Sri Hanuraga

Sri Hanuraga adalah sosok muda di dunia musik jazz yang pernah tampil di Gelanggang Indonesia, sebuah konser yang dipersembahkan untuk Pahlawan Olahraga Indonesia yang penyelenggaraannya berdekatan dengan Asian Games Jakarta Palembang 2018.

Gelanggang Indonesia digelar di Taman Ismail Marzuki, 12 Agustus 2018. Saat itu Aga, demikian nama kecil Sri Hanuraga memberikan kejutan berupa World Premiere Piano Concerto Bangun Pemudi Pemuda ciptaan Alfed Simanjuntak.

Profil Aga masuk dalam Harian Kompas, edisi Minggu, 26 Juli 2020, yang ditulis oleh Riana A Ibrahim dan Dwi AS Setianingsih, yang saya simpulkan seperti dibawah ini:

Keith Emerson, kibordis band rock progresif Emerson adalah sosok yang membuat Aga memutuskan untuk mau main musik. Saat itu Aga baru duduk di kelas II SMP tetapi telah memutuskan untuk serius belajar piano dengan memilih aliran jazz, sama seperti halnya Keith Emerson yang juga terpengaruh oleh musik jazz. Sekolah musik Farabi milik Dwiki Dharmawan dan sosok Indra Lesmana adalah tempat belajar Aga, sebelum berangkat ke Belanda untuk menempuh pendidikan di Berklee School of Music.

Musibah kebakaran yang menimpa rumahnya sempat membuat rencana masuk sekolah musiknya hilang, tetapi Aga tak menyerah, ia menyempatkan diri untuk mengikuti master class di Erasmus Huis, Jakarta dan usahanya membuahkan hasil, ia dapat memepuh pendidikan musik di Belanda selama 6 tahun, mulai dari jenjang strata pertama hingga magister dan memperoleh Cum Laude untuk S-1 di Conservatorium van Amsterdam dan Summa Cumlaude, 10 with distinction untuk jenjang S-2 juga di Conservatorium van Amsterdam.

Kembali ke Tanah Air, ia berkolaborasi dengan banyak musisi seperti gitaris Gerald Situmorang, Dira Sugandi. Bersama Dira, lahirlah album Indonesia Vol. 1 dan 2. Bagi Aga, musik adalah pemikiran yang disampaikan secara bunyi. Pandangan ini juga melahirkan metode pengajaran yang kini diterapkan pada mahasiswanya. Laiknya belajar bahasa, dilakukan pertama adalah meniru. Selama dua tahun pertama, dia memaksa mahasiswanya untuk hanya memainkan kosa bunyi jazz.


Zainab

Membaca “Wali Nusantara”

Tempo, 25-31 Mei 2020

Saya suka membaca dan kegiatan tersebut adalah vitamin yang cukup ampuh sebagai asupan bagi otak dan pikiran saya untuk terus bekerja. Majalah Tempo merupakan salah satu sumber bacaan yang saya suka. Pada edisi 25-31 Mei 2020, ada liputan khusus yang menarik, berjudul Wali Nusantara, ulama-ulama setelah era Wali Sanga yang mengembara menyebarkan Islam ke pelosok negeri berabad silam. Berikut, saya kutip untuk pembaca blog ini. Selamat membaca.

 

Zainab

Seorang wali perempuan terselip dalam sejarah penyebaran Islam di Pulau Bawean. Zainab, begitu namanya, meneruskan tugas dakwah suaminya yang tewas dalam pelayaran dari tanah Jawa. Zainab adalah putri Pangeran Geneng. Pengasuh Pesantren Luhur, Sidoarjo, Jawa Timur.

Dalam buku Waliyah Zainab, karya Dhiyauddin diterbitkan Yayasan Waliyah Zainab pada 2008. Menurut  buku itu, Zainab dewasa menikah dengan Pangeran Sedo Laut, cucu Sunan Giri 1, pendiri Kedatuan Giri, Gresik. Disebutkan juga bahwa Zainab adalah generasi keempat penerus ajaran Syekh Siti Jenar, pendiri tarekat Akmaliyah di Nusantara.

Dalam menunaikan tugas penyebaran Islam menuju Bawean, kapal Pangeran Sedo Laut karam, hanya Zainab dan Mbah Rambut, pembantunya yang selamat. Zainab selanjutnya mengambil alih tugas syiar suaminya. Menurut Jajat Burhanuddin pengajar di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, yang banyak menulis tentang sejarah Islam di Indonesia, tampilnya Zainab sebagai penerus dakwah suaminya yang meninggal merupakan kelaziman.

Hubungan Zainab dengan Kedatuan Giri dan Sunan Sendang tampak erat dari corak menur Masjid Diponggo, Menur masjid itu berbentuk tiara, dikelilingi motif sayap-sayap burung dan gunung. Di puncaknya terdapat ragam hias burung rajawali dengan sayap mengembang. Sedangkan di bawahnya terdapat corak naga membelit bumi. Corak serupa bisa dijumpai di Masjid Sendang Duwur dan kompleks makam Sunan Giri.

Pengaruh lain yang menabalkan jejak Waliyah Zainab adalah puyahale di daratan Jawa yang lebih dikenal sebagai zikir mider alias doa keliling kampung meminta keselamatan seluruh isi desa. Peserta zikir, yang semuanya pria berkeliling kampung dengan mengarak pusaka peninggalan Zainab seperti kendi, tombak, cawan besar dari besi, piring keramik, entong, dan batok kelapa besar. Di tiap simpang desa, peserta zikir menyerukan azan.     


Sunan Prapen

Membaca “Wali Nusantara”

Tempo, 25-31 Mei 2020

Saya suka membaca dan kegiatan tersebut adalah vitamin yang cukup ampuh sebagai asupan bagi otak dan pikiran saya untuk terus bekerja. Majalah Tempo merupakan salah satu sumber bacaan yang saya suka. Pada edisi 25-31 Mei 2020, ada liputan khusus yang menarik, berjudul Wali Nusantara, ulama-ulama setelah era Wali Sanga yang mengembara menyebarkan Islam ke pelosok negeri berabad silam. Berikut, saya kutip untuk pembaca blog ini. Selamat membaca.

Sunan Prapen

Terletak di atas sebuah bukit di Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur, makam Sunan Prapen berjarak sekitar 500 meter dari makam kakeknya, Sunan Giri. Sunan Prapen mewarisi kekuasaan kakeknya di Giri Kedaton, kini masuk wilayaj Gresik. Giri Kedaton adalah kerajaan yang menjadi salah satu pusat penyebaran Islam di Jawa bagian timur hingga ke wilayah Nusa Tenggara.

Sunan Prapen naik takhta menggantikan saudaranya yang bergelar Sunan Dalem pada 1548, setelah setahun berkuasa Sunan Prapen memerintahkan pembangunan keraton yang baru. Pengaruhnya di luar kerajaan tampak dari penahbisan Mas karebet alaias jaka Tingkir menjadi Raja Pajang.

Giri Kedaton cukup maju di bawah Sunan Prapen karena memiliki pelabuhan besar, yang menjadi pintu utama perdagangan ke wilayah timur. Pelabuhan Giri menggeser pelabuhan tradisional Majapahit di Tuban. Posisi kerajaan Giri strategis karena jalur darat dan lautnya menunjang, hingga melalui jalur laut tak sedikit santri dari Giri Kedaton yang dikirim berdakwah hingga ke kepulauan Nusa Tenggara.      

Dalam berdakwah, Sunan Prapen menggunakan pendekatan kebudayaan dengan menggunakan wayang kulit. Cerita Mahabharata dan Ramayana ia ubah menjadi wayang Lombok. Wayang Lombok berkisah tentang tokoh-tokoh Islam, seperti Amir Hamzah dan Umat bin Khattab. Ali bin Abi Thalib dilukiskan sebagai Selander Alam Dahur dan Abu Lahab sebagai Baktak. Bahasa yang dipakai adalah bahasa Jawa Kuna dan Kawi.

Pendekatan budaya yang dibawa Sunan Prapen dinilai efektif. Ia tak mengganti semua sistem kepercayaan setempat, tapi memodifikasinya dengan memasukkan unsur sufisme Islam, metode ini gampang diterima penduduk yang memiliki sistem kepercayaan lainnya. Pada abad 17, Islam tersebar ke seluruh Lombok.

Sunan Prapen dan rombongannya berperilaku lemah lembut dan tidak membuat perubahan yang ekstrem. Agama diajarkan sesuai dengan kemampuan mereka yang berpindah ke desa lain dengan meninggalkan seorang kiai untuk menyempurnakan ajaran.


Syekh Abdul Muhyi


Membaca “Wali Nusantara”

Tempo, 25-31 Mei 2020

Saya suka membaca dan kegiatan tersebut adalah vitamin yang cukup ampuh sebagai asupan bagi otak dan pikiran saya untuk terus bekerja. Majalah Tempo merupakan salah satu sumber bacaan yang saya suka. Pada edisi 25-31 Mei 2020, ada liputan khusus yang menarik, berjudul Wali Nusantara, ulama-ulama setelah era Wali Sanga yang mengembara menyebarkan Islam ke pelosok negeri berabad silam. Berikut, saya kutip untuk pembaca blog ini. Selamat membaca.

 

Syekh Abdul Muhyi

Syekh Abdul Muhyi dikenal sebagai penyebar agama Islam di Sunda bagian selatan  dan tokoh tarekat Sattariyah. Lahir di Surakarta, Jawa Tengah pada 1650 Masehi atau 1071 Hijriyah.

Pada usia 19 tahun, ia belajar agama kepada Syekh Abdurrauf al-Singkili, ulama terkenal di Singkil, Aceh. Saat berada di masjid Al-Haram, sang guru melihat cahaya dari arah Muhyi, Abdurrauf lalu memanggil Muhyi dan menyarankannya untuk mengembangkan Islam di Jawa Barat bagian selatan  dan mencari sebuah gua. Gua dalam hal ini adalah sebuah metafora dari tempat untuk mengembangkan dakwah.

Setelah setengah tahun di Mekah, Abdurrauf dan murid-muridnya pulang ke Aceh, Muhyi pulang ke Gresik dan memutuskan pergi ke wilayah selatan Jawa Barat, daerah yang saat itu lebih sulit aksesnya daripada sisi utara Jawa. Sebelum perjalanan Muhyi dimulai, orang tuanya menikahkannya dengan Ayu Bakta. Dia melalui beberapa daerah sebelum menemui lokasi baru yang diberi nama Safarwadi, tempat Muhyi membuka perkampungan dan menyebar Islam. Guanya dipakai untuk bersemadi dan tempat pendidikan.

Syekh Muhyi menggunakan sejumlah cara untuk mengajarkan Islam, dengan pendekatan dakwah model Wali Sanga, para wali yang juga penganut tarekat, yang menekankan pada aspek fikih, hukum Islam, tapi pada tauhid, eling atau zikir. Tarekat punya kecenderungan mudah mengakomodasi unsur-unsur lokal   

Syekh Muhyi juga terlibat dalam perlawanan terhadap penjajahan Belanda, misalnya dalam konflik Sultan Ageng Tirtayasa (1631-1695) dengan kongsi Belanda (VOC).

Gua Safarwadi terletak sekitar 600 meter dari makam Syekh Abdul Muhyi di desa Pamijahan, Kecamatan Bantarkalong, Tasikmalaya, Jawa Barat. Setelah Muhyi meninggal, tarekatnya dikembangkan oleh putra dari istri pertamanya, Sembah Dalem Bojong dan Emas Paqih Ibrahim.


Muhammad Falak bin Abbas

Membaca “Wali Nusantara”

Tempo, 25-31 Mei 2020

 

Saya suka membaca dan kegiatan tersebut adalah vitamin yang cukup ampuh sebagai asupan bagi otak dan pikiran saya untuk terus bekerja. Majalah Tempo merupakan salah satu sumber bacaan yang saya suka. Pada edisi 25-31 Mei 2020, ada liputan khusus yang menarik, berjudul Wali Nusantara, ulama-ulama setelah era Wali Sanga yang mengembara menyebarkan Islam ke pelosok negeri berabad silam. Berikut, saya kutip untuk pembaca blog ini. Selamat membaca.

 

 

Muhammad Falak bin Abbas

 

Muhammad Falak bin Abbas lahir di Sabi, Pandeglang, Banten, pada 1842 dan meninggal saat berusia 130 tahun. Falak adalah pemimpin tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah di Indonesia yang kharismatik. Tarekat itu satu dari 27 ilmu yang beliau pelajari di Mekah, Arab Saudi. Ia belajar di sana sejak usia 15 tahun dan mempelajari banyak ilmu seperti tafsir Al-Quran dan fikih, hadis, astronomi, dan ilmu lainnya.

 

Berbekal ilmu utama tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah dan berbagai ilmu lain yang didalami di Saudi, Falak mendirikan pondok pesantren. Ia menyebarkan Islam di Bogoro melalui pendekatan ilmu kanuragan dan kesaktian lainnya. Falak juga disebut sebagai guru pendiri Nahdlatul Wathan Lombok, Tuan Guru Kiai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid.

 

Dalam buku Berangkat dari Pesantren karya Kiai Haji Saifuddin Jufri, disebutkan bahwa Falak bersama Kiai Haji Wahab Hasbullah Jombang, Kiai Haji Abbas Buntet Cirebon, dan Kiai Haji Mustofa Singaparna Tasikmalaya menjadi pemimpin rohani Laskar Hizbullah, laskar rakyat pada masa perjuangan kemerdekaan.

 

Zikir rutin malam Jumat merupakan wasiat Falak sebelum ia meninggal pada 19 Juli 1972, sedangkan pada Jumat, bada asar menggelar khatam Al-Quran. Falak juga menerima warisan teks manakib Badar, cerita tentang 313 tentara yang meninggal dalam perang Badar yang dipimpin Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ia juga mewarisi sebuah bacaan yang berdasarkan tujuh ayat Al-Quran. Namun tak ada cerita detail mengenai warisan tersebut.

 

Perjuangan Falak membangun perguruan tidak mudah, banyak jawara yang kerap menggangu penduduk dan penduduk rajin menyiapkan sesaji agar hasil panen melimpah. Lalu Falak yang memiliki sawah luas membagikan hasil panen kepada masyarakat dengan maksud untuk mengikis budaya sesaji. Falak juga meredam amarah para jawara yang tidak menyukai kehadirannya di Bogor dengan beradu kekuatan.  “Siapa yang bisa mengambil kelapa dari pohon tanpa menyentuhnya, dia menang,” dan Falak menang. Falak juga belajar ilmu tib atau kesehatan dan obat-obatan sehingga banyak yang berobat ke beliau, hal ini menyebabkan para dukun di Bogor juga tidak menyenangi Falak.

Pesan Falak kepada murid-muridnya adalah jangan sampai meninggalkan zikir, serta agar membangun fondasi Islam yang ramah, santun, dan penuh toleransi, juga tawaduk.