeng Tutu belakangan sering merasa gelisah. Ia merasa usianya semakin tua, tapi belum juga menemukan pewaris sinrili'. Ia menilai generasi muda masih kurang yang berminat menekuni sinrili'. Kebanyakan murid-murid yang ia ajar di sanggar lebih tertarik dengan tari atau musik. Ia takut suatu saat warisan kebudayaan itu benar-benar punah.

Daeng Tutu juga gelisah karena hal lain. Ia merasa kesenian tradisional telah mengalami pergeseran makna, terutama bagi kalangan anak-anak muda. Baginya, orang kini lebih banyak menonjolkan estetika dibanding etika dalam berkesenian.

Tunisombaya ri Gowa, Nisomba tojemmak ri Gowa, tinggi tojeng empoku, tenamo somba i rateangku, tenatong karaeng sangkammangku ri Gowa. Inakkemi napaklaklangi karaeng bate-batea, ingka sakrepi kuboya. Bajikmak nuboyang ngaseng Bate Salapanna Gowa. Boyammak Daenta Galarang Bonto, boyantommak Paccelleka Boriksallo, na nuboyangak Sudiang, boyantongak pole Samata siagang Manngasa.

(Inilah awal mula yang membicarakan perihal Karaeng Tunisombaya Raja yang Dipertuan Agung di Gowa. Katanya, sungguh benar aku telah dipertuan di Gowa, tinggi amat kedudukanku. Tidak ada lagi raja yang dipertuan di atasku. Dan tidak ada juga raja yang menyamai kedudukanku di Gowa ini. Akulah tempat bernaung Karaeng bate-batea (raja-raja bawahan). Pada aku juga tempat bernaung Bate Salapanna Gowa (dewan raja Gowa), Daenta Gallarang Bonto, Paccelekang Borissallo, Karaeng Sudiang, Samata, dan Manngasa).

[seperti yang dituturkan oleh Abdul Latief Daeng Palagu sambil menggesek dawai keso-keso, alat gesek tradisional Sulawesi Selatan



~ o 0 o ~

Sumber:
Kompas, 9/6/2015
Koran Tempo, 21/5/2014
Abd. Razak Ibrahim. Sastra Nusantara. FIB-UNPAD, 2012

Gorontalo Menuju Kota SMART

Kalau Banda Aceh dikenal dengan Serambi Mekkah, maka Gorontalo dikenal dengan Kota Serambi Madinah. Di sinilah Ayah saya, almarhum Jusuf Panigoro dilahirkan, tepatnya di Kampung Potanga, Gorontalo, pada tanggal 5 Mei 1922. Kemudian beliau sekolah ke Bandung dan tinggal di sana sampai akhir hayatnya, 23 Maret 1976.

Julukan lain bagi Gorontalo adalah Bumi Para Sastrawan, karena di sini lahir para tokoh sastrawan, seperti Hans Bague Jassin, dan juga pakar bahasa Jusuf Syarif Badudu.

Rumah adat Gorontalo di Taman Nusa


Menuju Kota Cerdas

Kota Gorontalo mempunyai nilai-nilai budaya warisan luhur nenek moyang menjadi modal menuju kota cerdas. Modal itu berupa kearifan lokal yang dipertahankan turun-temurun. Modal itu diantaranya linula (kekeluargaan), ilomata (prestasi), tayade (saling berbagi), tolianga (empati), huluya (gotong royong), dan dulohupa (demokrasi). Apabila dipertahankan dan diterapkan, kearifan lokal itu menjadi jembatan untuk menjadikan Kota Gorontalo sebagai kota cerdas.

Nilai-nilai kearifan lokal masyarakat itu diintegrasikan dengan konsep kota cerdas sehingga menjadi peranti untuk menyelesaikan masalah kemasyarakatan melalui pelayanan ataupun penyediaan fasilitas yang dibutuhkan. Konsep cerdas di bidang ekonomi didekati dengan tayade, berupa bimbingan usaha, pemasaran produk, dan diversifikasi usaha.

Nantinya pendataan usaha warga diiringi pengembangan produk berbasis online dan penjaminan kredit dalam permodalan. Dalam upaya mengembangkan ekonomi masyarakat, setiap usaha kecil dan menengah (UKM) menerima bantuan Rp 2,5 juta sampai Rp 5 juta. Hingga kini, sekitar 200 UKM sudah menerima bantuan dana itu.

Cerdas di bidang lingkungan dilandasi konsep tolianga. Upaya yang ditempuh di antaranya dengan pelayanan taman hijau, kota layak anak, efisiensi energi, pengolahan sampah, pengendalian banjir, dan pengolahan air minum.

Huluya bisa diterapkan untuk menata becak bermotor yang berlebih, video lokasi kemacetan, dan pengaturan perparkiran. Dulohupa bisa dipraktikkan dalam kehidupan berdemokrasi, penataan lingkungan yang nyaman dan tersedia bandwith, pembelajaran di taman, dan pembelajaran budaya dan seni.

Benteng Otanaha (gambar dari: Gorontaloprov.go.id)

Wali Kota Gorontalo Marthen A Taha bersama Wakil Charles Budi Doku mengusung delapan program unggulan, berupa program gratis dari lahir sampai mati. Kedelapan program itu adalah gratis biaya persalinan, gratis biaya pembuatan akta kelahiran atau kartu identitas penduduk dan kartu keluarga, gratis biaya kesehatan, gratis biaya pendidikan hingga tingkat SMA, gratis biaya izin usaha, gratis pembiayaan usaha kecil, gratis biaya nikah, dan gratis biaya pemakaman.

Program itu dituangkan dalam wujud kartu bertanda khusus yang disebut Kartu Sejahtera. Saat ini tercatat sekitar 20.000 keluarga sudah menerima kartu pintar itu, dari sekitar 59.000 keluarga yang ada.


Menuju Kota Jasa

Kota Gorontalo di Provinsi Gorontalo bukanlah kota yang dikaruniai banyak sumber daya potensial. Wali Kota Gorontalo Marthen A Taha menyadari, daerah yang dipimpinnya bukanlah kota yang kaya sumber daya alam, melainkan banyak keterbatasan. "Prioritas utama saya bersama Pak Charles Budi Doku (wakil wali kota) adalah menjadikan Kota Gorontalo sebagai kota jasa di Provinsi Gorontalo," katanya.

Kota Gorontalo akan dikembangkan sebagai pusat perdagangan (bisnis), pusat pendidikan, dan kesehatan. Sebagai penunjang wisata di Provinsi Gorontalo, di Kota Gorontalo tumbuh hotel dari kelas melati hingga berbintang empat. Kota Gorontalo juga menjadi tempat singgah bagi pelancong yang hendak berwisata ke obyek wisata di luar kota itu.

(Gambar dari sini)

Kota Gorontalo sebagai pusat pendidikan tak hanya menjadi magnet bagi calon mahasiswa di provinsi ke-32 di Indonesia itu. Bahkan, mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo banyak yang berasal dari luar provinsi, seperti dari Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, dan dari Maluku.

Menurut Marthen, sebenarnya Gorontalo memiliki sumber energi baru dan terbarukan untuk listrik yang melimpah, yaitu tenaga surya dan tenaga bayu. Hanya saja yang bersedia menjadi investor untuk mengembangkan potensi itu belum ada.

Walaupun demikian, Marthen tetap optimistis di masa mendatang Kota Gorontalo menjadi magnet di kawasan Teluk Tomini. Sebagai beranda provinsi, ia berharap peran dan dukungan Pemerintah Provinsi Gorontalo untuk mewujudkan Kota Gorontalo sebagai kota sejahtera, maju, aktif, religius, dan terdidik (SMART).

(Disarikan dari: Kompas, 29/7/2015)

Tomohon International Choir Competition (TICC)

Tanggal 22 di pagi buta saya dengan Ed Van Ness terbang dengan Lion Air nonstop ke Manado. di bandara dijemput teman Ismail Siden dan langsung diantar ke Gardenia Villa yang indah di Tomohon, hanya 30 menit dari kota Manado. Setelah check in kami langsung diantar ke tempat dimana kompetisi berlangsung.

Opera Messiah - Georg Frederich Handel

TICC merupakan sebuah kompetisi paduan suara internasional diikuti oleh kurang lebih 50 peserta. TICC tidak dapat berlangsung tanpa dukungan penuh dari walikota Tomohon, Sdr. Jefferson S. M Rumajar, S.E. yang baru berusia 43 tahun dan tokoh paduan suara dari Bandung, Sdr. Tommyanto Kandisaputra. Dari jajaran Internasional tampak artistik director Prof. Andre de Quadros (Boston University, USA). Sebagai juri antara lain Thomas Chaplin (Norwegia), Anne-Charlotte Lundell (Swedia), Anna Tabitha V. Abeleda (Philipina) Dr. Miguel Felipe (Boston, USA), Branden Grimmentt (USA) dan Hwang Hwa Sook (Korea).

Prof. Dr. Andre de Quadros

Pembukaan dilakukan tanggal 22 Juni sore hari dengan jamuan makan di rumah walikota Tomohon, dan dilanjutkan dengan pertunjukan orchestra dan paduan suara Messiah karya akbar Georg Frederich Handel.

Bersama Sdr. Jefferson S.M Rumajar S.E, Walikota Tomohon

Bertindak selaku konduktor Prof. Andre de Quadros (Boston, USA), dengan solis Hwang Hwa Sook (Soprano-Korea), Ivonne Nouke Dayoh (Alto-Indonesia), Christopher Abimanyu (Tenor-Indonesia). Orchestranya diboyong dari Yogya dibawah asuhan I.G.N Wiryawan Budhiana atau yang lebih dikenal dengan Budi Ngurah.

Mazmur Chorale, Kupang

Suasana akbar Messiah tercipta berkat dukungan dua paduan suara terkemuka yaitu, Paduan Suara Universitas Manado, yang saat ini tercatat sebagai juara dunia dan University of the Visayas Chorale Philipina dibawah asuhan Anna Tabitha Abeleda -Piquero.

Bersama Anna Tabitha Abeleda -Piquero

Berkat dukungan luar biasa dari para pendukung acara, konser ini berlangsung dengan akbar.

Kompetisi Paduan Suara

Kompetisi diselenggarakan dalam kategori : Children Choir , Gospel & Spiritual, Male Choir, Musica Sacra, Female Choir, Youth Choir, Pop & Jazz dan Folklore.

Peserta kompetisi bersama Anna Tabitha Abeleda -Piquero

Pertandingan diadakan di beberapa gereja.

Susana Kompetisi Paduan Suara

Kompetisi berlangsung meriah dan seru dengan bintang-bintang antara lain Mazmur Choral Kupang NTT, dengan konduktor Yakob Andre Masemana, University of the Visayas Choral Philipines, Bitung Student Singers, Universitas Manado Choir, dengan konduktor Riffel Pakasi.

Mazmur Chorale, Kupang

Tomohon terletak di dataran tinggi hanya 30 menit dari Manado, di kaki gunung Lokon.

Makan pagi bersama di Gardenia

Hanya 30 menit dari Tomohon, kita akan mencapai danau Tondano yang sangat indah, berada 1000 meter diatas laut.

Minahasa dalam Kenangan

Minahasa adalah sebutan yang sudah tidak asing lagi bagi kita. Bila nama tersebut terdengar hal yang melayang dalam pikiran kita adalah sambal dabu-dabu, ikan bakar, musik kolintang, keindahan pulau Bunaken, dan tenunan kerawang.

Pulau Bunaken


Pemandangan dari hotel ke pulau Bunaken

Pada saat kita semua merayakan hari buruh, 1 Mei 2009, saya dan istri mengunjungi Minahasa selama 3 malam. Kami memilih hotel The Ritzy Hotel, Jl. Piere Tendean - Manado 95111, Sulawesi Utara, No. Telp. 0431-855555, No. Fax. 0431-868888. Situs yang dapat dikunjungi adalah www.ritzymanado.com, email : info@ritzymanado.com. Hotel ini berada di tepi pantau menghadap ke pulau Bunaken, tepat di pusat kota.

Menikmati keindahan danau

Terumbu Karang


Danau Tondano

Pedagang kue tradisional di Tikala

Toko Kawanua Jalan B.W Lapian No. 33.

Sebenarnya kami ingin menginap juga di Gardenia Country Inn di Tomohon, sebuah kebun raya yang indah milik keluarga Ratulangie, namun sayang pada saat itu hotelnya penuh. Hotel ini beralamat di Jl. Kakaskasen II, Tomohon, Sulawesi Utara, dengan nomor telpon 0431-351282 / 352878. Situs yang dapat dikunjungi adalah http://www.gardeniacountryinn.com/.

Tour ke Bunakaen hanya dikuti oleh istri saya, karena saya telah pernah mengikuti tour tersebut.


Kebun Raya Gardenia


Kebun Raya Gardenia

Keesokan harinya kami berdua melakukan Minahasa Tour, ditemani oleh soerang teman Ismail Sider. Kunjungan pertama ke makam Imam Bonjol, tokoh pejuang asal Sumatera Barat yang dibuang ke Minahasa oleh Belanda hingga akhir hayatnya dan dikubur di dekat Pineleng Sulawesi Utara, pada tanggal 6 November 1864.


Makam Tuanku Imam Bonjol

Tempat sembahyang Tuanku Imam Bonjol


Sungai di belakang makam Tuanku Imam Bonjol

Objek berikutnya yang kami kunjungi adalah industri kayu tradisional Boloan, Tomohon. Mereka membuat berbagai jenis rumah dari kayu kelapa dan jenis-jenis kayu keras lainnya. Harga rumah berkisar sampai Rp. 1.500.000,- / meter persegi. Rumah tersebut dapat dipasang dimana saja di seluruh Indonesia dengan menambahkan biaya angkutan laut. Rumah tersebut dapat diperoleh di Rumah Kayu Walian, Jl. Raya Tomohon, depan pompa bensin, dengan menghubungi Bpk. Ruland Wensen di nomor 0852-40285632



Rumah kayu tradisional

Rumah kayu tradisional

Setelah selesai melihat industri rumah, kami bergegas meluncur ke danau Tondano, sebuah danau yang indah, bersih, dan sejuk karena berada pada ketinggian 1200 m diatas laut. Sungguh suatu pemandangan dan suasana yang menakjubkan. Kami berhenti di pinggir danau untuk makan siang di restoran Tu Mou Tou di Kel. Paleloan Link I, Tondano 95619, No. Telp. 0431-3125847. Kami memilih menu jagung goreng, ikan woku ( gulai khas manado), dan ikan bakar, tentu dengan bumbu khas dabu-dabu. Semua ikan ditangkap langsung dari danau tersebut. Makan makan siang cukup lama karena ditunjang oleh hembusan angin semilir dan pemandangan danau yang indah menawan.


Restoran Tumou Tou

Jagung goreng


Makanan kecil khas Manado

Di Jl. Walanda Maramis terdapat toko kue tradisional Manado yang nikmat seperti alampa, Pulo Betawi, Koyabu, Balapis, Panada, dan asinan “Gohu”.

Selesai makan kami bergegas kembali ke Manado dan berhenti sejenak di daerah kedai minum kopi yang sangat terkenal, dimana setiap calon presiden selalu mampir di kedai tersebut. kalau kita mau menuju kedai tersebut tidak dapat menggunakan mobil, karena jalannya tertutup bagi mobil, sehingga harus berjalan kaki, dengan jarak yang pendek. Kedai tersebut dari pagi hingga malam hari ramai dikunjungi orang dari berbagai lapisan masyarakat. Disana pengunjung juga disuguhi alunan musik dari organ tunggal untuk mengiringi para penyanyi amatir maupun profesional.

Kedai kopi


Samaria Homestay

Samaria Homestay adalah penginapan dengan bangunan yang unik. Terletak di Jl. Raya Sarongsong Lansot No. 2, Tomohon Selatan, dengan nomor telpon 0431-352362 atau 081340005498.


Dalam perjalanan pulang dari Tondano kami juga mengunjungi makam Kiai Mojo.


Di depan komp. Pemakaman Pahlawan.

Demikianlah kenangan saya bersama istri tentang Minahasa.