Menyehatkan Sayap Indonesia

Tajuk Rencana

Kompas, Selasa, 2 November 2021


”Aku adalah Garuda. Burung milik Wisnu yang membentangkan sayapnya di atas kepulauanmu,” demikian sajak RM Noto Soeroto, wartawan dan sastrawan

Bung Karno lalu mengabadikan nama Garuda pada maskapai nasional kita. Pada usianya yang ke-72 ini, Garuda Indonesia sedang sakit. Sebagaimana dialami sebagian penduduk dunia, kondisi Garuda Indonesia memburuk akibat Covid-19. Garuda Indonesia tidak sendiri karena sebagian besar maskapai penerbangan dunia kini juga sedang sakit.

Kabar baiknya, dalam kondisi yang tidak terlalu sehat ini, Presiden Joko Widodo tetap menaiki Garuda Indonesia dalam lawatannya ke Eropa. Pilihan Presiden menumpang pesawat bercat merah-putih dengan logo Garuda Pancasila itu bahkan dimaknai sebagai keberpihakan pemerintah terhadap maskapai nasional tersebut. Garuda masih mendapat dukungan.

Masih adanya keberpihakan dari pemerintah tentu melegakan. Garuda jelas masih dibutuhkan penduduk negeri kepulauan ini. Sejauh ini hanya angkutan udara yang dapat mendukung mobilitas penduduk dari Sabang sampai Merauke, yang setara jarak London hingga Baghdad, dalam hitungan jam.

Ketika Covid-19 dinilai mulai terkontrol dan sebagian penduduk mulai terbang, mereka terkejut mendapati kondisi angkutan udara kita. Karena sedang tidak sehat, Garuda, misalnya, terpaksa menurunkan jaringan dan frekuensi penerbangan di sejumlah rute. Langkah itu ditempuh supaya Garuda tetap dapat bertahan hidup,

Kita tentu berharap Garuda tetap dapat terbang. Harapan ini terutama karena Garuda selama ini menjadi pengingat bagi maskapai lain untuk tidak seenaknya melayani penduduk Indonesia. Garuda selama ini telah konsisten menerapkan standar keselamatan dan layanan yang tinggi.

Garuda selama ini menjadi pengingat bagi maskapai lain untuk tidak seenaknya melayani penduduk Indonesia.

Dukungan moral dari Presiden Joko Widodo jelas kita hargai. Namun, dukungan terhadap maskapai nasional ini harus lebih detail. Sebab, sejauh ini, total utang Garuda Indonesia telah membengkak menjadi Rp 70 triliun. Tanpa strategi penyelesaian utang yang jitu, di atas kertas, utang itu sulit dibayarkan.

Garuda tentu harus berubah. Garuda harus lebih efisien. Manajemen Garuda di masa mendatang harus mengadopsi nilai-nilai dari maskapai berbiaya rendah agar mempunyai cadangan dana saat menghadapi masa-masa krisis.

Kini, Garuda jelas harus disehatkan terlebih dahulu supaya tetap dapat terbang. Garuda sebaiknya diselamatkan karena inilah maskapai kebanggaan kita, terlepas dari apa pun dosa-dosa pengelolanya di masa lalu.

Kita pun menunggu keputusan pemerintah. Entah itu dalam bentuk suntikan dana, atau dalam bentuk kejelasan maskapai ”pelapis” Garuda—posisi yang dulu pernah diemban oleh Merpati. Indonesia jelas masih membutuhkan Garuda Indonesia.

Editor: KOMPASCETAK

ANALISIS BUDAYA - Buku


 

Oleh ARIEL HERYANTO

Profesor Emeritus dari Universitas Monash Australia

Kompas, 9 Oktober 2021

 

Yang layak ditingkatkan tak hanya isi buku, jumlah produksi buku, dan kesejahteraan penulisnya, tetapi juga seluruh ekosistem intelektual. Rendahnya minat baca masyarakat tak semata-mata karena kurangnya bacaan bermutu.

 

Beberapa buku berdampak besar, jauh melampaui masa hidup penulisnya dan batas bangsa-negara asalnya. Di balik sukses itu ada penulis yang cerdas. Juga penerbit, editor, pustakawan, dan toko buku yang berjasa besar. Tak hanya itu.

Yang tak kalah penting adalah pembaca yang terdidik. Juga penerjemah dan para pembahas buku berkualitas. Tak hanya sekali ulasan sebuah buku (fiksi dan non-fiksi) lebih memukau saya daripada buku yang diulas. Saya bergegas membeli buku yang diulas, dan rela menunda kesibukan lain demi membacanya tuntas.

Ulasan semacam itu tak cuma berisi pujian. Ia mendalami berbagai hal yang kurang menonjol di buku yang diulas, dan dikaitkan sejumlah peristiwa atau buku-buku lain. Ia memperkaya pembacaan kita atas isi buku yang diulasnya.

Buku dan ulasan cerdas tentangnya mencerahkan masyarakat. Juga meningkatkan mutu perdebatan publik. Mereka mengangkat kualitas pendidikan, memperkaya bahasa, memacu inovasi, menyegarkan industri penerbitan, toko buku, dan karier desainer grafis.

Kampanye baca-tulis membutuhkan mitra kerja dalam berbagai wilayah. Yang layak ditingkatkan bukan hanya isi buku, tetapi juga jumlah produksi buku dan kesejahteraan penulisnya. Namun, seluruh ekosistem intelektual. Rendahnya minat baca masyarakat tidak semata-mata karena kurangnya bacaan bermutu.

Dari kerja jurnalisme video Dandhy Dwi Laksono dan rekan-rekannya di Watchdoc, kita bisa belajar. Karya mereka berkualitas tinggi. Yang lebih mengagumkan adalah visi dan strategi kerja mereka, serta kemampuan membangun jaringan komunitas. Hasilnya bukan sekadar rangkaian acara nonton bersama. Namun, sebuah gerakan sosial mencerdaskan bangsa.

Kembali ke soal buku, jasa penerjemah selama ini lebih sering diremehkan ketimbang dipahami. Di awal abad ke-21 diperkirakan sekitar 70 persen buku yang terbit di Indonesia berwujud terjemahan. Sayang, kualitas terjemahan yang bagus masih langka. Ini bukan salah para penerjemah. Profesi penerjemah belum pernah dihargai selayaknya. Ini berlaku di banyak negara, kecuali Jepang.

Seorang sarjana Jepang mengabdikan kariernya untuk meneliti tentang Indonesia. Ia bahkan menikahi orang Indonesia. Saya tanya mengapa ia tertarik meneliti Indonesia. Jawabnya mengejutkan. Ia jatuh cinta pada Indonesia setelah membaca novel Pramoedya Ananta Toer dalam terjemahan berbahasa Jepang.

Saya tak paham bahasa Jepang. Novel yang dimaksud sudah beberapa kali saya baca dalam versi aslinya. Bahasanya biasa saja walau lugas. Yang hebat isi pesannya, selain ceritanya, tokoh-tokohnya, dan struktur pengisahannya. Saya duga bahasa terjemahan Jepangnya lebih indah daripada bahasa aslinya.

Kita tahu olok-olok Raden Mas Soewardi Soerjaningrat pada pemerintah kolonial Belanda dalam tulisan ”Als ik eens Nederland was” (Andaikan Aku Orang Belanda). Namun, tak banyak yang tahu, penulisnya baru ditahan setelah tulisan itu diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Melayu. Menurut jaksa yang mendakwanya, ia tak akan ditangkap seandainya tulisan itu tidak diterjemahkan.

Karya akademik Ben Anderson yang banyak mengulas Indonesia telah berdampak mendunia. Yang kurang diperhatikan dunia, juga di Indonesia, jasa besar almarhum menerjemahkan berbagai karya orang Indonesia ke bahasa Inggris. Merosotnya kajian tentang Indonesia di mancanegara bisa berdampak pada pemahaman dan penghargaan dunia bagi negeri ini.

Para dosen di Tanah Air sering mengeluh sulitnya memenuhi tuntutan menerbitkan buku akademik dan artikel ilmiah di penerbit internasional yang berwibawa di dunia. Terbitan itu biasanya harus berbahasa Inggris. Ada niat baik di balik tuntutan itu. Namun, kebijakan itu ambisi yang muluk dan kurang adil bagi mayoritas dosen kita. Bahkan di negeri berbahasa Inggris sendiri tak semua dosen berhasil memenuhi tuntutan global itu dengan memuaskan.

Besarnya beban mengajar, bimbingan mahasiswa, rapat, dan tugas administrasi sering dituduh menghambat prestasi penelitian dosen kita. Akan tetapi, beban semacam itu juga ditanggung rekan-rekan mereka di banyak negara lain yang lebih produktif berkarya ilmiah. Bedanya, di banyak negara lain beban kerja dosen diimbangi dukungan berlapis-lapis baik di dalam maupun di luar kampus.

Di sejumlah negara lain yang saya kenal, buku, arsip, dan data yang dibutuhkan peneliti tersedia berlimpah dan mudah dijangkau di perpustakaan. Di sana, toko buku, siaran radio, koran dan tv, museum, teater, galeri, dan acara pameran menjadi pendukung kerja peneliti.

Acara seminar ilmiah berlimpah. Peneliti tamu terkemuka dari berbagai penjuru dunia datang untuk berbagi pengetahuan. Semua itu memungkinkan terpeliharanya konsentrasi peneliti selama bertahun-tahun tanpa banyak terusik upacara nasional atau acara kelurahan.

 

Lebih dari seabad terakhir dunia akademik masih saja didominasi beberapa negara. Di sana tersedia peluang bagi para dosen menikmati cuti-panjang sabatikal dengan gaji penuh. Selama cuti enam atau 12 bulan, mereka dibebaskan dari beban mengajar, membimbing, rapat, atau tugas administrasi. Universitas biasanya juga menyediakan dana tambahan agar dosen yang cuti berkunjung ke negara lain demi keperluan penelitian.

Tak adil jika dosen Indonesia dituntut bersaing dengan mereka. Bukan saja karena terbatasnya fasilitas di Tanah Air sendiri. Bukan saja karena mereka dituntut membaca dan menulis dalam bahasa asing. Tak jarang, kerja penelitian mereka dibatasi arahan dari atasan. Apalagi jika ada sejumlah tabu, sensor, dan gelombang ancaman pidana yang menghantui kemerdekaan membaca, meneliti, dan menulis.

Di Tanah Air banyak lomba membuat lagu, film, tulisan fiksi dan non-fiksi. Akan tetapi, berapa banyak pelatihan berjangka-panjang dari Sabang hingga Merauke yang menyiapkan lulusan dengan kualitas juara di berbagai lomba itu? Berapa anggaran negara untuk pembinaan kerja budaya dan seni?

Dalam pendidikan, buku hanyalah satu unsur terpenting. Pendidikan sendiri hanya bagian dari pembangunan semesta bangsa-negara. Apa yang kita panen akan sepadan dengan yang kita tanam dan rawat berjangka-panjang. Ini bukan hanya dalam pertanian, melainkan juga peradaban bangsa.

Editor: MOHAMMAD HILMI FAIQ

Mimpi ”Kota dalam Taman” Bogor

pinterest


Kompas, 6 September 2021

Oleh AGUIDO ADRI

Eksavator merobohkan tembok yang sudah berdiri selama 30 tahun dan menjadi pembatas alun-alun Kota Bogor dan area Stasiun Kota Bogor, Jumat (13/8/2021).

Tak jauh dari Stasiun Kota Bogor, saat ini Pemerintah Kota Bogor, Jawa Barat, sedang membangun Alun-alun Kota Bogor seluas 1,7 hektar. Pembangunan itu direncanakan selesai dan bisa dinikmati warga pada akhir 2021 ini.

Rifky Maulana (34) yang melintas di deretan seng-seng penutup proyek pembangunan alun-alun tak sabar menanti wajah baru kawasan yang sebelumnya cukup kumuh dan semrawut itu. Ia sudah membayangkan kawasan di Jalan Dewi Sartika dan Jalan Kapten Muslihat tersebut akan menjadi bersih, hijau, dikelilingi bangunan tua peninggalan Belanda seperti Stasiun Kota Bogor, Gereja Katedral, hingga Balai Kota.

”Itu akan indah pasti,” kata pria berpakaian olahraga yang hendak menuju kawasan pedestrian Sistem Satu Arah (SSA) Kebun Raya untuk berolahraga, Jumat (3/9/2021).

Warga lainnya, Sinta Yunita Siregar (37), berharap alun-alun menjadi ruang interaksi keluarga dan anak yang ramah dan gratis.

Alun-alun Kota Bogor menjadi jalan untuk mencapai mimpi 20-30 persen RTH

Penduduk Kota Bogor, Mila Ayu Rahesti (26), mengingatkan agar Pemkot Bogor juga membenahi kesemrawutan lalu lintas di sana. Selain itu, ia berharap, setelah alun-alun, ada taman lagi dibangun.

Ahli lanskap kota Nirwono Yoga menyatakan, taman kota atau ruang terbuka hijau (RTH) tidak hanya baik secara ekologi, tetapi bermanfaat ekonomi hingga kesehatan untuk warga.

”Salah satu indeks warga bahagia karena ada banyak taman dan RTH. Seperti di Adelaide, Australia, dan kota-kota di Eropa yang menunjukkan warganya sehat dan tidak stres. Itu karena pemerintahnya menghadirkan ruang interaksi dan RTH banyak,” kata Nirwono.

Berdasarkan data dari Pemerintah Kota Bogor, saat ini ”kota hujan” itu memiliki 222 RTH di enam kecamatan.

Namun, secara persentase, RTH di Kota Bogor hanya sekitar 11 persen. Padahal, secara nasional dan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tiap kota harus memiliki RTH minimal 20 persen dan idealnya 30 persen.

Secara rata-rata, Kota Bogor masih di bawah Kota Surabaya di Jawa Timur yang memiliki sekitar 30 persen RTH dan Kota Malang sekitar 20 persen. Namun, untuk di Jabodetabek, RTH di Kota Bogor lebih tinggi daripada kota lainnya.

Peran taman kota di era pandemi seperti yang terlihat dari tangkapan layar dari paparan Nirwono Joga dalam diskusi daring Taman Kota di Era Normal Baru, Sabtu (20/6/2020).

Menurut dia, jika melihat kondisi alam, Kota Bogor bisa memiliki 30 persen RTH bahkan bisa lebih dari angka itu. ”Salah satu caranya, hentikan pembangunan hotel dan mal. Tata ruang kotanya mengarah ke kota hijau. Ini investasi jangka panjang untuk Kota Bogor yang sudah memiliki modal dan potensi menjadi kota dalam taman. Akan ada keuntungan besar secara ekonomi, ekologi, dan kesehatan jika terwujud,” lanjutnya.

Wali Kota Bima Arya setuju dengan Nirwono. Oleh karena itu, alun-alun Kota Bogor harus memiliki arti penting dalam tatanan kota atau simpul roda dinamika warga.

”Isu kota yang sehat di masa pandemi ini menjadi penting. Saya sepakat memang perlu diperbanyak taman-taman kota menuju wujud kota yang sehat. Meski begitu, perlu dipikirkan pola jangka panjang terkait perawatan berkelanjutan,” kata Bima.

Selain itu, menjadikan kota sehat dan bersih tidak hanya menghadirkan taman kota semata, tetapi perlu integrasi dan dukungan untuk menciptakan pola budaya baru, seperti perbaikan sistem transportasi hingga pengelolaan sampah.

Gandeng PT KAI

Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim menuturkan sudah menemui tim perwakilan PT KAI Daop 1 karena pembangunan alun-alun bersinggungan langsung dengan Stasiun Bogor. Kedua pihak membahas perencanaan sistem drainase dan pagar pemisah aset Pemkot Bogor dan PT KAI. Diskusi juga terkait perencanaan integrasi transportasi publik.

Nantinya, ada sky bridge atau jembatan penghubung oleh Balai Besar Teknik Perkretaapian. Jembatan akan menghubungkan Stasiun Kota Bogor dan Stasiun Paledang yang juga terhubung dengan alun-alun. Selain itu, ada pula integrasi jalur ganda Bogor-Sukabumi dengan konsep kawasan berorientasi transit.

Dedie menjelaskan, dengan pembangunan alun-alun, PT KAI dan Kementerian Perhubungan dapat memanfaatkan akses yang pemkot siapkan sehingga nantinya bagian muka Stasiun Kota Bogor bisa dikembalikan seperti era kolonial Belanda, yaitu ke arah Jalan Dewi Sartika. Saat ini, pintu keluar masuk melalui Jalan Mayor Oking.

Stasiun Kota Bogor didirikan pada 1881. Dulunya, kawasan alun-alun itu Taman Wilhelmina sebelum berubah menjadi Taman Topi, lalu Taman Ade Irma Suryani.

Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Bogor Juniarti Estiningsih melanjutkan, alun-alun Kota Bogor akan ada empat bagian, yaitu zona botani, zona olahraga, zona plaza, dan zona rohani atau religi.

Proses menjadi kota dalam taman kini masih berjalan. Langkah baik itu diharapkan tetap berlanjut setelah alun-alun Kota Bogor terwujud.

Editor: NELI TRIANA

‘Kutilang Minang’ Telah Terbang

 Tempo, 5 September 2021

Oleh Hasril Chaniago

 


Saya mengagumi sosok Elly Kasim, dibawah ini tulisan yang disarikan dari obituari Elly Kasim yang ditulis oleh Hasril Chaniago, wartawan, penulis biografi, budayawan, dan ketua Yayasan Pusat Kebudayaan Minangkabau.

 

Sejak awal 1960-an, nama Elly Kasim sudah berkibar di belantika musik Minang. Dicatat pengamat musik dan pencipta lagu-lagu Minang  , Dr Agusli Taher dalam bukunya, Perjalanan Musik Minang Modern (2016), Elly Kasim adalah penyanyi yang unik. Lazimnya seorang penyanyi diorbitkan oleh pencipta lagu. Tapi Elly Kasim justru sebaliknya, dia yang mempopulerkan nama pencipta lagu-lagunya.

 

Elly Kasim lahir dengan nama Elimar di Tiku, Tanjung Mutiara, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, 27 September 1943. Menurut Elly, darah seni dari ayahnya yang penggemar sandiwara. Tapi bakatnya terasah berkat asuhan pamannya, Yanuar, penggila music yang pernah masuk sekolah biola. Pada usia empat tahun Elly sudah bisa menyanyikan lagu dengan lancer seperti Indonesia Subur, Boneka, Doa Restumu, dan Andai Aku Pandai Bernyanyi diriingi gitar atau biolah oleh Yanuar.

 

Masa Sekolah Menengah Pertama Elly pindah ke Rumbai dan bakatnya didukung oleh ibu dan ayah tirinya dengan mengikutsertakan Elly acara di RRI untuk menyanyi seriosa, keroncong, atau membaca puisi. Hasilnya, tahun 1958, ia terpilih sebagai Bintang Radio RRI Pekanbaru.

 

Selesai Sekolah Menengah Atas, pindah ke Jakarta dan kuliah di Jurusan Farmasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia hingga memperoleh gelar sarjanan muda.Pada 1961, Elly bergabung dengan Orkes Ganto Rio, bertemu dengan pemusik multitalenta dari Padang, Nuskan Syarif pemilik julukan Si Gitar Maut.

 

Elly Kasim tidak hanya berkarir dan memperkenalkan musik minang di Indonesia dan Malaysia, tetapi juga sukses mengelola Sanggar Tari Nasional (Sangrina) Bunda Bersama Titiek Puspa, yang didirikan tahun 1978.Sangrina Bunda telah tampil di 50 kota di 38 negara, 5 benua. Bersama suaminya Nazif Basir, Elly juga menjalankan usaha Wedding Organizer yang cukup terkenal.

 

Proklamator RI, Bung Hatta pernah ditanyai tentang sosok Agus Salim, dan beliau menjawab “Haji Agus Salim adalah jenis manusia yang dilahirkan hanya sekali dalam satu abad”. Dan Elly Kasim dengan segala kelebihan dan keistimewaannya, mungkin juga termasuk jenis manusia yang dilahirkan hanya satu dalam satu abad. 

Sri Kurnawati Memberantas Buta Aksara di Jayapura

 “Buku adalah Jendela Dunia” 



Kita tentu sangat dekat dengan kalimat ini, dari usia sekolah. Dan hari ini, saya membaca kisah:

Sri Kurnawati Memberantas Buta Aksara di Jayapura yang ditulis oleh FABIO MARIA LOPES COSTA pada rubrik Sosok Harian Kompas, 2 September 2021, Sosok Kompas. Berikut kisahnya: 

 

Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Kasih terletak di pinggir jalan Trans-Papua yang menghubungkan Kota Jayapura ke Kabupaten Keerom, tepatnya di Kampung Biak, kawasan Abe Pantai, Distrik Abepura. TBM Kasih menempati ruang tamu dan halaman rumah Sri dan keluarga.

 

Suatu hari di akhir Juli, Sri beraktivitas bersama Vita Gasperz, salah seorang tenaga pendidik di TBM Kasih. Sekitar 30 menit kemudian, datanglah lima ibu yang bermukim di sekitar Kampung Biak. Mereka mengambil buku di perpustakaan TBM Kasih, lantas membaca buku-buku dengan beragam tema itu.


Kegiatan dilanjutkan dengan berlatih membuat puding cokelat.  Di bawah bimbingan tenaga pendidik TBM, mereka membaca dan berlatih keterampilan di sela-sela kesibukan sebagai ibu rumah dan pedagang di pasar tradisional.

 

Aktivitas para ibu itu disebut Program Noken Literasi. Program yang berlangsung setiap Jumat merupakan kerja sama antara Yayasan Mahkota Bunda dan TBM Kasih sejak tahun  2020. Tujuannya memberikan pengetahuan umum bagi para ibu lewat bacaan dan meningkatkan aneka keterampilan mulai membuat kue hingga kerajinan tangan.

 

Sementara itu, Vita dan para ibu berlatih membuat puding, Sri pergi ke sebuah pondok sekitar 100 meter dari TBM Kasih. Biasanya pondok itu digunakan sebagai tempat pertemuan masyarakat setempat. Di sana, Sri membantu tiga sukarelawan TBM Kasih yang sedang mengajar 20 anak kampung membaca dan menulis. Peserta berusia 5 tahun sampai 10 tahun.

Sri menggelar tikar dan mulai ikut mengajar anak-anak. Kegiatan dilakukan dengan memperhatikan protokol kesehatan selama pandemi Covid-19. Setiap anak wajib menggunakan masker saat mengikuti kelas literasi bersama Sri. Ketika waktu menunjukkan pukul 17.30 WIT, Sri dan para sukarelawan mengakhiri kegiatan dan pulang ke rumah masing-masing.

 

Sri mengajar baca-tulis dan terlibat dalam Program Noken Literasi tanpa dibayar. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia mengandalkan gajinya sebagai guru honorer yang mengajar matematika di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Jayapura sejak 2019.

 

Dari pasar

Lahirnya TBM Kasih berawal ketika Sri menggelar program literasi bagi masyarakat yang bermukim di sekitar Pasar Youtefa pada awal 2019. Saat itu Sri masih bergabung sebagai tenaga pengajar lembaga Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Puspita.

 

PKBM Puspita adalah lembaga mitra pemerintah daerah setempat yang mempersiapkan masyarakat untuk mengikuti pendidikan kesetaraan Paket A untuk jenjang sekolah dasar hingga Paket C di jenjang SMA. Sri bergabung dengan lembaga PKBM untuk program kesetaraan pendidikan sejak 2017.

 

Di sana, Sri menemukan banyak anak berusia di atas 10 tahun yang belum lancar membaca dan menulis. Kenyataan itu mengusik hati Sri. Ia pun terdorong untuk membeli pelajaran baca tulis secara sukarela bagi anak-anak di sekitar rumah Sri di Kampung Biak. Agar niatnya bisa diwujudkan, ia berdiskusi dengan para tokoh masyarakat di Kampung Biak, tempatnya bermukim. Niat Sri didukung dan disambut antusias oleh masyarakat. Mereka juga mengizinkan Sri untuk menggunakan pondok sebagai tempat belajar.


Sri memutuskan berhenti bekerja di PKBM Puspita agar bisa fokus dengan kegiatan sosialnya. Pada Juni 2019, ia mulai berkeliling kampung sambil membawa buku pelajaran. Ia mengumpulkan anak-anak untuk mengikuti kegiatan belajar  baca tulis. Awalnya,  hanya 10 anak yang tertarik mengikuti kegiatan itu. Seiring waktu, peserta bertambah hingga 50 anak tahun ini.

 

”Banyak anak yang merasakan dampak positif setelah mengikuti kegiatan ini. Mereka dapat mengenal huruf, membaca dan menulis dalam waktu beberapa bulan saja,” ungkap Sri.

 

Maret 2020, Sri memutuskan untuk mendirikan TBM Kasih. Ia mendapatkan bantuan banyak buku dari sejumlah donatur dan Dinas Pendidikan, Perpustakaan, dan Arsip Daerah Provinsi Papua. Saat ini TBM Kasih mengoleksi 1.500 buku  dengan berbagai tema.

 

Penulis buku berjudul Semangat Literasi di Tengah Pandemi (2020) ini sering memublikasikan kegiatan mengajar baca-tulis di Kampung Biak melalui media sosial. Dari situ, sejumlah orang dengan latar belakang berbeda-beda tertarik membantu Sri dan TBM Kasih. Akhirnya, bertambah lima tenaga pendidik yang secara sukarela membantu Sri. Pelajar, mahasiswa, dan warga secara umum juga kian banyak datang ke TBM Kasih untuk membaca.

 

Namun, seiring melonjaknya kasus Covid-19 di Provinsi Papua, kegiatan pembelajaran untuk anak dan kaum ibu di pondok tersendat. Bahkan, memasuki Agustus 2021, kegiatan terpaksa dihentikan untuk menghindari penyebaran Covid-19. Meski begitu, Sri masih menggelar kegiatan belajar membaca dan menulis di rumahnya  pada Senin hingga Jumat setiap pukul 15.00 WIT. Kegiatan digelar di ruang perpustakaan TBM Kasih yang hanya seluas 9 x 6 meter. Jumlah anak yang dapat mengikuti kegiatan hanya lima orang dengan mengikuti protokol kesehatan.

 

”Kami akan membuka kembali kegiatan Noken Literasi dan kegiatan belajar di pondok setelah kasus Covid-19 di Kota Jayapura turun. Semangat masyarakat di sini untuk belajar sangat tinggi,” ungkap Sri.

 

Selain pandemi, TBM Kasih menghadapi persoalan klasik, yakni fasilitas yang minim. Rak buku yang dimiliki minim. TBM Kasih pun belum memiliki komputer. Itu sebabnya, pembelajaran jarak jauh belum bisa dilakukan. ”Anak-anak tidak memiliki telepon seluler ataupun komputer untuk mengakses pendidikan secara daring. Karena itu, mereka sangat membutuhkan kegiatan belajar secara tatap muka,” tutur Sri.

 

Di tengah keterbatasan, Sri dan para sukarelawan di TBM Kasih tetap semangat berjuang demi memberantas buta aksara di Kota Jayapura. Atas hasil kerja kerasnya bersama tim pengajar, TBM Kasih meraih penghargaan juara satu Perpustakaan Umum Desa, Kelurahan Kampung Terbaik Tingkat Provinsi Papua pada 2021.

 

”Saya berharap TBM Kasih terus berkontribusi untuk dunia pendidikan di tanah Papua. Anak-anak Papua harus menguasai literasi secara lebih dini agar mengikuti kegiatan belajar di sekolah dengan mudah,” harap Sri.

 

Editor:

BUDI SUWARNA