Italia- Romantisme Restorasi Roma


Ungkapan klasik mengatakan, “Banyak jalan menuju Roma” Frasa yang lahir pada masa Romawi Kuno abad 18 itu bak kalimat mantra bertuah, menjadikan kota Roma sebagai tujuan utama destinasi wisata Eropa. Pada awal musim panas (Juni-Juli) di Eropa tahun ini, saya bersama Somya, istri tercinta, berdua saja, menjalani ‘long journey’ menjelajahi delapan negara benua biru. ‘Journey’ kami mulai dari kota Roma, Italia.


Mengapa Italia? Sejak muda saya kagum dan suka apa pun itu terkait dengan Italia. Kagum sejarah bangsanya, kagum cara mereka merawat keindahan arsitektur bangunan kuno bersejarah. Saya juga suka aneka kulinernya. Jujur, saya seperti memiliki ikatan batin dan “jatuh hati” dengan negara yang bentuk wilayahnya menyerupai ‘sepatu bot raksasa’, bila dilihat dari peta Globe. Kebetulan saya punya ‘passion’ travelling. Suka berjalan-jalan, tapi memakai sepatu sports (kets), bukan sepatu bot. 


Setiap journey ke Italia, khususnya kota Roma, saya selalu sempatkan mengunjungi bangunan bersejarah. Colloseum, peninggalan arsitektur Kekaisaran Romawi di Roma, salah satunya. Bangunan ‘amphitheatre’ yang berkesan megah itu dibangun pada masa Dinasti Flavian, tahun 72-80 Masehi. Kini masih berdiri kokoh di pusat kota Roma. Saya membayangkan bagaimana dulu kota Romawi Kuno dibangun. Saya tidak dapat membandingkan puing-puing bekas kejayaan Romawi di negara lain.

 

This is Colloseum…@Roma, Italia…


Saya kagum, bagaimana orang Italia menggalang dana untuk perawatan dan revitalisasi berbagai bangunan kuno sebagai ‘heritage’. Saya sungguh iri dalam hal ini. Bangsa Italia, dan warga Roma yang sempat terlibat perang saudara, sukses ‘merestorasi’ bangunan bersejarah kota Roma yang sempat jadi puing-puing, menjadi peninggalan penting.


Saya suka sejarah. Mata pelajaran sejarah di SMP, saya dapat nilai 100! Dari sejarah saya ketahui, dalam beberapa hal, Italia memang tidak superior bagi negara Eropa. Saat perang dunia kedua ‘World War II’, Italia yang penganut fasisme pimpinan Mussolini, masuk anggota Blok Poros (Roma-Berlin-Tokyo) bersekutu dengan Jerman. 


Pintu Gerbang Colloseum dan view pusat kota Roma.


Italia ikut terjun dalam perang yang berlangsung 10 Juni 1940. Pada periode perang 10 Juli hingga 31 Oktober 1940, Nazi terlibat perang udara di langit Inggris, dan kalah. Perang Dunia II dimenangi pihak Blok Sekutu (Uni Soviet dan Amerika Serikat beserta sekutunya).


Kalah dalam perang dunia, Italia segera bangkit, segera merestorasi diri. Saya pikir, di Uni Eropa, Italia salah satu negara paling ‘cergas’ dan ‘gercep’ dalam merestorasi diri. Warga Roma pun sukses ‘merekontruksi’ jejak kejayaan Kekaisaran Romawi Kuno (Roman), ‘Romawi Barat’ tetap relevan dan kekinian.


Namun demikian mereka menyisakan satu pertanyaan. Saya pun bertanya. Mengapa negara Italia tidak memakai nama Romania? Nama itu justru digunakan negara lain yang juga menjadi bagian negara benua Eropa.

 



Moving Forward - Just keep walking around at the ‘Spanish Steps’monument area. Monumen Romawi kuno ini dibangun tahun 1723 – 1725 diarsiteki Francesco de Sanctis. Salah satu landmark tertua di Roma Italia, yang berarsitek unik, masih terawat apik.

 

Dari Roma Italia, pada musim panas Eropa tahun ini, ‘long journey’ kami mulai. Bila ada pepatah mengatakan ‘Banyak jalan menuju Roma’, saya bersama isteri tercinta yang suka travelling selalu punya alasan, “Selalu ada jalan menuju jalan-jalan”.

 

Enjoy travelling… Romantisme Roma… Me and Somya…


Saya bersyukur, dalam usia senior, masih dapat menjalani ‘long journey’ ke Eropa bersama istri tercinta, bernostalgia dengan gelora semangat muda. Serasa masih energik sebagai mahasiswa- mahasiswi aktifis di kampus ITB Bandung saat kami dulu bertemu. []

No comments :