Showing posts with label Business. Show all posts
Showing posts with label Business. Show all posts

Interview with Global Business Guide Indonesia



Global Business Guide :
PT Martel is a reputable hotel developer in Indonesia with a portfolio of successful projects which includes five-star hotels such as the Bali Imperial Hotel and the Grand Preanger Hotel in Bandung. What more can you tell us about the history of your company?

DSP :
PT Martel was founded as part of a diversification strategy for our main venture in the oil and gas sector. We recognized the volatility of that particular sector which comes with the promise of high yields but also entails high risk; hence we looked into tourism where we especially considered the prospects in the long-term.

We initiated our first involvement in the industry with the Grand Preanger Hotel in Bandung, West Java, by acquiring the 100-year-old hotel on a 30-year lease. Subsequently, we developed the original building which was constructed in the Dutch colonial era by adding 150 more rooms to the initial 50 rooms. After the renovation was completed, we officially reopened the hotel in 1990.

Our following project was the Bali Imperial Hotel in Seminyak, Bali. The idea for this hotel itself was conceived after frequently having stayed at the legendary Imperial Hotel in Tokyo during our business trips to that city. Hence, we decided to build a hotel to be managed by the same company. However, we eventually sold the hotel more than ten years later due to a number of reasons. In 1995, PT Martel opened the Novotel Hotel in the city of Bukittinggi, West Sumatra. This four-star hotel already has the distinction of having attained an architectural award for its design which was the work of renowned Thai architect, Mr Lek Bunnag, and US landscape artist, Mr Bill Bensley. Additionally, we also have several smaller-scale projects, one of which is in the city of Berastagi, North Sumatra.

Read more on Gbgindonesia.com: Interview with Mr Dedi Sjahrir Panigoro (PT Martel)

With Wael and Lianna, The Director of Global Business Guide Indonesia

Megaproyek Terealisasi

Implementasi Integrasi Industri Migas Harus Jalan

Hilirisasi industri yang terintegrasi mulai terealisasi di sektor minyak dan gas. Hal itu ditandai dengan peresmian Megaproyek Pertamina Terintegrasi di Banggai, Sulawesi Tengah. Proyek pengolahan gas alam diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi.

Presiden Joko Widodo (kedua kanan) didampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo (kedua kiri) dan Menteri ESDM Sudirman Said (kanan) berbincang dengan Direktur Utama PT Pertamina Dwi Soetjipto (kiri) saat mengunjungi kilang Donggi-Senoro LNG seusai meresmikan Megaproyek Pertamina Terintegrasi di Banggai, Sulawesi Tengah (Minggu, 2/8). -ANTARA FOTO/ISMAR PATRIZKI-
Megaproyek Pertamina Terintegrasi menelan biaya investasi sekitar 5,6 miliar dollar AS atau sekitar Rp 75,4 triliun. Megaproyek itu, antara lain Joint Operating Body (JOB) Pertamina Medco Tomori Sulawesi dengan nilai investasi 1,2 miliar dollar AS, Matindok Gas Development Project senilai 0,8 miliar dollar AS, Donggi-Senoro LNG 2,8 miliar dollar AS, dan pabrik amonia PT Panca Amara Utama senilai 0,8 miliar dollar AS.

Presiden Joko Widodo mengatakan, proyek itu merupakan bagian dari komitmen pemerintah membangun kedaulatan energi. "Kita ini negara yang sangat besar dengan kekayaan laut dan bahan mentah yang banyak sekali. Inilah yang harus dihilirisasi. Kita harus memulai melakukan reindustrialisasi besar-besaran," kata Presiden saat meresmikan proyek tersebut, Minggu (2/8), di Desa Uso, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.

Megaproyek Pertamina Terintegrasi merupakan proyek pertama yang mengadopsi konsep hulu dan hilir. Sumber minyak dan gas alam diambil dari Blok Donggi-Senoro, sedangkan pengolahan dilakukan di kilang Donggi-Senoro LNG yang berkapasitas 2,1 million tons per annum (MTPA).

Dengan target total produksi hulu 415 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD), Presiden berharap proyek itu dapat memasok kebutuhan pembangkit listrik, pabrik amonia, dan kilang LNG. Presiden juga meminta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dan PT Pertamina betul-betul mengawal proyek tersebut.

"Integrasi diharapkan tidak di atas kertas saja, tetapi juga di lapangan, dari produsen gas hingga pengguna industri petrokimia, pembangkit listrik, maupun pembeli LNG. Jangan sampai ada sumbatan-sumbatan masalah di lapangan. Jika perlu, persoalan itu bisa disampaikan kepada saya selaku presiden agar cepat diselesaikan," kata Jokowi.

Perekonomian

Presiden Jokowi mendorong produksi domestik harus mampu berkontribusi pada perekonomian daerah dan nasional. Integrasi industri nasional perlu terus diperkuat. Selain itu, keterlibatan peran pemerintah daerah juga perlu ditingkatkan.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Dwi Soetjipto mengungkapkan, ketentuan penjualan hasil produksi megaproyek tersebut memang belum fokus pada pembagian porsi, baik domestik maupun ekspor.

Namun, tren permintaan gas dari dalam negeri diperkirakan bakal meningkat. Pertamina telah siap mengakomodasi kebutuhan tersebut.

"Kendala mengembangkan produksi dan distribusi gas ke pasar domestik adalah infrastruktur," kata Dwi. Pemerintah perlu mengembangkan solusi untuk mengatasi masalah infrastruktur.

President Director and Chief Executive Officer PT Medco Energi Internasional Tbk Lukman Mahfoedz menyatakan, perlu adanya terobosan pengembangan hulu-hilir sumber daya energi. Integrasi perusahaan swasta nasional perlu mendapat dukungan dari pemerintah.

"Kami merencanakan proyek integrasi serupa di Blok Simenggaris, Kalimantan Utara. Konsepnya adalah LNG mini. Selama kurun waktu tiga tahun, kami telah menggodok usulan ini dan semoga pihak pemerintah bersedia," kata Lukman. Menurut rencana, pembeli gas dari LNG mini tersebut adalah PT PLN (Persero).

President Director PT Donggi-Senoro LNG Gusrizal mengungkapkan, target produksi dari kilang LNG Donggi-Senoro adalah 2 juta ton per tahun. Target ini memerlukan produksi penuh dari dua blok di hulu.

Head of Corporate Communication PT Medco Energi Internasional Imron Gazali menyebutkan, JOB Pertamina Medco Tomori Sulawesi juga mampu menghasilkan kondensat 8.000 barrel per hari.

Sumber: Kompas, 3 Agustus 2015

A New French (Tech) Revolution?


Telecom enterpreneur XAVIER NIEL wants to shake up his home country’s education system.
By: Vivienne Walt 

            A tall, middle aged man is propped against a wall inside a building on the gritty nothern edge of Paris. He’s deep in discussion with a young woman sporting bright-green hair tied in pigtails; she’s sucking on a neon-blue lollipop and driving home a point to him with her hands.
            The man listening intently to the artsy-looking twentysomething isn’t a talent agent or even a college professor—though he’s keenly interested in education. He is Xavier Niel, one of the richest people in France (estimated net worth: $7.8 billion), who achieved his wealth by disrupting his country’s tellecommunication industry. Now Niel, 46, wants to upend another French institution: its notoriously rigid education system.
            In September he opened a programming school called 42, a name derived from the 1970s classic The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy, in which the answer to life’s mysteries is always 42. The school, in Nothern Paris (where Fortune found Niel chatting with students), breaks almost every rule of French matriculation: Tuition is zero. So too, are prerequisites. Of the 70,000 young French who took 42’s application test, about 40% were high school dropouts. To underscore the school’s edgy feel, Niel (pronounced “nee-el”) had a pirate flag hoisted outside the building.
Niel says he was inspired to start his school not only because French companies report a chronic shortage of high-tech talent to hire, but also because some 200,000 youths drop out of school each year. Many, including Niel, believe that is because french education focuses on formalized, nationaly controled testing that favors workhorses over creative geeks and maverick innovators. The country that once churned out geniuses such as painter Pierre-Auguste Renoir and composer Claude Debussy has struggled to create a Mark Zuckenberg or Steve Jobs.
Niel sees technology skills as a way to even the playing field in France, not just for diadvantage kids but also for middle-class and elite students who want to explore different career paths. “There’s a lack of social mobility,” he says. “If you are the son of a doctor.” By contrast, his new school is “a little subversive,” he says with a delighted grin.
Niel knows all about being subversive. He was raised in the modest suburb of Creteil, a far cry from Paris’s majestic avenues. And while the great majority of French CEOs come out of the grandes ecoles, the equivalent of the Ivy League, Niel skipped college altogether and holed up at home with his computer, coding. “I started literally in a garage alone,” he explains. “I had some luck.”
Niel developed sex-chat software (he was 18, after all) and other communication tools, which he sold to tech companies that provided content for France Telecom’s groundbreaking Minitel online service. At 26, he created France’s first ISP, WorldNet, and sold it for about $55 million in 2000. In 1991 he launched Iliad, the first French company to offer a “tripple play” TV-phone-Internet service, naming it (in English, no less) Free. Last year Niel won the bid for France’s fourth mobile service and launched Free Mobile, offering a floor-smashing 20 Euro (about $28) monthly plan for unlimited calls, far cheaper than other French services.
His competitors cried foul, but Niel couldn’t have cared less. Iliad’s market cap has ballooned 11-fold over the decade, to 9.8 billion Euro ($13.5 billion), making Niel, who owns 55.3% of Iliad, immenslyy rich. Yet despite that (and even though the now owns a sizable chunk of France’s ultimate establishment newspaper, Le Monde), Niel retains his outsider image among French execs, having smashed his way into the elite. Niel is smart enough to know that image works to his advantage, as he throws his energies into new projects; his other company, Kima Ventures, invest in 100 startups a year.
“He is very un-French, but maybe that is why he has succeeded,” says Christophe Roquilly, a professor at EDHEC Business School in Lille. “He doesn’t accept the establishment’s state of mind.”
An antiestablishment culture pervades Niel’s school. During a recent boot camp for about 3,000 programers, the floor was littered with inflatable mattresses and soda cans from students who’d hopped trains to Paris from the hiterlands and bunked there for weeks. About 1,000 will make the cut for a three-year programming course that begins in mid-November. Even then there will be few teachers of classes. Students sit in warehouse-size rooms at aApple computers, creating whatever program they dream up, in a kind of giant hackathon.
Not everyone is sold on the idea Government rules dictate that since 42’s students need no high school diploma, the three-year courses will not have degree status. Wannabe students seem unconcerened. “ I’ve been earning the SMIC [minimum wage] in different jobs for years,” says Clement Aupetit, 26, who did not finish high school. “This might open doors.” Conservative French corporations could be wary of recruiting Niel’s new army of coders. “Opening themselves to different profiles will be a big leap for them,” wrote one blogger on the French site rude Baguette. Niel has not exactly ingratiated himself with France’s elits. He was once an investor in a chain of sex-toy shops; he spent a month in jail in 2004 on charges that he brokered prostitutes from his stores. The charges were later dropped.
But Niel is optimistic. If just a few students make it, he says, his investment – about 70 million Euro ($96 million) so far – will be worth it.
And besides, Niel is already at work creating his next project, 1000 Startups, which he claims will be the world’s biggest incubator and will open in 2016. “We don’t think we can change everything in France,” he says. “But we’ll have some impact.” There seems no better person to make that happen.[]

 Taken from FORTUNE Magz.

Vernon Hill, The Best Damn Banker Alive

Vernon Hill
Didunia retail banking Inggris yang picik, grand opening sebuah bank pada Juli lalu, pertama setelah 138 tahun menjadi sesuatu yang mengejutkan. Meski begitu, acara grand opening Metro Bank adalah sesuatu yang berbeda sama sekali : Dilakukan di trotoar depan cabang utama Metro Bank yang mewah, diseberang stasiun kereta Holborn, para penari vermilion yang memakai wig berparade di panggung. Band Dixieland membunyikan terompet, kru yang lainya menyemir sepatu, dan para pelayan membawa nampan berisis 5.000 cup es krim. Tongkat pentungan ala sirkus melayang memenuhi udara, bersama dengan balon putih bertuliskan JOIN THE REVOLUTION !

Didalam kantor Bank, ada jendela besar memanjang dari lantai hingga plafon. Di meja counter yang terbuat dari granit, para kasir yang tersenyum dar balik kaca Plexiglass, mengingatkan akan lobi sebuah hotel mewah di Las Vegas. Mereka membagikan ungkapan LOVE YOUR BANK AT LAST dan berjanji NO MORE STUPID BANK RULES. Ada sepeda yang parkir dilantai yang mengkilap, dan anjing pudel (HANYA BERLAKU UNTUK ANJING!, begitu tertulis di poster) tengah makan dari sebuah mangkuk, sementara pemiliknya tengah membuka rekening." saya belum pernah melihat bank seperti ini," kata seorang musisi jalanan yang hadir disitu." Siapa yang tidak tertarik dengan bank yang buka bahkan pada akhir pekan dan suasananya bak diskotik."

Sang Impresario yang berada dibalik pesta itu adalah Vernon Hill, sosok yang flamboyan, mulliarder AS yang punya tradisi selalu memberikan kejutan. Hill, 65, mendirikan Commerce Bank di AS dan meraksasa dalam dunia bisnia lewat melayani pelanggan dengan kemewahanya, yang juga dia terapkan di Inggris. Sebelum dia dipaksa keluar dari perusahaanya sendiri oleh regulator, Hill membangun sebuah rumah mewah gaya Italia di New Jersey yang luasnya hampir menyamai Gedung Putih.


Hill sedikit menghilangkan citra sebagai PT. Barnum (PT.Barnum atau Phineas Taylor Barnum, tokoh pertunjukan sirkus di AS pada 1810-1891). Didunia perbankan dalam grand opening Metro Bank di London. Berambut pirang dan bersisir rapih, Hill berdiri disana dengan setelan sutra dan pin emas sambil memeluk anjing terrier Yorkshire Sir Duffield, atau duffy panggilanya dilenganya, seraya memberinya makanan kecil dari nampan para pelayan. 


Simak tamu yang hadir Jemie Rubendan LeFrak Harisson, dari keluarga pebisnis real estate terkemuka di London dan New York, dan sekaligus investor di Metro Bank. Meredith Whitney, analis perbankan terkemukan dan pengagum Hill. Gene Lockhart, mantan CEO MasterCard International sekarang menjadi Direktur Metro Bank. Investor papan atas Wilbur Ross. Apa orang-orang ini pahami adalah Hill, para kompetitornya di AS menyebutnya dengan "Vernon The Barbarian", mempunyai otak yang cemerlang di industri retail banking.

Dimulai dengan investasi US 1,5 Juta dan satu cabang pada 1973, Hill membangun Commerce Bank sebagai Bank yang tumbuh paling cepat di AS. Selama lebih dari 3 dekade memimpin Commerce Bank, dana pihak ketiganya mampu 30% dan shareholder return 23% per tahun, menyaingi kinerja Warren Buffet di Berkshire Hathaway (27%) dan Larry Ellison di Oracle (31%).

"Hill mungkin Bankir paling berpengaruh dalam dua dekade terakhir," kata Thomas Brown dari Second Curve Capital, sebuah perusahaan Hedge fund."Dia mengubah total wajah industri dengan menunjukan pentingnya cabang dan deposito." Bahkan Hill lebih menganggap dirinya pebisnis retail ketimbang bankir. Seperti pebisnis retail papan atas, Hill tau benar kebutuhan pelangganya. Di bisnis perbankan, ia menemukan apa yang benar-benar membuat orang bergairah, mengubah pelanggan menjadi penggemar setia, dengan sesuatu yang luar biasa : layanan mewah. "Apa yang kami lakukan kebalikan denagn pendekatan bank-bank besar di AS dan Inggris, " Kata Hill. "Mereka pikir nasabah memilih Bank yang mampu membayar dengan suku bunga teringgi . Mereka sala. Orang akan memilih Bank anda, sekalipun dengan suku bunga lebih rendah, jika anda mampu memberikan pengalaman yang lebih baik dan memanjakan mereka." 

Kekuatan layanan pelanggan itulah yang menarik masuknya dana-dana masyarakat. Dan untuk Hill, menarik dana murah dengan kecepatan tinggi adalh sejatinya bisnis perbankan. Nanti kita akan sampai bagaimana Hill melakukan hitungan  - hitungan. Namun, idenya adalah menarik dana murah serta memberi pinjaman yang konservatif dan membeli surat berharga yang aman, maka bisnis bank dapat menjadi sangat menguntungkan. 

Hill melanggar hukum utama perbankan dalam segala hal, dari tingkat suku bunga hingga akuisisi. Dia menolak bersaing di harga, mengejutkan para pesaingnya dengan menawarkan suku bunga tabungan yang paling rendah, namun bisa mencuri nasabah mereka berikut dengan dananya. Untuk melestarikan budaya kerja "layana adalah segalanyaA", Hill menghindari Merger-strategi ekspansi yang banyak ditempuh bank-bank di AS dan Inggris, danmembangun Commerce Bankbetul-betul dari kecil, sesuatu yang bakal ia lakukan di Metro bank." Merger adalah tentang menutup cabang dan memangkas layanan. Ini bak pemabuk yang mencoba saling menopang," ucap Hill, yang tidak pernah meminum-minuman keras.


Pada awal 1970-an, Commerce Bank , menjadi satu-satunya Bank di AS yang tetap terbuka hingga malam hari dan bahkan dihari sabtu. Hill menyediakan mesin hitung gratis. " harga mesin itu US 40.000 per unit, dan gratis bahkan untuk non nasabah! "kata Hill. "coba tanya ke jajaran komisaris di bank- bank besar, apakah mereka bakal menyetujui pengeluaran semacam itu!"

Cerita tentang Hill semuanya menyangkut sensasi, dengan minor skandal. Hill masuk London karena regulator memaksanya untuk meninggalkan Commerce Bank. Pada 2007 Kantor Pengawas Mata Uang meminta Hill meninggalkan Commerce Bank setelah mereka melakukan investasi adanya kontrak antara Commerce Bank dengan anggota keluarga Hill. Pada Oktober 2007, beberapa hari sebelum S&P memberikan rating tertingginya sepanjang masa kepada Commerce Bank, TD Financial setuju membeli Commerce Bank senilai US 8,5 Miliar, dengan Hill mendapatkan lebih dari US 400 juta. Pihak berwewenang lalu memutuskan untuk mengakhiri investigasi tanpa melakukan penuntutan, dan Hill yang hiperaktif percaya bahwa model bisnisnya bisa diterapkan dimanapun, menyerbu London. Inilah pasar impian, klaim Hill, kerena layana nasabah di London jauh lebih buruk daripada di AS :Mebuka rekening disana rasanya seperti jika gigi kita di bor", lanjutnya. "satu-satunya orang yang tak membutuhkan Metro Bank adalah orang-orangyang ingin dirinya disalahgunakan."


Hill adalah makhluk jarang ada dalam dunia perbankan modern, seorang pembangun kerajaan yang hidup bak maestro dar abad yang lain. Rumahnya "Villa Collina" yang berdiri diatas lahan seluas lebih dari 1,78 hektar di Moorestown, New Jersey, Bisalah dianggap mirip istana Palladian. Jalan masuknya di apit oleh 8 kolam mengarah ke lantai berbatu kapur, yang diplester, dengan luar sekitar setengah lapangan sepak bola, dan bagian tengahnya diberi aksen oleh tiang Lonic raksasa. Masuk ke dalam rumah, foyer-nya bersis lampu gantung sepanjang lima meter, yang dibuat dari kaca murano asal Venesia, Italy. Hill suka menjamu tamunya dengan wine Cabernet Sougvignon dari kebun anggurnya, menyajikanya dalam gelas dari Murano.


Ada tempat berolah-raga seluas sekitar 371,6 meter per segi- seukuran luar sebuah club kebugaran. Ia juga menanam pohon buah-buahan eksotik dikebunya - para tamu yang berkunjung pada bulan Januari bisa meneteng oleh-oleh sekotak buah lemon segar. Rumahnya, seperti juga bisnis perbankan Hill, hasil kemitraanya dengan Shirley, Istri yang mendampingi selama 36 tahun. (pasangan ini memilki dua anak yang sudah dewasa). Shirley lah yang merancang Villa Collina dan mengawasi pembangunanya. Lantaran dinilainya kurang pas, dia mengirimkan kembali plafon lengkung yang terbuat dari marmer ke Venesia untuk minta tukar. Di Metro bank, Shirley juga yang merancang bangunan setiap cabang sebagaimana dulu dia lakukan Commerce Bank. Dialah yang menetukan, mulai dari neon, mereh-biru di mesin hitung, sofa lengkung, samapi celana ketat belang-belag yang dipakai oleh "gadis jangkung" yang menjadi penari pada acara Grand opening Metro Bank.

Hobby favorit Hill adalah Golf, untuk itu dia membangun sebuah club Golf eksklusif didekat Atlantic City, di sebut Galloway National, dengan biaya lebih dari US 10 juta. Untuk berkeliling Galloway, Hill mengendarai Golf Car khusus yang mampu melaju dengan kecepatan lebih dari 16 km/jam- lebih cepat ketimbang Golf Car pada umumnya.Galloway di rancang oleh Tom Fazio, perancang lapangan golf ternama, yang juga hadir dalam grand opening Metro Bank. Kata Fazio, "Hill memberikan umpan kepada sekelompok pegolf agar mereka mau bergabung, dan mungkin hampir tak perlu mengucapkan kata apapun, dan kemudian ia menyimpan kembali umpannya. Menurut saya , orang ini punya nyali."


HILL DIBESARKAN di Northern Virginia, sebagai anak tertua dari seorang agen real estate yang juga salah satu pemilik Bank lokal. Orang tuanya mendorong Hill masuk ke perbankan, karena mereka pikir itulah cara untuk meraih martabat tertinggi. Sewaktu Hill masih kuliah di Wharton School, siang harinya dia bekerja sebagai karyawan di sebuah bank lokal. Ia menangani urusan kredit perumahan. Pengalaman ini, katannya dengan gaya yang kurang begitu sopan, membantunya "memahami neraca suatu bank bak seorang maestro membaca sebuah komposisi musik."

Setelah lulus dia mulai bekerja di sebuah perusahaan pialang real estate yang tugasnya mencari, dan kadang-kadang membangun, lokasi untuk gerai baru McDonald. Bahkan Hill pernah mengemudikan mobil untuk Ray Kroc (alm), pemilik McDonald yang legendaris itu, berkeliling pinggiran kota Philadelphia. "Saya terpesona melihat betapa Mcdonald mampu menciptaka penampilan yang sama dan pengalaman yang sama disetiap lokasi,"kata Hill. " Saya juga belajar tentang bagaimana membuat biayanya relatif tetap, sehingga volume menjadi penting. "Sampai saat ini Hill masih menjadi seorang pemain besar di bisnis makanan cepat saji dan retail. Dia salah satu pemilik 36 restoran Burger King didekat Philadelphia. Sumber utama kekayaanya dari Site Development Inc, yang memilki dan menyewakan sekitar 400 CVSes, Jiffy Lubes, Taco Bells, dan jaringan lainya di Pantai Timur. Pada 1973, saat masih beusia 27, Hill meluncurkan Commerce Bank. Kantornya yang berlokasi selatan New Jersey, memilki 9 karyawan. Ketika tengah terjadi krisis minyak di OPEC, Ia berkeliling di sekitar kawasan Lincoln, mengenakan kacamata penerbang dan membawa buku FDIC yang berisi daftar deposito dari setiap cabang Bank di daerah. Dia menemukan salah satu cabang terkaya, dan segera membuka cabang Commerce Bank didekatnya, dan menarik pelanggan Bank itu. Cabang- cabang Commerce Bank yang dirancang oleh Shirley, memilki tampilan seragam yakni terbuka dan berudara segar- serasa dirumah sendiri, berbata merah dengan lampu sorot dan jendela yang tinggi.

Ada dua tantangan Hill : terus membangun cabang dan meningkatkan dana deposito di satu sisi, atau kalau berbicara dalam bahasa ritel, manambah gerai. Strateginya adalah memberikan layanan yang extraordinary, luar biasa, dan tetap buka bahkan pada akhir pekan, membuka rekening baru hanya 20 menit, sehingga membuat pelanggan mau menjadi nasabah Commerce Bank dan menerima suku bungan yang lebih rendah. Bagaimana bisa? Nyatanya , bisa. Bisnis Commerce bank berkembang luar biasa pasca gelombang merger yang membuat menurunya kualitas layanan perbankan di New Jersey dan Pennsylvania.

Hill berpesta dari proses pengambil alihan Summit Bancorp of New Jersey oleh FleetBoston pada 2001. Sejak FleetBoston menutup sejumlah cabang, Hill pun"mencuri" pelanggan mereka lewat program "Sink the Fleet" yang memberikan bonus US 5000 untuk para staf cabang Commerce Bank jika berhasil membuat cabang FleetBank gulung tikar. Di cabang- cabang Commerce Bank, para karyawan melemparka brosur Fleet ke model periskop raksasa sebagai simbol misis mereka.

Hill tau betul bahwa skala ekonomi, dan uang yang besar, tidak terletak di merger, melainkan dicabang-cabang. Berikut hitung- hitunganya. Hill mengkalkulasi untuk setiap cabang di pinggir kota yang mampu menghimpun dana US 500.000 setahun. Itu berarti Margin 5% atau sekitar US 1,5 juta setelah dikurangi biayaUS 1 juta. Hanya dengan dana deposito yang terus tumbuh, sementara biaya nyaris tidak bernajak, keuntungan bisa meledak.

Pada awal tahu 2000-an cabang- cabang Commerce bank rata-rata mampu menghimpun dana deposito mendekat US 100 Juta. Itu berarti membuat keuntungan meningkat tujuh kali lipat menjado sekitar US 3,7 Juta. Bicara tentang penjualan dari gerai yang sama: Dari tahun 2002 samapi 2007, Commerce Bank mampu meningkatkan pertumbuhan dana deposito per cabang senilai US 19 juta pertahun. Bandingkan dengan rata-rata di AS yang hanya US 2 juta.

Pindah ke New York pada 2001 membuat Commerce Bank tumbuh luar biasa. Kala itu dua Bank besar disana., JP Morgan Chase dan Citybank, mengusai lebih daro 60% pangsa pasar ritel di Manhattan. Sebagian besar analis berfikir Commerce Bank tak akan bisa bersaing. Hill tidakk setuju. "Kata mereka New York adalah Kota yang tidak pernah tidur,"ucap Hill. "kecuali untuk Bank," Pada waktu itu Bank- bank besar yang mulai buka jam 09.00 dan tutup 15.00 sering dikenai biaya pemeriksaan, dan biaya-biaya tersembunyi lainya.

Hill membawa model standarnya: buka lebih lama, termasuk akhir pekan, gratis cek rekening dan suku bunga yang rendah. Masih ditambah senyum ramah para teller. Hill suka New York kerena skala ekonomi yang lebih besar ketimbang pinggiran kota. Jadi, meski biayanya lebih tinggi, potensi dana depositi per cabang bak bintang di langit.

Di Chinatown, jalur antrian pelanggan mencapai beberapa blok panjangnya, membentuk empat jalur diluar kantor cabang baru Commerce Bank yang dibuka pada 2005. Bulan pertama di Chinatown, gerai Commerce Bank mampu menjari 18.000 rekening dan lebih dari US 200 Juta dana deposito. Dua cabang di Wall Street mampu menghimpun dana US 347 Juta dan menghasilkan keuntunganUS 15 juta per tahun. Ketika Hill tahu bahwa Chase meninggalkan lantai dasar di 14th Street dan Fifth Avenue, Hill mengirim Shirley untuk melihat cabang itu dengan menyamar sebagai auditor asuransi. Commerce Bank mengisis lantai satu, dan Chase dilantai atasnya merana. "Pelanggan praktis harus jalan melewati kami untuk sampai ke Chase, "tutur Hill. Chase mendapat tarif sewa yang murah tapi kami dapat dana deposito nasabah.

Hill membeikan kejutan tahunan di Radio City Music Hall untuk 8.000 karyawanya. Ketika tirai terkembang, sang Bos turun dengan Tuksedi merah berpayet, diiringi paduan suara Rokettes."saya benar-benar menendang, seru Hill". Para Roketters ini memilki kaki yang panjang!.

Untuk semua keberhasilanya Hill mengabaikan soal etika. Padahal, regulasi bisnis Bank sangat ketat. selama bertahun-tahun Commerce Bank membayar mahal Shirley Hill untuk merancang cabang-cabang dan untuk kemitraanya dengan menyewakan lebih dari selusin cabang. Pada 2007, regulator meminta Hill mengakhiri perjanjian dengan Shirley. Mereka juga melarang Commerce Bank membuka cabang baru, nyawa dari bisnis ini, kecuali Hill mengundurkan diri terlebih dahulu. Setelah Hill turun ia menadatangani sebuah surat keputusan yang mewajibkan bank manapun , dimana dia menjadi pemegang saham mayoritas, untuk melakukan review independen terlebih dahulu sebelum menyutui kontrak dengan perusahaan-perusahaan milik Hill atau keluarganya.

Untuk ke Inggris, Hill melakukanya dengan menembus berbagai rintangan, termasuk labirin regulasi. Pada pertengahan 2008, Hill berkomitmen menyetor modal awal US 150 juta untuk Metro Bank. Tapi, pasca runtuhnya Lechman Brithers pada september 2009, sebagian besar uang tiba-tiba menghilang dari pasar. Pihak berwewenang di Inggris tidak akan mengeluarkan ijin baru sampai bank betul-betul siap beroperasi dengan SDM nya, sistem, dan cabang- cabang. Jadi , Hill mesti membayar semua biaya senilai US 30 jua dengan uangnya sendiri, tanpa jaminan bahwa ia akan memperoleh ijin. Pada febuari 2010, pihak regulator di Inggris akhirnya memberikan ijin operasi kepada Metro Bank. Ini ijin pertama setelah labih dari satu abad mereka tak pernah memberika ijin.

Industri perbankan di Inggris jauh dar cozy ketimbang perbankan AS. Mereka yang mendominasi pasar hanya lima raksasa : HSBC, Royal Bank of Scotland, Lloyds, Barclays, dan Santander dari Spanyol. Selebihnya adalah pemain- pemain kecil. Secara umum cabang- cabang bank itu tampak tua dan lusush, berlokasi dibangunan zaman dulu yang gelap dengan teller belakang kaca Pleixglas. Pelanggan tidak bisa seketika membuka rekening disitu. Untuk membuat rekening, mereka mesti membuat janji terlebih dahulu, katakanlah Rabu depan. Dicabang Lloyds yang ada didekat gerai Metro Bank, pada kalendernya di posting waktu-waktu yang mesti dihindari pelanggan, semisal jam dari siang samapi jam 16.00, senin dan jumat, yang semuanya ditandai dengan warna merah. hill berdiri membaca kalender dan menggelengkan kepala. "Mereka memberitahu anda untuk tidak datang pada saat-saat yang mestinya itu nyaman bagi anda! Saya suka hal ini!"

Hebatnya, bisni retail banking sangat menguntungkan di Inggris, sebagian karena pemain besar jarang menghadapi penantang, sampai sekarang. Hill memperkirakan pasar Metro Bank di London seukuran dengan New York dan sekitarnya, yang mengusai dana deposito sekitar US 700 Juta. Dalam waktu 10 tahun ia ingin memilki sekitar 200 cabang di London dengan dana deposito sekitar US 50 Miliar, jumlah yang kurang lebih sama ketika Hill menjual Commerce Bank.

Hill punya ide besar lainya, yang dia tiru dari Inggris ke AS : asuransi hewan peliharaan. Hill adalah investor pertama Pet-plan AS, yang memegang waralaba dari Petplan di Inggris, Petplan adalah pemasok terbesar didunia untuk hewan - hewan pendamping manusia. "orang-orang biasanya meninggalkan hewan peliharaanya ketika mereka sakit, kata Hill". Kini Hewan peliharaan itu telah menjadi anggota keluarga. Orang-orang ingin mereka tetap sehat, bahkan kalau perlu dioperasi atau apapun. Bisnis ini akan tumbuh besar."

Hill sendiri punya seekor anjing, Duffy, yang baru - baru ini mesti dicabut 11 giginya, dan petplan mesti membayar klaimasuransi US 2.400. Duffy, sang anjing terrier itu, mesti kembali mengkonsumsi menu biasanya, daging sapi dari kobe dan es krim de Leche. Baru-baru ini Hill membujuk Tom Fazio dan John Layfield, suami Meredith Whitring yang mantan pegulat profesional yang memakai nama ring gulat "Vampiro Americano" dan "Death Mask" untuk mengasuransikan hewanpeliharaan mereka. Begitulah selalu ada pertunjukan untuk Vernon Hill.

Arifin Panigoro: Membawa Medco ke Pentas Dunia

Sosok Arifn menyita perhatian, ketika terbetik berita bahwa proses pembelian saham keluarga Panigoro di Encore International Limited, pemegang saham pengendali Medco Energi oleh Pertamina.

Kalangan bisnis Indonesia mengakui Medco Group sebagai perusahaan swasta lokal minyak dan gas yang terbesar. Nama Medco identik dengan Arifin Panigoro. Begitu pula ketika menyebutkan nama Panigoro, ingatan kita langsung tertuju pada Medco group. Meski Arifin tidak termasuk dalam jaringan komisaris, ia merupakan pengendali grup ini dengan kepemilkian saham.

Tiga puluh tahun yang lalu, Arifin mendirikan Meta Epsi Drilling Company (Medco). Ia memanfaatkan oil boom dengan berbisnis kontraktor pertambangan minyak dan gas. Kini, Medco menjual sekitar 55,4 juta barel minyak setiap hari. Selama semester pertama 2010, Medco Energi International mencatat laba bersih US 12,1 Juta (pada periode yang sama tahun lalu, mereka meraup laba bersih US 9,6 Juta). Medco Energi merupakan kontributor terbesar bagi pendapatan Medco Group.

Medco cukup disegani. Dengan pengalaman puluhan tahun serta kemampuan finansial & teknologi, tak sedikit pemain migas yang keder ketika harus bersaing dengan Medco. Sammy Hamzah, yang pernah menjadi Vice President Chevron Indonesia, tahu benar bagaimana sulitnya membuka ekspansi ke luar negeri. " Modal, penguasaan teknologi dan kapasitas SDM adalah tiket awal saja untuk bermain ke Luar negeri, " ujar sammy. Selain itu perusahaan yang ingin ekspansi harus memilki lobi birokrasi yang bagus dan jeli membangun hubungan dengan pendekatan budaya perusahaan.

Rupanya Arifin, dan Medco Group, telah berniat menancapkan bendera mereka diseluruh dunia. Dalam visi Arifin, bisnis Medco tidak akan bisa tumbuh tanpa melakukan akuisisi ladang baru, sebab cadangan migas didalamnya akan tergerus habis.

Sejak tahun 2004, Medco melakukan ekspansi ke mancanegara. Mereka tidak hanya melakukan eksplorasi dan eksploitasi lapangan migas di Asia, namun juga ke Amerika dan Timur Tengah, "Secara geologi, 70%-80% minyak dunia ada di Timur Tengah,"ucap Arifin, yang kini berusia 65 tahun itu, suatu ketika.

Berkat Ekspansi, Medco group mempunyai cadangan minyak dan gas sekitar 225,4 juta barel ekuivalen minyak (MBOE). Tidak ada perusahaan migas lokal, termasuk Pertamina, yang memilki cadangan migas sebesar Medco. Itu sebabnya, sejak lama terbetik isu akuisisi Medco oleh pertamina. Terutama, menurut sumber yang mengetahui hal ini, kerena pemerintah Indonesia menginginkan hanya satu bendera perusahaan migas dari negara ini yang meraksasa di dunia. "seperti Petronas di Malaysia dan Petrobas di Brazil, " tutur si sumber. Sebagai perusahaan milik negara, pertamina tidak bebas bergerak melakukan ekspansi. Maka, masuk di akal kemudian pertamina berniat memilki Medco group.

Pertengahan oktober 2010, Karen Agustiawan, Direktur Utama Pertamina dan Hilmi Panigoro, Komisaris Utama Medco Energi International, menekan Principles of agreement. Pertamina akan membeli 28% saham keluarga Panigoro di Encore Energy Pte Ltd yang menguasai 50,7% saham Medco Energi. Jika berhasil, transaksi ini bernilai Rp. 4,8 Triliun. "Melalui sinergi ini, pertamina berharap mendapatkan tambahan produksi minyak, setidaknya 10 ribu barel per hari,"ungkap juru bicara Pertamina Mochammad Harun.

Arifin memang tidak dapat dipisahkan dengan Medco. Kendati perusahaan Migas tebesar di Indonesia ini sudah punya kantor sendiri, bernama The Energy berlokasi pas dijantung ibukota, Arifin sudah tidak ikut terlibat dalam biisnis sehari-hari. Lulusan Teknik Elektonika ITB ini lebih banyak menghabiskan waktunya dirumahnya yang disebut Griya Jenggala. Ia lebih tertarik melibatkan diri dalam masalah kebangsaan dan kemanusiaan.

Pada senin (8/11) misalnya, Arifin menggelar malam dana untuk korban bencana Gunung Merapi di Yogyakarta Jawa Tengah di Rumahnya. Dalam Acara ini, arifin mengundang 3 putri Sultan Hamengkubuwono X, Gubernur DI Yogyakarta serta para koleganya di bisnis minyak. Arifin menggalang dana dengan cara melelang lagu-lagu yang dibawakan oleh beberapa artis, seperti Titi DJ dan Dian HP. Malam itu, mereka menghasilkan Rp.3,2 Miliar.

Sebagai pendiri Medco, Arifin hanya memimpin Medco Energi sampai tahun 1998. Dia menyerahkan pengelolaan perusahaan ke tangan profesional, untuk menghilangkan kesan bahwa Medco adalah perusahaan keluarga. Nah, menurut Lukman Mahfoedz, Direktur Proyek Medco Energi, perbaikan managemen disegala bidang terjadi di Medco. Mereka melakukan transformasi Medco Energi menjadi perusahaan holding investasi , dari sebelumnya menjadi perusahaan holding operasional.

Kecepatan ekspansi Medco tidak lain juga kerena budaya Professional entrepreneurship yang sudah mendarah daging. Seperti dikatakan Budi Basuki Presiden Direktur PT.Medco E&P Indonesia, lengan eksplorasi Medco."Pak Arifin sukses menumbuhkan pola pikir seperti pengusaha kepada karyawan,"ujarnya. Dengan begitu, karyawan mampu membaca peluang bisnis, mencari solusi dan cepat mengambil keputusan. Sang pendiri, ujar Budi, tidak segan berbagi pengalaman sebagai pengusaha kepada karyawanya.

Hasilnya setiap waktu selalu muncul ide baru. Di Medco ada banyak inkubator bisnis yang menggodok berbagai model bisnis baru itu. Berbagai keputusan ekspansi dan diversifikasi bisnis lahir dari proses ini, termasuk pertimbangan masuk ke bisnis biotanol dan panas bumi.

Dalam pandangan Sammy, meski dibangun dari perusahaan keluarga, komitmen Arifin dan Hilmi sebagai dua nahkoda Medco terhadap pembentukan budaya organisasi yang sangat kuat. SDM Medco sangat bisa bersaing dengan SDM perusahaan migas asing.

Arifin: Tidak Terpisahkan dari Bola

Kiprah Arifin Panigoro tak terbatas pada dunia bisnis.

Belakangan Arifin mengalihkan energinya ke bidang olah raga. Ia, seperti banyak rakyat Indonesia, gregetan dengan prestasi sepakbola nasional yang redup. Maka, ia pun menggelar Liga Primer Indonesia (LPI), kompetisi sepakbola, yang diharapkan mampu memberi contoh kepada masyarakat maupun PSSI tentang pengelolaan mandiri, tidak merugikan Pemda serta mampu menghasilkan pemain bagus.

Arifin menginjeksi modal masing-masing Rp.20 Miliar kepada 20 klub sepakbola. Ia melarang klub peserta Liga Primer memakai dana anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk operasional tim. Liga Primer memilki konsep pengelolaan yang baik dan bisa  menjadi kompetisi profesional yang mandiri.

Tidak ada yang meragukan, LPI adalah anak tangga Arifin untuk menuju kursi ketua PSSI. Namun apapun target arifin di LPI, ia masih kental jiwa nasionalismenya.
Alasan ingin melepas Medco ke Pertamina pun, dilandasi rasa nasionalisme ingin melihat pertamina sejajar dengan BUMN migas di negara lain. Karena menurutnya pemain migas dunia yang besar adalah perusahaan BUMN, tidak ada perusahaan migas swasta berkelas dunia yang besar selain di Amerika Serikat. Target menjadi pemain Global, tenyata tidak melupakan akar kecintaan Arifin pada bangsanya.

Berbisnis Itu (Tidak) Mudah -- JEJARING

Disarikan dari buku Berbisnis Itu (Tidak) Mudah: Pengalaman dan Pemikiran Arifin Panigoro (edisi keempat). Medco Foundation, 2008.

Mencari teman lebih sulit ketimbang mendapatkan musuh. Pepatah itu sangat benar adanya. Bagi Arifin, memiliki teman sebanyak-banyaknya merupakan satu kekuatan dalam melakukan apa saja, termasuk soal bisnis. Beragam cara dilakukannya dalam menjalin dan menjaring pertemanan.


Suatu ketika di tahun 1983 Medco memerlukan sumber dana sebesar US$ 4,5 juta untuk pelunasan pembayaran sebuah rig di Amerika Serikat. Arifin kemudian sowan ke Pak Wijarso, yang kala itu menjabat sebagai Dirjen Minyak dan Gas di Departemen Pertambangan. Dialah yang memperkenalkan Arifin dengan Nissho Iwai, lembaga keuangan dari Jepang, yang ikut membantu pembiayaan pembelian rig tersebut.

Tak hanya itu, Pak Wijarso juga berjasa banyak dengan ikut membesarkan Medco. Sejatinya ia bisa dibilang merupakan angel bagi Arifin karena membuka pintu Medco masuk ke industri minyak dan gas.

Ketika itu, pemerintah tengah gencar mendorong perusahaan nasional memasuki bisnis pengeboran minyak dan gas, yang didominasi asing. Beliau sangat mendukung upaya Medco mengikuti tender-tender. Tak hanya itu, dia pula yang meminta Bawden Drilling --sebuah perusahaan asing-- menggandeng Medco, yang boleh dikata masih bayi, sebagai mitra bisnis.

Namun ternyata Bawden malah memilih hengkang daripada harus bekerja sama. Tapi keluarnya pesaing justru membuka kesempatan bagi Medco. Akhirnya, perusahaan nasional ini memenangi tender pengerjaan dua sumur.

Lalu apa kunci utama membina sebuah hubungan?

"Konsisten, menghargai orang, dan memiliki komitmen yang tinggi. Dengan prinsip ini, saya bisa langgeng membina pertemanan, baik dalam bisnis maupun dalan kehidupan sehari-hari, " ujar Arifin.