Surga Segala Pohon

Kebun Raya Bogor pada awal abad ke-19 disebut-sebut sebagai surga dan kebanggaan Pulau Jawa. Jalan Kenari atau Kanari Avenue yang menjadi akses utama menuju Buitenzorg disebut sebagai jalan terbaik di dunia saat itu.

Tugu Lady Raffles
(KOMPAS/LUCKY PRANSISKA)

Segala puja-puji ini dituliskan Eliza Ruhamah Scidmore dalam bukunya Java: The Garden of The East yang terbit pertama kali tahun 1899. Scidmore cukup lengkap menggambarkan kondisi kebun raya dan koleksinya saat itu, yang sebagian besar masih bisa kita temui saat ini. Koleksi palem, bambu, anggrek, manggis, rambutan, beringin, paku-pakuan, kamboja, hingga tanaman bernilai ekonomis, seperti tebu, karet, teh, kopi, dan rempah-rempah.

Kebun Raya Bogor menjadi kebanggaan Belanda, bersaing dengan Perancis yang saat itu mencoba mengembangkan tempat serupa di Saigon (Ho Chi Minh City) serta Inggris di Singapura, Ceylon (Sri Lanka), Kalkutta, dan Jamaika.

Asia Tenggara selama 300 tahun menjadi fokus negara-negara Eropa dalam upaya mengontrol perdagangan rempah-rempah. Kebun raya, terutama di Bogor dan Singapura, memainkan peran penting dalam riset tanaman rempah dan tumbuhan lain dalam konteks kepentingan ekonomi, seperti disebut Francis Ng dan Gregori Hambali dalam bukunya Bogor, The Botanic Garden.

Kebun Raya Bogor (KRB) yang semula taman Buitenzorg dinaikkan statusnya menjadi kebun raya pada tahun 1817 oleh CGC Reinwardt yang saat itu menjabat direktur pertanian, seni, dan ilmu pengetahuan di Jawa. Reinwardt kemudian menjadi direktur pertama KRB. Patungnya dibangun di tepi danau gunting yang menghadap Istana Buitenzorg atau sekarang Istana Bogor.

Buitenzorg sendiri berarti without care atau tanpa pemeliharaan. Tanpa diapa-apakan, tempat itu aslinya memang sudah indah yang membuat Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff kepincut dan membangun tempat peristirahatan di sana pada tahun 1744. Sumber-sumber tidak tertulis menyebutkan, area KRB pada masa Kerajaan Pajajaran adalah samida atau kebun raja.

Dari semula 900 tumbuhan yang ditanam di lahan seluas 47 hektar, kini KRB yang mencakup luas 87 hektar memiliki koleksi 4.021 jenis dan 19.580 spesimen tanaman. Semuanya terbagi dalam koleksi kebun, koleksi rumah kaca anggrek, koleksi rumah kaca paku, dan koleksi rumah kaca begonia. KRB juga menjadi rumah bagi serangga, kalong, dan burung, seperti kepodang, kucica, cinenen, dan cekakak.

Istana Bogor
(KOMPAS/LUCKY PRANSISKA)

Jika dulu Belanda mengembangkan KRB sebagai tempat untuk adaptasi dan aklimatisasi tumbuh-tumbuhan yang didatangkan dari luar Indonesia, kini fungsi itu bertambah. Meski tetap ada kegiatan penelitian domestifikasi dan seleksi tumbuhan berpotensi ekonomis, fungsinya kini lebih ditekankan pada konservasi tanaman yang terancam punah, restorasi tanaman langka, dan riset perubahan iklim.

Pepohonan di KRB tidak luput dari pengaruh perubahan iklim. Begitu pun Bogor yang dahulu digambarkan hujan hampir setiap hari kini tidak bisa berkelit dari iklim global.

Setiap pohon di KRB memiliki identitas dan sejarah masing-masing yang ditulis lengkap. Data itu tetap dipertahankan meskipun pohon sudah mati. Selain pohon-pohon bersejarah, kebanggaan KRB yang lain adalah koleksi bunga rafflesia (Rafflesia arnoldii) dan bunga bangkai (Amorphophallus titanum) yang berasal dari Sumatera. Kedua jenis koleksi ini menjadi ikon KRB. Setelah tujuh tahun penelitian, rafflesia yang sebenarnya parasit ini akhirnya bisa dibudidayakan.

Bunga rafflesia ditemukan oleh Thomas Stamford Raffles yang menjadi gubernur jenderal di Jawa (1811-1816). Raffles juga terpikat dengan Buitenzorg dan sempat membentuk kebun Istana Buitenzorg menjadi taman bergaya Inggris. Ketika istrinya meninggal di Batavia akibat malaria pada tahun 1814, ia membangun Monumen Lady Raffles di dalam kebun istana untuk mengenang sang istri, Lady Olivia Mariamne. Beberapa tempat, jalan, atau laboratorium di KRB diberi nama berdasarkan nama-nama mereka yang dinilai berjasa.

Peran penting KRB yang lain adalah memelopori budaya penelitian di Indonesia. Sejumlah lembaga penelitian, museum, hingga perguruan tinggi muncul sebagai perkembangan dari kegiatan penelitian di KRB.

~ o 0 o ~

Sumber:

Kompas, 18/102015

Subak, Riwayatmu Kini



Gagasan masyarakat Yunani kuno dengan republik ternyata masih hidup di Bali. Tak seperti Republik Indonesia yang besar, bermasalah, dan sulit menerapkan hukum langsung pada anggotanya, masyarakat desa Bali dengan kesederhanaan justru menjadi representasi republik sejati.

--Sunaryono Basuki Ks, KOMPAS (29/08/2012)


Subak merupakan salah satu sistem demokrasi tertua di dunia. Sistem pengairan subak, pembagian air untuk persawahan, pura, dan bagi masyarakat menggunakan filosofi demokratis yang tidak mengambil dari luar tetapi menggali dari dalam negeri sendiri.

Di Bali, sistem pura air yang diwariskan nenek moyang memungkinkan subak untuk mengatur kegiatan di sepanjang aliran sungai. Naskah leluhur dari raja-raja Bali di abad kesebelas menyebutkan tentang sistem subak dan pura air yang sebagian masih berfungsi sampai sekarang. Sistem pengairan dianggap sebagai anugerah dari dewi penguasa danau yang terbentuk dari kawah. Setiap subak memberikan persembahan kepada para dewa dewi di pura air masing-masing. Pura ini juga menjadi tempat bertemu bagi para petani guna memilih pemimpin dan membuat keputusan bersama tentang jadwal pengairan mereka. Kelompok-kelompok subak yang memiliki sumber air yang sama membentuk perkumpulan pura air per wilayah, di mana semua subak menyepakati jadwal tanam di Daerah Aliran Sungai (DAS).

Pada sistem subak terjadi model kerjasama sosial dalam mengelola air, intinya di dalam sistem sosial, bentang lahan (landscape) tidak boleh diubah.  Aliran sungai yang tercipta oleh aliran gunung vulkanik tidak diubah, tetapi diatur aliran airnya untuk memenuhi kebutuhan areal persawahan. Jika terjadi pelanggaran, hukuman yang dijatuhkan, dilakukan melalui pembayaran sanksi denda berupa uang maupun kewajiban melakukan upacara.  Karena sifatnya yang dibangun dari bawah (bottom up), pemerintah tidak melakukan intervensi dalam pengelolaan sistem subak ini.

Dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat dan berorganisasi, masyarakat adat Bali mempunyai konsep Tri Hita Karana sebagai landasannya. Menurut pengertiannya Tri Hita Karana adalah tiga penyebab kesejahteraan di dalam kehidupan manusia. Pengertian tersebut diambil dari masing-masing katanya yaitu Tri yang artinya tiga, Hita yang artinya sejahtera dan Karana yang artinya penyebab. Konsep tersebut kemudian diterapkan juga pada sistem organisasi subak. Penerapan konsep ini bertujuan agar keseimbangan hidup (antara Tuhan, manusia dan alam) sebagaimana dalam ajaran agama Hindu tetap terjaga.

Tantangan terhadap Subak Saat Ini



Lanskap subak di Bali yang sudah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia menghadapi tantangan, antara lain alih fungsi lahan dan minimnya regenerasi petani. Ratusan hektare lahan sawah di Bali beralih fungsi tiap tahun. Peralihan fungsi lahan sawah juga berdampak rusaknya sistem irigasi pertanian, yang berpengaruh terhadap subak.

Steve Lansing, dari Arizona University yang telah lebih dari tigapuluh tahun meneliti tentang subak, menguraikan beberapa ancaman terhadap keberadaan subak saat ini, seperti dikutip oleh Mongabay.co.id:
  • - Penggunaan bahan kimia (pestisida) yang memperngaruhi kesuburan tanah. Petani sulit untuk mengembalikan lahan pertanian untuk produksi organik, karena lahan telah telanjur menggunakan bahan kimia penyubur tanah selama bertahun-tahun.
  • - Turisme yang menyebabkan fragmentasi teras persawahan Subak, meningkatnya laju penjualan lahan pertanian dan hilangnya kesatuan bentang lahan yang berganti menjadi lahan komersil untuk pembangunan hotel, villa, kios-kios souvenir.
  • - Kualitas air yang menurun disebabkan pesatnya tekanan pembangunan di kawasan hulu dan hilangnya wilayah tutupan hutan.
  • - Potensi terjadinya bencana alam termasuk gempa bumi yang bisa menyebabkan perubahan bentang lahan dan aliran air disebabkan Bali merupakan wilayah vilkasin.
  • - Perubahan iklim yang dapat berpengaruh terhadap frekuensi curah hujan baik menjadi lebih maupun curah hujan yang berkurang.


Usaha Konservasi Subak

Mengenai ancaman alih fungsi lahan subak, permasalahan yang terjadi sangatlah sistemik. Ketika sebuah petak sawah dijual untuk dikonversi menjadi bangunan komersial seperti hotel, maka otomatis pajak bumi dan bangunan serta tanah akan menjadi meningkat, tidak saja untuk bidang lahan yang dijual tersebut, namun juga berimbas untuk bidang lahan tetangganya yang berada dalam satu area.

Tentu saja, seorang petani tidak akan mampu untuk membayar pajak yang tinggi yang tidak sebanding dengan penghasilan yang dihasilkannya. Akibatnya, terjadi efek domino, seluruh wilayah yang terbebani oleh pajak yang meningkat akan dilepaskan oleh para petani. Alih-alih membayar pajak tinggi, pada akhirnya mau tidak mau, lahan persawahan produktif terpaksa dijual oleh pemiliknya. Dengan terjadinya efek berantai dari penjualan tanah, pada akhirnya sistem subak akan kolaps dan dikuatirkan berujung pada kehancuran.

Salah satu organisasi yang peduli terhadap keberlangsungan subak ialah Yayasan Konservasi Sawah Bali (Bali Rice Field Conservation Foundation). Manajemen pengelolaan lahan sawah yang akan diperkenalkan Yayasan ini mirip dengan konsep 'Land Trust' di Amerika Serikat yang telah berhasil diterapkan selama 40 tahun untuk melestarikan lahan pertanian. Yayasan Sawah Bali akan meniru konsep 'Land Trust' di AS untuk menjaga agar penduduk sekitar wilayah 'pilot project' mampu bekerja sama secara produktif dengan menerapkan praktek pengelolaan lahan dan sumber daya alam yang baik guna meningkatkan daya saing produk pertanian lokal.

Sebanyak 135 anggota Subak Malung Bulu Jauk di desa Bunutan dan Tanggayuda, Ubud Utara, telah bersedia dan bertekad untuk menjadi subak pertama di Bali yang berpartisipasi dalam 'pilot project' ini. Konsep pertama dan yang paling sentral dalam usaha konservasi lahan adalah dengan menawarkan kompensasi finansial untuk lahan sawah petani lokal setiap tahun agar tetap melanjutkan pengelolaan pertanian. Sebagai gantinya, pemilik lahan sawah akan kehilangan hak mereka untuk menjual sawah mereka untuk tujuan pembangunan rumah, gedung, villa, dan bangunan lainnya. Pemilik sawah tetap mendapatkan hak milik sepenuhnya terhadap lahan sawah mereka dan dapat diperjualbelikan kepada petani lain untuk pengelolaan pertanian atau diwariskan kepada ahli warisnya.

Dalam proses ini, para petani akan diberikan bimbingan teknis serta konsultasi dengan para ahli untuk melaksanakan sistem pertanian 100% organik, menanam padi dan tanaman lain dalam rangka menjaga kelangsungan lahan pertanian.

~ o 0 o ~

Sumber:

nationalgeographic.co.id

worldagroforestry.org

sawahbali.org

Ekonom Angus Deaton Meraih Nobel Ekonomi 2015

Pemenang Hadiah Nobel Ekonomi 2015, Angus Deaton, terpampang di layar lebar saat pengumuman oleh Sekretaris tetap Royal Swedish Economy of Sciences, Goran K. Hanson (tengah), Ketua Komite Tore Ellingson (kiri),  dan anggota akademi Jacob Svensson, Selasa (12/10), di Stockholm, Swedia (sumber gambar: REUTERS/TT NEWS AGENCY)

The Royal Swedish Academy of Sciences menganugerahkan penghargaan The Sveriges Riksbank Prize dalam Ilmu Ekonomi untuk Mengenang Alfred Nobel kepada ekonom Angus Deaton dari Princeton University, Amerika Serikat, untuk analisisnya tentang konsumsi, kemiskinan dan kesejahteraan.

Deaton, yang mempunyai dua kewarganegaraan Inggris dan Amerika, dan lahir di Skotlandia, telah menjadi Profesor Ekonomi dan Hubungan Internasional pada Universitas Princeton di New Jersey sejak tahun 1983.

Komite Nobel mengatakan hasil penelitian Deaton berusaha memecahkan tiga pertanyaan, yaitu: bagaimana konsumen mendistribusikan uang belanja mereka di antara pilihan barang-barang yang berbeda; berapa banyak penghasilan masyarakat (konsumen) dibelanjakan dan berapa banyak yang ditabung, dan bagaimana cara yang tepat untuk mengukur dan menganalisa tingkat kesejahteraan dan kemiskinan (masyarakat)?

Komite itu mengatakan penelitian Deaton telah menunjukkan "bagaimana penggunaan data ekonomi pada tingkat rumah tangga secara tepat dapat menjelaskan isu-isu, seperti hubungan antara tingkat penghasilan dan jumlah asupan kalori, serta sejauh mana tingkat diskriminasi gender dengan keluarga."

Pemahaman secara mendalam tentang pola konsumsi sangat penting. Sebab, lewat pengenalan pola konsumsi, para pembuat kebijakan bisa meluncurkan produk kebijakan yang tepat sehingga konsumen tidak dirugikan alias tidak menjadi miskin.

Data statistik



Bagaimana mendapatkan reaksi individu-individu tersebut, Deaton mengatakan, dia mengandalkan survei rumah tangga. Dia menambahkan, di banyak negara, dia mengandalkan data statistik, terutama yang menjaring data tentang pola-pola konsumsi individu. "Kesalahan memahami data individu-individu konsumen bisa berakibat pada kebijakan yang gagal total," kata Deaton.

Untuk karyanya, Deaton telah menerapkannya antara lain di India, sejumlah negara di Afrika, dan negara berkembang lain. Analisis Deaton tidak hanya terbatas pada konsumsi terkait makanan. Hal itu juga bisa diterapkan pada konsumsi barang-barang kebutuhan lain, termasuk jasa pendidikan. Misalnya, bagaimana layanan jasa pendidikan terjangkau dan berkualitas bisa disediakan karena akan sangat menentukan bagi pengembangan sumber daya manusia. Dan, ini akan sangat menentukan kesejahteraan sebuah bangsa.

Analisisnya juga bisa diterapkan untuk pemberian subsidi yang mengandalkan anggaran pemerintah dan kelompok masyarakat mana yang amat memerlukan subsidi. Ini diperlukan sehingga subsidi tidak sia-sia.

Tujuan utama Deaton adalah juga untuk mengangkat status sosial ekonomi warga dunia yang masih banyak hidup di bawah garis kemiskinan. Hal itu antara lain bisa dilakukan lewat kebijakan yang tepat, tetapi harus dengan terlebih dulu memahami karakter individu-individu warga di sebuah negara.

~ o 0 o ~

Sumber:

kompas.com
voaindonesia.com

#sharing Handry Satriago tentang Keajaiban


Keajaiban adalah milik Allah, Tuhan Yang Maha Mengatur. Yang diminta dari manusia adalah ke-tidak-pernah-berhenti-an untuk berusaha.

--Handry Satriago


pic from marketeers.com

Seorang Handry Satriago sendiri adalah keajaiban bagi Indonesia. Ia adalah orang Indonesia pertama yang mencapai posisi puncak General Electric (GE) Indonesia, dan juga CEO termuda dalam sejarah GE global. Seperti kita ketahui General Electric adalah perusahaan raksasa kelas dunia, yang telah berumur 130 tahun. Didirikan Thomas Alva Edison di Amerika, perusahaan ini hadir di Indonesia sejak 70 tahun lalu--dan kini menggurita di 100 lebih negara.

Kehidupan masa remaja Handry tidak bisa dibilang mudah. Ia terkena kanker kelenjar getah bening pada usia 17 tahun (1987) yang merenggut daya kedua kakinya sehingga ia menjalani hari-harinya hingga kini di atas kursi roda. Handry dalam bukunya #sharing2 menulis:

Adalah suatu keajaiban bagi saya, ketika saya akhirnya berani untuk keluar dari kamar dan sekolah lagi untuk meneruskan hidup saat kelumpuhan kaki saya dinyatakan permanen. Betul ada proses usaha untuk bouncing back di situ. Ada nasihat dari ayah dan ibu saya. Ada api semangat yang timbul dari proses perlawanan. Namun, di atas semua itu, ada yang "menghidupkan" tombol perjuangan tadi. Itulah keajaiban dari Allah.

Adalah suatu keajaiban bagi saya, bahwa saya bisa bekerja di GE, dan menjadi CEO GE di Indonesia. Lho, bukankah itu hasil dari segala perjuangan, pembelajaran, dan segala macamnya yang saya sering sharing-kan di kultwit maupun di buku? Betul, tentunya ada upaya yang saya lakukan. Namun, siapa yang mengatur bahwa di pertengahan tahun 1996 itu akan ada seseorang yang memberikan kuliah tamu di IPMI dan orang itu adalah Stuart Dean, CEO GE Indonesia kala itu, yang kemudian tertarik dan ingin merekrut saya karena saya meluncurkan beberapa pertanyaan serta komentar yang menurut dia bagus? Bukankah hal ini tidak akan bisa saya ciptakan atau saya atur berdasarkan semua ilmu pengetahuan yang saya miliki? Itu adalah keajaiban dari Allah.


Awal prestasi Handry di GE Indonesia adalah ketika menangani Divisi GE Lighting, ia melejitkan pendapatan Divisi ini nol ke 3 juta dolar AS (sekitar 30 milliar rupiah) dalam waktu dua tahun. Beberapa proyek yang tercatat dalam portofolionya adalah pencahayaan Bandara Ngurah Rai Denpasar, pencahayaan Candi Prambanan, dan menyediakan 1.400 lampu pijar untuk jalanan di Jakarta.

Tanpa bermaksud sombong, saya telah mengarungi hampir tujuh samudra dan lima benua, saya duduk sebagai tim pimpinan di salah satu perusahaan terbesar dan tertua di dunia, dan saya telah menamatkan jenjang pendidikan formal tertinggi. Apakah semua hal ini terjadi karena usaha saya saja? I don't think so. Ada keajaiban di sini. Keajaiban dari Allah.


~ o 0 o ~

Sumber:



Handry Satriago. #sharing2. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2015

Twitter: @HandryGE

Perjalanan Wayang

Pada sebuah sore dua tahun yang lalu di sudut kota Paris, Prancis, tepatnya di Théâtre de Soleil-Cartoucherie, terjadi suatu kehebohan. Di arena Cartoucherie ini di mana terdapat beberapa teater besar yang unik, ramai-ramai orang membeli tiket seharga 22 Euro per orang, dari mulai anak balita sampai orang tua. Rupanya akan ada sebuah pertunjukan hari itu dan yang akan tampil bukanlah pertunjukan seni biasa untuk bangsa Eropa. Yang akan tampil dan ditunggu-tunggu itu rupanya adalah pertunjukan Wayang Kulit Jawa!

Pertunjukan Wayang yang berlangsung selama empat hari di Paris itu dilaksanakan oleh rombongan wayang kulit yang dipimpin oleh dalang terkemuka Purbo Asmoro. Alat musik gamelan dan pesinden Ibu Suyatmi yang melengking dengan eloknya, tidak hanya membuat anak-anak saja yang dibuat terpaku namun beberapa pengunjung dewasa pun sampai dibuat  penasaran, dan ikutan naik panggung untuk melihat secara langsung dibalik layar.

Merupakan peristiwa langka bagi masyarakat Prancis menyaksikan sebuah pertunjukan tradisional semalam suntuk. Dan usai hari pertama pertunjukan, berita tentang pertunjukan wayang kulit ini muncul di beberapa media massa Prancis, dengan judul pertunjukan spektakuler dari tradisi kuno Jawa.



Asal-usul Wayang

Menurut Sri Mulyono seperti dikutip oleh Sunarto dalam bukunya Wayang Kulit Purwa Gaya Yogyakarya, wayang adalah sebuah kata bahasa Indonesia (Jawa) asli, yang berarti bayang-bayang, atau bayang yang berasal dari akar kata "yang" mendapat tambahan "wa" yang menjadi wayang. Sedangkan Kusumajadi mengartikannya sebagai berikut, "Wayang ialah bayangan orang yang sudah meninggal. Kata wayang tadi dari suku kata wa dan yang. Wa = trah yang berarti turunan, yang = hyang berarti eyang kakek atau leluhur yang telah meninggal. Maka wayang ialah gambar-gambar orang yang telah meninggal.

Karya seni yang diakui "adiluhung" ini sarat dengan nilai filosofis, simbolis dan historis. Wayang bukanlah sekadar bentuk yang indah dan menyenangkan, tetapi mempunyai nilai khusus bagi bangsa Indonesia atau mengandung maksud-maksud yang lebih mendalam, yaitu memberikan suatu gambaran tentang hidup dan kehidupan.

Wayang dalam Perjalanan Sejarah

Seni pertunjukan Wayang ini merupakan salah satu bentuk teater tradisional yang paling tua dan terbukti mampu tampil sebagai tontonan menarik sekaligus efektif dalam memberikan pesan-pesan moral kepada khalayak ramai. Pertunjukan wayang kulit telah dikenal di Pulau Jawa semenjak 1500 SM. Di masa kerajaan Kediri, Singasari dan Majapahit, wayang adalah salah satu bentuk inovasi media komunikasi pada masa itu.

Sejak 7 November 2003, pertunjukan wayang kulit telah diakui oleh UNESCO sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan berharga (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity), disusul berikutnya oleh Keris pada tahun 2005.

Dalam buku Mythology and the Tolerance of the Javanese, Benedict R. O'G Anderson mengemukakan bahwa wayang berperan secara etis dan metafisik dalam mengasah rasa toleransi masyarakat Jawa. Namun dalam perjalanan sejarah, terjadi penurunan rasa toleransi dalam masyarakat yang seiring dengan penurunan pamor wayang.

Salah satu contoh, penurunan kuantitas dalang seperti ditulis Tempo, jumlah dalang wayang kulit di Jawa Timur stagnan dan cenderung turun. Penyebabnya karena minim kaderisasi, baik melalui sekolah formal maupun belajar otodidak dari seorang dalang senior. Data Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Jawa Timur menyebutkan pada 2015 jumlah dalang sebanyak 1.600 orang atau sama dengan data pada 2006. Jumlahnya tetap, tidak bertambah. Salah satu penyebab adalah minimnya sekolah dalang di Indonesia.

Namun syukurlah kini telah ada portal kesenian wayang yang diberi nama Indonesian Wayang Network yang dikembangkan oleh tim peneliti Unika Soegijapranata yang beranggotakan Dr. Ridwan Sanjaya, dr. Rustina Untari, dan Tjahjono Rahardjo dan didukung oleh Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti), Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Jawa Tengah, serta sanggar-sanggar kesenian di Solo dan Semarang.

Konsep dasar dari pengembangan portal tersebut adalah untuk mengenalkan kepada dalang dan sanggar kesenian wayang di Indonesia untuk memanfaatkan internet sebagai showcase pertunjukan-pertunjukan yang telah dilakukan selama ini. Dengan begitu, masyarakat dapat lebih mengenal kesenian wayang kulit beserta pelaku seninya.

Tayangan pertunjukan wayang pada portal ini dipersingkat menjadi 10-15 menit karena bertujuan menampilkan bagian yang paling menarik dari pertunjukan wayang kulit. Pengguna internet tidak harus menunggu berjam-jam atau semalam suntuk untuk dapat mengenal sisi yang menarik dari wayang kulit.

~ o 0 o ~

Sumber:

Sunarto. Wayang Kulit Purwa Gaya Yogyakarta: sebuah tinjauan tentang bentuk, ukuran, sunggingan. Jakarta: Balai Pustaka, 1989.

Kompas: Wayang Kulit Memukau Masyarakat Perancis

Mengangkat Wayang Lewat Internet

Sumber gambar: youtube.com