Kelahiran Badak Sumatera

Badak sumatera Rosa bersama anaknya di Suaka Rhino Sumatera
Taman Nasional Way Kambas, Lampung.



 Ibarat menanti kelahiran bayi setelah berulang kali keguguran, campur aduk begitulah perasaan kita mendengar kabar kelahiran badak sumatera.

Anak badak betina belum bernama itu lahir setelah induknya delapan kali keguguran sejak bunting pertama Desember 2020. Harian Kompas menampilkan foto anak badak itu di halaman utama, Selasa (29/3/2022). Informasi awal kelahiran disampaikan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sehari sebelumnya. 

KLHK baru mengumumkan kelahiran badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) kepada publik setelah empat hari kelahirannya, Kamis (24/3/2022) pukul 11.44 WIB. Anak badak itu lahir di Suaka Rhino Sumatera Taman Nasional Way Kambas, Lampung.
Anak badak ini hasil perkawinan badak betina Rosa dan badak jantan Andatu. Kelahiran Andatu sepuluh tahun lalu juga tak kalah dramatis dibandingkan dengan anaknya.

Andatu lahir di Suaka Rhino Sumatera pada 23 Juni 2012. Andatu tercatat sebagai badak sumatera pertama di Asia yang lahir dalam penangkaran selang 124 tahun, sejak kelahiran anak badak sumatera terakhir di Kebun Binatang Kalkutta, India.

Seluruh proses persalinan Rosa diawasi tim dokter hewan dari Yayasan Badak Indonesia, seperti Ni Made Ferawati, Aprilia Widyawati, Vidi Saputra, dan dikoordinasikan oleh Zulfi Arsan. Para perawat satwa yang membantu, antara lain, Sugiyanto, Soca Adi Fatoni, dan Lamijo.

Dokter hewan lain yang terlibat, antara lain, Dedi Candra dari KLHK, Diah Esti Anggraini dari Rumah Sakit Gajah, Bongot Huaso Mulia dari Taman Safari Indonesia, dan Muhammad Agil dari IPB University.

Kelahiran anak badak sumatera itu menunjukkan kepada dunia keberhasilan upaya konservasi spesies mamalia besar di Indonesia.

Pentingnya kelahiran badak ini bagi dunia ditunjukkan pula dengan kehadiran drh Scott Citino dan perawat satwa senior Paul Reinhart dari Amerika Serikat (AS). Kita sepakat dengan pernyataan KLHK, kelahiran anak badak sumatera itu menunjukkan kepada dunia keberhasilan upaya konservasi spesies mamalia besar di Indonesia.

Kelahiran anak badak ini menambah jumlah badak di Suaka Rhino Sumatera menjadi delapan ekor. Selain Rosa dan anaknya, badak betina lain ialah Bina, Ratu, dan Delilah. Selain Andatu, badak jantan lainnya ialah Andalas dan Harapan. KLKH juga mencatat, lima anak badak jawa lahir di habitat alami, di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten, pada 2021.

Kita sepakat dengan pernyataan Menteri LHK Siti Nurbaya atas kelahiran badak sumatera ini, bahwa perlu terus berkomitmen menjaga dan mengelola secara lestari keanekaragaman hayati, untuk kepentingan nasional dan dunia, masa kini dan masa mendatang.

John Kerry : Kedaulatan Energi Terletak di Energi Baru Terbarukan



Utusan Khusus Presiden Amerika Serikat untuk Urusan Iklim John Kerry.



Usaha mengurangi emisi menghadapi tantangan lebih besar belakangan menyusul sejumlah tantangan. Bagaimana pandangan Utusan Khusus Presiden Amerikat Serikat untuk Urusan Iklim John Kerry? Kompas mewawancarainya.


Panel Lintas Pemerintahan untuk Urusan Perubahan Iklim pada laporan per Februari 2022 menyebutkan, agregasi pengurangan emisi dari kontribusi yang ditetapkan oleh setiap negara saat ini hingga 2030 tak akan mampu membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat celsius dari masa sebelum Revolusi Industri pada abad ke-19.

Angka yang lebih realistis ialah membatasi kurang dari 2 derajat celsius. Ini pun hanya bisa tercapai jika upaya pengurangan dilakukan lebih progresif dan masif.

Suhu Bumi naik 1,5 derajat celsius saja sudah menimbulkan perubahan iklim yang menyebabkan cuaca ekstrem, apalagi jika tembus 2 derajat celsius atau bahkan 3 derajat celsius. Emisi gas rumah kaca—penyebab pemanasan global—terutama berasal dari ketergantungan dunia pada bahan bakar fosil.

Dalam Konferensi Tingkat Tinggi Ke-26 Urusan Iklim (COP26) di Skotlandia tahun lalu, dunia menyepakati, pada 2050, Bumi harus tidak lagi menghasilkan emisi sama sekali. Caranya, beralih ke energi baru terbarukan (EBT).

Suasana sidang pleno COP26 Pertemuan Puncak Iklim PBB di Glasgow, Skotlandia, Sabtu (13/11/2021). (AP Photo/Alberto Pezzali)

Namun, situasi dunia mutakhir justru menunjukkan, tantangan makin besar, terutama karena negara-negara adidaya makin konfrontatif dengan lawan mereka sehingga menciptakan hambatan-hambatan.

Kompas berkesempatan mewawancarai Utusan Khusus Presiden Amerikat Serikat (AS) untuk Urusan Iklim John Kerry guna membicarakan tantangan itu. Berikut petikan wawancara melalui telepon dari Jakarta, Kamis (1/9/2022), saat Menteri Luar Negeri AS periode 2013-2017 itu berada di Nusa Dua, Bali, untuk menghadiri Pertemuan Menteri Lingkungan Hidup G20.

Aktivitas nelayan di Pasar Ikan Ciwaru, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Jumat (5/8/2022). Pemerintah berencana memperluas wilayah konservasi laut menjadi 30 persen dari total luas lautan Indonesia. Perluasan kawasan konservasi itu bertujuan meningkatkan populasi ikan dan serapan karbon. KOMPAS/AGUS SUSANTO (AGS) 5-8-2022


Bagaimana kelanjutan misi mewujudkan nirkarbon di kawasan ini?
Pertama-tama, saya meluruskan bahwa Eropa tidak kembali ke energi fosil. Mereka tetap memegang komitmen nirkarbon per 2030. Memang situasi kini sangat pelik. Rusia baru saja menghentikan aliran gas di pipa Nord Stream 1 dan Eropa tengah memasuki musim dingin.

Eropa terpaksa untuk sementara waktu memperpanjang pemakaian energi fosil, terutama batubara. Akan tetapi, hal itu tidak untuk jangka waktu lama, hanya demi memenuhi kebutuhan mendesak sekarang. Pada saat bersamaan, upaya pengalihan energi sepenuhnya ke EBT terus berjalan.

Setelah krisis keamanan ini berakhir, kita semua tetap harus mengejar target dekarbonisasi. Nanti Eropa, AS, dan negara-negara maju lain harus bekerja berkali-kali lipat guna memenuhi komitmen pada 2030 tersebut.

Bagaimana dengan China? Ketegangan dengan negara ini membuat kerja sama dekarbonisasi dengan AS berhenti.

Saya tidak memakai istilah berhenti. Istilah yang tepat ialah ditangguhkan. Artinya, suatu saat—diharapkan secepatnya—kerja sama bilateral ini kembali berjalan.
Di dalam negeri, China terus mewujudkan target dekarbonisasi. Bahkan, mereka sekarang merupakan produsen EBT terbanyak di dunia. (Dalam wawancara dengan Financial Times di Athena, Yunani, 30 Agustus 2022, Kerry mengungkapkan penjajakan dengan China terus dilakukan agar kerja sama peralihan energi bisa berlangsung kembali sebelum COP27 di Mesir, November mendatang).

Dalam COP26 negara-negara berkembang dan miskin mengajukan keberatan mengenai target dekarbonisasi. MMereka keberatan karena tidak punya dana, teknologi, dan sumber daya manusia untuk beralih ke EBT dalam waktu cepat. Ada pula alasan peralihan ke EBT ini menghalangi pertumbuhan ekonomi. Bagaimana menurut Anda?

Justru krisis energi ini menunjukkan kepada kita betapa ketergantungan terhadap energi fosil sama sekali tak menguntungkan siapa pun. Begitu energi fosil tidak bisa diekspor atau terkendala sedikit saja, kita semua lumpuh dan harga komoditas meroket. Kedaulatan energi suatu negara hanya bisa dicapai melalui EBT.

Saya sekarang berada di Bali, menikmati sinar matahari yang cerah. Ini adalah sumber energi yang masif dan gratis. Kenapa tidak bisa dimanfaatkan? Apabila alasannya adalah biaya yang mahal, sejatinya menunda peralihan energi akan memakan biaya jauh lebih banyak dibandingkan dengan melakukan investasi sekarang.

Setiap negara sejatinya memiliki potensi berdikari secara energi. Ada negara seperti Indonesia yang dikaruniai sinar matahari sepanjang tahun. Ada negara-negara dengan embusan angin kencang. Banyak pula negara dengan panas bumi. Setiap negara, bahkan wilayah, memiliki potensi kemandirian energi masing-masing.

Tanpa ada aksi nyata, semua komitmen dekarbonisasi ini bagi negara-negara berkembang dan miskin terkesan seolah negara-negara maju menggurui mereka. Seperti apa cara menjembataninya?

Betul. Prinsip harus diikuti dengan penerapan nyata. Negara-negara berkembang silakan melihat bahwa negara-negara maju melakukan kesalahan. Perekonomian dan industri kami maju dengan mengorbankan alam.

Sekarang, negara maju menjadi produsen 80 persen gas rumah kaca global. Biaya yang dikeluarkan negara-negara maju untuk peralihan ke EBT jauh lebih besar daripada wilayah lain di dunia.

Negara-negara berkembang dan miskin secara kolektif menghasilkan 20 persen emisi global, tetapi jika dipecah-pecah, emisi per negara relatif kecil. Kita harus melihatnya sebagai kesempatan untuk membangun ketahanan energi masing-masing dengan mengedepankan target nirkarbon per 2050. Kerja sama antara negara maju dan berkembang- miskin wajib dilakukan. Kuncinya terletak pada kemauan politik kedua belah pihak.

Teknologi berkembang luar biasa. Baterai, misalnya, kini dapat menyimpan lebih banyak energi dalam waktu yang lebih lama dan melepaskannya dalam kekuatan lebih besar. Ada teknologi hidrogen biru ataupun hijau. Ada pula teknologi penangkapan karbon. Kajian-kajian global ataupun lokal terus berjalan. Saya optimistis ini semua bisa mewujudkan Bumi bebas karbon.

Bagi negara-negara berkembang, hal itu memberikan pilihan yang banyak karena mereka masih harus membangun banyak pembangkit listrik. Sekarang landasan pemikirannya bukan hanya pembangkit listrik yang bisa menyediakan energi secara masif, tetapi juga harus melihat aspek ramah lingkungan, harga terjangkau, bisa diakses oleh semua kelompok masyarakat, dan bekelanjutan.

Artinya, negara-negara berkembang memiliki kemerdekaan memetakan potensi EBT di setiap wilayah mereka. Pendekatannya beragam, mungkin ada daerah yang memerlukan pembangkit-pembangkit listrik kecil, tapi ada daerah yang pas untuk membangun pembangkit listrik berkapasitas besar.

Keputusan berada di tangan setiap negara dan wilayah. Kerja sama dengan negara-negara maju sangat penting. Selain mengenai sponsor dan pembiayaan, kerja sama juga terkait peningkatan kapasitas sumber daya manusia, transfer teknologi, dan penelitian bersama.

Bagaimana pendapat Anda mengenai komitmen dekarbonisasi dari Indonesia?
Saya melihat, dari sisi komitmen, pemerintahan Presiden Joko Widodo sudah baik. Ada berbagai kerja sama dengan negara-negara lain untuk mewujudkan Indonesia nirkarbon yang diturunkan dalam misi untuk pulih dari pandemi Covid-19. Selama empat tahun terakhir, ada perkembangan pengurangan deforestasi di Indonesia.

Saya juga akan berbicara dengan sejumlah menteri serta wakil-wakil kementerian/lembaga lainnya. Semoga dapat tercapai kesepakatan. AS dengan senang hati menawarkan pendanaan, teknologi, serta peningkatan kapasitas bersama untuk dekarbonisasi.


Menerobos Konsep Umum, Bandara Banyuwangi Menangi Aga Khan Award

Atap Bandara Blimbingsari Banyuwangi berupa hamparan rumput. Foto ini diunggah di website resmi AKDN.org, Desain Bandara Blimbingsari dan rumah tumbuh di Batam terpilih menjadi 20 nominator penerima Aga Khan Award. periode 2017-2022.



Bandara Banyuwangi yang didesain oleh Andra Matin ini memenangi penghargaan karena dianggap memiliki arsitektur yang mengusung nilai-nilai pembaruan. Bandara ini menerobos konsep bandara yang pada umumnya tertutup.


Bandara Banyuwangi di Jawa Timur meraih penghargaan dunia Aga Khan Award for Architecture 2022. Bandara itu menyisihkan 463 bangunan dengan arsitektur terbaik dari seluruh dunia.

Bandara Banyuwangi yang didesain oleh arsitek Andra Matin ini memenangi penghargaan karena dianggap memiliki arsitektur yang mengusung nilai-nilai pembaruan. Bandara ini menerobos konsep bandara yang pada umumnya tertutup dan eksklusif.

Penghargaan Aga Khan Award diterima oleh Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani di Royal Opera House of Muscat Arts, Muscat, Oman, Senin (31/10/2022) malam waktu setempat atau Selasa (1/11) pagi. Selain dihadiri para arsitek terkenal dari seluruh dunia, acara dihadiri Putra Mahkota Kerajaan Oman Theyazin bin Haitham Al Said serta Princess Zahra Aga Khan.

”Tidak seperti bangunan bandara lain, yang kerap merupakan tempat kedap,tertutup, dan terasing dari lingkungan sekitar, Bandara Banyuwangi adalah perlawanan elegan terhadap bentuk bandara pada umumnya,” tulis para juri dalam keputusan pemenang lewat rilis Pemkab Banyuwangi, Senin (1/11).

Dalam penilaian juri independen, Bandara Banyuwangi disebut menghindari gaya internasional standar yang dianut sebagian besar bandara di dunia. Bandara ini justru membawa identitas sekaligus memori budaya lokal. Desain lokal terlihat dari atap bandara yang bernuansa tradisional berbentuk ikat kepala suku Osing yang merupakan masyarakat asli Banyuwangi.

Bandara ini juga didesain ramah lingkungan dengan memanfaatkan serambi (overhang) yang lebar dan dinding-dinding dari bilahan kayu ulin bekas yang semi-terbuka. Dinding terluar yang semi-terbuka itu mampu membuat aliran udara masuk dengan mudah ke ruangan-ruangan dan mengurangi penggunaan pendingin udara. Kolam ikan di dalam dan luar dinding serta pepohonan dan rumput di halaman juga turut membantu meredam suhu panas tropis daerah ini sekaligus memberi kesan alami.

Bandara ini bisa menjadi paradigma baru dan game changer di waktu mendatang dalam arsitektur bandara.

Saat mulai dibangun pada 2016, Bupati Banyuwangi saat itu, Abdullah Azwar Anas, bersama arsitek Andra Matin memilih menekankan nilai-nilai lokal, fungsionalitas, dan pemeliharaan berbiaya rendah dalam pemilihan material, tetapi tetap memiliki nilai modern dan efisien dalam segala aspek.

Bupati Banyuwangi Ipuk Festiandani (tengah) menerima penghargaan Aga Khan Award for Architectur 2022 di Muscat, Oman, Senin (31/10/2022) malam waktu setempat. Bandara Banyuwangi memenangi penghargaan ini setelah menyisihkan 463 nomine di seluruh dunia.

Skema pembangunan yang diterapkan bersandar pada sumber daya lokal, memakai teknologi tepat guna, dan menerapkan prinsip-prinsip desain pasif vernakular atau bertumpu pada arsitektur rakyat.

”Bandara ini bisa menjadi paradigma baru dan game changer di waktu mendatang dalam arsitektur bandara,” kata dewan juri.

Lebih jauh, para dewan juri juga menilai, arsitektural Bandara Banyuwangi juga memiliki dampak luas terhadap masyarakat. Seperti halnya mengharmonisasi keberadaan bandara dengan alam di sekitarnya. Kawasan di sekitar bandara diproteksi sebagai lahan hijau dengan lanskap persawahan.

Arsitek Andra Matin, peraih penghargaan Aga Khan Award 2022

”Salah satu unsur penilaiannya termasuk bagaimana karya itu berdampak pada banyak manusia di sana dan di sekitarnya,” tutur Andra Matin yang turut hadir di Oman.

Salah satu unsur penilaiannya termasuk bagaimana karya itu berdampak pada banyak manusia di sana dan di sekitarnya.

Ipuk Fiestiandani mengungkapkan kehadiran bandara ini, selain capaian di bidang arsitektur dan menjadi penanda daerah, juga telah mampu menggerakkan perekonomian lokal dengan kemudahan akses ke Banyuwangi.

”Bandara menjadi salah satu pengungkit kemajuan Banyuwangi. Semoga ini berkah manfaat. Membawa kebanggaan. Menghadirkan keberkahan. Meningkatkan kesejahteraan warga,” ujar Ipuk.

Dinobatkannya Bandara Banyuwangi sebagai pemenang Aga Khan Award for Architecture juga membuat warga Banyuwangi bangga. Joko Sulistyo (43) warga yang sehari-hari menjadi pemandu wisata mengatakan, bandara ini bisa menjadi bagian dari destinasi baru Banyuwangi. "Turis-turis, dari dulu banyak yang suka dengan konsep bandara ini. Beberapa yang mengerti arsitektur malah maunya diajak keliling ke tempat-tempat seperti ini," kata Joko.

Selain Bandara, sejumlah tempat yang memiliki arsitektur modern namun unik di antaranya Pendopo Kabupaten Banyuwangi, tempat wisata Grand Watu Dodol, dan Taman Makam Pahlawan Sayu Wiwit yang juga berfungsi sebagai tempat berkumpul anak muda.

Muhammad Nawi (56), pemain musik tradisional pun senang karena daerahnya kini jadi terkenal. Menurutnya Udeng (penutup kepala) yang ia pakai sehari-hari bisa go internasional lewat desain bandara.

Dibal Ranuh, Kemenangan Tim

 



”Ini prestasi yang pantas dibanggakan karena bersaing dengan nama-nama besar dalam bidang video musik,” kata Dibal, Kamis (20/10/2022), dari Denpasar.

Dibal Ranuh benar-benar tidak menduga bahwa video musik yang ia ciptakan meraih prestasi membanggakan: Video Musik Terbaik AMI Awards 2022.

”Ini prestasi yang pantas dibanggakan karena bersaing dengan nama-nama besar dalam bidang video musik,” kata Dibal, Kamis (20/10/2022), dari Denpasar. Ia merasa lagu ”Dinasti Matahari” dari Navicula telah menginspirasinya mengeksplorasi kekayaan Nusantara.

Ia memilih melakukan shooting di Pulau Sumba untuk mencari bentangan sabana yang luas, di mana para penunggang memacu kudanya dengan cepat. Ia dibantu oleh koreografer Jasmine Okubo yang menciptakan koreografiberbasis kekayaan budaya Nunsantara.

Kemenangan ini, kata Dibal, kemenangan sebuah tim yang penuh daya ledak kreativitas. 

”Tentu saja Navicula punya peran besar dengan melahirkan lagu yang keren,” ujar Dibal.

Sampai saat ini, tambah sutradara kelahiran Singaraja ini, AMI Awards masih menjadi barometer insan musik Indonesia. Oleh karena itu, ia merasa bangga bisa menjadi pemenang. ”Ajang ini ajang yang paling ditunggu insan musik Indonesia. Tentu saya senang bisa menang,” katanya.


Selain melahirkan video musik, Dibal juga menyutradarai beberapa film untuk ajang kompetisi tingkat internasional.


1 OKTOBER




Kalaupun tuntutan penuntasan Tragedi Kanjuruhan itu terpenuhi, ia merupakan reaksi keras pada kasus besar. Namun, tindakan itu tidak membongkar akar masalah struktural yang sudah kronis dalam sejarah nasional.

Ada yang lebih mengerikan daripada kisah gas air mata dan besarnya jumlah korban dari Tragedi Kanjuruhan, 1 Oktober 2022. Yang paling mengerikan: tragedi itu seharusnya bisa dihindarkan. Hingga kini berbagai kajian rinci tidak menemukan alasan mengapa tembakan gas air mata diobral ke tribune penonton.

Bukan saja gas air mata terlarang digunakan di sana. Yang lebih memilukan: tak ada situasi gawat yang membutuhkan satu pun tembakan terlarang itu. Tak ada tawuran antar-suporter. Tak ada serbuan massa yang mengancam nyawa pemain atau petugas.

Tidak semua kekerasan negara bisa dibenarkan sekalipun dampaknya membawa manfaat bagi negara atau masyarakat umum. Ada kekerasan yang tidak bisa dibenarkan karena kadarnya berlebihan. Apalagi, kekerasan yang bersifat acak atau membabi buta, yakni kekerasan yang diobral tanpa alasan, tujuan, atau keuntungan bagi pelakunya atau siapa pun.

Sebesar apa keuntungan yang dicari pihak di balik pembunuhan Udin, Marsinah, atau Munir? Sudahkah proses hukum diusahakan maksimal untuk memberi keadilan bagi semua kasus itu? Apakah Orde Baru tidak bisa bangkit tanpa pembantaian hampir sejuta anak bangsa setelah Soeharto menaklukkan G30S pada 1 Oktober 1965?

Pertengahan Mei 1998 Jakarta terbakar oleh ledakan amunisi yang lazim di medan perang. Penjarahan dan perkosaan massal marak selama 48 jam nyaris tanpa hambatan dari aparat. Adakah keuntungan besar yang dicari atau diperoleh sebagian elite negara? Jika ada, betapa kejinya. Jika tidak, betapa mengerikan kekerasan acak itu!

Obral kekerasan acak atau tanpa alasan yang sepadan dengan akibat yang bisa diduga sebelumnya bisa terjadi bahkan berulang-ulang jika kondisi memungkinkan. Misalnya bila ada pihak yang menikmati impunitas. Mereka merasa kebal hukum, maka tak khawatir sanksi hukum. Kalaupun diadili,mereka yakin akan dibebaskan. Jika terdesak tekanan massa atau tekanan internasional, mereka hanya meminta maaf. Kalau perlu, beberapa orang kecil ditumbalkan sebagai ”oknum”.

Kita terpaksa berdamai dengan aneka bahaya yang tak mampu kita taklukkan, misalnya Covid, korupsi, dan impunitas. Tragedi Kanjuruhan mungkin tidak terjadi, atau terjadi tidak separah itu, jika berbagai kasus kekerasan di sekitar pertandingan sepak bola sebelumnya diusut tuntas. Berbagai kasus lama itu sendiri tidak terulang andaikan berbagai kekejaman berat lain di luar lingkungan sepak bola sudah ditindak tegas, adil, dan tuntas secara hukum.

Tragedi 1 Oktober 2022 di Kanjuruhan menguji penegakan hukum dan kesabaran bangsa. Langkah awal pemerintah dan berbagai lembaga swasta layak dihargai. Semoga kasusnya diusut tuntas dan yang bersalah dihukum setimpal.

Namun, kerugian para penyitas dan keluarga korban tidak terlunasi oleh ganti rugi sebesar apa pun. Tuntasnya satu kasus itu juga tidak membasmi habis akar masalah yang memungkinkan obral kekerasan. Tragedi Kanjuruhan bukan kasus tunggal yang lepas dari sejarah kekerasan nasional.

Kunci kejayaan Indonesia di masa depan terletak pada pembenahan radikal dalam bidang hukum dan pendidikan. Pendidikan membuka peluang selebar-lebarnya bagi pertumbuhan kreatif anak bangsa. Hukum menutup serapat mungkin peluang dan bakat kita yang bersifat merusak.

Pendidikan berlangsung tidak hanya di sekolah. Hukum tidak terwujud sebatas ruang pengadilan. Keduanya dihayati warga dalam aneka ruang dan ragam, termasuk kehidupan sehari-hari di rumah tangga, tempat kerja, juga lapangan sepak bola.

Perombakan hukum dan pendidikan tidak mudah. Dibutuhkan kerja sama berbagai pihak berjangka-panjang, selain dana besar. Dana bukan masalah besar bagi Indonesia. Dibandingkan dengan banyak negara lain, Indonesia terbilang makmur walau kemakmuran itu tidak merata. Yang lebih sulit diharapkan adalah komitmen bersama bagi perbaikan radikal dalam bidang hukum dan pendidikan.

Di mana pun hukum cenderung bias menguntungkan elit. Tak ada insentif bagi mereka untuk merombaknya secara radikal karena itu berisiko ”bunuh diri” secara politis dan ekonomis. Kaum elite memiliki peluang terbesar, tetapi bukan minat besar untuk investasi pendidikan nasional berjangka panjang.

Pendidikan cemerlang di banyak negara merupakan kerja keras yang hasilnya baru bisa dinikmati beberapa generasi kemudian. Kebijakan demikian membutuhkan negarawan berwawasan jauh ke depan. Sosokdemikian bisa lahir dari tuntutan mayoritas pemberi suara dalam pemilu, yang disambung dukungan, pantauan dan evaluasi dari lembaga independen seusai pemilu.

Kebijakan berkiblat masa depan sulit diharapkan bila debat publik terpusat pada sosok personal individu politikus, agamanya atau etnisitasnya. Jika setiap pergantian pemerintah terjadi perubahan kebijakan pendahulunya. Jika ambisi pejabat negara terpusat pada prestasi jangka pendek, sesuai tuntutan masyarakat akan hasil instan dari setiap pemerintah.

Membandingkan prestasi satu pemerintahan dengan pendahulunya sebatas masa jabatan merupakan kebiasaan buruk. Kinerja sebuah rezim sering ditentukan oleh warisan prestasi dan masalah dari pendahulunya.

Sepuluh hari sebelum Tragedi Kanjuruhan, Presiden Jokowi membentuk tim penyelesaian non-yudisial pelanggaran berat HAM masa lalu. Keputusan itu menimbulkan dua kesan. Pertama, Presiden tidak percaya lembaga peradilan mau atau mampu menuntaskan masalah itu, maka diambilnya jalan pintas. Kedua, impunitas akan berumur panjang bagi yang punya koneksi kuat.

Kini banyak pihak menuntut kasus Kanjuruhan diusut tuntas. Kalaupun tuntutan itu terpenuhi, ia merupakan reaksi keras pada kasus besar. Namun, tindakan itu tidak membongkar akar masalah struktural yang sudah kronis dalam sejarah nasional. Maka ia tidak dengan sendirinya mengakhiri impunitas dan obral kekerasan.


Apa pun hasilnya, proses hukum kasus Kanjuruhan itu akan menjadi pelajaran nasional di luar sekolah tentang makna berbangsa dan bernegara. Apakah tanggal 1 Oktober layak diperingati dengan kibaran bendera nasional di puncak tiang sebagai warisan Orde Baru? Atau diturunkan setengah tiang untuk menge
nang para korban tragedi nasional?