Canho, Piano dan Sasando

Kata orang, hidup ini seperti piano. Tuts putih melambangkan hari-hari yang bergembira, dan tuts hitam melambangkan hari-hari sedih. Tapi ingatlah, bahwa kita membutuhkan keduanya untuk membuat musik.

Bagaimanapun juga, pianolah yang telah membawa putra Indonesia yang bernama Yohanes Pasirua (11) atau dikenal dengan nama Canho mewakili Indonesia dalam ajang internasional World Championship of Performing Arts' (WCOPA), di Long Beach, California dan memperoleh 5 medali emas dari total 8 medali yang diperolehnya.

Di kategori Junior Instrumentalist, Canho berhasil meraih medali emas untuk style Instrument Classical, Instrument Contemporary, Instrument Jazz, Instrument Open, dan Instrument Original Works. Sedangkan untuk penghargaan pilihan Junior secara umum, Canho berhasil meraih penghargaan untuk untuk tingkat usia 11-15 tahun di kategori Instrument Contemporary, Instrument Jazz, dan Instrument Open.

Sumber: laman Facebook WCOPA.Indonesia

Seperti tuts piano yang hitam, proses yang ditempuh Canho untuk meraih prestasi tidak selalu menggembirakan. Ia harus menempuh ke perjalanan ke sebuah kota lain, yang berjarak 140 kilometer dari kota kelahirannya, yaitu di Ende, Flores, NTT, agar bisa bermain piano. Hal itu karena di kotanya, tidak ada piano.

Canho yang lahir pada 2 November 2004 ini telah mulai belajar musik sejak umur tiga tahun, digembleng oleh sang ayah sendiri, Chris Jambru (lulusan Seminari Mataloko yang belajar piano di Institut Seni Indonesia). Pada usia empat tahun, Canho pun mulai lebih mendalami musik dengan kursus di Affrettando Music Course, Ende (2009).

Prestasi Canho ini menyusul kesuksesan Joey Alexander (13), seorang pianis jazz yang telah tampil di berbagai ajang internasional serta mendapatkan nominasi Grammy Awards tahun 2016 untuk dua kategori, Best Instrumental Jazz Album dan Best Jazz Solo Improvisation.

DSP, Joey Alexander dan Najwa Shihab

Indonesia memang kaya akan generasi muda yang berbakat, utamanya di bidang musik, sehingga untuk itulah Yayasan Musik Sastra Indonesia (YMSI) terus berupaya untuk memberikan kesempatan bagi anak-anak yang berminat dan berpotensi dalam bidang musik agar dapat mengenal dan mempelajari musik tanpa dipungut biaya dengan bimbingan guru yang memiliki latar belakang pengalaman/pendidikan musik.

Salah satu penerima beasiswa dari YMSI ialah Djitron Korion Pah, putra pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Ia memainkan sasando dengan 32 senar, sebuah alat musik petik tradisional NTT. Memainkan Sasando tentu bukan perkara mudah. Dibutuhkan ketekunan dan kemauan yang luar biasa untuk bisa memainkan alat musik tersebut. Setelah belajar di sekolah dan di rumah, akhirnya Djitron bisa menguasai ratusan lagu dengan memainkan Sasando, tidak hanya musik daerah, tapi juga musik pop, jazz dan tentunya musik sastra (klasik).

Djitron pun tampil di ajang pencari bakat tingkat Nasional maupun Asia dengan menggunakan instrumen yang dibuatnya sendiri. Ia merupakan generasi ketiga dari keluarganya yang mewarisi keahlian membuat alat sasando. Keluarganya adalah satu dari sedikit penduduk Rote yang masih mempertahankan kelestarian alat musik sasando.

Djitron saat tampil di acara Seuntai Melati bagi Kartini Indonesia, di Griya Jenggala (2009)

~ o 0 o ~

Seperti ujar Pujangga Spanyol, Miguel de Cervantes, "Mencintai musik berarti mencintai kehidupan," dengan segala hitam putihnya, naik turunnya, susah senangnya.

"Quién ama la música, ama la vida"

Baca juga:

Kompas: Canho Pasirua, Kisah Pianis Cilik Indonesia untuk Ajang Internasional

Kompas: Sasando untuk Indonesia Raya

Pariwisata: Indonesia Berdaya Saing

Sebagai warga negara Indonesia, sering kali kita merasa pesimistis. Apa, sih, sebenarnya daya saing Indonesia? Sejak lama Indonesia dikenal sebagai negara agraris, tetapi ternyata hingga kini kita belum swasembada. Masih banyak produk pertanian yang harus diimpor dalam jumlah besar. Untuk menjadi negara yang berdaya saing di bidang pertanian, Indonesia masih kalah dengan Thailand.

Demikian juga untuk manufaktur. Walaupun Indonesia memiliki tenaga kerja yang murah, untuk industri, Indonesia tidak bisa bersaing dengan Tiongkok. Bahkan, negara-negara di Eropa Barat dan Amerika telah menyerahkan manufakturnya kepada Tiongkok.

Lalu, jika sudah begitu, apa yang bisa dijadikan Indonesia sebagai modal untuk berdaya saing?

Kita tidak perlu pesimistis. Indonesia masih mempunyai modal besar untuk bisa berdaya saing. Modal itu adalah industri kreatif, yakni pariwisata. Saat ini posisi pariwisata masih dalam urutan keempat sebagai penyumbang terbesar produk domestik bruto (PDB) atau sekitar 5 persen.

Masih berada di urutan pertama adalah minyak dan gas, lalu batubara, dan yang ketiga adalah minyak sawit mentah (CPO). Tetapi, dalam waktu dekat, bukan tidak mungkin pariwisata menjadi posisi yang pertama dalam menyumbang PDB dengan porsi mencapai 15 persen.

Dalam hitungan World Travel & Tourism Council, setiap pembelanjaan di sektor pariwisata akan berdampak 17 persen terhadap PDB. Sementara pembelian mobil seharga Rp 100 juta hanya berdampak 0,7 persen pada PDB.

Menggali devisa dari pariwisata relatif tidaklah sulit. Bahkan, pariwisata sudah dipercaya menjadi cara yang paling mudah dan murah untuk mendatangkan devisa. Untuk mengembangkan pariwisata, biaya yang dibutuhkan juga tidak mahal. Untuk mendapatkan 100 juta dollar AS, biaya yang dibutuhkan hanya 2 juta dollar AS atau sekitar 2 persen. Biaya pendidikan bagi tenaga kerja di bidang pariwisata juga tidak mahal. Jika tenaga ahli di bidang lain membutuhkan biaya 100.000 dollar AS, biaya untuk mendidik tenaga pariwisata hanya sekitar 5.000 dollar AS, atau sekitar Rp 65 juta dengan kurs rupiah Rp 13.086 per dollar AS.

Walau mengembangkan pariwisata menjadi cara yang termudah dan termurah, pengembangan pariwisata juga memerlukan komitmen yang sangat kuat, terutama dari para pemimpinnya. Bekal alam yang indah, budaya, kuliner, dan sebagainya tidak akan bisa dikembangkan apabila tidak ada kebijakan dan keberpihakan untuk mengembangkannya.

Komitmen ini bisa dilihat dari terobosan-terobosan yang dilakukan oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah selaku pemilik destinasi untuk mengembangkan wilayahnya. pemimpin jangan lagi memegang semboyan, kalau bisa diperlambat, kenapa harus dipercepat. Sebaliknya, pemimpin harus bisa mempermudah, mendorong, dan terus menggali apa yang bisa dikembangkan untuk mendatangkan wisatawan.

Misalnya, jika sudah ada wilayah yang diputuskan untuk menjadi Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata, segeralah dibangun kawasan itu. Jangan didiamkan saja, dan akhirnya malah diduduki oleh warga ilegal.

Pemimpin juga harus mempunyai cita rasa yang tinggi. Jika sudah ingin membidik wilayahnya menjadi destinasi wisata tingkat dunia, segala sesuatu harus dipersiapkan dengan standar dunia. Misalnya, penari, penata musik, dan busana, juga harus standar dunia, atau minimal standar nasional. Dengan demikian, yang ditampilkan adalah sesuatu yang bagus dan bermutu.

Jika pemimpin sudah menunjukkan komitmen yang tinggi terhadap pariwisata, semua unsur di bawahnya akan mengikuti. Perlu diingat, saat ini adalah momen yang tepat untuk meningkatkan pariwisata. Pemerintah pusat sangat mendorong dengan diberikannya bebas visa kunjungan kepada 169 negara. Penerbangan langsung dan carter juga terus dibuka. Jika semua pemimpin sudah berkomitmen, sudah pasti Indonesia akan menjadi negara dengan daya saing yang kuat untuk pariwisata.

(M Clara Wresti)

Sumber artikel: Kompas, 16/7/2016

~ o 0 o ~

Raja Ampat, Papua - (sumber)

Pantai Mandalika, Lombok

Pantai Mandalika, Lombok

Labuan Bajo, Flores

Bersama Suku Bajo

Danau Toba, Sumatera Utara


Cahaya Ilmu dari Panjalu

Oleh Ahmad Arif & Nawa Tunggal, Kompas, 4/7/2016

Kanker darah telah melumpuhkan kaki, membutakan mata, dan membuatnya tak bisa bicara. Namun, Rossy Nurhayati (36) tak menyerah. Saat maut terasa mendekat, ia justru mendirikan Rumah Baca Cahaya Ilmu. Tak hanya menerangi warga Desa Panjalu dengan pengetahuan, ia juga menemukan kekuatan untuk kesembuhannya di rumah baca itu.

KOMPAS/AHMAD ARIF

Rossy yang lahir dan besar di Dusun Pabuaran, Desa Panjalu, Kecamatan Panjalu, Ciamis, Jawa Barat, baru mengetahui tubuhnya digerogoti kanker darah stadium empat pada tahun 2008. "Awalnya sedih, marah, kecewa, putus asa. Kenapa harus saya?" kisahnya.

Namun, tak lama, dia menemukan kekuatan dan keyakinannya kembali. "Hidup bukan untuk ditangisi, tetapi justru untuk diperjuangkan," tekad Rossy.

Doa anaknya yang masih kecil dan dorongan dari suami memompa semangatnya. "Kalaupun saya akhirnya meninggal, saya ingin berbuat untuk masyarakat. Dari dulu, saya suka buku dan mendapat banyak pengetahuan dari sana. Saya pun ingin membuat rumah baca di desa."

Maka, di sela-sela pengobatannya di Bandung, mulai dari kemoterapi hingga suntik sumsum tulang belakang, Rossy menyempatkan diri berburu buku. "Ditemani anak saya, Afifah, kami beli buku bekas di Pasar Palasari. Saat itu habis Rp 200.000, dapat tiga kardus," kisahnya.

Ia kemudian mendirikan taman bacaan di rumah ayahnya, Jajang Kabul Budiman (75). Suaminya, Mulyana (42), membantu menyulap ruang tengah rumah itu menjadi taman bacaan.

Awalnya, banyak saudara yang tidak setuju. Alasannya, ia tengah sakit malah mengurus orang lain, tanpa dibayar pula. Apalagi, Rossy sebenarnya juga kesulitan ekonomi untuk membiayai pengobatan. Bahkan, pernah, kartu tanda penduduk (KTP) suaminya terpaksa dijadikan jaminan untuk mencicil biaya pengobatan.

"Saat itu kami bawa uang Rp 5 juta, tetapi masih kurang Rp 1 juta. Jadi terpaksa ninggal KTP," ujarnya.

Kekuatan baru

Namun, Rossy merasa menemukan kekuatan baru dari kegiatan sosialnya. "Saya prihatin anak-anak di Panjalu lebih banyak nonton televisi dan main game. Dengan rumah baca ini, saya ingin membuat perubahan. Minimal, untuk keluarga sendiri, anak saya dulu," katanya.

Rossy merasakan hidupnya masih dibutuhkan oleh keluarga dan masyarakat sekitar, dan karena itu, ia tak ingin menyerah pada sakit yang diderita. Bahkan, ketika pada 2011 tubuhnya melemah sehingga kakinya lumpuh, matanya buta, dan mulutnya tak kuasa bicara, ia tetap menolak kalah. "Pekerjaan saya di rumah baca belum selesai. Saya tidak akan menyerah."

Ia mencoba berbagai macam pengobatan, selain rutin ke rumah sakit untuk kemoterapi dan suntik sumsum tulang belakang. Ia mencoba teh sarang semut, susu kefir, probiotik, remasan daun binahong, rosela, tapak dara. "Pernah juga ada yang menyarankan agar minum uap dari rebusan tulang ayam kampung yang telah dikeprek. Sampai habis ayam (milik) ayah. Semua saya coba karena ingin sembuh."

Anak-anak yang datang ke rumah bacanya pun diminta mendoakan kesembuhannya. Ajaib. Perlahan, kesehatannya membaik. Setelah setahun lumpuh, kakinya mulai pulih. Matanya kembali bisa melihat. Kanker darah yang dideritanya turun hingga stadium dua.

"Saya merasa yang menjadi kekuatan penyembuhan selama ini adalah semangat dari diri sendiri. Semangat itu saya dapatkan dari keluarga dan doa anak-anak. Rumah baca ini adalah semangat hidup saya," ujarnya.

Diusir petugas satpam

Rossy mencintai buku sejak kecil, tetapi sekolah di kampungnya hanya memiliki jumlah buku yang terbatas. Dia baru leluasa menyalurkan hobi membaca buku saat pindah ke Bogor, Jawa Barat, untuk sekolah menengah atas sekaligus bekerja di salah satu perusahaan garmen.

Di Bogor, ia tinggal di rumah pamannya yang kebetulan dekat dengan toko buku. Nyaris tiap hari, sepulang sekolah dia ke toko buku itu. Karena tidak memiliki cukup uang, ia lebih sering membaca buku-buku di tempat dibandingkan membelinya.

"Sering saya diusir petugas satpam, alasannya tokonya mau tutup," ujarnya. Hobi membaca ini berlanjut ketika ia kuliah.

Pada 2001, Rossy pindah ke Garut, mengikuti suami yang mengelola peternakan ikan milik keluarga. Di sana, ia menjadi penyiar radio. Ia juga mulai membuka kelas belajar membaca dan bahasa Inggris secara gratis. Inilah awal kegiatan sosialnya di bidang pendidikan.

Sejak 2004, ia pulang kampung ke Panjalu karena mesti menunggui ibunya yang sakit. Ketika itu, ia mulai merintis pendirian Sekolah Luar Biasa Panjalu dan menjadi guru di sana. Sekolah ini akhirnya berkembang dan mendapat penyetaraan dari pemerintah, tetapi Rossy akhirnya keluar pada 2012 ketika sakitnya bertambah parah.

Matematika Tuhan

Ditemui di rumahnya, Kamis (9/6) pagi, Rossy terlihat segar dan bersemangat. Rumah yang berjarak sekitar 2 kilometer dari alun-alun Desa Panjalu itu memiliki tiga kamar. Buku sebanyak 4.000 eksemplar memenuhi ruang tamunya. Tiga daun pintu kamar di rumah itu pun difungsikan sebagai rak buku, sementara di emperan rumah balok kayu untuk permainan anak-anak memenuhi satu-satunya meja yang ada.

Tak hanya mengelola rumah baca, hampir setiap hari ia menyambangi sekolah-sekolah taman kanak-kanak untuk mendongeng atau membacakan buku-buku serta mengajar bahasa Inggris. Dia juga merintis kembali pendirian SLB di desa tetangga. Setiap libur tiba, ia membawa sebagian koleksi bukunya ke alun-alun Panjalu dan membuka taman bacaan di sana.

Tak hanya itu, Rossy memprakarsai lomba mengarang dan juga menggambar. Tahun 2015, dia menyelenggarakan lomba menggambar untuk anak-anak. Pesertanya mencapai 1.476 anak.

Hebatnya, semua kegiatan dilakukan tanpa memungut bayaran. Padahal, kehidupan keluarga Rossy terbilang sederhana. Karena merawat Rossy, suaminya yang semula mengelola peternakan ikan keluarga di Garut pindah bekerja di perusahaan pakan ikan di Panjalu. Hingga saat ini keluarga ini pun masih menumpang di rumah ayah Rossy yang sekaligus menjadi rumah baca.

"Ini gerakan ikhlas. Saya percaya pada matematika Tuhan," ujar Rossy sambil tersenyum lebar.

Ketika hari menjelang siang, satu per satu anak-anak Desa Panjalu berdatangan ke Rumah Baca Cahaya Ilmu. Mereka segera mengisi buku tamu dan menyalami Rossy, yang menyambut mereka dengan wajah berbinar.

Sebelum memilih buku-buku yang berjajar di rak, bocah-bocah itu berdiri mengelilingi Rossy, sambil menengadahkan tangan. Mereka takzim berdoa. Suasana yang semula ramai beranjak syahdu. "Semoga, Bunda Rossy sembuh dan sehat sehingga bisa terus menyediakan bacaan bagi kami," ujar bocah-bocah itu....

Kamar Cuma-cuma untuk Pelancong

Oleh DEFRI WERDIONO, Kompas (24/6/2016), Rubrik Sosok

Bagi Ajeng Ria Aprilina (30), "kalkulator" Tuhan berbeda dengan kalkulator manusia. Karena itu, ia enteng saja menyediakan kamar secara cuma-cuma untuk pelancong. Mereka hanya perlu memberi buku atau mengajar anak-anak di sekitar rumah Ajeng. Lewat kegiatan itu, Ajeng membantu pelancong berkantong tipis sekaligus membantu anak-anak yang membutuhkan tambahan pengetahuan.

KOMPAS/DEFRI WERDIONO

Ajeng membuka lebar-lebar pintu rumahnya yang berada persis di pinggir Jalan Raya Malang-Batu di Desa Ngijo, Karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Sejak enam bulan lalu, lebih dari 130 pelancong yang sebagian besar backpacker menginap di tempat itu. Mereka bukan saja wisatawan domestik, melainkan juga wisatawan mancanegara.

Rumah yang disediakan Ajeng untuk para pelancong tidak terlalu besar. Rumah berwarna kuning yang berada di seberang Masjid An-Nur itu terdiri atas dua lantai. Ajeng tinggal bersama keluarganya di lantai dua. Sementara itu, dua kamar di lantai dasar diperuntukkan bagi wisatawan yang bepergian dengan isi kantong minim. Kedua kamar berukuran 3 meter x 2 meter itu langsung terhubung dengan ruang tamu.

Sebagai fasilitas tambahan, Ajeng menyediakan sebuah televisi dan Wi-Fi. Selain itu, ia menempatkan ratusan buku di ruang tamu yang bebas dibaca siapa saja, termasuk anak-anak tetangga. Setiap malam, 30-an anak-anak dari lingkungan sekitar berkumpul di ruang tamu untuk membaca dan belajar bersama.

Meski "resminya" Ajeng hanya menyediakan dua kamar untuk pelancong, kenyataannya tamu yang datang sering kali melonjak. Beberapa pekan lalu, misalnya, ada 19 pelancong yang datang dan menginap di rumah Ajeng. Bagi mereka, yang penting bisa istirahat. "Kalau tamu banyak, sebagian dari mereka tidur di ruang tamu ini," cerita Ajeng.

Omah Backpacker, begitulah Ajeng memberi nama untuk penginapan cuma-cuma miliknya. Penginapan itu berdiri sejak tahun 2015, tetapi embrionya sudah ada sejak 2011. Saat itu, ibu tiga anak tersebut membuat usaha serupa di rumah lamanya yang terletak di salah satu perumahan. Namun, ia merasa kondisi lingkungan perumahan kurang mendukung sehingga usaha penginapan yang dirintis Ajeng hanya bertahan sekitar satu tahun.

Bayar dengan buku

Keinginan Ajeng untuk membuat penginapan kembali hidup ketika seorang temannya yang masih kuliah di Universitas Indonesia meminta bantuan untuk dicarikan penginapan murah pada November 2015. Ajeng pun menawarkan rumahnya sebagai alternatif.

Tawaran tersebut diterima dengan senang hati. Sang tamu yang berasal dari Bekasi itu akhirnya menginap bersama sahabatnya yang masih kuliah di Universitas Negeri Jember.

"Rupanya tamu itu tahu bahwa saya suka membaca. Karena tahu kesenangan saya, dia membawa sejumlah buku fiksi berupa cerita pendek," ujarnya.

Cerita tidak berhenti sampai di situ. Buku-buku pemberian sang kawan ternyata diketahui oleh tetangganya. Karena memiliki kesenangan sama, yakni suka membaca, akhirnya buku-buku itu pun dipinjam oleh tetangga.

Dari situ kemudian tebersit di pikiran Ajeng dan keluarga untuk memanfaatkan dua kamar yang kosong agar bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Tercetuslah ide untuk menyewakan kamar itu. Selanjutnya, istri Rio Afif Mufarid (30) itu mengunggah Omah Backpacker ke media sosial Facebook dengan embel-embel menginap hanya dengan membayar buku.

Gayung bersambut, tiga hari kemudian tamu mulai datang untuk menginap. "Ada juga yang bukan tamu, mereka datang hanya memberikan buku. Bahkan, ada yang menelepon saya dari Jakarta menyampaikan keinginannya untuk mengirimkan buku," ucapnya.

Dari situlah koleksi buku Ajeng terus bertambah hingga sekarang jumlahnya lebih dari 300 buku, mulai dari buku anak-anak, nonfiksi, hingga esai. Sebagian rumahnya kini menjadi semacam perpustakaan kecil yang menjadi tempat alternatif bagi anak-anak sekitar untuk mendapatkan buku bacaan.

Belajar bersama

Dua bulan setelah Omah Backpacker berdiri, Ajeng juga menyematkan nama Omah Sinau di rumahnya. Di tempat itu anak-anak belajar bersama di bawah arahan Ajeng.

"Setelah buku terkumpul, saya berpikir, yang datang ke rumah saya, kok, anak itu-itu saja. Saya sendiri sering dengar cerita dari para orangtua bahwa anaknya sering mengisi waktu luang dengan nongkrong dan main tidak jelas. Akhirnya saya berpikir bagaimana jika kegiatan mereka bermain dipindah ke rumah saya," tuturnya.

Akhirnya kegiatan belajar di rumah Ajeng berkembang. Ada kelas gambar, kriya, tari, dan bahasa. Untuk kelas bahasa, tidak hanya pelajaran bahasa Inggris yang diberikan, tetapi juga Perancis dan Jepang. Ajeng turun tangan sebagai pengajar bahasa Inggris, sedangkan pengajar bahasa Perancis dan Jepang adalah mahasiswa dari Universitas Brawijaya, Malang.

Tidak jarang para backpacker asing yang menginap di rumah Ajeng juga menjadi mentor bahasa. Jika tamu domestik berbayar buku, Ajeng menerapkan aturan bagi tamu mancanegara. Mereka boleh menginap di sana asalkan mau mengajar (one night one teaching). Yang terjadi, para pelancong asing itu tidak hanya mengajarkan bahasa asing, tetapi juga berbagi cerita tentang budaya dan kebiasaan di negeri mereka.

Sejumlah pelancong dari luar negeri, seperti Maroko, Polandia, Ceko, dan Perancis, juga mengenyam hangatnya suasana rumah Omah Backpacker yang menyatu dengan Omah Sinau. Bahkan, seorang backpacker asal Maroko mengaku jatuh hati pada Malang setelah menginap selama dua pekan di Omah Backpacker.

Terkait dengan dunia pendidikan, sebulan terakhir Ajeng mengembangkan kegiatan Omah Sinau Berbagi Mimpi. Dalam program ini, Ajeng bersama teman-teman yang memiliki profesi out of the box (seperti musisi, bloger, dan agen perjalanan) memberikan semangat kepada anak-anak usia SMP di daerah marjinal perkotaan. Pesan yang disampaikan adalah bagaimana cara merajut mimpi dan meraih cita-cita sesuai bakat.

"Jangan sampai mereka terjebak oleh propaganda selama ini bahwa cita-cita itu adalah jadi dokter, insinyur, dan lainnya. Kalau tidak bekerja di profesi tersebut, seolah dianggap tidak bekerja," ucapnya.

Ajeng ingin mendorong anak-anak kelompok marjinal perkotaan untuk memiliki mimpi yang tinggi, sekaligus memberikan akses untuk mengejar mimpi tersebut. Dan, Ajeng memulainya dengan Omah Backpacker serta Omah Sinau.

Bintang Baru Sepak Bola Indonesia

Oleh Gatot Widakdo/Buyung Wijaya Kusuma, KOMPAS (5/6/2016)

Pesta sepak bola Indonesia kembali bergelora setelah Presiden Joko Widodo turun tangan merestui digelarnya Kejuaraan Sepak Bola Torabika (Torabika Soccer Championship/TSC), yang dimulai 29 April 2016. Dari kejuaraan ini sudah memunculkan bintang baru, yakni Ratu Tisha Destria (30). Dialah Direktur Kompetisi TSC yang akan berperan besar untuk mengawal kualitas kompetisi.

KOMPAS/GATOT WIDAKDO

Kehadiran alumnus FIFA Master dalam setiap rapat penting dengan klub, pertemuan dengan Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI), dan pembahasan peraturan kompetisi yang kadang berlangsung alot itu mengundang perhatian wartawan. Termasuk ketika dirinya mengantar semua punggawa klub peserta TSC bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Presiden karena satu-satunya perempuan.

Tisha bisa dibilang masih muda sehingga awalnya banyak yang meragukan kapasitas dari perempuan sarjana Matematika Institut Teknologi Bandung (ITB) ini. Namun, pengetahuan dan visinya tentang sepak bola sangat jauh ke depan. Dengan peran besarnya dalam melahirkan konsep kompetisi yang baru ini, Tisha dengan mudah mendapat kepercayaan dan respek dari anggota asosiasi provinsi dan pengurus klub di Tanah Air.

"Saat ditunjuk sebagai direktur kompetisi, tentu saya kaget juga. Akan tetapi, saya kemudian merasa tertantang dan secepatnya pula saya ingin bekerja," kata Tisha saat dijumpai di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan, Rabu (27/4).

Menurut Tisha, tantangan terberat untuk penyelenggaraan kompetisi ini, selain membangun infrastruktur, juga dalam membangun komunikasi dan mendapatkan kepercayaan dari semua pemangku kepentingan.

"Sepak bola itu butuh sistem pendukung yang kuat, tidak bisa hanya satu aspek untuk membuat fondasi. Selama ini, mungkin yang berjalan baru satu aspek, yakni sisi penyelenggara kegiatan saja. Padahal, kolaborasi dengan banyak mitra menjadi kunci," ujar Tisha.

Tisha menambahkan, agar sepak bola berkembang lebih pesat, yang perlu dilakukan adalah bagaimana menciptakan keadaan atau kondisi yang mengundang banyak pihak untuk kreatif. Sepak bola tidak bisa dikelola dan dikuasai secara eksklusif. Pengembangannya harus dinamis dengan membangun banyak jaringan. "Meminjam istilah Steve Jobs, kita harus membuat connecting the dot,"ujar Tisha.

Selama ini orang memahami permainan bola adalah memperebutkan satu bola oleh 22 pemain. Namun, bagi Tisha, yang sesungguhnya adalah bagaimana sebelas pemain dari setiap tim membagi bola untuk mencetak gol dengan alur permainan dari kaki ke kaki yang indah.

Inspirasi kota Leipziq

Ketertarikan Tisha dalam mengurus olahraga, khususnya sepak bola, sebenarnya sudah ada sejak duduk di bangku kelas I SMA Negeri 8 Jakarta. Saat itu ia terlibat membangun tim sepak bola sekolah dan sekaligus menjabat sebagai manajer. Kemudian semakin tertarik ketika mengikuti pertukaran antarbudaya AFS, di kota Leipzig, Jerman, yang kehidupan masyarakatnya begitu bersemangat dengan acara-acara olahraga.

Hidup selama setahun di kota kecil di bagian Jerman timur, dia sangat menikmati masyarakat yang sangat senang dengan sepak bola. Bahkan, komunikasi dengan orang-orang bisa nyambung dengan membahas sepak bola.

KOMPAS/GATOT WIDAKDO

"Saya juga senang melihat masyarakatnya yang mengambil nilai-nilai sportivitas untuk diterapkan ke dalam kehidupan sehari-hari," ujar Tisha.

Selama setahun berguru di Max-klinger Schule Gymnasium, Tisha juga sempat belajar manajemen olahraga. Pada kesempatan inilah, dia makin memahami bahwa yang menjadi kunci dalam olahraga adalah semangat.

Ketika kembali ke Tanah Air dan menyelesaikan sekolah di SMA Negeri 8 Jakarta, Tisha masih kembali mengurus kesebelasan sekolahnya dan berhasil membawa juara. Lulus SMA, dia langsung mengikuti tes masuk ke Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ITB, meninggalkan kesempatan bebas tes di Universitas Telkom di Bandung. Alasannya, dia memilih studi pada jurusan Matematika karena yakin dengan pilihannya dan juga tahu bahwa angka-angka berhubungan dengan olahraga, khususnya bola.

"Matematika itu raja dari semua ilmu," ujarnya sambil tertawa.

Sama seperti di SMA, Tisha kembali menjadi manajer bagi tim PS ITB yang berlaga di Divisi I Provinsi Jawa Barat. Dia tidak hanya menjadi manajer yang hanya mengurus persiapan tim untuk bertanding, tetapi juga menyusun data klub, jadwal latihan, serta kalender pertandingan dari klubnya. PS ITB sempat mendapatkan promosi naik tingkat ke divisi utama.

"Waktu di SMA, saya membangun tim sepak bola dari nol, dan saat di kampus saya langsung melebur mengurus tim ITB. Sebelum mendatangkan pelatih, untuk mendapatkan menu dan metode latihan fisik, saya selalu mempelajarinya dari buku di perpustakaan kampus. Modalnya cuma semangat. Dan ternyata, jika kita lakukan sungguh-sungguh apa yang kita impikan, bisa terwujud. Kami tak cuma sekadar membangun tim, tetapi juga menghasilkan tim juara," kenang Tisha, yang mahir dalam enam bahasa.

Pada akhir masa kuliah, Tisha bersama teman-teman yang hobi sepak bola mulai merintis membangun bisnis yang bergerak di bidang statistik olahraga, khususnya sepak bola.

Dengan bendera perusahaan yang diberi nama LabBola, Tisha dan kawan-kawan menawarkan jasa penyediaan data statistik performa tim. Data tersebut bisa membantu tim untuk mengajukan proposal kepada sponsor.

Setelah lulus dari ITB tahun 2008, Tisha menerima tawaran bekerja pada perusahaan jasa perminyakan Schlumberger. Di perusahaan ini, Tisha mendapat banyak tambahan ilmu, terutama dalam eksplorasi data dan konflik manajemen. Meskipun harus bekerja berpindah-pindah dari Kairo, Mesir; Houston, Amerika Serikat; London, Inggris; dan Beijing Tiongkok; di sela-sela waktu luangnya, Tisha tetap bisa berkomunikasi dengan teman-temannya yang mengelola LabBola.

Empat tahun kemudian Tisha memutuskan berhenti bekerja dan lebih memilih fokus untuk membesarkan LabBola. Dia kemudian mulai mempelajari kondisi sepak bola nasional sekaligus mencari kesempatan untuk menjalin komunikasi dengan federasi. Selain itu, untuk menambah ilmu dan wawasan, berbagai seminar sepak bola dia ikuti, termasuk seminar sepak bola internasional di Jepang, Belgia, dan Denmark.

Jaringan Tisha semakin luas. Dia pun mendapat informasi tentang program FIFA Master yang disponsori FIFA sebagai bagian dari mengembalikan 90 persen keuntungan mereka untuk pengembangan sepak bola. Program ini dijalankan International Centre for Sports Studies (CIES) yang menggandeng beberapa universitas. Beberapa bidang studi yang dipelajari dalam program ini di antaranya Sport Humanity, Manajemen Olahraga, dan Hukum Olahraga.

Berbekal portofolio dari kegiatan seminar yang dia ikuti, Tisha kemudian mendaftar dan mengikuti tes program FIFA Master. Dari 6.400 pendaftar, akhirnya hanya 28 orang yang diterima, termasuk Tisha. Setelah menyelesaikan studi selama satu setengah tahun dalam program FIFA Master, Tisha berhak menyandang gelar Master of Art. Tisha lulus dengan hasil memuaskan menduduki peringkat ke-7 dari 28 siswa.

Tisha menceritakan, program FIFA Master memberi dia banyak pandangan baru dalam pengembangan olahraga, terutama sepak bola. Potensi sepak bola Indonesia jauh lebih menjual dibandingkan dengan negara lain. "Basis market kita sudah jadi. Sekarang kita tinggal mengubah sistem marketing yang selama ini bersifat ownership menjadi partnership," katanya.

LabBola, yang kini memiliki 23 personel kreatif, sudah kian berkembang. Turnamen sepak bola Inter Island menjadi proyek besar pertama mereka. Berikutnya menyusul proyek di Liga Indonesia, tim nasional PSSI, serta klub Persebaya dan Bali United. Belakangan menyusul klien baru, seperti tabloid Bola, Chanel Bola Indonesia di K-Vision, serta Liga Kompas Gramedia U-14 Panasonic. Bahkan, LabBola juga sudah go internasional dengan menggarap proyek data dan statistik pada kompetisi Piala Raja Malaysia.

Kini, Tisha harus membuktikan keyakinan dan semangatnya mengurus sepak bola nasional ini agar bisa menuai hasil yang membuat pencinta bola di Tanah Air kembali bergairah kembali.