Intan Wibisono Kecantol NFT

Kompas/RIZA FATHONI


Oleh IGNATIUS NAWA TUNGGAL

Kompas, 26 Juni 2022

 

Bentuk keberpihakan Intan Wibisono (37) terhadap seniman terbilang sederhana. Ia hanya peduli dengan penghargaan hak atas kekayaan intelektual seniman beserta jenjang karier seniman yang ternyata begitu mudah serta otomatis bisa diwujudkan melalui teknologi rantai blok non-fungible token.


Belum lama ini, antara 9-17 April 2022, Intan sebagai kolektor muda ikut memelopori sebuah pameran hasil aktivitas seniman dengan medium non-fungible token (NFT) di Galeri RJ Katamsi, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Ia menghimpun 238 seniman atau kreator dari sejumlah daerah di Indonesia untuk menghadirkan karya masing-masing yang pernah diunggah di NFT. Jadilah, sebuah festival yang dinamai Indo NFT Festiverse di galeri tersebut.


Intan ingin ambil andil dalam menumbuhkan gairah seniman untuk beradaptasi dengan teknologi NFT yang terbilang baru. Karena kebaruannya itulah, Intan menyebutkan, tidak jarang yang terdengar hanyalah noise atau kesimpangsiuran informasi teknologi baru NFT. NFT sebagai media seni kripto di semesta internet atau metaverse masih terus mengalami pertumbuhan. Perkembangannya juga menuju titik tertentu yang memiliki berbagai kemungkinan.

 

Kesimpangsiuran itu sekarang diimbuhi terjadinya kejatuhan nilai mata uang kripto untuk transaksi di NFT ketika akan dikonversi ke nilai mata uang konvensional. Mata uang kripto sebagai alat transaksi nilainya mengalami fluktuasi. Mungkin saja ini hal penting untuk mempertimbangkan masuk ke dunia NFT atau tidak. Akan tetapi, Intan melihat sisi lain dari dunia NFT.


Bagi Intan, NFT bisa mendatangkan manfaat tidak hanya bagi seniman yang bisa memiliki kejelasan karier dan pendapatan royalti. Publik pencinta seni atau pencinta daya kreativitas seni yang tidak terbatas, juga bisa memperoleh manfaat tersendiri. Karena itulah, Intan melihat ada masa depan bagi NFT.


Biji digital

Intan menceritakan pengalaman mengoleksi sebuah karya seni kripto berupa biji digital yang pernah ditawarkan oleh sebuah galeri seni di Singapura, tahun 2021. Satu biji digital ketika itu ditawarkan dengan harga minting atau unggahan pertama oleh senimannya senilai 0,2 ethereum (ETH).

”Saya membelinya. Pada waktu itu harga 0,2 ETH setara antara Rp 6 juta-Rp 7 juta. Kemudian saya dikirimi satu paket biji digital, tetapi bukan biji tanaman asli, serta akses untuk menyimak animasi pertumbuhan biji tersebut secara digital selama enam bulan,” ujar Intan dalam sebuah percakapan di Jakarta, Selasa (21/6/2022).

Intan menunjukkan lewat layar gawainya berupa foto paket biji digital tersebut. Di kemasannya tertera tulisan harvested on 02.2022, yang seolah-olah biji itu akan nyata bisa tumbuh dan bisa dipanen pada Februari 2022.

Semua yang ditawarkan itu ternyata dalam bentuk animasi. Intan membeli biji digital dan dibawa ke dunia khayalan, dunia fantasi yang seolah-olah bisa secara nyata menanam biji tumbuhan tersebut di semesta internet. Ini sebagai karya seni kripto di dunia NFT yang tidak pernah disangka-sangka Intan.

Wajah Intan terlihat begitu riang, tatkala menceritakan pengalamannya di hari-hari pertama menikmati pertumbuhan biji digitalnya tersebut. Oleh seniman atau kreatornya, ia tidak pernah diberi tahu jenis tanaman tersebut.

Intan menunjukkan foto hasil akhir pertumbuhan biji digitalnya selama enam bulan. Terlihat satu batang pokok dengan ranting enam lembar daun sirip jemari. Sebatang pohon kecil itu ditanam di sebuah pot berwarna putih.

 

Dari sinilah perbincangan tentang NFT menemukan pijakan baru dan nyata dialami Intan. Selama ini jamak ditemukan karya-karya seni kripto tak ubahnya seperti karya seni rupa berupa citra atau gambar sesuatu.

Karya-karya seni kripto berupa citra digital yang jamak itu juga dikoleksi Intan. Dari karya seni kripto biji digital, Intan ingin mengemukakan kemungkinan-kemungkinan capaian lain dari sebuah karya seni kripto di NFT.

”NFT tidak hanya medium yang diperuntukkan bagi distribusi karya seni rupa,” ujar Intan, yang menekankan pada dasarnya, NFT itu untuk menandai apa yang dimiliki dan oleh siapa.

Catatan tentang apa yang dimiliki dan oleh siapa, itu terekam di dalam sistem teknologi blockchain atau rantai blok NFT. Sistem itu menawarkan keterbukaan informasi, dimulai dari siapa penciptanya beserta perjanjian-perjanjian yang dibuat jika karya itu nantinya terbeli.

Perjanjian mencakup persoalan pembagian royalti kepada pemegang hak atas kekayaan intelektual karya jika pada akhirnya karya tersebut diperjualbelikan kembali ke pihak lain lewat rantai blok internet. Bisa pula dinyatakan di dalam perjanjian bahwa tidak hanya karya digital yang akan diperolehnya. Jika karya seni kripto yang digital itu berbasis lukisan secara fisik, seniman bisa pula mencantumkan perjanjian bagi pembeli karya di NFT bisa memperoleh karya fisik aslinya.

Rantai blok internet menyimpan dan memberikan informasi perjalanan karya. Ini berguna bagi upaya membangun sebuah pengakuan sosial terhadap seniman dan pengakuan pasar terhadap karya-karyanya.

Intan menyebutkan, sistem rantai blok internet berpihak pada jenjang karier seniman. Publik bisa merunut informasi perjalanan sang seniman melalui perjalanan karya-karyanya di NFT.

Seniman atau siapa pun kreator seni kripto juga bisa bekerja tidak hanya ditujukan kepada dirinya sendiri. Mereka bisa menawarkan karya seni kripto sebagai usaha memberikan kontribusi sosial terhadap masyarakat marjinal.

Intan mencontohkan suatu pengoleksian karya seni kripto lewat NFT. Hasil penjualannya oleh sang kreator ditujukan untuk membantu keberlangsungan suatu komunitas petani jahe di suatu tempat. Lewat NFT, ternyata bisa pula untuk menggalang solidaritas dan perjuangan kebersamaan.

 

Perjalanan hidup

Intan lahir di Paris, Perancis, pada 6 Oktober 1985. Ia terlahir dari sebuah keluarga asal Indonesia yang bekerja di perusahaan perminyakan berbasis di Perancis.

Tidak seberapa lama, sekitar satu hingga dua tahun kemudian, Intan dibawa orangtuanya pulang ke Tanah Air dan bertugas di Balikpapan. Intan memasuki kuliah di Inholland University of Applied Sciences, Belanda, pada 2003. Ia memilih studi komunikasi dan menuntaskannya pada 2007.

Semasa kuliah di Belanda, mulai terbit ketertarikan Intan terhadap karya-karya seni rupa tanpa sengaja. Selama perjalanan kaki menuju kampus, misalnya, ia tidak jarang menjumpai patung-patung di taman.

”Ketika bekerja di Jakarta melihat koleksi lukisan di rumah atasan kerja saya, dan di situ saya mulai berpikir bahwa lukisan ternyata bisa dikoleksi siapa saja,” ujar Intan, yang kemudian mulai turut mengoleksi lukisan.

Setelah lulus kuliah di Belanda, Intan sempat bekerja hampir dua tahun di sana. Mulai Januari 2008 hingga November 2009, Intan bekerja di Nuffic Den Haag, Belanda.

Ia kemudian pindah ke Jakarta dan merintis perjalanan hidupnya di Jakarta. Sejak November 2021 sampai sekarang, Intan mendirikan usaha rintisan dan melahirkan situs Artopologi.com. Ini sebuah situs internet yang berusaha mengenalkan beragam pengetahuan karya seni.

”Ketertarikan saya terhadap lukisan hingga akhirnya berujung ke karya seni kripto di NFT,” ujar Intan, yang menyukai sisi kebaruan teknologi NFT.

Secara perlahan Intan berusaha makin mengenali NFT. Ia lalu membenamkan diri pada usaha-usaha mendorong seniman atau siapa pun di Indonesia untuk mengembangkan diri lewat NFT.

 

Biodata

Nama: Intan Wibisono

Lahir: Paris, 6 Oktober 1985

Pendidikan: Bachelor, InHolland University of Applied Sciences, Belanda (2003-2007)

Pekerjaan:

- Pendiri dan CEO Artopologi.com (November 2021-sekarang)

- Head of Branding & Corporate Communication, Sompo Insurance Indonesia (Oktober 2020-November 2021)

- Head of Corporate Communication, Bukalapak (Februari 2019-Agustus 2020)

- Independent Consultant (Januari 2018-Januari 2019)

- Business Director, Edelman Indonesia (November 2011-Desember 2017)

- Account Executive, IndoPacific PR (Maret 2010-Oktober 2011)

- Project Assistant, Nuffic Den Haag (Januari 2008-November 2009)

 

Editor:

MOHAMMAD HILMI FAIQ

Iva Dalam Ingatan ( Kau “Pulang” dengan Senyuman)

Iva-Medco tahun 2000

Rasanya masih lekat dalam ingatan saya, akan sosoknya yang ramah dan selalu tersenyum. Kata sapaannya bisa didengar dari bagian depan security hingga ke ruangan karyawan-karyawan di ruangan yang lain. Begitulah ia dikenal dengan keramahtamahannya yang tulus dalam semua situasi.


Namun, sejak 17 Mei 2022 yang lalu, suara itu tidak ada lagi. Suara yang ramah itu, milik Iva Moriva Zuliana binti Zulkifli Arifin. Salah satu staf kepercayaan saya di Medco. Iva sudah bekerja bersama saya sejak tahun 2000, lalu sekitar tahun 2005 ia mengajukan resign saat mulai hamil anak keduanya. Kemudian Iva kembali bekerja di Medco, pada tahun 2017. 


Saya ingat sekali, hari terakhir pertemuan kami. Iva dan Lucy (sekretaris saya) ikut bersama saya, makan siang di Mike Pizza-Kemang. Hari itu ia tampak seperti biasa, ceria dan selalu tersenyum. Tidak ada sedikitpun tanda-tanda bahwa ia sedang kesakitan atau menderita sakit yang serius, Iva selalu mampu menyimpan semuanya lewat senyumannya, sehingga tidak ada seorang pun yang tahu, apa sakit yang ia derita.


Foto terakhir di Mike Pizza-Kemang


Bulan itu kami sedang mempersiapkan acara music untuk Hari Kebangkitan Nasional 21 Mei 2022, Iva yang menghandle acara tersebut. Namun menjadi orang yang tidak pernah menyaksikan acara yang sudah ia persiapkan jauh-jauh hari.
 



Persiapan Acara Musik di Hari Kebangkitan Nasional-21 Mei 2022

 

Hari itu Rabu, tanggal 11 Mei 2022, setelah makan siang di Mike Pizza,Kemang. Iva kembali ke apartemennya, keesokan harinya, Kamis 12 Mei Kantor WFH, pada malam hari, ia mengeluh sakit kepala yang hebat, hingga pingsan dan dibawa ke UGD RS MMC. Sejak masuk UGD dan tidak sadarkan diri, Iva dipindahkan ke ICU, dan tepat hari kelima ia dirawat di ICU, Iva dinyatakan meninggal dunia pada pukul 22.03 WIB dengan vonis penyakit kanker otak, mirip dengan sakit yang diderita oleh almarhum Glen Fredly. Cepat sekali Iva pergi tanpa aba-aba dan tanpa kata-kata.

Keseharian Iva mendampingi saya dalam pekerjaan.

Saya merasa kehilangan Iva, dan saya yakin banyak kerabat, teman-teman yang dekat juga merasakan hal yang sama. Kebaikan Iva dirasakan banyak orang, saya tidak adil jika tidak menampilkan bagaimana perasaan rekan-rekan kerjanya yang juga sangat merasa kehilangan atas kepergian Iva.
 

Kebaikan Iva juga dirasakan oleh Luciana, ia adalah sekretaris saya yang sudah bekerja selama lebih dari 20 tahun menuturkan kedekatannya dengan Mbak Iva.

"Mbak Iva sosok yang rapi, modis dan sangat perhatian. Setiap jumat biasanya selalu suka berbagi sedekah jumat. Biasanya saya yang ikut bantu Mbak Iva bagi makanan di jalan, karena Mbak Iva kan nyetir mobil, jadi saya yang bantu bagikan ke pemulung, lansia-lansia, penyapu jalanan dan pengemis-pengemis. Dia juga ramah dan bisa bergaul dengan siapapun, makanya dia banyak disukai siapapun dan banyak temannya.


Bersama Pak Dedi dan Mbak Iva

 

Beda lagi cerita dari Ryand, yang memiliki nama lengkap Ryand Ardiansyah Putra Sumardi, ia seorang nahkoda kapal yang masih muda, ia juga punya pengalaman dengan Bu Iva.

"Bu Iva sosok wanita yang keibuan, ada satu pesan beliau yang sangat saya ingat. “Ryan, kalau kamu nanti sukses, lalu menikah, jangan pernah meninggalkan istrimu. Selain itu Bu Iva juga berpesan, kita harus selalu menjaga, menemani, melindungi Pak Dedi Panigoro”


Dari awal 2018 saya bertemu Bu Iva, beliau selalu ramah dengan semua orang, tidak pernah memandang ini siapa, itu siapa. Di akhir hayatnya itu, yang paling menonjol dari Bu Iva, beliau selalu rajin bersedekah, setiap jumat selalu berbagi makanan di jalanan,  itu ibadah terbaiknya yang bisa terlihat menjelang beliau meninggal dunia.


Bu Iva seperti sosok ibu, dia selalu “pasang badan” untuk semua urusan, dia sangat melindungi kami yang masih muda-muda ini. Jika ada keluarga, relasi yang datang, Bu Iva selalu memperkenalkan saya sebagai staf di sini. Beliau super perhatian, dan loyal sekali, sering ngajakin kami makan.


Begitu tahu Bu Iva meninggal, saya sangat bergejolak dan sedih. Sebelum lebaran saya pulang kampung, biasanya saya tidak pernah salim cium tangan Bu Iva, tapi saat pulang mudik, saya salim Bu Iva, mencium tangannya, itu ternyata menjadi pertemuan terakhir saya dengan Bu Iva. Dia saat itu berpesan, salam untuk keluarga dan jaga dirimu baik-baik ya. Wah, pesan-pesan Bu Iva masih terngiang-ngiang sampai sekarang.
 

Penuturan lainnya dari Evi, sebagai rekan kerja Iva sejak tahun 2017.

"Aku kenal Kak Iva 2017, dia sangat bagus dalam hal yang detil-detil, dia juga orang yang multitasking, dalam satu waktu beberapa pekerjaan mampu ia selesaikan. Aku dengan Kak Iva itu kayak saudara, kita berdua sama-sama suka kuliner dan jalan-jalan, Kita punya rencana pengin ke sana dan kemari,  dia suka alam, suka pertualangan dan sama-sama suka menulis puisi, terutama saat Oma Lily (mamanya Kak Iva) berulang tahun, aku mengirimi puisi, sejak itu Kak Iva juga mulai menulis puisi kembali setelah lama vakum katanya.


Kak Iva sebagai Ibu, ke anak-anaknya dia menyenangkan dan seru, jadi anak-anaknya sangat terbuka sama dia dan suka curhat juga. Begitu Kak Iva enggak ada, aku sangat kaget. Karena Kak Iva enggak pernah ngeluh lagi sakit apa, malah dia perhatian ke kitanya, kebetulan Bapakku lagi sakit, Kak Iva malah suka nanyain kondisi bapakku. Padahal Kak Iva sendiri lagi sakit, tapi dia enggak pernah ngeluh kondisinya lagi sakit.


Kak Iva suka makanan nusantara, tapi masakan luar negeri dia juga sangat paham. Karena dia memang jago masak juga. Kadang kita sharing-sharing info makanan yang enak. Ingat banget kalau ke Soto Betawi Hj. Aisyah, aku selalu foto dan kirimin ke group, tapi begitu Kak Iva sudah enggak ada, aku rasanya kehilangan. Apalagi kami terkadang suka telponan malam-malam saling curhat.
Aku merasa kehilangan karena berdekatan dengan acara yang dia siapkan, justru Kak Iva udah enggak ada lagi. Aku senang dengan Kak Iva, karena dia selalu menerima kritikan dan menganggap kritikan sebagai bentuk untuk pengembangan diri.
 

 

Evi bersama Lucy dan Kak Iva

Ada Anna Lintang, ia adalah kawan baru bagi Iva, namun bagi Anna kesan Iva sangat dalam.

"Aku bekerja di sini baru dan dekat dengan Iva sejak Desember 2020. Aduhh.. Itu orang baik sekali dan sangat perhatian. Aku kan kehilangan almarhum suamiku, Agustus 2020. Iva itu sangat lembut dengan caranya, aku sangat terkesan dengan perhatian ke aku, support aku.


Aku pernah satu kamar dengan Iva saat kami ke Bandung. Saat itu kami bisa ngobrol, orangnya sangat compassion, perhatian sekali dengan semua orang, sama OB-OB juga sangat baik.


Rasanya cepat banget dia pergi, padahal kami punya banyak rencana ini itu, dia pergi benar-benar mendadak. Satu-satunya hal yang membuat aku curiga dia sakit, karena badannya mendadak jadi sangat kurus, karena turun drastis biasanya pasti ada something, atau karena sakit tertentu. Tapi sayangnya dia enggak pernah cerita sama sekali. Tiga bulan terakhir ini, gilaaa ya dia, rutin tiap jumat ngasih sedekah kemana-kemana. Duh.. itu orang baik banget, lembut banget, perhatian banget.

 

Penuturan lainnya dari Syarief Maulana, ia seorang penggiat musik klasik dan kontemporer, ia mengenal Iva saat mempersiapkan acara music camp.

"Saya banyak ketemu Mbak Iva dan bapak, karena saat itu sedang menyiapkan acara SouthEast Asia Music Camp, seharusnya dilaksanakan tahun 2020, tapi tertunda karena pandemic. Saat itulah kami banyak ngobrol terutama mengenai kegiatan music camp ini.


Paling berkesan saat ngobrol dengan Mbak Iva saat saya ke Blok M, di sebuah restoran Jepang. Saat itulah Mbak Iva dan saya menjadi dekat dan banyak memberikan wejangan kepada saya, beliau dengan caranya, sama sekali tidak menggurui saya. Terlihat sekali Mbak Iva sangat berpengalaman saat menyampaikan saran-sarannya kepada saya. Wejangan-wejangannya sangat mengena, menyentuh hati saya. Terutama berpesan agar perhatian pada anak-anak saya. Cara beliau menyampaikannya sangat berbeda sehingga mengena di hati saya.


Dalam hal pekerjaan pun dia sangat professional, terkadang beda pendapat, tapi tidak menjadi hal yang sangat serius antara saya dan Mbak Iva.


Kepergian Mbak Iva membuat saya kaget, terasa tiba-tiba sekali.  Saya masih berharap Mbak Iva bisa terlibat dalam project camp ini, walaupun Mbak Iva tidak hadir secara fisik, namun tetap meninggalkan saran-saran dan ide dalam project ini.

 

Masih ada Raedo, rekan kerja Mbak Iva di bagian legal.

"Saya selalu teringat kebaikan Mbak Iva, salah satu hal yang paling teringat setiap jumat beliau rutin memberikan makanan untuk panti asuhan. Dia sangat peduli pada sesama, misal ada pekerjaan yang bukan bagiannya, kadang dia ikut bantuin kita, ya tetap aja dikerjain sama dia.


Mbak Iva orangnya supel banget, buat saya enggak ada jeleknya sama sekali. Kalau bilang baik ya dia emang baik dan enggak dibikin-bikin baiknya, karena  dia berusaha baik maka sekelilingnya pun menjadi baik ke Mbak Iva. Saking baiknya, mau diutarakan rasanya susah yaa.

 

Begitu pula dengan Ariawan, yang banyak bekerjasama dengan Mbak Iva terkait bisnis dan pengembangannya.

"Mbak Iva itu mudah bergaul, sosialnya bagus, amalannya bagus dan menurut saya, dia itu hebat. Dia punya cita-cita mau shalat Idul Adha dan mau Qurban di masjid Medco, dia punya cita-cita ini, dan udah disampaikan juga ke pengurus masjid, tapi belum kesampaian cita-citanya, dia sudah enggak ada.


Orangnya mau memahami kita, terutama untuk menyampaikan aspirasi kita, dia mengayomi dan menyampaikan keluh kesah kita kepada Pak Dedi.


Sehari sebelum masuk rumah sakit, dia makan siang di sini sebelah saya. Begitu dia enggak ada rasanya langsung hilang. Dia orangnya “gaul” misalnya kita vaping, dia ikut vaping juga, karena mau ikutan bareng-bareng kita di sini.


Waktu dia masuk rumah sakit, kita enggak yakin, karena kemarinnya masih ketawa-ketawa di sini dan enggak keliatan sakit sama sekali. Malah kita menduga, dia segera sembuh, paling sakit cuma sebentar. Kita kehilangan, karena dia sangat ceria, kadang kita lagi BT, dia kadang hiburin kita semua.


Akhirnya, setelah dia pergi kita jadi ingat beberapa hal tentang Mbak Iva yang agak aneh, terutama saat puasa, dia sengaja keliling membeli makanan ini itu, sampai ke Tebet keliling, seakan-akan dia enggak bisa makan lagi makanan itu.

Kalau dia bisa dengar, saya cuma mau bilang “Mbak Iva terlalu cepat pergi”

 

Terakhir ada Dali, bagian purchasing yang banyak terkait urusannya dengan Mbak Iva, juga menuturkan kebaikan Iva.

"Kebetulan pekerjaan saya banyak berhubungan dengan  Mbak Iva, beliau juga direksi di saung Mang Udjo. Karakter Mbak Iva itu, selalu memback-up jika kita melakukan kesalahan, dia rela menjadi “Bumper” jika kita melakukan kesalahan, dia benar-benar mengayomi kita. Jika memang seharusnya diperjuangkan dia akan perjuangkan.


Masa-masa kita baru kompak-kompaknya justru dia pergi, tepatnya setahun terakhir ini, justru Mbak Iva pergi. Dia hebat, bisa memisahkan antara urusan pribadi dan pekerjaan. Satu hal yang sedih sekali, di hari terakhirnya tidak ada komunikasi sama sekali dengan kami.


Kami semua berdoa yang terbaik untuk Mbak Iva. Salah satu point bagus, karena saat hari kematiannya, banyak yang datang dan bergantian untuk shalat jenazah untuk Mbak Iva, itu tandanya dia memang orang yang baik.

 

***

Iva hari ini, kamu memang sudah meninggalkan kita semua, tapi kesan, kebaikan dan senyumanmu masih tetap tertinggal di hati dan kenangan yang ditinggalkan. Doa kami untukmu Iva.
 

DSP

Orkes Penyembuh Jiwa

Gonzalo Simo, Orkestra Penyembuh Jiwa


Oleh: ELSA EMIRIA LEBA

Kompas, 11 Juni 2022

 

Pendiri Strings in Action (SiA) Gonzalo Simo menceritakan proses perjalanan SiA saat berada di Panti Asuhan Pondok Taruna di Cipayung, Jakarta Timur, Jumat (29/4/2022).

 

Musik bisa menyembuhkan tubuh dan jiwa manusia. Namun, belum semua orang bisa mendapat kesempatan belajar musik. Seorang asing dari Spanyol, Gonzalo Simo (47), memulai gerakan Strings in Action atau SiA yang mengajarkan anak-anak kurang beruntung di Jakarta dan Tangerang bermain alat musik gesek untuk orkestra.

 

Di sebuah ruangan serbaguna, sekitar 15 anak laki-laki dan perempuan duduk melingkar memainkan biola, selo, dan bas. Gesekan senar mereka memadukan musik yang indah. Tak jauh, Simo yang tinggi menjulang berdiri mengawasi permainan mereka.

 

”Strings in Action terinspirasi dari El Sistema, sebuah proyek dari Venezuela yang dimulai pada 1970-an. Proyek ini menyediakan pendidikan musik pada ribuan anak yang membutuhkan sehingga memicu gerakan serupa di negara lain. Jadi, saya menggunakan ide itu di sini,” tutur Simo.

 

Dua program utama SiA ialah memberikan anak-anak pengalaman bermusik dan membantu menyediakan beasiswa kepada anak-anak yang tertarik. Simo menekankan, pengajaran musik ini bukan ajang pencarian anak berbakat.

 

”Saya hanya ingin mereka menikmati dan mendapat manfaat dari belajar musik. Sama seperti olahraga, musik baik untuk otak, tubuh, dan jiwa,” ujar pemain biola ini.

 

Bibit SiA telah ”tumbuh” sejak 2015. Simo mengawali dengan membuat klub musik orkestra di Jakarta Intercultural School (JIS), tempatnya mengajar. Bersama para murid, dirinya memulai proyek ini di sebuah sekolah di Pamulang, Tangerang Selatan. Sayang, tidak berjalan mulus.

 

Suatu hari, laki-laki ini mendengar Panti Asuhan Pondok Taruna memiliki sebuah grup angklung. Setelah berbicara dengan pihak panti dan membawa murid JIS tampil di sana, Simo memulai proyek SiA di panti ini pada 2017. Mereka membentuk satu kelompok orkestra yang mencakup 35-an anak berusia 12-17 tahun yang berlatih setiap pekan di JIS.

 

Anak-anak SiA telah tampil dalam berbagai kesempatan. Pada 2019, misalnya, mereka terlibat dalam empat konser, yaitu Association for Music in International Schools (AMIS), Strings in Action Charity Concert, Indonesia Orchestra and Ensemble Festival (IOEF), dan All Jakarta Honor Orchestra (AJHO). Pandemi sempat memengaruhi proses latihan dan peluang tampil.

 

Menjadi mandiri

Seiring waktu berlalu, Simo juga menemukan pola operasional yang tepat guna mengembangkan dampak sosial SiA. Inilah yang menjadi alasan membuat SiA menjadi yayasan pada 2019. Mereka membentuk dewan pengawas, mempekerjakan guru musik dan staf, serta membeli atau menerima donasi instrumen musik.

 

Saat pandemi menerjang pada 2020, SiA juga mulai membagi anak-anak menjadi dua kelompok orkestra, yakni orkestra besar (advanced) dan orkestra kecil. Pembagian ini penting karena rentang umur yang jauh memengaruhi kecepatan mereka belajar. Belum lagi remaja yang menginjak dewasa biasanya meninggalkan panti.

 

Orkestra besar terdiri dari anak berusia 12-18 tahun dan orkestra kecil terdiri dari anak berumur 10-12 tahun. Satu grup orkestra biasanya terdiri dari 20-25 anak. Sekarang mereka berlatih dua kali seminggu masing-masing selama satu setengah jam di panti.

 

Pada tahun yang sama, SiA memperluas jangkauan dengan berkolaborasi dengan Panti Asuhan Abigail di Pamulang. Sudah ada satu kelompok orkestra beranggotakan anak berusia 12-15 tahun. SiA pun sedang menjajaki peluang kolaborasi dengan satu panti asuhan lainnya di Pamulang. Dihitung-hitung, total sudah 92 anak yang terjangkau sejak proyek SiA bergulir.

 

Dalam perjalanan SiA menjadi mandiri, Simo memberi apresiasi kepada muridnya, Alexandra Augustien Rachmat (16). Alex merupakan presiden klub Strings in Action (SiA) di JIS. Gadis yang bergabung sejak 2017 ini berperan penting dalam mencari sponsor bagi SiA dan kolaborasi yayasan dengan klub di sekolah.

 

”Setelah SiA menjadi yayasan, klub di sekolah tetap berjalan tetapi lebih sebagai bagian dari support system. Misalnya kami membuat website, membagikan konten di media sosial, membuat video panduan latihan, dan membuat acara yang mengajak anak-anak,” tutur Alex yang lahir di Burlingame, California, Amerika Serikat, ini.

 

Terkait beasiswa, SiA berpartner dengan Amadeus Music School sejak 2019. Sejauh ini, sudah ada enam anak yang mendapat kesempatan mengeksplorasi musik secara profesional di sekolah itu. SiA tengah mengupayakan agar anak-anak juga bisa belajar musik di Universitas Pelita Harapan.

 

Beragam situasi

Sebagai ekspatriat, Simo mengakui pernah menghadapi perbedaan perspektif dengan mitra SiA terkait anak-anak. Ditambah lagi, anak-anak ini berasal dari beragam situasi. Ada yang tidak lagi memiliki orangtua, ada yang dibuang keluarga. Beberapa bahkan tidak asing dengan dunia gelap, seperti seks bebas dan kecanduan ngelem.

 

Namun, laki-laki yang tiba di Indonesia sejak 2013 ini ingin agar anak-anak bisa seperti dirinya; gampang untuk belajar musik. Sudah seharusnya akses pada musik tersedia mudah. Banyak studi yang membuktikan manfaat musik terhadap aspek kognitif, afektif, motorik, dan auditori. Apalagi musik adalah bahasa universal.

 

”Bermain musik, terlepas mereka memiliki talenta atau tidak, bisa membantu mereka menjadi orang yang lebih baik. Musik bisa memberikan anak-anak ini ’rasa memiliki’ terhadap sesuatu. Berada dalam orkestra seolah menjadi tim yang menyatukan untuk menciptakan sesuatu yang indah, terlepas dari latar belakang mereka,” kata Simo.

 

Simo berencana meninggalkan Indonesia pada Juni ini karena kontrak dengan JIS berakhir. Namun, ia berharap agar Alex, mitra SiA, dan orang yang peduli dapat melanjutkan perjalanan SiA.

 

Gonzalo Simo Conde

Lahir: Madrid, Spanyol, 15 Oktober 1974

Pendidikan, antara lain:

S-2 Musicology, Universidad Autónoma de Madrid (2002-2004)

S-1 Humanities/Humanistic Studies, Universidad CEU San Pablo (1995-1999)

Pekerjaan: Guru Musik di Jakarta Intercultural School, Indonesia (2013-sekarang)

 

Pengalaman, antara lain:

Pendiri Strings in Action (SiA) (2015)

Guru Musik di Chadwick International School, Korea Selatan (2009-2013)

Guru Musik di International School of Busan, Korea Selatan (2008-2009)

Guru Musik dan Guru Bahasa Spanyol di Hsinchu International School, Taiwan (2006-2008)

Editor: BUDI SUWARNA, MOHAMMAD HILMI FAIQ

 

Dari Jakarta Menuju Semarang dan Bandung


Liburan Bersama Keluarga


Tepat tanggal 18 Maret lalu, usia saya genap 75 tahun. Ulang tahun pertama tanpa kakak pertama saya, Arifin Panigoro. Padahal jarak tanggal ulang tahun kami hanya terpaut empat hari saja. Arifin berulang tahun pada tanggal 14 Maret dan saya 18 Maret. Namun Arifin sudah meninggalkan kita semua sebelum ia berulang tahun.

Perayaan ulang tahun kali ini dilaksanakan di kediaman saya di Jeruk Purut, hanya dihadiri keluarga dan beberapa kolega, tidak lebih dari lima puluh orang yang hadir, semuanya dengan prosedur kesehatan yang ketat.

Penghelatan pertambahan usia saya kali ini diisi dengan alunan piano dari beberapa orang pianist diantaranya Aditya Setiadi, Dimas Kushapsoro, diiringi oleh nyanyian dari Edit Widayani, Jessica Januar dan Adit Silaban. Mereka mempersembahkan banyak lagu secara bergantian di acara ulang tahun saya. Semuanya indah dan terasa lengkap dengan penampilan mereka.


Ulang Tahun ke-75 tahun


Perayaan ulang tahun pun masih berlanjut. Istri dan anak mantu saya sudah merencanakan perjalanan ke Semarang-Bandung lewat darat bersama cucu-cucu saya. Akhirnya kami memutuskan berangkat di hari Minggu, 20 Maret dari Jakarta.

Saya berangkat ke Semarang bersama istri, mantu plus dua cucu. Cucu saya yang pertama bernama Daria dan yang kecil bernama Hanna. Kami menginap di Novotel Semarang.  Mengapa saya memilih menginap? Saya hanya ingin beristirahat sambil tetap bisa menikmati liburan kami keseluarga.

Sarapan pertama kami di Semarang, saya pilih di Pandanaran. Sebuah pusat jajan Semarang yang spesialisasinya menjual Bandeng, Lumpia kering dan basah, dan masih banyak lagi makanan khas Semarang lainnya. Perjalanan ke Semarang kali ini, bukanlah yang pertama kali bagi saya sekeluarga, namun untuk kesekian kalinya, tentu saja spot-spot wisata yang ternama seperti Simpang Lima Lawang Sewu dan tempat wisata lainnya di Semarang sudah pernah saya sambangi.

Dalam pandangan saya, arsitektur rumah gedung Belanda di Semarang tidak kalah indahnya dengan arsitektur rumah gedung Belanda yang ada di Bandung. Keduanya memiliki sisi estetika dan keunikan masing-masing.

Masih di hari yang sama, setelah breakfast saya langsung melanjutkan perjalanan ke rumah bambu di Salatiga, rumah yang berdesain arsitektur unik ini dibangun dan didesain oleh arsitek terkemuka, Budi Pradono. Desain rumah bambu memenangkan Arcasia Architecture Awards (AAA) 2016. Interior rumah bambu terdiri dari beberapa kamar, dan disewakan per rumah tidak per kamar.

Berbicara tentang Budi Pradono, ia seorang arsitek dengan banyak sekali maha karya dan sudah meraih banyak penghargaan seperti  Cityscape Architecture Award (2004), AR Awards for Emerging Architecture (2005), World Architecture Festival Award (2008), Silver medal & Honorary diploma INTERARCH, Triennial Architecture (2009) hingga Arcasia Architecture Awards (2016). Pada 2005, karyanya pun pernah diliput a+u, majalah arsitektur dan urbanisme Jepang yang menjadi benchmark bagi para arsitek.


Budi Pradono-Arsitek Rumah Bambu


Budi Pradono juga yang mendesain rumah yang saya tempati bersama keluarga. Tentu saja saya memilihnya karena konsep desainnya yang selalu mengedepankan Arsitek Hijau, dengan penggunaan bahan-bahan yang natural dan tidak biasa.
 

Rumah Bambu


Perjalanan kami selanjutnya ke desa Kandangan Temanggung, kami berburu Radio Magno. Sebuah pabrik radio dan sepeda berbahan kayu yang namanya sudah mendunia. Magno sendiri didirikan oleh Singgih Susilo Kartono, seorang alumni seni rupa ITB. Produk Magno telah mendunia di lima benua, dan uniknya radio Magno sendiri sulit untuk didapatkan di tanah air, karena lebih banyak dijual di luar negeri.


Kayu-kayu yang digunakan radio Magno berasal dari kayu Mahoni, Pinus dan Rosewood India. Harganya pun bervariasi rata-rata per unit jutaan rupiah. Saya beruntung mendapat sebuah radio kayu untuk hadiah kepada anak saya.

 

Bersama Singgih Susilo Kartono


 

Setelah dari Temanggung, kami menuju ke komplek candi Borobudur dan menginap di Hotel Plataran Heritage. Sebuah hotel yang indah dan nyaman. Hanya saja sayangnya saat sedang bermain di luar, cucu saya Hanna tertimpa ranting pohon dan mengalami luka goresan pada kulitnya.


Keesokan harinya, kami menuju candi Borobudur. Meskipun kami tidak bisa menaiki candi, namun kami mendapatkan banyak informasi dari guide dengan pengetahuan yang memadai, sehingga kami mengetahui beberapa informasi tentang sejarah candi Borobudur, bahwa candi ini sebuah kuil budha terbesar di dunia dan dibangun untuk memuliakan raja-raja saat dinasti Syailendra. Sempat mengalami beberapa pemugaran di zaman Inggris, Belanda hingga masuk ke dalam Keajaiban Dunia UNESCO.


Bersama Keluarga di Borobudur dan Prambanan


 

Keesokan harinya, kami menuju sebuah dusun di Bantul dan menginap di Mountain Cabin, berada di sebuah hutan, dengan konsep “Sunyi, Sepi dan Sendiri” sepertinya ini saatnya melakukan kontemplasi.

 

Mountain Cabin


Keesokan harinya kami mengunjungi seorang sahabat  bernama Djodi Trisusanto, seorang tokoh perhotelan yang memiliki sebuah rumah tua, yang dikonservasi di pusat batik Solo, bernama Lawean. Rumah tersebut diberi nama “When in Solo”.  Saudara Djodi tidak hanya merenovasi tapi juga mengkonservasi rumah tersebut dan mengisinya dengan perabotan yang memadai disertai koleksi buku yang sangat lengkap dan bagus.


Beruntungnya, di malam harinya, kami mendapatkan suguhan tari klasik Jawa, yang dipersembahkan oleh maestro tari yang bernama Rambat. Ia mengisi acara bersama sahabatnya, seorang dalang wanita yang bermain Rebab.

 

When in Solo-Laweyan


Rambat dan Dalang Wanita yang Bermain Rebab

 

Keesokan harinya kami mengunjungi dan menikmati menu andalan,  Soto Legendaris Solo, Triwindu.

 

Soto Triwindu


Usai kunjungan ke Lawean kami menuju ke Purwokerto, untuk mengunjungi tiga orang supir dan asisten rumah tangga yang sudah puluhan tahun bekerja pada kami, mereka bernama Karsono, Darsikin dan Nano. Syukur alhamdulillah rumah mereka luas dan asri.


Setelah dari Purwokerto, keesokan harinya, kami langsung menuju Bandung untuk mengunjungi Saung Mang Udjo dan  rumah keluarga besar Panigoro. Tepat 28 Maret dengan perasaan bahagia kami pulang menuju rumah saya di Jakarta. Perjalanan liburan kali ini terasa penuh warna.

 

 

 

 

Menelisik Isi Hati Sjafruddin Prawiranegara

Monolog Sejarah 

Oleh SEKAR GANDHAWANGI

Kompas, 17 April 2022

 





Dulu, jauh di dalam hutan rimba Sumatera Barat, Sjafruddin Prawiranegara (1911-1989) pernah menjabat sebagai orang nomor satu di pemerintahan Indonesia. Perannya penting untuk menyambung sejarah negara ini. Namun, agaknya ingatan bangsa akan Sjafruddin sudah pudar.

 

Kali ini, ”Sjafruddin” sendiri yang akan menceritakan dirinya. Cerita tentang pemerintah yang ada di ujung tanduk. Cerita tentang rindu pada keluarga yang terbendung rapatnya hutan. Dan, cerita tentang kekecewaan. Dia akan bercerita selama 40 menit.

 

Ada puluhan orang yang datang ke Gedung Kesenian Jakarta, Jumat (15/4/2022) malam, untuk mendengarkan kisah ”Sjafruddin”. Sedikitnya 60 kursi yang disusun di atas panggung terisi.

 

Penonton diajak pergi ke tahun 1948 begitu lampu panggung meredup. Itu adalah masa Agresi Militer II. Belanda baru saja menawan Soekarno, Mohammad Hatta, dan sejumlah tokoh bangsa lain. Mereka lantas diasingkan ke Muntok, Kepulauan Bangka Belitung.

 

Walau begitu, pemerintahan Indonesia tidak serta-merta kosong. Sjafruddin dipercaya untuk membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) jika Belanda menyerang. Keputusan itu dibuat dan disepakati para tokoh, antara lain Soekarno dan Hatta. Sjafruddin pun diminta segera ke Sumatera Barat, menjauhi pusat agresi militer di Jawa.

Telegram bertanggal 19 Desember 1948 dikirim kepada Sjafruddin oleh Soekarno dan Hatta. Isinya pemberitahuan bahwa Belanda mulai menyerang Yogyakarta. Sjafruddin, yang kala itu menjabat sebagai Menteri Kemakmuran, diminta membuat PDRI. Kekuasaan negara pun pindah ke tangan Sjafruddin.

”Bukan. Saya bukan presiden. Saya ketua PDRI,” kata sosok Sjafruddin yang kala itu diperankan oleh aktor Deva Mahenra pada teater berjudul Kacamata Sjafruddin.

Tim produksi teater berjudul Kacamata Sjafruddin berkumpul di panggung setelah pentas rampung di Gedung Kesenian Jakarta, Jakarta, pada Jumat (15/4/2022) malam. Teater ini mengisahkan sosok Sjafruddin Prawiranegara, seorang negarawan dan ekonom. Pentas ini melibatkan, antara lain, aktor Deva Mahenra, Titimangsa Foundation, KawanKawan Media, dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Adapun teater tersebut bagian dari seri monolog Di Tepi Sejarah.

Refleksi

Deva mengatakan, teater monolog ini adalah refleksi sosok Sjafruddin di tahun 1948-1951, khususnya di masa PDRI. Di tengah perjuangan, Sjafruddin mesti menahan rindu pada keluarganya yang tinggal di Yogyakarta. Salah satu anaknya bahkan sampai lupa siapa bapaknya.

Namun, perjuangan Sjafruddin berbuah kekecewaan karena Soekarno-Hatta berakhir berunding dengan Belanda. Hal itu bermuara ke Perjanjian Roem-Royen. Sebagai Ketua PDRI, Sjafruddin tidak dilibatkan, apalagi dimintai pendapat. Sjafruddin merasa dilangkahi.

Sutradara teater, Yudi Ahmad Tajudin, mengatakan, Sjafruddin pada akhirnya mengalah supaya kondisi negara tidak semakin rumit. Tampuk pemerintahan pun dikembalikan ke Soekarno-Hatta.

”Ada keputusan-keputusan Sjafruddin yang bisa dibilang mencerminkan kualitas dia sebagai negarawan. Keputusan itu melampaui ambisi pribadi. Walau beberapa tahun kemudian—karena akumulasi kekecewaannya ke Soekarno meningkat—ia membuat PRRI (Pemerintah Revolusioner RI),” kata Yudi.

Yudi menambahkan, tidak banyak orang yang tahu peran Sjafruddin dalam sejarah Indonesia, khususnya pada masa PDRI. Terlepas dari sosok Sjafruddin yang kemudian menuai pro-kontra (karena beberapa orang menyebut dia pengkhianat), peran ekonom tersebut bagi eksistensi RI tidak bisa diabaikan.

”Ada pula yang mengajukan argumentasi, secara tata hukum kenegaraan, Sjafruddin sah disebut presiden kedua RI,” kata Yudi. ”Teater membuka ruang diskusi soal kenyataan. Ini bukan definisi atau kesimpulan, tapi lontaran isu yang bisa sama-sama disimak dan didiskusikan.”

Teater ini juga diharapkan menjadi media mengenalkan tokoh-tokoh sejarah. Bila beruntung, teater ini diharapkan menjadi pemicu agar audiens menggali pengetahuan lebih lanjut, baik soal sosok maupun sejarah.

Deva Mahenra menambahkan, sosok Sjafruddin tidak digambarkan persis dengan aslinya. Sjafruddin diinterpretasikan secara terbuka oleh dia dan segenap tim produksi. ”Dengan berbagai referensi mengenai sosok Sjafruddin yang kami gunakan, kami ingin agar penonton jadi terbuka untuk diskusi,” katanya.

Aktor Deva Mahenra di Gedung Kesenian Jakarta, Jakarta, Jumat (15/4/2022). Ia memerankan tokoh Sjafruddin Prawiranegara di teater monolog berjudul Kacamata Sjafruddin, bagian dari seri monolog Di Tepi Sejarah.

Belajar sejarah

Direktur Perfilman, Musik, dan Media Baru Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Ahmad Mahendra mengatakan, teater ini ditujukan untuk generasi muda. Mereka diharapkan dapat belajar sejarah dengan cara baru yang tidak kaku.

”Teater ini akan disiarkan di Indonesiana TV. Ini akan kami jadikan pembelajaran ke sekolah-sekolah. Akan ada juga modul tentang bagaimana guru mengajarkan (sejarah),” kata Mahendra.

Suasana panggung untuk teater berjudul Kacamata Sjafruddin. Teater ini dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta, Jakarta pada Jumat (15/4/2022) malam. Kacamata Sjafruddin yang mengisahkan sosok Sjafruddin Prawiranegara ini bagian dari seri monolog berjudul Di Tepi Sejarah yang digarap Titimangsa Foundation dan KawanKawan Media.

Adapun Kacamata Sjafruddin bagian dari seri monolog bertajuk Di Tepi Sejarah, proyek seni garapan Titimangsa Foundation dan KawanKawan Media. Ada lima tokoh yang akan dikisahkan dalam proyek di tahun 2022, antara lain Gombloh dan Ismail Marzuki. Semuanya akan dipentaskan secara luring tahun ini.

Sebelumnya, Di Tepi Sejarah dipentaskan pada 2021 dan disiarkan secara daring. Beberapa tokoh yang dipentaskan tahun lalu adalah The Sin Nio, perempuan keturunan Tionghoa yang menyamar menjadi laki-laki agar bisa ikut berjuang secara gerilya. Ada juga Muriel Stuart Walker atau yang dikenal sebagai K’tut Tantri, perempuan kelahiran Skotlandia yang ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan siaran radio.

”Kami ingin mengembalikan sejarah, tapi dengan memberi jembatan ke generasi muda. Jadi, teater ini menjadi alternatif lain untuk belajar sejarah,” ujar Mahendra.

Editor: ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN