Kunci Sukses Kemajuan Korea Selatan

Oleh Lieke Kusumaida

Sejongno, Gwanghwamun, Seoul

Korea Selatan adalah salah satu negara maju di kawasan Asia selain Jepang dan Tiongkok. Korea Selatan terkenal dengan budaya K-Pop atau “Hallyu” (Gelombang Korea) yang sedang menyebar keseluruh belahan dunia. Dengan adanya Hallyu, banyak orang ingin mempelajari bahasa dan budaya Korea Selatan. Tidak hanya budaya pop-nya saja, Korea Selatan juga terkenal dengan industri elektroniknya seperti Samsung dan LG, serta industri otomotif seperti Hyundai dan KIA.


Sebelum mencapai kemajuan ekonomi seperti sekarang ini, Korea Selatan pernah mengalami kehancuran pada masa penjajahan Jepang (1910-1945), pemisahan bangsa Korea oleh sekutu (1945) dan Perang Korea (1950-1953), yang mengorbankan jutaan jiwa dan menghancurkan semua fasilitas industri dalam negerinya. Setelah mengalami masa perang yang berkepanjangan, Korea Selatan menjalankan program pembangunan ekonomi yang dinamakan “Miracle on the Hangang River”. Program ekonomi ini dicetuskan oleh presiden Park Chung Hee (1963-1979), di mana salah satu strateginya adalah pembangunan ekonomi beriorientasi ekspor.

Pada tahun 1960-an, komoditas ekspor utama Korea Selatan adalah produk industri ringan yang diproduksi di pabrik kecil dan barang mentah. Lalu pada tahun 1970-an, Korea Selatan mulai mengekspor produk industri berat. Pemerintah juga meningkatkan infrastruktur, melakukan pemerataan pembangunan, dan membuat kebijakan yang memacu semua industri baik yang besar maupun kecil agar dapat berkembang. Perkembangan industri manufaktur berdampak langsung pada penciptaan lapangan pekerjaan. Ini yang menjadi pondasi penting bagi peningkatan perekonomian Korea Selatan. Sebagai hasilnya, Korea Selatan berhasil meningkatkan volume ekspornya dari US$ 32.8 juta di tahun 1960 menjadi US$ 559.6 miliar di tahun 2013. Kemudian produk domestik bruto per kapitanya naik dari hanya US$ 60 pada tahun 1948, menjadi US$ 26,205 di tahun 2013.

Sadar akan keterbatasan sumber daya alamnya, Korea Selatan mengembangkan sumber daya manusia untuk meningkatkan perekonomian dan industrinya. Sejak tahun 1948 Korea selatan membangun sekolah yang menggunakan sistem pendidikan yang modern, kemudian pada tahun 1953 setiap anak wajib mengikuti pendidikan dasar 6 tahun. Saat ini, Korea Selatan menjadi salah satu negara yang mempunyai tingkat melek huruf tertinggi di dunia. Selain meningkatkan SDM, Korea Selatan juga memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan mendirikan Korea Institute of Science and Technology (KIST) dan Kementerian Pengetahuan dan Teknologi (MOST) pada tahun 1966 dan 1967. Pada awalnya. Korea Selatan hanya menyerap dan menggunakan teknologi asing, namun sejak tahun 1980-an mereka mulai mengembangkan proyek R&D untuk meningkatkan kualitas ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk sumber daya manusianya. Hasil dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, sekarang Korea Selatan memiliki industri pembuatan kapal, semi konduktor, baja, elektronik, otomotif, dan lain-lain yang bermutu tinggi.

Kemajuan Korea Selatan juga tidak terlepas dari peran masyarakatnya sendiri. Masyarakat Korea Selatan lebih mementingkan urusan kenegaraan dibandingkan dengan urusan pribadi (Yang Seung-Yoon dan Mochtar Mas’oed, 2003). Selain itu, masyarakat Korea Selatan sangat mencintai tanah airnya yang diwujudkan dengan menggunakan hasil produksi dalam negeri. Kecintaan masyarakat pada tanah airnya mencangkup cinta kepada ideologi, tradisi dan kebiasaan yang menciptakan identitas nasional. Masyarakat Korea sangat mudah disatukan teruma ketika menghadapi situasi yang sulit. Contohnya pada tahun 1998, untuk memulihkan krisis keuangan, masyarakat Korea Selatan menyumbangkan emasnya secara sukarela. Gerakan ini berhasil mengumpulkan emas senilai US$ 20 miliar. Selain itu, masyarakat Korea Selatan dikenal pekerja keras dan disiplin. Hal ini disebabkan masyarakat Korea Selatan banyak mengalami masa sulit, sehingga mereka berusaha keras memperbaiki kehidupannya.

Dari penjelasan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa kunci sukses kemajuan Korea Selatan selain ditunjang oleh strategi kebijakan pemerintahnya, juga ditunjang oleh karakter masyarakatnya yang bekerja keras, disiplin, serta mempunyai rasa nasionalitas yang tinggi. Rasa nasionalisme tersebut direalisasikan dengan mencintai produk, perusahaan, dan budayanya sendiri, sehingga dapat berjaya di dalam negeri sekaligus di luar negeri. Di samping itu, tenaga kerja yang terlatih, situasi dalam negeri yang kondusif dan pemerintahan yang relatif bersih juga ikut berperan dalam memajukan Korea Selatan.


Referensi:


Novotel Berkibar Kembali di Bukittinggi

Nadya Hutagalung bilang dia jatuh cinta pada Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, yang memiliki banyak pemandangan indah, termasuk Ngarai Sianok, lembah curam yang tak jauh dari pusat kota "Jam Gadang" itu.

"Selama ini, kan, kalau liburan enggak pernah ke Bukittinggi. Pas ke sana baru tahu bahwa Bukittinggi itu ternyata bagus banget," kata Nadya seperti dikutip oleh Kompas (27/12/2015)

Panorama paling spektakuler di Bukittinggi di mata Nadya adalah kala matahari tenggelam. "Saya sampai menahan napas karena indahnya," kata Nadya. Nadya pun menuliskan kekagumannya di akun Twitter-nya, "Bukittinggi is beautiful!".

Well, it is beautiful... :)

Di Bukittinggi ini juga berdiri the most romantic hotel in Indonesia, Hotel Novotel Bukittinggi, yang baru saja merayakan anniversary-nya yang ke-20. Hotel yang arsitekturnya memadukan budaya Muslim dan Minang ini diresmikan pada tanggal 10 November 1995 oleh Menteri Pariwisata saat itu, Joop Ave.



Sepuluh tahun yang lalu hotel ini sempat dikelola sendiri dengan nama The Hills Bukittinggi, kemudian pada tahun ini, 2015, dikelola kembali oleh Novotel, Accor Asia Pacific. Meski sempat pasang surut, namun hingga kini Hotel Novotel Bukittinggi masih berkibar di hadapan Gunung Merapi dan Singgalang.

(Baca juga: The Hills dan Bung Ciil)





Santa Klaus Main Jazz di Kafe

Sambil menikmati soto bandung, nasi udang goreng mentega, atau menyeruput bandrek dan bajigur, kita ”menyantap” jazz hidangan Salamander Big Band di Café Halaman, Tamansari, Bandung. Dengan topi Santa Klaus, Senin (21/12) malam, mereka menyuguhkan lagu Natal berasa jazz swing yang rancak dan nyaman.

Salamander Big Band (KOMPAS/FRANS HARTONO)

Suasana sangat kasual. Tidak ada jarak antara big band dan pengunjung. Musisi dan pengunjung berada selevel. Ke-22 awak Salamander Big Band seperti berdesak-desakan di bagian kafe yang setengah terbuka itu. Adapun pengunjung yang padat duduk dalam temaram nyala lilin serta belaian sejuknya angin malam Kota Bandung. Musik tidak menjadi sekadar teman santap, atau sebagai pencipta ambiance kafe. Pengunjung menyantap dua menu sekaligus: makanan dan jazz yang hangat.

Salamander Big Band membuka dengan ”Christmas Joy and Spirit” yang diambil dari aransemen karya Sammy Nestico. Ia adalah penggubah (arranger) genius yang kini berumur 90 tahun, belasan tahun menggarap aransemen untuk Orkes Count Basie dan masih berkarya. Pembuat aransemen berperan penting dalam big band jazz karena dari garapan penggubah yang baik, komposisi menjadi bernyawa. Peran big band adalah membunyikan nyawa tersebut.

Kegembiraan dan semangat

Salamander Big Band menyalakan ”Christmas Joy and Spirit”, yang memuat tiga rangkaian lagu Natal, yaitu ”Jingle Bells”, ”Away in a Manger”, dan ”Gloria”. Cukup unik karena ketiga komposisi itu mempunyai karakter rasa berbeda. ”Jingle Bells” sesuai dengan jiwa lagu dibuat dengan semangat sukacita, riang-riang ceria. Dengan tempo cepat, semua seksi tiup, yaitu trompet, trombon, serta saksofon sopran, alto, tenor, dan bariton seperti ”membadut”. Terdengar ada sense of humor atau kejenakaan dalam suaranya. Sangat pas dengan judul karya yang memilih menggunakan kata joy.

Rangkaian berikutnya terasa sangat kontras, yaitu ”Away in a Manger” yang bertempo lambat. Disusul bagian selanjutnya, yaitu ”Gloria”, kembali digunakan tempo cepat. Satu hal yang menarik, dua bagian terakhir itu lebih terkesan seperti layaknya paduan suara brass. Bisa dikatakan sangat berbeda dengan garapan Sammy yang bisanya menggunakan ”ajian” swing yang membuai. ”Christmas Joy and Spirit” pas sebagai nomor pembuka. Ia menjadi semacam overture, yang menjadi kata pengantar untuk komposisi selanjutnya.

Salamander Big Band menampilkan tiga penyanyinya, yaitu Gail Satiawaki, Nenden, dan Imelda Rosaline, yang juga pianis big band ini. Imel dengan lincahnya membawakan ”Santa Claus is Coming to Town” dengan aransemen garapan Dave Wolpe, salah seorang arranger big band jazz yang populer dan produktif sejak era 1960-an. Wolpe antara lain pernah menggarap aransemen untuk Glenn Miller Orchestra, antara lain dalam album In The Christmas Mood.

Dalam ”Santa Claus is Coming to Town”, hampir semua instrumen diberi ruang, termasuk gitar. Vokal dan cara bernyanyi Imel yang lepas berada satu semangat dengan seluruh komponen instrumen musik, yaitu menyala-nyala gembira, atau electrifying. Terasa ada warna khas Glenn Miller yang dikenal sebagai Miller Sound, seperti terdengar dalam lagu kondang mereka, yaitu ”In The Mood”.

Semangat riang berapi-api juga terasa dalam nomor ”Sleigh Ride” yang dibawakan Gail. Juga pada instrumentalia ”Winter Wonderland”. Rancak, kompak, dan terasa rasa swing-nya. Padanan kata swing dalam bahasa Indonesia mungkin bukan sekadar goyang, melainkan juga ada nuansa mengayun, membuai. Ritme yang secara tidak sadar menjadikan pendengarnya menepak-nepakkan kaki, seakan berayun-ayun dalam buaian.

Swing juga bisa lembut. Seperti ditunjukkan Salamander Big Band dalam ”Christmas Time is Here” yang menampilkan penyanyi Nenden. Penyanyi yang mengingatkan pada gaya penyanyi jazz Diane Schuur itu membawakan lagu tersebut dengan gaya balada yang mellow, hangat, lembut, dan tenang. Secara suasana sangat kontras dengan nomor-nomor lain berapi-api.

Lea Simanjuntak

Di tempat yang sama malam itu, sebelumnya tampil pula Lea Simanjuntak. Dengan diiringi Rabukustik, ia membawakan lagu Natal yang sebagian besar termuat dalam album barunya, The Perfect Year. Album memuat sejumlah lagu antara lain ”O Holy Night”, ”It’s the Most Wonderful Time of the Year”, dan ”The First Noel.” Lagu ”O Holy Night” dibawakan dalam remang-remang nyala lilin. Vokal Lea terdengar lantang, jernih, dengan artikulasi jelas, dan ekspresif menjadikan sosok dan jiwa lagu tertangkap secara lebih utuh.

Lepas dari perhelatan di kafe itu, tahun ini album Natal juga dibuat gitaris Venche Manuhutu, yaitu Jazz in Christmas. Album didukung Arief Setyadi pada saksofon, Gerry Herb (drums), dan Bintang Indrianto (bas). Permainan gitar Venche dengan petikan lembut terdengar mengalir runut, bersih, fasih, dan nikmat pada setiap lagu. Seperti pada ”Winter Wonderland”, ”White Christmas”, ”Jingle Bells”, dan ”Santa Claus is Coming to Town”.

Pada album ini, terasa ada upaya memperkaya khazanah bunyi untuk lagu Natal. Misalnya ada sentuhan bernuansa Sunda dalam ”We Wish You a Mery Christmas” dengan kehadiran kendang sunda dari Ki Dunung. Dihadirkan pula suara harmonika dari Hari Pochang dan selo dari Yana Aditya dalam ”O Holy Night”. Dilibatkan juga paduan suara GII Dago pada lagu ”Go, Tell it on the Mountain” dan Paduan Suara Gema Kasih dalam ”Silent Night”.

Menarik menyimak bagaimana lagu-lagu Natal dimainkan sesuai dengan interpretasi personal. Ada rasa big band jazz, ada pula gitar jazz yang melibatkan sejumlah elemen instrumen musik. Jazz yang demokratis, dan merangkul siapa saja yang menginginkan keindahan. (XAR)


Sumber: Kompas, 27/12/2015

Rumah, Organisme yang Bernapas

Oleh MOHAMMAD HILMI FAIQ

Mengunjungi rumah pendiri Jurusan Arsitektur Universitas Sumatera Utara, Rudolf Sitorus (57), seperti menemukan irisan Batak dan Jawa. Ornamen dan perabot Jawa dan Batak bertebaran di dalamnya. Sebut saja ini rumah ”pejabat”, percampuran Jawa-Batak. Rumah itu juga segar karena sang arsitek memperlakukan rumah sebagai organisme yang perlu bernapas.

(KOMPAS/MOHAMMAD HILMI FAIQ)

Siang itu, udara kota Medan cukup panas. Setidaknya membuat orang berkeringat meski hanya memakai kaus oblong. Tetapi begitu masuk rumah Rudolf, suhu udara seperti diturunkan tiba-tiba, begitu sejuk. Padahal tak ada penyejuk ruangan yang menyala dalam bangunan seluas 400 meter persegi itu.

Setelah dirasa-rasa, sesekali berembus semilir angin dari arah depan dan belakang rumah menuju ruang tamu, terus naik ke lantai dua. Rudolf sengaja membangun rumahnya dengan tembok lantai satu setinggi 4,2 meter. Adapun dinding di lantai dua setinggi 3,6 meter. Dinding yang relatif tinggi itu memberi ruang yang cukup bagi udara untuk bergerak bebas sehingga sirkulasi lancar dan tidak panas.

Itu didukung oleh banyaknya pohon di sekitar rumah. Di depan rumah terdapat pohon mahoni, dadap, dan dua pohon mangga, yang demikian rimbun, sehingga tanpa kanopi pun halaman rumah itu begitu teduh. Di belakang rumah, Rudolf sengaja menyediakan lahan seluas 400 meter persegi untuk taman yang ditumbuhi belasan jenis pohon, seperti rambutan, mangga, jambu biji, dan palem.

Di antara pepohonan itu juga terdapat dua kolam kecil. ”Ini mata air yang kami pelihara. Musim kemarau pun, tidak susah air di sini,” kata suami Morida Siagian (55) ini.

Di salah satu kolam itu, Rudolf memelihara beberapa ikan emas yang setiap pagi dia sambangi untuk diberi makan. Lebih dari itu, memelihara ikan merupakan cara dia mendidik keempat anaknya tentang cara menumbuhkan kasih kepada sesama makhluk hidup. Dengan memelihara binatang, seseorang belajar untuk tidak egois. ”Dulu kami memelihara ayam. Anak-anak saya ajak membeli ayam, merawatnya sampai besar, bahkan sampai bertelur,” kata penyuka warna putih ini.

Keempat anaknya kini sudah tumbuh besar. Romora Edward Sitorus (29), lulusan Birmingham University, Inggris, bekerja di Jakarta. Riomardo Albert Sitorus (24), lulusan Universitas Indonesia, menjadi dokter di Timika. Anak ketiga, Evelyn Mirandha Sitorus (22), menjadi arsitek di Ubud, Bali. Rudolf dan Morida kini hanya tinggal bersama anak bungsunya, Dinah Myron Sitorus (18), yang masih SMA.

Ketika senggang atau libur mengajar, Rudolf kerap menghabiskan waktu di kolam tadi. Kalau tidak di sana, bisa dipastikan dia asyik membaca buku di salah satu sudut ruang tamu yang berdekatan dengan jendela. Di sana, ia membiarkan angin berembus lembut membelainya, sementara ia asyik melahap buku-buku bacaan. Dia juga kerap tenggelam dalam pekerjaannya sebagai dosen di ruang pribadinya di lantai dua yang demikian luas dan dihiasi belasan lukisan.

Rudolf maupun Morida kerap mengajak belasan mahasiswa ke rumah untuk menikmati keasrian sekaligus belajar mendesain rumah yang ramah lingkungan. ”Rumah ini menjadi inspirasi sekaligus tempat bersyukur. Sambil membersihkan rumah, hati saya sering berkata-kata tentang syukur kepada Tuhan atas tempat yang demikian membuat saya betah ini,” papar mantan Rektor Institut Sains dan Teknologi TD Pardede, Medan, ini.

Bahan bekas

Rumah ini didesain oleh Morida dan tentu saja dibantu Rudolf. Sekilas rumah di Jalan Sei Siput, Medan, ini mirip bangunan bergaya Eropa. Temboknya yang berbahan bata merah dibiarkan begitu saja tanpa lapisan cat. Di bagian dalam, puluhan lukisan menghiasi dinding-dinding berdampingan dengan jendela-jendela yang kalau dibuka, membuat orang leluasa melihat isi rumah.

Morida dan Rudolf sengaja membiarkan sepertiga bagian lantai dua bolong sehingga memungkinkan udara bebas merambat naik. Begitu pun cahaya langit dari genteng kaca di lantai dua leluasa menembus ruang tamu di lantai satu. ”Rumah itu perlu bernapas. Udara bisa naik ke atas. Debu-debu diserap oleh bata-bata merah sehingga mudah dibersihkan,” kata Rudolf.

Di antara ruang tamu dan dapur, terdapat tangga membentuk ujung anak panah. Ketika diterpa cahaya dari jendela, tangga itu begitu berdimensi seperti ujung anak panah bergerigi. Banyak tamu kepincut dengan tangga itu karena bagus untuk berfoto. Tangga itu sengaja didesain dengan mempertimbangkan sisi dekoratif, tanpa kehilangan aspek ergonomisnya.

”Tangga itu idealnya mempunyai tinggi 15 sampai 18 senti meter dan lebar antara 28 dan 30 sentimeter biar tidak bikin orang capek. Ini tingginya 18 sentimeter dan lebar 30 sentimeter,” kata Rudolf menjelaskan prinsip pembuatan tangga.

Sekitar dua pertiga bahan bangunan itu didapat dari bahan bekas. Kusen-kusen maupun lemari ukuran jumbo didapat dari tukang loak atau goni butut yang kerap memborong gudang-gudang rumah lama. Kebanyakan barang itu didapat dari Kesawan, kawasan kota tua di Kota Medan. Dua piano tua juga didapat dari berburu barang bekas itu.

Rudolf juga rajin berburu barang bekas di Pajak Ular, sebuah pasar yang terkenal menjual barang-barang antik. Beberapa barang koleksinya, seperti kacamata Rodenstock, dia dapat dari sana. Memang sejak kuliah di Ball State University, Amerika Serikat, pun, Rudolf dan istrinya kerap berburu ke pasar loak untuk mendapatkan barang-barang antik. Dari perburuan itu, mereka memboyong beberapa lampu di ruang tamu, juga ratusan patung burung hantu yang memenuhi salah satu lemari tua di ruang tamu. Kebetulan Morida gemar mengoleksi patung atau miniatur burung hantu.

Di dekat lemari itu terdapat kursi, meja, dan amben kayu jati yang mirip dengan perabot rumah-rumah tua di Yogyakarta. ”Iya, ini sengaja kami datangkan dari Jogja,” kata Rudolf.

Tak jauh dari meja kursi itu, terdapat beberapa perabotan Batak, termasuk alat penyimpan beras milik orang Batak Toba, Rumba, juga ada sapa, sejenis talam atau pinggan kayu untuk makan bersama.

Rudolf yang lahir di Parapat, tepian Danau Toba ini, tumbuh besar di Purwokerto dan Magelang, Jawa Tengah, mengikuti ayahnya, MM Sitorus, seorang tentara. Tumbuh di tengah budaya Jawa membuat Rudolf lekat dengan Jawa. Bahkan dia dan anak-anaknya fasih berbahasa Jawa. Namun, dia tak ingin kehilangan akar sebagai orang Batak.

Maka, Rudolf seolah menjadikan rumahnya sebagai irisan Batak-Jawa itu. Dia mengajarkan unggah-ungguh Jawa sekaligus prinsip dalihan natolu, kearifan lokal orang Batak tentang wawasan sosio-kultural orang Batak.

Pasangan suami-istri ini mencoba hidup selaras bersama alam dengan membangun hutan di belakang rumah sebagaimana suasana pedesaan di Jawa. Mereka juga memegang prinsip ruma atau jabu nabolon yang menitikberatkan pada keberhasilan (hagabean), kekayaan (hamoroan), dan kehormatan (hasangapon).

Dari rumah nan asri itu, Rudolf membiarkan anak-anaknya merantau untuk mandiri dan merengkuh keberhasilan, kekayaan, dan kehormatan seperti ajaran nenek moyang Batak.


Sumber: Kompas, 20/12/2015

Reuni di Konser Bimbo

Sedikit nostalgia sewaktu saya menjelang usia 30 tahun, saat sedang kuliah kembali di ITB dan keadaan tidak menentu alias galau karena tidak punya pacar :D

Ketika sedang mengobrol di beranda keluarga besar Bimbo di Jalan Sultan Agung, Bandung, Iin Parlina nyeletuk, "Ded, sudahlah sama Sommy Dharsono aja. Gadis ITB baik, cerdas...," dan seterusnya. Maka setelah itu saya tancap gas, walhasil setahun kemudian pada tanggal 12 Desember l975 kami jadian di restoran Tizzi, Jalan Hegar Manah, Bandung.

Jauh sebelumnya, tahun 1959, saya sekelas dengan Djaka Purnama di SMPN 2 Bandung, dan kemudian sekelas lagi di SMAN 2 Bandung. Lalu Djaka Purnama menikah dengan sahabat Sommy, yaitu Novani .

Konser Bimbo tanggal 17 Desember 2015 lalu menjadi reuni besar bagi kami.

Indonesia Menyanyi Bimbo

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Konser yang bertajuk "Indonesia Menyanyi Bimbo" ini digelar oleh Lima Dimensi Production yang sebagian besar awaknya adalah alumnus ITB. Bimbo dipanggungkan karena dianggap sebagai aset budaya nasional.

"Kami mengangkat Bimbo karena selama 20 tahun ini Bimbo nyaris terlupakan dan tidak dikenal oleh generasi muda. Bimbo juga menjadi simbol perjuangan musisi Indonesia terhadap hak cipta dan royalti yang selama ini kurang diperhatikan masyarakat dan pemerintah," kata Sapti M Wahyudi, Ketua Lima Dimensi Production, seperti dikutip oleh Kompas (18/12/2015).

Pada malam itu tampil juga Vina Panduwinata, Candil, Sandhy Sondoro, Farman Purnama, Andrea Miranda, Ghaitsa Kenang, Dita "The Voice", serta pemain harpa Maya Hasan. Musik digarap dengan indah oleh Purwatjaraka dengan Purwacaraka Light Orchestra-nya. Sebanyak 24 lagu lagu, seperti Balada Seorang Biduan, Gadis Desa, Citra, Dengan Puisi, Antara Kabul dan Beirut, Melati dari Jayagiri hingga lagu Tuhan dibawakan oleh penyanyi dan musisi favorit Indonesia.

Konser ini digelar menjelang 50 tahun Bimbo yang jatuh pada 2017. Selama puluhan tahun itu, Bimbo berlagu tentang kehidupan, cinta, Tuhan, juga tentang Indonesia dengan segala dramatika, romantika, dan perilaku insannya yang "lucu-lucu". Konser ini cukup bijak memilih lebarnya tema lagu-lagu Bimbo.

Bimbo sebagai grup memang tidak "diperbudak" oleh lagu cinta thok yang menjadi dagangan abadi dalam industri musik pop di mana pun. Ketika melihat kondisi sosial-politik negeri yang karut-marut, mereka tidak tinggal diam. Lantas muncul "keusilan" kreatif mereka. Salah satunya dalam lagu "Romantika Hidup" yang di panggung dibawakan oleh Bimbo sendiri.

Dalam lagu itu, Bimbo mengingatkan,
"Jangan lupa tugas mulia
Berbakti pada negara
Tuhan sungguh Maha Kuasa
Gajah mati tinggalkan gading
Macan mati tinggalkan belang
Kita mati tinggalkan kebajikan...
"


Baca juga:

Konser Bimbo: "Bila Kita Punya Jabatan..." (KOMPAS, 18/12/2015)