Showing posts with label Sumatera. Show all posts
Showing posts with label Sumatera. Show all posts

Pemerintah Dorong Investasi Kawasan Konservasi


=



Kawasan Pantai Mandeh-Sumatra Barat


Kawasan konservasi perairan yang mengusung keberlanjutan ekologi diarahkan untuk juga mendatangkan nilai ekonomi. Seiring itu, sebanyak 79 kawasan konservasi perairan mulai dibuka untuk investasi.

Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan Hendra Yusran Siry mengemukakan, investasi kawasan konservasi diharapkan mendorong mekanisme pendanaan yang berkelanjutan dan pengelolaan kawasan secara lebih mandiri. Investasi pemanfaatan kawasan konservasi melalui kerjasama kemitraan diharapkan juga membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Saat ini terdapat total 79 kawasan konservasi perairan nasional dan daerah. Dari jumlah itu, kawasan konservasi yang dibuka untuk izin pemanfaatan yakni 61 kawasan konservasi, terdiri dari 10 kawasan konservasi nasional dan 51 kawasan konservasi daerah. Sebagian kawasan konservasi itu belum ditunjang infrastruktur memadai, di antaranya minimnya kapal pengawasan untuk kawasan.


Hutan Mangrove

”Pengelolaan kawasan konservasi perairan masih banyak yang belum optimal sehingga perlu dioptimalkan pengelolaannya. Namun, tidak seluruh kawasan konservasi bisa dimanfaatkan. Pemanfaatannya hanya pada zona penyangga,” kata Hendra, saat dihubungi, Minggu (20/11/2022).

Izin pemanfaatan mencakup antara lain penyediaan infrastruktur pariwisata alam perairan (PAP) serta penyediaan sarana atau penyewaan peralatan dan jasa pariwisata alam perairan. Hal itu mengacu pada Peraturan Menteri tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko Sektor Kelautan Dan Perikanan.

Ia menambahkan, potensi pemanfaatan kawasan konservasi perairan antara lain untuk budidaya perikanan, penelitian dan pariwisata. Adapun pengelolaan kawasan konservasi yang sudah cukup berkembang adalah Raja Ampat, yang dikelola melalui badan layanan umum daerah. Di sisi lain, banyak potensi dari kawasan konservasi untuk keberlanjutan lingkungan dan sumber daya ikan yang belum termonetisasi. Investasi di kawasan konservasi diharapkan dapat mendorong penataan kawasan, memulihkan lingkungan, dan mengurangi pencemaran.


Wisata Dolphin

”Jika kawasan konservasi dibuka untuk investasi, kawasan konservasi tidak lagi menjadi pusat biaya (cost center), tetapi dapat berperan sebagai pusat pendapatan (revenue center),” kata Hendra.

Luas kawasan konservasi perairan di Indonesia hingga saat ini adalah 28,4 juta hektar dengan luas area zona inti sebesar 0,5 juta hektar atau 1,9 persen. Pemerintah menargetkan perluasan kawasan konservasi dengan target 32,5 juta hektar pada tahun 2030 dan mencapai 97,5 juta hektar hingga tahun 2045.

Hendra mengemukakan, komitmen perluasan kawasan konservasi perairan bertujuan menjamin keberlanjutan stok ikan, melindungi cadangan karbon, serta melindungi ekosistem pesisir dan pulau-pulau kecil untuk kesejahteraan masyarakat.

Secara terpisah, Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan I Nyoman Radiarta mengemukakan, implementasi pembangunan ekonomi biru salah satunya melalui perluasan kawasan konservasi mencapai 30 persen dari seluruh wilayah perairan Indonesia. Jumlah itu meliputi 30 persen kawasan pemijahan, 58.000 hektar lamun, 211.000 hektar mangrove, 1,2 juta hektar terumbu karang, 188 juta tCO2eq stok karbon, dan aset kelautan senilai 21,5 miliar dollar AS.

Selain itu, pengembangan budidaya untuk mendorong nelayan-nelayan di zona penangkapan terukur agar dapat beralih pada budidaya yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. ”Kegiatan budidaya berkelanjutan ini juga akan mendorong penggunaan pakan yang tidak merusak lingkungan dan mengganti dengan bahan baku nabati.

 Kegiatan budidaya akan fokus pada komoditas udang, kepiting, lobster, rumput laut, dan ikan bernilai ekonomis tinggi lainnya,” kata Nyoman dalam pertemuan dengan IPB University akhir pekan lalu.


Novotel Berkibar Kembali di Bukittinggi

Nadya Hutagalung bilang dia jatuh cinta pada Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, yang memiliki banyak pemandangan indah, termasuk Ngarai Sianok, lembah curam yang tak jauh dari pusat kota "Jam Gadang" itu.

"Selama ini, kan, kalau liburan enggak pernah ke Bukittinggi. Pas ke sana baru tahu bahwa Bukittinggi itu ternyata bagus banget," kata Nadya seperti dikutip oleh Kompas (27/12/2015)

Panorama paling spektakuler di Bukittinggi di mata Nadya adalah kala matahari tenggelam. "Saya sampai menahan napas karena indahnya," kata Nadya. Nadya pun menuliskan kekagumannya di akun Twitter-nya, "Bukittinggi is beautiful!".

Well, it is beautiful... :)

Di Bukittinggi ini juga berdiri the most romantic hotel in Indonesia, Hotel Novotel Bukittinggi, yang baru saja merayakan anniversary-nya yang ke-20. Hotel yang arsitekturnya memadukan budaya Muslim dan Minang ini diresmikan pada tanggal 10 November 1995 oleh Menteri Pariwisata saat itu, Joop Ave.



Sepuluh tahun yang lalu hotel ini sempat dikelola sendiri dengan nama The Hills Bukittinggi, kemudian pada tahun ini, 2015, dikelola kembali oleh Novotel, Accor Asia Pacific. Meski sempat pasang surut, namun hingga kini Hotel Novotel Bukittinggi masih berkibar di hadapan Gunung Merapi dan Singgalang.

(Baca juga: The Hills dan Bung Ciil)





Trotting Through Bukittinggi




Bukittinggi telah banyak berubah dari asal muasalnya sebagai kota dagang yang sederhana di Sumatera. Dengan menumpang bendi, Mark Eveleigh menjelajahi kota terbesar kedua di Sumatera Barat ini untuk melihat betapa kota ini masih menyimpang banyak daya tarik suasana pedesaannya.

“Bukittinggi adalah kota berkekuatan 300 tenaga kuda,” ujar Andi Taufik sambil tersenyum saat mengarahkan kuda jantannya, Bersanok, keluar dari semrawutnya kumpulan bendi yang menyesaki jalan di Pasar, di bagian kota yang lebih rendah. “ Saya sudah menarik bendi sejak masih kecil dan waktu itu, masih ada lebih dari 1.000 bendi.”

Udara pegunungan yang sejuk membawa aroma manis dari buah-buahan tropis dan sayur mayor yang baru dipetik, diiringi angin yang sarat wangi rempah dari kios penjual cengkih, pala, kopi, dan kayu manis terpanjang yang pernah saya lihat. Bendi yang ada penuh dengan muatan bahan segar dan para ibu rumah tangga menumpang bendi tersebut, sambil mengobrol dengan kurir pilihan mereka hari itu.




Kota dataran tinggi yang berada di lereng gunung berapi Sumatera Barat ini terkenal dengan bendi-bendinya yang berwarna cerah. Sebelum tiba disini, saya menyangka kuda kuda tersebut hanya disediakan bagi wisatawan yang ingin melihat tempat tempat bersejarah. Namun, Andi Taufik menjelaskan kepada saya, dengan adanya lebih dari 300 bendi yang hilir mudik di jalan, kendaraan tradisional ini masih tetap menjadi bagian penting dari system transportasi umum Bukittinggi.

“Sehari-hari, banyak orang yang pergi berbelanja dengan naik bendi, “ katanya seraya spontan menenangkan Benasok yang panik karena suara klakson bus yang tiba-tiba menghentak. “Menurut saya, hal itu karena banyak orang-orang tua yang cemas dengan cara berkendara tukang-tukang becak ini atau ojek-ojek yang nekat. Mereka ini orang-orang desa yang lebih suka hidup dalam irama yang tenang.”





Sesungguhnya, Bukittinggi ini memiliki satu hal yang khusus. Begitu anda menginjakkan kaki disana, anda seperti langsung terbebas dari irama kota modern yang serba cepat. Kota ini berdiri dalam Negara agraris yang berfungsi sebagai pusat logistic bagi lima desa di sekitarnya. Tetapi kini, Bukittinggi menjadi pusat bisnis dan pendidikan yang terkemuka. Meski menjadi kota terbesar kedua di Sumatera Barat (setelah Padang), kota yang ramai dengan 117.000 penduduk ini tentu merupakan salah satu kota paling santai di Indonesia. Luangkanlah waktu untuk menjelajahi kota sambil menumpang bendi (atau berjalan kaki) dan anda dapat melihat bahwa Bukittinggi masih mempertahankan suasana kota dagang yang tenang.

Meskipun Bendi dapat ditemukan dengan mudah, sebagian besar objek wisata yang wajib dikunjungi di kota bersejarah ini justru lebih mudah dijelajahi dengan berjalan kaki. Penjajah Belanda memosisikan pasukan utama mereka di sini dan menamai kota ini Fort de Kock, sesuai nama Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Hendrik Merkus de Kock. Benteng itu sendiri, Benteng Fort de Kock, dibangun selama Perang Padri tahun 1825. Kini, area benteng batu tua tersebut merupakan tempat yang sangat tenang dengan adanya pasangan dan keluarga yang berjalan-jalan diantara pavilion kecil nan indah serta meriam besi kuno uang ditinggalkan penjajah Belanda. Jembatan Limpapeh yang panjang ini menjadi penghubung antara Benteng dengan seperempat bagian kota yang lebih tinggi, yang dikenal secara harafiah sebagai “Bukit Tinggi” pada 1949




Jembatan ini (kini menjadi jembatan pedestrian) merupakan hasil peninggalan kejayaan masa colonial di Sumatera dan kini menawarkan pemandangan terindah yang dapat dinikmati dari bangunan beton beratap lengkung khas arsitektur tradisional Minangkabau di Bukittinggi. Di ujung timur jembatan, anda dapat menemukan Kebun Binatang Bukittinggi dan diseberangnya ada Pasar Atas dengan sejumlah gang berkelok. Jika pasar di kaki bukit selalu menjual bahan bahan pangan sejak dulu, Pasar Atas kini menjadi pasar besar menakjubkan yang menjual segala sesuatu, mulai dari pakaian dan perabot kayu buatan lokal hingga peninggalan unik zaman Jepang dan Belanda. Semakin keatas, di Taman Bundo Kanduang, anda akan mendapati ikon paling terkenal di Bukittinggi yaitu Menara Jam Gadang yang dibangun Belanda tahun 1926. Semula menara iin memiliki atap dengan hiasan ayam jantan (saat itu merupakan ornamen Jepang pada masa perang), namun setelah kemerdekaan, atap tersebut digantikan dengan atap yang lebih sesuai dengan gaya Minangkabau. (Ada keunikan lain pada jam ini yang hanya dapat dijelaskan oleh almarhum pembuat jam, mengapa angka 4 dilambangkan dengan IIII, bukan dengan IV seperti pada umumnya).

Bukittinggi memiliki tempat tersendiri di hati bangsa Indonesia sebagai pusat perjuangan Indonesia sebagai pusat perjuangan kemerdekaan dan ada satu tempat khusus untuk penghormatan yang benar-benar ingin saya kunjungi, namun agak jauh dari pusat kota. Saat saya sedang berteduh di bawah pohon-pohon rindang di sekitar Jam Gadang itulah saya bertemu dengan Andi Taufik dan kudanya, Benasok. Dalam perjalanan menuju tempat kelahiran salah satu bapak Proklamasi Indonesia, sang kusir menawarkan untuk membawa saya mengunjungi kuburan Jepang. Saya tak yakin akan menemukan sesuatu selain barisan pekuburan Jepang, tetapi saat Pak Andi bercerita tentang pemandangan luar biasa diatas Ngarai Sianok, dengan antusias, saya setuju untuk mampir. Ngarai itu sendiri memang sespektakuler seperti yang dikatakan sang kusir dan karena taman yang berpanorama indah itu sedang mengalami perbaikan, hanya sejumlah kecil bagian kuburan yang dapat dilihat. Pengalaman ini terus melekat dalam ingatan saya sebagai satu pengalaman paling tak terlupakan di Bukittinggi. Selama pendudukan Jepang pada Perang Dunia II, Tentara Kekaisaran membuat bangunan luas dibawah tanah untuk kantor, barak, dapur, dan ruang persenjataan jauh di dalam dasar bukit. Tangga batu yang terdiri dari 132 anak tangga menurun hingga ke dasar gua-gua yang sepi menakutkan. Sungguh suatu pengalaman menyeramkan jika harus berkeliling disini sendirian, bunyi langkah kaki anda bergema di kegelapan lorong gua, mustahil untuk mengalihkan anda dari imajinasi tentang hantu-hantu yang bersembunyi dan mengawasi dari balik kegelapan.

Saya sempat tersesat sebentar dalam terowongan tersebut sehingga saat kami tiba di rumah tempat Bung Hatta, salah satu pendiri Indonesia, hari sudah sore. Rumah itu dipertahankan sebagai museum yang sarat cita rasa dengan menyajikan wawasan langka tentang seperti apa kehidupan keluarga kaya Indonesia dibawah penjajahan Belanda. Di zaman modern yag sedemikian memudahkan komunikasi dan transportasi ini, sering kali sulit untuk sungguh-sungguh merasakan kehidupan leluhur kita. Rumah kayu tua yang memiliki perabot sederhana ini memberi kilasan pesona Indonesia yang nyaris pudar.

Sang proklamator bedar lahir tahun 1902. Sambil berkeliling dan bertanya dalam hati seberapa banyak kiranya Bung Hatta masih dapat mengenali kota Bukittinggi yang modern ini, saya pun memasuki kebun belakang dan melihat sebuah benda yang tidak asing. Di halaman belakang, ada bendi yang telah dipercantik, yang merupakan milik keluarga Bung Hatta saat dia masih kanak-kanak.

Bendi itu nyaris sama dengan bendi milik Andi Taufik yang sedang menunggu di luar. Saya pun menyadari, diantara sekian banyak kekayaan sejarah di “kota 300 daya kuda” ini, pasti ada cukup banyak hal yang sangat dihargai Bung Hatta seandainya dia dapat melihatnya.

Majalah Colours Garuda Indonesia, Januari 2015







BELITUNG

Pada tanggal 13-15 Mei 2011 kemarin, kami berkunjung ke Belitung, sebuah kota yang terletak di Kepulauan Bangka Belitung. Pulau Belitung dulu lebih dikenal sebagai tempat penambangan timah terbesar di Indonesia. Setelah terbang selama +/- 60 menit, sampailah kami di Bandar Udara H.AS Hanandjoeddin atau dikenal dengan nama Bandar Udara Buluh Tumbang yang terletak di Tanjung Pandan.


Bandar Udara H.AS Hanandjoeddin - Tanjung Pandan

Hari Pertama, Jumat 13 Mei 2011
Kami menginap di Cottage Pondok Impian, Jl. Pattimura No. 8, Tanjung Pandan – Belitung. Cottage ini terletak di tepi pantai tanjung pendam, tempat menanti sunset di pusat kota tanjung pandan. Terdapat 11 kamar Deluxe dan 9 Cottage.

Kami mengunjungi Pantai Tanjung Tinggi, di pantai ini beberapa adegan dalam film Laskar Pelangi 2 (Sang Pemimpi) diambil seperti adegan anak-anak yang duduk dibatu-batu besar. Pasir di Pantai Tanjung Tinggi ini berwarna putih dan lembut. Batu-batu besar tersebar di berbagai sudut pantai.

Pantai Tanjung Tinggi


Senja di Pantai Tanjung Tinggi





Dari Pantai Tanjung Tinggi kami kembali ke hotel di Tanjung Pandan, perjalanan memakan waktu sekitar 45 menit.

Malam harinya kami mengikuti acara pengajian di rumah Bupati Belitung, Bpk. Darmansyah Husein. Dilanjutkan dengan presentasi mengenai strategi pengembangan Kabupaten Belitung.




Hari Kedua, Sabtu, 14 Mei 2011
Setelah sarapan pagi, kami akan mengunjungi pulau-pulau kecil di utara Pulau Belitung, seperti Pulau Pasir, Pulau Burung, Pulau Lengkuas, dll.

Untuk mengunjungi pantai-pantai tersebut, kami menuju Tanjung Kelayang. Dari Tanjung Kelayang kami naik perahu nelayan dengan tujuan pertama adalah Pulau Pasir.


Pulau Pasir


Pulau pasir ini kecil sekali, terdiri dari gundukan pasir putih di tengah lautan. Di sekitar Pulau Pasir, banyak bintang laut dan bisa dipegang.

Selanjutnya kami mengunjungi Pulau Burung. Di sini bisa snorkling. Yang menarik disini terdapat batu granit yang berbentuk seperti burung. Dinamakan Pulau Burung mungkin karena hal tersebut.

Pulau Burung

Setelah mengunjungi Pulau Burung, kami mengunjungi Pulau Lengkuas yang luasnya kurang dari 1 hektar . Disini ada Mercusuar tua yang sudah tidak terpakai lagi, dibangun oleh Belanda tahun 1882. Tingginya sekitar 50 meter. Pemandangan dari atas mercusuar sangat indah.



Setelah dari Pulau Lengkuas, kami kembali lagi ke Tanjung Kelayang untuk makan malam di Hotel Grand Pelangi.

Hari ketiga, Minggu, 15 Mei 2011
Sekitar jam 7 pagi kami ke Kedai Kopi Tiga Jaman, yang terletak di depan alun-alun Belitung. Disebut Tiga Jaman karena turun temurun dihidangkan kopi, kopi susu dan teh susu. Makanan favorit di kedai kopi ini seperti : lontong cap gomeh, bakwan udang dan berbagi kue. Ada atraksi musik melayu di dekat Kedai Kopi Tiga Jaman.

Kedai Kopi Tiga Jaman


Pemandangan dari Hotel Lor in ke Pantai

Lokasi Syuting Film Laskar Pelangi

Kunjungan kami selanjutnya adalah Hotel & Resort Lor in, Tanjung Tinggi.

Dari Hotel & Resort Lor in, kami kembali lagi ke Pantai Tanjung Tinggi, berfoto di tempat lokasi film Laskar Pelangi. Setelah itu kami menuju ke Bandar Udara H.A.S Hanandjoeddin untuk kembali ke Jakarta.

Bon Appetit Palembang

Bon appetit!

Orang selalu menyebut pempek sebagai makanan khas Palembang. Namun sebenarnya ada makanan unggulan lain di Sumatra Selatan, yaitu pindang. Pindang ini sejenis semur khas yang dapat berisi daging ataupun ikan.

Tiap daerah mempunyai makanan khasnya masing-masing. Yang cukup terkenal adalah pindang Musi Rawas.

Daerah Musi Rawas terletak di 300 km arah Barat Daya Palembang. Jika kita berkendaraan mobil, kita akan melalui Kab. Banyuasin, kemudian Kab. Musi Banyuasin yang ibukotanya Sekayu, setelah itu barulah kita akan mencapai Musi Rawas.

Perjalanan menuju Sekayu terasa menarik karena kita menyusuri daerah aliran sungai Musi. Sungai terpanjang di Pulau Sumatra itu tampak sungguh tenang, menghanyutkan, dan menakjubkan.

Kota Sekayu sendiri memperlihatkan pembangunan yang mengesankan, di antaranya gelanggang olah raga, kolam renang, dll. Kab. Musi Banyuasin yang biasa disebut Muba, memiliki sekolah sepak bola untuk kelompok umur 15-18 tahun, yang dilatih oleh pelatih berkualitas. Tidak heran jika minggu yang lalu sepak bola KU15 Muba menjadi juara kedua nasional.

Berikut foto-foto perjalanan wisata kami di kota yang dulunya dijuluki "Venesia dari Timur Jauh" ini.

Welcome to Palembang

Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II

Bersama Gita dari MEPI

Hotel Novotel Palembang

Banyak restoran pindang di kota ini, dan salah satu yang terkenal adalah RM Pindang Musi Rawas atau sering disingkat PMR.

Berbagai menu khas di PMR

Alamatnya di Jl. Angkatan 45 No. 18 Rt. 42 Rw. 12, Telp. 370590 Pakjo - Palembang.

Benteng Kuto Besak (BSB)

Benteng ini dibangun selama 17 tahun, yang diresmikan pada 1797. Pada awalnya menjadi Pusat Kesultanan Palembang di bawah kepemimpinan Sultan Mahmud Badaruddin I. Dindingnya sepanjang 288 m, lebar 183 m, tinggi 99,9 m, dan tebalnya 1,99 m.

Jembatan Ampera

Dulunya, jembatan ini dinamai Jembatan Bung Karno. Ini sebagai bentuk penghargaan kepada Presiden RI pertama itu karena ia secara sungguh-sungguh telah memperjuangkan keinginan warga Palembang untuk memiliki sebuah jembatan di atas Sungai Musi.

Peresmian pemakaian jembatan dilakukan pada tahun 1965. Pada saat itu, jembatan ini adalah jembatan terpanjang di Asia Tenggara.

Ketika terjadi pergolakan politik pada tahun 1966, nama jembatan ini pun diubah menjadi Jembatan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat).


Pada awalnya, bagian tengah badan jembatan ini bisa diangkat ke atas agar tiang kapal yang lewat di bawahnya tidak tersangkut badan jembatan. Diangkat dengan peralatan mekanis, dua bandul pemberat masing-masing sekitar 500 ton di dua menaranya. Pengangkatannya memerlukan waktu 30 menit.

Namun sejak tahun 1970 tidak difungsikan lagi karena dianggap mengganggu lalu lintas di atasnya.



Sungai Musi, sebagai sungai terbesar di Sumatera, merupakan sumber kehidupan warga Palembang.

Sungai ini membelah Kota Palembang menjadi dua bagian kawasan. Masing-masing kawasan Seberang Ilir di bagian utara dan Seberang Ulu di bagian selatan.

Sungai yang menjadi tempat bermuara ratusan sungai-sungai kecil ini menyebabkan Palembang dijuluki Kota Seratus Sungai.

Masjid Agung Palembang

Dibangun pada tahun 1738. Masjid yang mempunyai arsitektur yang khas dengan atap limasnya ini, konon merupakan bangunan masjid yang terbesar di nusantara pada kala itu. Arsiteknya orang Eropa dan beberapa bahan bangunannya seperti marmer dan kacanya diimpor dari Eropa.




Toko Songket di Pusat Kerajinan Palembang Makmur Jaya.
Alamat: Jl. Ki Gede Ing Suro No. 21. Telp. (0711) 367686.

Jembatan Ampera di waktu malam